Beranda / Rumah Tangga / Kontrak Sandiwara Istri sang CEO / Bab 10 Pertemuan yang Mengancam

Share

Bab 10 Pertemuan yang Mengancam

Penulis: Rindu_Mentari
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-03 21:59:09
Ruang tengah mansion keluarga Abraham begitu luas, dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lampu kristal berkilauan. Dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan klasik yang menggambarkan kemewahan dan kejayaan keluarga ini. Lily duduk dengan anggun di salah satu sofa empuk berwarna gading, tangannya masih melingkar di lengan Abraham, berpura-pura seolah ia benar-benar nyaman berada di sini.

Di hadapan mereka, Cecillia duduk dengan tenang, menyesap teh dari cangkir porselen mahalnya. Ayah Abraham, Leonard Soren Valmont, juga duduk di seberangnya dengan ekspresi sulit ditebak.

Percakapan mereka mengalir dengan lancar—terdengar hangat dan penuh keakraban. Cecillia menanyakan bagaimana Lily bisa "kembali" setelah sekian lama, sementara Leonard mengamati setiap kata dan gerak-geriknya dengan penuh perhatian.

"Aku tersadar kembali oleh cinta yang selalu Abraham berikan padaku hampir sepanjang waktu,," ujar Lily dengan nada yang telah ia latih. "Aku hanya… butuh sedikit waktu untuk memulihkan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 11 Kecurigaan yang mematikan

    Crish terus menatap Lily, dia merasa kalau wanita yang ada di seberangnya begitu familier. "Nyonya Marsanda, aku dengar Anda mengalami kecelakan di tempat yang sama dengan mantan istriku, Lily. Sayangnya... dia harus meregang nyawa di tempat kejadian," ucap Crish bernada sedih. Dalam hati Lily mengutuk Crish dengan tangan yang terkepal erat. Abraham yang ada di sampingnya berbisik padanya sambil memberikan lauk pada Lily agar tak menimbulkan curiga pada mereka. "Ingat. Jangan terbawa emosi," bisiknya. Lily tersenyum manis pada Abraham, "Terima kasih, sayang." Lily menahan napasnya setelah ia tersenyum pada Abraham. Ucapan Crish barusan menusuk tepat ke dalam hatinya seperti belati yang dipanaskan di api dendam. "Dia telah meregang nyawa di tempat kejadian." Kata-kata itu terngiang di kepala Lily. "Bajingan itu," gumam Lily. Tangannya mengepal erat di bawah meja, jemarinya hampir menusuk telapak tangannya sendiri. Ia ingin berteriak, ingin mengatakan kebenaran di depan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 12 Pergi dengan rahasia yang tertinggal

    Lily menghela napas pelan saat Abraham meraih tangannya, membantunya berdiri dari kursi. Makan malam telah selesai, tetapi ketegangan yang mengendap di mansion ini masih menggantung di udara. “Terima kasih atas jamuannya,” ujar Abraham dengan nada sopan namun tetap berjarak. Ia menatap Leonard dan Cecillia bergantian, seolah memberi peringatan halus bahwa mereka akan segera kembali. Leonard hanya mengangguk, tetapi tatapannya masih tajam. “Aku harap setelah ini kau baik-baik saja, Marsanda,” ucapnya, menekankan nama itu dengan nada yang sulit ditebak. Lily tersenyum kecil, meskipun di dalam kepalanya ia masih mendengar suara Crish berbisik: "Aku ingin tahu… jika aku menyentuhmu, apakah aku akan merasakan orang yang sama?" “Tidak ada yang tahu tentang masa depan,” jawab Lily, menyimpan makna di balik kalimatnya. Cecillia tertawa kecil, jemarinya memainkan tepi cangkir teh yang telah kosong. “Oh, aku yakin kita akan segera bertemu lagi.” "Bukankah kita ini keluarga? Benar beg

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-06
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 13 Menjebak Sang Musuh

    Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar di ruang makan mansion Abraham. Lily duduk di seberang pria itu, sesekali mengaduk kopi hitamnya tanpa minat. Pikirannya masih melayang pada kejadian semalam—tatapan Crish yang nyaris menelanjangi identitasnya, dan kecemburuan yang terpancar jelas dari Rani. Abraham meletakkan sendoknya dan menatap Lily tajam. “Aku sudah menyiapkan rencana untukmu,” katanya dengan nada serius. “Pergilah ke perusahaan Crish sebagai klien yang akan bekerja sama dengannya.” Lily mengangkat alis, lalu tersenyum miring. “Dan kau yakin dia akan langsung percaya?” “Crish itu serakah. Jika ada peluang bisnis yang menguntungkan, dia tidak akan berpikir dua kali,” jawab Abraham tenang. “Yang perlu kau lakukan hanyalah membuatnya tertarik.” Lily bersandar ke kursinya, memainkan pinggiran cangkir kopinya. “Dan setelah itu?” Abraham menyilangkan tangan di dadanya. “Kita akan perlahan menjatuhkannya dari dalam.” Lily tertawa pelan, tetapi tidak ada ke

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 14 Api Cemburu

    “Makan malam, ya?” Lily mengulang ucapan Crish dengan nada bertanya, matanya menatap pria itu dengan penuh arti. Di seberangnya, Rani yang sejak tadi sudah menaruh curiga, merasakan kemarahan yang semakin membara di dadanya. Jemarinya meremas kuat roknya hingga kusut, tetapi ia tetap berusaha mempertahankan ekspresi netralnya. Crish tersenyum, tatapannya tidak lepas dari Lily. “Ya, aku pikir akan lebih nyaman mendiskusikan detail kerja sama ini tanpa tekanan suasana kantor.” Lily berpura-pura berpikir, memainkan ujung cincinnya—cincin yang bukan sekadar perhiasan, tetapi simbol perjanjiannya dengan Abraham. “Oh?” bibirnya melengkung kecil. “Aku tidak keberatan, asalkan Tuan Crish tidak keberatan dengan kehadiran suamiku.” Rani menahan napas, matanya melebar seketika. Sementara itu, senyum Crish sedikit memudar, meskipun hanya sesaat. “Oh tentu, tentu. Aku hanya berpikir ini adalah pertemuan bisnis biasa.” Lily tersenyum manis. “Bisnis, tentu saja. Tapi aku dan suamiku selalu be

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 15 Bara Di antara Kita

    Lily berdiri di depan cermin besar, memandangi refleksi dirinya dalam gaun hitam keemasan yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Namun, sebelum ia sempat mengagumi lebih lama, ia merasakan kehadiran Abraham yang mendekat dari belakang.Tanpa suara, pria itu mengambil kalung berlian yang berkilauan di tangannya.Lily bisa merasakan hawa tubuhnya yang hangat begitu dekat. Detik berikutnya, Abraham melingkarkan kalung itu di lehernya, jemari kokohnya dengan cekatan mengaitkan pengunci di belakang tengkuknya.Saat itu juga, hembusan napas Abraham menyentuh kulitnya—halus, hangat, dan tanpa ia sadari, cukup untuk membuat bulu kuduknya meremang.Lily terpejam sejenak. Ada sesuatu yang begitu intim dalam momen itu, meskipun mereka berdua tahu bahwa hubungan mereka hanya didasarkan pada perjanjian dan tujuan yang lebih besar.Tapi, mengapa dada Lily terasa berdegup lebih cepat?Abraham memperhatikan wajahnya melalui pantulan cermin. "Sempurna," gumamnya, suaranya rendah dan berat.Lily membu

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 16 Perjamuan Yang Menegangkan

    Rani memperhatikan setiap gerakan Lily dengan penuh kewaspadaan. Namun, ada satu hal yang terus mengusiknya sejak siang tadi—cincin di jari manis kiri Lily. Cincin itu bukan milik Marsanda. Dan itu berarti ada sesuatu yang tidak beres. Rani menyusun rencana di dalam kepalanya. Jika Lily benar-benar bukan Marsanda, maka ia akan menangkap basah wanita itu dan mempermalukannya di depan semua orang. Saat kesempatan datang, Rani berpura-pura tersenyum ramah. Ia menyodorkan tangannya ke arah Lily. “Nyonya Marsanda, bolehkah aku melihat cincinmu lebih dekat? Sepertinya sangat indah,” ujar Rani dengan nada penuh kelembutan yang dibuat-buat. Lily sempat tertegun, tetapi ia tetap tersenyum tenang. Ia tahu Rani sedang mencoba sesuatu. Namun, ia tidak boleh menunjukkan celah. Rani menggenggam tangan kiri Lily dengan lembut, namun ada kekuatan tersembunyi dalam genggamannya. Ia memperhatikan cincin berlian itu dengan seksama, berusaha mencari sesuatu yang janggal. “Sepertinya aku pernah m

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-15
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 17 Kecurigaan Yang Kian Menajam

    "Aku merasa sangat gugup tadi. Apalagi saat Rani mencoba mencari tahu tentang cincin ini," ucap Lily.Abraham melirik Lily yang duduk di sampingnya, jari-jarinya dengan gelisah memainkan cincin di tangan kirinya. Mobil mereka melaju dengan kecepatan stabil menuju mansion, namun pikirannya masih tertinggal di meja makan malam tadi.“Kau berhasil mengendalikan situasi,” ujar Abraham tenang. “Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”Lily menghela napas panjang. “Aku tahu, tapi Rani tidak akan diam saja. Aku bisa merasakan tatapannya yang penuh kecurigaan. Jika dia menemukan celah, dia pasti akan mencoba menjatuhkanku.”Abraham tersenyum miring. “Biarkan saja dia mencoba. Kita sudah memperhitungkan segalanya.”Lily menoleh ke arah Abraham, menatapnya dengan mata penuh pertanyaan. “Kau yakin?”“Tentu saja.” Abraham menyesuaikan posisi duduknya, lalu meraih tangan Lily, ibu jarinya dengan lembut mengusap punggung tangannya. “Lihatlah siapa yang ada di pihakmu sekarang. Aku tidak akan membiark

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-16
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 18 Strategi dalam menghadapi Crish dan Rani

    Lily masih bersandar di kursi CEO Crish, ruangan yang dulunya adalah miliknya. Tangannya perlahan menggenggam lengan kursi, matanya kosong namun dipenuhi berbagai emosi yang berputar di dalam pikirannya. “Bagaimana cara Abraham akan mengambil kembali asetku?” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Di sudut ruangan, Abraham yang sedang berdiri dengan tangan dimasukkan ke dalam saku jasnya mendengar gumaman itu. Ia berjalan mendekat, menatap Lily dengan sorot mata tajam. “Kau meragukan rencanaku?” tanyanya dengan nada rendah namun mengandung ketegasan. Lily menoleh, menatap pria yang kini menjadi sekutunya dalam balas dendam. Ia menggeleng pelan dan sedikit terkejut. "Sejak kapan kau berada di sana?" tanya Lily. Abraham tidak menjawab, ia hanya terus berjalan mendekati Lily. “Bukan meragukan… hanya ingin tahu bagaimana caranya," lanjut Lily. Abraham tersenyum tipis, lalu menarik kursi di hadapan Lily dan duduk. “Kontrak kerja sama ini adalah awal dari segalanya,” katanya

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-18

Bab terbaru

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 46

    Rani duduk diam di sudut ruangan kumuh itu, memeluk tubuhnya sendiri seolah berusaha mencari kehangatan dalam dinginnya ketakutan yang menyelimuti dirinya. Waktu terus berjalan, tetapi pikirannya masih berputar tanpa menemukan jalan keluar. "Jika aku menjalankan perintah Lily, aku akan kehilangan segalanya. Tapi jika aku menolak, dia tidak akan membiarkanku hidup dengan tenang." Matanya beralih ke amplop yang masih berada di genggamannya. Jari-jarinya mengusap permukaan amplop itu dengan ragu. Ia tahu, di dalamnya terdapat perintah Lily—perintah yang bisa mengubah takdirnya, entah menuju kehancuran atau kelangsungan hidupnya. Tok! Tok! Suara ketukan di pintu membuatnya tersentak. Jantungnya berdegup kencang saat seorang pria berbadan tegap masuk ke dalam ruangan. Itu salah satu orang kepercayaan Lily. "Waktumu hampir habis, Rani," katanya dengan suara dingin. Rani menelan ludah. Napasnya tersengal. Ia tak punya pilihan lain selain membuat keputusan sekarang. Tapi… keputu

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 45 Pilihan Terakhir Untuk Rani

    Lily melangkah pelan memasuki bangunan reyot yang hampir roboh. Bau busuk menyengat menyambutnya, tetapi ia tak terganggu sedikit pun. Di sudut ruangan yang lembap dan gelap, Rani terduduk dengan tubuh penuh luka. Rambutnya acak-acakan, wajahnya kotor, dan pakaiannya compang-camping. Ia hampir tak terlihat seperti wanita angkuh yang dulu merampas segalanya dari Lily. "Lama tak bertemu, Rani." Suara lembut Lily menggema di ruangan sunyi itu, namun ada nada dingin di dalamnya. Rani mengangkat wajahnya dengan susah payah. Matanya nanar, penuh ketakutan dan kepasrahan. "Lily…" suaranya serak, hampir seperti bisikan. "Tolong… aku… aku tak bisa lagi." Lily tersenyum samar dan berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan Rani. "Tolong?" ia tertawa kecil. "Kau tidak ingat bagaimana dulu aku memohon padamu? Bagaimana aku hampir mati karena permainan kotor yang kau lakukan?" Rani menggeleng lemah, air matanya jatuh satu per satu. "Aku salah… aku menyesal… aku bersedia menebus sem

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 44

    Rani menatap bayangannya di cermin mobil. Wajahnya sudah sempurna dengan riasan halus yang menonjolkan kecantikannya. Gaun merah elegan yang membalut tubuhnya seakan menjadi senjata terakhirnya untuk menghadapi Abraham. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu… Ini sama saja dengan menggali kuburnya sendiri. "Abraham tak mudah didekati, apalagi disentuh," gumamnya sambil menatap gedung bertingkat tempat pria itu berkantor. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu mobil. Ia sadar, sekali ia melangkah masuk, maka ia tak akan bisa mundur lagi. Langkah demi langkah ia tempuh dengan hati berdebar. Para karyawan yang lalu lalang di lobi meliriknya sekilas, tetapi ia mengabaikannya. "Aku harus melakukannya. Jika aku ingin bertahan, aku harus membuatnya percaya." Sesampainya di depan ruang utama, ia menarik napas panjang sebelum berbicara kepada sekretaris Abraham. "Aku ingin bertemu dengan Tuan Abraham," ucapnya dengan senyum yang ia paksakan. Sekretaris itu menatapnya denga

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 43

    Rani mundur selangkah, ponselnya hampir terjatuh dari tangannya. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak kencang. "Tidak... ini tidak mungkin," bisiknya ketakutan. Ia dengan cepat menutup semua tirai apartemennya, lalu berlari ke pintu untuk memastikan kuncinya masih terpasang. Ia bahkan menekan tubuhnya ke pintu, seolah-olah itu bisa melindunginya dari ancaman yang terasa semakin nyata. Notifikasi ponselnya berbunyi lagi. "Jangan buang waktu, Rani. Aku menunggumu." Rani menggeleng, menggigit bibirnya untuk menahan kepanikan. Crish benar-benar serius. Dia masih bisa menjangkaunya, bahkan saat ia berpikir sudah aman. Tangannya mulai berkeringat saat ia mencoba berpikir jernih. Pilihan apa yang aku punya? Jika ia menolak, Crish pasti akan terus memburunya, mungkin lebih dari sekadar ancaman. Tapi jika ia menuruti perintahnya, itu berarti ia harus berhadapan dengan Abraham dan Lily lagi. Dua pilihan, dan keduanya sama buruknya. Ia mendongak, menatap bayangannya di cermin

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 42

    Crish dibawa pergi oleh anak buah Abraham, tapi bahkan saat borgol terpasang di tangannya, seringai puas masih menghiasi wajahnya. Ia dilempar ke dalam mobil, namun sebelum pintunya ditutup, ia menatap Abraham dengan penuh arti. "Kau terlalu percaya diri, Abraham," katanya. "Jangan berpikir bahwa menyingkirkanku akan membuat hidupmu lebih mudah. Karena bahkan di balik jeruji, aku masih bisa menyentuh Lily." Abraham mengepalkan tangannya. "Kau menyentuhnya sekali lagi, dan aku pastikan kau tidak akan pernah melihat dunia luar lagi." Crish tertawa. "Kau pikir aku perlu menyentuhnya sendiri? Dunia ini penuh dengan orang-orang yang bisa dibayar, Abraham. Kau tahu itu lebih baik dariku." Abraham tidak berkata apa-apa lagi. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menutup pintu mobil, lalu mobil itu melaju, membawa Crish ke tempat di mana dia seharusnya berada—penjara. Namun, perasaan tidak nyaman mulai mengusik Abraham. Lily duduk di ruang kerja Abraham, menatap keluar jend

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 41 Terjebak Di Jalan Buntu

    Rani menginjak pedal gas sekuat tenaga, berusaha menjauh dari mobil hitam yang terus memepetnya. Jalanan gelap dan sepi, hanya ada lampu-lampu kota di kejauhan. "Aku harus keluar dari sini!" pikirnya panik. Mobil hitam itu semakin mendekat, mencoba memaksa mobilnya keluar dari jalan utama. Rani menggertakkan giginya, mencoba tetap fokus. Namun, saat ia membelok tajam ke kanan, jantungnya hampir berhenti berdetak. Jalan buntu. Matanya membelalak. "Tidak… tidak! Ini tidak mungkin!" Ia menekan rem mendadak, mobilnya berhenti tepat beberapa meter dari dinding beton tinggi. Dari kaca spion, ia melihat mobil hitam itu juga berhenti. Pintu mobil terbuka, dan beberapa pria berbadan besar keluar. Rani meraih ponselnya dengan tangan gemetar dan buru-buru mencoba menghubungi seseorang—siapa saja yang bisa menolongnya. Satu dering… dua dering… Panggilannya tersambung. "Halo?" Suara Abraham terdengar di seberang. Rani tidak peduli lagi. Ia berbisik ketakutan, "Abraham… tolo

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 40 Rencana Gila Crish

    Crish duduk di kursi ruang kerjanya dengan wajah kusut. Tangannya mencengkeram gelas minuman dengan erat, sementara pikirannya berkecamuk. "Brengsek!" Dengan penuh amarah, ia melempar gelas itu ke dinding, membuat pecahannya berhamburan di lantai. Semua rencananya hancur berantakan. "Aku kehilangan perusahaan, kehilangan investor, dan sekarang bahkan nyawaku pun dalam bahaya!" Serangan terhadap Lily gagal. Itu artinya, Abraham pasti sudah mengetahuinya. Dan jika Abraham sudah turun tangan, maka Crish tahu waktunya semakin menipis. Tok! Tok! Pintu ruangannya diketuk sebelum seseorang masuk dengan ekspresi tegang. "Tuan, ada masalah besar…" Crish menoleh tajam. "Masalah apalagi?!" bentaknya. Orang itu menelan ludah sebelum berkata, "Abraham menggerakkan koneksinya. Semua perusahaan yang masih terikat dengan kita mulai menarik diri. Kita benar-benar dalam bahaya!" Crish merasakan dadanya sesak. Semua orang meninggalkannya. Bahkan Rani, yang selama ini bersamanya,

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 39 Bayangan Kematian

    Crish menunggu di ujung telepon, napasnya berat dan penuh amarah. Suara di seberang terdengar setelah beberapa detik. "Siapa targetnya?" Crish menyeringai, matanya gelap oleh dendam. "Marsanda Evelyn Whitmore. Aku ingin dia lenyap selamanya." Ada keheningan sejenak sebelum suara itu menjawab. "Harga yang kau minta tidak murah, Crish. Apalagi targetmu seseorang yang punya hubungan dengan Abraham." Crish menggeram. "Aku tidak peduli berapa harganya! Aku ingin dia mati!" Suara di seberang tertawa kecil. "Baik. Aku akan mengatur semuanya. Tapi kau tahu konsekuensinya, kan? Jika ini gagal, bukan hanya dia yang akan mati." Crish mengepalkan tangannya. "Lakukan saja pekerjaannya!" Telepon terputus. Crish menyeringai puas. Kali ini, Lily tidak akan bisa lolos seperti sebelumnya. Jika dia pernah kembali dari ambang kematian, maka kali ini dia tidak akan punya kesempatan kedua. Di tempat lain, seseorang telah menerima perintah eksekusi. Dan Lily… tidak menyadari bahwa ajalnya

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Ban 38

    Lily baru saja hendak berdiri dari sofa ketika kakinya tanpa sengaja tersangkut di ujung karpet. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, gravitasi menariknya ke depan. "Ah—!" Dalam sekejap, dua lengan kuat menangkapnya dengan sigap. Lily terkejut, dan saat ia mengangkat kepalanya, wajah Abraham sudah begitu dekat dengannya. Mata mereka bertemu. Napas Lily tercekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Abraham, bisa mendengar detak jantungnya yang tenang, kontras dengan miliknya yang berdetak liar. "Ternyata dia tampan sekali," ujar Lily dalam hati. Abraham tidak langsung melepaskannya. Ia menatap Lily dalam, seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik mata wanita itu. "Hati-hati," bisik Abraham, suaranya rendah dan penuh perhatian. Lily menelan ludah. Jarak di antara mereka terlalu dekat, terlalu berbahaya. Ia bisa mencium samar aroma maskulin Abraham—campuran dari parfum mahal dan sesuatu yang khas darinya. Sejenak,

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status