Share

5. Tidak Mau Menunda

Penulis: Velmoria
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-05 07:30:59

Axel Nightvale berdiri di sana. Zuri langsung gemetar. Tubuhnya berputar cepat menghadap suaminya. Dia berdoa dalam hati agar Axel tak mempermalukannya di tempat ini. Mungkin tidak sekarang, tapi di rumah, intimidasi pasti menanti.

“Aku bertanya, istriku. Kenapa kau masih di sini dan belum pulang?” Nada Axel berubah lembut, tidak biasa. Dia bahkan menyebut Zuri ‘istriku.’

Zuri melirik Cole, yang berdiri diam lima meter di sisinya. Axel melangkah mendekat, tersenyum hangat—senyum yang tidak pernah Zuri lihat sebelumnya. Apakah pria ini punya sisi seperti itu? Tetap saja, ketakutan menguasainya. Senyum itu terasa seperti topeng yang menyembunyikan ancaman.

“Maaf, aku hanya turun sebentar untuk melihat kecelakaan di depan,” jawab Zuri pelan, tidak berani menatap mata Axel langsung. Pandangannya tertuju pada sepatunya sendiri.

Axel menghela napas panjang. Zuri tidak tahu apakah itu tanda amarah atau kekesalan.

“Lihat aku, Zuri. Angkat kepalamu,” perintahnya, tegas meski terkendali.

Zuri menurut perlahan, mengangkat kepala. Matanya langsung bertemu tatapan Axel yang penuh kemarahan tertahan. Dia ingin bicara, tapi keberaniannya lenyap di hadapan pria ini.

“Jangan bersikap seolah kau tertekan hidup bersamaku,” kata Axel, membungkuk hingga wajahnya dekat dengan Zuri. Suaranya nyaris berbisik, tapi tekanannya jelas. “Perlihatkan kebahagiaan di depan orang lain yang memperhatikanmu. Apa kau mengerti?”

Zuri merinding. Sikap dan kata-kata Axel justru memperdalam ketakutannya. Lututnya terasa lemas, hampir tidak kuat menyangga tubuhnya.

Sebenarnya, bagi orang lain, mungkin Axel tidak menakutkan itu, tapi entah kenapa dia selalu berhasil membuat Zuri ketakutan bukan main.

“Aku mengerti,” jawab Zuri susah payah, berusaha tetap berdiri tegak.

“Bagus.” Axel meluruskan tubuhnya, satu alis terangkat dengan ekspresi menghina.

Zuri merasa dipermainkan, tapi tidak berniat melawan.

Tiba-tiba, pandangan Axel beralih melewati kepala Zuri, mencari sesuatu. Zuri tidak berani menoleh, hanya mendongak mengamati. Dalam gerakan cepat, lengan Axel merangkul pundak si istri dengan lembut—terlalu lembut untuk pria seperti dia.

Zuri menegang. Pasti ada alasan di balik tindakan Axel, tapi nyalinya tak cukup untuk memastikannya.

“Ayo, kita pulang sekarang,” kata Axel, suaranya datar, tanpa emosi.

Alasannya jelas bagi Zuri. Axel peduli pada pandangan orang lain tentang pernikahan mereka, meski hubungan ini kaku dan dingin. Zuri nyaris mendengus dalam hati—rumah tangga apa yang seperti ini?

Cole mengangguk saat mereka melewatinya. Wajahnya tegang. Zuri khawatir Axel akan menyalahkan pria itu nanti karena dia mengabaikan peringatan Cole padanya tadi.

Axel membukakan pintu mobil untuk Zuri, tangannya melindungi kepala wanita itu saat masuk. Gerakannya erlihat manis, tapi Zuri tidak percaya.

Saat melirik keluar jendela, spontan mata Zuri melebar. Jaxon di sana, berdiri tegak lima belas meter di kejauhan, menatapnya lama—lebih lama dari sebelumnya.

Jantung Zuri berdegup kencang. Rasanya ingin keluar dan berlari menemui pria itu. Memeluk dan mengaku bahwa cintanya tidak pernah pudar.

Tapi kenyataannya, Zuri diam di tempat. Ketakutan pada Axel dan kelemahannya sendiri membelenggunya.

“Kau ingin menghampirinya?” tanya Axel tiba-tiba, suaranya tenang seperti permukaan air danau. 

Zuri menoleh sekilas, terkejut melihat wajah Axel yang datar. Benarkah Axel mengizinkan menghampiri Jaxon?

“Kalau kau mengizinkan, aku—”

“Banyak orang di sini,” potong Axel cepat. “Sebaiknya tidak usah. Kau tak perlu bertemu mantan kekasihmu lagi mulai sekarang. Ingat itu baik-baik.”

Zuri menunduk, menatap tangannya yang saling mencengkeram di pangkuan. Getaran halus terasa di jarinya. Larangan itu sederhana, tapi bagai ancaman yang menusuk. Dia mulai bertanya-tanya, apakah ketakutannya pada Axel sudah tidak normal? Seolah perlahan merusak kewarasannya. Perlukah dia memeriksakannya ke dokter?

“Aku tidak mendengar jawabanmu,” tegur Axel, suaranya tetap tenang namun mengejutkan.

Zuri tersentak, bahunya terangkat. Nada Axel tidak keras, tapi selalu berhasil membuatnya terkejut. “Ya, aku mengerti,” jawabnya cepat, suaranya gemetar.

Axel tidak lagi membahas apa pun. Mobil melaju, meninggalkan Jaxon dan kerumunan di belakang. Zuri diam, terjebak antara ketakutan dan penyesalan, sementara Axel duduk di sisinya. Ekspresinya tidak terbaca—dingin, penuh kuasa.

Begitu mereka, Axel berjalan keluar dari mobil dengan sengaja menunggu Zuri turun, lalu melangkah bersisian bersama menuju rumah. Senja membentang di langit, membawa udara sejuk yang dia sukai. Melirik Zuri sekilas, memperhatikan wajah si istri yang tegang.

“Malam ini kau tidak perlu menyiapkan makan malam untukku,” kata Axel. Tatapan lurus 

Zuri menoleh pelan, ekspresinya tetap pucat. “Baik,” jawabnya lembut, suaranya nyaris tenggelam oleh derap langkah mereka berdua.

Axel menghela napas dalam hati. Ketakutan Zuri padanya terasa berlebihan, dan itu mulai mengganggunya. Apa dia monster di mata wanita ini? Dia mengharapkan ketaatan, bukan teror yang terus-menerus terpancar dari wajahnya. Zuri dipilihnya karena alasan tertentu, bukan untuk jadi penutup rasa muaknya seperti ini. Namun, ketaatan itu—satu-satunya nilai yang masih dia akui dari Zuri, membuatnya bertahan.

“Apa kau butuh yang lainnya?” tanya Zuri tiba-tiba, suaranya hati-hati tapi menunjukkan inisiatif.

Axel menatap Zuri, melihat kecemasan di mata si istri. “Tidak perlu. Kita istirahat lebih cepat malam ini,” jawabnya.

Zuri langsung salah tingkah, wajahnya memucat lebih dalam—bukan ketakutan biasa, tapi campuran bingung dan gugup.

“Ada apa?” Axel bertanya dengan nada yang sedikit meninggi.

Zuri mendongak cepat, lalu menggeleng dan bergegas masuk ke kamar. Axel mengerutkan kening. Dia diabaikan? Lalu menyusul Zuri dengan langkah tegas, membuka pintu kamar tanpa basa-basi.

Di dalam, Zuri sudah sibuk merapikan ranjang, gerakannya kaku—jelas hanya pura-pura.

Apa ini isyarat? Axel tersenyum kecil dalam hati. “Aku akan mandi lebih dulu,” katanya sambil melewati Zuri menuju kamar mandi.

“Ya, silakan,” balas Zuri, nada leganya terdengar jelas.

Axel berhenti di depan pintu kamar mandi, membatalkan niatnya. Dia menoleh. “Aku butuh kau menggosok punggungku,” perintahnya, suaranya sengaja ditegaskan.

Zuri membeku, tangannya yang sedang menepuk bantal berhenti. Dia tak berbalik, tapi tubuhnya menegang. Axel menahan tawa. Malam ini, dia akan bersenang-senang dengan caranya sendiri.

“Zuri!” panggilnya lebih keras, sengaja meninggikan nada agar wanita itu tak berlama-lama diam di tempat.

Zuri berbalik cepat, menangkap bantal yang hampir jatuh. Wajahnya pucat, tangannya sedikit gemetar. “Baik. Aku akan menyusul. Kau masuk lebih dulu,” jawabnya, berusaha tenang meski getaran terselip di suaranya.

“Jangan membuatku menunggu lama,” balas Axel, memutar gagang pintu sambil tertawa dalam hati.

Tiga menit berlalu, Zuri akhirnya masuk ke kamar mandi. Dia hanya mengenakan gaun tidur kuning pudar berlengan pendek, panjangnya sedikit melewati lutut. Tatapannya tak fokus, menghindari Axel yang berdiri telanjang di bawah pancuran.

“Mulailah dengan menyabuni seluruh tubuhku,” perintah Axel tanpa malu, suaranya tegas.

Zuri menegang, tapi menurut. Tangannya bergerak lembut menyabuni tubuh Axel. Wajahnya memerah sepanjang kegiatan berlangsung.

Axel membiarkannya, menikmati ketaatan wanita itu. Berbeda dengan Elysia Rosier—yang jarang dia izinkan mandi bersamanya dan tak boleh menyentuhnya saat basah—Zuri boleh melakukannya. Dia benci disentuh saat tubuhnya basah, tapi dengan Zuri, dia membiarkan pengecualian.

Usapan tangan Zuri terasa ringan, hampir tidak terasa, membuat Axel menahan kantuk. “Kau pernah melakukannya dengan mantan kekasihmu?” Tiba-tiba bertanya, tapi langsung menyesal seketika karena terdengar terlalu penasaran.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   6. Ajari Aku

    Zuri menunduk, fokus menyabuni lengan Axel. “Belum. Kami belum pernah melakukannya,” jawabnya pelan.“Aku hanya bertanya tanpa tujuan,” kata Axel cepat, berusaha menutupi nada ingin tahunya.“Aku tahu,” angguk Zuri singkat.Axel mengerutkan kening. Apa Zuri sudah menebak rencananya? “Kita akan melakukannya malam ini. Kalau kau belum siap, kuberi waktu sampai tengah malam.” Menatap Zuri tajam, dia tidak mau menunda lagi.Zuri berhenti bergerak, tangannya diam di sana, lalu menatap Axel langsung—bukan dengan ketakutan, tapi keberanian kecil. Axel balas menatap, menantang Zuri. Tapi Zuri langsung menciut, menunduk dan melanjutkan menyabuni Axel.“Katakan apa yang ingin kau katakan,” desak Axel, kesal dengan sikap Zuri. Bergerak menuju bathtub, masuk ke dalam dan menegakkan punggung agar kembali disabuni Zuri.“Aku akan berusaha siap sebelum tengah malam,” balas Zuri, beralih ke punggung Axel. Pas sekali momen ini untuk menghindari tatapan si suami.“Harus. Kau harus siap. Ingat perjanjian

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   7. Menggoda

    Zuri merinding, bulu kuduknya berdiri. Bercinta lagi? “Berbalik dan lihat aku,” perintah Axel, nadanya lebih tajam.Zuri menurut, berbalik perlahan. Wajah Axel tampan meski rambutnya berantakan—ulahnya semalam, menjambak dan mengacak-ngacak selagi menahan serangan Axel. Mereka saling menatap, hawa dingin pagi terasa dari tatapan pria itu.“Kau tidak mendengarku?” tanya Axel, suaranya nyaris kasar.“Aku mendengarmu,” jawab Zuri hati-hati, mengangguk. Axel suaminya, jadi dia harus menjalani ini dengan benar.“Karena aku yang menginginkannya lagi, apa itu artinya aku juga yang harus memulainya?” tanya Axel sinis.Zuri menelan ludah. “Kau suka aku memulainya dengan cara seperti apa?” balasnya pelan, langsung menyesal bertanya.“Kau minta diajari lagi?” Axel menyeringai, alisnya bertaut. Zuri mengangguk, tidak tahu harus jawab apa. Jujur, ini sungguh pengalaman pertamanya.“Coba mulai dengan menggodaku,” perintah Axel.Zuri mengerjap bingung, lalu bangkit duduk. Selimutnya merosot, memperl

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   8. Istri Kedua?

    Kini, Aurelia kembali ke Valmont bersama Ronan dan Alina. Ibunya terkejut, begitu pula Axel, tapi bedanya, ibunya selalu ingin tahu, sementara Axel tidak ambil pusing.Kemarin, Gideon Cross—orang kepercayaan Axel, memberitahu bahwa Aurelia bercerai dari Ronan Donovan, pria kasar yang menghabiskan kekayaannya di meja judi.Axel melirik jam tangannya. Pukul sebelas lewat dua puluh menit. Zuri pasti sudah tidur. Terakhir dia melihat istrinya itu mengeringkan rambut sambil menatap ponsel, tidak menyadari kepergiannya. Dia sengaja tak memberitahu ke mana dia pergi atau di mana dia akan bermalam. Menurutnya, Zuri tidak berhak tahu.“Alina memang sudah mengantuk. Ini jam tidurnya, tapi karena terus batuk, dia gelisah dan sulit tidur,” kata Aurelia, muncul kembali. Kali ini, dia tak duduk di seberang Axel, melainkan di sisinya.“Sekarang bagaimana?” tanya Axel, nadanya tetap datar.Aurelia tersenyum lembut—senyum yang bisa membuat hati bergetar. “Dia sudah tertidur pulas setelah aku ikut tidur

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-15
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   9. Pria dengan Sorot Mata yang Hangat

    “Oh, sebentar. Biar aku ambil ponselku dulu, Nyonya,” jawab Dottie, bergegas mengambilnya.Zuri lega—Dottie tidak curiga. Dia mendapat nomor Axel dan ragu menelepon, takut mengganggu. Akhirnya, dia memilih mengirimkan pesan.[Axel, ini Zuri. Aku minta izin untuk ke rumah mendiang bibi Isolde. Aku janji tidak akan lama.]Dia menghela napas, lalu memanggil Cole yang sedang duduk membaca buku di ruang tamu. Pemandangan itu menghibur hatinya—pria dengan buku.“Ke jalan Fairview, Nyonya?” tanya Cole, berdiri tegak. Seolah tahu ke mana tujuan Zuri. Sebab selama ini, sang nyonya memang jarang minta diantarkan selain ke rumah mendiang bibinya.Zuri mengangguk. “Ya,” jawabnya singkat dengan senyum.Perjalanan delapan belas menit berlalu dalam diam yang canggung. Cole masih memanggilnya ‘Nyonya’, membuat Zuri merasa jarak itu tidak pernah berkurang.“Silakan hubungi aku ketika Anda selesai, Nyonya,” kata Cole, menyerahkan secarik kertas dengan nomornya.Zuri mengangguk, menerimanya. Cole jelas m

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-16
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   10. Pria Beristri

    [Axel, ini Zuri. Aku minta izin untuk ke rumah mendiang bibi Isolde Brooks. Aku janji tidak akan lama.] Axel menghela napas, langsung menghubungi Caden, sebelum mencerna pesan Zuri yang sebenarnya sudah jelas. Ada apa dengannya? Pikirannya terasa kacau. Axel melirik ke kiri. Daphne Fontaine duduk di kursi tunggal, kaki bersila, memandangnya dengan tatapan menusuk. Tingkah Daphne selalu mengkhawatirkan, membuatnya harus waspada. “Kenapa menatapku begitu? Jam tidurmu masih kurang?” tanya Daphne ketus, matanya tak lepas dari Axel. “Tutup mulutmu. Kau penyebab aku berada di sini. Sangat menderita tidur di sofa,” balas Axel tidak kalah tajam, lalu kembali berbaring. Terlambat ke kantor, dia sudah merencanakan alasan untuk mengelabui Caden agar mengerjakan semua tugasnya tanpa banyak tanya. “Salahmu,” kata Daphne, mengangkat sebelah bahu. “Karena tidak mau masuk ke kamar dan tidur di ranjang bersamaku.” Axel berdecak, memelototi gadis itu. “Aku pria beristri,” tegasnya, kesal. “Ah, al

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-17
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   11. Kemarahan dalam Setiap Gerakan

    Zuri melangkah masuk ke rumah, jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara Axel di ambang pintu.“Aku tiba di rumah lebih dulu darimu, Zuri.” Nada pria itu dingin, penuh tekanan, seolah menyindir keterlambatannya.Zuri menelan ludah. Axel bukan sedang menyambutnya, pria itu menegaskan kemenangannya. Semalam pria itu tidak pulang, dan kini menatap Zuri dengan wajah masam.Zuri terlambat membaca pesan peringatan Axel karena terpaku pada cerita Lennox Fairfax—putra angkat bibi Isolde yang baru dia kenal.“Apa alasanmu?” tanya Axel, suaranya setengah membentak, membuat Zuri tersentak.“Aku ... aku bertemu seseorang,” jawabnya pelan, tidak yakin harus menyebut Lennox atau tidak. Ceritanya terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang.“Sepenting itukah dia sampai kau mengabaikan peringatanku?” lanjut Axel, nadanya hati-hati tapi tajam, menusuk telinga Zuri.Zuri menunduk, sesekali melirik wajah Axel yang muram, lalu mengalihkan pandang ke sofa, dinding—apa saja selain mata si suami yang ta

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-18
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   12. Suami Kejam

    Ini semua wujud ketakutan dan tekanan yang dia rasakan pada Axel. Andai dia bisa lebih santai menghadapi pria itu, mungkin kecemasan dan kegugupan tak akan sekuat ini. Tapi dia hanya pintar bicara dalam hati—nyatanya, ketakutan itu tak pernah hilang, bahkan di situasi biasa.“Zuri!” Tiba-tiba suara Axel menggelegar dari luar, diiringi ketukan keras di pintu.Zuri terlonjak, jantungnya nyaris berhenti. Dia buru-buru membuka pintu, tangannya gemetar hebat. Axel masuk, membanting pintu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyambar pinggang Zuri dengan kasar.“Ini kali kedua, Zuri,” katanya, mengingatkan dengan nada rendah yang menekan.Zuri bingung. Apa maksudnya? Axel menggertakkan gigi, rahangnya mengeras. Zuri menelan ludah, berusaha berani menatap wajah itu, tapi tiba-tiba Axel menghisap lehernya dengan kuat. “Akh!” Zuri mengerang pelan, tubuhnya menegang seketika.“Kenapa keningmu mengernyit? Kau tidak tahu apa kesalahanmu?” tanya Axel, tersenyum sinis. Seperti penjahat kej

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-18
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   13. Terselubung Hasrat

    “Kuingatkan lagi, jangan mendahuluiku. Mengerti?” perintah Axel.Zuri mengangguk, menahan desahan meski sulit. Dia tak ingin kalah—tidak boleh klimaks lebih dulu.***Membaca pesan dari Daphne di ponselnya, Axel tertawa sinis.[Aku membencimu, Axel! Sangat benci!]Tadi Axel meninggalkan Daphne di gerai donat dengan alasan pekerjaan mendadak. Bohong, tentu saja. Dia hanya tidak ingin Zuri tiba di rumah lebih dulu dan kehilangan amunisi untuk mendesak sang istri—bercinta brutal dan habis-habisan diselingi amarahnya.Getar kedua masuk. Pesan dari Aurelia.[Aku sudah memberitahu ibuku dan ibumu mengenai hal yang kemarin kita bahas bersama. Ibumu tidak masalah jika kau menikahiku untuk sementara waktu karena alasan itu. Sekarang, keputusan ada di tanganmu, Axel. Bisakah kau membantuku?]Axel mengutuk dalam hati. Bajingan! Aurelia tidak menyerah. Dia sudah menolak tegas. Dua detik kemudian, pesan lain masuk. Dari wanita itu lagi.[Biarkan aku yang bicara pada istrimu.]Axel mengepal tinju, l

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-18

Bab terbaru

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   19. Masih Takut Padanya

    Zuri mencoba mendorong dada Axel, tapi si suami menahan tangannya, menjepitnya di antara tubuh mereka. Napas Zuri memburu, seakan ingin protes, tapi Axel lebih dulu menunduk, membiarkan bibirnya menyentuh tengkuk Zuri. Zuri menggigil, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya memerah dengan campuran ketakutan dan hasrat.Axel meniup tepat di bawah telinga Zuri, membuat si wanita menegang. Bahkan mungkin bila Zuri lari darinya, pasti mudah bagi Axel menemukannya. Menariknya kembali, bahkan jika harus mengikat paksa agar tidak ke mana-mana.Zuri mengerang pelan, matanya terpejam seolah terbawa sensasi itu.Axel merasakan desahan Zuri, campuran ketakutan dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap. Lebih dalam. Dia akan menghabiskan setiap detik untuk memastikan Zuri tidak punya pilihan selain tetap di sini.Jari-jari Axel menyeret naik ke tengkuk Zuri, menahan gerakannya saat wanitanya berusaha menghindar. Napas Zuri berembus cepat, seperti ingin melawan, tapi Axel tak memberi kesempatan. D

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   18. Di Sela-Sela Desahan

    “Kau gugup?” Suara Axel tetap tenang, nyaris malas, padahal dia sangat menikmati ini. “Coba katakan, apa yang kau rasakan?”Zuri menelan ludah, matanya masih terkunci pada mata Axel, seolah mencari celah untuk memastikan dia tidak melakukan kesalahan. Wajahnya penuh ketegangan, bibirnya bergetar halus. “Aku ... aku hanya takut melakukan kesalahan,” bisiknya, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan mobil.Axel menarik lengan Zuri, merasakan getaran halus di bawah kulitnya. Manis. Sangat manis. Zuri selalu terlihat paling menarik saat begini—takut, ragu, tapi tetap berusaha menuruti keinginannya. Dia tersenyum tipis, puas dengan kelemahan yang terpancar dari wajah Zuri.“Santai saja.” Senyum tipis terangkat di bibir Axel. “Aku akan menuntunmu, Zuri. Yang perlu kau lakukan hanya satu—fokus memberiku bayi laki-laki.”Zuri mengangguk, matanya melemah sejenak, menunjukkan kepasrahan. Axel menuntunnya dengan sabar di awal. Namun ketika kewanitaannya terpampang di depan mata, si suami mend

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   17. Melayani di Dalam Mobil

    Setelah Lennox berpamitan—lebih seperti salam penuh makna untuk Zuri—Axel langsung memasukkan pria itu ke daftar yang layak diwaspadai, bahkan dimusnahkan jika perlu.“Kau suka lagu-lagunya?” Axel bertanya santai, mengiris steak tanpa menatap Zuri.“Aku belum pernah mendengar lagu-lagunya,” jawab Zuri.Namun Axel tahu dari gerakan istrinya, kalau Zuri mencuri dengar suara Lennox tanpa menatap lama, terlihat menikmati.Lennox mencapai nada tinggi, menarik perhatian semua orang, termasuk Zuri. Axel mengakui suaranya luar biasa, sesuai reputasi. Lennox melirik ke arah mereka, tapi Zuri fokus pada piringnya—pilihan tepat kali ini, menurut Axel.“Aku ada rapat besok pagi. Kau ingin ikut pulang denganku atau lebih memilih tinggal di sini, menghabiskan malammu dengan mendengarkan putra angkat mendiang bibimu itu bernyanyi sampai selesai?” tanya Axel, nada datar, menyapu serbet ke bibir tanpa melihat Zuri.Zuri menatap suaminya, ragu. Melihat keraguan istrinya, Axel merasa kesal—perlu waktu l

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   16. Cemburu? Tidak!

    Perhatian orang-orang perlahan teralih. Tatapan tajam yang tadi menusuk kini jadi melemah, dan Zuri merasakannya. Setengahnya pasti karena kemesraan berlebihan yang mereka pertontonkan. Begitu melangkah masuk, alunan musik lembut menyambut, tapi tatapan kembali menghampiri. Kali ini berbeda—bukan lagi menyesakkan, melainkan penuh kekaguman dan iri terselubung dalam senyum sopan. Zuri jadi pusat gravitasi malam itu bersama Axel, menarik perhatian setiap pasangan di restoran.Apakah mereka semua mengenal Axel? Sebelum duduk, Axel mengecup pipi Zuri dekat telinga—sentuhan yang seharusnya mesra, tapi justru membuat bulu kuduk Zuri meremang.Bisikan berikutnya menusuk sebagai bentuk peringatan. “Mereka ada di sini karena undanganku. Sebagian besar ingin melihatku jatuh. Jangan sampai ada kesalahan, Zuri. Tetap ikuti permainanku. Aku yang akan menuntunmu.”Zuri tersenyum kecil sambil mengangguk, seolah kata-kata itu manis. Namun, tubuhnya bergetar—bukan getaran nikmat seperti saat berdua di

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   15. Melambung Tinggi

    Axel duduk di ruang keluarga rumah orang tuanya, muak dengan kepura-puraan ibunya, Marcella Nightvale.“Ibu sungguh tidak langsung menyetujui begitu saja rencana Aurelia, Nak,” bela ibunya, gelisah.“Tetap saja akhirnya Ibu setuju,” balas Axel, bernada kecewa yang tajam.“Bukan begitu,” sanggah Marcella, tapi kegelisahannya terlihat jelas.Axel membuang napas kasar. Bisa-bisanya Aurelia benar dan dia salah menilai ibunya sendiri. Peringatannya jelas—jangan ganggu Zuri—tapi ibunya malah mendukung rencana konyol itu. “Jika hal seperti ini terulang lagi, aku tidak akan pernah memaafkan Ibu,” tegasnya, menatap ibunya dalam-dalam, lalu beranjak pergi.Di ambang pintu, dia berpapasan dengan Zephyr Dusk. Axel tak membalas sapaan ramah pria itu, hanya melangkah pergi, tak peduli apa yang dikatakan Zephyr setelahnya. Perjalanan pulang lebih cepat dari biasanya—dia mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, amarah membakar dadanya.Saat tiba, dia melihat mobil Aurelia keluar dari gerbang rum

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   14. Istri yang Tidak Mau Dimadu

    Zuri hampir terlonjak dari ranjang saat Axel tak menawarkan, melainkan memaksa memakaikan pakaian ke tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang, rasa malu membakar wajahnya. Yang lebih memalukan, Axel tidak membiarkannya mengenakan bra dan celana dalam sendiri—tangan pria itu bergerak cepat, dingin, dan pasti, menyelipkan setiap helai kain ke kulit Zuri yang masih hangat, sedikit lengket oleh keringat setelah bercinta tadi. Axel mengambil botol parfum mahalnya, lalu menyemprotkan ke leher, pergelangan tangan, dan bahkan pinggul Zuri. Aroma kayu bercampur rempah menyengat hidung—sesuatu yang cuma ada di mimpi Zuri sebelumnya. Harganya mungkin lebih dari gaji setahunnya, jauh dari kemampuan untuk kebutuhan sehari-hari yang sudah menumpuk. Dia tak paham kenapa Axel melakukan ini—apa artinya? Tapi mulutnya terkunci, tidak berani bertanya. Hanya menatap bayangannya di cermin, diam. “Lihat,” ujar Axel, suaranya penuh kepuasan. “Bagus sekali.” Ia berdecak, jelas bangga dengan hasilnya. Zu

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   13. Terselubung Hasrat

    “Kuingatkan lagi, jangan mendahuluiku. Mengerti?” perintah Axel.Zuri mengangguk, menahan desahan meski sulit. Dia tak ingin kalah—tidak boleh klimaks lebih dulu.***Membaca pesan dari Daphne di ponselnya, Axel tertawa sinis.[Aku membencimu, Axel! Sangat benci!]Tadi Axel meninggalkan Daphne di gerai donat dengan alasan pekerjaan mendadak. Bohong, tentu saja. Dia hanya tidak ingin Zuri tiba di rumah lebih dulu dan kehilangan amunisi untuk mendesak sang istri—bercinta brutal dan habis-habisan diselingi amarahnya.Getar kedua masuk. Pesan dari Aurelia.[Aku sudah memberitahu ibuku dan ibumu mengenai hal yang kemarin kita bahas bersama. Ibumu tidak masalah jika kau menikahiku untuk sementara waktu karena alasan itu. Sekarang, keputusan ada di tanganmu, Axel. Bisakah kau membantuku?]Axel mengutuk dalam hati. Bajingan! Aurelia tidak menyerah. Dia sudah menolak tegas. Dua detik kemudian, pesan lain masuk. Dari wanita itu lagi.[Biarkan aku yang bicara pada istrimu.]Axel mengepal tinju, l

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   12. Suami Kejam

    Ini semua wujud ketakutan dan tekanan yang dia rasakan pada Axel. Andai dia bisa lebih santai menghadapi pria itu, mungkin kecemasan dan kegugupan tak akan sekuat ini. Tapi dia hanya pintar bicara dalam hati—nyatanya, ketakutan itu tak pernah hilang, bahkan di situasi biasa.“Zuri!” Tiba-tiba suara Axel menggelegar dari luar, diiringi ketukan keras di pintu.Zuri terlonjak, jantungnya nyaris berhenti. Dia buru-buru membuka pintu, tangannya gemetar hebat. Axel masuk, membanting pintu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyambar pinggang Zuri dengan kasar.“Ini kali kedua, Zuri,” katanya, mengingatkan dengan nada rendah yang menekan.Zuri bingung. Apa maksudnya? Axel menggertakkan gigi, rahangnya mengeras. Zuri menelan ludah, berusaha berani menatap wajah itu, tapi tiba-tiba Axel menghisap lehernya dengan kuat. “Akh!” Zuri mengerang pelan, tubuhnya menegang seketika.“Kenapa keningmu mengernyit? Kau tidak tahu apa kesalahanmu?” tanya Axel, tersenyum sinis. Seperti penjahat kej

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   11. Kemarahan dalam Setiap Gerakan

    Zuri melangkah masuk ke rumah, jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara Axel di ambang pintu.“Aku tiba di rumah lebih dulu darimu, Zuri.” Nada pria itu dingin, penuh tekanan, seolah menyindir keterlambatannya.Zuri menelan ludah. Axel bukan sedang menyambutnya, pria itu menegaskan kemenangannya. Semalam pria itu tidak pulang, dan kini menatap Zuri dengan wajah masam.Zuri terlambat membaca pesan peringatan Axel karena terpaku pada cerita Lennox Fairfax—putra angkat bibi Isolde yang baru dia kenal.“Apa alasanmu?” tanya Axel, suaranya setengah membentak, membuat Zuri tersentak.“Aku ... aku bertemu seseorang,” jawabnya pelan, tidak yakin harus menyebut Lennox atau tidak. Ceritanya terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang.“Sepenting itukah dia sampai kau mengabaikan peringatanku?” lanjut Axel, nadanya hati-hati tapi tajam, menusuk telinga Zuri.Zuri menunduk, sesekali melirik wajah Axel yang muram, lalu mengalihkan pandang ke sofa, dinding—apa saja selain mata si suami yang ta

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status