Axel Nightvale duduk tegak, ekspresinya datar, tapi tatapannya tajam mengunci Zuri Everlyn. Tanpa basa-basi, dia meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja.
“Buka dan pastikan sendiri.”
Zuri membuka amplop. Jari-jarinya sedikit gemetar saat menarik isinya. Beberapa lembar dokumen dan foto terselip di dalamnya.
Rekaman CCTV menunjukkan Elysia memasuki kamar Axel, membuka lemari, dan menemukan kotak-kotak perhiasan di bawah lipatan pakaian. Gambar berikutnya menangkap momen saat kakaknya itu berdiri di depan brankas, memasukkan kombinasi angka yang ternyata tanggal pertemuan pertama mereka, lalu mengambil uang dalam jumlah besar.
Di bawahnya, ada laporan transaksi rekening yang menunjukkan miliaran hilang pada malam yang sama. Beberapa foto memperlihatkan isi tas yang dibawa Elysia ke bandara—kotak-kotak perhiasan milik ibunya Axel masih utuh, tersembunyi di antara tumpukan uang tunai.
Laporan terakhir dari pihak bandara mencatat bagaimana dua polisi berpakaian preman mengikuti Elysia, sebelum akhirnya melarikan diri—menjadi buronan.
Semua bukti ada di sini. Tidak ada yang bisa dibantah.
“Dengarkan baik-baik, Zuri Everlyn. Tugasmu sekarang adalah menggantikan posisi Elysia Rosier—menjadi istriku. Kalau kau berani menolak, bayar semua uang dan perhiasan yang dia curi dari keluargaku. Pilihannya hanya itu.”
Zuri menegang. Suara Axel Nightvale, kakak iparnya, menggema di ruangan sepi itu, dingin dan tajam. Dia mencoba menetralkan ketakutan yang merayap di dadanya dengan berbicara pelan. “Mungkin Elysia akan kembali—”
“Dia tidak akan kembali,” potong Axel cepat, matanya menyipit penuh tekanan. “Kau pikir aku sebodoh itu, memilihmu sebagai pengganti kalau dia masih bisa ditemukan?”
Zuri menelan ludah. Axel bukan orang asing—dia kakak ipar yang pernah begitu memuja Elysia, kakak kandungnya. Tapi Elysia, wanita yang tidak pernah puas, telah meninggalkan kekacauan ini. Dan kini, Zuri yang harus menanggungnya.
Pria di depannya ini, dengan sorot mata yang tidak bisa ditebak, membuatnya cemas. Axel selalu bicara panjang saat emosi menguasainya—seperti sekarang. Zuri khawatir, tangan pria itu bisa saja lebih cepat bergerak daripada kata-katanya.
“Kenapa diam?” Axel menyandarkan dagunya pada tangan, sikapnya santai tapi mengintimidasi. “Kau ingin menolak? Apa kau sanggup membayar kerugianku secara tunai? Atau lebih suka ke penjara menggantikan kakakmu? Aku bisa mengatur itu dalam sekejap.”
Zuri merasa lantai di bawahnya runtuh. Dia hampir tak mengenal Axel—hanya secuil cerita dari Elysia saat kakaknya itu sesekali pulang untuk bertemu dengannya. Tapi sekarang, dia tahu satu hal, pria ini jauh lebih kejam dari yang pernah dibayangkannya.
“Aku perlu waktu untuk memikirkannya,” jawab Zuri pelan, suaranya nyaris hilang.
“Apa?” Axel mendengus, nada sinis terdengar jelas. “Ulangi. Aku tidak dengar.”
Zuri menarik napas dalam, berusaha menjaga ketenangan. “Aku perlu memikirkannya lagi. Aku sudah punya calon suami, dan kami akan segera menikah.”
Axel tertawa keras, suaranya memenuhi ruangan kosong itu hingga Zuri merasa telinganya berdengung. “Kau serius? Apa kau tidak sadar bahwa uangku jauh lebih berarti daripada nyawamu—atau bahkan nyawa Elysia sekalipun?”
Zuri terdiam, tak berani menatap Axel. Pikirannya kacau. Elysia yang melakukan semua ini, merugikan Axel, tapi kenapa dia yang harus membayar?
“Tidak ada cara lain?” Zuri akhirnya membuka suara, nada memohon terselip di sana. “Aku bersedia bekerja di perusahaanmu tanpa gaji. Setiap bulan, kau bisa ambil penghasilanku untuk mencicil utang itu.”
Axel memandangnya dengan ekspresi tak percaya, lalu mendengus lagi. “Kau gila? Aku tidak akan membiarkan siapa pun dari keluargamu masuk ke perusahaanku. Lagi pula, apa yang bisa kau lakukan? Membersihkan lantai? Sampai kapan utang itu lunas—saat kau sudah mati?”
Kata-kata itu menusuk, tapi Axel mengucapkannya dengan tenang, seolah hanya menyatakan fakta biasa. Zuri menahan air mata. Elysia adalah satu-satunya keluarga yang dia miliki. Mau tak mau, dia harus menanggung akibat ulah kakaknya—meski itu berarti menyerahkan hidupnya pada pria ini.
“Lalu untuk apa aku menikah denganmu?” tanya Zuri, suaranya masih bergetar. “Aku tetap tidak akan mampu membayar semua kerugian itu.”
Axel menatapnya tajam, ada kilatan amarah di wajahnya. “Aku butuh penerus. Sebelum Elysia kabur dengan uang dan perhiasan itu, aku sudah menyampaikan keinginanku. Dia tidak menjawab—malah melarikan diri.”
Zuri terpaku. Jantungnya berdegup kencang. “Jadi, jika aku memberimu anak, utang itu akan lunas?”
Axel mengangkat alis. “Tergantung.”
“Apa maksudmu?” Zuri terlonjak, tak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Jenis kelamin anaknya,” jawab Axel datar. “Jika kau melahirkan bayi laki-laki, utang itu lunas sepenuhnya. Jika tidak, kita lihat lagi.”
Zuri tersentak. Takut, marah, dan sedih bercampur jadi satu, mencekiknya. “Jadi hidupku hanya bernilai sebatas itu di matamu?”
Axel tersenyum tipis, dingin. “Semakin cepat kau memberiku anak laki-laki, semakin cepat aku menceraikanmu. Itu saja.”
Kalimat itu terngiang di kepala Zuri, berulang seperti mantra yang menghancurkan. Axel membenci Elysia—dan dia, sebagai adiknya, adalah alat balas dendam yang sempurna. Mereka berdua adalah satu-satunya yang tersisa dari keluarga mereka. Orang tua mereka meninggal akibat wabah di village, dan bibi yang menampung mereka di kota telah tiada karena kecelakaan. Zuri benar-benar sendirian sekarang.
“Aku mengerti,” gumam Zuri akhirnya. “Tapi beri aku waktu untuk menjelaskan pada calon suamiku.”
Dia memikirkan Jaxon Holt—pria sederhana yang hangat, pegawai negeri yang telah merencanakan hidup bersamanya. Rumah kecil yang disiapkan Jaxon untuk mereka sudah cukup baginya. Tapi kini, semua itu terancam sirna.
“Tidak perlu menunggu,” kata Axel tiba-tiba, matanya beralih ke arah pintu. “Dia sudah datang.”
Tekrejut, Zuri menoleh. Jaxon berjalan cepat mendekati mereka, wajahnya penuh tanya.
“Hai, calon istriku,” sapanya sambil mencium pipi Zuri, membuat wanita itu membeku. “Ada apa ini?”
Zuri tergagap. “Jax, ini tentang kakakku—”
“Aku kakak iparnya,” potong Axel dengan santai, “sekaligus calon suaminya. Zuri baru saja memintaku menikahinya.”
Zuri tersentak. Mulutnya ternganga, tapi tak ada suara yang keluar. Axel dengan sengaja membalikkan fakta, melemparkan tuduhan palsu tanpa ragu. Jaxon menoleh padanya, pandangannya berubah gelap.
“Apa ini, Zuri?” Jaxon menggeram, tangannya mengepal di atas meja. “Benar kau meminta kakak iparmu menikahimu?”
“Tentu saja,” jawab Axel lagi, mewakili Zuri. “Karena aku lebih kaya darimu, Tuan Jaxon.”
“Zuri, jawab!” bentak Jaxon, suaranya mengguncang. “Benar atau tidak?”
Zuri gemetar hebat. Dia ingin membantah, tapi tatapan Axel yang dingin dan penuh ancaman membungkamnya. “Itu … itu benar,” katanya akhirnya, suaranya nyaris tidak terdengar.
Jaxon menggebrak meja, berdiri, dan meraih gelas air di depan Zuri. Dalam sekejap, air itu disiramkan ke wajah Zuri. “Dasar wanita murahan! Kau dan kakakmu sama saja!” teriaknya, wajahnya memerah penuh amarah.
Zuri menangis tersedu. Air mata bercampur dengan air yang membasahi wajahnya. “Bukan begitu, Jax. Elysia—”
“Cukup!” potong Jaxon. “Apa pun alasannya, kau memilih jadi wanita seperti itu. Kau hancurkan aku dan keluargaku!”
Axel mengangkat tangan, menghentikan keributan itu. “Sudah, Tuan Jaxon. Jangan terus menyalahkan Zuri. Introspeksi diri sendiri. Sudah cukupkah penghasilanmu untuk menikahi seorang wanita?”
Jaxon terdiam, tangannya mengepal lebih erat. Dia tahu pekerjaannya sebagai pegawai negeri memang terbatas. Ada cicilan mobil, tanggungan untuk adik-adiknya. Andai dia dan Zuri menikah, mereka akan hidup pas-pasan.
“Baiklah,” ujar Jaxon dengan tawa getir. “Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kalian tak pernah bahagia.” Dia berbalik, meninggalkan Zuri yang tidak sanggup menatap kepergiannya.
Axel bangkit, menatap Zuri yang basah dan pucat. “Aku sudah selesai. Kujemput kau nanti di hari pernikahan,” katanya dingin, lalu melangkah pergi.
Zuri mengusap wajahnya, air mata masih mengalir. “Apa yang kau lakukan, Ely?” gumamnya pada kakak yang tidak ada. Langkahnya tertatih menuju pintu, tapi sebuah seseorang menghadangnya. Wanita paruh baya dengan wajah penuh amarah.
“Ibu?” Zuri terpaku. Itu Margaret, ibunya Jaxon.
“Jangan panggil aku Ibu,” bentak Margaret. “Putraku menangis tadi, mengadu padaku kalau kau membatalkan pernikahan demi pria lain.” Tanpa aba-aba, tangannya melayang, menampar Zuri keras.
Zuri terhuyung, pipinya memanas. Kafe yang sepi—disewa khusus oleh Axel untuk pertemuan ini, sekarang terasa seperti panggung kehancurannya. Pelayan yang mulai berdatangan hanya bisa berbisik, menyaksikan wanita malang itu dihujani kesialan.
“Nyonya Margaret, maafkan aku,” lirih Zuri, menatap wanita yang pernah dia harapkan untuk menjadi mertuanya.
“Aku tidak akan memaafkanmu,” balas Margaret tajam. “Kau wanita rendah. Murahan!”
Zuri mengangguk lemah. “Anda benar. Aku memang seperti itu.”
Margaret mendengus, lalu pergi tanpa kata lagi. Zuri berdiri sendirian, basah dan hancur, dikelilingi tatapan asing. Tidak terlalu jauh, Axel melangkah keluar kafe dengan tidak peduli. Baginya, ini baru permulaan—dan Zuri adalah pion yang sempurna dalam permainannya.
Zuri berdiri kaku di ruang persiapan, menatap gaun pengantin berwarna putih gading yang tergeletak di sisinya. Sorot matanya redup, menyimpan kekecewaan yang mendalam. Ini bukan pernikahan dengan Jaxon Holt. Hari ini, Axel Nightvale—kakak iparnya yang kini tak lagi terikat dengan Elysia Rosier, akan mengikatnya dalam sebuah ikatan yang dia benci.Tiga puluh menit lagi, janji setia akan terucap. Tubuh Zuri menegang, jantungnya berdegup kencang. Dia ingin kabur, menghilang dari ruangan ini, tapi kenyataan menekannya seperti belenggu besi.“Kenapa belum berpakaian?” Suara Axel memecah hening, tajam dan dingin.Zuri mendongak cepat, melihat pria itu berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kaos putih dan celana olahraga hitam.Tatapan Axel yang menusuk, membuat Zuri tersentak hingga napasnya tersendat.Dia membuka mulut, tapi kata-katanya tercekat. “Aku … ingin istirahat sebentar,” jawabnya lemah, suaranya nyaris hilang.“Tidak ada waktu.” Axel melangkah masuk, posturnya tegak penuh otori
Di kantor, Axel keluar dari ruang rapat dengan perut kosong. Kekacauan pagi itu membuatnya kesal, fokusnya hilang.“Tuan Axel, ada tamu,” kata Oliver—salah satu karyawan terpercaya Axel, mendekat cepat.“Tamu?” Axel mengerutkan kening. Seingatnya, tidak ada jadwal tamu hari ini sampai nanti.“Itu Nyonya Zuri Everlyn. Istri baru Anda,” bisik Caden—asisten sekaligus sekretaris Axel yang berdiri tepat di sisinya.Axel menegang, pikirannya melayang ke Elysia sebelum tersadar pada kenyataan. “Biarkan dia menunggu. Aku perlu mengecek beberapa dokumen dulu,” katanya dingin, lalu masuk ke ruangan.Belum lama duduk, Axel gelisah tanpa alasan pasti. Zuri di Nightvale Corporation mengusiknya. Dia selalu melarang wanita masuk ke sini—bahkan Elysia. Tapi Zuri ada di sini sekarang. Hal itu membuatnya merasa terganggu dan tidak nyaman.Akhirnya, dia bergegas ke ruang yang biasa dijadikan tempat para tamu untuk bertemu dengannya. Membuka pintu, dia melihat Zuri duduk kaku, memegang kotak bekal ungu tu
Zuri menunduk, menahan sakit hati. Bukankah Axel yang menuntut keturunan darinya? Lalu apa maksud perkataan itu? Menghela napas, coba menenangkan diri dengan tidak memedulikan hinaan Axel padanya. “Jadi apa salahku?”Axel Nightvale menatap Zuri dengan ekspresi dingin. “Pikirkan sendiri,” katanya ketus, lalu bangkit. Dia kesal—pada Zuri, tapi lebih lagi pada dirinya sendiri.Zuri bergeser gelisah di kursinya, tubuhnya kaku. Axel memperhatikan. Merasa ragu wanita itu bisa memenuhi tujuannya dalam waktu dekat. Tapi tidak masalah. Dia berniat memanfaatkan Zuri dengan caranya sendiri, mulai malam ini. Tunggu saja.“Ayo pulang,” perintahnya, melirik pintu rumah bibi Isolde tanpa maksud, tapi punya firasat.Zuri menoleh. “Kau sudah selesai?”“Memangnya kau mau apa dariku?” Axel balas bertanya, sengaja membuat Zuri terpojok. Dia ingin wanita itu merasa tak berdaya, meski hanya untuk kepuasannya sendiri.Zuri gugup, tangannya mencengkeram tepi kursi.Ketakutan itu lagi—tapi Axel yakin bukan dir
Axel Nightvale berdiri di sana. Zuri langsung gemetar. Tubuhnya berputar cepat menghadap suaminya. Dia berdoa dalam hati agar Axel tak mempermalukannya di tempat ini. Mungkin tidak sekarang, tapi di rumah, intimidasi pasti menanti.“Aku bertanya, istriku. Kenapa kau masih di sini dan belum pulang?” Nada Axel berubah lembut, tidak biasa. Dia bahkan menyebut Zuri ‘istriku.’Zuri melirik Cole, yang berdiri diam lima meter di sisinya. Axel melangkah mendekat, tersenyum hangat—senyum yang tidak pernah Zuri lihat sebelumnya. Apakah pria ini punya sisi seperti itu? Tetap saja, ketakutan menguasainya. Senyum itu terasa seperti topeng yang menyembunyikan ancaman.“Maaf, aku hanya turun sebentar untuk melihat kecelakaan di depan,” jawab Zuri pelan, tidak berani menatap mata Axel langsung. Pandangannya tertuju pada sepatunya sendiri.Axel menghela napas panjang. Zuri tidak tahu apakah itu tanda amarah atau kekesalan.“Lihat aku, Zuri. Angkat kepalamu,” perintahnya, tegas meski terkendali.Zuri me
Zuri menunduk, fokus menyabuni lengan Axel. “Belum. Kami belum pernah melakukannya,” jawabnya pelan.“Aku hanya bertanya tanpa tujuan,” kata Axel cepat, berusaha menutupi nada ingin tahunya.“Aku tahu,” angguk Zuri singkat.Axel mengerutkan kening. Apa Zuri sudah menebak rencananya? “Kita akan melakukannya malam ini. Kalau kau belum siap, kuberi waktu sampai tengah malam.” Menatap Zuri tajam, dia tidak mau menunda lagi.Zuri berhenti bergerak, tangannya diam di sana, lalu menatap Axel langsung—bukan dengan ketakutan, tapi keberanian kecil. Axel balas menatap, menantang Zuri. Tapi Zuri langsung menciut, menunduk dan melanjutkan menyabuni Axel.“Katakan apa yang ingin kau katakan,” desak Axel, kesal dengan sikap Zuri. Bergerak menuju bathtub, masuk ke dalam dan menegakkan punggung agar kembali disabuni Zuri.“Aku akan berusaha siap sebelum tengah malam,” balas Zuri, beralih ke punggung Axel. Pas sekali momen ini untuk menghindari tatapan si suami.“Harus. Kau harus siap. Ingat perjanjian
Zuri merinding, bulu kuduknya berdiri. Bercinta lagi? “Berbalik dan lihat aku,” perintah Axel, nadanya lebih tajam.Zuri menurut, berbalik perlahan. Wajah Axel tampan meski rambutnya berantakan—ulahnya semalam, menjambak dan mengacak-ngacak selagi menahan serangan Axel. Mereka saling menatap, hawa dingin pagi terasa dari tatapan pria itu.“Kau tidak mendengarku?” tanya Axel, suaranya nyaris kasar.“Aku mendengarmu,” jawab Zuri hati-hati, mengangguk. Axel suaminya, jadi dia harus menjalani ini dengan benar.“Karena aku yang menginginkannya lagi, apa itu artinya aku juga yang harus memulainya?” tanya Axel sinis.Zuri menelan ludah. “Kau suka aku memulainya dengan cara seperti apa?” balasnya pelan, langsung menyesal bertanya.“Kau minta diajari lagi?” Axel menyeringai, alisnya bertaut. Zuri mengangguk, tidak tahu harus jawab apa. Jujur, ini sungguh pengalaman pertamanya.“Coba mulai dengan menggodaku,” perintah Axel.Zuri mengerjap bingung, lalu bangkit duduk. Selimutnya merosot, memperl
Kini, Aurelia kembali ke Valmont bersama Ronan dan Alina. Ibunya terkejut, begitu pula Axel, tapi bedanya, ibunya selalu ingin tahu, sementara Axel tidak ambil pusing.Kemarin, Gideon Cross—orang kepercayaan Axel, memberitahu bahwa Aurelia bercerai dari Ronan Donovan, pria kasar yang menghabiskan kekayaannya di meja judi.Axel melirik jam tangannya. Pukul sebelas lewat dua puluh menit. Zuri pasti sudah tidur. Terakhir dia melihat istrinya itu mengeringkan rambut sambil menatap ponsel, tidak menyadari kepergiannya. Dia sengaja tak memberitahu ke mana dia pergi atau di mana dia akan bermalam. Menurutnya, Zuri tidak berhak tahu.“Alina memang sudah mengantuk. Ini jam tidurnya, tapi karena terus batuk, dia gelisah dan sulit tidur,” kata Aurelia, muncul kembali. Kali ini, dia tak duduk di seberang Axel, melainkan di sisinya.“Sekarang bagaimana?” tanya Axel, nadanya tetap datar.Aurelia tersenyum lembut—senyum yang bisa membuat hati bergetar. “Dia sudah tertidur pulas setelah aku ikut tidur
“Oh, sebentar. Biar aku ambil ponselku dulu, Nyonya,” jawab Dottie, bergegas mengambilnya.Zuri lega—Dottie tidak curiga. Dia mendapat nomor Axel dan ragu menelepon, takut mengganggu. Akhirnya, dia memilih mengirimkan pesan.[Axel, ini Zuri. Aku minta izin untuk ke rumah mendiang bibi Isolde. Aku janji tidak akan lama.]Dia menghela napas, lalu memanggil Cole yang sedang duduk membaca buku di ruang tamu. Pemandangan itu menghibur hatinya—pria dengan buku.“Ke jalan Fairview, Nyonya?” tanya Cole, berdiri tegak. Seolah tahu ke mana tujuan Zuri. Sebab selama ini, sang nyonya memang jarang minta diantarkan selain ke rumah mendiang bibinya.Zuri mengangguk. “Ya,” jawabnya singkat dengan senyum.Perjalanan delapan belas menit berlalu dalam diam yang canggung. Cole masih memanggilnya ‘Nyonya’, membuat Zuri merasa jarak itu tidak pernah berkurang.“Silakan hubungi aku ketika Anda selesai, Nyonya,” kata Cole, menyerahkan secarik kertas dengan nomornya.Zuri mengangguk, menerimanya. Cole jelas m
Zuri mencoba mendorong dada Axel, tapi si suami menahan tangannya, menjepitnya di antara tubuh mereka. Napas Zuri memburu, seakan ingin protes, tapi Axel lebih dulu menunduk, membiarkan bibirnya menyentuh tengkuk Zuri. Zuri menggigil, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya memerah dengan campuran ketakutan dan hasrat.Axel meniup tepat di bawah telinga Zuri, membuat si wanita menegang. Bahkan mungkin bila Zuri lari darinya, pasti mudah bagi Axel menemukannya. Menariknya kembali, bahkan jika harus mengikat paksa agar tidak ke mana-mana.Zuri mengerang pelan, matanya terpejam seolah terbawa sensasi itu.Axel merasakan desahan Zuri, campuran ketakutan dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap. Lebih dalam. Dia akan menghabiskan setiap detik untuk memastikan Zuri tidak punya pilihan selain tetap di sini.Jari-jari Axel menyeret naik ke tengkuk Zuri, menahan gerakannya saat wanitanya berusaha menghindar. Napas Zuri berembus cepat, seperti ingin melawan, tapi Axel tak memberi kesempatan. D
“Kau gugup?” Suara Axel tetap tenang, nyaris malas, padahal dia sangat menikmati ini. “Coba katakan, apa yang kau rasakan?”Zuri menelan ludah, matanya masih terkunci pada mata Axel, seolah mencari celah untuk memastikan dia tidak melakukan kesalahan. Wajahnya penuh ketegangan, bibirnya bergetar halus. “Aku ... aku hanya takut melakukan kesalahan,” bisiknya, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan mobil.Axel menarik lengan Zuri, merasakan getaran halus di bawah kulitnya. Manis. Sangat manis. Zuri selalu terlihat paling menarik saat begini—takut, ragu, tapi tetap berusaha menuruti keinginannya. Dia tersenyum tipis, puas dengan kelemahan yang terpancar dari wajah Zuri.“Santai saja.” Senyum tipis terangkat di bibir Axel. “Aku akan menuntunmu, Zuri. Yang perlu kau lakukan hanya satu—fokus memberiku bayi laki-laki.”Zuri mengangguk, matanya melemah sejenak, menunjukkan kepasrahan. Axel menuntunnya dengan sabar di awal. Namun ketika kewanitaannya terpampang di depan mata, si suami mend
Setelah Lennox berpamitan—lebih seperti salam penuh makna untuk Zuri—Axel langsung memasukkan pria itu ke daftar yang layak diwaspadai, bahkan dimusnahkan jika perlu.“Kau suka lagu-lagunya?” Axel bertanya santai, mengiris steak tanpa menatap Zuri.“Aku belum pernah mendengar lagu-lagunya,” jawab Zuri.Namun Axel tahu dari gerakan istrinya, kalau Zuri mencuri dengar suara Lennox tanpa menatap lama, terlihat menikmati.Lennox mencapai nada tinggi, menarik perhatian semua orang, termasuk Zuri. Axel mengakui suaranya luar biasa, sesuai reputasi. Lennox melirik ke arah mereka, tapi Zuri fokus pada piringnya—pilihan tepat kali ini, menurut Axel.“Aku ada rapat besok pagi. Kau ingin ikut pulang denganku atau lebih memilih tinggal di sini, menghabiskan malammu dengan mendengarkan putra angkat mendiang bibimu itu bernyanyi sampai selesai?” tanya Axel, nada datar, menyapu serbet ke bibir tanpa melihat Zuri.Zuri menatap suaminya, ragu. Melihat keraguan istrinya, Axel merasa kesal—perlu waktu l
Perhatian orang-orang perlahan teralih. Tatapan tajam yang tadi menusuk kini jadi melemah, dan Zuri merasakannya. Setengahnya pasti karena kemesraan berlebihan yang mereka pertontonkan. Begitu melangkah masuk, alunan musik lembut menyambut, tapi tatapan kembali menghampiri. Kali ini berbeda—bukan lagi menyesakkan, melainkan penuh kekaguman dan iri terselubung dalam senyum sopan. Zuri jadi pusat gravitasi malam itu bersama Axel, menarik perhatian setiap pasangan di restoran.Apakah mereka semua mengenal Axel? Sebelum duduk, Axel mengecup pipi Zuri dekat telinga—sentuhan yang seharusnya mesra, tapi justru membuat bulu kuduk Zuri meremang.Bisikan berikutnya menusuk sebagai bentuk peringatan. “Mereka ada di sini karena undanganku. Sebagian besar ingin melihatku jatuh. Jangan sampai ada kesalahan, Zuri. Tetap ikuti permainanku. Aku yang akan menuntunmu.”Zuri tersenyum kecil sambil mengangguk, seolah kata-kata itu manis. Namun, tubuhnya bergetar—bukan getaran nikmat seperti saat berdua di
Axel duduk di ruang keluarga rumah orang tuanya, muak dengan kepura-puraan ibunya, Marcella Nightvale.“Ibu sungguh tidak langsung menyetujui begitu saja rencana Aurelia, Nak,” bela ibunya, gelisah.“Tetap saja akhirnya Ibu setuju,” balas Axel, bernada kecewa yang tajam.“Bukan begitu,” sanggah Marcella, tapi kegelisahannya terlihat jelas.Axel membuang napas kasar. Bisa-bisanya Aurelia benar dan dia salah menilai ibunya sendiri. Peringatannya jelas—jangan ganggu Zuri—tapi ibunya malah mendukung rencana konyol itu. “Jika hal seperti ini terulang lagi, aku tidak akan pernah memaafkan Ibu,” tegasnya, menatap ibunya dalam-dalam, lalu beranjak pergi.Di ambang pintu, dia berpapasan dengan Zephyr Dusk. Axel tak membalas sapaan ramah pria itu, hanya melangkah pergi, tak peduli apa yang dikatakan Zephyr setelahnya. Perjalanan pulang lebih cepat dari biasanya—dia mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, amarah membakar dadanya.Saat tiba, dia melihat mobil Aurelia keluar dari gerbang rum
Zuri hampir terlonjak dari ranjang saat Axel tak menawarkan, melainkan memaksa memakaikan pakaian ke tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang, rasa malu membakar wajahnya. Yang lebih memalukan, Axel tidak membiarkannya mengenakan bra dan celana dalam sendiri—tangan pria itu bergerak cepat, dingin, dan pasti, menyelipkan setiap helai kain ke kulit Zuri yang masih hangat, sedikit lengket oleh keringat setelah bercinta tadi. Axel mengambil botol parfum mahalnya, lalu menyemprotkan ke leher, pergelangan tangan, dan bahkan pinggul Zuri. Aroma kayu bercampur rempah menyengat hidung—sesuatu yang cuma ada di mimpi Zuri sebelumnya. Harganya mungkin lebih dari gaji setahunnya, jauh dari kemampuan untuk kebutuhan sehari-hari yang sudah menumpuk. Dia tak paham kenapa Axel melakukan ini—apa artinya? Tapi mulutnya terkunci, tidak berani bertanya. Hanya menatap bayangannya di cermin, diam. “Lihat,” ujar Axel, suaranya penuh kepuasan. “Bagus sekali.” Ia berdecak, jelas bangga dengan hasilnya. Zu
“Kuingatkan lagi, jangan mendahuluiku. Mengerti?” perintah Axel.Zuri mengangguk, menahan desahan meski sulit. Dia tak ingin kalah—tidak boleh klimaks lebih dulu.***Membaca pesan dari Daphne di ponselnya, Axel tertawa sinis.[Aku membencimu, Axel! Sangat benci!]Tadi Axel meninggalkan Daphne di gerai donat dengan alasan pekerjaan mendadak. Bohong, tentu saja. Dia hanya tidak ingin Zuri tiba di rumah lebih dulu dan kehilangan amunisi untuk mendesak sang istri—bercinta brutal dan habis-habisan diselingi amarahnya.Getar kedua masuk. Pesan dari Aurelia.[Aku sudah memberitahu ibuku dan ibumu mengenai hal yang kemarin kita bahas bersama. Ibumu tidak masalah jika kau menikahiku untuk sementara waktu karena alasan itu. Sekarang, keputusan ada di tanganmu, Axel. Bisakah kau membantuku?]Axel mengutuk dalam hati. Bajingan! Aurelia tidak menyerah. Dia sudah menolak tegas. Dua detik kemudian, pesan lain masuk. Dari wanita itu lagi.[Biarkan aku yang bicara pada istrimu.]Axel mengepal tinju, l
Ini semua wujud ketakutan dan tekanan yang dia rasakan pada Axel. Andai dia bisa lebih santai menghadapi pria itu, mungkin kecemasan dan kegugupan tak akan sekuat ini. Tapi dia hanya pintar bicara dalam hati—nyatanya, ketakutan itu tak pernah hilang, bahkan di situasi biasa.“Zuri!” Tiba-tiba suara Axel menggelegar dari luar, diiringi ketukan keras di pintu.Zuri terlonjak, jantungnya nyaris berhenti. Dia buru-buru membuka pintu, tangannya gemetar hebat. Axel masuk, membanting pintu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyambar pinggang Zuri dengan kasar.“Ini kali kedua, Zuri,” katanya, mengingatkan dengan nada rendah yang menekan.Zuri bingung. Apa maksudnya? Axel menggertakkan gigi, rahangnya mengeras. Zuri menelan ludah, berusaha berani menatap wajah itu, tapi tiba-tiba Axel menghisap lehernya dengan kuat. “Akh!” Zuri mengerang pelan, tubuhnya menegang seketika.“Kenapa keningmu mengernyit? Kau tidak tahu apa kesalahanmu?” tanya Axel, tersenyum sinis. Seperti penjahat kej
Zuri melangkah masuk ke rumah, jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara Axel di ambang pintu.“Aku tiba di rumah lebih dulu darimu, Zuri.” Nada pria itu dingin, penuh tekanan, seolah menyindir keterlambatannya.Zuri menelan ludah. Axel bukan sedang menyambutnya, pria itu menegaskan kemenangannya. Semalam pria itu tidak pulang, dan kini menatap Zuri dengan wajah masam.Zuri terlambat membaca pesan peringatan Axel karena terpaku pada cerita Lennox Fairfax—putra angkat bibi Isolde yang baru dia kenal.“Apa alasanmu?” tanya Axel, suaranya setengah membentak, membuat Zuri tersentak.“Aku ... aku bertemu seseorang,” jawabnya pelan, tidak yakin harus menyebut Lennox atau tidak. Ceritanya terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang.“Sepenting itukah dia sampai kau mengabaikan peringatanku?” lanjut Axel, nadanya hati-hati tapi tajam, menusuk telinga Zuri.Zuri menunduk, sesekali melirik wajah Axel yang muram, lalu mengalihkan pandang ke sofa, dinding—apa saja selain mata si suami yang ta