Bandara Internasional Northen.
Kota Northen Vale.Sosok pria yang mengenakan kaos dan celana jeans hitam berjalan turun dari dalam pesawat, pria itu memakai masker untuk menutupi wajahnya dan menyeret sebuah koper yang sudah usang. Penampilannya sangat sederhana, hal itu membuatnya terlihat sangat mencolok di antara orang-orang yang berlalu lalang."Ah …. Setelah lima tahun …."Nathan Sykes, yang telah mendekam di penjara selama lima tahun, akhirnya bebas dengan hasil remisi yang dia dapatkan. Pria itu menghirup udara segar yang sudah lama tidak dia dapatkan. Dia dipenjara di sebuah pulau terpencil bernama Pulau Mistik, sebuah hukuman yang seharusnya tidak dia dapatkan."Ma …. Setelah lima tahun, aku akhirnya bisa melihatmu," Nathan berjalan seraya menyeret koper usangnya keluar dari bandara.Kring~~Saat sedang berjalan, tiba-tiba ponselnya berbunyi.[Tuan, apakah Anda sudah sampai?]Terdengar sebuah pertanyaan yang lantang dari ujung panggilan telepon itu, membuat Nathan menjawab. "Ya, aku baru saja turun dari pesawat, aku akan pergi ke parkiran."Nathan berdiri di area parkir untuk menunggu seseorang menjemputnya, kemudian Nathan berkata. "Aku sudah berada di parkiran, aku—"BRAK!"Ah!"Terdengar jeritan seorang wanita cantik, Nathan yang mendengar itu menolehkan kepalanya."Sayang!" Kembali terdengar seorang pria berteriak, pria itu memakai jas rapi dan bergegas menuju ke arah wanita yang tersungkur di lantai. "Kamu tidak apa-apa, sayang?" Lirihnya seraya membantu wanita itu berdiri."Brengsek, apa kamu bodoh!?" Teriak pria asing itu dengan kesal, hal itu membuat orang-orang yang berlalu-lalang mengalihkan pandangannya ke arah mereka."Kalau berdiri itu jangan sembarangan! Ini area ramai pejalan kaki, tuh, lihat! Ada tempat duduk untuk area penjemputan!" Maki pria itu dengan kesal, melihat wanitanya yang kesakitan, pria itu kembali berkata. "Minta maaf!"Nathan tercengang saat mendengar ucapan pria itu. 'Hah? Jelas-jelas wanita itu yang menabrakku, gak punya mata, apa?!'Saat Nathan sedang bertanya-tanya hal yang membuatnya seakan-akan bersalah, dia mendengar orang-orang saling berbisik. "Bukankah pria itu ahli waris keluarga Forger, Marcel Forger?!""Benar, dia adalah Marcel Forger! Direktur dari Forger Company, perusahaan nomor satu di Northen Vale!"Ketika Nathan sedang mendengarkan bisikan orang-orang, Marcel kembali berkata dengan penuh makian. "Brengsek! Beraninya kau tidak mendengarku?! Aku bilang, minta maaf!"Wanita yang tersungkur itu mendengus dengan kesal saat melirik ke arah Nathan. "Dasar pria miskin! Sombong sekali, ya?"Nathan menatap Marcel dengan datar, dia berkata. "Hah? Aku rasa kamu salah paham, jelas-jelas wanitamu yang menabrakku, untuk apa aku meminta maaf?" Dia kembali memalingkan wajahnya melihat mobil jemputannya, namun tidak juga datang. "Sial sekali hari ini!" gerutunya dengan kesal."A-apa? Apa kamu bilang!?" seru Marcel dengan nada tinggi.Orang-orang yang mendengar ucapan Nathan kembali berseru. "Apa aku tidak salah dengar? Berani sekali dia berkata seperti itu kepada Tuan Muda Forger?! Apa otaknya terbentur barusan?""Aku baru melihat pria itu, dia terlihat sombong dan juga arogan!" Sahut seseorang. "Aku ingin melihatnya bersujud dan meminta maaf, hahaha ….""Sayang, apa dia benar-benar bodoh? Beri saja dia pelajaran, agar dia tahu siapa kamu!" ujar Wanita itu dengan kesal.Mendengar ucapan wanita itu, Marcel segera melambaikan tangannya, sekitar lima atau enam orang bergegas mendekatinya."Beri pemuda itu pelajaran! Aku ingin dia menyesal karena telah bersikap tidak sopan terhadapku!" Titah Marcel dengan lantang.Ketika para pengawal Marcel mendengar perintah itu, mereka langsung bergegas mengepung Nathan."Apa kalian serius?" ucap Nathan dengan datar, tatapannya terlihat sangat dingin dan mematikan.Sebelum mereka sempat mengepung Nathan, tiba-tiba para pengawal itu mematung kala pandangan mereka menatap netra hitam milik Nathan.Marcel yang melihat para pengawalnya tiba-tiba berhenti, dia berteriak. "Brengsek! Kenapa kalian diam saja!? Dasar tidak berguna!" Makian itu membuat para pengawalnya kembali tersadar. "Siapapun yang mampu mematahkan lengannya, aku akan memberikan sepuluh juta!""Sepuluh juta!" Tiba-tiba seorang pengawal Marcel menerjang ke arah Nathan dengan ganas.BUGH! BRAK! KRAK!Dentuman pukulan yang begitu keras dapat terdengar, pengawal itu terpental beberapa meter dan menabrak sebuah kursi, diikuti suara retakan tulang punggung yang memilukan telinga."A-apa?!""Bagaimana mungkin?!"Marcel yang melihat kejadian itu membelalakkan matanya, dia sama sekali tidak dapat melihat apa yang terjadi barusan. Kejadian itu berlangsung secepat kilat!"Kalian, kenapa kalian diam saja? Cepat hajar pria itu!" Teriak Marcel penuh amarah.Para pengawal itu saling memandang, mereka akhirnya melesat ke arah Nathan secara serentak.BUGH! BRAK! KRAAK!Kembali, dapat terdengar suara pukulan yang memilukan di area parkiran itu, para pengawal Marcel terpental beberapa meter sebelum akhirnya terkulai lemas di atas lantai."Hah? I-ini …." Marcel merasakan tubuhnya mati rasa. "K-kenapa bisa begini?!" serunya dengan tubuh gemetar.BRUK!Kala Nathan memalingkan kepalanya, pandangan mereka berdua saling beradu, yang membuat Marcel tiba-tiba terduduk dengan lemas. Aura membunuh tiba-tiba menguar dengan kuat dari dalam tubuh Nathan. Orang-orang disekitar yang merasakan itu mundur karena takut akan terseret dalam masalah ini.'S-siapa orang ini?!'Marcel menatap netra hitam nan dingin pria itu dengan gemetar."S-siapa kamu?" Marcel dengan sekuat tenaga bangkit berdiri. "Beraninya kamu melakukan ini kepada pengawalku!" Bentaknya dengan sedikit gemetar.Mendengar bentakan dari Marcel, Nathan melangkahkan kakinya dengan kuat menuju ke arah Marcel. Melihat pria itu yang berjalan menghampirinya dengan mantap, tanpa sadar Marcel dan kekasihnya mundur satu langkah.Nathan tersenyum dingin, saat jarak antara mereka tersisa beberapa meter, Nathan menjulurkan tangannya ke arah Marcel. Seakan-akan, tangan sang pencabut nyawa menghampiri merekanya. Namun, ketika jemarinya hampir mencengkram wajah tampan Marcel, terdengar suara yang memekakkan telinga."Ada apa ini?"Nathan yang mendengar itu menghentikan tangannya di udara, pria itu memalingkan wajahnya ke arah suara tersebut. Terlihat, sosok pria yang tinggi besar dan gagah berjalan menghampiri mereka sembari membelah kerumunan orang-orang.Marcel yang melihat sosok pria itu langsung berlari sembari matanya berbinar. 'Bukankah itu Tuan Paul?' Marcel tersenyum melihat sang dewa penyelamat datang menghampiri. "Tuan Paul," sapa Marcel dengan sopan. "Tolong, bantu aku!""Paul? Bukankah dia seorang Jendral tingkat tinggi Northen? Paul Cartney!""Untuk apa sosok Jendral setingkat Paul datang kemari?" bisik seseorang membicarakan Paul yang merupakan seorang Panglima perang negara Northen."Aku yakin Tuan Forger mengenalnya, dia pasti akan membantunya!" Sahut penonton lainnya. Dia melirik ke arah Nathan dan mendengus. "Hidup pemuda itu sudah habis!"Marcel segera mendengus dengan kesal. "Tuan Paul! Beruntung sekali Anda datang, pria itu entah berasal dari planet mana, diatelah memukuli pengawalku, bahkan dia ingin memukulku!" Dia menunjuk ke arah Nathan dengan senyuman picik, tatapannya seakan penuh dengan kemenangan. "Kamu harus memberinya pelajaran! Dia—"PLAK!Tiba-tiba, sebuah tamparan yang sangat keras bergema di tempat itu, hal itu membuat Marcel terjatuh ke lantai dengan darah mengalir dari sudut bibirnya."Berani sekali kamu!" Bentak Paul dengan suara menggelegar. "Siapa kamu? Hanya seorang pewaris keluarga Forger, bukan?" sahutnya dengan tatapan mengintimidasi. "Berani sekali berbicara lancang terhadap Tuan Ace?!""Apa?!""Paul menampar Tuan Forger?!""Apa yang terjadi, siapa pria itu?!""Ace? Aku baru mendengarnya."Orang-orang menatap Paul dengan tatapan terkejut, seiring keterkejutannya mereka mengalihkan pandangan terhadap Nathan. Tiba-tiba mereka melihat Paul membungkukkan kepalanya dengan sopan kepada Nathan, hal itu membuat orang-orang yang melihat kejadian itu terkejut bukan main."Tuan Ace! Maaf atas ketidaknyamanan ini, aku akan memberinya pelajaran kepadanya nanti," ujar Paul dengan sopan.Nathan yang melihat Paul membungkukkan kepalanya kemudian berkata dengan dingin. "Berdiri dengan tegak, ini bukan dirimu."Setelah mengatakan itu, Nathan mengalihkan pandangannya yang dingin ke arah Marcel. "Terlambat satu detik lagi, mungkin saja wajahnya sudah hancur. Atau, bisa saja pewaris keluarga Forger yang kalian sebut itu akan kehilangan sang pewarisnya!"Mendengar ucapan itu, membuat Marcel yang terduduk di lantai gemetar hebat. Pria itu mengusap darah yang terus mengalir dari mulutnya. Bahkan, orang-orang termasuk Paul yang mendengar ucapan Nathan bergidik ketakutan.Pria di hadapan mereka ini bukanlah sosok manusia biasa, dia tidak bisa dianggap remeh. Bahkan, sosok Paul yang merupakan panglima militer tingkat tinggi pun ketakutan mendengar ucapan Nathan."M-maaf, Tuan Ace, saya—"Tidak mau mendengar basa-basi lagi, Nathan memotong ucapan Paul dengan suara yang dingin. "Cukup! Ayo pergi!"Mendengar ucapan yang begitu mendominasi, Paul langsung tertunduk. "B-baik! Lewat sini, Tuan."Mereka akhirnya meninggalkan area parkir menaiki sebuah mobil militer. Kepergian mereka membuat orang-orang yang masih terkejut itu terperangah.'Siapa pria itu?!' gumam Marcel yang masih terkejut dengan kejadian ini. 'Bahkan, Paul yang merupakan seorang panglima militer tingkat tinggi begitu menghormatinya?!'"Tuan Ace …. Jika saya boleh bertanya, hal apa yang membuat Anda datang ke kota Northen Vale ini?"Nathan yang mendengar itu melirik ke arah Paul. Aura yang sangat mendominasi dapat terlihat dari manik matanya yang dingin.Hal itu membuat Paul gemetar. "M-maaf jika saya lancang, Tuan. Tapi, kota Northen Vale hanyalah sebuah kota kecil jika dibandingkan dengan ibukota Northen," ujarnya dengan kaku.Menyadari ketakutan Paul, Nathan kembali memalingkan wajahnya menatap pemandangan Kota Northen Vale dari jendela mobil dan mulai menjelaskan kedatangannya. "Northen Vale …. Ini adalah kampung halamanku," pria itu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Paul, tatapan matanya bertabrakan dengan netra hitam milik Paul. "Sudah lima tahun, aku tidak bertemu dengan keluargaku."Mendengar penjelasan singkat sang dewa perang itu, Paul membelalakkan matanya. 'Apa? Tuan Ace berasal dari Northen Vale?!'"Tuan Ace … A-aku—""Cukup! Berhenti memanggilku Ace, aku bukan lagi seorang pejuang seperti dulu,"
Selama Nathan dipenjara, keluarga Orton tidak berniat melepaskannya, dan bahkan menuntut keluarganya untuk mengganti rugi 2 milyar kepada mereka. Pada akhirnya, tidak ada jalan lain. Orang tua Nathan harus menjual rumah untuk mengganti rugi kepada keluarga Orton karena telah berani memukuli pewarisnya. Bahkan, mereka meminjam banyak uang, tetapi mereka tetap tidak dapat mencukupinya. Pada akhirnya, masih tersisa hutang yang masih terus ditagih oleh keluarga Orton, dan mereka hanya bisa mencicilnya secara perlahan. Karena alasan ini, pekerjaan ayah Nathan tidak lagi tersedia, dan dia hanya dapat mencari nafkah sebagai kuli bangunan. Sementara ibunya membasuh wajahnya dengan air mata sepanjang hari, dan matanya dibutakan oleh tangisan.Inilah sebabnya mengapa selama Nathan dipenjara, orang tuanya tidak pernah menjenguknya walau hanya sekali.Mendengarkan ucapan ibunya, Nathan perlahan mengepalkan tinjunya, dan niat membunuh yang besar menguar dari tatapan matanya. Dia tidak pernah berpi
“Ma, siapa itu?”“Tidak usah kamu pedulikan, cepat masuk kedalam kamar, dan jangan keluar!” Maria mendorong Nathan masuk kedalam kamar, dan mengarah ke pintu dengan raut wajah yang gelisah.Terdengar derap kaki yang kuat dan besar, terlihat sosok pria kekar dan tinggi membawa 4 sampai 5 orang yang terlihat sangar melangkah masuk."Apa kamu tuli, hah?!" Maki pria itu. “Mana uangnya?” Kamil melihat Maria dan langsung bertanya.“Tuan Kamil, sudah saya siapkan,” Maria terus mengangguk, dan meraba-raba kantong hitam yang ada di saku celananya. "I-ini …."Saat ini banyak tetangga yang sedang berkumpul dan menyaksikan, melihat kejadian itu, tapi mereka tidak berani mendekat karena takut akan terseret oleh masalah.“Para bajingan itu kembali, mereka benar-benar membuat orang seakan-akan ingin mati!”“Benar, mereka sama sekali tidak berprikemanusiaan!”“Hei, kecilkan suara kalian, mereka itu orang-orang yang diutus Keluarga Orton untuk menagih ganti rugi.”Beberapa tetangga berkumpul dan berka
"Ma, aku ada urusan sebentar, tetaplah di rumah," ucap Nathan dengan datar seraya berjalan meninggalkan kediamannya penuh amarah.Ciiit …. Brak!Terdengar suara rem mobil yang nyaring, saat Nathan hendak menyebrang jalan keluar dari komplek itu, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang, tabrakan pun tidak dapat dihindari. Nathan akhirnya tertabrak hingga terpental beberapa meter."Ah!"Tubuh Nathan berguling-guling di atas aspal, jika saja saat di penjara dia tidak belajar seni bela diri, mungkin dia sudah kehilangan nyawanya."A-aduh …." Nathan berusaha berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya. "Sial! Lagi buru-buru gini!" Gerutunya dengan kesal.Tepat saat Nathan memaki dan berusaha bangkit berdiri, suara makian dapat terdengar. “Eh bego? Punya mata, gak? Nyebrang tuh pake mata!"Seorang gadis terlihat turun dari dalam mobil BMW, dia mengenakan rok berwarna putih, dan mengenakan sepatu hak tinggi, dia terlihat sangat cantik, dan menatap Nathan dengan tatapan kesal.Nathan mengernyitk
Sherly menatap Nathan tanpa ekspresi dan berkata. "Nathan, jangan menemuiku lagi, dan jangan datang mencariku lagi! A-aku …. Aku telah memutuskan untuk menikahi Rendy!"Mata Nathan menyipit dan tangannya mengepal dengan erat. Meskipun dia sudah mengetahuinya, tapi ketika Sherly mengatakannya sendiri, hati Nathan berkedut dengan kencang. Dia dipenjara karena pria itu, tapi sekarang pacarnya akan menikah dengannya?Sebuah cinta yang sangat ironis!"Hahaha …." Tiba-tiba Nathan menertawakan dirinya sendiri, dia merasa bahwa dia benar-benar terlalu bodoh.Tiba-tiba tawa Nathan berhenti, netra hitam dingin miliknya menatap ke arah Sherly, namun tidak ada kemarahan di wajahnya, dan tangannya perlahan mengendur. "Apakah itu yang kamu inginkan?"“Ya!” Sherly mengangguk. “Aku ingin memiliki kehidupan yang indah, dan kamu tidak akan pernah bisa memberikannya kepadaku!”"Dan kamu, sekarang kamu seorang mantan narapidana. Bahkan jika kamu keluar dari penjara, aku khawatir kamu akan sulit untuk men
Hotel Northen.Sosok pria tua sedang berdiri dengan wajah yang pucat di depan pintu masuk Hotel, Kevin Wibowo, sang pemilik Hotel secara pribadi menunggu Nathan di pintu, dan penampilan Kevin membuat semua orang yang masuk ke Hotel Northen banyak berbisik."Bukankah dia Kevin Wibowo?”“Benar, untuk apa dia berdiri di depan pintu? Tidak seperti biasanya!”“Benar, seolah-olah dia sedang menunggu seseorang!"“Ah benar sekali, sungguh hebat orang yang mampu membuatnya menunggu di depan pintu secara khusus!”"Tunggu, aku mendengar bahwa putra tertua dari keluarga Orton akan menikah, dan pernikahan itu dilaksanakan di sini. Apakah dia sedang menunggu seseorang dari keluarga Orton?""Mungkin saja, lagipula, keluarga Orton juga keluarga kaya, jadi mereka harus memberi sedikit ucapan selamat datang."Semua orang berjalan ke Hotel Northen sambil berbisik, tetapi Kevin masih menunggu di pintu sambil melihat arlojinya yang sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam, wajahnya menjadi sedikit tidak sab
Dokter Paul, pria itu kembali menusukkan jarum akupunktur pada Kevin dengan hati-hati, keringat dingin semakin banyak membasahi keningnya. Dan saat jarum terakhir di tusukkan padanya, Kevin tersada dan perlahan-lahan membuka matanya.“Ayah! Syukurlah, ayah sudah sadar!” Melihat Kevin sudah kembali sadar, Sarah berteriak dengan semangat, kelopak matanya dipenuhi air mata.Sarah merasa sangat ketakutan, dia takut kalau ayahnya tidak akan pernah membuka matanya lagi.Dokter yang melihat Kevin sudah sadar juga menarik nafas panjang, dia juga sebenarnya tidak tahu harus berbuat apa. Tapi disaat Sarah dan Dokter itu merasa lega, Kevin yang sudah sadar tiba-tiba tubuhnya gemetaran hebat. Raut wajahnya terlihat sangat kesakitan, wajahnya tiba-tiba membiru.“A-ayah? A-apa yang terjadi?!” Sarah berteriak, dengan panik dia menatap Dokter itu. “Dokter, apa yang terjadi?”Seketika, Dokter itu juga menjadi panik, dia terlihat kebingungan. “A-aku …. Aku juga tidak tahu, kenapa ….”“Cepat lakukan ses
“Nathan, maksudku …. Guru! Tolong angkat aku menjadi muridmu!” seru Paul penuh semangat dengan tatapan yang berbinar.Nathan membuka mulutnya tapi dia menyadari kalau dia bahkan sudah tidak punya tenaga untuk berbicara.Sedangkan Sarah yang terkejut menatap Dokter Paul. “Dokter Paul, apa yang sedang kamu lakukan? Ayahku saja belum bangun!” Sarah tidak mengerti, ayahnya jelas-jelas masih pingsan, kenapa Dokter Paul berlutut da meminta Nathan untuk menjadi gurunya?“Nona Sarah, mungkin anda tidak tahu, baru saja Nathan menggunakan Teknik Yin dan Yang!” suara Paul begitu bersemangat menjelaskan kepada Sarah. “Teknik ini saling berhubungan namun juga saling berlawanan! Dan yang paling penting, teknik ini bisa membangkitkan orang mati, Tuan Kevin pasti akan baik baik saja!”“A-apa? Benarkah itu?” Sarah menatap Nathan dengan tatapan tidak percaya, kalau apa yang dikatakan oleh Dokter Paul benar, maka Nathan benar-benar pantas disebut sang dewa penyelamat.“Tidak disangka kamu mengetahui ten
“Ryuki!” gumam Jazer dengan keprihatinan mendalam, menyaksikan putranya yang kini tampak hancur.“Kepala Keluarga, sebaiknya kita segera bawa Tuan Muda ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya,” saran Kieran berjalan mendekat dengan wajah yang cemas, menyimpan kepuasan terselubung atas kejatuhan musuhnnya.Melihat Jazer membawa Ryuki pergi, Nathan menatap Ging dengan tatapan penuh amarah. "Ryuki telah pergi, maka kau yang akan menggantikannya untuk mati!” suaranya rendah namun menggema jelas ke seluruh arena, sebuah tantangan terbuka yang seakan memancing pertarungan yang tak terhindarkan.Ging tersenyum sinis. "Nak, kau terlalu arogan. Apa kau kira karena sudah mengalahkan Ryuki, kau sudah tak terkalahkan?” balasnya dengan dingin.Nathan menjawab. "Aku tak peduli soal ketangguhan. Yang kupastikan, hari ini kau harus mati! Kau telah menangkap wanitaku, dan itu tak akan kuampuni!”Pada momen itu, amarah Nathan meledak bagaikan badai, aura membunuhnya memenuhi udara, matanya berubah
Plak! Plak! Plak!Saat Ryuki berusaha mengungkapkan bantahan, tamparan demi tamparan kembali meluluhlantakkan sisa harga dirinya, wajahnya berubah seketika menjadi simbol kehancuran.Di tengah kekacauan, Jazer bangkit dengan aura membunuh yang menyala, menantang keberanian Nathan. “Berhenti, bedebah!”“Kepala Keluarga Zellon, ini adalah pertarungan, bukan tempat untuk melanggar aturan!” seru Milan dengan nada penuh kemarahan yang tertutup kepedihan, dia membayangkan menjadi seorang ayah yang melihat putranya terhina.Bachira, yang menyaksikan dengan ngeri, segera berteriak memperingatkan. "Jazer, awas, jangan biarkan amarah menguasaimu!”“Persertan dengan kalian semua!” Jazer berteriak penuh amarah.Saat itu pula, dua aura puncak penguasa Ingras muncul, melindungi Bachira yang berdiri dengan keberanian, meski terjebak dalam konflik keluarga yang memanas. Ketegangan semakin memuncak ketika Sancho, Ketua Martial Shrine, dengan suara dingin namun penuh wibawa, menginstruksikan. "Kembali
Cahaya emas menyelimuti sekeliling medan pertempuran, seketika membuat lonceng itu terhenti. “Hahaha! Sudah kukatakan, sia-sia saja kau berjuang. Terimalah nasibmu! Berlututlah, dan mungkin aku akan berbaik hati untuk tidak membunuhmu,” ejek Ryuki dengan senyum sinis, menatap Nathan yang kini berada di ambang kehancuran.Namun, Nathan tak membiarkan kata-kata itu menggoyahkan tekadnya. Kekuatan Taiju dalam dirinya kembali meledak, namun kali ini bukan hanya mengalir melalui tubuhnya. Energi itu langsung terfokus ke dalam batu mata naga yang tersembunyi dalam dirinya, memancarkan cahaya dualistik yang memukau, setengahnya merah menyala seperti api yang berkobar, setengah lagi biru dingin bagai es yang tajam.Sorot mata para penonton semakin tertuju pada keajaiban yang terjadi, tubuh Nathan perlahan berubah menjadi transparan, seolah dia mulai menghilang. Sementara batu mata naga mengambang keluar, memancarkan sinar yang menyaingi cahaya matahari. Aura yang dihasilkan bagai gelombang la
“Kamu terlalu percaya diri,” desis Nathan, sambil aura menggelegak di sekelilingnya. Ledakan kekuatan yang mendadak itu mengundang keheranan di wajah Ryuki. “Kekuatanku .… tidak berpengaruh?” gumamnya, terperangah oleh keuletan lawannya.Pedang aruna yang telah lama menjadi bagian dari jiwanya kembali terangkat, siap untuk menantang nasib. Ryuki, yang dengan cepat membunyikan lonceng lagi, memicu gelombang kekuatan yang mengalir ke seluruh arena. Suara lonceng yang merdu namun mematikan mengguncang setiap sudut medan, membuat penonton terpaku dan terdiam dalam ketakutan.Melihat Nathan yang tetap teguh di tengah badai kekuatan, Ryuki membuang loncengnya ke udara. Dalam hitungan detik, lonceng itu membesar dan menggantung megah, memancarkan aura kuno yang perlahan menyebar, seakan menekan setiap jiwa yang berada di sekitarnya. Tekanan yang mendalam itu seolah menurunkan beban dunia ke atas Nathan, namun dengan kekuatan Taiju, tubuhnya berpendar dengan cahaya keemasan, menolak setiap s
Di arena yang penuh debu dan asap, Nathan berdiri dengan aura keemasan yang menyilaukan, sebuah kekuatan yang melebihi dugaan orang-orang. Di sisi lain, Ryuki, yang baru saja terlempar dan terjerembab ke dalam lubang, berjuang untuk bangkit meski tubuhnya sudah babak belur, tulang rusuknya patah dan dada tampak cekung. Namun, ketika kepalanya muncul ke permukaan, Nathan melangkah maju dengan langkah penuh tekad, seakan bayangan maut yang melayang mendekat.Dengan tatapan penuh kebencian, Ryuki menatap Nathan. "Nathan, apa kamu berani membunuhku? Kalau kamu berani, bukan hanya Keluarga Zellon yang akan memburu, tapi Martial Shrine pun tak akan melepaskanmu!”Namun, dengan ketegasan yang dingin, Nathan mengepalkan tinjunya, ingatan pahit akan ibunya yang disiksa di Keluarga Zellon membakar jiwanya. “Aku tidak takut pada siapa pun!” teriaknya, membalas dengan serangan yang dipenuhi dendam dan kemarahan, menghantam tubuh Ryuki yang sudah penuh luka hingga tak berdaya.Buuuugggggghhhh!Dal
BAAM!Suara keras menggema, membuat Ryuki yang baru bangkit terhempas kembali ke dalam lubang. Asap dan debu beterbangan, menutupi sejenak arena dalam kekacauan.Jazer, yang menyaksikan dengan mata terbelalak, segera bangkit berdiri. Raut wajahnya berubah drastis, dilingkupi kekhawatiran dan amarah. Ryuki adalah putra tunggalnya, dia tidak akan membiarkan apapun terjadi pada anaknya, meski pertarungan ini telah melewati batas kewajaran."Kepala Keluarga," ujar Jazer, suara serak penuh emosi. Namun, Kieran dengan cepat mendekat, menahan lengan Jazer. "Tenanglah. Jika kamu turun tangan sekarang, Keluarga Zellon akan menjadi bahan tertawaan dunia bela diri. Tuan Muda belum mengeluarkan senjata ajaibnya; artinya, situasi belum kritis."Jazer terdiam, keringat dingin mengucur. Mereka pun tahu, Ryuki belum menggunakan kartu asnya, langkah gegabah tak akan membawa kebaikan bagi siapa pun.“Haaaaa!” Tiba-tiba, dari dalam lubang terdengar teriakan marah Ryuki yang menggema, disertai pancaran c
Melihat pemandangan itu, raut wajah Nathan berubah serius. Otot-ototnya menegang, dan dia segera menyempurnakan kekuatan Naga Ilahi dalam dirinya. Cahaya keemasan yang menyelimuti tubuhnya pun semakin menyala, menandakan kesiapan untuk menghadapi serangan maut.“Nathan, kamu terlalu meremehkanku!” seru Ryuki dengan nada penuh kemarahan.Ryuki mengendalikan kabut darah itu, hingga seketika berubah menjadi seutas kawat hidup yang menyerap petir dari awan gelap. Nathan mengernyit, menyadari bahwa Ryuki berusaha menggabungkan kekuatan petir dengan keperkasaan fisiknya.“Matilah!” teriak Ryuki sambil melambaikan kedua tangannya.Kabut darah itu pun melayang cepat, menyelimuti tubuh Nathan, diikuti oleh sambaran petir dari langit yang menakutkan. Petir itu, seolah kekuatan alam yang menindas, menghempas Nathan dengan kekuatan dahsyat.Dalam kepedihan yang mencekam, Nathan berteriak. “Aa-aahhh!” Cahaya keemasan di tubuhnya menyala semakin terang, dan seketika, sosok naga emas muncul menyatu
“Aku masih belum mati,” terdengar suara yang mengungkapkan keheranan sekaligus kemarahan. "Pengumuman itu terlalu ceroboh dari Martial Shrine!”Saat sebagian besar penonton bersiap meninggalkan arena, tiba-tiba suara gemuruh seperti guntur pecah dari dalam lubang besar di tengah arena. Semua mata tertuju ke sumber suara itu, bahkan orang-orang yang telah melangkah pergi pun berhenti.Di antara asap dan debu, sosok Nathan perlahan muncul kembali. Pakaiannya compang-camping, cahaya keemasan di tubuhnya meredup, namun aura yang menyelimutinya tetap terpancar kuat, seolah tak terpengaruh sedikit pun oleh serangan mematikan sebelumnya. Suasana pun berubah drastis, tak seorang pun percaya bahwa sosok pemuda itu masih mampu berdiri.“Bagaimana ini bisa terjadi?” bisik para penonton yang terpana.“Seorang yang dikagumi sebagai puncak kekuatan Ingras, seharusnya sudah hancur lebur oleh pukulan tirani Ryuki!”Beberapa di antara mereka bertanya-tanya. "Apakah Nathan ini masih manusia?” Sementar
Di tengah keributan yang membara, Ryuki meraung dengan amarah yang menyala. "Nathan, dengarkan! Aku akan mengajarkan padamu akibat berani menghina Keluarga Zellon!” Aura di sekelilingnya kembali meningkat, dan tinju raksasa bercahaya merah tampak menggeliat lebih besar, menyimpan kekuatan yang seakan menyerap tenaga alam semesta.Menghadapi pukulan itu, raut wajah Nathan berubah serius. Setiap sisik di tubuhnya bersinar dengan cahaya keemasan, seolah kekuatan Naga Ilahi dalam dirinya bangkit. Dalam sekejap, dia tampak diselimuti oleh sosok naga emas yang megah.BAAM!Pukulan tirani Ryuki menghantam Nathan dengan kekuatan yang membuat kilatan cahaya bagaikan kembang api meletus di langit malam. Gelombang udara yang tak bertuan menyapu seluruh arena, perisai pelindung yang semula menyelimuti mereka hancur berkeping-keping. Hawa panas yang dihasilkan langsung menguasai udara, membuat para seniman bela diri yang berada di sekitar pun terhuyung-huyung oleh kekuatan itu.Tubuh Nathan terhem