Share

6. Ajari Aku

Author: Velmoria
last update Last Updated: 2025-03-09 17:18:16

Zuri menunduk, fokus menyabuni lengan Axel. “Belum. Kami belum pernah melakukannya,” jawabnya pelan.

“Aku hanya bertanya tanpa tujuan,” kata Axel cepat, berusaha menutupi nada ingin tahunya.

“Aku tahu,” angguk Zuri singkat.

Axel mengerutkan kening. Apa Zuri sudah menebak rencananya? “Kita akan melakukannya malam ini. Kalau kau belum siap, kuberi waktu sampai tengah malam.” Menatap Zuri tajam, dia tidak mau menunda lagi.

Zuri berhenti bergerak, tangannya diam di sana, lalu menatap Axel langsung—bukan dengan ketakutan, tapi keberanian kecil. Axel balas menatap, menantang Zuri. Tapi Zuri langsung menciut, menunduk dan melanjutkan menyabuni Axel.

“Katakan apa yang ingin kau katakan,” desak Axel, kesal dengan sikap Zuri. Bergerak menuju bathtub, masuk ke dalam dan menegakkan punggung agar kembali disabuni Zuri.

“Aku akan berusaha siap sebelum tengah malam,” balas Zuri, beralih ke punggung Axel. Pas sekali momen ini untuk menghindari tatapan si suami.

“Harus. Kau harus siap. Ingat perjanjian kita. Kau harus bergerak lebih cepat dariku. Tujuan kita menikah adalah penerus laki-laki dan kau melunasi utang kakakmu. Kita selesaikan cepat. Mengerti?” Axel melirik melewati bahu.

“Aku mengerti,” jawab Zuri cepat, nadanya tegas kali ini.

Axel tersenyum sinis menerima tanggapan Zuri. Lalu tiba-tiba, menarik tangan Zuri dari sela lengannya, menahan tanpa berbalik, membuat si istri tampak memeluk dari belakang. Tapi tangan Zuri tidak gemetar seperti dugaannya—tak ada penolakan atau jeritan. Zuri diam, membiarkan.

Axel menarik lebih jauh, memutar tubuh Zuri hingga menghadapnya. Dia keluar dari bathtub, duduk di pinggirnya, dan menarik Zuri ke pangkuannya.

Zuri tidak menunduk, tapi menatap langsung, membuat Axel tersentak. Rasa malu tiba-tiba muncul, tapi dia menepisnya cepat.

“Kau harus siap sekarang,” bisiknya di telinga Zuri, menempatkan si istri tepat di atas pangkuannya. “Aku tidak mau menunggu lagi.”

Zuri mengangguk. “Ajari aku,” katanya, melingkarkan lengan di leher Axel. Ketakutan lenyap dari wajahnya, diganti hasrat yang terlihat jelas.

Mereka saling menatap dekat, tanpa jarak. Axel menyapu ibu jarinya ke bibir Zuri, memasukkannya saat ada celah. Zuri menghisap lembut tanpa diperintah, matanya tidak berkedip.

“Kita mulai,” kata Axel, melepas gaun tidur Zuri dengan gerakan cepat.

Zuri mengangguk, tidak ragu. Axel mengerutkan kening dalam hati—kenapa wanita itu tidak takut sekarang? Terbawa suasana? Terlalu menikmati?

Dia menarik Zuri lebih dekat, menjilat leher si istri kasar sebelum turun ke payudara. Jarinya memainkan puting Zuri dengan sengaja, memancing.

Napas Zuri mulai berat. Lalu Axel menghisap keras, menggigit ringan, membuat Zuri mendesis pelan, tapi tidak menolak. Payudaranya menegang dua kali lipat, dadanya naik-turun cepat.

Axel melanjutkan, lidahnya menelusuri perut Zuri, turun ke bawah. Zuri hanya membalas dengan sentuhan kecil di telinga dan rambut Axel.

Kejantanan Axel sudah keras, tidak sabar. Menarik celana dalam satin Zuri—berwarna ivory dengan renda halus—ke samping, memposisikan dirinya di kewanitaan si istri yang basah.

“Ah!” Zuri menjerit tertahan, membekap mulutnya. Tubuhnya menegang, kesakitan jelas di wajahnya.

Axel terhenti sejenak, dia tahu kalau Zuri masih perawan. “Kuajari kau sekarang. Lihat baik-baik,” katanya, menatap Zuri yang memalingkan wajah.

Zuri menurut, menatap ke bawah, melihat kejantanan Axel yang tegang baru masuk sedikit. “Mu-mungkin kau perlu membuka celana dalamku—oh!” Dia menegang lagi, kesakitan, kepalanya mendongak.

Axel tak peduli, memaksa masuk lebih dalam. “Sedikit lagi. Sudah setengah,” katanya, menyeringai puas. “Aku tidak suka melepas celana dalammu.”

Zuri menatap Axel dengan mata sendu, air mata tertahan. “Biar kulepaskan kalau begitu,” tawarnya pelan.

“Tidak, aku tidak mau,” tegas Axel. Sensasinya akan berbeda kalau Zuri telanjang penuh, karena momen itu untuk nanti. “Lihat baik-baik, jangan alihkan pandanganmu.”

Zuri menurut, menatap kejantanan Axel yang masuk perlahan dari sisi celana dalamnya. Tubuhnya gemetar, kesakitan terlihat, tapi dia diam.

“Akh!” erang Zuri akhirnya keluar saat Axel berhasil masuk sepenuhnya—campuran sakit dan lega.

Axel menarik tubuh Zuri yang bergetar lebih dekat padanya, bangga berhasil menembus si istri dalam posisi sulit ini. Dia mendekati wajah Zuri, berbisik di sana. “Pelajari ini, Zuri. Aku suka yang sulit. Kuajarkan kau menahan diri. Jangan pernah mendahuluiku, mengerti?”

Zuri mengangguk pelan. “Mengerti,” jawabnya.

“Jangan keluar lebih dulu. Tahan sekuat mungkin. Kalau tidak, kuhukum kau semalam suntuk tanpa ampun,” ancam Axel, tatapannya tajam.

Zuri tersenyum sekilas—berani, hampir mengejek. Axel mengerutkan kening, tapi tak berkomentar. Dia mencengkeram celana dalam Zuri, menariknya turun kasar untuk memaksa tubuh wanita itu naik-turun mengikuti ritmenya. Dia sengaja tak memegang pinggang Zuri, ingin si istri belajar bergerak sendiri.

Zuri mendesah, Axel juga. Mereka saling menatap, tidak ada yang memalingkan muka. Wajah Zuri menunjukkan dia hampir klimaks, tapi Axel mencengkeram pinggang wanita itu kuat-kuat.

“Terus bergerak,” perintahnya saat Zuri melambat. “Ingat yang kuajarkan?”

“Jangan mendahului,” jawab Zuri, napasnya terengah-engah.

Axel tersenyum sinis. “Bertahanlah. Aku masih lama.”

Kesulitan terlihat di wajah Zuri, tapi dia berusaha. Axel menikmati perlawanan kecil itu, penasaran seberapa jauh Zuri bisa bertahan dibanding Elysia.

Zuri merasakan kewanitaannya perih, panas, tapi hentakan Axel yang tak kenal ampun membawa sensasi aneh—sakit bercampur nikmat yang tidak ingin berhenti. Dia ingin klimaks, tapi berusaha menahan, takut melanggar perintah Axel. Tubuhnya gemetar, napasnya terengah.

“Akh!” Axel mengerang keras, menarik kepala Zuri mendekat. Napasnya menderu. “Buka kakimu lebih lebar, naikkan setinggi mungkin,” bisiknya kasar.

Zuri menurut, tapi pinggangnya sudah nyeri. Axel mengangkat kedua kaki Zuri lebar-lebar, sejajar dengan kepalanya. Sensasi hangat membanjirinya di dalam sana—benih Axel, banyak, terus mengalir. Zuri berharap itu cepat jadi bayi laki-laki.

Mereka kini di ranjang. Axel tidak tahan lama di pangkuan seperti katanya—dia menarik Zuri ke kasur, melepas celana dalam wanita itu sepenuhnya. “Lain kali, bergerak lebih cepat saat kuminta,” katanya, napasnya masih tidak teratur.

Zuri tidak menatap suaminya. “Ya, baik,” jawabnya pelan, tubuh sudah terasa remuk.

“Tadi kau minta diajari. Begitu caraku mengajarimu,” tambah Axel.

Zuri diam, tak membantah. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya mengakui kenikmatan itu.

***

Paginya Zuri terbangun lebih dulu. Menyadari Axel tertidur lelap di sisinya, telanjang di balik selimut—sama seperti dirinya. Dia memandang tubuh Axel tanpa malu, merasa itu wajar. Pria itu suaminya, sah secara hukum. Kenapa harus malu?

Akh! Zuri merasa sangat kesakitan.

Lalu dia melihat Axel bergerak. Jadi cepat-cepat dia memunggunginya, takut ketahuan. Jantung Zuri berdegup kencang—bukan karena takut, tapi malu membayangkan semalam.

Namun, Zuri tidak bisa bohong—dia menyukai cara Axel memasukinya, mengajarinya, meski brutal. Bahkan kalau Axel mencambuknya saat bercinta, dia akan terima itu tanpa mengeluh.

Senyum kecil muncul di wajahnya. Dia mencakar punggung Axel semalam, tapi kuku pendeknya tidak meninggalkan bekas parah. Beruntung, atau Axel akan membentaknya pagi ini.

Tiba-tiba, lengan Axel melingkari pinggangnya dari belakang. Zuri menegang, napasnya tertahan. Kenapa dia kaku sekarang? Semalam, dia agresif, membalas setiap sentuhan Axel tanpa ragu.

Zuri sangat ingat momen itu—senja, kamar mandi, ranjang berantakan. Keberaniannya muncul saat Axel menariknya ke pangkuan, didorong keinginan untuk cepat hamil.

“Ayo, lakukan lagi,” bisik Axel, napasnya hangat di tengkuk Zuri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   7. Menggoda

    Zuri merinding, bulu kuduknya berdiri. Bercinta lagi? “Berbalik dan lihat aku,” perintah Axel, nadanya lebih tajam.Zuri menurut, berbalik perlahan. Wajah Axel tampan meski rambutnya berantakan—ulahnya semalam, menjambak dan mengacak-ngacak selagi menahan serangan Axel. Mereka saling menatap, hawa dingin pagi terasa dari tatapan pria itu.“Kau tidak mendengarku?” tanya Axel, suaranya nyaris kasar.“Aku mendengarmu,” jawab Zuri hati-hati, mengangguk. Axel suaminya, jadi dia harus menjalani ini dengan benar.“Karena aku yang menginginkannya lagi, apa itu artinya aku juga yang harus memulainya?” tanya Axel sinis.Zuri menelan ludah. “Kau suka aku memulainya dengan cara seperti apa?” balasnya pelan, langsung menyesal bertanya.“Kau minta diajari lagi?” Axel menyeringai, alisnya bertaut. Zuri mengangguk, tidak tahu harus jawab apa. Jujur, ini sungguh pengalaman pertamanya.“Coba mulai dengan menggodaku,” perintah Axel.Zuri mengerjap bingung, lalu bangkit duduk. Selimutnya merosot, memperl

    Last Updated : 2025-03-09
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   8. Istri Kedua?

    Kini, Aurelia kembali ke Valmont bersama Ronan dan Alina. Ibunya terkejut, begitu pula Axel, tapi bedanya, ibunya selalu ingin tahu, sementara Axel tidak ambil pusing.Kemarin, Gideon Cross—orang kepercayaan Axel, memberitahu bahwa Aurelia bercerai dari Ronan Donovan, pria kasar yang menghabiskan kekayaannya di meja judi.Axel melirik jam tangannya. Pukul sebelas lewat dua puluh menit. Zuri pasti sudah tidur. Terakhir dia melihat istrinya itu mengeringkan rambut sambil menatap ponsel, tidak menyadari kepergiannya. Dia sengaja tak memberitahu ke mana dia pergi atau di mana dia akan bermalam. Menurutnya, Zuri tidak berhak tahu.“Alina memang sudah mengantuk. Ini jam tidurnya, tapi karena terus batuk, dia gelisah dan sulit tidur,” kata Aurelia, muncul kembali. Kali ini, dia tak duduk di seberang Axel, melainkan di sisinya.“Sekarang bagaimana?” tanya Axel, nadanya tetap datar.Aurelia tersenyum lembut—senyum yang bisa membuat hati bergetar. “Dia sudah tertidur pulas setelah aku ikut tidur

    Last Updated : 2025-03-15
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   9. Pria dengan Sorot Mata yang Hangat

    “Oh, sebentar. Biar aku ambil ponselku dulu, Nyonya,” jawab Dottie, bergegas mengambilnya.Zuri lega—Dottie tidak curiga. Dia mendapat nomor Axel dan ragu menelepon, takut mengganggu. Akhirnya, dia memilih mengirimkan pesan.[Axel, ini Zuri. Aku minta izin untuk ke rumah mendiang bibi Isolde. Aku janji tidak akan lama.]Dia menghela napas, lalu memanggil Cole yang sedang duduk membaca buku di ruang tamu. Pemandangan itu menghibur hatinya—pria dengan buku.“Ke jalan Fairview, Nyonya?” tanya Cole, berdiri tegak. Seolah tahu ke mana tujuan Zuri. Sebab selama ini, sang nyonya memang jarang minta diantarkan selain ke rumah mendiang bibinya.Zuri mengangguk. “Ya,” jawabnya singkat dengan senyum.Perjalanan delapan belas menit berlalu dalam diam yang canggung. Cole masih memanggilnya ‘Nyonya’, membuat Zuri merasa jarak itu tidak pernah berkurang.“Silakan hubungi aku ketika Anda selesai, Nyonya,” kata Cole, menyerahkan secarik kertas dengan nomornya.Zuri mengangguk, menerimanya. Cole jelas m

    Last Updated : 2025-03-16
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   10. Pria Beristri

    [Axel, ini Zuri. Aku minta izin untuk ke rumah mendiang bibi Isolde Brooks. Aku janji tidak akan lama.] Axel menghela napas, langsung menghubungi Caden, sebelum mencerna pesan Zuri yang sebenarnya sudah jelas. Ada apa dengannya? Pikirannya terasa kacau. Axel melirik ke kiri. Daphne Fontaine duduk di kursi tunggal, kaki bersila, memandangnya dengan tatapan menusuk. Tingkah Daphne selalu mengkhawatirkan, membuatnya harus waspada. “Kenapa menatapku begitu? Jam tidurmu masih kurang?” tanya Daphne ketus, matanya tak lepas dari Axel. “Tutup mulutmu. Kau penyebab aku berada di sini. Sangat menderita tidur di sofa,” balas Axel tidak kalah tajam, lalu kembali berbaring. Terlambat ke kantor, dia sudah merencanakan alasan untuk mengelabui Caden agar mengerjakan semua tugasnya tanpa banyak tanya. “Salahmu,” kata Daphne, mengangkat sebelah bahu. “Karena tidak mau masuk ke kamar dan tidur di ranjang bersamaku.” Axel berdecak, memelototi gadis itu. “Aku pria beristri,” tegasnya, kesal. “Ah, al

    Last Updated : 2025-03-17
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   11. Kemarahan dalam Setiap Gerakan

    Zuri melangkah masuk ke rumah, jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara Axel di ambang pintu.“Aku tiba di rumah lebih dulu darimu, Zuri.” Nada pria itu dingin, penuh tekanan, seolah menyindir keterlambatannya.Zuri menelan ludah. Axel bukan sedang menyambutnya, pria itu menegaskan kemenangannya. Semalam pria itu tidak pulang, dan kini menatap Zuri dengan wajah masam.Zuri terlambat membaca pesan peringatan Axel karena terpaku pada cerita Lennox Fairfax—putra angkat bibi Isolde yang baru dia kenal.“Apa alasanmu?” tanya Axel, suaranya setengah membentak, membuat Zuri tersentak.“Aku ... aku bertemu seseorang,” jawabnya pelan, tidak yakin harus menyebut Lennox atau tidak. Ceritanya terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang.“Sepenting itukah dia sampai kau mengabaikan peringatanku?” lanjut Axel, nadanya hati-hati tapi tajam, menusuk telinga Zuri.Zuri menunduk, sesekali melirik wajah Axel yang muram, lalu mengalihkan pandang ke sofa, dinding—apa saja selain mata si suami yang ta

    Last Updated : 2025-03-18
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   12. Suami Kejam

    Ini semua wujud ketakutan dan tekanan yang dia rasakan pada Axel. Andai dia bisa lebih santai menghadapi pria itu, mungkin kecemasan dan kegugupan tak akan sekuat ini. Tapi dia hanya pintar bicara dalam hati—nyatanya, ketakutan itu tak pernah hilang, bahkan di situasi biasa.“Zuri!” Tiba-tiba suara Axel menggelegar dari luar, diiringi ketukan keras di pintu.Zuri terlonjak, jantungnya nyaris berhenti. Dia buru-buru membuka pintu, tangannya gemetar hebat. Axel masuk, membanting pintu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyambar pinggang Zuri dengan kasar.“Ini kali kedua, Zuri,” katanya, mengingatkan dengan nada rendah yang menekan.Zuri bingung. Apa maksudnya? Axel menggertakkan gigi, rahangnya mengeras. Zuri menelan ludah, berusaha berani menatap wajah itu, tapi tiba-tiba Axel menghisap lehernya dengan kuat. “Akh!” Zuri mengerang pelan, tubuhnya menegang seketika.“Kenapa keningmu mengernyit? Kau tidak tahu apa kesalahanmu?” tanya Axel, tersenyum sinis. Seperti penjahat kej

    Last Updated : 2025-03-18
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   13. Terselubung Hasrat

    “Kuingatkan lagi, jangan mendahuluiku. Mengerti?” perintah Axel.Zuri mengangguk, menahan desahan meski sulit. Dia tak ingin kalah—tidak boleh klimaks lebih dulu.***Membaca pesan dari Daphne di ponselnya, Axel tertawa sinis.[Aku membencimu, Axel! Sangat benci!]Tadi Axel meninggalkan Daphne di gerai donat dengan alasan pekerjaan mendadak. Bohong, tentu saja. Dia hanya tidak ingin Zuri tiba di rumah lebih dulu dan kehilangan amunisi untuk mendesak sang istri—bercinta brutal dan habis-habisan diselingi amarahnya.Getar kedua masuk. Pesan dari Aurelia.[Aku sudah memberitahu ibuku dan ibumu mengenai hal yang kemarin kita bahas bersama. Ibumu tidak masalah jika kau menikahiku untuk sementara waktu karena alasan itu. Sekarang, keputusan ada di tanganmu, Axel. Bisakah kau membantuku?]Axel mengutuk dalam hati. Bajingan! Aurelia tidak menyerah. Dia sudah menolak tegas. Dua detik kemudian, pesan lain masuk. Dari wanita itu lagi.[Biarkan aku yang bicara pada istrimu.]Axel mengepal tinju, l

    Last Updated : 2025-03-18
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   14. Istri yang Tidak Mau Dimadu

    Zuri hampir terlonjak dari ranjang saat Axel tak menawarkan, melainkan memaksa memakaikan pakaian ke tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang, rasa malu membakar wajahnya. Yang lebih memalukan, Axel tidak membiarkannya mengenakan bra dan celana dalam sendiri—tangan pria itu bergerak cepat, dingin, dan pasti, menyelipkan setiap helai kain ke kulit Zuri yang masih hangat, sedikit lengket oleh keringat setelah bercinta tadi. Axel mengambil botol parfum mahalnya, lalu menyemprotkan ke leher, pergelangan tangan, dan bahkan pinggul Zuri. Aroma kayu bercampur rempah menyengat hidung—sesuatu yang cuma ada di mimpi Zuri sebelumnya. Harganya mungkin lebih dari gaji setahunnya, jauh dari kemampuan untuk kebutuhan sehari-hari yang sudah menumpuk. Dia tak paham kenapa Axel melakukan ini—apa artinya? Tapi mulutnya terkunci, tidak berani bertanya. Hanya menatap bayangannya di cermin, diam. “Lihat,” ujar Axel, suaranya penuh kepuasan. “Bagus sekali.” Ia berdecak, jelas bangga dengan hasilnya. Zu

    Last Updated : 2025-03-25

Latest chapter

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   19. Masih Takut Padanya

    Zuri mencoba mendorong dada Axel, tapi si suami menahan tangannya, menjepitnya di antara tubuh mereka. Napas Zuri memburu, seakan ingin protes, tapi Axel lebih dulu menunduk, membiarkan bibirnya menyentuh tengkuk Zuri. Zuri menggigil, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya memerah dengan campuran ketakutan dan hasrat.Axel meniup tepat di bawah telinga Zuri, membuat si wanita menegang. Bahkan mungkin bila Zuri lari darinya, pasti mudah bagi Axel menemukannya. Menariknya kembali, bahkan jika harus mengikat paksa agar tidak ke mana-mana.Zuri mengerang pelan, matanya terpejam seolah terbawa sensasi itu.Axel merasakan desahan Zuri, campuran ketakutan dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap. Lebih dalam. Dia akan menghabiskan setiap detik untuk memastikan Zuri tidak punya pilihan selain tetap di sini.Jari-jari Axel menyeret naik ke tengkuk Zuri, menahan gerakannya saat wanitanya berusaha menghindar. Napas Zuri berembus cepat, seperti ingin melawan, tapi Axel tak memberi kesempatan. D

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   18. Di Sela-Sela Desahan

    “Kau gugup?” Suara Axel tetap tenang, nyaris malas, padahal dia sangat menikmati ini. “Coba katakan, apa yang kau rasakan?”Zuri menelan ludah, matanya masih terkunci pada mata Axel, seolah mencari celah untuk memastikan dia tidak melakukan kesalahan. Wajahnya penuh ketegangan, bibirnya bergetar halus. “Aku ... aku hanya takut melakukan kesalahan,” bisiknya, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan mobil.Axel menarik lengan Zuri, merasakan getaran halus di bawah kulitnya. Manis. Sangat manis. Zuri selalu terlihat paling menarik saat begini—takut, ragu, tapi tetap berusaha menuruti keinginannya. Dia tersenyum tipis, puas dengan kelemahan yang terpancar dari wajah Zuri.“Santai saja.” Senyum tipis terangkat di bibir Axel. “Aku akan menuntunmu, Zuri. Yang perlu kau lakukan hanya satu—fokus memberiku bayi laki-laki.”Zuri mengangguk, matanya melemah sejenak, menunjukkan kepasrahan. Axel menuntunnya dengan sabar di awal. Namun ketika kewanitaannya terpampang di depan mata, si suami mend

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   17. Melayani di Dalam Mobil

    Setelah Lennox berpamitan—lebih seperti salam penuh makna untuk Zuri—Axel langsung memasukkan pria itu ke daftar yang layak diwaspadai, bahkan dimusnahkan jika perlu.“Kau suka lagu-lagunya?” Axel bertanya santai, mengiris steak tanpa menatap Zuri.“Aku belum pernah mendengar lagu-lagunya,” jawab Zuri.Namun Axel tahu dari gerakan istrinya, kalau Zuri mencuri dengar suara Lennox tanpa menatap lama, terlihat menikmati.Lennox mencapai nada tinggi, menarik perhatian semua orang, termasuk Zuri. Axel mengakui suaranya luar biasa, sesuai reputasi. Lennox melirik ke arah mereka, tapi Zuri fokus pada piringnya—pilihan tepat kali ini, menurut Axel.“Aku ada rapat besok pagi. Kau ingin ikut pulang denganku atau lebih memilih tinggal di sini, menghabiskan malammu dengan mendengarkan putra angkat mendiang bibimu itu bernyanyi sampai selesai?” tanya Axel, nada datar, menyapu serbet ke bibir tanpa melihat Zuri.Zuri menatap suaminya, ragu. Melihat keraguan istrinya, Axel merasa kesal—perlu waktu l

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   16. Cemburu? Tidak!

    Perhatian orang-orang perlahan teralih. Tatapan tajam yang tadi menusuk kini jadi melemah, dan Zuri merasakannya. Setengahnya pasti karena kemesraan berlebihan yang mereka pertontonkan. Begitu melangkah masuk, alunan musik lembut menyambut, tapi tatapan kembali menghampiri. Kali ini berbeda—bukan lagi menyesakkan, melainkan penuh kekaguman dan iri terselubung dalam senyum sopan. Zuri jadi pusat gravitasi malam itu bersama Axel, menarik perhatian setiap pasangan di restoran.Apakah mereka semua mengenal Axel? Sebelum duduk, Axel mengecup pipi Zuri dekat telinga—sentuhan yang seharusnya mesra, tapi justru membuat bulu kuduk Zuri meremang.Bisikan berikutnya menusuk sebagai bentuk peringatan. “Mereka ada di sini karena undanganku. Sebagian besar ingin melihatku jatuh. Jangan sampai ada kesalahan, Zuri. Tetap ikuti permainanku. Aku yang akan menuntunmu.”Zuri tersenyum kecil sambil mengangguk, seolah kata-kata itu manis. Namun, tubuhnya bergetar—bukan getaran nikmat seperti saat berdua di

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   15. Melambung Tinggi

    Axel duduk di ruang keluarga rumah orang tuanya, muak dengan kepura-puraan ibunya, Marcella Nightvale.“Ibu sungguh tidak langsung menyetujui begitu saja rencana Aurelia, Nak,” bela ibunya, gelisah.“Tetap saja akhirnya Ibu setuju,” balas Axel, bernada kecewa yang tajam.“Bukan begitu,” sanggah Marcella, tapi kegelisahannya terlihat jelas.Axel membuang napas kasar. Bisa-bisanya Aurelia benar dan dia salah menilai ibunya sendiri. Peringatannya jelas—jangan ganggu Zuri—tapi ibunya malah mendukung rencana konyol itu. “Jika hal seperti ini terulang lagi, aku tidak akan pernah memaafkan Ibu,” tegasnya, menatap ibunya dalam-dalam, lalu beranjak pergi.Di ambang pintu, dia berpapasan dengan Zephyr Dusk. Axel tak membalas sapaan ramah pria itu, hanya melangkah pergi, tak peduli apa yang dikatakan Zephyr setelahnya. Perjalanan pulang lebih cepat dari biasanya—dia mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, amarah membakar dadanya.Saat tiba, dia melihat mobil Aurelia keluar dari gerbang rum

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   14. Istri yang Tidak Mau Dimadu

    Zuri hampir terlonjak dari ranjang saat Axel tak menawarkan, melainkan memaksa memakaikan pakaian ke tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang, rasa malu membakar wajahnya. Yang lebih memalukan, Axel tidak membiarkannya mengenakan bra dan celana dalam sendiri—tangan pria itu bergerak cepat, dingin, dan pasti, menyelipkan setiap helai kain ke kulit Zuri yang masih hangat, sedikit lengket oleh keringat setelah bercinta tadi. Axel mengambil botol parfum mahalnya, lalu menyemprotkan ke leher, pergelangan tangan, dan bahkan pinggul Zuri. Aroma kayu bercampur rempah menyengat hidung—sesuatu yang cuma ada di mimpi Zuri sebelumnya. Harganya mungkin lebih dari gaji setahunnya, jauh dari kemampuan untuk kebutuhan sehari-hari yang sudah menumpuk. Dia tak paham kenapa Axel melakukan ini—apa artinya? Tapi mulutnya terkunci, tidak berani bertanya. Hanya menatap bayangannya di cermin, diam. “Lihat,” ujar Axel, suaranya penuh kepuasan. “Bagus sekali.” Ia berdecak, jelas bangga dengan hasilnya. Zu

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   13. Terselubung Hasrat

    “Kuingatkan lagi, jangan mendahuluiku. Mengerti?” perintah Axel.Zuri mengangguk, menahan desahan meski sulit. Dia tak ingin kalah—tidak boleh klimaks lebih dulu.***Membaca pesan dari Daphne di ponselnya, Axel tertawa sinis.[Aku membencimu, Axel! Sangat benci!]Tadi Axel meninggalkan Daphne di gerai donat dengan alasan pekerjaan mendadak. Bohong, tentu saja. Dia hanya tidak ingin Zuri tiba di rumah lebih dulu dan kehilangan amunisi untuk mendesak sang istri—bercinta brutal dan habis-habisan diselingi amarahnya.Getar kedua masuk. Pesan dari Aurelia.[Aku sudah memberitahu ibuku dan ibumu mengenai hal yang kemarin kita bahas bersama. Ibumu tidak masalah jika kau menikahiku untuk sementara waktu karena alasan itu. Sekarang, keputusan ada di tanganmu, Axel. Bisakah kau membantuku?]Axel mengutuk dalam hati. Bajingan! Aurelia tidak menyerah. Dia sudah menolak tegas. Dua detik kemudian, pesan lain masuk. Dari wanita itu lagi.[Biarkan aku yang bicara pada istrimu.]Axel mengepal tinju, l

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   12. Suami Kejam

    Ini semua wujud ketakutan dan tekanan yang dia rasakan pada Axel. Andai dia bisa lebih santai menghadapi pria itu, mungkin kecemasan dan kegugupan tak akan sekuat ini. Tapi dia hanya pintar bicara dalam hati—nyatanya, ketakutan itu tak pernah hilang, bahkan di situasi biasa.“Zuri!” Tiba-tiba suara Axel menggelegar dari luar, diiringi ketukan keras di pintu.Zuri terlonjak, jantungnya nyaris berhenti. Dia buru-buru membuka pintu, tangannya gemetar hebat. Axel masuk, membanting pintu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyambar pinggang Zuri dengan kasar.“Ini kali kedua, Zuri,” katanya, mengingatkan dengan nada rendah yang menekan.Zuri bingung. Apa maksudnya? Axel menggertakkan gigi, rahangnya mengeras. Zuri menelan ludah, berusaha berani menatap wajah itu, tapi tiba-tiba Axel menghisap lehernya dengan kuat. “Akh!” Zuri mengerang pelan, tubuhnya menegang seketika.“Kenapa keningmu mengernyit? Kau tidak tahu apa kesalahanmu?” tanya Axel, tersenyum sinis. Seperti penjahat kej

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   11. Kemarahan dalam Setiap Gerakan

    Zuri melangkah masuk ke rumah, jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara Axel di ambang pintu.“Aku tiba di rumah lebih dulu darimu, Zuri.” Nada pria itu dingin, penuh tekanan, seolah menyindir keterlambatannya.Zuri menelan ludah. Axel bukan sedang menyambutnya, pria itu menegaskan kemenangannya. Semalam pria itu tidak pulang, dan kini menatap Zuri dengan wajah masam.Zuri terlambat membaca pesan peringatan Axel karena terpaku pada cerita Lennox Fairfax—putra angkat bibi Isolde yang baru dia kenal.“Apa alasanmu?” tanya Axel, suaranya setengah membentak, membuat Zuri tersentak.“Aku ... aku bertemu seseorang,” jawabnya pelan, tidak yakin harus menyebut Lennox atau tidak. Ceritanya terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang.“Sepenting itukah dia sampai kau mengabaikan peringatanku?” lanjut Axel, nadanya hati-hati tapi tajam, menusuk telinga Zuri.Zuri menunduk, sesekali melirik wajah Axel yang muram, lalu mengalihkan pandang ke sofa, dinding—apa saja selain mata si suami yang ta

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status