Feyana bangun pagi dengan tubuh yang jauh lebih segar dari semalam. Ia menguap lalu duduk di kasurnya. Memanggil seorang pembantu yang tak menunggu waktu lama langsung masuk kamar, melayaninya dengan sepenuh hati.
“Siapkan air hangat untukku mandi. Aku akan berendam dengan bunga mawar pagi ini,” ucap Feyana tanpa segan.
Pembantu mengangguk paham lalu undur diri memasuki kamar mandi untuk menyiapkannya. Feyana kembali memanggil seorang pembantu di luar kamarnya, meminta disiapkan pakaiannya.
Feyana berendam di bath-up dan santai ketika dipijat dengan lembut oleh pembantunya. Ia pasti akan rileks setelah mandi, lalu pergi menemui ayahnya.
Dengan langkah kaki ringan, ia menuruni anakan tangga. Kakinya berhenti melangkah ketika melihat ayahnya dan David sedang berbincang.
“Kalian sedang membicarakan apa?” tegur Feyana penasaran. Ketika dirinya kembali melangkah, David malah berdiri.
“Persiapkan dirimu, Nona Feyana! Oh iya, Tuan Erik, saya pamit undur diri kalau begitu,” celetuk David menyempatkan diri menepuk pundak Feyana.
Erik segera bangkit dengan tatapan nyalang, tertuju lurus pada punggung David yang melangkah keluar rumahnya. Kedua tangan Erik terkepal menahan kekalutan, menahan diri untuk tidak lepas kendali menghajarnya.
Feyana yang melihat ayahnya tampak kesal pada David, mencoba mempertanyakannya. Namun ayahnya hanya diam dan kembali ke kursi sambil memegangi leher
“Ayah, apa yang kalian bicarakan?” Lagi, Feyana mempertanyakan hal yang sama, namun mendapat gelengan tanpa jawaban.
Feyana ikut duduk di samping ayahnya, mengurut lehernya untuk membantu agar rileks. Ayahnya mendesah nafas berat, lalu memegang tangan Feyana untuk ia genggam erat-erat.
“Apa David membuat ayah tidak nyaman?” celetuk Feyana hanya menebak asal, namun ayahnya malah menganggukkan kepala.
“Feyana, apa dirimu bersedia jika menikah dengan David? Ayah tahu, pertanyaan ini sebaiknya jangan kukatakan di saat-saat seperti sekarang, mengingat kondisimu belum stabil. Tapi ayah hanya ingin bertanya, apa pendapatmu tentang David? Di luar dari dia membuat ayah kesal, dia cukup kompeten untuk segala hal.”
Feyana terhenyak mendengarnya. Ia memundurkan duduk memberi jarak lebih jauh dari ayahnya. Menatap sangsi ketika ayahnya menghela nafas lelah.
“Maafkan ayah sudah bertanya hal sensitif begini. Lupakan apa yang ayah katakan barusan! Ayah sudah cukup tenang, akhirnya kamu sudah kembali ke sisiku. Cukup itu, dan ayah hanya perlu itu,” ungkap Erik lalu mengelus pucuk kepala Feyana dengan lembut.
Senyum Feyana kembali muncul bersamaan dengan senyum samar ayahnya. Keduanya melanjutkan mengobrol beberapa hal ringan, sambil mengenang kenangan silam yang tak terlupakan.
*****
Malam harinya, Feyana dikejutkan oleh kedatangan David dengan kedua orangtuanya. Mereka datang membawa banyak seserahan dan tiba-tiba semuanya mendadak ramai. Feyana hanya diam mematung di atas balkon kamarnya.
David mendatangi kamarnya lalu berdiri di sebelah Feyana. Feyana tak berminat menyapa atau tak acuh dengan kehadiran David yang mengganggu waktu sendirinya.
“Sebenarnya apa yang kamu perbuat? Kenapa ayahku mau menjodohkanku denganmu? Kamu tahu sendiri, aku bukan lagi perawan. Bahkan pernikahanku baru kandas beberapa waktu lalu,” lontar Feyana setelah diamnya hampir 5 menit.
David tersenyum ketika mendengar pertanyaan yang dilempar padanya. Haruskah ia jawab dan jelaskan semuanya?
“Karena dirimu Feyana Charletta, wanita yang sejak kecil sangat kukagumi dan kudambakan untuk bisa kumiliki.”
David menghadap ke arah Feyana, menatap matanya lekat-lekat, lalu membubuhkan kecupan ringan yang membuat wanita di depannya mematung kaku.
Feyana menyentuh bibirnya dengan kikuk. “Ap–a yang barusan kamu lakukan? Kenapa menciumku tiba-tiba?”
David mencubit gemas pucuk hidung Feyana lalu bercelatuk, “Kamu sungguh tidak mengingatku, Fey?”
“Maksudmu? Memang siapa dirimu?” tanya Feyana bingung.
David menghembuskan nafas, berusaha menunjukkan senyumannya meski terlihat lelah. Ia saja selama ini selalu mengingat Feyana, tetapi wanita ini bahkan tidak ingat soal dirinya sama sekali. Feyana sungguh keterlaluan.
“Tidak ingat pada anak lelaki yang dulu suka menempel padamu kemana-mana? Di saat banyak anak lain mengucilkannya, hanya kamu yang mau berteman dengan anak lelaki itu.” David berusaha memberi petunjuk agar Feyana bisa ingat masa lalu mereka.
Kening Feyana mengerut sambil mengingat-ingat kenangan itu. Sebersit kejadian samar bergantian memenuhi otaknya, berebut untuk keluar lebih dulu. Hingga akhirnya mata Feyana sukses membola kaget ketika mengingatnya.
“Kamu anak laki-laki cupu itu? Astaga, mana mungkin. Kalian terlihat sangat berbeda, sungguh,” ungkapnya tak percaya.
David tersenyum bangga. Ia menyigar surai rambutnya dan menunjukkan jidat penuh pesona miliknya. “Akhirnya bisa mengingatku. Bagaimana? Apa aku terlalu tampan sampai kamu sulit mempercayai bahwa bocah ingusan itu sekarang menjadi pria sekeren ini?” ucapnya dengan sombong.
Feyana tertawa mendengarnya. Tak disangka bocah yang dulu penakut dan malu pada segala hal, berubah sangat berbanding terbalik. Pria di depannya ini, sekarang terlihat penuh keberanian dan pesonanya yang tak main-main. Feyana akui, David memang keren.
“Lalu, sekarang jelaskan kepadaku, kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahiku?” tuding Feyana yang sudah berubah mimik wajahnya.
“Sudah kubilang sebelumnya, bahwa aku sejak lama ingin memilikimu, hanya untukku saja. Aku jatuh cinta padamu sejak kita masih kecil dulu, dan rasaku ini semakin membuncah ketika aku menemukanmu lagi.”
David menangkup wajah Feyana dengan tangannya, lalu mengelus lembut pipinya. Ia sudah lama mendambakan hal ini, memegang dan menyentuh wajah Feyana dengan tangannya sendiri. Feyana diam saja, membiarkan David bebas berkelana memegangi wajahnya, hingga berhenti cukup lama di bibirnya.
“Aku ingin memakan bibirmu, rasanya itu sudah seperti candu bagiku. Bolehkah aku melakukannya?” lontar David pelan dengan suara maskulinnya.
Feyana dan David saling memagut bibir satu sama lain, merasakan sensasi gelenyar aneh namun nikmat. Tak merasa cukup sampai di situ, keduanya berjalan dengan masih tak memutuskan pagutan menuju kasur. Feyana santai mengalungkan tangannya di leher David, membiarkan pria itu memangsa bibirnya.“Bisakah kita melakukan lebih dari ini?” pinta David sambil menidurkan Feyana di atas ranjang empuknya.Feyana menatap mata hitam David, melihat binar penuh harap dari empunya. Anggukan pelan darinya, membuat David tersenyum.Namun ketika David sudah melepas kemejanya, dan ingin melakukan hal lebih jauh, seseorang yang menerobos masuk membuat keduanya gelagapan. David bergegas memakai kembali kemejanya, membantu Feyana untuk duduk dengan benar di kasur, lalu menjaga jarak.“Ayah, aku dan David ... .”“Kalian sungguh saling mencintai? Sejak kapan?” potong Erik tak sabaran.Feyana melirik ke arah David, berharap pria itu menjawabnya lebih dulu. Sejujurnya, Feyana belum yakin dengan perasaannya.David
Feyana tidak bisa tidur semalaman seusai obrolannya dengan David yang berakhir mengambang. Feyana memilih diam meninggalkan David di dapur, lalu masuk kamar.Pagi ini, Feyana keluar kamarnya dengan wajah kuyu karena kurang tidur. Ia duduk di sebelah ayahnya yang sedang sarapan pagi.“Bagaimana tidurmu?” tanya ayahnya menyapa ringan.Feyana tersenyum sebentar lalu menyahut, “Cukup nyenyak. Oh iya, aku ingin bicarakan soal perjodohanku dengan David...,”Erik langsung meletakkan sendoknya ke piring dan menatap sepenuhnya ke Feyana yang ada di sampingnya. “Lanjutkan! Apa kamu mau terima atau menolaknya, Fey? Ayah janji takkan masalah dengan apapun keputusan yang kamu buat,” ucapnya memberikan keyakinan agar Feyana tidak takut mengutarakan pendapatnya.Feyana meneguk ludahnya susah payah. Lalu, sebelum dia kembali buka suara, seseorang lebih dulu menginterupsinya.“Halo, apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa denganmu, Feyana. Apa kamu tidak rindu dengan ibumu ini?” sapa orang itu yang sudah
Feyana menyuruh David menunggunya bersiap di ruang keluarga, namun ia malah mendapati sang ibu tiri sedang berbincang dengannya, tawa Emily membuat Feyana sebal.Sambil bergegas mendekati keduanya, Feyana memekik memanggil David. “Jangan terlalu dekat dengannya! Aku tidak suka,” ucapnya lalu menarik David agar berdiri.Emily menunjukkan raut wajah yang tenang, berbeda dengan Feyana yang sudah kelimpungan. Feyana tahu betul, pasti Emily akan menggoda David, sama seperti yang dulu dilakukannya pada Randy. Beruntungnya waktu itu Randy masih sangat setia dan mencintainya, jadi godaan Emily hanyalah angin lalu.Tapi David berbeda. Feyana tidak yakin dengan David, meskipun pria ini mengatakan bahwa ia sangat mencintai dan terobsesi mendapatkan dirinya. Bisa saja itu hanyalah bualan David semata.David yang melihat Feyana resah tanpa sebab, memilih menenangkannya. Tangannya ia tautkan pada Feyana, lalu mengajaknya pergi.“Saya dan Feyana akan pergi keluar dulu, mungkin saya baru bisa mengant
Feyana bengong sambil melepaskan pelukan seorang gadis remaja, namun itu tak mudah, karena gadis itu menempel padanya bak lem yang sulit dilepaskan.“Hei, hentikan kelakuan bocahmu itu, Alysa! Calon istriku bisa batal nikah denganku karena takut pada ipar sepertimu,” kecam David menarik paksa gadis itu agar menjauh dari Feyana.Terjadi perdebatan antara keduanya yang membuat Feyana terkikik melihatnya. Dia pikir, David adalah pria dingin dan ketus, yang tidak punya saudara. Kalau pun punya, dia takkan bertingkah menggemaskan seperti sekarang dengan berinteraksi bersama saudaranya.“Kalian terlihat sangat mirip. Sama-sama kekanakan maksudku,” kekeh Feyana lalu digandeng oleh kedua orangtua David dengan lembut.“Biarkan saja mereka berdua bergaduh, kamu ikut kita saja, Feyana. Ibu sudah siapkan makanan enak untukmu. Tapi maaf jika kurang bervariasi, yah karena David menghubungi mendadak, jadi ibu tak sempat persiapkan banyak hal untuk menyambutmu.”Feyana dibuat tersenyum mendengar ucap
Feyana menuruni tangga dengan cepat, lalu menarik David agar berdiri di belakangnya. Menjadikan diri sendiri sebagai tameng untuk melindungi David di hadapan orangtuanya.Erik mendelik tidak suka atas bentakan Feyana barusan. “Apa katamu barusan? Calon suami? Ayah tak mau merestui kamu menikah dengan David, setelah perbuatannya yang tidak sopan padaku dan Emily,” semburnya lalu menarik lengan Feyana agar berdiri di sisinya, namun putrinya itu menolak keras.Melihat Feyana ditarik paksa oleh ayahnya, barulah David bereaksi. Ia menghadang tangan ayah Feyana dan meremas pundak orangtua itu.“Anda tidak berhak menjadi penghalang untuk pernikahan kami. Feyana sudah memutuskan akan menerima lamaran saya, jadi sudah sepantasnya Anda harus setuju! Sejak awal saya tak pernah berniat menunggu Anda merestui, melainkan memastikan Feyana menerima saya. Tepati janjimu untuk memberikan Feyana untuk saya nikahi!” tekan David tegas.Erik dibuat mati kutu. Dirinya sama sekali tak bisa meremehkan David.
Kerlingan nakal David membuat Feyana membelalakkan matanya. Tatapannya berubah sangar dan tanpa perasaan melempari David dengan bantal maupun guling di kasur itu.“Jika kamu mau berbuat macam-macam, jangan denganku. Pergi sana dengan wanita lain!” pekiknya marah.David pandai mengelak dari serangan Feyana, ia juga mengibaskan tangannya sambil mengatakan bahwa itu hanyalah gurauan semata. “Aku nggak ngebet ingin melakukan itu, kok. Lagi pula, jika aku sangat ingin, pastinya harus denganmu bukan yang lain,” guraunya.Bukannya senang mendengar gurauan David, Feyana malah tertunduk lesu. Apakah dulu Randy juga berpikir bahwa hanya ingin melakukan hal itu hanya dengan dirinya saja, wanita yang menjadi istrinya? Tapi, kenyataannya tidak begitu. Randy tetap melakukannya dengan jalang yang sengaja ia bayar untuk memuaskannya, dengan tanpa mengindahkan perasaan Feyana.Tawa David yang sebelumnya terdengar, perlahan berhenti. David bisa menangkap kemirisan dari raut wajah Feyana. Dengan penuh p
David yang menyaksikan Feyana ditampar ayahnya, langsung bergegas menolong. Dirinya berdiri menghadang Erik yang ingin memaki anaknya, tak segan untuk menatap sangar calon mertuanya itu menunjukkan dominasinya yang kuat.“Jangan berani-beraninya Anda menyakiti Feyana! Saya takkan tinggal diam menyaksikan apa yang baru saja Anda perbuat padanya,” tekan David lalu membawa Feyana pergi.Erik menatap kepergian David yang membawa putrinya itu dengan frustrasi. Ia sungguh tak berniat menampar Feyana, dirinya tadi digelapkan oleh amarah sesaatnya. Ia mengusak rambutnya dengan kasar, lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya.Berbeda dengan suaminya, Emily malah merasa senang. Ia sudah berhasil membuat hubungan ayah-anak itu rusak karena ulahnya. Jika bisa, dirinya juga akan mencari celah untuk nanti merusak hubungan Feyana dengan David, si pria yang terlalu memuja dirinya itu. Feyana tidak boleh bahagia dengan pria pilihannya, karena itu membuat Emily sakit mata menontonnya.Di sisi lain, Feyana
Feyana berkunjung ke rumah ayahnya hari ini. Dia mendapat kabar bahwa kondisi kesehatan ayahnya tiba-tiba menurun yang tentu langsung membuatnya panik. Ia meminta agar David mengantarnya ke rumah orangtuanya.Meskipun hari ini bertepatan dengan meeting penting yang harus dilakukan David, ia putuskan mengutamakan istrinya. Ia tanpa banyak pikir menyuruh sekretarisnya untuk membatalkan pertemuan itu, kalau perlu memberikan kompensasi pada pihak perusahaan itu.“Maaf aku membuatmu kesulitan, padahal pekerjaanmu di kantor sedang menumpuk,” ungkap Feyana saat di jalan menuju tempat ayahnya.“Jangan merasa bersalah! Aku sendiri yang memutuskan untuk selalu mengutamakanmu di segala situasi, jadi berhenti berpikir kamu membebaniku. Berhubung kita cukup lama tidak menjenguk ayahmu, ini bisa jadi alasan untuk kita menemuinya juga. Kamu pasti rindu dengan ayahmu,” sahut David tak luput memberikan seulas senyuman andalannya.Feyana mengangguk, ia memang sudah rindu ayahnya. Karena keegoisannya un
“Sean, ayo cepat keluar! Nanti terlambat ke sekolah, loh,” panggil Feyana yang sudah rapi berdiri di samping mobilnya. Ia beberapa kali melihat jam tangannya sambil berdecak resah karena rapat di kantornya akan dimulai sebentar lagi.Sean tampak keluar dari rumah dengan tas ransel yang hanya disampirkan di satu lengannya seraya berlari tergesa-gesa mendekati ibunya yang tampak kesal.Feyana melipat kedua tangan di dada sambil memicingkan mata ketika putranya itu berdiri di hadapannya. Bukannya merasa bersalah, Sean malah meringis menunjukkan deretan gigi rapinya itu, bermaksud membuat ibunya terbuai. Namun Feyana hanya diam melihatinya yang kemudian tampak salah tingkah.“Iya, maafkan aku, Mah. Tadi Sean bangunnya telat jadi terlambat begini. Sekarang, ayo berangkat keburu mamah ikutan telat ke kantornya!” elak Sean terdengar jujur.Feyana menjitak pelan kepala Sean sambil mendengus, “Makanya jangan begadang cuman untuk main game terus! Kamu pikir mamah gak tau kalau tiap malam kamu it
“Maaf, tapi kami sepakat untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut. Bisakah, Anda menghargai privasi keluarga kami?!” sahut David menatap lurus dengan rahang yang mengeras pada wartawan itu.Wartawan yang mengajukan pertanyaan tampak gugup. Ia menatap ke arah teman-temannya yang sesama wartawan untuk minta bantuan, tapi tak ada satupun yang menghiraukannya. Mereka semua tentu tak mau berurusan dengan keluarga David yang akan merusak karier mereka dalam bidang ini. Tamat sudah riwayat wartawan wanita ini.David menyuruh seorang sekuriti yang berdiri tak jauh darinya. Hanya dengan jari telunjuknya, sekuriti itu mendekatinya dan mendengar bisikan David dengan baik. Sesuai perintah yang baru saja ia dapat dari atasannya, sekuriti itu berjalan mengendap lewat pintu belakang untuk membawa wartawan wanita tadi pergi meninggalkan ruangan.David kemudian memandang Feyana lalu memberinya anggukan meyakinkan bahwa semuanya akan aman.“Aku harap ini jadi pembelajaran bagi kalian semua untuk berhat
Feyana memandang nanar pada timbunan tanah yang ber-nisankan nama Sabrina. Air matanya terus bergulir meski sudah berulang kali diusap oleh suaminya yang berada di sampingnya. Kedua tangan Feyana sibuk menggendong Sean yang sedari tadi menangis. Sepertinya, bocah kecil ini menyadari bahwa ibunya sudah takkan lagi ada di dunia ini untuk menemaninya.Sayangnya Norma dan Imelda tidak bisa ikut ke pemakaman karena situasi mereka yang masih menjadi tahanan. Tentu saja ketika mendengar kabar kematian Sabrina dan kenyataan soal penyakitnya itu dari Feyana, mereka berdua sangat terpukul. Keduanya tak menyangka Sabrina tega menutupi kebenaran yang amat menyakitkan itu hanya agar tak membuat mereka khawatir.“Fey, ayo pulang. Kasihan Sean jika terus di sini, apalagi langit mulai mendung.” David mengajak Feyana pulang karena mereka sudah sangat lama di sana. Dirinya kasihan melihat wajah sembab istrinya dan tangisan pilu Sean yang tak kunjung reda.Feyana inginnya masih tetap di sana, namun meli
“Aku tak tahu pada siapa harus menitipkan Sean. Aku hanya percaya padamu, Fey.”Ucapan Sabrina itu terus-menerus terlintas di kepala Feyana. Ia pun berjalan tanpa minat ketika keluar dari rumah sakit, bahkan dia tak mengacuhkan David yang sedari tadi menatapnya penasaran. David ingin bertanya apa yang Feyana bicarakan dengan Sabrina sampai membuatnya tak fokus seperti sekarang, tapi melihat ratapan suram di mata Feyana membuatnya mengurungkan niat bertanya.“Fey, biar aku antar ke kantor aja, gak usah bawa mobil. Biar nanti si Joshua aku suruh ambil mobilmu di sini,” sergah David tidak yakin dengan Feyana yang kurang fokus ketika nanti menyetir di jalan.Feyana menggeleng dan ingin tetap menyetir sendiri, namun David mencegahnya dengan mengambil kunci mobilnya lalu menggandengnya agar masuk ke mobil David.“Aku tidak mau ambil risiko kamu kenapa-napa kalau tetap memaksa menyetir sendiri. Kita langsung menuju kantormu saja, aku antar,” tegas David tanpa boleh dibantah.Ketika sudah dud
Sabrina menatap nanar pada Feyana yang diam kaku tak berkutik setelah mendengar permintaannya yang terdengar gila. Sabrina akui dia tak memiliki siapapun yang bisa dipercayainya, bahkan keluarga saja sudah tak punya. Dirinya hanya memiliki Sean yang terpaksa dititipkannya di panti asuhan selama ia menjalani proses hukuman penjara.“Hanya kamu yang terlintas di pikiranku, Fey. Aku tentu takkan rela berikan hak asuh Sean pada ayahnya, si Leon. Bahkan pria itu saja tak tahu bahwa dia memiliki putra.”“Apa kamu sudah memikirkan keputusanmu itu matang-matang? Aku bukan beralasan mau menolak, tapi tanggung-jawab ini terlalu besar. Apa kamu seyakin ini padaku? Dan mau sampai kapan kamu menutupi kebenaran bahwa Sean adalah darah dagingnya Leon? Tidak ada yang bisa menutupi rahasia selamanya, Na.”Feyana mengusap air mata yang merembes di pipi Sabrina dengan sebelah tangan yang tidak digenggam oleh Sabrina. Baru kali ini ia melihat kesedihan teramat dalam di wajah Sabrina yang tergambar jelas.
Feyana pagi-pagi sudah gaduh tak karuan, membuat suaminya yang masih nyenyak bergelung di selimut merasa terusik. Sambil memperhatikan Feyana bolak-balik di kamar, David menegurnya perlahan.“Ada apa panik banget, sih? Gak biasanya kamu begini.’”Feyana hanya menoleh sekilas pada suaminya yang masih bersantai di kasur. Ia menjelaskan dengan sekedarnya kalau mendapat kabar jika Sabrina, salah satu temannya yang ada di sel penjara waktu itu sekarang sedang menjalani perawatan di rumah sakit, bahkan sampai harus opname.“Kalau sampai opname begitu, berarti sakitnya serius. Aku mau ke sana untuk melihat kondisinya. Semoga saja Sabrina tidak apa-apa,” lontar Feyana lalu menyabet tasnya yang ada gantungan.“Aku berangkat dulu, ya. Bye!” ujarnya sambil menyempatkan diri memberikan ciuman selamat pagi untuk David.David menghela napas salut pada Feyana yang tampak sangat peduli pada temannya yang satu sel dengannya itu. Bahkan sejak keluar dari penjara dirinya membuat jadwal rutin untuk menje
Feyana dan David dalam perjalanan pulang, bersisian di dalam mobil tapi senyap sejak 15 menit yang lalu. David berulang kali menatap sebentar istrinya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Karena tak kunjung mendapat perhatian, David mengelus punggung tangan Feyana dengan sebelah tangannya yang bebas dari menyetir.“Lagi mikirin apa?”Feyana barulah menoleh padanya lalu menyengir kecil membuat David mengangkat sebelah alisnya bingung. “Soal Joshua dan Mitha, ya? Kamu kenapa ngebet banget jodohin mereka, sih? Padahal kalau dipikir-pikir yang dikatakan Joshua memang benar, kita belum terlalu kenal soal Mitha. Iya kita memang lihatnya Mitha wanita yang baik dan tidak neko-neko, tapi siapa tahu itu hanya topengnya semata.”Seperti bisa membaca apa yang sedang Feyana pikirkan, David menuturkan hal demikian dengan raut wajah tenang tanpa menunjukkan emosi apapun, itu agar Feyana juga tak merasa tersinggung.Feyana mencebik sambil menyahuti, “Tapi aku merasa kasihan pada Joshua yang sudah
“Aku malah bermaksud ingin menyingkirkan Randy di saat kontrak kerja dengannya berakhir. Aku senang kamu melakukannya lebih cepat, Dav.”Tanggapan di luar dugaan dari Feyana membuat David menganga tak percaya. Semenit kemudian ia barulah bisa mengulum senyuman karena ternyata Feyana tidak marah dan malah sejalan dengannya.“Jadi kuharap kita tak lagi bersitegang hanya karena Randy dan keluarganya. Aku muak kita bertengkar perihal mereka,” kata Feyana yang diangguki semangat oleh suaminya.“Aku akan membereskan Randy dan keluarganya agar tidak akan pernah muncul di hadapan kita lagi. Tenang saja, aku tidak bermaksud membunuh mereka, hanya saja ingin mengusir mereka dari kota ini. Jika mereka berada di tempat yang jauh, tak mungkin bisa mengganggu kita lagi,” cetus David sembari mengambil ponselnya untuk menghubungi orang suruhannya.Kening David mengerut ketika mengobrol beberapa saat dengan seseorang di telepon. Setelahnya ia memutuskan sambungan dan memberi tatapan linglung pada Feya
Feyana melihat Joshua tak berkutik mendengar pertanyaannya yang cukup menohok itu. Karena melihat pria di depannya itu hanya diam tak menyahut, Feyana yang kembali bersuara. “Aku tak sengaja melihat Randy ada di rumah sakit ini. Dia dirawat karena mengalami patah tulang dan berakhir cacat usai dioperasi. Kamu tahu apa yang membuatku merasa tersinggung? Ketika aku menghadapi keluarga Randy seorang diri demi menjaga martabatnya suamiku. Tapi aku merasa kasihan pada diriku sendiri sebab membela orang yang malah membohongiku. Kamu mengerti bagaimana bencinya aku saat kutahu bahwa David membohongiku dari keluarganya Randy? Mereka semua saling menyerangku waktu itu, dan aku diam tak berkutik dalam hati, tapi pura-pura berani pada mereka dengan membual soal ancaman untuk menakutinya.”Feyana menenggak minuman di gelasnya secara brutal dan meletakkan kembali gelasnya dengan keras sampai terdengar bunyi berdentum. Tatapan tajam menusuk Feyana yang memerah menahan amarah membuat Joshua was-was