แชร์

3. Tidak Tergoda

ผู้เขียน: Velmoria
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-01-17 21:23:55

Di kantor, Axel keluar dari ruang rapat dengan perut kosong. Kekacauan pagi itu membuatnya kesal, fokusnya hilang.

“Tuan Axel, ada tamu,” kata Oliver—salah satu karyawan terpercaya Axel, mendekat cepat.

“Tamu?” Axel mengerutkan kening. Seingatnya, tidak ada jadwal tamu hari ini sampai nanti.

“Itu Nyonya Zuri Everlyn. Istri baru Anda,” bisik Caden—asisten sekaligus sekretaris Axel yang berdiri tepat di sisinya.

Axel menegang, pikirannya melayang ke Elysia sebelum tersadar pada kenyataan. “Biarkan dia menunggu. Aku perlu mengecek beberapa dokumen dulu,” katanya dingin, lalu masuk ke ruangan.

Belum lama duduk, Axel gelisah tanpa alasan pasti. Zuri di Nightvale Corporation mengusiknya. Dia selalu melarang wanita masuk ke sini—bahkan Elysia. Tapi Zuri ada di sini sekarang. Hal itu membuatnya merasa terganggu dan tidak nyaman.

Akhirnya, dia bergegas ke ruang yang biasa dijadikan tempat para tamu untuk bertemu dengannya. Membuka pintu, dia melihat Zuri duduk kaku, memegang kotak bekal ungu tua.

“Axel, kau pergi tanpa sarapan,” kata Zuri cepat. “Kubawakan ini. Kata Dottie, kau tidak biasa sarapan di luar.” Dia menyodorkan kotak itu, tangannya gemetar.

Axel menatap kotak itu, perutnya berbunyi pelan—terlalu pelan untuk terdengar oleh Zuri.

“Ambil ini,” desak Zuri, wajahnya pucat tapi ada keberanian kecil di matanya.

Axel merenggut kotak itu tanpa kata. Dia terkejut pada nyali Zuri, meski ketakutan wanita itu masih terpancar jelas. Sebelum dia sempat mengusir, Zuri bangkit dan bersiap pergi.

“Hei, sebaiknya kau pulang diantar sopir.”

***

Duduk kaku di kursi belakang mobil, Zuri menatap keluar jendela dengan ekspresi kosong. Perintah Axel—memaksanya pulang bersama sopir pribadi pria itu. Dia tidak membantah, hanya mengangguk pelan, tapi rasa hina menyeruak di dadanya. Ketakutannya pada Axel terasa tidak masuk akal, dan itu membuatnya merasa kecil—bahkan di mata sopir muda yang duduk di depan. Sopir itu mungkin dua atau tiga tahun lebih muda darinya. Zuri menduga-duga.

Mobil melaju melewati jalan yang tidak asing, dan tiba-tiba ingatan tentang rumah mendiang bibi Isolde muncul di benak Zuri. Jalan ini adalah jalur cepat menuju ke sana. Axel tidak melarangnya berkunjung ke tempat itu, bukan? Dia menarik napas, lalu memutuskan.

“Bisa tolong antarkan aku sebentar ke rumah bibiku di jalan Fairview?” tanyanya pada si sopir, suaranya lembut tapi tegas. “Jalannya lurus dari arah kiri di depan.”

Sopir itu melirik Zuri lewat kaca spion, tidak menoleh langsung. “Baik, Nyonya,” jawabnya sambil mengangguk, lalu meminta nomor rumah tanpa pertanyaan lain.

Zuri menghargai sikap profesionalnya. Ternyata masih ada orang baik di sekitarnya. Ah, iya—Dottie juga termasuk salah satunya.

Sesampai di tempat tujuan, sopir itu memarkir mobil dan berkata dia akan menunggu di luar. Dia sempat melempar senyum ramah sebelum Zuri turun. Zuri pun membalasnya.

Zuri melangkah lima meter, lalu tiba-tiba berhenti. Dia menoleh. “Siapa namamu?” Bukan basa-basi. Dia sungguh ingin tahu.

Sopir itu tampak sedikit terkejut, lalu tersenyum lagi. “Cole Mercer, Nyonya.”

“Berapa usiamu?” Zuri melanjutkan, rasa penasaran menguasainya.

“Tiga puluh dua tahun, Nyonya.”

Zuri mengangguk kecil. Ternyata Cole lebih tua darinya—wajah Cole tidak menunjukkan itu. “Aku hanya ingin bilang, usiaku dua tahun lebih muda darimu,” katanya sambil membalas senyum ramah, lalu berbalik. Dalam hati, dia berharap suatu hari Cole bisa memanggilnya tanpa ‘Nyonya’ meski dia tahu Axel takkan mengizinkan.

Rumah bibi Isolde masih seperti dulu, tidak berubah. Zuri melangkah perlahan, memandang bangunan itu dengan tatapan lembut namun sedih.

Kepergian bibi Isolde meninggalkan luka baginya dan Elysia, tapi Zuri berharap wanita itu damai di sana. Bibi Isolde tidak menikah, sehingga tak punya ahli waris. Rumah ini tidak diberikan pada Zuri atau Elysia—tak ada wasiat yang dibacakan. Lagipula, Zuri tidak mengharapkan apa-apa. Tinggal di sini justru akan membuatnya merasa tertekan.

Orang tua yang sudah lama tiada, bibi Isolde yang pergi selamanya, dan Elysia yang melarikan diri entah ke mana—ketiganya membuat Zuri merasa kehilangan pijakan. Namun, dia tetap menyimpan harapan. Elysia akan kembali, dia yakin. Kakaknya itu menyayanginya dengan caranya sendiri. Suatu hari, pasti mereka bisa bertemu lagi.

Karena tak punya kunci, Zuri memilih mengelilingi rumah. Tanaman di halaman masih hijau, terawat rapi, seolah ada yang merawatnya setelah bibi tiada. Tetangga, mungkin? Dia berjalan ke halaman belakang, menemukan kursi kayu panjang di depan deretan cemara kipas yang rapi seperti pembatas.

Rindu pada bibi Isolde dan Elysia menyeruak. Dengan langkah mantap, Zuri duduk di kursi itu, merentangkan tangan, dan memejamkan mata. Dia menghirup udara segar yang dibawa cemara, mengingat kenangan terakhir bertiga di sini—menikmati senja musim panas. Hangat, damai. Dia ingin mengulanginya, setidaknya dengan Elysia.

Tapi kenyataan membantingnya. Dia kini hidup di bawah bayang-bayang kakaknya, dipaksa menjadi istri Axel—hanya alat untuk memberi keturunan laki-laki. Jaxon Holt, cinta yang terpaksa ditinggalkan, juga menghantuinya. Kebencian Jaxon membakar semua harapan Zuri, dan dia menerima itu.

Matanya terbuka. Zuri nyaris berteriak saat melihat sosok di depannya. Axel Nightvale berdiri tegak, ekspresinya dingin. Zuri menelan suaranya, ketakutan langsung menguasai. Rasa takut itu selalu lebih kuat daripada keterkejutan—keanehan yang dia sendiri tidak bisa pahami.

“Katamu kau akan pulang. Jadi sedang apa kau di sini?” Axel membentak, suaranya tajam menusuk.

Zuri bangkit cepat, tangannya merapikan rambut yang tertiup angin. “Ini rumah bibiku,” jawabnya gugup. “Jalannya searah. Aku singgah sebentar, karena merindukan tempat ini.”

“Aku tahu ini rumah bibimu.” Axel melangkah mendekat, lalu duduk di kursi tanpa peduli Zuri masih berdiri tegang. Dia menyilangkan kaki, merentangkan tangan, dan memejamkan mata—persis seperti yang Zuri lakukan tadi.

Zuri menatap Axel, bingung. Apa pria itu sedang mengejeknya?

Axel menghirup udara dalam-dalam, wajahnya tetap datar. “Bukan hal konyol,” katanya tiba-tiba. “Kau boleh ke sini, tapi izin padaku dulu. Dan jangan terlalu sering.” Dia membuka mata, menatap Zuri dengan sorot tajam. “Duduk. Ada yang harus kau dengar.”

Zuri menghela napas pelan, duduk dengan jarak aman dari Axel. Pria itu menatap lurus ke pintu belakang rumah yang tertutup, ekspresinya tidak terbaca.

“Aku punya aturan untukmu,” lanjut Axel. “Hanya beberapa untuk hari ini. Aturan lain menyusul kalau kuanggap perlu. Aku akan bilang saat waktunya tiba.”

Zuri mengangguk, mencoba memahami. Dia tidak bodoh, tapi tekanan Axel selalu membuatnya ragu.

“Tadi di rumah, kau salah. Kau tahu apa itu?” Axel menoleh, tatapannya menuntut.

Zuri berpikir cepat. “Menumpahkan air ke pakaianmu,” jawabnya mantap, yakin itu pemicu kemarahan Axel seharian.

Axel menggeleng. “Yang lain.”

Zuri mengerutkan kening, bingung. “Terlambat bangun?” Dia melihat Axel menggeleng lagi. “Terlambat menyiapkan sarapan?”

“Bukan.” Nada Axel mulai kesal.

Zuri tak menyerah. “Membuatmu tergoda karena gaun tidurku semalam?” ucapnya pelan, wajahnya memanas karena malu.

Axel tertawa keras, suaranya menggema di halaman kosong. Tatapannya penuh ejekan. “Kau pikir aku tergoda padamu?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทที่เกี่ยวข้อง

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   4. Bertemu Mantan Kekasih

    Zuri menunduk, menahan sakit hati. Bukankah Axel yang menuntut keturunan darinya? Lalu apa maksud perkataan itu? Menghela napas, coba menenangkan diri dengan tidak memedulikan hinaan Axel padanya. “Jadi apa salahku?”Axel Nightvale menatap Zuri dengan ekspresi dingin. “Pikirkan sendiri,” katanya ketus, lalu bangkit. Dia kesal—pada Zuri, tapi lebih lagi pada dirinya sendiri.Zuri bergeser gelisah di kursinya, tubuhnya kaku. Axel memperhatikan. Merasa ragu wanita itu bisa memenuhi tujuannya dalam waktu dekat. Tapi tidak masalah. Dia berniat memanfaatkan Zuri dengan caranya sendiri, mulai malam ini. Tunggu saja.“Ayo pulang,” perintahnya, melirik pintu rumah bibi Isolde tanpa maksud, tapi punya firasat.Zuri menoleh. “Kau sudah selesai?”“Memangnya kau mau apa dariku?” Axel balas bertanya, sengaja membuat Zuri terpojok. Dia ingin wanita itu merasa tak berdaya, meski hanya untuk kepuasannya sendiri.Zuri gugup, tangannya mencengkeram tepi kursi.Ketakutan itu lagi—tapi Axel yakin bukan dir

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-01-19
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   5. Tidak Mau Menunda

    Axel Nightvale berdiri di sana. Zuri langsung gemetar. Tubuhnya berputar cepat menghadap suaminya. Dia berdoa dalam hati agar Axel tak mempermalukannya di tempat ini. Mungkin tidak sekarang, tapi di rumah, intimidasi pasti menanti.“Aku bertanya, istriku. Kenapa kau masih di sini dan belum pulang?” Nada Axel berubah lembut, tidak biasa. Dia bahkan menyebut Zuri ‘istriku.’Zuri melirik Cole, yang berdiri diam lima meter di sisinya. Axel melangkah mendekat, tersenyum hangat—senyum yang tidak pernah Zuri lihat sebelumnya. Apakah pria ini punya sisi seperti itu? Tetap saja, ketakutan menguasainya. Senyum itu terasa seperti topeng yang menyembunyikan ancaman.“Maaf, aku hanya turun sebentar untuk melihat kecelakaan di depan,” jawab Zuri pelan, tidak berani menatap mata Axel langsung. Pandangannya tertuju pada sepatunya sendiri.Axel menghela napas panjang. Zuri tidak tahu apakah itu tanda amarah atau kekesalan.“Lihat aku, Zuri. Angkat kepalamu,” perintahnya, tegas meski terkendali.Zuri me

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-05
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   6. Ajari Aku

    Zuri menunduk, fokus menyabuni lengan Axel. “Belum. Kami belum pernah melakukannya,” jawabnya pelan.“Aku hanya bertanya tanpa tujuan,” kata Axel cepat, berusaha menutupi nada ingin tahunya.“Aku tahu,” angguk Zuri singkat.Axel mengerutkan kening. Apa Zuri sudah menebak rencananya? “Kita akan melakukannya malam ini. Kalau kau belum siap, kuberi waktu sampai tengah malam.” Menatap Zuri tajam, dia tidak mau menunda lagi.Zuri berhenti bergerak, tangannya diam di sana, lalu menatap Axel langsung—bukan dengan ketakutan, tapi keberanian kecil. Axel balas menatap, menantang Zuri. Tapi Zuri langsung menciut, menunduk dan melanjutkan menyabuni Axel.“Katakan apa yang ingin kau katakan,” desak Axel, kesal dengan sikap Zuri. Bergerak menuju bathtub, masuk ke dalam dan menegakkan punggung agar kembali disabuni Zuri.“Aku akan berusaha siap sebelum tengah malam,” balas Zuri, beralih ke punggung Axel. Pas sekali momen ini untuk menghindari tatapan si suami.“Harus. Kau harus siap. Ingat perjanjian

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-09
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   7. Menggoda

    Zuri merinding, bulu kuduknya berdiri. Bercinta lagi? “Berbalik dan lihat aku,” perintah Axel, nadanya lebih tajam.Zuri menurut, berbalik perlahan. Wajah Axel tampan meski rambutnya berantakan—ulahnya semalam, menjambak dan mengacak-ngacak selagi menahan serangan Axel. Mereka saling menatap, hawa dingin pagi terasa dari tatapan pria itu.“Kau tidak mendengarku?” tanya Axel, suaranya nyaris kasar.“Aku mendengarmu,” jawab Zuri hati-hati, mengangguk. Axel suaminya, jadi dia harus menjalani ini dengan benar.“Karena aku yang menginginkannya lagi, apa itu artinya aku juga yang harus memulainya?” tanya Axel sinis.Zuri menelan ludah. “Kau suka aku memulainya dengan cara seperti apa?” balasnya pelan, langsung menyesal bertanya.“Kau minta diajari lagi?” Axel menyeringai, alisnya bertaut. Zuri mengangguk, tidak tahu harus jawab apa. Jujur, ini sungguh pengalaman pertamanya.“Coba mulai dengan menggodaku,” perintah Axel.Zuri mengerjap bingung, lalu bangkit duduk. Selimutnya merosot, memperl

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-09
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   8. Istri Kedua?

    Kini, Aurelia kembali ke Valmont bersama Ronan dan Alina. Ibunya terkejut, begitu pula Axel, tapi bedanya, ibunya selalu ingin tahu, sementara Axel tidak ambil pusing.Kemarin, Gideon Cross—orang kepercayaan Axel, memberitahu bahwa Aurelia bercerai dari Ronan Donovan, pria kasar yang menghabiskan kekayaannya di meja judi.Axel melirik jam tangannya. Pukul sebelas lewat dua puluh menit. Zuri pasti sudah tidur. Terakhir dia melihat istrinya itu mengeringkan rambut sambil menatap ponsel, tidak menyadari kepergiannya. Dia sengaja tak memberitahu ke mana dia pergi atau di mana dia akan bermalam. Menurutnya, Zuri tidak berhak tahu.“Alina memang sudah mengantuk. Ini jam tidurnya, tapi karena terus batuk, dia gelisah dan sulit tidur,” kata Aurelia, muncul kembali. Kali ini, dia tak duduk di seberang Axel, melainkan di sisinya.“Sekarang bagaimana?” tanya Axel, nadanya tetap datar.Aurelia tersenyum lembut—senyum yang bisa membuat hati bergetar. “Dia sudah tertidur pulas setelah aku ikut tidur

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-15
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   9. Pria dengan Sorot Mata yang Hangat

    “Oh, sebentar. Biar aku ambil ponselku dulu, Nyonya,” jawab Dottie, bergegas mengambilnya.Zuri lega—Dottie tidak curiga. Dia mendapat nomor Axel dan ragu menelepon, takut mengganggu. Akhirnya, dia memilih mengirimkan pesan.[Axel, ini Zuri. Aku minta izin untuk ke rumah mendiang bibi Isolde. Aku janji tidak akan lama.]Dia menghela napas, lalu memanggil Cole yang sedang duduk membaca buku di ruang tamu. Pemandangan itu menghibur hatinya—pria dengan buku.“Ke jalan Fairview, Nyonya?” tanya Cole, berdiri tegak. Seolah tahu ke mana tujuan Zuri. Sebab selama ini, sang nyonya memang jarang minta diantarkan selain ke rumah mendiang bibinya.Zuri mengangguk. “Ya,” jawabnya singkat dengan senyum.Perjalanan delapan belas menit berlalu dalam diam yang canggung. Cole masih memanggilnya ‘Nyonya’, membuat Zuri merasa jarak itu tidak pernah berkurang.“Silakan hubungi aku ketika Anda selesai, Nyonya,” kata Cole, menyerahkan secarik kertas dengan nomornya.Zuri mengangguk, menerimanya. Cole jelas m

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-16
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   10. Pria Beristri

    [Axel, ini Zuri. Aku minta izin untuk ke rumah mendiang bibi Isolde Brooks. Aku janji tidak akan lama.] Axel menghela napas, langsung menghubungi Caden, sebelum mencerna pesan Zuri yang sebenarnya sudah jelas. Ada apa dengannya? Pikirannya terasa kacau. Axel melirik ke kiri. Daphne Fontaine duduk di kursi tunggal, kaki bersila, memandangnya dengan tatapan menusuk. Tingkah Daphne selalu mengkhawatirkan, membuatnya harus waspada. “Kenapa menatapku begitu? Jam tidurmu masih kurang?” tanya Daphne ketus, matanya tak lepas dari Axel. “Tutup mulutmu. Kau penyebab aku berada di sini. Sangat menderita tidur di sofa,” balas Axel tidak kalah tajam, lalu kembali berbaring. Terlambat ke kantor, dia sudah merencanakan alasan untuk mengelabui Caden agar mengerjakan semua tugasnya tanpa banyak tanya. “Salahmu,” kata Daphne, mengangkat sebelah bahu. “Karena tidak mau masuk ke kamar dan tidur di ranjang bersamaku.” Axel berdecak, memelototi gadis itu. “Aku pria beristri,” tegasnya, kesal. “Ah, al

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-17
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   11. Kemarahan dalam Setiap Gerakan

    Zuri melangkah masuk ke rumah, jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara Axel di ambang pintu.“Aku tiba di rumah lebih dulu darimu, Zuri.” Nada pria itu dingin, penuh tekanan, seolah menyindir keterlambatannya.Zuri menelan ludah. Axel bukan sedang menyambutnya, pria itu menegaskan kemenangannya. Semalam pria itu tidak pulang, dan kini menatap Zuri dengan wajah masam.Zuri terlambat membaca pesan peringatan Axel karena terpaku pada cerita Lennox Fairfax—putra angkat bibi Isolde yang baru dia kenal.“Apa alasanmu?” tanya Axel, suaranya setengah membentak, membuat Zuri tersentak.“Aku ... aku bertemu seseorang,” jawabnya pelan, tidak yakin harus menyebut Lennox atau tidak. Ceritanya terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang.“Sepenting itukah dia sampai kau mengabaikan peringatanku?” lanjut Axel, nadanya hati-hati tapi tajam, menusuk telinga Zuri.Zuri menunduk, sesekali melirik wajah Axel yang muram, lalu mengalihkan pandang ke sofa, dinding—apa saja selain mata si suami yang ta

    ปรับปรุงล่าสุด : 2025-03-18

บทล่าสุด

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   19. Masih Takut Padanya

    Zuri mencoba mendorong dada Axel, tapi si suami menahan tangannya, menjepitnya di antara tubuh mereka. Napas Zuri memburu, seakan ingin protes, tapi Axel lebih dulu menunduk, membiarkan bibirnya menyentuh tengkuk Zuri. Zuri menggigil, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya memerah dengan campuran ketakutan dan hasrat.Axel meniup tepat di bawah telinga Zuri, membuat si wanita menegang. Bahkan mungkin bila Zuri lari darinya, pasti mudah bagi Axel menemukannya. Menariknya kembali, bahkan jika harus mengikat paksa agar tidak ke mana-mana.Zuri mengerang pelan, matanya terpejam seolah terbawa sensasi itu.Axel merasakan desahan Zuri, campuran ketakutan dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap. Lebih dalam. Dia akan menghabiskan setiap detik untuk memastikan Zuri tidak punya pilihan selain tetap di sini.Jari-jari Axel menyeret naik ke tengkuk Zuri, menahan gerakannya saat wanitanya berusaha menghindar. Napas Zuri berembus cepat, seperti ingin melawan, tapi Axel tak memberi kesempatan. D

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   18. Di Sela-Sela Desahan

    “Kau gugup?” Suara Axel tetap tenang, nyaris malas, padahal dia sangat menikmati ini. “Coba katakan, apa yang kau rasakan?”Zuri menelan ludah, matanya masih terkunci pada mata Axel, seolah mencari celah untuk memastikan dia tidak melakukan kesalahan. Wajahnya penuh ketegangan, bibirnya bergetar halus. “Aku ... aku hanya takut melakukan kesalahan,” bisiknya, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan mobil.Axel menarik lengan Zuri, merasakan getaran halus di bawah kulitnya. Manis. Sangat manis. Zuri selalu terlihat paling menarik saat begini—takut, ragu, tapi tetap berusaha menuruti keinginannya. Dia tersenyum tipis, puas dengan kelemahan yang terpancar dari wajah Zuri.“Santai saja.” Senyum tipis terangkat di bibir Axel. “Aku akan menuntunmu, Zuri. Yang perlu kau lakukan hanya satu—fokus memberiku bayi laki-laki.”Zuri mengangguk, matanya melemah sejenak, menunjukkan kepasrahan. Axel menuntunnya dengan sabar di awal. Namun ketika kewanitaannya terpampang di depan mata, si suami mend

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   17. Melayani di Dalam Mobil

    Setelah Lennox berpamitan—lebih seperti salam penuh makna untuk Zuri—Axel langsung memasukkan pria itu ke daftar yang layak diwaspadai, bahkan dimusnahkan jika perlu.“Kau suka lagu-lagunya?” Axel bertanya santai, mengiris steak tanpa menatap Zuri.“Aku belum pernah mendengar lagu-lagunya,” jawab Zuri.Namun Axel tahu dari gerakan istrinya, kalau Zuri mencuri dengar suara Lennox tanpa menatap lama, terlihat menikmati.Lennox mencapai nada tinggi, menarik perhatian semua orang, termasuk Zuri. Axel mengakui suaranya luar biasa, sesuai reputasi. Lennox melirik ke arah mereka, tapi Zuri fokus pada piringnya—pilihan tepat kali ini, menurut Axel.“Aku ada rapat besok pagi. Kau ingin ikut pulang denganku atau lebih memilih tinggal di sini, menghabiskan malammu dengan mendengarkan putra angkat mendiang bibimu itu bernyanyi sampai selesai?” tanya Axel, nada datar, menyapu serbet ke bibir tanpa melihat Zuri.Zuri menatap suaminya, ragu. Melihat keraguan istrinya, Axel merasa kesal—perlu waktu l

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   16. Cemburu? Tidak!

    Perhatian orang-orang perlahan teralih. Tatapan tajam yang tadi menusuk kini jadi melemah, dan Zuri merasakannya. Setengahnya pasti karena kemesraan berlebihan yang mereka pertontonkan. Begitu melangkah masuk, alunan musik lembut menyambut, tapi tatapan kembali menghampiri. Kali ini berbeda—bukan lagi menyesakkan, melainkan penuh kekaguman dan iri terselubung dalam senyum sopan. Zuri jadi pusat gravitasi malam itu bersama Axel, menarik perhatian setiap pasangan di restoran.Apakah mereka semua mengenal Axel? Sebelum duduk, Axel mengecup pipi Zuri dekat telinga—sentuhan yang seharusnya mesra, tapi justru membuat bulu kuduk Zuri meremang.Bisikan berikutnya menusuk sebagai bentuk peringatan. “Mereka ada di sini karena undanganku. Sebagian besar ingin melihatku jatuh. Jangan sampai ada kesalahan, Zuri. Tetap ikuti permainanku. Aku yang akan menuntunmu.”Zuri tersenyum kecil sambil mengangguk, seolah kata-kata itu manis. Namun, tubuhnya bergetar—bukan getaran nikmat seperti saat berdua di

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   15. Melambung Tinggi

    Axel duduk di ruang keluarga rumah orang tuanya, muak dengan kepura-puraan ibunya, Marcella Nightvale.“Ibu sungguh tidak langsung menyetujui begitu saja rencana Aurelia, Nak,” bela ibunya, gelisah.“Tetap saja akhirnya Ibu setuju,” balas Axel, bernada kecewa yang tajam.“Bukan begitu,” sanggah Marcella, tapi kegelisahannya terlihat jelas.Axel membuang napas kasar. Bisa-bisanya Aurelia benar dan dia salah menilai ibunya sendiri. Peringatannya jelas—jangan ganggu Zuri—tapi ibunya malah mendukung rencana konyol itu. “Jika hal seperti ini terulang lagi, aku tidak akan pernah memaafkan Ibu,” tegasnya, menatap ibunya dalam-dalam, lalu beranjak pergi.Di ambang pintu, dia berpapasan dengan Zephyr Dusk. Axel tak membalas sapaan ramah pria itu, hanya melangkah pergi, tak peduli apa yang dikatakan Zephyr setelahnya. Perjalanan pulang lebih cepat dari biasanya—dia mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, amarah membakar dadanya.Saat tiba, dia melihat mobil Aurelia keluar dari gerbang rum

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   14. Istri yang Tidak Mau Dimadu

    Zuri hampir terlonjak dari ranjang saat Axel tak menawarkan, melainkan memaksa memakaikan pakaian ke tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang, rasa malu membakar wajahnya. Yang lebih memalukan, Axel tidak membiarkannya mengenakan bra dan celana dalam sendiri—tangan pria itu bergerak cepat, dingin, dan pasti, menyelipkan setiap helai kain ke kulit Zuri yang masih hangat, sedikit lengket oleh keringat setelah bercinta tadi. Axel mengambil botol parfum mahalnya, lalu menyemprotkan ke leher, pergelangan tangan, dan bahkan pinggul Zuri. Aroma kayu bercampur rempah menyengat hidung—sesuatu yang cuma ada di mimpi Zuri sebelumnya. Harganya mungkin lebih dari gaji setahunnya, jauh dari kemampuan untuk kebutuhan sehari-hari yang sudah menumpuk. Dia tak paham kenapa Axel melakukan ini—apa artinya? Tapi mulutnya terkunci, tidak berani bertanya. Hanya menatap bayangannya di cermin, diam. “Lihat,” ujar Axel, suaranya penuh kepuasan. “Bagus sekali.” Ia berdecak, jelas bangga dengan hasilnya. Zu

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   13. Terselubung Hasrat

    “Kuingatkan lagi, jangan mendahuluiku. Mengerti?” perintah Axel.Zuri mengangguk, menahan desahan meski sulit. Dia tak ingin kalah—tidak boleh klimaks lebih dulu.***Membaca pesan dari Daphne di ponselnya, Axel tertawa sinis.[Aku membencimu, Axel! Sangat benci!]Tadi Axel meninggalkan Daphne di gerai donat dengan alasan pekerjaan mendadak. Bohong, tentu saja. Dia hanya tidak ingin Zuri tiba di rumah lebih dulu dan kehilangan amunisi untuk mendesak sang istri—bercinta brutal dan habis-habisan diselingi amarahnya.Getar kedua masuk. Pesan dari Aurelia.[Aku sudah memberitahu ibuku dan ibumu mengenai hal yang kemarin kita bahas bersama. Ibumu tidak masalah jika kau menikahiku untuk sementara waktu karena alasan itu. Sekarang, keputusan ada di tanganmu, Axel. Bisakah kau membantuku?]Axel mengutuk dalam hati. Bajingan! Aurelia tidak menyerah. Dia sudah menolak tegas. Dua detik kemudian, pesan lain masuk. Dari wanita itu lagi.[Biarkan aku yang bicara pada istrimu.]Axel mengepal tinju, l

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   12. Suami Kejam

    Ini semua wujud ketakutan dan tekanan yang dia rasakan pada Axel. Andai dia bisa lebih santai menghadapi pria itu, mungkin kecemasan dan kegugupan tak akan sekuat ini. Tapi dia hanya pintar bicara dalam hati—nyatanya, ketakutan itu tak pernah hilang, bahkan di situasi biasa.“Zuri!” Tiba-tiba suara Axel menggelegar dari luar, diiringi ketukan keras di pintu.Zuri terlonjak, jantungnya nyaris berhenti. Dia buru-buru membuka pintu, tangannya gemetar hebat. Axel masuk, membanting pintu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyambar pinggang Zuri dengan kasar.“Ini kali kedua, Zuri,” katanya, mengingatkan dengan nada rendah yang menekan.Zuri bingung. Apa maksudnya? Axel menggertakkan gigi, rahangnya mengeras. Zuri menelan ludah, berusaha berani menatap wajah itu, tapi tiba-tiba Axel menghisap lehernya dengan kuat. “Akh!” Zuri mengerang pelan, tubuhnya menegang seketika.“Kenapa keningmu mengernyit? Kau tidak tahu apa kesalahanmu?” tanya Axel, tersenyum sinis. Seperti penjahat kej

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   11. Kemarahan dalam Setiap Gerakan

    Zuri melangkah masuk ke rumah, jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara Axel di ambang pintu.“Aku tiba di rumah lebih dulu darimu, Zuri.” Nada pria itu dingin, penuh tekanan, seolah menyindir keterlambatannya.Zuri menelan ludah. Axel bukan sedang menyambutnya, pria itu menegaskan kemenangannya. Semalam pria itu tidak pulang, dan kini menatap Zuri dengan wajah masam.Zuri terlambat membaca pesan peringatan Axel karena terpaku pada cerita Lennox Fairfax—putra angkat bibi Isolde yang baru dia kenal.“Apa alasanmu?” tanya Axel, suaranya setengah membentak, membuat Zuri tersentak.“Aku ... aku bertemu seseorang,” jawabnya pelan, tidak yakin harus menyebut Lennox atau tidak. Ceritanya terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang.“Sepenting itukah dia sampai kau mengabaikan peringatanku?” lanjut Axel, nadanya hati-hati tapi tajam, menusuk telinga Zuri.Zuri menunduk, sesekali melirik wajah Axel yang muram, lalu mengalihkan pandang ke sofa, dinding—apa saja selain mata si suami yang ta

สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status