Share

Bab 6 Lily Kembali

Author: Rindu_Mentari
last update Last Updated: 2024-10-10 12:17:18

"Bi, siapkan makan malam!" perintah Rani dengan tegas pada Surti, pembantu yang baru ia rekrut beberapa waktu lalu. Surti, seorang wanita paruh baya, mengangguk patuh sambil tersenyum lembut. "Baik, Nya," ucap Surti sambil berlalu menuju dapur.

Rani tersenyum puas, merasa berkuasa dalam rumah peninggalan Lily.

"Huh! Enaknya jadi Nyonya rumah, kenapa tidak dari dulu aku menyingkirkan Lily?" dengus Rani, menyesali kesalahan yang sudah ia perbuat. Rani menghela napas panjang, seraya memikirkan keberuntungan yang baru saja ia nikmati.

"Ternyata begini rasanya jadi orang kaya, tinggal tunjuk sana tunjuk sini memberi perintah, semua pekerjaan rumah pun beres," ujarnya bergumam dalam hati, sambil memainkan kuku-kukunya yang telah ia beri warna merah menyala, lalu Rani melipat kedua tangannya di atas meja makan sembari menunggu terhidangnya makanan dengan lauk pauk yang lezat.

Merasa bosan karena menunggu lama, Rani berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang dulu milik Lily. Kini, ia berhak menempati kamar tersebut dan menikmati segala fasilitas yang ada di dalamnya. Tangannya mengelus kasur empuk yang terasa begitu mewah, sementara matanya menatap langit-langit kamar yang tinggi.

Rani baru tinggal beberapa hari di rumah itu. Selama inj Crish menyembunyikan keberadaannya dari khalayak ramai. Dan satu minggu yang lalu Crish menjemputnya dari tempat persembunyiannya selama ini karena Rani terus-menerus merengek minta pindah ke rumahnya Lily yang besar dan mewah.

Sambil tersenyum lebar, Rani memutuskan untuk memanjakan dirinya dengan mandi air hangat yang telah diberi minyak esensial aroma terapi di bak mandi besar yang terletak di sudut kamar mandi. Pikirannya melayang pada betapa hidupnya berubah drastis sejak ia berhasil menyingkirkan Lily, dan bagaimana ia kini menjadi penguasa di rumah ini.

"Ah! Betapa indahnya hidup ini," gumam Rani, tenggelam dalam kebahagiaan yang tak terhingga.

Rani mengenakan pakaiannya, ia menyisir rambutnya sambil bersenandung. Pintu kamar terbuka dan menampilkan wajah letih suami tercintanya.

"Sayang, kamu sudah pulang? Bagaimana pertemuannya? Lancarkan?" Rani memberondong Crish dengan banyak pertanyaan. Ia tak menghiraukan wajah lelah suaminya itu.

"Semuanya lancar. Semoga saja tender itu jatuh pada perusahaan kita," jawab Crish sembari membuka jasnya dan Rani mengambilnya dari tangan Crish lalu meletakkannya di atas ranjang besar beralaskan kain sprai bermotif bunga mawar kesukaannya.

Rani membantu Crish membuka dasi yang melingkar di leher Crish, bibirnya terus mengulas senyum.

"Kelihatannya kamu sedang senang?" tanya Crish pada Rani.

"Iya. Aku sangat bahagia bisa memiliki semua ini, sungguh aku tak menyangka akan semudah itu menyingkirkan Lily si brengsek itu," tutur Rani. Kalimat terakhirnya mengandung kebencian yang begitu dalam pada Lily.

Crish menoel hidung Rani lembut, ia tersenyum saat mendengar ucapan Rani.

"Apa sekarang kamu sudah benar-benar bahagia?" tanya Crish.

"Tentu aku sangat bahagia, bagaimana tidak? Aku kini menjadi orang kaya dengan harta melimpah. Apa pun yang aku inginkan dapat aku wujudkan dengan sangat mudah," ungkap Rani tanpa rasa malu.

Waktu berjalan begitu cepat, sudah setahun sejak kecelakaan tragis yang menimpa Lily, istri dari Crish. Kini, perusahaan yang semestinya direbut kembali oleh Lily, tetap berada di tangan Crish, karena takdir memilih jalan lain untuk Lily.

Di sebuah ruang perawatan rumah sakit, seorang wanita tengah terbaring dengan seluruh tubuhnya ditutupi dengan selimut khas rumah sakit. Wanita itu adalah Lily yang kini terjebak dalam wajah baru dan tampilan baru sebagai Marsanda.

Pagi itu, Abraham mendatangi Lily.

"Bangun!" Perintah Abraham sembari menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Lily.

Lily menahan selimut itu dengan kuat.

"Biarkan aku mempersiapkan mentalku dulu," pinta Lily.

"Aku belum sepenuhnya menguasai diriku sebagai Marsanda, istrimu," lanjutnya.

"Baik. Aku akan memberimu waktu. Dalam 5 menit aku minta kamu sudah harus siap," tegas Abraham sembari melirik arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Baik, Tuan Abraham," sahut Lily.

Di dalam selimut, Lily menghela napas dalam-dalam.

Dalam tatapan nanar pria itu, terlihat betapa ia merindukan senyum manis Marsanda, istri tercintanya yang kini ada pada diri Lily. Entah bagaimana bisa senyuman Lily dan Marsanda begitu mirip. Terlebih setelah ia menjalani operasi, kemiripan itu kian semakin jelas. Senyuman yang selama ini ia rindukan itu Abraham dapatkan secara diam-diam dari Lily. Sekalipun banyak yang menganggap pria itu sebagai pria kejam dan tak memiliki hati nurani, namun di hadapan Marsanda, ia selalu menjadi sosok yang baik ,lembut dan penyayang.

Marsanda lah yang menjadi alasan Abraham untuk berjuang menjadi orang yang baik dan tak lagi kejam, namun kini wanita itu terbaring tak bernyawa di bawah tumpukan tanah merah. Sekarang, tak ada lagi alasan baginya untuk merubah dirinya menjadi orang baik.

Abraham kembali menarik selimut itu dengan kuat dan menghempaskannya ke lantai.

"Cepat bangun!"

"Aku tak banyak waktu untuk semua ini," kata Abraham dengan sorot mata tajam dan dingin.

Tak ada senyuman yang terukir di wajah bengisnya.

Lily balik menatap mata tajam itu.

"Aku akan bangun," kata Lily.

"Cepat kenakan itu!" Abraham melempar tote bag ke sisi lain di mana Lily sedang duduk di tepi ranjang brangkar.

Lily tak merespon, ia tetap diam dengan kedua mata yang terus menatap Abraham dengan berani.

"Tidak bisakah kau berlaku sedikit lembut pada patner kerjamu ini?" protes Lily sambil meraih tote bag yang Abraham lemparkan tadi.

Abraham berbalik, ia berjalan menuju pintu keluar.

Lily mengganti pakaiannya dengan baju yang baru saja Abraham berikan padanya.

"Aku sudah siap!" teriak Lily.

Ia tahu kalau Abraham tak pergi jauh. Lalu, terdengar langkah kaki yang menjauh dan pintu terbuka.

"Nyonya, saatnya kita kembali," ucap sang asisten Abraham pada Lily.

Lily berjalan di belakang Abraham. Ia terus memandang punggung tegap pria yang berjalan di depannya itu.

"Tak buruk. Hanya saja.... dia terlalu dingin dan berwajah masam," gumam Lily dalam hati.

Menyadari kekeliruannya, Lily pun memukul kepalanya sendiri.

"Ish! Apaan sih?" protesnya pada dirinya sendiri.

Sepanjang perjalanan tak ada sepatah kata pun yang terucap di antara keduanya. Masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri.

"Kamu lapar tidak?" tanya Lily pada Abraham secara tiba-tiba.

Lily mengelus perutnya sendiri, "Aku lapar," ujarnya.

Lalu, ia pun pergi meninggalkan Abraham. Lily pergi ke sebuah toko yang ada di area bandara, ia membeli sepotong roti dan sebotol air mineral untuknya.

Ketika akan membayar, ia baru teringat bahwa dirinya tak memiliki uang sepeser pun.

"Bagaimana ini?" tanya Lily dalam hati dengan wajah bingung.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 7 Harga sebuah makanan

    Abraham menghela napas panjang saat melihat Lily mengambil makanan dari rak dan menuju kasir tanpa sedikit pun rasa ragu. Ia hanya bisa menggeleng pelan sebelum akhirnya merogoh saku dan mengeluarkan sebuah kartu untuk membayar makanan yang diambil oleh wanita itu. "Tak punya uang tapi ingin jajan," ujar Abraham, nada suaranya terdengar datar namun penuh sindiran. Lily tak menoleh, tak tertarik membalas ucapannya. Baginya, yang terpenting saat ini adalah mengisi perutnya. Ia merobek bungkus roti dengan cepat dan mulai melahapnya tanpa beban. Mereka keluar dari toko itu tanpa banyak bicara. Mereka kembali melanjutkan perjalannya yang sempat terhenti oleh Lily. Sebuah mobil mewah hitam menjemput mereka di bandara. Abraham akhirnya menghentikan langkahnya sebelum sampai pada mobil jemputannya itu. "Lily, ingat! Kamu bukan lagi Lily saat ini, melainkan Marsanda, istriku. Kamu tahu? Dia begitu anggun dan...." tanyanya serius. Lily berhenti sejenak, masih mengunyah makanannya.

    Last Updated : 2025-02-01
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 8 Pernikahan Atau Pelarian.

    Abraham melangkah masuk ke dalam kamar, membiarkan pintu tertutup dengan suara pelan di belakangnya. Tanpa tergesa-gesa, ia membuka jas hitam yang melekat di tubuhnya dan melemparkannya ke atas ranjang dengan santai. Tangannya terangkat ke leher, mengendurkan dasi yang sedari tadi melilitnya, lalu perlahan menariknya hingga terlepas sepenuhnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di sudut ruangan. Dua kancing teratas kemeja putihnya ia buka, membiarkan sedikit kulit dadanya yang berbulu terlihat. Tangannya kemudian bergerak menggulung lengan kemejanya hingga mencapai siku, tetapi sebelum ia sempat menyelesaikannya— Suara pintu kamar mandi terbuka. Lily keluar dengan santai, hanya mengenakan handuk putih yang membungkus tubuhnya hingga sebatas lutut. Uap tipis masih mengepul dari dalam kamar mandi, mengisyaratkan bahwa ia baru saja selesai mandi. Tetesan air jatuh perlahan dari rambut basahnya, menelusuri leher jenjangnya sebelum menghilang di balik handuk. Memberikan nuansa

    Last Updated : 2025-02-02
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 9 Kembali dalam Wujud yang Berbeda

    Lily menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu cepat. Abraham baru saja mengumumkan sesuatu yang tidak pernah ia duga—mereka akan menemui keluarganya. Secepat ini? Tanpa persiapan? "Seharusnya kamu siap kapan pun aku membawamu ke sana," ujar Abraham sambil merapikan dasinya. Lily menggigit bibirnya, menahan kata-kata yang hendak meluncur. Bukannya ia tidak mau bertemu dengan keluarga Abraham, tetapi ia membenci kejutan seperti ini. Ia benci tidak memiliki kendali atas situasi, sesuatu yang sudah lama hilang sejak hidupnya hancur karena Crish. Crish. Nama itu bergaung di kepalanya seperti racun yang tak bisa ia buang. Mata Lily terpaku pada dasi di tangan Abraham. Dulu, ia biasa melakukan hal yang sama untuk Crish. Mengikat dasi di leher pria yang pernah ia cintai, tanpa tahu bahwa tangan pria itu juga digunakan untuk mencabik hatinya. “Kenapa diam?” suara Abraham membuyarkan lamunannya. Lily menghela napas panjang. "Kamu bisa memberi

    Last Updated : 2025-02-03
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 10 Pertemuan yang Mengancam

    Ruang tengah mansion keluarga Abraham begitu luas, dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lampu kristal berkilauan. Dindingnya dipenuhi lukisan-lukisan klasik yang menggambarkan kemewahan dan kejayaan keluarga ini. Lily duduk dengan anggun di salah satu sofa empuk berwarna gading, tangannya masih melingkar di lengan Abraham, berpura-pura seolah ia benar-benar nyaman berada di sini. Di hadapan mereka, Cecillia duduk dengan tenang, menyesap teh dari cangkir porselen mahalnya. Ayah Abraham, Leonard Soren Valmont, juga duduk di seberangnya dengan ekspresi sulit ditebak. Percakapan mereka mengalir dengan lancar—terdengar hangat dan penuh keakraban. Cecillia menanyakan bagaimana Lily bisa "kembali" setelah sekian lama, sementara Leonard mengamati setiap kata dan gerak-geriknya dengan penuh perhatian. "Aku tersadar kembali oleh cinta yang selalu Abraham berikan padaku hampir sepanjang waktu,," ujar Lily dengan nada yang telah ia latih. "Aku hanya… butuh sedikit waktu untuk memulihkan

    Last Updated : 2025-02-03
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 11 Kecurigaan yang mematikan

    Crish terus menatap Lily, dia merasa kalau wanita yang ada di seberangnya begitu familier. "Nyonya Marsanda, aku dengar Anda mengalami kecelakan di tempat yang sama dengan mantan istriku, Lily. Sayangnya... dia harus meregang nyawa di tempat kejadian," ucap Crish bernada sedih. Dalam hati Lily mengutuk Crish dengan tangan yang terkepal erat. Abraham yang ada di sampingnya berbisik padanya sambil memberikan lauk pada Lily agar tak menimbulkan curiga pada mereka. "Ingat. Jangan terbawa emosi," bisiknya. Lily tersenyum manis pada Abraham, "Terima kasih, sayang." Lily menahan napasnya setelah ia tersenyum pada Abraham. Ucapan Crish barusan menusuk tepat ke dalam hatinya seperti belati yang dipanaskan di api dendam. "Dia telah meregang nyawa di tempat kejadian." Kata-kata itu terngiang di kepala Lily. "Bajingan itu," gumam Lily. Tangannya mengepal erat di bawah meja, jemarinya hampir menusuk telapak tangannya sendiri. Ia ingin berteriak, ingin mengatakan kebenaran di depan

    Last Updated : 2025-02-04
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 12 Pergi dengan rahasia yang tertinggal

    Lily menghela napas pelan saat Abraham meraih tangannya, membantunya berdiri dari kursi. Makan malam telah selesai, tetapi ketegangan yang mengendap di mansion ini masih menggantung di udara. “Terima kasih atas jamuannya,” ujar Abraham dengan nada sopan namun tetap berjarak. Ia menatap Leonard dan Cecillia bergantian, seolah memberi peringatan halus bahwa mereka akan segera kembali. Leonard hanya mengangguk, tetapi tatapannya masih tajam. “Aku harap setelah ini kau baik-baik saja, Marsanda,” ucapnya, menekankan nama itu dengan nada yang sulit ditebak. Lily tersenyum kecil, meskipun di dalam kepalanya ia masih mendengar suara Crish berbisik: "Aku ingin tahu… jika aku menyentuhmu, apakah aku akan merasakan orang yang sama?" “Tidak ada yang tahu tentang masa depan,” jawab Lily, menyimpan makna di balik kalimatnya. Cecillia tertawa kecil, jemarinya memainkan tepi cangkir teh yang telah kosong. “Oh, aku yakin kita akan segera bertemu lagi.” "Bukankah kita ini keluarga? Benar beg

    Last Updated : 2025-02-06
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 13 Menjebak Sang Musuh

    Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar di ruang makan mansion Abraham. Lily duduk di seberang pria itu, sesekali mengaduk kopi hitamnya tanpa minat. Pikirannya masih melayang pada kejadian semalam—tatapan Crish yang nyaris menelanjangi identitasnya, dan kecemburuan yang terpancar jelas dari Rani. Abraham meletakkan sendoknya dan menatap Lily tajam. “Aku sudah menyiapkan rencana untukmu,” katanya dengan nada serius. “Pergilah ke perusahaan Crish sebagai klien yang akan bekerja sama dengannya.” Lily mengangkat alis, lalu tersenyum miring. “Dan kau yakin dia akan langsung percaya?” “Crish itu serakah. Jika ada peluang bisnis yang menguntungkan, dia tidak akan berpikir dua kali,” jawab Abraham tenang. “Yang perlu kau lakukan hanyalah membuatnya tertarik.” Lily bersandar ke kursinya, memainkan pinggiran cangkir kopinya. “Dan setelah itu?” Abraham menyilangkan tangan di dadanya. “Kita akan perlahan menjatuhkannya dari dalam.” Lily tertawa pelan, tetapi tidak ada ke

    Last Updated : 2025-02-14
  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 14 Api Cemburu

    “Makan malam, ya?” Lily mengulang ucapan Crish dengan nada bertanya, matanya menatap pria itu dengan penuh arti. Di seberangnya, Rani yang sejak tadi sudah menaruh curiga, merasakan kemarahan yang semakin membara di dadanya. Jemarinya meremas kuat roknya hingga kusut, tetapi ia tetap berusaha mempertahankan ekspresi netralnya. Crish tersenyum, tatapannya tidak lepas dari Lily. “Ya, aku pikir akan lebih nyaman mendiskusikan detail kerja sama ini tanpa tekanan suasana kantor.” Lily berpura-pura berpikir, memainkan ujung cincinnya—cincin yang bukan sekadar perhiasan, tetapi simbol perjanjiannya dengan Abraham. “Oh?” bibirnya melengkung kecil. “Aku tidak keberatan, asalkan Tuan Crish tidak keberatan dengan kehadiran suamiku.” Rani menahan napas, matanya melebar seketika. Sementara itu, senyum Crish sedikit memudar, meskipun hanya sesaat. “Oh tentu, tentu. Aku hanya berpikir ini adalah pertemuan bisnis biasa.” Lily tersenyum manis. “Bisnis, tentu saja. Tapi aku dan suamiku selalu be

    Last Updated : 2025-02-14

Latest chapter

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 46

    Rani duduk diam di sudut ruangan kumuh itu, memeluk tubuhnya sendiri seolah berusaha mencari kehangatan dalam dinginnya ketakutan yang menyelimuti dirinya. Waktu terus berjalan, tetapi pikirannya masih berputar tanpa menemukan jalan keluar. "Jika aku menjalankan perintah Lily, aku akan kehilangan segalanya. Tapi jika aku menolak, dia tidak akan membiarkanku hidup dengan tenang." Matanya beralih ke amplop yang masih berada di genggamannya. Jari-jarinya mengusap permukaan amplop itu dengan ragu. Ia tahu, di dalamnya terdapat perintah Lily—perintah yang bisa mengubah takdirnya, entah menuju kehancuran atau kelangsungan hidupnya. Tok! Tok! Suara ketukan di pintu membuatnya tersentak. Jantungnya berdegup kencang saat seorang pria berbadan tegap masuk ke dalam ruangan. Itu salah satu orang kepercayaan Lily. "Waktumu hampir habis, Rani," katanya dengan suara dingin. Rani menelan ludah. Napasnya tersengal. Ia tak punya pilihan lain selain membuat keputusan sekarang. Tapi… keputu

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 45 Pilihan Terakhir Untuk Rani

    Lily melangkah pelan memasuki bangunan reyot yang hampir roboh. Bau busuk menyengat menyambutnya, tetapi ia tak terganggu sedikit pun. Di sudut ruangan yang lembap dan gelap, Rani terduduk dengan tubuh penuh luka. Rambutnya acak-acakan, wajahnya kotor, dan pakaiannya compang-camping. Ia hampir tak terlihat seperti wanita angkuh yang dulu merampas segalanya dari Lily. "Lama tak bertemu, Rani." Suara lembut Lily menggema di ruangan sunyi itu, namun ada nada dingin di dalamnya. Rani mengangkat wajahnya dengan susah payah. Matanya nanar, penuh ketakutan dan kepasrahan. "Lily…" suaranya serak, hampir seperti bisikan. "Tolong… aku… aku tak bisa lagi." Lily tersenyum samar dan berjalan mendekat, lalu berjongkok di depan Rani. "Tolong?" ia tertawa kecil. "Kau tidak ingat bagaimana dulu aku memohon padamu? Bagaimana aku hampir mati karena permainan kotor yang kau lakukan?" Rani menggeleng lemah, air matanya jatuh satu per satu. "Aku salah… aku menyesal… aku bersedia menebus sem

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 44

    Rani menatap bayangannya di cermin mobil. Wajahnya sudah sempurna dengan riasan halus yang menonjolkan kecantikannya. Gaun merah elegan yang membalut tubuhnya seakan menjadi senjata terakhirnya untuk menghadapi Abraham. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu… Ini sama saja dengan menggali kuburnya sendiri. "Abraham tak mudah didekati, apalagi disentuh," gumamnya sambil menatap gedung bertingkat tempat pria itu berkantor. Tangannya sedikit gemetar saat membuka pintu mobil. Ia sadar, sekali ia melangkah masuk, maka ia tak akan bisa mundur lagi. Langkah demi langkah ia tempuh dengan hati berdebar. Para karyawan yang lalu lalang di lobi meliriknya sekilas, tetapi ia mengabaikannya. "Aku harus melakukannya. Jika aku ingin bertahan, aku harus membuatnya percaya." Sesampainya di depan ruang utama, ia menarik napas panjang sebelum berbicara kepada sekretaris Abraham. "Aku ingin bertemu dengan Tuan Abraham," ucapnya dengan senyum yang ia paksakan. Sekretaris itu menatapnya denga

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 43

    Rani mundur selangkah, ponselnya hampir terjatuh dari tangannya. Napasnya tersengal, jantungnya berdetak kencang. "Tidak... ini tidak mungkin," bisiknya ketakutan. Ia dengan cepat menutup semua tirai apartemennya, lalu berlari ke pintu untuk memastikan kuncinya masih terpasang. Ia bahkan menekan tubuhnya ke pintu, seolah-olah itu bisa melindunginya dari ancaman yang terasa semakin nyata. Notifikasi ponselnya berbunyi lagi. "Jangan buang waktu, Rani. Aku menunggumu." Rani menggeleng, menggigit bibirnya untuk menahan kepanikan. Crish benar-benar serius. Dia masih bisa menjangkaunya, bahkan saat ia berpikir sudah aman. Tangannya mulai berkeringat saat ia mencoba berpikir jernih. Pilihan apa yang aku punya? Jika ia menolak, Crish pasti akan terus memburunya, mungkin lebih dari sekadar ancaman. Tapi jika ia menuruti perintahnya, itu berarti ia harus berhadapan dengan Abraham dan Lily lagi. Dua pilihan, dan keduanya sama buruknya. Ia mendongak, menatap bayangannya di cermin

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 42

    Crish dibawa pergi oleh anak buah Abraham, tapi bahkan saat borgol terpasang di tangannya, seringai puas masih menghiasi wajahnya. Ia dilempar ke dalam mobil, namun sebelum pintunya ditutup, ia menatap Abraham dengan penuh arti. "Kau terlalu percaya diri, Abraham," katanya. "Jangan berpikir bahwa menyingkirkanku akan membuat hidupmu lebih mudah. Karena bahkan di balik jeruji, aku masih bisa menyentuh Lily." Abraham mengepalkan tangannya. "Kau menyentuhnya sekali lagi, dan aku pastikan kau tidak akan pernah melihat dunia luar lagi." Crish tertawa. "Kau pikir aku perlu menyentuhnya sendiri? Dunia ini penuh dengan orang-orang yang bisa dibayar, Abraham. Kau tahu itu lebih baik dariku." Abraham tidak berkata apa-apa lagi. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya untuk menutup pintu mobil, lalu mobil itu melaju, membawa Crish ke tempat di mana dia seharusnya berada—penjara. Namun, perasaan tidak nyaman mulai mengusik Abraham. Lily duduk di ruang kerja Abraham, menatap keluar jend

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 41 Terjebak Di Jalan Buntu

    Rani menginjak pedal gas sekuat tenaga, berusaha menjauh dari mobil hitam yang terus memepetnya. Jalanan gelap dan sepi, hanya ada lampu-lampu kota di kejauhan. "Aku harus keluar dari sini!" pikirnya panik. Mobil hitam itu semakin mendekat, mencoba memaksa mobilnya keluar dari jalan utama. Rani menggertakkan giginya, mencoba tetap fokus. Namun, saat ia membelok tajam ke kanan, jantungnya hampir berhenti berdetak. Jalan buntu. Matanya membelalak. "Tidak… tidak! Ini tidak mungkin!" Ia menekan rem mendadak, mobilnya berhenti tepat beberapa meter dari dinding beton tinggi. Dari kaca spion, ia melihat mobil hitam itu juga berhenti. Pintu mobil terbuka, dan beberapa pria berbadan besar keluar. Rani meraih ponselnya dengan tangan gemetar dan buru-buru mencoba menghubungi seseorang—siapa saja yang bisa menolongnya. Satu dering… dua dering… Panggilannya tersambung. "Halo?" Suara Abraham terdengar di seberang. Rani tidak peduli lagi. Ia berbisik ketakutan, "Abraham… tolo

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 40 Rencana Gila Crish

    Crish duduk di kursi ruang kerjanya dengan wajah kusut. Tangannya mencengkeram gelas minuman dengan erat, sementara pikirannya berkecamuk. "Brengsek!" Dengan penuh amarah, ia melempar gelas itu ke dinding, membuat pecahannya berhamburan di lantai. Semua rencananya hancur berantakan. "Aku kehilangan perusahaan, kehilangan investor, dan sekarang bahkan nyawaku pun dalam bahaya!" Serangan terhadap Lily gagal. Itu artinya, Abraham pasti sudah mengetahuinya. Dan jika Abraham sudah turun tangan, maka Crish tahu waktunya semakin menipis. Tok! Tok! Pintu ruangannya diketuk sebelum seseorang masuk dengan ekspresi tegang. "Tuan, ada masalah besar…" Crish menoleh tajam. "Masalah apalagi?!" bentaknya. Orang itu menelan ludah sebelum berkata, "Abraham menggerakkan koneksinya. Semua perusahaan yang masih terikat dengan kita mulai menarik diri. Kita benar-benar dalam bahaya!" Crish merasakan dadanya sesak. Semua orang meninggalkannya. Bahkan Rani, yang selama ini bersamanya,

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Bab 39 Bayangan Kematian

    Crish menunggu di ujung telepon, napasnya berat dan penuh amarah. Suara di seberang terdengar setelah beberapa detik. "Siapa targetnya?" Crish menyeringai, matanya gelap oleh dendam. "Marsanda Evelyn Whitmore. Aku ingin dia lenyap selamanya." Ada keheningan sejenak sebelum suara itu menjawab. "Harga yang kau minta tidak murah, Crish. Apalagi targetmu seseorang yang punya hubungan dengan Abraham." Crish menggeram. "Aku tidak peduli berapa harganya! Aku ingin dia mati!" Suara di seberang tertawa kecil. "Baik. Aku akan mengatur semuanya. Tapi kau tahu konsekuensinya, kan? Jika ini gagal, bukan hanya dia yang akan mati." Crish mengepalkan tangannya. "Lakukan saja pekerjaannya!" Telepon terputus. Crish menyeringai puas. Kali ini, Lily tidak akan bisa lolos seperti sebelumnya. Jika dia pernah kembali dari ambang kematian, maka kali ini dia tidak akan punya kesempatan kedua. Di tempat lain, seseorang telah menerima perintah eksekusi. Dan Lily… tidak menyadari bahwa ajalnya

  • Kontrak Sandiwara Istri sang CEO   Ban 38

    Lily baru saja hendak berdiri dari sofa ketika kakinya tanpa sengaja tersangkut di ujung karpet. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, gravitasi menariknya ke depan. "Ah—!" Dalam sekejap, dua lengan kuat menangkapnya dengan sigap. Lily terkejut, dan saat ia mengangkat kepalanya, wajah Abraham sudah begitu dekat dengannya. Mata mereka bertemu. Napas Lily tercekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Abraham, bisa mendengar detak jantungnya yang tenang, kontras dengan miliknya yang berdetak liar. "Ternyata dia tampan sekali," ujar Lily dalam hati. Abraham tidak langsung melepaskannya. Ia menatap Lily dalam, seolah sedang membaca sesuatu yang tersembunyi di balik mata wanita itu. "Hati-hati," bisik Abraham, suaranya rendah dan penuh perhatian. Lily menelan ludah. Jarak di antara mereka terlalu dekat, terlalu berbahaya. Ia bisa mencium samar aroma maskulin Abraham—campuran dari parfum mahal dan sesuatu yang khas darinya. Sejenak,

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status