Bodoh, bodoh, bodoh! Sandra kesal pada dirinya sendiri. Seharusnya ia melihat tanda-tanda itu sejak dulu, saat pertama kalinya mendapati pancaran mata Barra yang memandangnya dengan hangat, saat sentuhan-sentuhan lelaki itu ketika di Jembatan Kanopi, dan saat lelaki itu memberikan kalung kepadanya. Seharusnya dia sudah menyadari. Namun, dia terlalu takut, terlalu minder, dan terlalu memikirkan kemungkinan-kemuninan yang belum tentu terjadi, sehingga terus-menerus menyangkal perasaan itu. Ia terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya. Trauma telah membuatnya menolak hati laki-laki. Padahal jauh di dalam lubuk hati wanita itu, ia sangat mendambakan cinta. Ia ingin sekali dincintai, apalagi oleh Barra. Sandra ingat bagaimana bosnya menemaninya setelah tercebur di kolam saat acara gathering dulu. Lelaki itu bahkan sampai demam karena tak sempat berganti pakaian. Dan ketika membuat bubur untuk lelaki itu, ia sempat berangan-angan membuat masakan lain untuk Barra. Ia juga ingat ke
Entah beruntung atau sial, pesawat yang akan membawanya ke Swiss akan terbang dua jam lagi. Sandra kembali ke rumah dan mencari paspor. Untungnya ketemu dan lega ketika mendapati masa berlakunya belum habis. Akan tetapi karena sibuk mencari paspor, ia sampai tak sempat berkemas. Alhasil, ia hanya membawa baju seadanya. Ia bahkan tak sempat menggunakan koper, hanya tas ransel yang diisi beberapa pakaian.Setelah semua beres, Sandra bergegas ke bandara. Ia sempat menulis catatan untuk sang adik sebelum pergi. Sesampainya di bandara, wanita itu nyaris terlambat. Ia segera berlari ke bagian pemeriksaan kemudian masuk pesawat.Pramugari menuntunnya ke sebuah kursi di dekat jendela. Darah Sandra mendesir saat pesawat bertolak. Ia sampai mencengkeram lengan kursi kuat-kuat. Matanya terpejam ketika terjadi turbulensi, mulutnya komat-kamit berdoa.Ia belum mau mati. Ia belum mengutarakan perasaannya untuk Barra. Ia masih ingin melihat lelaki itu.Setelah pesawat kembali tenang, Sandra baru bis
Barra membolak-balik ponselnya di pangkuan. Ia masih tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Niatnya pergi ke luar negeri salah satunya adalah untuk bekerja. Ia harus melakukan lobi dengan duta besar pihak Indonesia di Arab supaya eksport product barunya lancar. Selain itu ia juga ingin melupakan patah hatinya.Akan tetapi, apa ini? Mengapa tahu-tahu Sandra meneleponnya dan berkata sedang ada di Swiss, dengan alasan ingin menyusulnya? Aneh sekali. Ia mengira dirinya dipermainkan. Mungkin ada seseorang yang iseng terhadapnya. Namun, setelah diteliti kembali, nomor yang meneleponnya memang nomor milik Sandra. Suara yang didengarnya pun suara wanita itu.Apakah penipu sekarang sudah secanggih itu? Hingga dapat meniru suara maupun nomor telepon orang yang membuat hatinya remuk redam? Akan tetapi, kalau memang penipu, mengapa pula tahu tentang seluk beluk patah hatinya?Barra menggeleng kuat-kuat. Ia sampai tak fokus. Padahal sekarang ia tengah makan malam dengan sang duta besar.Ia l
Jantung Sandra rasanya ingin melompat keluar setiap melewati lantai demi lantai hotel. Meski lelah, tak sedikit pun keinginan untuk tidur datang. Tangannya yang digenggam Barra terasa lembap. Mereka berjalan ke kamar yang telah dipesan dalam diam. Pelayan membawakan koper dan tas ransel mereka di belakang.Begitu masuk kamar, kecanggungan sungguh terasa. Dengan wajah memerah, Sandra ijin membersihkan diri di kamar mandi. Air di sana hangat, malah cenderung panas. Namun, hal itu membuat Sandra merasa nyaman. Ia membersihkan diri, sembari berpikir yang tidak-tidak. Begitu selesai, Barra sudah menunggunya. Lelaki itu berbaring di ranjang, dengan selimut menutupi setengah badannya. Kaus dengan leher bentuk v dipakainya. Rambutnya yang acak-acakan semakin menambah ketampanannya. Dan matanya setengah terpejam ketika melihat Sandra mendekat.“Akan kubuatkan kopi,” ujar Sandra menunjuk dapur.Barra menggeleng. Ia menepuk ranjang di sampingnya, isyarat agar Sandra berbaring di sana. Darah wan
Untuk sejenak, kening Sandra mengerut. Matanya memandang mata Barra dengan penuh selidik. Ia mencari ketidakseriusan dari lelaki itu, tetapi tak menemukannya. Lelaki itu sungguh-sungguh dengan pertanyaannya.Sebenarnya Sandra ingin menjawab ya, tetapi hatinya ragu. Bukankah mereka baru saja menyatakan perasaannya masing-masing? Apakah tidak terlalu cepat untuk mereka menuju ke jenjang selanjutnya? Dan bagaimana dengan sikap orang-orang di lingkungan Barra nanti? Apakah mereka akan menerimanya? Secara, ia bukanlah seorang gadis, bukan pula dari keluarga kaya.“Kenapa?” Barra bertanya. “Kamu ragu denganku?” Ia menurunkan kepalanya, mencium bibir Sandra. “Aku mencintaimu.”Darah Sandra berdesir setiap mendengar penyataan cinta dari lelaki itu. Tubuhnya secara otomatis menjawab sentuhan sang lelaki. Meski begitu, hatinya masih meragu untuk bersanding dengan Barra dan menjadi istrinya.“Apa menurutmu aku terlalu cepat?” tanya lelaki itu lagi. Ia belum melepaskan ciumannya.“Hm-m.” Hanya it
Sandra menautkan jemarinya dengan gelisah. Matanya memandang penuh harap pada Barra yang duduk di sampingnya. Ia berharap kekasihnya itu mau mengabulkan permintaannya.“Kenapa?” alih-alih jawaan, pertanyaan itu malah terlontar dari bibir sang kekasih. Kenng Barra tertaut melihat gestur Sandra. “Kenapa ingin menyembunyikan hubungan kita?”“Ya, nggak apa-apa, sih. Aku belum siap aja.” Sandra tak bisa jujur terhadap Barra. Ia tak mungkin mengatakan alasan sebenarnya, bahwa dia takut dicerca, dihina, dan direndahkan karena tak sebanding dengan kekasihnya itu. itu adalah masalah priadinya. Ia tak mau menambah beban pada Barra.Lelaki itu pun mengernyit mendengar alasan Sandra. “Apanya yang belum siap?”“Yah ....” Sandra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Belum siap go publick aja. Kamu kan terkenal. Nyatanya dulu aja pas kita ke pesta Pak Walikota bersama, namaku sudah tercantum di berita online esoknya.”Bibir Barra mengerucut. Keningnya berkerut semakin dalam. Kalau sudah berpose sepe
Sandra melemparkan tasnya ke meja kantor sembarangan. Satu tangannya sibuk memegangi cangkir kopi untuk sang bos. Hari ini harus bekerja sendiri. Wuri tak hadir. Wanita itu bilang tubuhnya drop karena melembur selama Sandra ke Swiss.Jantung Sandra berdetak lebih kencang ketika membawa kopinya ke depan pintu kantor Barra. Ia gugup. Sejenak, ia menyugar rambutnya dengan satu tangan yang bebas agar tampak lebih rapi. Ia juga menarik ujung kemejanya sebelum mengetuk pintu.Ia lalu masuk. Dengan senyum mengembang, ia meletakkan cangkir kopi ke meja sang bos. Sebisa mungkin, ia menghindari tatapan sang bos, yang membuat wajahnya merona, dengan menunduk. Namun, ketika ia mendongak hendak mengucap selamat pagi, ia tak mendapati Barra duduk di kursinya.Wanita itu heran. Pasalnya tadi Gladis bilang telah melihat mobil Barra. Biasanya lelaki itu langsung naik ke kantornya lewat lift khusus yang tersedia di tempat parkir. Seharusnya, lelaki itu sudah ada di kantor. Namun, nyatanya Barra tak ada
Sandra meremas jemarinya dengan gugup. Keringat sebiji jagung mengalur dari dahinya. Padahal, AC di tempatnya berada cukup dingin. Keringat itu muncul bukan faktor lingkungan, melainkan dari dalam diri Sandra sendiri. Takut, khawatir, dan rasa tak enak lain memicunya.Mata wanita itu tertuju pada Bu Dina yang melakukan panggilan telepon dengan rekan kerjanya. Duduknya gelisah. Rasa ingin merebut ponsel mulik ibunda dari bosnya begitu kuat sampai-sampai tangannya gatal. Namun, tentu saja ia mungkin melakukan hal itu. Kurang ajar namanya. Padahal baginya penting sekali menjaga penilaian Bu Dina terhadapany.“Udah deh, Wur, kamu ngaku aja. Kamu pasti tahu sesuatu tentang ceweknya Barra,” kata ibu itu setelah telepon tersambung.Samar-samar, suara Wuri terdengar dari ponsel Bu Dina. “Ya ampun, Din. Kamu kenapa sih ngotot banget pengen segera tahu? Nggak lama lagi anakmu bakal kenalin ke kamu.”Bu Dina mendecakkan lidah. “Apaan? Enggak, tuh. Dia malah menghindar terus.”“Kenapa menghindar?
Wuri bilang pada Sandra untuk tidak usah khawatir. Namun, tetap saja, Sandra gelisah. Dia sudah menelepon Barra beberapa kali, namun panggilannya tak dijawab. Dia juga sudah mengirim pesan, memberi embel-embel kata penting. Namun, sampai jam kantor usai, Barra tak kunjung membalas. Notifikasinya terbaca pun tak ada. Terlihat hanya tanda centang dua pada pesannya.Saat masuk ke bus untuk pulang, Sandra tak tenang. Perasaannya tidak enak. Pikiran buruk mulai menghantuinya. Kenapa Barra tidak menjawab telepon maupun pesannya? Apakah terjadi apa-apa dengannya? Mungkinkah dia tertimpa musibah, kecelakaan misalnya? Kapan? di mana? Apakah saat hendak menemui klien? Atau ketika rapat dadakan? Kenapa pula tadi dia tidak pamit keluar kantor? Apa yang terjadi?Sandra menjadi mual memikirkannya. Ia tak bisa membayangkan tubuh Barra terluka di dalam mobil yang jatuh ke jurang, menunggu bantuan yang tak kunjung datang hingga akhirnya .... Tidak. Sandra tak sanggup. Ia menelepon nomor Barra lagi, tet
Aku harus percaya diri, Sandra bertekad. Ia ingat percakapannya dengan Bu dina dulu. Sebagai kekasih Barra, banyak yang bakal menekannya. Dia tak boleh menyerah atau melempem. Mentalnya harus kuat. Bukankah dia sudh pernah diperlakuka dengan kejam oleh Bu Utami dulu? Seharusnya, Sandra sudah mampu menyesuaikan diri dengan hinaan yang menjtuhkan mentalnya. Dulu, ia sudah bisa menerima omongan kejam mantan mertua dan mantan suaminya. Jadi, seharusnya ia lebih kuat menerima hinaan dari orang lain. Toh, mereka tidak ada hubungannya dengan Sandra.Berbeda dengan Alex dan Bu Utami yang dulu adalah orang terdekatnya. Orang yang dipercayanya, orang yang mestinya melindungi Sandra. Jadi, penghinaan mereka pastinya lebih kejam dari penghinaan yang diterimanya oleh orang luar. Maka dari itu, Sandra bertekad akan menghadapinya dengan percaya diri.Toh, apa sih cacian yang mereka lontarkan padanya? Statusnya sebagai janda? Sandra memang seorang janda. Namun, dia tetaplah wanita terhormat. Dia tak
Dengan lesu, Sandra merebahkan dirinya ke kasur. Hari ini terasa panjang dan melelahkan. Orang-orang seolah menekannya. Ia tahu dirinya hanya orang biasa dan tak pentas mendaptkan Barra. Ia ingin menyerah dan mengakhiri saja. Sempat terlintas dalam pikirannya untuk pergi ke tempat yang jauh, kembali memulai hidup baru. Namun, saat memikirkan berjauhan dengan Barra, dadanya terasa sesak. Sepertinya ia tak sanggup. Meski begitu, bertahan di sisisnya pun rasanya sulit sekali.Ponselnya bergetar sekejap, menandakan sebuah pesan masuk. Rupanya dari Barra. Ia membacanya dan tersenyum. Kemudian, ia menyadari bahwa hanya dengan membaca pesan dari lelaki itu saja mampu membuat hatinya menjadi ringan. Bagimana kalau ia tak lagi berhubungan dengannya? Pasti lebih sulit.Ia mengetik balasan. tetapi sebelum sempat mengirimnya, Barra sudah meneleponnya."Kangen ...," nada manja sang CEO terdengar begitu Sandra menempelkan ponsel ke telinganya. Bibirnya tak bisa menahan senyuman. "Udah makan, belum?
Acara wisuda itu amat lancar. Setelah para tamu datang, para wisudawan dan wisudawati duduk di tepatnya. Setelahnya para dekan dan tamu kehormatan melakukan sambutan-sambutan di depan mimbar yang telah disediakan. Kemudian mahasiswa pilihan menyampaikan pidato perpisahannya. Setelah semuanya selesai, acara penyerahan ijazah secara simbolik dilakukan. Masing-masing wisudawan dan wisudawati dipanggil namanya supaya ke depan. Prestasi mereka disebut, begitupun dengan pesan yang sebelumnya mereka tulis.Sandra tak bisa menyembunyikan air mata harunya ketika nama sang adik disebut. Chandra bukanlah mahasiswa yang pandai hingga mendapat cum laude. Meski begitu, ia disebut sebagai mahasiswa paling rajin dan bekerja paling keras.Sandra jadi teringat dulu, ketika dia berbicara berdua dengan adiknya perihal uang kulian.“Mbak minta maaf,” katanya duduk di rumah kontrakan yang mereka tinggali sampai sekarang. “Mbak nggak bisa lagi ikut bayar uang kuliahmu. Soalnya suami Mbak nggak ngizinin Mbak
Sandra tahu bahwa tidak mungkin sepasang suami istri dapat bekerja di perusahaan yang sama. Ia tahu kalau salah satu dari mereka harus mengalah. Sebab, atasan mereka tidak menginginkan masalah perusahaan dicampuradukkan ke masalah pribadi. Meski mereka yakin tak bakal melakukannya pun tetap saja manusia bisa khilaf. Jadi, perusahaan tak mau ambil risiko.Akan tetapi, bagaimana dengan sepasang kekasih? Bahkan belum tentu nantinya mereka akan tetap bersama. Bisa saja mereka bakal putus di tengah jalan. Namun, apakah salah satu dari mereka harus mengalah? Kalau memang begitu, dalam kasusnya tentu Sandralah yang mestinya mengundurkan diri. Tidak mungkin Barra. Sebab, lelaki itu seorang pemimpin perusahaan.Jika Barra keluar, bagaimana nasib perusahaan? Sandra jadi teringat perkataan Lusi dulu tentang perusahaannya yang lama. Pemimpin mereka memutuskan mengundurkan diri. Kepemipinan diambil alih sepenuhnya oleh perusahaan asing.Alhasil para karyawan seperti Lusi diperas tenaganya habis-ha
Bisik-biik terdengar bagai dengung lebah di lobi kantor Aksara Group. Para karyawan yang baru kembali dari makan siang maupun yang sedang menunggu lift syok meelihat bos mereka menggandeng asisten seketarisnya dengan mesra.“Jadi, kabar itu beneran?”“Wah, kok bisa ya?”“Beruntung banget itu si Sandra ... iya, kan, namanya Sandra?”“Pakai pelet apa ya dia?”Pertanyaan-pertanyaan tersebut mereka bisiskkan ke telinga teman sebelahnya.Sementara itu, Sandra yang mendadak menjadi pusat perhatian orang-orang pun mencoba melepas genggaman Barra terhadapnya. “Pak, ini kan di kantor,” bisiknya, “nanti orang-orang salah paham.”“Salah paham apa?” Barra balik bertanya. Ia mengeratkan genggamannya, dan secara terang-terangan menunjukkan pada khalayak. “Nggak ada kesalahpahaman di antara kita. Dan, ya!” Ia berkata dengan lantang, seolah mengumumkan pada semua orang. “Kami memang berpacaran.”“Tuh, kan, bener kata Wulan dulu. Si Sandra itu emang penggoda. Kabarnya dia juga matre. Makanya ngelamar k
Dampak yang Sandra alami setelah beredarnya podcast itu langsung terasa begitu jam istirahat kantor berlangsung. Karena tak enak hati telah menyembunyikan hubungannya dari Gladis, ia berniat meminta maaf dan mengajak gadis itu makan siang bersama. Apalagi kemarin dia sudah berjanji. Demi memperbaiki hubungannya dengan Gladis, Sandra bahkan rela menolak ajakan makan siang bersama Barra.Sandra keluar kantor, menuju lift sembari membawa dompet. Ia berencana menraktir Gladis. Ketika lift terbuka, ia melihat beberapa orang di dalamnya. Orang-orang itu segera bungkam begitu melihat Sandra masuk ke lift.Di lantai di bawahnya, lift kembali terbuka. Dua orang yang Sandra kenali adalah bagian HRD, teman Wulan dulu masuk. Mereka berdiri di depan Sandra.“Eh, kamu udah nonton podcast Mbak Nadine belum?” cetus salah satu gadis tadi kepada temannya. Matanya melirik ke arah Sandra dengan sengit.“Udah. Cantik banget ya, Mbak Nadine di podcast itu. Mana lucu lagi orangnya,” sahut temannya.Sombong
Tangan Sandra gemetar ketika melihat ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi tertampil. Gladis menepati janjinya dengan mengirim link podcast itu kepada Sandra.Meski begitu, Sandra enggan membukanya segera. Ia takut. Mengingat respons Gladis tadi, ia tak sanggup melihat isi podcast. Meskipun demikian ia penasaran siapa yang telah lancang mengusik privasinya.Sandra menenangkan hatinya. Sebagai pacar Barra, kejadian ini tak bisa dia hindari lagi. Seperti yang diutarakan Bu Dina kemarin, ia harus siap.Mendadak, jantung Sandra berdetak lebih kencang. Jempolnya ragu memencet layar ponsel. Ia lantas mendesah. Mungkin ia akan melihatnya nanti saja, kalau sudah siap. Lagi pula, ia masih bekerja. Ia harus fokus pada pekerjaannya.Sandra memasukkan ponselnya ke saku. Ia mulai membuka folder pada komputernya dan kembali mengatur jadwal Barra. Sebuah email yang sudah dikirim beberapa hari yang lalu membuatnya mengernyit.Email tersebut berisi undangan dari kampus sang adik. Sekilas, Sandra berpi
Rasa penasaran Sandra sudah mencapai puncak. Pasalnya, ia tak bisa lagi mereka siapa kiranya yang tega menyebar kabar tersebut secepat ini. Ditambah respon Barra yang malah minta maaf, ia menjadi tak sabar. “Memangnya siapa yang bicara kepada wartawan tentang tatusmu? Dan kenapa pula kamu minta maaf?”Barra menarik Sandra mendekat ke kursinya. Tangannya merangkul pinggang wanita itu. Kepalanya mendongak, menatap sang kekasih dengan mata lebar, seperti kucing yang menyesal karena ketahuan mencuri ikan di dapur. “Mama,” jawabnya singkat.Sandra terkejut. “Apa?” Ia memastikan dirinya bahwa tak salah mendengar.“Mamaku.” Barra mengedikkan bahu. “Makanya aku minta maaf. Tapi beliau kan nggak ngasih tahu kalau pacarku itu kamu jadi masih aman.”“Tapi, kenapa?” Sandra mengernyit. Ia ingn marah, namun tak bisa.Belum sempat menjawab, ponsel Barra berdering. Lelaki itu mengamati layar ponselnya kemudian memberitahu, “Nih, coba tanya sendiri. Beliau menelepon.”Sandra menggigit bibir bawahnya.