Lily merasa tubuhnya lemas, kakinya tak sanggup menopang tubuhnya yang tiba-tiba terasa berat. Air mata Lily mengalir turun deras membasahi pipi mulusnya. Ia terjatuh berlutut di lantai, mengepalkan tangannya. Ingin rasanya ia memekik keras, "Tega kalian padaku!"
"Apa salahku padamu, Mas?" ucapnya dengan penuh lirih. Lily merasa hatinya teriris mendalam, mengetahui bahwa selama ini ia telah dibohongi oleh orang yang sangat ia percayai. "Ternyata selama ini kamu telah membohongiku," ungkap Lily sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar suara isak tangisnya tak terdengar oleh Rani dan Crish yang ada di dalam kamarnya. Sesal yang mendalam menyelimuti hati Lily. Ia merenung, menatap kosong ke arah depan. "Kenapa selama ini aku begitu bodoh?" bisiknya pelan, menyesali kepercayaan yang telah ia berikan kepada orang terdekatnya. Namun, Lily tak ingin terus terpuruk dalam kesedihan. Ia bangkit, berusaha mengumpulkan kekuatan yang tersisa dalam dirinya. Dalam hati, Lily berjanji akan menemukan kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya, dan membuktikan bahwa ia tak mudah dikalahkan oleh pengkhianatan. Dengan langkah pasti, Lily meninggalkan kamar itu, mengejar keadilan yang selama ini tertutup kabut kebohongan. Lily berjalan gontai menyusuri koridor kamar, langkah kakinya terasa lemas tak berdaya. Dia merasa setiap sendi tubuhnya terasa begitu berat dan tegang, wajahnya menggambarkan kepedihan hati. Ucapan kedua penghianat itu masih saja terngiang-ngiang di telinganya, menusuk-nusuk naluri dan membuat dirinya merasa tertekan. Matanya menerawang ke tempat yang tak pasti, hatinya yang dilanda kemarahan dan kesedihan mencoba menemukan pelampiasan agar tak larut dalam amarah dan penderitaan. 'Akan aku pastikan kalian menerima balasan yang setimpal dariku!' Kedua tangan Lily terkepal erat. Sorot matanya tajam menyimpan kemarahan yang terus berkobar dalam hati. Lily pergi menuju kamar yang ada di sudut koridor, ia mengunci kamar itu demi untuk keamanan dirinya. Lily menghubungi seseorang lewat gawainya. "Joni, siapkan seluruh laporan keuangan perusahaan. Hari ini aku akan ke kantor," ucap Lily memberi perintah pada seseorang yang bernama Joni. "Baik, Bu," jawab Joni. Lily menarik nafas panjang dan menekan tombol 'end call' pada ponselnya. Diam-diam ia merasa berdebar, menyadari pertemuan penting yang tak terelakkan di kantor perusahaan miliknya. Tangan Lily bergerak lincah mengambil tas slempang dan kunci mobil dari gantungan. Ia berlari melewati ruang tamu dan membenahi penampilannya di cermin dekat pintu. Dengan langkah tegap dan ekspresi wajah yang tegar, ia pun siap untuk menghadapi segala tantangan hari ini. "Ayo, semangat!" katanya dalam hati sambil mengusap keringat yang mulai mengucur di dahinya. "Lily?!" pekik Crish terkejut saat ia melihat Lily yang berdiri di ambang pintu ruang kerjanya di kantor perusahaan milik Lily. Lily tersenyum sinis, matanya memancarkan keheranan saat ia melihat Rani ada di dalam ruangan Crish. Kemarahan Lily memuncak, memenuhi setiap sudut hatinya, menyebabkan aliran darahnya terasa semakin panas dan cepat. Matanya yang sayu menatap Crish dan Rani silih berganti. Dua orang yang menurutnya sangat menjijikan itu berdiri di hadapannya, mencoba menjelaskan segalanya. Namun, tak ada sepatah kata pun yang dapat menenangkan hati Lily. "Aku akan membalas rasa sakit ini! Tak 'kan kubiarkan kalian hidup bahagia dengan harta yang kumiliki," ujar Lily geram, ia mengepalkan tinjunya hingga kuku-kuku jemarinya menoreh kulit telapak tangannya. Suara gemetar dan penuh amarahnya terdengar beresonansi di dinding kantor yang seharusnya menjadi tempatnya bekerja hari ini. Namun, sebuah kenyataan pahit kembali menghantam hatinya. Tanpa sengaja ia mendengar percakapan kedua orang yang sangat Lily benci di dalam ruangan presdir yang harusnya ia tempati. Lily pun melangkah pergi meninggalkan sepasang suami istri itu dalam keadaan marah. Setiap langkahnya terasa berat, seakan membawa beban tak terhingga dari hati yang terluka. Namun ia tak ingin menunjukkan kelemahannya di depan mereka. Ia ingin mereka merasakan penyesalan yang mendalam. Perasaan Lily campur aduk, antara marah, sedih, dan kecewa. Hatinya hancur. Namun, ia bertekad untuk bangkit dan membalas dendam pada mereka berdua. Ia akan menunjukkan kepada Crish dan Rani bahwa Lily tak akan mudah ditaklukkan. Dengan langkah tegap dan penuh tekad, Lily menjauh dari ruang kerja itu, meninggalkan kenangan pahit yang terus menghantuinya. Lily berjalan dengan langkah kaki yang mantap meski hatinya tengah terluka dalam. "Joni, atur semuanya sesuai yang pernah kita bicarakan!" Tegas Lily pada Joni lewat telepon selularnya. "Baik, Bu," jawab Joni patuh. "Temui aku di villa," pinta Lily. Sekali lagi Joni menjawab patuh, "Baik, Bu." Lily keluar dari area parkir, ia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke puncak. Lily akan pergi ke villa miliknya di sana sekedar untuk menenangkan diri. Namun, di tengah perjalanan ia mengalami pecah ban. Lily berusaha keras mengendalikan mobil yang melaju kencang. Keringat dingin membasahi dahi dan jantungnya berdebar kencang. Dalam kondisi panik, ia kehilangan keseimbangan dan kendali pada setir. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, mendekati sebuah mobil yang sama-sama kencang dari arah berlawanan. Saat itu, Lily mencoba memperlambat laju mobil. Namun sia-sia. Tak ada waktu untuk berpikir atau menyesal, hanya teriakan ngeri yang keluar dari mulutnya. Mobil itu akhirnya menghantam mobil di depannya dengan bunyi benturan keras yang menggema di sepanjang jalan menuju puncak. Bum! Ledakan keras menggemparkan jalanan itu, api dan asap hitam membubung tinggi dari mobil yang terbakar. Mobil yang ditumpangi Lily luluh lantak, terbakar dan menghanguskan seluruh body mobil. Rasa takut dan keputusasaan mencengkeram Lily sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri dalam kobaran api yang memusnahkan segalanya. Kabar berita menyedihkan itu pun memenuhi seluruh beranda sosial media dan berita televisi. Crish memasang wajah sedih, seolah ia begitu terpukul dengan kecelakaan yang menimpa Lily, istrinya. Sedangkan Rani bersembunyi dan melihat Crish dari kejauhan. Mereka memutuskan untuk menyembunyikan hubungannya terlebih dahulu sampai seluruh harta Lily beralih tangan menjadi miliknya. Rani menatap Crish dibalik kaca mata hitamnya ia menyiratkan sebuah kesenangan yang begitu dalam atas kematian Lily. Jenazah yang terbujur kaku itu telah meninggalkan kenangan dan kepahitan, Lily telah pergi dengan kondisi jasad yang tak berupa.Lily berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan tubuh yang tertutup selimut sebagian, kedua matanya menutup rapat dengan luka bakar di bagian wajahnya yang cukup parah sampai tak dapat lagi dikenali oleh orang lain. Seorang pria menghampiri tubuh Lily, ia menatapnya dingin. Sudut matanya memancarkan sebuah kilatan yang sulit di artikan. Perlahan Lily membuka kelopak matanya setelah ia berbaring tak sadarkan diri selama satu tahun lamanya. Lily meremas kedua matanya saat cahaya terang lampu menyilaukannya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya yang terganggu oleh sinar yang menusuk tajam ke dalam retina. Setelah ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tatapan mata Lily terpaku pada sosok asing yang tengah berdiri di samping ranjangnya sembari menatapnya dalam diam. "Siapa kamu?" tanya Lily. Pria itu tak menjawab pertanyaan Lily. "Di mana aku?" Lily kembali mengajukan sebuah pertanyaan pada pria itu sambil berusaha bangkit untuk duduk.
Keesokan harinya, suasana kamar rumah sakit masih dipenuhi aroma antiseptik dan keheningan yang menghimpit. Lily duduk bersandar di tempat tidurnya, menatap keluar jendela. Di luar, langit mendung menggantung rendah, seolah menggambarkan suasana hatinya yang kelabu.Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Seorang pria bertubuh tegap melangkah masuk dengan tenang. Abraham, pria dengan wajah dingin dan sikap tenang yang selalu membuat orang lain merasa waspada, menghampiri Lily tanpa banyak basa-basi.“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya singkat.Lily hanya mengangguk kecil. "Aku masih hidup," jawabnya, suaranya datar.Abraham duduk di kursi di samping tempat tidur, meletakkan sebuah map hitam di meja kecil di sebelahnya. Dengan gerakan terukur, ia mengeluarkan selembar kertas dari dalamnya.“Ini surat kontrak perjanjian kita,” katanya, menyodorkan kertas itu ke arah Lily.Lily menatap kertas itu sejenak sebelum meraihnya. Tangannya sedikit gemetar, entah karena efek obat penghilang rasa sa
Di sebuah ruang operasi rahasia yang tersembunyi di pinggira kota, suasana terasa mencekam. Lampu-lampu terang menyinari meja operasi yang sudah dipersiapkan. Lily berbaring di sana, menatap langit-langit putih yang dingin. Tangannya mengepal erat, sementara di sudut ruangan, Abraham berdiri diam seperti patung, memperhatikan setiap gerakan dokter yang sedang bersiap. “Ini keputusanmu, Lily,” kata Abraham, suaranya rendah tapi tegas. Lily menoleh perlahan, menatap pria itu dengan sorot mata penuh tekad. "Aku tahu ini bukan keputusan biasa, Abraham. Tapi jika aku harus menyerahkan diriku untuk menyelesaikan ini, aku akan melakukannya." Abraham mengangguk, matanya gelap. "Wajah ini… adalah wajah seseorang yang sangat berarti bagiku. Ini bukan hanya tentang dendam. Ini juga tentang memberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang pernah aku buat." Wajah yang dimaksud adalah wajah mendiang istrinya, Marsanda. Wanita yang meninggal dalam kecelakaan tragis setahun yang lalu. Abr
"Bi, siapkan makan malam!" perintah Rani dengan tegas pada Surti, pembantu yang baru ia rekrut beberapa waktu lalu. Surti, seorang wanita paruh baya, mengangguk patuh sambil tersenyum lembut. "Baik, Nya," ucap Surti sambil berlalu menuju dapur. Rani tersenyum puas, merasa berkuasa dalam rumah peninggalan Lily. "Huh! Enaknya jadi Nyonya rumah, kenapa tidak dari dulu aku menyingkirkan Lily?" dengus Rani, menyesali kesalahan yang sudah ia perbuat. Rani menghela napas panjang, seraya memikirkan keberuntungan yang baru saja ia nikmati. "Ternyata begini rasanya jadi orang kaya, tinggal tunjuk sana tunjuk sini memberi perintah, semua pekerjaan rumah pun beres," ujarnya bergumam dalam hati, sambil memainkan kuku-kukunya yang telah ia beri warna merah menyala, lalu Rani melipat kedua tangannya di atas meja makan sembari menunggu terhidangnya makanan dengan lauk pauk yang lezat. Merasa bosan karena menunggu lama, Rani berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang dulu milik Lily. Ki
Abraham menghela napas panjang saat melihat Lily mengambil makanan dari rak dan menuju kasir tanpa sedikit pun rasa ragu. Ia hanya bisa menggeleng pelan sebelum akhirnya merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kartu untuk membayar makanan yang diambil oleh wanita itu. "Tak punya uang tapi ingin jajan," ujar Abraham, nada suaranya terdengar datar namun penuh sindiran. Lily tak menoleh, tak tertarik membalas ucapannya. Baginya, yang terpenting saat ini adalah mengisi perutnya. Ia merobek bungkus roti dengan cepat dan mulai melahapnya tanpa beban. Mereka keluar dari toko itu tanpa banyak bicara. Mereka kembali melanjutkan perjalannya yang sempat terhenti oleh Lily. Sebuah mobil mewah hitam menjemput mereka di bandara. Abraham akhirnya menghentikan langkahnya sebelum sampai pada mobil jemputannya itu. "Lily, ingat! Kamu bukan lagi Lily saat ini, melainkan Marsanda, istriku. Kamu tahu? Dia begitu anggun dan...." tanyanya serius. Lily berhenti sejenak, masih mengunyah makanannya.
Abraham melangkah masuk ke dalam kamar, membiarkan pintu tertutup dengan suara pelan di belakangnya. Tanpa tergesa-gesa, ia membuka jas hitam yang melekat di tubuhnya dan melemparkannya ke atas ranjang dengan santai. Tangannya terangkat ke leher, mengendurkan dasi yang sedari tadi melilitnya, lalu perlahan menariknya hingga terlepas sepenuhnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di sudut ruangan. Dua kancing teratas kemeja putihnya ia buka, membiarkan sedikit kulit dadanya yang berbulu terlihat. Tangannya kemudian bergerak menggulung lengan kemejanya hingga mencapai siku, tetapi sebelum ia sempat menyelesaikannya— Suara pintu kamar mandi terbuka. Lily keluar dengan santai, hanya mengenakan handuk putih yang membungkus tubuhnya hingga sebatas lutut. Uap tipis masih mengepul dari dalam kamar mandi, mengisyaratkan bahwa ia baru saja selesai mandi. Tetesan air jatuh perlahan dari rambut basahnya, menelusuri leher jenjangnya sebelum menghilang di balik handuk. Memberikan nuansa
Lily menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu cepat. Abraham baru saja mengumumkan sesuatu yang tidak pernah ia duga—mereka akan menemui keluarganya. Secepat ini? Tanpa persiapan? "Seharusnya kamu siap kapan pun aku membawamu ke sana," ujar Abraham sambil merapikan dasinya. Lily menggigit bibirnya, menahan kata-kata yang hendak meluncur. Bukannya ia tidak mau bertemu dengan keluarga Abraham, tetapi ia membenci kejutan seperti ini. Ia benci tidak memiliki kendali atas situasi, sesuatu yang sudah lama hilang sejak hidupnya hancur karena Crish. Crish. Nama itu bergaung di kepalanya seperti racun yang tak bisa ia buang. Mata Lily terpaku pada dasi di tangan Abraham. Dulu, ia biasa melakukan hal yang sama untuk Crish. Mengikat dasi di leher pria yang pernah ia cintai, tanpa tahu bahwa tangan pria itu juga digunakan untuk mencabik hatinya. “Kenapa diam?” suara Abraham membuyarkan lamunannya. Lily menghela napas panjang. "Kamu bisa memberi
Ruang tengah mansion keluarga Abraham begitu luas, dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lampu kristal berkilauan. Dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan klasik yang menggambarkan kemewahan dan kejayaan keluarga ini. Lily duduk dengan anggun di salah satu sofa empuk berwarna gading, tangannya masih melingkar di lengan Abraham, berpura-pura seolah ia benar-benar nyaman berada di sini. Di hadapan mereka, Cecillia duduk dengan tenang, menyesap teh dari cangkir porselen mahalnya. Ayah Abraham, Leonard Soren Valmont, juga duduk di seberangnya dengan ekspresi sulit ditebak. Percakapan mereka mengalir dengan lancar—terdengar hangat dan penuh keakraban. Cecillia menanyakan bagaimana Lily bisa "kembali" setelah sekian lama, sementara Leonard mengamati setiap kata dan gerak-geriknya dengan penuh perhatian. "Aku tersadar kembali oleh cinta yang selalu Abraham berikan padaku hampir sepanjang waktu,," ujar Lily dengan nada yang telah ia latih. "Aku hanya… butuh sedikit waktu untuk memulihkan
Rani duduk diam di sudut ruangan kumuh itu, memeluk tubuhnya sendiri seolah berusaha mencari kehangatan dalam dinginnya ketakutan yang menyelimuti dirinya. Waktu terus berjalan, tetapi pikirannya masih berputar tanpa menemukan jalan keluar. "Jika aku menjalankan perintah Lily, aku akan kehilangan segalanya. Tapi jika aku menolak, dia tidak akan membiarkanku hidup dengan tenang." Matanya beralih ke amplop yang masih berada di genggamannya. Jari-jarinya mengusap permukaan amplop itu dengan ragu. Ia tahu, di dalamnya terdapat perintah Lily—perintah yang bisa mengubah takdirnya, entah menuju kehancuran atau kelangsungan hidupnya. Tok! Tok! Suara ketukan di pintu membuatnya tersentak. Jantungnya berdegup kencang saat seorang pria berbadan tegap masuk ke dalam ruangan. Itu salah satu orang kepercayaan Lily. "Waktumu hampir habis, Rani," katanya dengan suara dingin. Rani menelan ludah. Napasnya tersengal. Ia tak punya pilihan lain selain membuat keputusan sekarang. Tapi… keputu
Lily melangkah pelan memasuki bangunan reyot yang hampir roboh. Bau busuk menyengat menyambutnya, tetapi ia tak terganggu sedikit pun. Di sudut ruangan yang lembap dan gelap, Rani terduduk dengan tubuh penuh luka. Rambutnya acak-acakan, wajahnya kotor, dan pakaiannya compang-camping. Ia hampir tak terlihat seperti wanita angkuh yang dulu merampas segalanya dari Lily. "Lama tak bertemu, Rani." Suara lembut Lily menggema di ruangan sunyi itu, namun ada nada dingin di dalamnya. Rani mengangkat wajahnya dengan susah payah. Matanya nanar, penuh ketakutan dan kepasrahan. "Lily…" suaranya serak, hampir seperti bisikan. "Tolong… aku… aku tak bisa lagi." Lily tersenyum samar dan berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan Rani. "Tolong?" ia tertawa kecil. "Kau tidak ingat bagaimana dulu aku memohon padamu? Bagaimana aku hampir mati karena permainan kotor yang kau lakukan?" Rani menggeleng lemah, air matanya jatuh satu per satu. "Aku salah… aku menyesal… aku bersedia menebus sem
Rani menatap bayangannya di cermin mobil. Wajahnya sudah sempurna dengan riasan halus yang menonjolkan kecantikannya. Gaun merah elegan yang membalut tubuhnya seakan menjadi senjata terakhirnya untuk menghadapi Abraham. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu… Ini sama saja dengan menggali kuburnya sendiri. "Abraham tak mudah didekati, apalagi disentuh," gumamnya sambil menatap gedung bertingkat tempat pria itu berkantor. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu mobil. Ia sadar, sekali ia melangkah masuk, maka ia tak akan bisa mundur lagi. Langkah demi langkah ia tempuh dengan hati berdebar. Para karyawan yang lalu lalang di lobi meliriknya sekilas, tetapi ia mengabaikannya. "Aku harus melakukannya. Jika aku ingin bertahan, aku harus membuatnya percaya." Sesampainya di depan ruang utama, ia menarik napas panjang sebelum berbicara kepada sekretaris Abraham. "Aku ingin bertemu dengan Tuan Abraham," ucapnya dengan senyum yang ia paksakan. Sekretaris itu menatapnya denga
Rani mundur selangkah, ponselnya hampir terjatuh dari tangannya. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak kencang. "Tidak... ini tidak mungkin," bisiknya ketakutan. Ia dengan cepat menutup semua tirai apartemennya, lalu berlari ke pintu untuk memastikan kuncinya masih terpasang. Ia bahkan menekan tubuhnya ke pintu, seolah-olah itu bisa melindunginya dari ancaman yang terasa semakin nyata. Notifikasi ponselnya berbunyi lagi. "Jangan buang waktu, Rani. Aku menunggumu." Rani menggeleng, menggigit bibirnya untuk menahan kepanikan. Crish benar-benar serius. Dia masih bisa menjangkaunya, bahkan saat ia berpikir sudah aman. Tangannya mulai berkeringat saat ia mencoba berpikir jernih. Pilihan apa yang aku punya? Jika ia menolak, Crish pasti akan terus memburunya, mungkin lebih dari sekadar ancaman. Tapi jika ia menuruti perintahnya, itu berarti ia harus berhadapan dengan Abraham dan Lily lagi. Dua pilihan, dan keduanya sama buruknya. Ia mendongak, menatap bayangannya di cermin
Crish dibawa pergi oleh anak buah Abraham, tapi bahkan saat borgol terpasang di tangannya, seringai puas masih menghiasi wajahnya. Ia dilempar ke dalam mobil, namun sebelum pintunya ditutup, ia menatap Abraham dengan penuh arti. "Kau terlalu percaya diri, Abraham," katanya. "Jangan berpikir bahwa menyingkirkanku akan membuat hidupmu lebih mudah. Karena bahkan di balik jeruji, aku masih bisa menyentuh Lily." Abraham mengepalkan tangannya. "Kau menyentuhnya sekali lagi, dan aku pastikan kau tidak akan pernah melihat dunia luar lagi." Crish tertawa. "Kau pikir aku perlu menyentuhnya sendiri? Dunia ini penuh dengan orang-orang yang bisa dibayar, Abraham. Kau tahu itu lebih baik dariku." Abraham tidak berkata apa-apa lagi. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menutup pintu mobil, lalu mobil itu melaju, membawa Crish ke tempat di mana dia seharusnya berada—penjara. Namun, perasaan tidak nyaman mulai mengusik Abraham. Lily duduk di ruang kerja Abraham, menatap keluar jend
Rani menginjak pedal gas sekuat tenaga, berusaha menjauh dari mobil hitam yang terus memepetnya. Jalanan gelap dan sepi, hanya ada lampu-lampu kota di kejauhan. "Aku harus keluar dari sini!" pikirnya panik. Mobil hitam itu semakin mendekat, mencoba memaksa mobilnya keluar dari jalan utama. Rani menggertakkan giginya, mencoba tetap fokus. Namun, saat ia membelok tajam ke kanan, jantungnya hampir berhenti berdetak. Jalan buntu. Matanya membelalak. "Tidak… tidak! Ini tidak mungkin!" Ia menekan rem mendadak, mobilnya berhenti tepat beberapa meter dari dinding beton tinggi. Dari kaca spion, ia melihat mobil hitam itu juga berhenti. Pintu mobil terbuka, dan beberapa pria berbadan besar keluar. Rani meraih ponselnya dengan tangan gemetar dan buru-buru mencoba menghubungi seseorang—siapa saja yang bisa menolongnya. Satu dering… dua dering… Panggilannya tersambung. "Halo?" Suara Abraham terdengar di seberang. Rani tidak peduli lagi. Ia berbisik ketakutan, "Abraham… tolo
Crish duduk di kursi ruang kerjanya dengan wajah kusut. Tangannya mencengkeram gelas minuman dengan erat, sementara pikirannya berkecamuk. "Brengsek!" Dengan penuh amarah, ia melempar gelas itu ke dinding, membuat pecahannya berhamburan di lantai. Semua rencananya hancur berantakan. "Aku kehilangan perusahaan, kehilangan investor, dan sekarang bahkan nyawaku pun dalam bahaya!" Serangan terhadap Lily gagal. Itu artinya, Abraham pasti sudah mengetahuinya. Dan jika Abraham sudah turun tangan, maka Crish tahu waktunya semakin menipis. Tok! Tok! Pintu ruangannya diketuk sebelum seseorang masuk dengan ekspresi tegang. "Tuan, ada masalah besar…" Crish menoleh tajam. "Masalah apalagi?!" bentaknya. Orang itu menelan ludah sebelum berkata, "Abraham menggerakkan koneksinya. Semua perusahaan yang masih terikat dengan kita mulai menarik diri. Kita benar-benar dalam bahaya!" Crish merasakan dadanya sesak. Semua orang meninggalkannya. Bahkan Rani, yang selama ini bersamanya,
Crish menunggu di ujung telepon, napasnya berat dan penuh amarah. Suara di seberang terdengar setelah beberapa detik. "Siapa targetnya?" Crish menyeringai, matanya gelap oleh dendam. "Marsanda Evelyn Whitmore. Aku ingin dia lenyap selamanya." Ada keheningan sejenak sebelum suara itu menjawab. "Harga yang kau minta tidak murah, Crish. Apalagi targetmu seseorang yang punya hubungan dengan Abraham." Crish menggeram. "Aku tidak peduli berapa harganya! Aku ingin dia mati!" Suara di seberang tertawa kecil. "Baik. Aku akan mengatur semuanya. Tapi kau tahu konsekuensinya, kan? Jika ini gagal, bukan hanya dia yang akan mati." Crish mengepalkan tangannya. "Lakukan saja pekerjaannya!" Telepon terputus. Crish menyeringai puas. Kali ini, Lily tidak akan bisa lolos seperti sebelumnya. Jika dia pernah kembali dari ambang kematian, maka kali ini dia tidak akan punya kesempatan kedua. Di tempat lain, seseorang telah menerima perintah eksekusi. Dan Lily… tidak menyadari bahwa ajalnya
Lily baru saja hendak berdiri dari sofa ketika kakinya tanpa sengaja tersangkut di ujung karpet. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, gravitasi menariknya ke depan. "Ah—!" Dalam sekejap, dua lengan kuat menangkapnya dengan sigap. Lily terkejut, dan saat ia mengangkat kepalanya, wajah Abraham sudah begitu dekat dengannya. Mata mereka bertemu. Napas Lily tercekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Abraham, bisa mendengar detak jantungnya yang tenang, kontras dengan miliknya yang berdetak liar. "Ternyata dia tampan sekali," ujar Lily dalam hati. Abraham tidak langsung melepaskannya. Ia menatap Lily dalam, seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik mata wanita itu. "Hati-hati," bisik Abraham, suaranya rendah dan penuh perhatian. Lily menelan ludah. Jarak di antara mereka terlalu dekat, terlalu berbahaya. Ia bisa mencium samar aroma maskulin Abraham—campuran dari parfum mahal dan sesuatu yang khas darinya. Sejenak,