"Mungkin ini balasan atas kecurangan kita Bu, ingat kan uang itu kita tabung tanpa di ketahui Maya, tapi kita terus saja minta uangnya meski dengan alasan pinjam, sesungguhnya kita tak ada yang berniat mengembalikan uangnya."Aku bicara sejujurnya terserah ibu senang atau tidak. Kenyataannya memang kami sudah menipu Maya."Kalau begitu bisa jadi Maya yang mengambil uang itu, kau pun aneh, buat apa Mbanking kau save di ponsel. Jadi mudah kan di ambil orang, kebiasaan menyimpan note di ponsel juga gak berubah sama sekali."Kembali aku terdiam saat mendengar ucapan ibu. Apa benar Maya pelakunya? Tapi darimana dia tau aku memiliki tabungan itu?"Sudahlah Dar, kau pikirkan bagaimana cara mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit ini. Besok atau lusa Dista sudah boleh pulang."Aku menarik napas panjang, rasanya ingin sekali meledak karena pusing kepalaku."Kalau begitu aku pulang lagi, semoga ada jalan untuk mendapatkan uang."Aku keluar tanpa memperdulikan lirikan ibu, dia benar-benar tak ta
"Rumah ibu di gadaikan? Kau bicara apa Diki? Dasar anak tak berotak. Kau menghilang setelah kami kesulitan uang, sekarang datang hanya untuk minta uang. Apa kau sudah gila?"Darma tersenyum sinis mendengar ibunya memarahi Diki, saudara sulungnya itu memang terlalu sombong, karena tak pernah di marahi."Ibu jangan banyak bicara, rumah itu sudah di gadaikan kalau bukan ibu siapa lagi. Dasar wanita serakah, ibu mau menguasai warisan bapak hah?"Plak ...plak ...."Anak kurang ajar berani sekali kau bicara seperti itu. Kalau memang aku mau menguasai harta suamiku, kau mau apa? Hidup selalu menyusahkan, berani sekali kau menghinaku."Diki terkejut mendapatkan dua kali tamparan dari ibunya. Tak hanya itu, ucapan sang ibu juga sangat menyakitkan."Kalau memang ibu mau mengadaikan rumah itu, memangnya ada urusan apa denganmu? Kau tau kami kesulitan uang tapi kau menghilang begitu saja, apa kau tau yang menimpa adikmu?"Diki terdiam dia tak menyangka ibunya bisa membungkam mulutnya. Dia memang m
"Ibu bisa istirahat di kamar, kalau tak mau silahkan pergi dari sini."Darma sudah kehabisan kesabaran, dia tak mau mendengar omelan ibunya, makanya dia membentak duluan wanita itu.Hatinya sedih, melihat wanita yang melahirkan dirinya berjalan pelan menuju ke kamarnya. Apa boleh buat daripada wanita itu mengomel seharian, lebih bagus dia bungkam duluan."Ibu, Dista cepat keluar. Ini aku belikan makanan."Sore harinya Darma mengetuk pintu kamar yang di tempati Dista dan ibunya. Namun tak ada sahutan dari dalam, pelan-pelan dia membuka pintu dan melihat kedua wanita itu masih tidur."Dasar kerbau, sudah teriak sekeras ini masih tak dengar juga."Dengan malas Darma masuk dan mengoyang tubuh ibu dan adiknya. Dia tak mau makanan yang dia beli basi, karena yang dia beli nasi bungkus."Bu, Dista. Bangun cepat itu ada makanan, kita makan dulu."Kedua wanita itu terkejut, karena Darma berada di kamar mereka. Heran saja tak biasanya pria itu membangunkan mereka berdua."Ada apa Dar? Kau mau mem
"Kerja yang bagus dong jangan bengong aja. Apa kamu mau makan gaji buta, kasihan menantuku harus mengeluarkan uang buatmu yang tak bekerja."Maya berlari keluar dari ruangannya, dia heran saat mendengar suara teriakan dari depan. Bapak dan ibunya juga sama terkejutnya makanya mereka mengikuti Maya keluar."Kalian? Mau apa datang kemari dan membuat keributan?"Maya dan kedua orangtuanya menatap Darma dan ibunya. Kedua orang itu tersenyum seolah tanpa dosa."Ini Nak, pegawaimu yang malas. Bukannya kerja malah bengong seperti orang bodoh."Maya menatap pria yang di tunjuk oleh mantan mertuanya. Dia terkejut karena tak tau pria itu ada di tokonya."Fandy Hidayat. Kenapa tak bilang-bilang kalau mau datang? Mana orangtuamu, katanya mau meminang putri kami?"Bapak Maya berkata seolah tak ada Darma dan ibunya. Pria itu memeluk Fandy, setelah pria itu mencium tangannya."Apa maksudnya melamar putri bapak? Kan anak kalian cuma Maya?"Darma bertanya seperti orang bodoh. Dia menatap kedua orangtua
"Harta gono-gini?"Maya terkejut saat bapak dan ibunya mengatakan, kalau Darma datang untuk meminta harta gono-gini, yang seharusnya dia dapatkan dari pernikahan dengannya. Wanita tersenyum karena melihat betapa santainya kedua suami-istei itu menghadapi permintaan mantan menantunya."Tak usah menatap bapak dan ibu seperti itu May, walau bapak orang kampung, tapi tak bodoh juga untuk takut dengan permintaan Darma. Pria itu pikir mudah mengugat harta gono-gini, apalagi tak ada harta yang mau di bagi."Ketiga orang itu tertawa memikirkan permintaan bodoh Darma. Pria itu tak berpikir panjang mungkin karena desakan ibunya."Ikuti saja kemauan Darma, kita lihat darimana dia mendapatkan uang untuk membayar pengacara, yang mau membantunya mengugat kita."Maya tersenyum, tapi ada rasa kasihan jika mantan suaminya gelap mata, tanpa mau berpikir panjang."Tak perlu iba begitu May, bapak ingin lihat pria itu mengembel dan kehilangan semua harta yang dia banggakan."Maya paham kalau bapaknya mar
"Jadi ini toko baju mas Darma Bu?"Aku menoleh saat mendengar suara seorang wanita. Aku tak bisa melihat lawan bicaranya, karena tertutup rak baju. Aku ingin melihat siapa yang dia panggil ibu, namun kasir yang bertugas memanggil. Jadi aku memilih mendatanginya terlebih dahulu."Nah ini mantan istri Darma yang serakah itu. Dia menguasai harta anakku lalu menceraikannya."Aku menoleh saat mendengar suara ibu mas Darma. Aku tersenyum karena wanita itu masih berkeras, kalau anaknya punya hak untuk meminta harta gono-gini."Benar aku adalah mantan istri mas Darma." Salam kenal ya, aku mengulurkan tangan tapi wanita itu tak menerimanya. Aku segera menurunkan tangan daripada pegal kan."Kalau ibu terus mengakui toko ini milik mas Darma. Kenapa tak menguggat Bu? Aku sudah lama menunggu sidang perebutan harta, yang kalian bilang masuk harta gono-gini ini."Aku tersenyum menatap mantan mertuaku. Dia tampak kesal namun mencoba menutupinya."Kau akan menyesal setelah toko ini dibagi, begitu jug
"Singkirkan wanita itu Bang. Aku tak mau mas Darma kesulitan merebut hartanya, setelah itu baru kita singkirkan juga pelakor yang mendekati mas Darma. Dia hanya milikku dan tetap milikku."Karin bicara dengan nada sangat marah. Dia seolah tak terima ada wanita lain di dekat Darma, apalagi saat dia tau kalau mantan suami sirinya, akan mengugat harta gono-gini dari Maya."Kau tenang saja, aku akan pastikan wanita itu berakhir secepatnya. Tapi ingat, kau harus memberiku uang karena kerja ini tidak mudah."Karin tersenyum karena dia sudah menyiapkan uang untuk melancarkan kerja abangnya membereskan Maya."Tapi ingat Bang, jangan tinggalkan jejak. Aku mau semua berjalan bersih."Karin kembali memperingatkan abangnya. Dia memang berniat menyakiti Maya, tanpa memperhitungkan Fandy yang siap melindungi mantan istri suaminya."Kau tidak usah cemas Rin, pikirkan saja cara menyingkirkan penghalang satunya. Aku hanya ingin kau kembali pada Darma dan kita ikut menikmati hartanya. Lumayan juga yang
"Apa! Ibu saya lumpuh karena stroke Dok? Tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi."Darma tak percaya pada ucapan Dokter, sedangkan Karin tersenyum senang, walau dia sembunyikan dari Darma. Dia tak mau pria itu tau kalau semua ini rencananya."Kau ...kau pasti senang kan? Karena ibuku lumpuh, pasti semua ini rencanamu."Karin menatap tajam pada Darma, dia harus pura-pura agar pria ini tak semakin curiga."Kau memang bodoh Mas, buat apa aku rencanakan semua ini. Lebih baik ibumu mati, jadi aku tak perlu susah payah mencari pertolongan untuk menyelamatkan ibumu."Karin terlihat marah besar hingga membuat Darma merasa bersalah. Namun itu hanya sebentar karena ibunya terlihat bangun dan berusaha memanggilnya."Kau lihat mata ibumu, dia pasti ingin berterimakasih padaku, yang telah menyelamatkan dirinya. Kau saja yang buta hingga terus menyalahkan aku."Darma menghampiri ibunya yang berusaha untuk bicara. Sayang suaranya tak terdengar jelas, mata wanita itu sampai berlinang air mata, karena