Share

Kemarahan Kang Ikbal

Penulis: Fetina
last update Terakhir Diperbarui: 2024-06-20 22:15:05

Dalam waktu singkat, Kang Rahman datang membawakan mobil untukku. Ia sendiri yang duduk di kemudi.

Aku tau karena ketika mobilnya datang, aku sedang mengamati rumah depan. Kang Ikbal memang datang ke rumah itu dua hari ini. Itu berarti ia memang sering pulang ke sini, karena sejak ia ada di rumah pun dulu, sering pergi ke luar.

Segera aku menyambut Kang Rahman di ruang tamu.

"Teh Alma, ini kunci mobilnya. Dicoba dulu aja, insya Allah masih baik semuanya, baik bodinya atau mesinnya," katanya.

"Alhamdulillah, terima kasih. Nanti aku bayar sesuai harga second di pasaran ya!"

"Iya, terserah Teh Alma saja. Oke saya duluan, masih ada yang harus saya kerjakan," katanya. Tanpa sadar, aku mengantarnya ke depan gerbang.

Kang Rahman bersama ojeg, untuk membawanya pulang. Saat aku sedang melambaikan tangan pada Kang Rahman, Kang Ikbal dan Susi keluar dari rumahnya. Aku melihat mereka dari celah gerbang rumahnya.

Buru-buru aku masuk, dan mengintip dari jendela kamarku. Kang Ikbal mengecup dahi Sus
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Ibu yang Kepo

    "Halo, Alma! Pulang kamu! Dasar menantu tak punya adab! Pergi dari rumah nggak bilang-bilang, trus kamu bawa barang-barang bagus di rumah ini. Kamu juga mencuri perhiasan Ibu. Kembalikan Alma!"Dengan serta merta Ibu marah terhadapku. Ia seperti anaknya tadi pagi. Bisanya marah dan menyalahkanku tanpa berintrospeksi diri. Siapa yang memulai perang? Siapa yang memulai dzolim?"Maaf, Alma dan anak-anak tak bisa tinggal di rumah yang sudah dijadikan tebusan utang kalian. Aku tak mau membayar semuanya. Yang ada uangku habis buat menebus semua itu, kalian bisa saja kembali memperdayaku. Satu lagi, soal brankas. Aku tau itu uang anak-anakku yang kutransfer setiap bulan, Bu. Ibu sangat serakah, aku juga berikan jatah Ibu. Tapi Ibu malah mengambil jatah anak-anakku juga. Belum lagi Kang Ikbal yang ternyata sudah menikah lagi dengan Susi."Kubalas dengan jawaban yang panjang agar ia tau diri. Semua tak mungkin terjadi tanpa alasan. Aku melakukannya karena sudah tak tahan dengan perlakuan merek

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-20
  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Penasaran dengan Rumah Susi

    Sepertinya aku tak mau langsung menerima tawarannya untuk pergi jalan-jalan. Tapi kalau Bi Ikah diajak juga, aku akan mempertimbangkannya."Kalau yang ikut kami berempat gimana? Boleh?" tanyaku memastikan."Siapa saja?""Aku, kedua anakku dan Bi Ikah. Gimana Kang?" tanyaku serius."Ya udah atuh, sok aja rame-rame. Lebih menyenangkan pastinya," jawabnya.Aku mengangguk tanda aku setuju. Anak-anak yang mendengar pembicaraan kami langsung berteriak senang. Mereka hampir tak pernah yang namanya jalan-jalan katanya kecuali ke sekolah saja."Bi, ikut ya. Kita makan di luar," kataku pada Bi Ikah."Bibi di rumah aja deh. Takutnya nanti ngeganggu Neng Alma sama anak-anak," katanya."Nggak, Bi. Bibi kan yang selalu bantuin aku. Jadi, sebagai rasa terima kasih, aku ingin ajak Bibi juga makan di luar," ucapku."Ya udah. Bibi ikut," jawabnya.Kami bersiap semua untuk ikut dengan Kang Rahman. Sebenarnya aku juga nggak mau terlihat jalan sama laki-laki lain, sementara statusku masih istrinya Kang I

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-24
  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Aduan Anak-anak

    "Wah, makan di sini. Aku pernah denger kalau Bapak pernah makan di restoran ini sama Bi Susi dan Nenek," kata Hanif."Oh iya, bener. Kita dengerin saat mereka bicara sama Nenek, Bu," timpal Hanifa."Jadi, kalian nggak diajak?""Nggak, kami disuruh berdua di rumah," katanya.Pantas saja dulu, aku minta mereka berikan ponsel pada Hanifa, mereka tak memberinya. Ternyata karena takut perbuatan mereka terungkap nanti."Nggak apa-apa, yang penting kalian sekarang bisa makan juga di sini. Nanti Ibu fotoin biar Ibu pasang di status Ibu nanti, tujuannya biar mereka tau kalau kalian juga bisa makan di restoran yang pernah mereka datangi," sahutku. Kasihan sekali anak-anak sampai tak diajak untuk makan-makan sementara mereka menghamburkan uang."Kata Bapak kalian di rumah aja, makan sama tempe. Kasihan nggak ada yang makan," adu Hanif."Benar itu?"Hanifa mengangguk dan menunduk."Ya sudah, tak usah sedih. Lupakan kesedihan kalian. Sekarang waktunya bahagia karena kalian bisa makan di sini, uca

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-24
  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Telepon dari Kang Ikbal

    Aku menghela napas saat melihat nama si penelepon. Dia adalah Kang Ikbal. Baru saja kami bertemu, eh ia sudah kangen aja. Mungkinkah ia marah saat melihatku bersama Kang Rahman?"Halo Kang Ikbal ada apa?""Kamu ngapain jalan sama laki-laki segala. Sampe bawa anak-anak segala dan kalian seperti suami istri aja. Kamu itu masih istriku, Neng!" Kang Ikbal mulai nyerocos membuat kupingku pengang."Kamu sendiri gimana, Kang? Kamu sudah menikahi Susi sejak aku pergi ke Arab Saudi. Sungguh, kamu yang tega telah mengkhianatiku. Padahal kamu yang minta aku pergi, katamu biarlah aku yang menjaga anak-anak. Kamu ikhlas aku pergi mencari penghasilan yang lebih baik.""Aku sama kamu berbeda. Kalau laki-laki itu sah-sah saja menikah lagi tanpa memberitahu istrinya. Jadi, kamu terima saja sekarang kenyataannya," ucap Kang Ikbal.Kepalaku pusing. Kurasa kali ini aku harus mengakhiri obrolan kami."Ya sudah, Kang. Dilanjut nanti saja. Anak-anak udah nungguin dari tadi di mobil," sahutku.Kang Ikbal tak

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-24
  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Ancaman Ibu pada Bi Ikah

    "Entahlah, Bi. Aku sebenarnya sangat benci dibohongi. Ia sudah tak jujur padaku selama ini. Aku sempat berpikir untuk menggugat cerai. Tapi kalau aku gugat sekarang, mungkin aku tak dapat apa-apa. Sekarang, aku ikuti saja takdir yang sudah diberikan padaku, kita lihat saja pernikahan Kang Ikbal dengan Susi seperti apa, karena aku sudah menemukan celahnya Susi, Bi," ujarku.Bi Ikah mengerutkan keningnya."Maksudmu? Susi punya sebuah rahasia?"Aku mengangguk. Bi Ikah penasaran dengan rahasia Susi."Nanti saja, aku tak akan membuka sekarang. Aku harus mencari banyak bukti. Kang Ikbal akan tau nanti siapa Susi sebenarnya," ucapku yakin. Aku sudah seyakin itu. Bi Ikah mengerti dan tidak bertanya lagi."Diminum dong, Ma. Biar kamu cepat sehat," katanya."Makasih ya, Bi.""Sama-sama."***Malam-malam, setelah selesai makan, Bi Ikah menerima telepon. Wajahnya nampak serius saat menerima telepon. Bi Ikah membesarkan suara lawan bicaranya agar kami bisa sama-sama mendengarkan. Memang benar, it

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-24
  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Kedatangan Kang Ikbal

    Ternyata Kang Ikbal dan Susi serta anaknya baru saja tiba. Mereka pulang sangat larut. Habis dari mana mereka? Tapi, ada yang turun lagi dari pintu belakang yaitu Ibu. Ya, Ibu ikut ke rumah mereka.Mungkin Ibu kesepian sendiri di rumah. Ia dengarkan juga usulku untuk tinggal dengan Susi yang merupakan menantunya juga.Mereka memasuki rumah, ibu berjalan paling belakang. Tak lama Kang Ikbal datang lagi setelah ia memposisikan motor sportnya. Ia akan memarkirkan mobil di garasinya.Kupandang laki-laki yang telah menikahiku selama dua belas tahun ini. Rasanya tak percaya kalau ia mengkhianati pernikahan kami. Padahal dulu Kang Ikbal adalah laki-laki yang manis dan romantis.Saat aku di Arab Saudi pun ia selalu meneleponku. Memberikan kata-kata motivasi padaku. Ia tak pernah lupa untuk mendukungku.Makanya aku sangat senang saat bisa pulang. Salah satunya karena aku merindukan Kang Ikbal. Ia selalu kurindukan, kata-katanya pun sangat aku harapkan bisa kan tetap ia katakan saat aku di Indo

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-24
  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Bentakan Ibu

    Kang Rahman datang, ia ngobrol bareng Pak RT juga. Mereka sudah saling kenal."Nah, kalau yang ini bos juga, bos makanan ringan. Kalau mau pesan banyak bisa di Kang Rahman, pasti di kasih diskon," kata Pak RT mempromosikan Kang Rahman.Di sebelahnya, Kang Ikbal mencebik. Ia tak suka dengan Kang Rahman. Ia pun mungkin tak suka dengan keberadaanku di rumah ini.Kang Rahman mengajakku ke dalam, ada yang mau disampaikannya. Aku meminta izin ke dalam. Kang Ikbal menghela napas dan melebarkan matanya padaku."Permisi ya!" Aku sepertinya harus memanas-manasi Kang Ikbal. Ia harus tau bahwa aku bisa hidup tanpanya. Aku pun bisa sukses ke depan.Saat aku melangkah meninggalkan mereka, Kang Ikbal berdiri dan memanggilku."Bu Alma, saya permisi dulu. Semoga usahanya sukses. Nanti kapan-kapan akan saya borong dagangannya. Terima kasih juga atas jamuannya," kata Kang Ikbal.Aku tersenyum dan mengangguk. "Sama-sama, Pak. Rumah kita berdekatan. Semoga bisa bersinergi ya nantinya," jawabku."Wah, Bu

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-24
  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Hanif Tak Mau Bertemu Kang Ikbal

    "Tapi ... eh, semua bukan buat Ibu. Suamimu yang pakai uang itu untuk bisnis dan nambahin beli rumah baru yang Susi tempatin, Ma," ucap Ibu.Kali ini Ibu membuka suara kalau rumah yang digunakan oleh Susi merupakan rumah yang dibeli oleh Kang Ikbal. Tapi aku tak yakin, karena Bi Ikah pernah mengatakan kalau harta ayahnya Susi habis oleh anaknya.Itu berarti Kang Ikbal-lah tersangka utama dalam penggelapan uang Pak Haji Sanusi."Tak usah menutupi, Bu. Aku juga tau perlakuan Ibu pada anak-anak. Mereka sudah menceritakan semuanya padaku. Ibu menimbun uang yang kuberikan untuk anak-anak. Ibu sulap jadi perhiasan dan logam mulia. Ya kan, Bu?" Aku kembali mendesak Ibu untuk mengakui kesalahannya."Tidak, Alma. Kalau tak ada aku, siapa yang mengantar mereka ke sekolah?" tanyanya."Bu, Ibu mengantar mereka ke sekolah saat aku ada. Sebelum-sebelumnya, Ibu tak pernah mengantarkan mereka. Mereka berangkat sendiri dengan dibekali uang tiga ribu rupiah. Padahal aku kasih jatah masing-masing sepulu

    Terakhir Diperbarui : 2024-06-24

Bab terbaru

  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Candaan Anak-anak

    "Udah, ini sedang dijalan. Teh Alma mau pesen apa? Biar nanti saya bawakan?""Nggak usah.""Oh ... saya bawakan martabak aja ya. Oya teh, saya mau ngenalin teteh sama kedua anak saya. Kapan teteh kira-kira bisa?"Wah, ada apa ya Kang Rahman sampai nyari waktu buat ketemu anaknya."Mmm kapan ya? Memangnya pada di rumah?""Sedang libur pesantren. Ini juga mereka jalan-jalan sama anak-anak saya, Teh.""Masa?""Ya udah nanti aja pas pulang, tinggal turun. Kenalan sama saya," sahutku."Iya sih. Tapi pengennya ada makan siang di rumah saya, Teh. Teteh dan anak-anak datang ke rumah.""Oh gitu. Ya udah aku pikirkan dulu ya!""Baik, Teh."Kang Rahman jangan-jangan memang masih ingin memperistriku? Rasanya aku takut sekali kalau harus menikah lagi. Apalagi Kang Rahman punya dua anak. Kalau mereka nggak suka aku bagaimana? Kalau Pak RT memang masih bujangan, tapi aku belum sreg dengannya. Ah benar-benar memusingkan.Memang, perceraianku dengan Kang Ikbal sudah tiga bulanan. Tapi untuk menentukan

  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Anak-Anak Jalan-jalan dengan Kang Rahman

    "Bu Alma, kenalkah denganku?" Ia membuka cadarnya sebentar. Aku langsung mengenalinya."Tini! Kamu Tini kan? Apa kabar?" Aku memeluk sahabat lamaku waktu jadi TKW di Arab Saudi."Iya, Alma. Aku Tini!" Kami saling berpelukan. "Kamu udah sukses sekarang, Al. Kalau aku belum bisa sesukses dirimu."Kamu mau buka kebab atau nasi uduk? Kenapa nggak menyapaku tadi?" "Malu aku, Al. Masa orang sepertiku menyapa pembicara. Mending kek gini aja, di balik layar. Hehe. Kamu hebat loh kemarin sempet terkenal, ada di televisi," kata Tini."Ah, iya. Padahal aku sedih banget majikanku meninggal. Beliau seperti ayah bagiku. Yang ngajarin aku bisnis itu siapa lagi kalau bukan majikanku," jawabku."Oh gitu. Pantas, pulang dari sana kamu malah pinter bisnis. Semoga akupun ketularan dengan membuka gerai kebab mini dan nasi uduk," ucapku."Eh, ngobrolnya di rumahku yuk! Kangen nih sama kamu," sahut Tini."Nggak bisa Tin, anakku masih pemulihan kemarin mereka sempat kecelakaan," jawabku."Ya Allah, dua-duan

  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Bertemu Sahabat

    Luar biasa semangat Kang Ikbal yang mau merubah nasib dengan terus berikhtiar untuk berbisnis.Hanif sudah baikan. Sedikit demi sedikit ia bisa mengingat kejadian sebelumnya. Kadang saat dia inget, langsung ia sebutkan saja."Oya Ibu, aku ingat dulu ibu pergi keluar negeri, trus aku nangis," katanya.Ya Allah, kenangan itu. Saat pertama kali aku akan berangkat ke Arab Saudi. Hanif dan Hanifa menangis terus, mereka bersama Bapaknya. Hanif dipangku oleh Kang Ikbal, sementara Hanifa, ia berdiri di sebelah bapaknya.Saat itu, aku akan menaiki mobil yang akan membawaku ke bandara. Sedih sekali harus meninggalkan suami dan kedua anakku."Ibuu!" teriak Hanif, ia turun dari gendongan bapaknya, lalu mengejar mobilku. Aku yang berada di dalam mobil, tak bisa berbuat apa-apa. Jika aku saat itu turun dan memeluk Hanif, mungkin aku takkan jadi berangkat ke Arab Saudi.Kulihat Hanifa hanya menangis sembari memegangi tangan bapaknya. Satu tangan lagi ia gunakan untuk mengusap wajahnya yang basah.Ak

  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Hanif boleh Pulang

    Saat aku kembali ke ruangan, Hanif sedang dipegangi oleh Kang Rahman dan Pak RT. Infusan bergeser, sehingga ada darah yang naik di selang. Gegas Perawat membenarkan posisinya agar tidak ada darah yang tersedot di selang infus.Selain itu, perbannya sudah tercabik-cabik. Perawat membenarkan posisi perban juga. Aku hanya bisa memperhatikan yang dilakukan perawat."Sudah, Bu.""Sus, mengapa bisa demikian ya? Anak saya jadi tiba-tiba mengamuk tanpa sebab," sahutku."Memang ada beberapa kasus seperti anak ibu. Pasca operasi kepala, mereka tidak bisa kembali normal seperti sedia kala. Biasanya dibutuhkan waktu, sehingga harus sabar agar si pasien kembali sembuh," sahut Perawat itu."Ya Allah, terima kasih ya Sus atas keterangannya. Mudah-mudahan saya diberi kesabaran yang lebih," sahutku."Insya Allah, Bu. Buat yang merawat harus tetap semangat berjuang," katanya.Selepas Perawat keluar dari kamar Hanif, kuhampiri anakku. Ia memandangiku."Hanif, tadi kenapa?" Ia diam, mungkin tidak ingat

  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Hanifku

    "Hanif masih sakit. Dia tak bisa pulang sekarang, Hani. Insya Allah nanti menyusul ya!" sahutku."Iya, Bu. Mudah-mudahan, aku kangen sama Hanif. Nanti siapa temen berantemku? Lagipula nanti aku di atas kesepian, kalau kamar Hanif kosong," katanya."Kalau kamu mau ditemenin Ibu atau Bi Ikah, bilang aja ya!""Iya, pengen banget, Bu. Aku nggak mau sendirian," sahut Hani.Kami pulang dan sampai di rumah setelah 30 menit berlalu."Eh, Neng Hani udah pulang," sapa Bi Ikah."Iya, Bi. Hani Alhamdulillah udah baikan dan diizinkan pulang.""Berarti aa Hanif belum boleh pulang ya?" tanya Bi Ikah."Iya, Bi. Bantu doa ya semoga bisa cepet pulang!" sahutku."Aamiiin."Hani kubawa langsung ke kamarnya agar ia bisa segera beristirahat. Setelah ia merebahkan diri, aku mengatur barang-barangnya. Tak lama Bi Ikah membawakan teh manis hangat untuk anakku."Diminum dulu Neng Hani dan Bu Alma," katanya."Eh, Bibi pake panggil Bu segala. Panggil nama aja kenapa sih?""Kan Ibu udah jadi pengusaha sukses, mas

  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Menjenguk Hanif

    Tangannya sudah menggenggam, tapi ia belum membuka matanya. Aku bertanya pada perawat, kapan Hanif akan sadar, katanya secepatnya Insya Allah.Aku menungguinya di sini, ya. Di ruangan dingin ini. Sesekali aku, Kang Rahman dan Kang Ikbal bergantian jaga.Hanif sadar pasca sehari dioperasi. Ia memutar matanya, melihat seluruh sudut ruangan tempatnya dirawat. Aku memperhatikan tingkah laku anakku.Alhamdulillah, Hanif udah buka mata. Mudah-mudahan kamu bisa segera keluar dari sini, ya, Nif!" Kuambil tangannya, lalu kucium punggung tangan anakku yang masih kebingungan saat tersadar."Ini dimana?" tanyanya."Di rumah sakit, Nif. Kamu bisa pulang sebentar lagi, ya!" hiburku.Hanif mengangguk, tapi sepertinya ia belum bisa menyerap apa yang terjadi padanya. Ia tertidur kembali, dan aku menjaga di sampingnya. Hingga akhirnya ia terbangun, tapi malah mengamuk."Anda siapa?" tanya Hanif."Aku ibumu. Kamu lupa?" Ia mengangguk. Apa benar ia lupa?"Ya sudah, nggak apa-apa. Ibu ke depan dulu, ya!"

  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Aku Harus Kuat

    "Aku di rumah Teteh nih. Katanya lagi ke rumah mantan mertua ya?""Iya, Kang. Tadi memang nengokin ibu. Tapi, terjadi kecelakaan motor Kang Ikbal yang membonceng anak-anak. Sekarang aku ada di rumah sakit Sejahtera, Kang.""Astaghfirullah, aku mau ke sana ya! Ditunggu saja. Pantesan Teteh nggak di rumah. Aku bilangin ke Bi Ikah ya, biar beliau nggak khawatir," ucapnya."Iya, aku lupa bilang, Kang."Kang Rahman sedang di perjalanan menuju rumah sakit ini. Aku masih menunggui Hanifa. Hani sadar, ia mencari adiknya. Hanif ada di ruangan berbeda dengan Hanifa."Bu, Adek Hanif gimana?" tanyanya."Hanif masih tidur. Kamu sabar ya! Kamu juga butuh istirahat yang cukup, Nak," sahutku."Iya, Bu. Mudah-mudahan Hanif juga nggak apa-apa. Tadi aku lihat Hanif kelempar jauh, aku jadi takut Hanif kenapa-napa," ucap Hani."Aamiin, insya Allah." Hanifa tertidur kembali. Mungkin ia masih pusing.Hasil scan sudah ada, katanya Hanif harus operasi secepatnya. Kang Ikbal menandatangani persetujuan operasi

  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Kecelakaan

    Kemana perginya Kang Ikbal? Sampai kini ia masih belum kembali. Apa ia menculik anak-anak? Ah, tidak mungkin, ia kan sudah berubah lebih baik. Lagipula anak-anak sudah besar, tak mungkin diam saja saat diculik dan Kang Ikbal sendiri kan ayah dari mereka."Bu, Kang Ikbal lama sekali ya sampai jam segini belum ada kabar?" tanyaku.Ibu menggeleng. Sepertinya aku harus bertindak dan mencarinya."Assalamualaikum. Bu Odah!""Waalaikumsalam, silahkan masuk!" Kupersilahkan orang itu masuk karena mencari ibu. "Ada apa, Pak?" tanyaku lagi setelah ia masuk. Orang ini habis berlari, dan sekarang sedang mengatur napasnya terlebih dahulu. Aku menantikannya untuk bercerita."Itu, Kang Ikbal kan bawa dua anak ya. Trus, di ujung jalan sana, ia kecelakaan. Menghindari truk, dilempar ke kiri dan anak-anaknya luka-luka. Kang Ikbal tadi membawanya ke rumah sakit. Saya ikut mengantarkan ke sana, dan sekarang diminta memberitahukan ke sini," katanya."Astaghfirullah. Memangnya Kang Ikbal nggak bawa ponsel

  • Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung    Menjenguk Neneknya Anak-anak

    "Ada apa Hanif?""Kapan jenguk Nenek?" tanyanya."Tadi sih rencana hari Minggu ini. Kalian bisa kan?" tanyaku pada Hanif."Aku bisa, Kak Hanifa nggak tau deh. Katanya sih ada kerja kelompok."Aku keluar kamarku untuk menanyai Hanifa."Memangnya kerja kelompok jam berapa?" tanyaku."Jam 9 sampai jam 12 paling, Bu.""Oh, gitu. Berarti kita jenguk Nenek jam satu siang aja ya!" "Oke siap.""Baiklah, Bapak akan siapkan makanan kesukaan kalian. Kalian suka bakso kan?" tanya Kang Ikbal."Iya, kami suka bakso, Pak. Makasih ya, Pak!" ucap Hanifa. "Aku kembali ke kamar ya! Soalnya mau belajar.""Oke anak Bapak yang paling cantik! Semoga kamu pintar selalu ya!""Iya, Pak. Makasih ya."Hanifa ke atas, disusul Hanif yang katanya pengen tiduran aja di kamarnya."Oke, Hanif ganteng. Nggak apa-apa. Bapak juga mau pulang sekarang," katanya."Iya, Kang. Hati-hati aja di jalan ya!""Oke, Neng."Kang Ikbal sekarang hanya memiliki motor bebek biasa. Katanya ia beli bekas. Harganya jauh dibawah motor spor

DMCA.com Protection Status