Home / Rumah Tangga / Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon) / 26. Menjalani Proses Pengajuan Nikah

Share

26. Menjalani Proses Pengajuan Nikah

Author: Nyemoetdz Kim
last update Last Updated: 2025-02-04 18:16:18

"Apa kamu biasa seperti itu, bersikap manis pada lawan jenis?"

"Dia teman sesama Dokter, Mas, salah lagi untuk ini? Masa iya aku memasang wajah ketus." Jenar sudah di mobil dengan Damar yang terus menggerutu.

"Aku bertanya, apa aku sedang mengataimu kenapa jawabanmu seperti itu."

"Dari cara Mas bicara, terdengar marah. Bilang saja cemburu selesai."

"Ya kalau memang cemburu kenapa, apa kamu lupa lagi arti cincin di jari manismu itu?" Damar menatap tak terima akan jawaban yang isterinya lontarkan.

"Ah ... bisakah besok-besok saja mendebatkan hal yang jelas tidak seperti Mas pikirkan? Moodku sedang buruk, ini hanya akan membuat kita berdebat saja." Matanya sudah berkaca-kaca, sejak tadi apa yang Damar katakan seperti menantang emosinya.

Sesampainya di rumah dan membawakan masuk jajanan yang Jenar beli, Letkol tampan itu segera pamit. Sebelum pergi, dia mencium kening isterinya lama, tanpa bicara apapun. Hal itu sepertinya akan menjadi kebiasaan untuk Damar sekarang.

"Jam berapa besok kit
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   27. Jangan Samakan Aku dengan Mata Isterimu

    "Kalau aku membiarkanmu pergi, apa kamu tidak akan bersikap manis lagi padanya?" tanya Damar dengan tatapan tegas."Masih mau membahas itu?" Jenar mulai bete kalau Damar sudah memasang wajah kesal."Aku tidak membolehkannya." Dari raut wajah Damar, dia tidak sedang bercanda. Dia menatap Jenar dengan serius, apalagi jawabannya langsung tanpa memikirkan lebih dulu."Mas sungguh-sungguh?" Jenar yang terkejut dengan jawaban dari sang suami coba menanyakan kembali. Hanya karena dia bersikap baik, suaminya melarang untuk pergi, meskipun itu acara bakti sosial."Tentu, pergilah kalau kamu mau aku marah padamu." Ada hal yang belum Jenar tau, dan sekarang ketika apa yang menurutnya untuk kegiatan sosial, namun Damar malah tidak mengizinkan."Memangnya apa alasannya?" Tak terima dengan jawaban sang suami, dia kembali bertanya. Kenapa suaminya melarang ketika hanya karena sikap Jenar pada rekannya saja."Aku tidak suka kamu dekat dengannya, siapa tadi namanya, Dokter—" Dia saja tidak ingat, tapi

    Last Updated : 2025-02-04
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   28. Arum Jeram

    "Sudahlah, Mas, pasti pembahasan ini akan menjadi perdebatan kita. Sebaiknya aku pulang, aku lelah sekali. Besok bukankah harus menemui atasan Mas yang tidak ada tadi." Jenar berharap dia tidak terkekang dengan keputusan Damar. Traumanya menjadikan sikap Damar terlalu protektif pada pasangannya sekarang. Memang ada baiknya, namun tidak baik saat itu berlebihan. Apalagi cemburu tidak jelas, seperti Jenar tidak boleh bersikap baik pada pria lain. Entah sikap yang seperti apa itu, yang jelas untuk sekarang Jenar coba memahami bagaimana Damar. Berusaha untuk tidak lagi memikirkan apa yang menjadi keputusan Damar sedang dia lakukan sekarang. Sesampainya dia langsung bersantai setelah membersihkan rumah dan pakaian kotor, Jenar termenung dan mengingat setiap perkataan Damar. Dia sudah tau dari Wulan sikapnya seperti ini karena luka hatinya, namun tidak serta-merta dia melarang apa yang menjadi tugasnya. Dia seorang Dokter, jika seperti ini apa Jenar bisa fokus, ketika di dalam pikiran Dam

    Last Updated : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   29. Kecelakaan Saat Istirahat

    "Foto prewed di area seperti ini akan bagus. Apa Mas mau?" tanya Jenar.Dia mulai membayangkan dia mengenakan pakaian pengantin foto berdua bersama Damar dengan suasana pemandangan hijau yang terbentang."Apa saja mau mu lakukan selagi itu baik.""Kita bicarakan itu saat pulang. Oh ya, Mas, boleh aku mengundang para sahabatku setelah ijab kabul. Tidak banyak kok, hanya beberapa. Teman perempuan saja, tidak ada prianya. Ada satu tapi dia lekong." Seakan tau apa yang suaminya akan tanyakan, Jenar menjelaskan dengan detail."Undang saja. Setelah menikah kita satu rumah kan? Kamu tidak akan takut padaku?"Dia takut jika Jenar akan kembali trauma ketika tinggal bersama. Haruskah juga mereka tinggal di rumah berbeda."Kenapa harus takut. Bukankah Mas itu suamiku.""Aku takut saja ketika kita mulai tidur satu ranjang malah kamu menangis karena traumamu. Seperti sebelumnya terjadi." Damar hanya memeluk saja, tapi Jenar sudah menangis ketakutan."Benar juga, bagaimana jika seperti itu, Mas?" J

    Last Updated : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   30. Hari Apes Tidak Ada Di Kalender

    Meski tidak ada yang parah, Damar tetap harus menggunakan penyangga punggung. Dia dianjurkan menjalani terapi agar rasa sakitnya tidak terus menyiksanya."Kenapa Mas malah tersenyum?"Saat sampai di rumah dinas, Damar malah tersenyum karena harus dibantu untuk berjalan masuk hingga berbaring ke kamar."Tidak ada yang lucu, sudah istirahat dulu. Besok izin saja, aku tadi minta surat dokter juga. Jadi, Mas tidak perlu memaksakan diri. Mas—"Damar masih saja tersenyum. "Lucu saja, kemalangan menimpaku saat kita sedang istirahat.""Hari apes tidak ada di kalender apalagi membaca situasi kapan akan apes, tapi saat Mas tidak respon dengan cepat tadi, maka aku juga yang celaka.""Padahal besok ada kegiatan tradisi pindah satuan." Damar menghela nafas pelan, dia besok akan sangat sibuk, tapi malah terjadi hal seperti ini. Celaka ketika sedang istirahat di tempat yang mereka pikir aman. Memang benar kata Jenar, kemalangan tidak ada di kalender."Minimal istirahat 3 hari, Mas, jangan keras kepa

    Last Updated : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   31. Ciuman Pertama

    "Apa itu yang Mas maksud tidak melakukan apapun."Damar hanya tersenyum setelah melakukannya. Dia ingim Jenar mulai terbiasa dengan sentuhan dari dirinya. Bagaimana Letkol tampan itu bisa menyentuh isterinya kalau masih saja merasa trauma."Kenapa? Bukankah aku ini suamimu, apa kamu tidak coba membiasakan dirimu untuk melakukan ini?""Bukan begitu, hanya saja ... sudahlah, bukankah Mas bilang mau menyiapkan seragam. Apa sudah selesai?" Jenar mengalihkan pembicaraannya karena malu. Dia hanya belum terbiasa melakukan hal seperti ini, apalagi Damar begitu dekat dan menggoda.Damar tersenyum melihat pipi Jenar memerah karena malu. Dia kembali menggoda Jenar yang pipinya merah sudah seperti kepiting rebus. Damar memeluk dari belakang dan mencium pipi Jenar singkat."Mas!""Ayolah sayang, coba biasakan hal ini. Agar trauma mu itu juga hilang saat kamu menerima apa yang aku lakukan. Lagian aku juga tidak membuatmu terluka, hanya seperti ini." Dan lagi Damar mencium pipi Jenar yang satunya.

    Last Updated : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   32. Melawan Mantan Kekasih Toxic

    "Benar kan, Dok, dia ada di mobil itu." Asri dan Jenar menatap dari dalam IGD untuk melihat apa benar Leo ada di sana. Dia memang tidak punya kerjaan dengan terus datang untuk mengganggu. Padahal Dika sempat membuatnya pergi, namun dia malah datang lagi. "Apa Mas Dika ada ya, apa tidak sedang bertugas." Jenar coba untuk mengirimkan pesan pada Dika yang tak langsung membalas karena memang ada kegiatan. "Minta antar ambulan saja untuk pulang. Biar tidak tau kalau Dokter keluar rumah sakit." "Ngawur, tidak ah ... aku tunggu dia pergi saja. Aku coba minta tolong petugas keamanan." Jenar yang ingin segera pulang coba bicara dengan petugas keamanan untuk mengusir, namun gagal karena alasan sedang menunggu pasein yang di rawat. Dia memilih kembali ke ruang pemerikasaan sambil menunggu balasan pesan dari Dika. "Bagaimana kabar Ibu? Tidak kok, aku juga baru selesai praktek," ucap Jenar menjawab lawan bicara dari sambungan telepon. "Kabar Ibu baik. Bagaimana kondisi Damar, maaf semalam I

    Last Updated : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   33. Bukan Cinta tapi Obsesi Gila

    "Lancang sekali kau!"Damar berusaha melepaskan pelukan Jenar darinya dan ingin memukul pria dengan mulut besarnya itu sampai babak belur. Dia berani menyebut isterinya wanita tidak benar di depan umum. Pria seperti Leo memang besar mulut, dia tidak malu datang lagi dan lagi meski ditolak. Itu bukan cinta melainkan obsesi yang gila, meneror Jenar setelah melukai hatinya."Mas, aku mohon!!"Jenar semakin mempererat pelukannya dan membuat mundur tubuh Damar yang terpancing dengan perkataan Leo. Dia tidak mau suaminya itu akan mendapatkan masalah jika terus melawan pria kurang ajar seperti Leo."Dia mungkin terima dengan perkataanmu, tapi aku tidak! Lihat saja kau menyentuh tubuhnya, urusan mu denganku! Kau dengar itu!"Damar membawa Jenar pergi dengan menggandeng tangan setelah berterik pada pria gila itu, dan Leo dibawa petugas keamanan agar tidak terus memancing emosi.Dengan emosi yang masih membara, Damar berjalan ke mobil. Tidak peduli dengan rasa sakit di punggungnya. Apalagi dia

    Last Updated : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   34. Seranjang Berdua

    "Bantu aku untuk membuatnya pergi dari isteriku, sejengkal pun jangan boleh dia mendekati isteriku. Dia sudah menghancurkan mental isteriku. Aku akan kirimkan bukti yang aku miliki ketika dia mengikuti istriku sejak dia tinggal di Solo. Aku tidak ingin dia lolos karena kekayaan orang tuanya, jika itu terjadi, aku sendiri yang akan bertindak." Damar sedang bicara dengan salah satu orang yang menahan Leo karena tindakannya menguntit Jenar selama sebulan ini. Dia tidak peduli jika Jenar keberatan, karena dia takut. Di ruang tengah rumah yang Jenar tempati, Damar beranjak dan melihat istrinya yang sedang di kamar. Tadi dia terlelap ketika meninggalkan menjawab telepon.Dengan posisi menyamping, Jenar tampak masih tidur. Setidaknya dia tidak lagi menangis. Damar duduk di meja kerja yang ada di kamar itu sambil menatap isterinya. Dia sungguh hilang akal sampai lupa jika punggungnya terluka. "Mama—" rintihan lirih terdengar dari mulut Jenar denga

    Last Updated : 2025-02-08

Latest chapter

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   97. Tamat

    "Memang Danur punya uang untuk membelinya?" Pertanyaan Prajurit itu membuat bocah itu berpikir. Ekspresinya begitu mengemaskan, selain imut, tampan, dia juga sama seperti ayahnya. Pesona ayahnya turun ke anaknya sekarang. "Danur, Ayah sudah punya anak baru. Bukankah Danur juga punya ayah baru." Damar datang dengan menggendong anak Widi yang baru 10 bulan, dan mengejek putranya itu. Menjadi Komandan Batalyon selama hampir 6 tahun, Damar banyak mendapatkan penghargaan dan prestasi yang dia dapat selama diposisinya. Bukan hanya itu, selain terkenal tegas, Damar juga bersikap baik pada bawahannya. Bukan berarti salah lantas dia akan terus mencari kesalahan, Damar memberikan nasehat yang bisa membuat bawahannya maju bukan malah diam di tempat. Beberapa Prajurit dibantu untuk pendidikan mereka. Dia membantu semampu dia, karena dia tau betul bagaimana berjuang di masa-masa seperti ini. Tegasnya Damar, dia selalu disiplin dan tidak menerima kesalahan yang fatal. "Itu adik Celine, itu b

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   96. Mau Ayah Baru Saja!

    "Om, mana Ayah Danur?" Dengan pertanyaan yang belum jelas, anak usia 4 tahun itu berdiri di hadapan para Prajurit yang sedang berbaring mendengarkan arahan. "Danur, tunggu Bunda!" Langkahnya terhenti ketika melihat putranya sedang berdiri di hadapan para Prajurit. Senyum wanita cantik itu mengembang, anak kecil yang dia cari tanpa rasa malu ikut dalam barisan itu seperti seorang Komandan yang berdiri di depan Prajurit. "Ayah!!" Teriakan itu membuat wanita cantik itu berlari sebelum anak kecil itu berhasil pada ayahnya. Tawa dari para Prajurit yang berbaris terdengar ketika anak kecil itu menyelai ucapan sang ayah ketika sudah dalam gendongan. "Kenapa Ayah pergi sendiri. Bunda memaksa Danur makan, Danur masih kenyang," keluhnya. "Pak Wadan, gantikan aku bicara, anak kecil ini akan terus menggangguku," pintanya pada Wadan yang berdiri di sampingnya. "Ke mana Bunda sekarang?" tanyanya pada sang anak. Dia mundur ketika wakil komandan mengantikannya bicara dengan beberapa Praj

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   95. Menjalani Hidup Setelah Duka

    "Akhirnya anak Ayah bisa pulang hari ini." Dalam gendongan sang ayah keluar rumah sakit, bayi kecil itu tampak tenang. Jenar berjalan selangkah dibelakang Damar yang begitu senang setelah hampir 1 bulan putranya di ruang NICU, akhirnya hari ini diperbolehkan pulang. Kondisinya berangsur membaik walau berat badannya masih kurang. Sore itu akhirnya Danur bisa berbaring di tempat tidur mereka. Damar sangat senang karena bisa menggendong lebih lama dari pada di NICU hanya berapa jam saja dalam sehari. Momen ini yang di tunggu sejak beberapa minggu. Sejak keluar rumah sakit, keseharian Damar berbeda. Pagi dia akan membantu istrinya merawat putranya. Membiarkan Jenar mengurus pekerjaan rumah yang lain. Damar juga menemani putranya berjemur ketika dia selesai Apel. "Aku sudah selesaikan tugasku. Aku pulang lebih dulu," ucap Damar. "Siap, Komandan!" "Sejak ada mainan hidup, aku selalu ingin pulang dan bertemu dengannya." "Siap, Ndan. Namanya juga anak baru lahir. Pastinya senang

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   94. Danurdara

    "Mbak baik-baik saja?" Widi menghampiri Jenar yang termenung di depan ruang rawat. Bukannya istirahat, dia malah diam di sana. Membiarkan Damar yang sedang sakit di dalam di temani ibunya. Kehilangan dan juga kebahagian yang dirasakan sekarang seperti tamparan keras. Bukan hanya itu, Damar juga sakit saat kondisi seperti ini. "Ya, harusnya juga baik-baik saja. Bahkan aku ingin bergegas merawat suamiku yang sedang sakit. Kenapa aku secengeng ini, menjengkelkan sekali." Jemarinya menyeka air mata yang mengalir begitu saja. "Aku yakin Mbak pasti kuat. Aku tidak ingin mengatakan banyak hal karena aku tau jika Mbak mendapatkan itu semua dari keluarga yang mendukung. Mbak harus ingat, masih ada satu anak yang bisa Mbak rawat dan perjuangkan. Ingatlah diriku ini, bagaimana kisahku dengan putriku. Yang tabah, semua pasti akan baik-baik saja." Widi memegang tangan temannya itu. Dia baru bisa bertemu dengan Jenar kali ini. Dia tidak ingin mengganggu ketika di masa duka dan kebahagian y

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   93. Saling Menguatkan

    "Istirahatlah, Nak, kamu terlihat begitu lelah," tutur Susi pada menantunya yang baru sampai dari Jakarta untuk memakam kan putrinya didekat makam ayahnya."Aku masih ingin melihat putraku, Ma. Rasa bersalah ini semakin mencekik ku. Aku tidak becus menjadi seorang ayah, ini terjadi karena diriku." Tangis Damar pecah ketika bicara dengan Susi. Dia menahan agar bisa menerima semua ini, tapi dia tidak sanggup lagi. Rasa sesaknya kian mencekik, dan dia luapkan pada Susi.Wulan yang mengurus semua di sana ketika Damar kembali ke Solo untuk istri dan anaknya yang lain. "Semua sudah menjadi takdir yang Tuhan gariskan. Kamu boleh bersedih, tidak dengan menyalahkan dirimu. Ini semua bukan kesalahanmu, memang kondisi kehamilan istrimu yang tidak baik."Dengan kondisi kaki yang masih dibantu penyangga untuk berjalan, Susi pergi bersama Ragil ke Solo. Dia tidak bisa hanya diam, ketika putra putri mereka membutuhkan mereka orang tuanya."Ikhlas kan, maka kamu akan terima ini semua. Istrimu membutu

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   92. Duka Dibalik Bahagia

    "Saya pikir Mbak Jenar akan mengatakan pada Bapak, jika tadi melakukan kontrol mingguan bersama saya karena tak ingin menganggu istirahat Anda."Mendengar penjelasan Widi, bisa apa Damar ketika ini sudah kejadian. Waktu itu juga, Damar mendengarkan penjelasan Dokter Melati tentang kondisi istrinya.Sudah rasa sakit dia rasakan tanpa hilang, Jenar harus merasakan proses induksi karena ingin persalinan normal. Ada rasa kesal, tapi Damar tidak bisa meluapkan sekarang. Fokusnya ada pada Jenar sekarang."Mbak, bisakah kau datang. Jenar mau melahirkan di usai kandungan 25 minggu, aku harap Mbak bisa datang sekarang." Tidak hanya pada Wulan, dia juga minta doa pada Ibu dan mertuanya agar semua berjalan lancar. Meski dengan resiko yang besar."Maafkan aku, Mas," tutur Jenar dengan rintihan lirih merasakan sakit."Aku tidak ingin membahasnya, kamu harus kuat, agar mereka bisa selamat begitu juga dirimu. Kamu hampir mencelakai dirimu sendiri. Sekarang lihatlah hasilnya, tapi aku tidak mau menya

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   91. Merahasiakan Kondisi Jenar

    Padahal baru semalam, Damar memaksa untuk pulang setelah merasa lebih baik. Dia kasihan saja pada istrinya, apalagi Jenar tidak mau saat Damar akan menghubungi Wulan agar datang menemani istrinya.Damar memilih istirahat di rumah, tak ingin mengganggu suaminya, Jenar di temani Widi pergi ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Namun, kabar kali ini membuat Jenar khawatir apalagi masa kehamilan masih 6 bulan, tepatnya 25 minggu. Padahal, rencananya mereka ingin mengadakan 7 bulanan di Jakarta, 3 bulanan kemarin mereka lewatkan karena kondisi Mama Jenar."Bisa saja waktu melahirkan lebih awal jika kondisinya seperti ini terus. Apa kau sudah merasakan mulas? Dari USG ini bayi sudah masuk panggul, berada di jalannya seperti bersiap akan keluar, dan menekan, hal itu membuat kontraksi palsu.""Ya, semalam aku sudah merasakan mulas, namun hilang timbul, tapi sejak pagi ini sudah mulai teratur rasa sakitnya. Padahal usianya masih 25 minggu, bukankah itu akan beresiko jika melahirkan di waktu

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   90. Kondisi Damar

    "Ada apa, Mas? Apa terasa sakit?"Jenar terbangun ketika mendengar rintihan lirih dari suaminya. Jam menunjukan pukul 4 pagi ketika suara suaminya membuat dia membuka mata. Beberapa waktu ini Damar begitu sibuk, namun dia tetap menyempatkan waktu untuk Jenar meski lelah.Tanpa menjawab, Damar masih saja merintih. Tangannya meremas selimut yang dikenakan dan wajah pucat pasih meringkuk menyamping. Karena perut yang membuat pergerakannya sulit, Jenar coba memanggil suaminya."Apa yang dirasakan, Mas, katakan?""Perutku rasanya sakit sekali, seperti diremas. Aku sudah coba minum obat, tapi rasanya tetap saja," keluhnya dengan suara lirih."Coba Mas tarik nafas perlahan. Apa ini sakit?" Jenar coba mengecek kondisi suaminya semampu yang dia bisa."Ya, di situ sakit." Jenar sepertinya tau apa yang sedang suaminya alami."Mas bisa bangun? Kita ke rumah sakit saja ya?" tanya Jenar."Tidak. Sebaiknya kembalilah tidur, masih terlalu pagi, aku—" Ucapannya terhenti ketika rasa sakit itu kembali d

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   89. Perhatian dan Kesabaran Damar

    "Permisi, maaf sebelumnya. Isteri saya sedang ngidam makan di tempat acara nikahan. Bolehkan saya dan istri saya masuk?" "Tentu, Pak, masuk saja, apalagi istrinya sedang ngidam, tapi makanannya tidak lengkap. Karena sudah malam juga, hanya beberapa saja yang masih ada. Kalau mau masuk saja," ucap wanita yang duduk di tenda depan sebagai penerima tamu. Jam menunjukkan pukul 22.10 saat akhirnya mereka menemukan tempat hajatan. Ketika orang diundang untuk datang, mereka berdua malah datang tanpa diundang, mencari malam-malam hanya karena Jenar ngidam. Damar menatap Jenar yang mengangguk mau setelah bertanya pada wanita itu. Dengan membuang segala rasa malu, Damar masuk setelah mengisi kotak amplop di depan sebelum masuk mengikuti wanita tadi mengantarkan langsung ke tempat makan. Tatapan aneh para keluarga terlihat ketika mereka masuk dengan menggandeng tangan. Meski orang yang temui tadi sudah menjelaskan pada mereka, tapi tetap saja ini membuat malu Damar pastinya, lain hal untuk

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status