01
"Mas, aku pamit," tutur Keisha Mahira sambil mengulurkan tangan kanannya.
Sebastian Anargya tidak menyahut. Dia bahkan tidak berbalik dan memfokuskan pandangan ke luar jendela. Seolah-olah dedaunan yang tengah bergoyang di pohon dalam pot bunga itu, lebih menarik daripada perempuan di belakangnya.
"Aku tadinya berharap, bisa mengakhiri hubungan ini baik-baik," sambung Keisha sambil menurunkan tangannya.
"Baik-baik?" tanya Sebastian sembari memutar badan. "Perselingkuhanmu adalah hal terburuk yang pernah kudapatkan dalam hidup ini," lanjutnya.
"Kita sudah pernah membahas ini, dan aku telah menjelaskan semuanya dengan detail."
"Kamu hanya drama, Kei. Playing victim. Padahal korbannya adalah aku, bukan kamu!"
"Aku sudah berulang kali meminta maaf. Kumohon, Mas bisa memahami jika aku masih mencintai Mas Anton, bahkan dari dulu rasa ini tidak pernah berkurang."
Sebastian menggertakkan gigi. "Jangan sebut namanya di depanku!"
Keisha mendengkus kuat. "Inilah yang membuatku sulit jatuh cinta, karena Mas keras kepala. Kalau bukan karena dijodohkan, aku juga tidak mau menikah dengan Mas!"
"Dan aku menyesali pernikahan kita. 3 tahun yang penuh drama kepalsuan dan kebohonganmu!"
"Terserah Mas mau bilang apa. Kita sudah resmi bercerai, dan aku akan pergi."
"Sana! Pergi yang jauh! Aku juga tidak mau lagi melihatmu!"
Keisha berbalik dan jalan menjauh sambil menyeret dua koper besar. Dia tidak menutup pintu kamar yang pernah menjadi saksi pernikahannya dengan Sebastian.
Tidak berselang lama, terdengar bunyi mobil yang bergerak menjauhi rumah dua lantai bercat putih.
Sebastian menelan ludah yang mencekat di tenggorokannya. Pria berkaus hitam menatap nanar pada pintu kamar yang masih terbuka.
Sebastian segera menutup pintu dan menguncinya. Dia memindai sekitar, lalu menurunkan pigura yang tergantung di dinding.
Foto pernikahannya dengan Keisha seolah-olah tengah mengejeknya. Sebastian mencengkeram kuat benda itu, lalu menghempaskannya ke lantai.
Pecahan kaca tersebar ke mana-mana. Sebastian menginjak foto itu sambil memaki mantan istrinya. Hati Sebastian hancur akibat dikhianati Keisha, perempuan yang sudah dicintainya sejak dulu.
Selama belasan menit berikutnya, Sebastian sibuk menghancurkan semua foto pernikahannya. Bahkan, dia membakar video resepsinya, agar semua kenangan itu lenyap seiring dengan terbakarnya bukti kisah hidupnya bersama Keisha.
Kedua asisten rumah tangga, hanya bisa memandangi bos mereka yang tengah membakar benda-benda di balkon belakang rumah. Mereka tahu jika Sebastian sangat mencintai Keisha, dan perceraian itu menyebabkan hati pria tersebut patah.
Sementara itu di tempat berbeda, Rinjani Fawaida Daharyadika sedang menandatangani surat gugatan cerai, yang akan dilayangkannya ke pengadilan agama Jakarta Timur.
Perempuan berambut panjang, berusaha menahan diri agar tidak menangis. Padahal matanya sejak tadi telah mengabut.
Setelahnya, Rinjani memberikan surat itu pada kuasa hukumnya. Mereka sempat berbincang sesaat, sebelum Rinjani berpamitan dan keluar dari ruangan itu bersama ketiga sahabatnya.
Rinjani berusaha menegarkan diri saat melangkah keluar dari kantor firma hukum. Dia bergegas memasuki kursi tengah mobil SUV putih. Kemudian Rinjani menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan terisak-isak.
Netha, rekan Rinjani sejak SMU dulu, memeluk sahabatnya dari samping kiri. Sang dokter hewan tersebut, memahami jika hati Rinjani tengah hancur.
Selain Netha, kedua rekan Rinjani di kursi depan, yakni Tia dan Shahnaz, turut prihatin dengan nasib Rinjani. Mereka mengetahui bahwa perempuan tersebut sangat mencintai Anton. Namun, pria itu justru berselingkuh. Padahal pernikahannya dengan Rinjani baru menginjak tahun kedua.
"Beib, sudah. Stop nangisnya," pinta Netha sambil merapikan rambut Rinjani yang menutupi wajah.
"Pria jahat itu nggak pantas untuk ditangisi, Rin," imbuh Shahnaz sembari terus menyetir.
"Betul. Mestinya digampar bolak-balik pakai bakiak!" geram Tia.
"Aku justru pengen nyelepet dia pakai rantai kapal," seloroh Netha.
"Kurang berasa, Beib. Harusnya diikat ke rel kereta," tambah Shahnaz.
"Enggak seru itu. Bakal langsung mejret dia," balas Tia.
"Ho oh, harusnya disiksa dulu. Biar mati pelan-pelan," tukas Netha.
"Kalian sadis semua," keluh Rinjani, seusai membuang cairan hidungnya di tisu.
"Menghadapi jelema ontohod itu, memang harus sadis," jawab Shahnaz.
"Aku benar-benar benci sama dia, Rin. Terutama karena sudah membohongimu sejak awal menikah," papar Tia. "Harusnya dia jangan menikahimu, kalau hanya jadi pelarian," sambungnya.
"Yoih. Itu nggak adil buatmu, Rin. Padahal kamu cinta banget sama dia," beber Netha.
Rinjani menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. "Aku memang cinta sama Mas Anton. Sampai sekarang juga masih," ujarnya dengan suara pelan.
"Tapi, aku harus adil pada diri sendiri. Aku nggak mau lagi dibohongi, dianggap ban serep atau apa pun itu. Karena aku jelas lebih berharga daripada dia," ungkap Rinjani.
"Yes!" pekik Tia.
"Alhamdulillah. Aku senang kamu berani keluar dari hubungan toxic itu, Rin," jelas Shahnaz.
"Aku harus begitu, Naz. Karena aku masih ingin melanjutkan kehidupan dengan lebih baik lagi," terang Rinjani.
"Aku akan selalu mendukungmu."
"Thanks."
"Sekarang, apa rencanamu akan tetap dijalankan?" tanya Netha.
Rinjani mengangguk mengiakan. "Ya, aku harus menyibukkan diri, agar bisa cepat melupakan dia."
Netha menepuk-nepuk punggung tangan sahabatnya. "Semua doa terbaik buatmu, Rin. Aku dan teman-teman, akan selalu ada bersamamu."
***
Jalinan waktu terus bergulir. Pagi itu, Rinjani memegangi alat tes kehamilan dengan tangan gemetaran. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, sebelum akhirnya menangis.
"Kenapa begini?" tanya Rinjani tanpa ada yang menyahut. "Aku harus gimana?" gumamnya sembari mengusap bulir bening dengan ujung jari.
Terbayang masa di mana terakhir kalinya dia melayani Anton. Rinjani tahu jika pria itu hanya melampiaskan syahwat dan bukan menyalurkan cinta.
Setelahnya, perselingkuhan Anton dan Keisha terbongkar, karena Rinjani bertemu keduanya secara tidak sengaja di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Rinjani mengikuti mereka yang ternyata tengah menuju toko perhiasan mahal.
Hati Rinjani hancur menyaksikan suaminya memasangkan kalung, ke leher perempuan yang diketahui Rinjani sebagai mantan kekasih Anton.
Dada Rinjani remuk ketika pria tersebut mengecup pipi Keisha, yang juga membalasnya tanpa malu-malu. Rinjani yang sudah tidak sanggup lagi melihat kemesraan itu, akhirnya menjauh dan bergegas pulang ke rumah.
Malam itu, Anton pulang menjelang dini hari. Rinjani hanya memandangi suaminya tanpa berbicara sedikit pun. Setelah Anton terlelap, Rinjani mengecek ponsel pria itu untuk mencari bukti tambahan.
Kendatipun hatinya sakit, tetapi Rinjani memaksakan diri untuk mengirimkan tangkapan layar itu ke ponselnya. Setelahnya, Rinjani menghapus semua SS dari ponsel Anton, dan berlakon seolah-olah tidak terjadi apa pun.
Keesokan harinya, Rinjani mengajak Anton berbicara serius. Dia memperlihatkan semua bukti chat dan beberapa foto yang sempat diambilnya dari depan toko perhiasan.
Anton tidak berkutik dan akhirnya mengakui perselingkuhannya. Dia juga tidak menolak ketika Rinjani meminta pernikahan mereka diakhiri, secepatnya.
Bohong bila Rinjani tidak sedih atas hancurnya mahligai pernikahannya. Namun, dia tahu tidak akan mampu mempertahankan rumah tangga. Terutama setelah Anton mengakui jika dia mencintai Keisha, dan bukan Rinjani.
Selama beberapa menit berikutnya Rinjani meneruskan tangisan. Dia bingung, karena saat itu proses perceraiannya tengah berjalan. Bahkan, sidang putusan cerainya hanya tinggal menunggu hari untuk disahkan pengadilan.
Matahari bergerak cepat menuju siang. Rinjani yang sedang berada di ruang tunggu rumah sakit, menengadah ketika namanya dipanggil seseorang.
"Rin, kamu di sini, ngapain?" tanya Adam, Kakak Netha.
"Ehm, aku mau ke dokter kandungan, Mas," jawab Rinjani.
Adam tertegun sesaat, kemudian dia kembali bertanya, "Kamu lagi hamil?"
"Enggak. Aku mau konsultasi aja. Ada gangguan haid."
Adam manggut-manggut. "Aku lanjut kerja, ya."
"Oke."
Adam berbalik dan jalan menjauh. Dia bergabung dengan teman-temannya sesama medical repsentatif di ujung kanan ruang tunggu.
Adam sekali-sekali akan mengamati Rinjani. Dia mengkhawatirkan sahabat adiknya itu yang terlihat pucat. Adam akhirnya menelepon Netha dan memintanya datang. Dia juga berjanji pada sang adik, akan menunggu Rinjani sampai selesai diperiksa dokter.
Puluhan menit terlewati, Rinjani keluar dari ruang praktik sembari memegangi amplop dari dokter. Langkah Rinjani terhenti ketika mendengar suara yang sangat dikenalinya dari depan.
"Rin, aku mau lihat surat itu," pinta Netha sembari menyambangi perempuan berbaju toska.
Rinjani tidak sempat menolak kala Netha mengambil amplop dan mengeluarkan isinya. Rinjani mendengkus pelan ketika Netha membeliakkan mata, seusai membaca deretan kalimat di surat itu.
"Kamu ... hamil?" tanya Netha.
Rinjani mengangguk lemah. "Hampir 12 minggu," terangnya.
"Kenapa kamu nggak cerita ke aku?" desak Netha.
"Aku baru tahu tadi pagi, Tha. Itu pun karena aku muntah sampai tiga kali. Terus, aku cek pakai test pack. Hasilnya positif," ungkap Rinjani. "Kamu ingat? Aku pernah ngeluh haidku nggak lancar. Ternyata itu flek yang biasanya terjadi di awal kehamilan," tambahnya.
"Ya, Allah." Netha mendekap sahabatnya. "Yang kuat, Sayangku," cicitnya.
"Hu um," balas Rinjani dengan suara bergetar.
"Lalu, apa rencanamu?" Netha menjauhkan diri dan memandangi sahabatnya lekat-lekat.
"Aku mau mendiskusikan tentang ini dengan keluargaku. Baru mengambil keputusan."
02Siang itu, Sebastian telah tiba di unit apartemen yang disewanya di kawasan hunian bergengsi di Kota Singapura. Sebab tengah mengerjakan proyek dari PC di sana, Sebastian memutuskan untuk menetap di kota itu. Dia berharap tindakannya tersebut bisa membantunya untuk melupakan Keisha. Sudah beberapa bulan berlalu. Sebastian sama sekali tidak pernah menghubungi Keisha. Sedangkan perempuan itu berulang kali mengirim pesan pada Aline, Adik bungsu Sebastian, untuk meminta harta gono-gini. Sebastian bukan tidak mau memberikan apa yang diminta mantan istrinya. Namun, karena mereka telah menandatangani surat perjanjian pra nikah, yang menyebutkan jika ada perselingkuhan, maka pelakunya tidak berhak mendapatkan harta bersama.Sebastian yakin jika Keisha tahu tentang klausul itu, tetapi perempuan tersebut benar-benar kemaruk. Hingga Keisha melakukan segala cara untuk mendapatkan simpati dari orang-orang terdekat Sebastian. Pria berkemeja putih seketika menoleh ke belakang saat dipanggil a
03Jalinan waktu terus bergulir. Sore itu, Sebastian dan Urfan telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Mereka pulang ke Indonesia, karena Sebastian hendak menghadiri pernikahan temannya saat kuliah dulu. Kedua pria berbeda tampilan, mengikuti langkah Syuja dan Hasbi, kedua pengawal muda PBK, yang juga baru pulang dinas jadi pengawas di Singapura. Selain keempat orang itu, beberapa anggota PG dan PC turut bergabung dalam kelompok pimpinan Syuja. Hadrian Danadyaksha, Yafizhan Endaru, Rylee Maglorius Ghawani dan Riko Mahardika, terlihat berbincang santai sembari meneruskan langkah menuju luar terminal kedatangan khusus luar negeri. Dua pria berbadan tegap menyambut mereka dengan penghormatan. Nawang dan Dipta, kedua pengawal lapis 9, menyalami semua anggota kelompok tersebut. Seusai berbincang sesaat, mereka bergerak menuju tempat parkir. Tidak berselang lama, kedua mobil MPV hitam telah melaju keluar area parkir bandara, menuju jalan tol. "Rapat gabungan, jadinya hari
04Sebastian menggeleng ketika Yeremia dan Didi saling mendorong bahu. Dia terkekeh saat kedua rekannya tersebut melanjutkan perdebatan dengan saling memelototi. Kelompok pria bersetelan jas berbagai warna tersebut, berdiri dan jalan menuju pelaminan. Seusai menyalami pasangan pengantin, mereka berdiri di sisi kanan dan kiri kedua mempelai sambil berpose. Beberapa jepretan diambil sang fotografer. Kameramen juga turut mengabadikan kelompok rekan-rekan kuliah sang pengantin laki-laki dalam video berdurasi pendek. Setelahnya, mereka menuruni pelaminan. Sebab hendak menuntaskan panggilan alam, Sebastian memisahkan diri dari kelompoknya. Pria bersetelan jas abu-abu, mengayunkan tungkai menuju area belakang gedung. Sebastian memasuki toilet khusus laki-laki dan segera menyelesaikan urusannya. Saat beranjak keluar, tanpa sengaja Sebastian mendengar suara orang meminta tolong. Dia berdiri sesaat di depan toilet wanita, sebelum memberanikan diri membuka pintunya. "Astaga! Kamu kenapa?"
05"Halo?" sapa suara laki-laki yang tidak dikenali Anton. "Maaf, apa ini betul nomornya Rinjani?" tanya pria berkulit kecokelatan. "Ya. Ini, siapa?" "Ehm, temannya." Chumaidi, ipar Rinjani terkesiap. Dia seolah-olah pernah mendengar suara orang yang menelepon itu. Namun, Chumaidi melupakan detailnya. "Ririn sedang tidak bisa menerima telepon," jelas Chumaidi."Apa ada masalah?" tanya Anton tanpa bisa menahan rasa penasarannya."Tidak ada. Dia sedang tidur." "Oh, begitu." "Ada yang bisa saya bantu?" "Ehm, nggak ada. Besok saya telepon lagi." "Sebutkan namamu. Supaya saya bisa menyampaikannya pada Ririn nanti." Anton melirik asistennya yang sedang sibuk bersantap. "Dani," ucapnya, sengaja memakai nama Mardani agar tidak dicurigai orang yang ditebaknya sebagai suami Lidya. "Baik." "Makasih, Mas. Saya tutup teleponnya. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Chumaidi menjauhkan ponsel Rinjani dari telinganya. Pria berkumis tersebut memandangi istrinya yang sedang mengaji dengan
06Sebastian dan Urfan tiba di rumah sakit tepat jam besuk. Mereka jalan menyusuri lorong yang banyak orang lalu-lalang, dengan berbagai keperluan. Sesampainya di depan ruang ICU, keduanya terkejut karena ternyata banyak pengunjung. Lidya yang berada di sana, berdiri dan menyambangi Sebastian dan Urfan. "Ririn sudah sadar, dan dia nyariin Mas," terang Lidya sembari menyalami kedua tamu. "Syukurlah. Aku bisa tenang sekarang," jawab Sebastian. "Mari masuk, Mas. Ada Ibu di dalam." "Bapak dan yang lainnya, ke mana?" tanya Sebastian sembari mengikuti langkah Lidya ke ruangan dalam. "Bapak dan Faidhan pulang dulu untuk istirahat. Nanti malam mereka akan menunggui lagi di sini. Kalau suamiku, sedang kerja." "Abizar?" "Dia lagi jaga toko bapaknya." Mereka berhenti di dekat pintu besar. Urfan duduk di bangku panjang. Sedangkan Lidya mengajak Sebastian memasuki ruangan ICU. Lidya meminta Sebastian mencuci tangan di wastafel. Kemudian dia memberikan pakaian khusus untuk melapisi baju l
07Suasana kamar kelas utama yang ditempati Rinjani, sore itu terlihat ramai. Kondisinya yang makin membaik, membuat Rinjani bisa dipindahkan ke ruangan itu siang tadi. Netha, Tia dan Shahnaz bergantian mengendong bayi laki-laki berselimut biru. Mereka langsung jatuh hati pada anak Rinjani, hingga berebutan untuk menjadikannya menantu. Kala kedua bos Rinjani datang bersama beberapa orang lainnya, Lidya dan Ambar, ibunya, seketika sibuk menyajikan aneka suguhan buat para tamu dari Jakarta. "Masyaallah, kasep pisan," puji Edelweiss Indira, seusai mengecup dahi sang bayi yang tengah terlelap. "Mirip kamu, Rin," imbuh Mutiara, bos utama EO tempat Rinjani bekerja. "Ya, terutama alis dan bibirnya," sahut Amy, sang MUA."Aku jadi pengen punya anak," imbuh Jhonny, fotografer EO. "Calon ibunya dulu yang dicari, Mas," sela Netha. "Cariinlah, Tha. Aku nggak punya waktu," seloroh Johnny. "Sama saudaraku, mau?" Netha mengutak-atik ponselnya, lalu memperlihatkan foto seorang perempuan beram
08Jalinan waktu terus berjalan. Jumat pagi, Sebastian tiba di gedung belasan lantai di kawasan Jakarta Selatan. Pria bersetelan jas abu-abu muda, melangkah memasuki lobi sembari membalas sapaan karyawan tempat itu dengan senyuman. Urfan yang mengikuti langkah bosnya, sempat memberi hormat pada seorang pria bersetalan jas biru, yang kemudian berbincang dengan Sebastian.Ketiganya meneruskan langkah menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai 11. Sepanjang beberapa saat di dalam elevator, Sebastian dan pria bermata besar tersebut, berbincang santai.Tidak berselang lama mereka telah berada di ruangan besar di ujung kanan lantai itu. Ketiganya menyalami semua orang di ruangan, sebelum menempati kursi masing-masing. Urfan berpindah ke deretan kursi khusus asisten. Dia bersalaman dengan para pendamping bos, lalu duduk di kursi ujung kiri. Hadrian Danadyaksha, sang pemimpin proyek yang tadi berjumpa dengan Sebastian dan Urfan, memulai pertemuan itu dengan untaian doa. Selanjutny
09Sebastian tiba di rumahnya menjelang jam 9 malam. Dia memicingkan mata ketika melihat seunit mobil sedan merah di depan pagar rumah, yang seolah-olah tidak asing baginya.Sang asisten rumah tangga, Ida, bergegas membukakan pagar agar mobil yang dikemudikan Urfan nisa memasuki carport. Setelah mobil benar-benar berhenti, Sebastian membuka pintu samping kiri dan keluar. Dia menutup pintu, lalu memandangi Ida yang tengah mendekat. "Keisha ada di dalam?" tanya Sebastian sambil menaikkan alisnya, sesaat setelah Ida menerangkan tentang sang tamu. "Ya, Pak. Aku sudah berusaha ngusir, tapi dia maksa masuk," jelas Ida.Sebastian menyugar rambutnya sembari mendengkus. "Bagaimana dia bisa tahu alamat ini?" "Hai, Mas." Panggilan satu suara dari belakang Ida, menyebabkan Sebastian terdiam. "Sorry, aku nyelonong masuk, tapi, ini benar-benar penting," ungkap pemilik suara tadi. Sebastian memandangi orang yang sudah menghancurkan hatinya. "Kamu tahu alamat ini, dari mana?" tanyanya tanpa berb
53Sabtu siang, Sebastian menunaikan janji pada Rinjani. Dengan didampingi Gustavo dan Ira, serta kedua adiknya dan para sahabat, Sebastian mendatangi kediaman Basman untuk meminang Rinjani. Tio yang diminta sebagai pembicara, menunjukkan surat identitas baru yang menerangkan jika Sebastian telah menjadi seorang muslim. Sesuai saran Ustaz Mawardi, Sebastian tetap memakai nama sebelumnya. Hal itu supaya tidak perlu mengurus ulang akte lahir dan semua ijazah yang dimiliki Sebastian. Hanya KTP, SIM dan paspor yang diganti, dan kolom agama diubah dari Kristen menjadi Islam. Basman dan keluarganya menyambut kabar itu dengan gembira. Pria tua tersebut juga langsung menerima lamaran Sebastian atas Rinjani, karena sudah mengetahui kepribadian sang duda bermata tajam tersebut."Sekarang, kita bahas tentang tanggal lamaran resmi dan akadnya, Pak," tutur Gustavo yang diminta Sebastian untuk menjadi wakil orang tuanya. "Mengenai itu, lebih baik kita tanyakan pada mereka, Pak," sahut Basman.
52Jumat siang, gedung PG dikunjungi banyak orang yang mengenakan setelan jas beraneka warna. Bila semua anggota PG menggunakan setelan jas biru tua mengilat, anggota PC mengenakan setelan biru muda. Keempat puluh anggota PCD memakai setelan jas abu-abu. Para pengawal lapis tiga dan empat tersebut, menjadi orang-orang yang paling gembira, karena mereka bisa berjumpa kembali setelah lama tidak berjumpa. Kesepuluh pengawal lapis tiga yang hadir dalam formasi komplet, duduk berderet di kursi bagian ketiga sisi kiri. Di depan mereka adalah kedua puluh anggota PCD dari kelompok satu dan dua. Di belakang regu Hisyam, Harun dan rekan-rekannya dari pengawal lapis empat, duduk dengan rapi. Deretan selanjutnya diisi para calon anggota tim 5 PCD yang bukan berasal dari PBK. Komisaris utama PG, yakni Tio, memasuki ruangan luas dengan diikuti keempat direktur dan manajer PG. Tio dan Hamid, direktur operasional, meneruskan langkah menuju podium. Sedangkan yang lainnya menempati deretan kursi ya
51Hari berganti hari. Selasa pagi menjelang siang, Rinjani tiba di depan gedung belasan lantai yang merupakan pusat bisnis para bos PC. Urfan yang telah menunggu sejak tadi, mendatangi mobil milik bosnya bersama Gumilang, Jariz dan beberapa pengawal muda lainnya. Mereka membantu mengeluarkan banyak wadah makanan dan menyusunnya di beberapa troli. Satu per satu troli diangkut menggunakan lift, hingga isi mobil habis. Setelah menutup dan mengunci pintu, Santos menyusul Rinjani yang tengah berbincang dengan beberapa staf perempuan. Mereka memasuki lift terbesar untuk menuju ke lantai tujuh. Sesampainya di tempat tujuan, Sebastian telah menunggu di ruang tamu luas, yang diperuntukkan untuk tamu umum 10 kantor, yang ada di lantai itu. Selama setengah jam berikutnya, Rinjani berjibaku membereskan meja prasmanan dan wadah kaca untuk hidangan. Semua peralatan makan dipinjam dari kantor PBK, yang sering mengadakan jamuan makan. Freya, staf HWZ, KARZD dan ZAMRUD, bersama beberapa staf PBK
50Malam beranjak larut. Rinjani telah menguap beberapa kali, sebelum akhirnya menyandarkan kepala ke tumpukan bantal sofa. Sebastian yang masih menonton film laga dari negeri tirai bambu, melirik ke kiri. Dia mengulum senyum seusai melihat Rinjani yang tengah lelap. Sebastian berdiri dan jalan ke kamar tamu. Dia mengambil selimut, lalu keluar. Sebastian menutupi tubuh kekasihnya, sebelum kembali duduk di tempat semula. Puluhan menit berlalu, suara rengekan Dylan dari kamar utama, mengejutkan Sebastian. Dia berdiri dan jalan cepat memasuki ruangan yang pintunya terbuka, kemudian menyambangi Dylan yang masih menangis di tengah-tengah kasur besar. "Apa, Nak?" tanya Sebastian sembari duduk di tepi kasur. "Haus? Bentar, ya, Om panasin dulu ASIP-nya," lanjutnya sambil mengangkat sang bayi dan menggendongnya dengan tangan kiri. Sebastian bergerak luwes menyiapkan minuman dalam botol. Kemudian dia mengajak Dylan ke ruang tengah dan duduk di sofa tunggal. Sebastian memberikan botol yang
49Pertanyaan Sebastian kemarin malam, masih terngiang di telinga Rinjani. Dia syok dan tidak serta merta menjawab pertanyaan lelaki tersebut. Bahkan Rinjani langsung menutup sambungan telepon tanpa mengucapkan apa pun. Sepanjang pagi hingga sore itu, pikiran Rinjani mengembara ke mana-mana. Dia nyaris tidak bisa bekerja, dan hanya menatap kosong pada laptopnya. Sore itu, Rinjani memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia meminta diantarkan ke supermarket pada Santos, karena Rinjani ingin berbelanja bahan makanan.Puluhan menit berlalu, Rinjani telah usai berbelanja. Dia tengah duduk di bangku dekat supermarket sambil meminum es teh dingin. Rinjani sedang menunggu Santos yang sedang antre di depan toko roti. "Rin," panggil seorang pria yang telah duduk di samping kanan. Rinjani terkejut dan sempat bengong sesaat, sebelum dia bergeser menjauh dari pria berkemeja hijau muda. "Aku cuma pengen ngobrol. Jangan menjauh gitu," pinta Anton. "Aku lagi nggak moid buat ngobrol. Apalagi dengan
48Rinjani terkejut, kala tiba di rumahnya sore itu dan ada mobil sedan hitam terparkir di depan rumah Sebastian. Rinjani merasa pernah melihat mobil itu, tetapi dia lupa di mana.Setelah Santos memarkirkan mobil dengan rapi di car port depan rumah nomor 1, Rinjani turun dan bergegas ke rumah sebelah. Perempuan bersetelan blazer abu-abu, tertegun menyaksikan Aline dan Riordan yang tengah bermain dengan Dylan di karpet lantai ruang tengah. Riordan yang melihat sang mama datang, segera bangkit berdiri dan menyambangi Rinjani. Riordan menyalami perempuan tersebut, lalu mengajak Rinjani duduk di sofa ruang tengah. "Aline kangen sama Dylan. Jadi kuantarkan ke sini," terang Riordan. "Ya, nggak apa-apa," sahut Rinjani. "Walaupun kaget, tapi aku senang kalian datang," lanjutnya seraya tersenyum. "Aku mau sering main ke sini. Boleh, Teh?" tanya Aline sembari bangkit duduk. "Boleh. Aku nggak keberatan. Yang penting, Dylan jangan diajak keluar, tanpa penjagaan Santos atau Urfan," ungkap Ri
47Senin pagi, Rinjani tiba di kantor EO menjelang jam 8. Dia bergegas menuju ruang rapat yang ternyata telah ramai orang. Rinjani menyalami mereka satu per satu, termasuk Jemmy, suami Shireen, yang juga memiliki saham di perusahaan itu.Selama beberapa saat berikutnya, Rinjani larut dalam perbincangan dengan rekan-rekannya. Tidak berselang lama, Mutiara dan Edelweiss memasuki ruangan bersama Cyra, manajer tim Bandung yang merupakan istri Zafran, direktur PC. Mutiara meminta Jemny untuk memimpin rapat, dan laki-laki tersebut memulainya dengan pembacaan doa, sesuai agama masing-masing. Selama puluhan menit berikutnya, Rinjani mendengarkan penuturan Jemmy yang bergantian mengoceh dengan Mutiara. Rinjani meringis, ketika dirinya diminta untuk menjadi penanggung jawab acara ulang tahun Ganendra Grup, yang akan dilaksanakan awal bulan depan. Setelah rapat dibubarkan, Rinjani mengikuti langkah kedua komisaris menuju ruang kerja mereka. Jemmy dan Jhon turut bersama ketiga perempuan terseb
46Hari berganti. Siang menjelang sore itu, Sebastian telah berada di ruang kerja Dante, di kantor Adhitama Grup di kawasan Kuningan. Keduanya berdiskusi mengenai berbagai hal, terutama tentang pengalaman Dante sebelum menjadi mualaf, beberapa tahun silam. Dante menerangkan semuanya dengan detail dan sangat jujur. Dia memahami bila Sebastian membutuhkan banyak masukan, karena berpindah agama itu bukan hal sepele. Hampir satu jam berlalu, Sabrina, istri Zulfi yang juga merupakan Adik sepupu Dante, memasuki ruangan. Dia menyalami Sebastian, kemudian berpindah untuk menyalami Dante dengan takzim. Seperti halnya sang koko, Sabrina juga dimintai masukan oleh Sebastian. Perempuan bermata sipit itu menerangkan kisahnya dengan tenang, hingga tuntas. "Berarti, pengalaman kalian hampir sama denganku. Yaitu, merasa tenang saat mendengar suara azan ataupun orang mengaji," tutur Sebastian, sesaat setelah Sabrina usai berceloteh. "Aku juga suka lihat orang salat. Aku bahkan sudah hafal geraka
45Suasana tegang melingkupi ruang tamu kediaman Ardiatma Anargya. Beberapa orang yang berada di tempat itu, menunggu lelaki tua berkemeja hijau lumut, yang masih memegangi kertas berlogo rumah sakit F.Ardiatma mengulang membaca detail hasil tes DNA atas Sebastian dan Dylan. Angka 77% di bagian yang digaris merah, membuatnya terpaku. Ardiatma benar-benar terkejut dengan kenyataan itu. Rasa marah, kecewa, sedih, dan penyangkalan, bercampur menjadi satu dalam benak pria yang rambutnya telah dihiasi uban. Hal nyaris setupa juga dirasakan Eva yang membaca salinan keterangan hasil tes DNA. Perempuan tua berambut sepundak, menutupi mulutnya dengan tangan kiri. Eva menggeleng pelan. Dia tidak bisa memercayai penglihatan. Otaknya mendadak buntu dan Eva hanya bisa terpaku sembari memejamkan mata. Riordan mengambil kertas yang dipegangi Eva. Dia membaca hingga tiga kali. Sebelum menengadah dan memandangi Sebastian serta Rinjani, yang menempati kursi panjang di dekat jendela. "Mas, berarti