Beranda / Rumah Tangga / Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon) / 27. Jangan Samakan Aku dengan Mata Isterimu

Share

27. Jangan Samakan Aku dengan Mata Isterimu

Penulis: Nyemoetdz Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-04 18:26:43

"Kalau aku membiarkanmu pergi, apa kamu tidak akan bersikap manis lagi padanya?" tanya Damar dengan tatapan tegas.

"Masih mau membahas itu?" Jenar mulai bete kalau Damar sudah memasang wajah kesal.

"Aku tidak membolehkannya." Dari raut wajah Damar, dia tidak sedang bercanda. Dia menatap Jenar dengan serius, apalagi jawabannya langsung tanpa memikirkan lebih dulu.

"Mas sungguh-sungguh?" Jenar yang terkejut dengan jawaban dari sang suami coba menanyakan kembali. Hanya karena dia bersikap baik, suaminya melarang untuk pergi, meskipun itu acara bakti sosial.

"Tentu, pergilah kalau kamu mau aku marah padamu." Ada hal yang belum Jenar tau, dan sekarang ketika apa yang menurutnya untuk kegiatan sosial, namun Damar malah tidak mengizinkan.

"Memangnya apa alasannya?" Tak terima dengan jawaban sang suami, dia kembali bertanya. Kenapa suaminya melarang ketika hanya karena sikap Jenar pada rekannya saja.

"Aku tidak suka kamu dekat dengannya, siapa tadi namanya, Dokter—" Dia saja tidak ingat, tapi
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   28. Arum Jeram

    "Sudahlah, Mas, pasti pembahasan ini akan menjadi perdebatan kita. Sebaiknya aku pulang, aku lelah sekali. Besok bukankah harus menemui atasan Mas yang tidak ada tadi." Jenar berharap dia tidak terkekang dengan keputusan Damar. Traumanya menjadikan sikap Damar terlalu protektif pada pasangannya sekarang. Memang ada baiknya, namun tidak baik saat itu berlebihan. Apalagi cemburu tidak jelas, seperti Jenar tidak boleh bersikap baik pada pria lain. Entah sikap yang seperti apa itu, yang jelas untuk sekarang Jenar coba memahami bagaimana Damar. Berusaha untuk tidak lagi memikirkan apa yang menjadi keputusan Damar sedang dia lakukan sekarang. Sesampainya dia langsung bersantai setelah membersihkan rumah dan pakaian kotor, Jenar termenung dan mengingat setiap perkataan Damar. Dia sudah tau dari Wulan sikapnya seperti ini karena luka hatinya, namun tidak serta-merta dia melarang apa yang menjadi tugasnya. Dia seorang Dokter, jika seperti ini apa Jenar bisa fokus, ketika di dalam pikiran Dam

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   29. Kecelakaan Saat Istirahat

    "Foto prewed di area seperti ini akan bagus. Apa Mas mau?" tanya Jenar.Dia mulai membayangkan dia mengenakan pakaian pengantin foto berdua bersama Damar dengan suasana pemandangan hijau yang terbentang."Apa saja mau mu lakukan selagi itu baik.""Kita bicarakan itu saat pulang. Oh ya, Mas, boleh aku mengundang para sahabatku setelah ijab kabul. Tidak banyak kok, hanya beberapa. Teman perempuan saja, tidak ada prianya. Ada satu tapi dia lekong." Seakan tau apa yang suaminya akan tanyakan, Jenar menjelaskan dengan detail."Undang saja. Setelah menikah kita satu rumah kan? Kamu tidak akan takut padaku?"Dia takut jika Jenar akan kembali trauma ketika tinggal bersama. Haruskah juga mereka tinggal di rumah berbeda."Kenapa harus takut. Bukankah Mas itu suamiku.""Aku takut saja ketika kita mulai tidur satu ranjang malah kamu menangis karena traumamu. Seperti sebelumnya terjadi." Damar hanya memeluk saja, tapi Jenar sudah menangis ketakutan."Benar juga, bagaimana jika seperti itu, Mas?" J

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   30. Hari Apes Tidak Ada Di Kalender

    Meski tidak ada yang parah, Damar tetap harus menggunakan penyangga punggung. Dia dianjurkan menjalani terapi agar rasa sakitnya tidak terus menyiksanya."Kenapa Mas malah tersenyum?"Saat sampai di rumah dinas, Damar malah tersenyum karena harus dibantu untuk berjalan masuk hingga berbaring ke kamar."Tidak ada yang lucu, sudah istirahat dulu. Besok izin saja, aku tadi minta surat dokter juga. Jadi, Mas tidak perlu memaksakan diri. Mas—"Damar masih saja tersenyum. "Lucu saja, kemalangan menimpaku saat kita sedang istirahat.""Hari apes tidak ada di kalender apalagi membaca situasi kapan akan apes, tapi saat Mas tidak respon dengan cepat tadi, maka aku juga yang celaka.""Padahal besok ada kegiatan tradisi pindah satuan." Damar menghela nafas pelan, dia besok akan sangat sibuk, tapi malah terjadi hal seperti ini. Celaka ketika sedang istirahat di tempat yang mereka pikir aman. Memang benar kata Jenar, kemalangan tidak ada di kalender."Minimal istirahat 3 hari, Mas, jangan keras kepa

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   31. Ciuman Pertama

    "Apa itu yang Mas maksud tidak melakukan apapun."Damar hanya tersenyum setelah melakukannya. Dia ingim Jenar mulai terbiasa dengan sentuhan dari dirinya. Bagaimana Letkol tampan itu bisa menyentuh isterinya kalau masih saja merasa trauma."Kenapa? Bukankah aku ini suamimu, apa kamu tidak coba membiasakan dirimu untuk melakukan ini?""Bukan begitu, hanya saja ... sudahlah, bukankah Mas bilang mau menyiapkan seragam. Apa sudah selesai?" Jenar mengalihkan pembicaraannya karena malu. Dia hanya belum terbiasa melakukan hal seperti ini, apalagi Damar begitu dekat dan menggoda.Damar tersenyum melihat pipi Jenar memerah karena malu. Dia kembali menggoda Jenar yang pipinya merah sudah seperti kepiting rebus. Damar memeluk dari belakang dan mencium pipi Jenar singkat."Mas!""Ayolah sayang, coba biasakan hal ini. Agar trauma mu itu juga hilang saat kamu menerima apa yang aku lakukan. Lagian aku juga tidak membuatmu terluka, hanya seperti ini." Dan lagi Damar mencium pipi Jenar yang satunya.

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   32. Melawan Mantan Kekasih Toxic

    "Benar kan, Dok, dia ada di mobil itu." Asri dan Jenar menatap dari dalam IGD untuk melihat apa benar Leo ada di sana. Dia memang tidak punya kerjaan dengan terus datang untuk mengganggu. Padahal Dika sempat membuatnya pergi, namun dia malah datang lagi. "Apa Mas Dika ada ya, apa tidak sedang bertugas." Jenar coba untuk mengirimkan pesan pada Dika yang tak langsung membalas karena memang ada kegiatan. "Minta antar ambulan saja untuk pulang. Biar tidak tau kalau Dokter keluar rumah sakit." "Ngawur, tidak ah ... aku tunggu dia pergi saja. Aku coba minta tolong petugas keamanan." Jenar yang ingin segera pulang coba bicara dengan petugas keamanan untuk mengusir, namun gagal karena alasan sedang menunggu pasein yang di rawat. Dia memilih kembali ke ruang pemerikasaan sambil menunggu balasan pesan dari Dika. "Bagaimana kabar Ibu? Tidak kok, aku juga baru selesai praktek," ucap Jenar menjawab lawan bicara dari sambungan telepon. "Kabar Ibu baik. Bagaimana kondisi Damar, maaf semalam I

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   33. Bukan Cinta tapi Obsesi Gila

    "Lancang sekali kau!"Damar berusaha melepaskan pelukan Jenar darinya dan ingin memukul pria dengan mulut besarnya itu sampai babak belur. Dia berani menyebut isterinya wanita tidak benar di depan umum. Pria seperti Leo memang besar mulut, dia tidak malu datang lagi dan lagi meski ditolak. Itu bukan cinta melainkan obsesi yang gila, meneror Jenar setelah melukai hatinya."Mas, aku mohon!!"Jenar semakin mempererat pelukannya dan membuat mundur tubuh Damar yang terpancing dengan perkataan Leo. Dia tidak mau suaminya itu akan mendapatkan masalah jika terus melawan pria kurang ajar seperti Leo."Dia mungkin terima dengan perkataanmu, tapi aku tidak! Lihat saja kau menyentuh tubuhnya, urusan mu denganku! Kau dengar itu!"Damar membawa Jenar pergi dengan menggandeng tangan setelah berterik pada pria gila itu, dan Leo dibawa petugas keamanan agar tidak terus memancing emosi.Dengan emosi yang masih membara, Damar berjalan ke mobil. Tidak peduli dengan rasa sakit di punggungnya. Apalagi dia

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-07
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   34. Seranjang Berdua

    "Bantu aku untuk membuatnya pergi dari isteriku, sejengkal pun jangan boleh dia mendekati isteriku. Dia sudah menghancurkan mental isteriku. Aku akan kirimkan bukti yang aku miliki ketika dia mengikuti istriku sejak dia tinggal di Solo. Aku tidak ingin dia lolos karena kekayaan orang tuanya, jika itu terjadi, aku sendiri yang akan bertindak." Damar sedang bicara dengan salah satu orang yang menahan Leo karena tindakannya menguntit Jenar selama sebulan ini. Dia tidak peduli jika Jenar keberatan, karena dia takut. Di ruang tengah rumah yang Jenar tempati, Damar beranjak dan melihat istrinya yang sedang di kamar. Tadi dia terlelap ketika meninggalkan menjawab telepon.Dengan posisi menyamping, Jenar tampak masih tidur. Setidaknya dia tidak lagi menangis. Damar duduk di meja kerja yang ada di kamar itu sambil menatap isterinya. Dia sungguh hilang akal sampai lupa jika punggungnya terluka. "Mama—" rintihan lirih terdengar dari mulut Jenar denga

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-08
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   35. Ciumana yang Begitu Dalam

    Damar coba mengirimkan pesan pada salah satu teman Dokter yang dia kenal agar memberikan obat untuk Jenar. Tak menunggu lama, temannya itu datang dan segera masuk setelah bilang pintu belum di kunci.Saat akan masuk kamar, senyum temannya itu mengembang melihat posisi Damar yang tidak bisa bergerak karena Jenar memeluknya."Demamnya tinggi, aku bantu untuk pasang infus dan obat melalui infus," jelasnya."Sudah lakukan saja, jangan terus tersenyum. Punggungku sudah cukup sakit dengan posisi seperti ini, jadi cepat lakukan saja dan pergi.""Ah ... benar juga. Aku akan berikan obat untukmu juga agar kalian bisa istirahat bersama.""Aku pikir dijodohkan itu akan tidak saling cinta. Nyatanya kalian berhasil dengan hubungan ini," timpanya lagi sambil memasangkan infus di lengan Dokter cantik yang tidur memeluk sang suami."Awalnya sulit, tapi apa yang aku ambil harus aku lakukan, jadi jalani saja."

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-08

Bab terbaru

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   82. Teman Wanita

    "Izin, Ndan! Selamat sore! Baru pulang?" "Sore. Apa isteriku ada di dalam?" tanya Damar yang baru pulang dari latihan hari ini. Jam menunjukkan pukul 5 saat dia sampai Batalyon. "Iya, Ndan. Beliau ada di dalam." Damar melangkah masuk, coba melihat isterinya yang katanya di dalam. Terlihat dia sedang duduk sambil membungkus beberapa hadiah untuk acara besok. Damar tidak langsung menghampiri, dia menatap dari ambang pintu. Kadang dia merasa bersalah ketika melarang Jenar melakukan pekerjaannya. "Loh ... Pak Danyon di sini. Mau jemput Nyonya Jenar bukan, Pak?" Jenar yang mulanya tidak tau kedatangan Damar langsung mencari di mana suaminya berada. Senyumnya mengembang ketika ada pria yang dia cintai berjalan ke arahnya setelah menjawab pertanyaan salah satu anggota Persit. "Apa belum selesai?" tanya Damar. "Izin, sudah, Ndan. Semua selesai, tinggal persiapan untuk besok. Mau mengajak Nyonya Jenar pulang bukan, Ndan?" "Jika sudah selesai, boleh kah?" "Izin, boleh, Ndan. S

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   81. Merasa Bersalah

    "Apa mual, Mbak?" "Sejauh ini tidak, Mbak. Apa memang maunya buah ya, Mbak. Sulit sekali makan nasi. Membayangkan saja sudah terasa mual." "Apalagi bayi kembar, seperti mualnya dobel, tetap semangat. Setelah trimester pertama akan sedikit merasa nyaman. Walau hanya sebentar. Besok ada kegiatan lomba, nanti pukul 2 siang sepertinya ibu-ibu coba untuk menyiapkan hadiah. Apa Mbak ikut?" "Ikutlah, Mbak, malu kalau gak ikut apalagi alasannya hamil. Semua orang juga merasakan itu, aku tidak mau malah di anggap seenaknya sendiri karena kedudukan suamiku." "Lalu untuk jabatan yang ketua berikan bagaimana?" tanya Widi. "Tidak, Mbak. Biar yang lain saja, aku belum siap saja." Jenar diminta menjadi ketua ibu-ibu Persit, dia malah menolaknya. Dia tidak mau dipikir suaminya Danyon, lantas dia bisa menjabat sebagai Ketua. Apalagi dia masih baru. Pengalamannya kurang, itu pikir Jenar. "Aku belum tau banyak, jadi takut salah. Apalagi banyak para senior yang mampu memimpin. Ketua sekarang

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   80. Rujak Buah Serut

    "Kenapa, sudah makan dan habiskan." Jenar hanya menatap makanan yang baru dia makan beberapa suap saja. Padahal tadi begitu senang bisa makan diluar berdua. Nyatanya, setelah mengisi perutnya beberapa suap, dia tidak ingin lagi. "Mas saja yang makan, aku mual." Mata yang berkaca-kaca tanda dia memang sedang menahan rasa mual. Kasihan juga jika sudah seperti ini, Jenar malah tidak bisa makan dengan lahap, rasa mual menyiksanya. Meski itu tanda baik, akan tetapi Damar kasihan pada istrinya. "Enak?" Jenar menangguk senang, dia menyedot susu pisang yang dia minum. Damar mengusap ujung kepala istrinya, dari makanan yang dipesan dia hanya makan 2 suap saja setelahnya Damar yang menghabiskan, dia sangat ingin makan itu, tapi malah mual. Jenar belum tau apa yang pas untuk perutnya, hanya susu pisang yang tidak membuatnya mual. "Maafkan aku, Mas," ucapnya. Usia kandungannya jalan 3 bulan, meski sesekali masih merasa sakit dibagian perutnya, kondisi kehamilan Jenar tetap terkontrol. Apa

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   79. Rencana Gagal

    "Izin, Pak Danyon. Apa kabar!" Dengan sikap hormat, orang dihadapan Damar menjabat sebelum dipersilahkan duduk kembali. "Lama tidak bertemu, Anda juga tidak ada kabarnya, ke mana saja?" Damar tampak senang teman satu satuan dulu datang berkunjung. "Aku masih menjalankan tugas ku di lapangan. Beruntung Anda sekarang sudah dengan tenang membuat rencana untuk Prajurit. Bekerja di balik meja kerja ini."Pria dihadapan Damar adalah seorang kapten, beliau pernah menjadi satu regu ketika penugasan. Belum lagi mereka sering di perintahkan untuk tugas sebelum akhirinya Damar menjadi seorang Komandan Batalyon sekarang. Mereka malah asyik bicara. Apalagi kedatangan Kapten Bambang memiliki sebuah tujuan bukan hanya saling sapa. Damar untuk pulang karena ada tamu, entah akan seperti apa Jenar nanti marah padanya, yang pasti dia tidak bisa pulang sekarang. "Tidak bisakah Anda bergabung latihan kita lusa, satuan mengadakan latihan gabungan aman bersama NKRI, jika mau saya kirimkan jadwalnya."

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   78. Semakin Sensitif Saja

    "Puas sekali menggoda orang, sekarang malah tertawa," gerutu bumil yang masih pagi sudah bawel setelah mengobrol dengan suaminya. "Makanya kamu juga jawabnya begitu. Tenanglah, Sayang, aku masih lama di sini. Karir yang aku jalani di sini masih terbilang baru. Untuk rumah baru, nanti aku coba bicarakan dengan salah satu teman. Kita pilih yang nyaman untukmu." Damar hanya membohongi Jenar tentang pindah tugas ke Papua. Dia diperbolehkan untuk fokus di Batalyon dan juga istrinya. Apalagi kondisi kehamilan sang istri sedang tidak baik, meski harusnya mengutamakan tugas. "Kamu suka sekali menggoda isterimu, sepertinya masa kehamilan Jenar sangat manja. Dikit menangis, ingat menangis, apa yang dia mau menangis," sahut Susi. "Mama sudah rapi, mau ke mana?" tanya Damar. "Mama hari ini mau pulang, ada Wulan dan ibumu juga di sini. Nanti 3 bulanan Mama akan datang. Beberapa minggu saja kan. Titip anak Mama yang bawel ini, dia akan semakin merepotkanmu dengan tingkah manjanya," balas Susi.

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   77. Pindah Tugas

    "Komandan!" Dika datang dengan 4 anggota Polisi, mereka yang awalnya menantang Damar hampir akan pergi sebelum Polisi mengejar mereka dan menendangnya karena lari. "Bahu kiri Anda—" "Ini hanya goresan saja. Apa wanita tadi sudah aman?" tanya Damar. "Ternyata wanita itu dikejar karena motor yang dia gunakan dianggap kredit macet, 2 pria itu mengikutinya sejak keluar dari tempatnya bekerja," jelas Dika yang tau sedikit masalah wanita itu. Damar menemui wanita itu dan memastikan dengan benar masalah mereka. Setelah itu Damar coba mengobati lukanya sebelum dia pulang. Ini akan menjadi masalah untuknya, ketika Jenar tau. Jam munjukan pukul 12 malam ketika Damar sampai di rumah. Rasa bersalah terlihat jelas ketika melihat isterinya menunggu di ruang tamu sampai tertidur. "Bukankah Mas bilang sudah sampai Bandara sejak pukul 8. Kenapa baru pulang?" "Ada masalah tadi di jalan, kamu bisa pastikan pada Mbak Widi besok kalau bertemu. Akh!" Rintihan lirih ketika Damar membuka jaket

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   76. Wanita Tak Dikenal

    Damar sampai di Bandara dan menunggu Dika yang akan menjemput, katanya mobil yang ditumpangi mengalami pecah ban di dekat Bandara, jadi Damar memilih menghampiri Dika menggunakan Taksi online. Jam menunjukan pukul 8 malam saat sampai di Solo. Rasa lelah dia rasakan, apalagi pesawat delay beberapa jam karena cuaca buruk. "Maaf, Komandan, harusnya saya tidak terlambat," ucap Dika ketika melihat Damar menghampirinya. "Apa sudah selesai?" Setelah meletakkan tas yang dibawa, Damar memghampiri Dika yang merapikan ban yang pecah itu ke bagasi, seperti baru selesai. "Mohon izin, baru selesai, Komandan, apa kita—" "Pak, tolong saya. Pria di sana mengikuti saya sejak tadi, bisakah saya pulang bersama dengan menggunakan motor di depan mobil Bapak."Seorang wanita pengguna jalan menghampiri Damar yang berniat akan pulang. Wanita itu tampak ketakutan ketika mengatakannya. Jalanan memang tidak begitu ramai, wanita itu langsung menghampiri Damar dan Dika. Wanita itu melihat Dika memakai seragam

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   75. Ngidam

    "Ngidam pengen suaminya pulang, bagaimana kalau jadi pindah tugas, akan sulit." Suara seseorang menghentikan tangis Jenar karena mendengarkan kata-kata itu. Hatinya semakin gelisah, dia hanya ingin suaminya pulang sekarang, agar merasa lega. "Aku telepon lagi nanti, aku bicara dulu dengan seniorku. Tidak apa-apa kan?" Meski bekerja di lingkup orang yang lebih tua, tidak membuat Damar besar kepala, karena dia juga masih baru di posisinya sekarang dan harus banyak belajar dari seniornya. "Sudahlah, makin bikin kesal saja." Jenar mematikan sambungan telepon begitu saja karena suaminya masih saja sibuk, padahal dia merindukannya. Lawan bicaranya hanya menatap layar ponsel sesaat panggilan masuk itu tertutup. Mood Jenae Hal seperti ini tidak biasa dia lakukan, mungkin juga karena efek hamil karena beberapa hari kemarin terus bersama dan sekarang ada tugas keluar kota. Namun, jika memang suaminya di pindah tugas, dia sunggu harus merelakan pekerjaannya untuk fokus pada keluarganya.

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   74. Ingin Bertemu Suami

    "Rumah rapi walau kamu sedang sakit, kalau bukan suami yang baik, apa coba. Yang banyak bersyukur, Nak." "Jangan terus memarahi anakmu, nanti dia malah kabur dan Damar menyalahkan kita tidak becus merawatnya," sahut Anggi pada besan yang juga temannya. Mereka dekat karena memang sudah berteman sejak lama. "Aku gemas padanya kalau sudah keras kepala." Yang di marahi hanya diam bersandar di ruang tengah rumah dinas Damar, baru tadi siang dia pulang dan sesampainya di rumah diperlakukan bak ratu karena tidak boleh melakukan apapun, apalagi Dokter bilang harus melewati trimester pertama ini agar janinnya benar-benar kuat untuk diajak melakukan kegiatan. "Kamu tidak menginginkan sesuatu, Je? Makan apa gitu?" tanya Wulan. "Apa ya, Mbak, pengen ketemu Mas Damar saja sih, gak pengen makan apa-apa." "Mau di tungguin suamimu ya. Sabar ya, Nak, kita di sini bersamamu. Lain kali kalau ada apa-apa bilang. Atau kamu mau pulang ke Jakarta saja agar bisa kita bantu," tutur Anggi. "Dan m

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status