Karena cinta, Feyana rela diperlakukan tidak baik oleh suami dan keluarganya. Namun, semakin Feyana bertahan, suami dan mertuanya terus menyiksanya, sampai Feyana ingin menyerah. Tepat ketika ia ingin mengakhiri hidupnya, seorang pria menyelamatkan hidupnya! Tak hanya itu, pria itu juga kembali membawanya ke tempat dimana ia seharusnya berada. Siapa sangka, Feyana ternyata bukanlah wanita miskin seperti sang suami kira. Apa yang terjadi ketika Feyana kembali, dalam kondisi yang berbeda? Bukan sebagai istri yang terhina, tetapi sebagai wanita kaya raya!
Lihat lebih banyak"Cepat sembunyi! Jangan sampai mereka melihatmu berkeliaran di rumah ini!" bentak Anne—ibu mertua— dengan mata mendelik.
Feyana bergegas meletakkan alat-alat kebersihannya ke tempat semula dan lari ke belakang. Ia langsung menuju ruangan sepetak yang pengap di halaman belakang dan meringkuk sedih. Dirinya mencoba tidak menangis atas perlakuan keluarga suaminya yang selalu mengucilkan dan tak mau mengakuinya sebagai istri sah Randy.
Ini keputusan yang Feyana ambil untuk menikahi Randy, cinta di pandangan pertama. Ia melepaskan semuanya agar bisa menikah dengannya, termasuk melepaskan keluarganya sendiri dan mendapat perlakuan buruk dari keluarga suaminya. Ia harus bertahan atas apa yang dia pilih.
"Aduh, kenapa dengan perutku? Rasanya melilit dan sakit sekali. Aku tak tahan," keluh Feyana dengan wajah yang sudah pucat pasi.
Dengan langkah terseok, dirinya keluar dari ruangan pengap itu dan menuju dapur. Ia bersyukur menemukan sepotong roti di atas meja pantry. Roti sisa yang pasti tidak akan dicari keberadaannya ketika hilang. Ia mengambilnya untuk dimakan di bawah meja agar tidak ada yang memergokinya.
Feyana tersenyum tipis ketika perutnya sudah tidak sakit lagi. Ia menyempatkan mengambil minum di kulkas dan menenggaknya begitu santai. Ketika menutup pintu kulkas, betapa terkejutnya Feyana sebab seseorang sudah berdiri di sebelahnya dengan tatapan mencelanya.
“Hei! Apa yang kamu lakukan!?” Teriak orang itu, tepat ketika Feyana baru menelan roti tadi.
"AHH! KAMU MENGEJUTKANKU. AKU BUKAN MALING, SUNGGUH!" pekik Feyana panik ketika pria itu mencekal tangannya.
Karena teriakannya barusan, semua orang yang ada di ruang tamu menuju dapur. Tatapan mereka sangat mengintimidasi Feyana, seolah mengatakan bahwa dirinya itu mengganggu. Dengan wajah tertunduk, Feyana diam memilin ujung bajunya.
“Siapa perempuan berpenampilan kucel itu? Jangan-jangan dia istrinya Randy, ya?” tanya seorang pria paruh baya dengan wajah tak senang.
Ayah mertua Feyana langsung tertawa kikuk. “Tentu saja bukan. Dia hanyalah pembantu di rumah ini. Jangan hiraukan!” sanggahnya lalu mengode lewat lirikan matanya agar Feyana bergegas pergi.
Feyana yang merasa dirinya mulai lelah karena diperlakukan buruk oleh keluarga suaminya, hingga tak mengakuinya sebagai bagian dari keluarga bermaksud untuk buka suara. Ia ingin mengatakan pada mereka bahwa dirinya juga menantu di keluarga itu. Tetapi ketika Feyana ingin bicara, mulutnya dibekap oleh Randy.
Randy yang datang langsung bergerak cepat untuk menarik tangan Feyana menjauh. Ia berbisik memperingatkan Feyana yang bersikeras untuk buka suara. “Jika kamu katakan pada mereka, aku takkan segan menghajarmu!” ancamnya membuat Feyana bergidik ngeri.
Feyana berakhir membisu dan dengan kasar dirinya dihempaskan oleh Randy masuk ke dalam ruangan pengap itu lagi.
"Kamu sudah hilang akal? Bisa-bisanya menunjukkan diri di depan mereka, bahkan di depan calon keluarga Rena?!" sentaknya marah.
Feyana menggelengkan kepala. "Aku tidak berniat melakukannya. Aku tadi hanya—,"
"Hanya apa? Ingin mempermalukan keluargaku?" potong Randy lalu mendengus kesal. Ia melanjutkan, "Sebagai hukumannya kamu dikurung sampai malam di sini."
Feyana langsung menolak. Ia tidak suka dikurung di tempat gelap dan sempit ini. Namun Randy sama sekali tak peduli dan menguncinya dari luar sehingga Feyana hanya dapat meratapi nasibnya.
Tak terasa sudah beranjak malam dan Randy belum juga datang membukakan pintunya. Wajah Feyana mulai pucat dan ia ketakutan di kegelapan yang makin pekat. Ia berusaha menggedor pintu berulang kali, berharap orang di luar mendengarnya. Energinya mulai habis, terlebih ia belum makan dan punya riwayat maag. Matanya berpendar gelisah dan pingsan tak lama kemudian.
*****
“Apa yang terjadi?” gumam Feyana sembari mengerjapkan mata perlahan untuk membiasakan cahaya terang di ruangan serba putih. Ia duduk dari bangsalnya dan menatap sekeliling. Seorang wanita dengan pakaian dan rok putih datang padanya lalu tersenyum ramah.
"Syukurlah sudah sadar. Mbak pingsan karena maag akut, dan bisa dibilang Mbak juga kekurangan nutrisi. Jadi, tadi ambulans membawa Mbak kemari, tanpa ditemani wali. Orang di sana mengatakan kalau Mbak pembantu di rumah itu dan semua orang sedang sibuk sehingga tak punya waktu menemani Mbak.”
Penjelasan perawat itu membuat hati Feyana sakit. Dirinya tahu betul bahwa keluarga Randy tak mengindahkan keberadaannya. Namun ia tak menyangka bahkan ketika kondisinya seperti ini, mereka masih saja bersikap tak acuh.
"Kalau begitu, boleh saya pulang sekarang, Sus?" tanya Feyana mencoba mengenyahkan perasaan sakit hatinya.
Perawat itu mengangguk mantap. Melihat kondisi Feyana yang sudah pulih, tak ada salahnya jika memulangkannya segera. Dengan dibantu perawat melepas selang infus dan turun dari bangsal, Feyana berjalan tertatih ingin keluar dari Rumah Sakit.
"Maaf, tapi Mbak harus melunasi biaya rawatnya dahulu sebelum pergi," henti perawat itu agak kasihan melihat tatapan lugu Feyana.
Feyana menganga tak percaya. Ternyata selain bersikap dingin padanya, keluarga suaminya juga tak ada hati sampai melepas tangan membayarkan biaya rawatnya. Padahal jika dipikir-pikir, salah mereka juga dirinya pingsan.
Feyana tidak tahu uang darimana untuk membayarnya. Jangankan bayar biaya rawat, ia saja tidak memegang sepeserpun uang. Feyana lama terdiam di depan meja resepsionis hingga akhirnya memberanikan diri meminjam ponsel seorang perawat yang sedang berjaga di sana. Ia menunggu nada sambung hingga sebuah sahutan dari seberang terdengar.
“Mah, ini Feyana. Bisakah Mamah atau Randy mentransfer uang untuk biaya pengobatanku di rumah sakit sekarang juga? Aku sudah mendingan dan ingin pulang saja. Jauh lebih baik lagi jika Mamah katakan pada Randy untuk menjemputku.” Feyana langsung menyahut cepat sebelum sambungan diputus.
Namun terdengar tawa dari seberang yang berasal dari mertuanya. “Dengar, ya! Sekarang di rumah sedang sibuk membahas rencana pernikahan Rena dengan kolega bisnis ayahnya. Jadi tak ada waktu untuk mengurusimu. Mandirilah dan pulang sendiri! Nanti kamu lewat pintu samping agar jangan sampai ketika kamu pulang membuat gaduh seperti sebelumnya!”
Panggilan diputus setelahnya tanpa Feyana mendapat kejelasan soal biaya perawatan. Lalu, bagaimana dirinya bisa pulang jika uang saja ia tidak punya?
Dengan berat hati Feyana mengembalikan ponsel itu dan berterima kasih sudah diberi pinjam.
Dirinya menghela nafas panjang dan memikirkan apa yang harus dilakukannya. Tak ada cara lain, ia akan kembali ke bangsalnya dan menunggu suaminya itu datang. Semoga saja Randy benar-benar mau datang atau paling tidak menyempatkan diri untuk menjemputnya.
“Biar aku yang lunasi biayanya.” Ucap seorang pria yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Feyana. Dia mengulurkan kartu debit dan meminta perawat itu mengurus administrasi Feyana segera.
Manik Feyana seketika membulat, sembari memperhatikan pria yang tak dikenal itu dari atas ke bawah.
Feyana tak pernah mengenal pria setampan itu sebelumnya. Jika Feyana mengenal pria dengan rambut hitam legam, alis yang tebal, serta rahang yang kuat seperti pria di hadapannya, jelas tak mungkin Feyana bisa melupakannya begitu saja.
Feyana langsung menarik sebelah lengan pria itu agar menghadap dirinya. “Kamu siapa? Dan maaf, kamu tak perlu membiayaiku, aku akan menunggu suamiku datang saja, pasti tidak lama,” tolaknya dengan halus.
Pria itu diam tak menyahut. Lalu menerima kartunya kembali ketika administrasi Feyana sudah selesai. Ia berjalan lebih dulu dan menoleh pada Feyana ketika wanita itu hanya memandangnya bingung.
“Tak perlu berpura-pura kuat, Nona. Nona tahu sendiri suami Nona tak akan datang. Ayo, biar saya antar pulang.”
“Sean, ayo cepat keluar! Nanti terlambat ke sekolah, loh,” panggil Feyana yang sudah rapi berdiri di samping mobilnya. Ia beberapa kali melihat jam tangannya sambil berdecak resah karena rapat di kantornya akan dimulai sebentar lagi.Sean tampak keluar dari rumah dengan tas ransel yang hanya disampirkan di satu lengannya seraya berlari tergesa-gesa mendekati ibunya yang tampak kesal.Feyana melipat kedua tangan di dada sambil memicingkan mata ketika putranya itu berdiri di hadapannya. Bukannya merasa bersalah, Sean malah meringis menunjukkan deretan gigi rapinya itu, bermaksud membuat ibunya terbuai. Namun Feyana hanya diam melihatinya yang kemudian tampak salah tingkah.“Iya, maafkan aku, Mah. Tadi Sean bangunnya telat jadi terlambat begini. Sekarang, ayo berangkat keburu mamah ikutan telat ke kantornya!” elak Sean terdengar jujur.Feyana menjitak pelan kepala Sean sambil mendengus, “Makanya jangan begadang cuman untuk main game terus! Kamu pikir mamah gak tau kalau tiap malam kamu it
“Maaf, tapi kami sepakat untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut. Bisakah, Anda menghargai privasi keluarga kami?!” sahut David menatap lurus dengan rahang yang mengeras pada wartawan itu.Wartawan yang mengajukan pertanyaan tampak gugup. Ia menatap ke arah teman-temannya yang sesama wartawan untuk minta bantuan, tapi tak ada satupun yang menghiraukannya. Mereka semua tentu tak mau berurusan dengan keluarga David yang akan merusak karier mereka dalam bidang ini. Tamat sudah riwayat wartawan wanita ini.David menyuruh seorang sekuriti yang berdiri tak jauh darinya. Hanya dengan jari telunjuknya, sekuriti itu mendekatinya dan mendengar bisikan David dengan baik. Sesuai perintah yang baru saja ia dapat dari atasannya, sekuriti itu berjalan mengendap lewat pintu belakang untuk membawa wartawan wanita tadi pergi meninggalkan ruangan.David kemudian memandang Feyana lalu memberinya anggukan meyakinkan bahwa semuanya akan aman.“Aku harap ini jadi pembelajaran bagi kalian semua untuk berhat
Feyana memandang nanar pada timbunan tanah yang ber-nisankan nama Sabrina. Air matanya terus bergulir meski sudah berulang kali diusap oleh suaminya yang berada di sampingnya. Kedua tangan Feyana sibuk menggendong Sean yang sedari tadi menangis. Sepertinya, bocah kecil ini menyadari bahwa ibunya sudah takkan lagi ada di dunia ini untuk menemaninya.Sayangnya Norma dan Imelda tidak bisa ikut ke pemakaman karena situasi mereka yang masih menjadi tahanan. Tentu saja ketika mendengar kabar kematian Sabrina dan kenyataan soal penyakitnya itu dari Feyana, mereka berdua sangat terpukul. Keduanya tak menyangka Sabrina tega menutupi kebenaran yang amat menyakitkan itu hanya agar tak membuat mereka khawatir.“Fey, ayo pulang. Kasihan Sean jika terus di sini, apalagi langit mulai mendung.” David mengajak Feyana pulang karena mereka sudah sangat lama di sana. Dirinya kasihan melihat wajah sembab istrinya dan tangisan pilu Sean yang tak kunjung reda.Feyana inginnya masih tetap di sana, namun meli
“Aku tak tahu pada siapa harus menitipkan Sean. Aku hanya percaya padamu, Fey.”Ucapan Sabrina itu terus-menerus terlintas di kepala Feyana. Ia pun berjalan tanpa minat ketika keluar dari rumah sakit, bahkan dia tak mengacuhkan David yang sedari tadi menatapnya penasaran. David ingin bertanya apa yang Feyana bicarakan dengan Sabrina sampai membuatnya tak fokus seperti sekarang, tapi melihat ratapan suram di mata Feyana membuatnya mengurungkan niat bertanya.“Fey, biar aku antar ke kantor aja, gak usah bawa mobil. Biar nanti si Joshua aku suruh ambil mobilmu di sini,” sergah David tidak yakin dengan Feyana yang kurang fokus ketika nanti menyetir di jalan.Feyana menggeleng dan ingin tetap menyetir sendiri, namun David mencegahnya dengan mengambil kunci mobilnya lalu menggandengnya agar masuk ke mobil David.“Aku tidak mau ambil risiko kamu kenapa-napa kalau tetap memaksa menyetir sendiri. Kita langsung menuju kantormu saja, aku antar,” tegas David tanpa boleh dibantah.Ketika sudah dud
Sabrina menatap nanar pada Feyana yang diam kaku tak berkutik setelah mendengar permintaannya yang terdengar gila. Sabrina akui dia tak memiliki siapapun yang bisa dipercayainya, bahkan keluarga saja sudah tak punya. Dirinya hanya memiliki Sean yang terpaksa dititipkannya di panti asuhan selama ia menjalani proses hukuman penjara.“Hanya kamu yang terlintas di pikiranku, Fey. Aku tentu takkan rela berikan hak asuh Sean pada ayahnya, si Leon. Bahkan pria itu saja tak tahu bahwa dia memiliki putra.”“Apa kamu sudah memikirkan keputusanmu itu matang-matang? Aku bukan beralasan mau menolak, tapi tanggung-jawab ini terlalu besar. Apa kamu seyakin ini padaku? Dan mau sampai kapan kamu menutupi kebenaran bahwa Sean adalah darah dagingnya Leon? Tidak ada yang bisa menutupi rahasia selamanya, Na.”Feyana mengusap air mata yang merembes di pipi Sabrina dengan sebelah tangan yang tidak digenggam oleh Sabrina. Baru kali ini ia melihat kesedihan teramat dalam di wajah Sabrina yang tergambar jelas.
Feyana pagi-pagi sudah gaduh tak karuan, membuat suaminya yang masih nyenyak bergelung di selimut merasa terusik. Sambil memperhatikan Feyana bolak-balik di kamar, David menegurnya perlahan.“Ada apa panik banget, sih? Gak biasanya kamu begini.’”Feyana hanya menoleh sekilas pada suaminya yang masih bersantai di kasur. Ia menjelaskan dengan sekedarnya kalau mendapat kabar jika Sabrina, salah satu temannya yang ada di sel penjara waktu itu sekarang sedang menjalani perawatan di rumah sakit, bahkan sampai harus opname.“Kalau sampai opname begitu, berarti sakitnya serius. Aku mau ke sana untuk melihat kondisinya. Semoga saja Sabrina tidak apa-apa,” lontar Feyana lalu menyabet tasnya yang ada gantungan.“Aku berangkat dulu, ya. Bye!” ujarnya sambil menyempatkan diri memberikan ciuman selamat pagi untuk David.David menghela napas salut pada Feyana yang tampak sangat peduli pada temannya yang satu sel dengannya itu. Bahkan sejak keluar dari penjara dirinya membuat jadwal rutin untuk menje
Feyana dan David dalam perjalanan pulang, bersisian di dalam mobil tapi senyap sejak 15 menit yang lalu. David berulang kali menatap sebentar istrinya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Karena tak kunjung mendapat perhatian, David mengelus punggung tangan Feyana dengan sebelah tangannya yang bebas dari menyetir.“Lagi mikirin apa?”Feyana barulah menoleh padanya lalu menyengir kecil membuat David mengangkat sebelah alisnya bingung. “Soal Joshua dan Mitha, ya? Kamu kenapa ngebet banget jodohin mereka, sih? Padahal kalau dipikir-pikir yang dikatakan Joshua memang benar, kita belum terlalu kenal soal Mitha. Iya kita memang lihatnya Mitha wanita yang baik dan tidak neko-neko, tapi siapa tahu itu hanya topengnya semata.”Seperti bisa membaca apa yang sedang Feyana pikirkan, David menuturkan hal demikian dengan raut wajah tenang tanpa menunjukkan emosi apapun, itu agar Feyana juga tak merasa tersinggung.Feyana mencebik sambil menyahuti, “Tapi aku merasa kasihan pada Joshua yang sudah
“Aku malah bermaksud ingin menyingkirkan Randy di saat kontrak kerja dengannya berakhir. Aku senang kamu melakukannya lebih cepat, Dav.”Tanggapan di luar dugaan dari Feyana membuat David menganga tak percaya. Semenit kemudian ia barulah bisa mengulum senyuman karena ternyata Feyana tidak marah dan malah sejalan dengannya.“Jadi kuharap kita tak lagi bersitegang hanya karena Randy dan keluarganya. Aku muak kita bertengkar perihal mereka,” kata Feyana yang diangguki semangat oleh suaminya.“Aku akan membereskan Randy dan keluarganya agar tidak akan pernah muncul di hadapan kita lagi. Tenang saja, aku tidak bermaksud membunuh mereka, hanya saja ingin mengusir mereka dari kota ini. Jika mereka berada di tempat yang jauh, tak mungkin bisa mengganggu kita lagi,” cetus David sembari mengambil ponselnya untuk menghubungi orang suruhannya.Kening David mengerut ketika mengobrol beberapa saat dengan seseorang di telepon. Setelahnya ia memutuskan sambungan dan memberi tatapan linglung pada Feya
Feyana melihat Joshua tak berkutik mendengar pertanyaannya yang cukup menohok itu. Karena melihat pria di depannya itu hanya diam tak menyahut, Feyana yang kembali bersuara. “Aku tak sengaja melihat Randy ada di rumah sakit ini. Dia dirawat karena mengalami patah tulang dan berakhir cacat usai dioperasi. Kamu tahu apa yang membuatku merasa tersinggung? Ketika aku menghadapi keluarga Randy seorang diri demi menjaga martabatnya suamiku. Tapi aku merasa kasihan pada diriku sendiri sebab membela orang yang malah membohongiku. Kamu mengerti bagaimana bencinya aku saat kutahu bahwa David membohongiku dari keluarganya Randy? Mereka semua saling menyerangku waktu itu, dan aku diam tak berkutik dalam hati, tapi pura-pura berani pada mereka dengan membual soal ancaman untuk menakutinya.”Feyana menenggak minuman di gelasnya secara brutal dan meletakkan kembali gelasnya dengan keras sampai terdengar bunyi berdentum. Tatapan tajam menusuk Feyana yang memerah menahan amarah membuat Joshua was-was
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Komen