Home / Rumah Tangga / Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku / 2. Hari Pertama Tanpa Malam Pertama

Share

2. Hari Pertama Tanpa Malam Pertama

Author: Velmoria
last update Last Updated: 2025-01-09 22:28:10

Zuri berdiri kaku di ruang persiapan, menatap gaun pengantin berwarna putih gading yang tergeletak di sisinya. Sorot matanya redup, menyimpan kekecewaan yang mendalam. Ini bukan pernikahan dengan Jaxon Holt. Hari ini, Axel Nightvale—kakak iparnya yang kini tak lagi terikat dengan Elysia Rosier, akan mengikatnya dalam sebuah ikatan yang dia benci.

Tiga puluh menit lagi, janji setia akan terucap. Tubuh Zuri menegang, jantungnya berdegup kencang. Dia ingin kabur, menghilang dari ruangan ini, tapi kenyataan menekannya seperti belenggu besi.

“Kenapa belum berpakaian?” Suara Axel memecah hening, tajam dan dingin.

Zuri mendongak cepat, melihat pria itu berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kaos putih dan celana olahraga hitam.

Tatapan Axel yang menusuk, membuat Zuri tersentak hingga napasnya tersendat.

Dia membuka mulut, tapi kata-katanya tercekat. “Aku … ingin istirahat sebentar,” jawabnya lemah, suaranya nyaris hilang.

“Tidak ada waktu.” Axel melangkah masuk, posturnya tegak penuh otoritas. “Kau akan membuang waktu untuk berpakaian dan berdandan. Lakukan sekarang.”

Zuri bangkit tergesa, kakinya tersandung properti pernikahan yang berserakan. Dia nyaris jatuh, tangannya mencengkeram gagang pintu dengan keras untuk menahan tubuhnya. Dia tidak berani menoleh ke Axel—bukan malu, tapi ketakutan akan sorot mata pria itu yang bisa menghukumnya dalam diam.

Di kamar ganti, dia duduk dengan tangan gemetar, menahan sesak yang menggumpal di dada dan mencegah tangis di pelupuk mata. Oh, gaunnya tertinggal di luar!

Mencoba menenangkan diri, Zuri berniat mengambilnya tanpa harus berhadapan lagi dengan Axel. Namun, pintu terbuka kasar.

Rupanya itu Axel. Gaun pernikahan Zuri digenggamnya erat. “Ini gaunmu,” katanya dingin, melemparkan gaun itu ke pangkuan Zuri tanpa basa-basi.

Zuri memandang gaun itu, air mata akhirnya pecah—tidak dapat dicegah lagi. Rasa takut, sedih, dan tertekan mencekiknya.

Axel menatap Zuri tajam, lalu tiba-tiba berlutut di depan si calon pengantin. Gerakan itu membuat Zuri terlonjak dengan detak jantung yang hampir berhenti.

“Kau kenapa?” Suara Axel merendah, tapi ada nada mengancam yang terselip.

“Aku tidak—”

“Jangan bertindak bodoh yang bisa menyulitkan kita,” potong Axel cepat, matanya menyipit. “Kau mengerti itu, bukan?”

Zuri mengangguk pelan, tubuhnya bergetar hebat. Senyum kecil muncul di wajah Axel—tipis, dingin, dan penuh tekanan, seolah memperingatkan bahwa satu langkah salah akan menghancurkan Zuri.

“Sebentar lagi penata riasmu akan masuk,” lanjut Axel sambil berdiri tegak. “Ingat tugasmu. Jadilah pengantin yang bahagia nanti. Tunjukkan pada semua orang bahwa kau puas dengan pernikahan ini, meski kau hancur sekalipun. Mengerti?”

Zuri mendongak sekilas, lalu menunduk cepat. “Aku mengerti,” gumamnya, suaranya tenggelam.

“Bagus.” Axel mengusap kepala Zuri sekilas—sentuhan yang terasa seperti perintah, bukan kelembutan. “Sampai bertemu dua puluh menit lagi.” Dia berbalik, langkahnya tegas meninggalkan ruangan.

Zuri menghela napas kasar, dadanya sesak. Kehadiran Axel membuatnya sulit bernapas, seperti udara di sekitarnya dipenuhi tekanan.

Tidak lama, seorang wanita paruh baya dengan jeans dan cardigan masuk, tersenyum lembut. “Nona Zuri, ayo ganti pakaianmu,” katanya.

Zuri mengangguk lemah. Dia menyerah. Mengikuti perintah Axel untuk memalsukan kebahagiaan di hadapan tamu, wajib dilakukan. Hari itu berlalu dengan kepura-puraan yang menguras tenaganya, tapi dia bertahan.

Malam harinya, Zuri tiba di rumah pribadi Axel. Kemegahan bangunan itu mencolok, penuh kemewahan di setiap sudut yang jelas terpampang di depan matanya.

Dia berdiri kaku di tengah ruangan kamar, pikirannya melayang pada Elysia yang pernah menikmati semua ini sebelum meninggalkannya untuk menggantikan posisi itu—menjadi istrinya Axel.

“Kita tetap berbagi kamar layaknya suami istri,” kata Axel tiba-tiba, suaranya memotong lamunan Zuri. Dia masuk, jari-jarinya membuka kancing kemeja pernikahan yang warnanya serasi dengan gaun Zuri. “Jangan lupakan tujuanku menikahimu. Berhenti menatapku seolah aku tidak berhak ada di sini.”

Zuri tersentak. Dia tidak sedang menatap Axel—pandangan mereka hanya bertemu secara tidak sengaja saat pria itu masuk. Axel menghempaskan diri ke tempat tidur, sikapnya santai tapi mengintimidasi.

Setelah mandi, Zuri kembali ke kamar. Axel sudah tertidur, miring ke kanan dengan kaus tipis putih dan celana panjang yang sama. Kemeja pernikahannya terlempar sembarangan di ranjang. Zuri berdiri membeku, bingung. Tidak ada sofa di kamar ini, dan dia terlalu takut untuk bergabung bersama Axel.

Memilih duduk di lantai beralas ambal berbulu cokelat, Zuri berada di sisi berlawanan dari Axel. Ada keinginan untuk berbaring di kasur yang sama, tapi ketakutan menguasainya.

Bagaimana jika Axel terbangun dan salah paham? Bagaimana kalau pria itu mengira dia siap memenuhi tujuannya malam ini? Zuri hanya bisa berharap dalam hati agar Axel tidur nyenyak sampai pagi.

Namun, kelelahan menyeretnya. Zuri terkulai di ambal itu, tertidur dalam posisi kaku. Fisik dan batinnya sudah di ambang batas.

***

Begitu pagi datang, sinar matahari menyelinap dari tirai, menusuk mata Zuri. Dia membuka mata perlahan, keningnya berdenyut pusing. Axel berdiri di dekat jendela, menyibak tirai dengan sengaja.

“Hei, jangan malas! Bangun dan kerjakan tugasmu,” bentaknya keras.

Zuri tersentak, buru-buru menyibak selimut yang entah kapan menutupinya. Dia tersandung ambal saat bangkit, tapi berhasil berdiri tegak. Kepalanya masih berputar pusing. Axel pasti mengangkatnya ke kasur, dia yakin itu meski ingatannya kabur.

“Aku cuma mau sarapan oatmeal dengan potongan pisang dan secangkir teh putih!” teriak Axel, suaranya menggema meski Zuri masih di dekatnya.

Zuri mengangguk cepat, tidak berani membantah. Pikirannya bertanya, apakah Axel juga sekeras ini pada Elysia? Jika iya, mungkin itu pemicu kakaknya melarikan diri, meski Elysia pernah mengaku mereka saling mencintai.

Di dapur, seorang wanita paruh baya—mungkin juru masak—menyambutnya dengan senyum tipis.

“Biar aku yang siapkan,” kata Zuri, membalas senyum itu sekilas.

“Baik, Nyonya. Panggil aku jika butuh sesuatu. Aku di halaman samping,” jawab wanita itu sebelum pergi.

Menyiapkan sarapan yang diinginkan oleh Axel tidak sulit sama sekali—semua bahan tersedia. Tapi saat Zuri kembali ke ruang makan, Axel muncul di ambang pintu.

“Ganti pakaianmu sekarang,” katanya tajam. “Semalam aku hampir kehilangan kendali karena apa yang kau kenakan.”

Zuri membeku. Wajahnya memucat, tubuhnya spontan bergetar. Dia masih memakai gaun tidur tipis dari semalam. “A-akan kuganti sekarang,” katanya cepat, sambil bergegas ke kamar.

Axel menyandarkan diri di kusen, menatap kepergian Zuri dengan ekspresi dingin. Dia menahan tawa melihat kepanikan wanita itu, tapi memilih diam. Setelah duduk di kursi meja makan, dia menunggu dengan sengaja untuk mencari celah memarahi Zuri lagi.

Zuri kembali dengan kaos putih dan celana longgar hitam, pakaian yang jelas dipilih untuk menghindari perhatian Axel. Pria itu mendengus, tapi tidak berkomentar.

Saat Zuri meletakkan sarapan, tangannya tergelincir. Gelas panjang berisi air tersenggol, tumpah membasahi kemeja Axel sampai ke bagian bawah.

“Axel, maaf!” Zuri buru-buru mengambil kain lap bersih, wajahnya pucat pasi. “Aku akan ambil pakaian—”

“Tidak usah!” Axel berdiri, menahan amarah. Cepat melepas kemejanya, lalu melemparkannya ke arah Zuri. Kain basah itu mendarat di kepala Zuri, menutupi wajah.

Zuri diam, tubuhnya kaku. Menurunkan kemeja itu perlahan dari wajahnya. Meremas kain dengan gemetar hebat.

Axel menatap Zuri yang entah bergumam apa. Keningnya seketika berkerut. “Bicara yang jelas!” bentaknya.

“Maaf, Axel,” jawab Zuri pelan, mendongak sekilas. “Aku akan ambil kemeja lain. Boleh aku cek lemari pakaianmu?”

Axel mendengus keras. “Tidak perlu. Bersihkan ini semua. Jangan panggil Dottie. Tugasmu cuma melakukan apa yang kuperintahkan.” Dia berbalik, meninggalkan Zuri dengan tubuh setengah telanjang, celana kerjanya sedikit basah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   3. Tidak Tergoda

    Di kantor, Axel keluar dari ruang rapat dengan perut kosong. Kekacauan pagi itu membuatnya kesal, fokusnya hilang.“Tuan Axel, ada tamu,” kata Oliver—salah satu karyawan terpercaya Axel, mendekat cepat.“Tamu?” Axel mengerutkan kening. Seingatnya, tidak ada jadwal tamu hari ini sampai nanti.“Itu Nyonya Zuri Everlyn. Istri baru Anda,” bisik Caden—asisten sekaligus sekretaris Axel yang berdiri tepat di sisinya.Axel menegang, pikirannya melayang ke Elysia sebelum tersadar pada kenyataan. “Biarkan dia menunggu. Aku perlu mengecek beberapa dokumen dulu,” katanya dingin, lalu masuk ke ruangan.Belum lama duduk, Axel gelisah tanpa alasan pasti. Zuri di Nightvale Corporation mengusiknya. Dia selalu melarang wanita masuk ke sini—bahkan Elysia. Tapi Zuri ada di sini sekarang. Hal itu membuatnya merasa terganggu dan tidak nyaman.Akhirnya, dia bergegas ke ruang yang biasa dijadikan tempat para tamu untuk bertemu dengannya. Membuka pintu, dia melihat Zuri duduk kaku, memegang kotak bekal ungu tu

    Last Updated : 2025-01-17
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   4. Bertemu Mantan Kekasih

    Zuri menunduk, menahan sakit hati. Bukankah Axel yang menuntut keturunan darinya? Lalu apa maksud perkataan itu? Menghela napas, coba menenangkan diri dengan tidak memedulikan hinaan Axel padanya. “Jadi apa salahku?”Axel Nightvale menatap Zuri dengan ekspresi dingin. “Pikirkan sendiri,” katanya ketus, lalu bangkit. Dia kesal—pada Zuri, tapi lebih lagi pada dirinya sendiri.Zuri bergeser gelisah di kursinya, tubuhnya kaku. Axel memperhatikan. Merasa ragu wanita itu bisa memenuhi tujuannya dalam waktu dekat. Tapi tidak masalah. Dia berniat memanfaatkan Zuri dengan caranya sendiri, mulai malam ini. Tunggu saja.“Ayo pulang,” perintahnya, melirik pintu rumah bibi Isolde tanpa maksud, tapi punya firasat.Zuri menoleh. “Kau sudah selesai?”“Memangnya kau mau apa dariku?” Axel balas bertanya, sengaja membuat Zuri terpojok. Dia ingin wanita itu merasa tak berdaya, meski hanya untuk kepuasannya sendiri.Zuri gugup, tangannya mencengkeram tepi kursi.Ketakutan itu lagi—tapi Axel yakin bukan dir

    Last Updated : 2025-01-19
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   5. Tidak Mau Menunda

    Axel Nightvale berdiri di sana. Zuri langsung gemetar. Tubuhnya berputar cepat menghadap suaminya. Dia berdoa dalam hati agar Axel tak mempermalukannya di tempat ini. Mungkin tidak sekarang, tapi di rumah, intimidasi pasti menanti.“Aku bertanya, istriku. Kenapa kau masih di sini dan belum pulang?” Nada Axel berubah lembut, tidak biasa. Dia bahkan menyebut Zuri ‘istriku.’Zuri melirik Cole, yang berdiri diam lima meter di sisinya. Axel melangkah mendekat, tersenyum hangat—senyum yang tidak pernah Zuri lihat sebelumnya. Apakah pria ini punya sisi seperti itu? Tetap saja, ketakutan menguasainya. Senyum itu terasa seperti topeng yang menyembunyikan ancaman.“Maaf, aku hanya turun sebentar untuk melihat kecelakaan di depan,” jawab Zuri pelan, tidak berani menatap mata Axel langsung. Pandangannya tertuju pada sepatunya sendiri.Axel menghela napas panjang. Zuri tidak tahu apakah itu tanda amarah atau kekesalan.“Lihat aku, Zuri. Angkat kepalamu,” perintahnya, tegas meski terkendali.Zuri me

    Last Updated : 2025-03-05
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   6. Ajari Aku

    Zuri menunduk, fokus menyabuni lengan Axel. “Belum. Kami belum pernah melakukannya,” jawabnya pelan.“Aku hanya bertanya tanpa tujuan,” kata Axel cepat, berusaha menutupi nada ingin tahunya.“Aku tahu,” angguk Zuri singkat.Axel mengerutkan kening. Apa Zuri sudah menebak rencananya? “Kita akan melakukannya malam ini. Kalau kau belum siap, kuberi waktu sampai tengah malam.” Menatap Zuri tajam, dia tidak mau menunda lagi.Zuri berhenti bergerak, tangannya diam di sana, lalu menatap Axel langsung—bukan dengan ketakutan, tapi keberanian kecil. Axel balas menatap, menantang Zuri. Tapi Zuri langsung menciut, menunduk dan melanjutkan menyabuni Axel.“Katakan apa yang ingin kau katakan,” desak Axel, kesal dengan sikap Zuri. Bergerak menuju bathtub, masuk ke dalam dan menegakkan punggung agar kembali disabuni Zuri.“Aku akan berusaha siap sebelum tengah malam,” balas Zuri, beralih ke punggung Axel. Pas sekali momen ini untuk menghindari tatapan si suami.“Harus. Kau harus siap. Ingat perjanjian

    Last Updated : 2025-03-09
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   7. Menggoda

    Zuri merinding, bulu kuduknya berdiri. Bercinta lagi? “Berbalik dan lihat aku,” perintah Axel, nadanya lebih tajam.Zuri menurut, berbalik perlahan. Wajah Axel tampan meski rambutnya berantakan—ulahnya semalam, menjambak dan mengacak-ngacak selagi menahan serangan Axel. Mereka saling menatap, hawa dingin pagi terasa dari tatapan pria itu.“Kau tidak mendengarku?” tanya Axel, suaranya nyaris kasar.“Aku mendengarmu,” jawab Zuri hati-hati, mengangguk. Axel suaminya, jadi dia harus menjalani ini dengan benar.“Karena aku yang menginginkannya lagi, apa itu artinya aku juga yang harus memulainya?” tanya Axel sinis.Zuri menelan ludah. “Kau suka aku memulainya dengan cara seperti apa?” balasnya pelan, langsung menyesal bertanya.“Kau minta diajari lagi?” Axel menyeringai, alisnya bertaut. Zuri mengangguk, tidak tahu harus jawab apa. Jujur, ini sungguh pengalaman pertamanya.“Coba mulai dengan menggodaku,” perintah Axel.Zuri mengerjap bingung, lalu bangkit duduk. Selimutnya merosot, memperl

    Last Updated : 2025-03-09
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   8. Istri Kedua?

    Kini, Aurelia kembali ke Valmont bersama Ronan dan Alina. Ibunya terkejut, begitu pula Axel, tapi bedanya, ibunya selalu ingin tahu, sementara Axel tidak ambil pusing.Kemarin, Gideon Cross—orang kepercayaan Axel, memberitahu bahwa Aurelia bercerai dari Ronan Donovan, pria kasar yang menghabiskan kekayaannya di meja judi.Axel melirik jam tangannya. Pukul sebelas lewat dua puluh menit. Zuri pasti sudah tidur. Terakhir dia melihat istrinya itu mengeringkan rambut sambil menatap ponsel, tidak menyadari kepergiannya. Dia sengaja tak memberitahu ke mana dia pergi atau di mana dia akan bermalam. Menurutnya, Zuri tidak berhak tahu.“Alina memang sudah mengantuk. Ini jam tidurnya, tapi karena terus batuk, dia gelisah dan sulit tidur,” kata Aurelia, muncul kembali. Kali ini, dia tak duduk di seberang Axel, melainkan di sisinya.“Sekarang bagaimana?” tanya Axel, nadanya tetap datar.Aurelia tersenyum lembut—senyum yang bisa membuat hati bergetar. “Dia sudah tertidur pulas setelah aku ikut tidur

    Last Updated : 2025-03-15
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   9. Pria dengan Sorot Mata yang Hangat

    “Oh, sebentar. Biar aku ambil ponselku dulu, Nyonya,” jawab Dottie, bergegas mengambilnya.Zuri lega—Dottie tidak curiga. Dia mendapat nomor Axel dan ragu menelepon, takut mengganggu. Akhirnya, dia memilih mengirimkan pesan.[Axel, ini Zuri. Aku minta izin untuk ke rumah mendiang bibi Isolde. Aku janji tidak akan lama.]Dia menghela napas, lalu memanggil Cole yang sedang duduk membaca buku di ruang tamu. Pemandangan itu menghibur hatinya—pria dengan buku.“Ke jalan Fairview, Nyonya?” tanya Cole, berdiri tegak. Seolah tahu ke mana tujuan Zuri. Sebab selama ini, sang nyonya memang jarang minta diantarkan selain ke rumah mendiang bibinya.Zuri mengangguk. “Ya,” jawabnya singkat dengan senyum.Perjalanan delapan belas menit berlalu dalam diam yang canggung. Cole masih memanggilnya ‘Nyonya’, membuat Zuri merasa jarak itu tidak pernah berkurang.“Silakan hubungi aku ketika Anda selesai, Nyonya,” kata Cole, menyerahkan secarik kertas dengan nomornya.Zuri mengangguk, menerimanya. Cole jelas m

    Last Updated : 2025-03-16
  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   10. Pria Beristri

    [Axel, ini Zuri. Aku minta izin untuk ke rumah mendiang bibi Isolde Brooks. Aku janji tidak akan lama.] Axel menghela napas, langsung menghubungi Caden, sebelum mencerna pesan Zuri yang sebenarnya sudah jelas. Ada apa dengannya? Pikirannya terasa kacau. Axel melirik ke kiri. Daphne Fontaine duduk di kursi tunggal, kaki bersila, memandangnya dengan tatapan menusuk. Tingkah Daphne selalu mengkhawatirkan, membuatnya harus waspada. “Kenapa menatapku begitu? Jam tidurmu masih kurang?” tanya Daphne ketus, matanya tak lepas dari Axel. “Tutup mulutmu. Kau penyebab aku berada di sini. Sangat menderita tidur di sofa,” balas Axel tidak kalah tajam, lalu kembali berbaring. Terlambat ke kantor, dia sudah merencanakan alasan untuk mengelabui Caden agar mengerjakan semua tugasnya tanpa banyak tanya. “Salahmu,” kata Daphne, mengangkat sebelah bahu. “Karena tidak mau masuk ke kamar dan tidur di ranjang bersamaku.” Axel berdecak, memelototi gadis itu. “Aku pria beristri,” tegasnya, kesal. “Ah, al

    Last Updated : 2025-03-17

Latest chapter

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   19. Masih Takut Padanya

    Zuri mencoba mendorong dada Axel, tapi si suami menahan tangannya, menjepitnya di antara tubuh mereka. Napas Zuri memburu, seakan ingin protes, tapi Axel lebih dulu menunduk, membiarkan bibirnya menyentuh tengkuk Zuri. Zuri menggigil, tubuhnya bergetar hebat, wajahnya memerah dengan campuran ketakutan dan hasrat.Axel meniup tepat di bawah telinga Zuri, membuat si wanita menegang. Bahkan mungkin bila Zuri lari darinya, pasti mudah bagi Axel menemukannya. Menariknya kembali, bahkan jika harus mengikat paksa agar tidak ke mana-mana.Zuri mengerang pelan, matanya terpejam seolah terbawa sensasi itu.Axel merasakan desahan Zuri, campuran ketakutan dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih gelap. Lebih dalam. Dia akan menghabiskan setiap detik untuk memastikan Zuri tidak punya pilihan selain tetap di sini.Jari-jari Axel menyeret naik ke tengkuk Zuri, menahan gerakannya saat wanitanya berusaha menghindar. Napas Zuri berembus cepat, seperti ingin melawan, tapi Axel tak memberi kesempatan. D

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   18. Di Sela-Sela Desahan

    “Kau gugup?” Suara Axel tetap tenang, nyaris malas, padahal dia sangat menikmati ini. “Coba katakan, apa yang kau rasakan?”Zuri menelan ludah, matanya masih terkunci pada mata Axel, seolah mencari celah untuk memastikan dia tidak melakukan kesalahan. Wajahnya penuh ketegangan, bibirnya bergetar halus. “Aku ... aku hanya takut melakukan kesalahan,” bisiknya, suaranya hampir tenggelam dalam keheningan mobil.Axel menarik lengan Zuri, merasakan getaran halus di bawah kulitnya. Manis. Sangat manis. Zuri selalu terlihat paling menarik saat begini—takut, ragu, tapi tetap berusaha menuruti keinginannya. Dia tersenyum tipis, puas dengan kelemahan yang terpancar dari wajah Zuri.“Santai saja.” Senyum tipis terangkat di bibir Axel. “Aku akan menuntunmu, Zuri. Yang perlu kau lakukan hanya satu—fokus memberiku bayi laki-laki.”Zuri mengangguk, matanya melemah sejenak, menunjukkan kepasrahan. Axel menuntunnya dengan sabar di awal. Namun ketika kewanitaannya terpampang di depan mata, si suami mend

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   17. Melayani di Dalam Mobil

    Setelah Lennox berpamitan—lebih seperti salam penuh makna untuk Zuri—Axel langsung memasukkan pria itu ke daftar yang layak diwaspadai, bahkan dimusnahkan jika perlu.“Kau suka lagu-lagunya?” Axel bertanya santai, mengiris steak tanpa menatap Zuri.“Aku belum pernah mendengar lagu-lagunya,” jawab Zuri.Namun Axel tahu dari gerakan istrinya, kalau Zuri mencuri dengar suara Lennox tanpa menatap lama, terlihat menikmati.Lennox mencapai nada tinggi, menarik perhatian semua orang, termasuk Zuri. Axel mengakui suaranya luar biasa, sesuai reputasi. Lennox melirik ke arah mereka, tapi Zuri fokus pada piringnya—pilihan tepat kali ini, menurut Axel.“Aku ada rapat besok pagi. Kau ingin ikut pulang denganku atau lebih memilih tinggal di sini, menghabiskan malammu dengan mendengarkan putra angkat mendiang bibimu itu bernyanyi sampai selesai?” tanya Axel, nada datar, menyapu serbet ke bibir tanpa melihat Zuri.Zuri menatap suaminya, ragu. Melihat keraguan istrinya, Axel merasa kesal—perlu waktu l

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   16. Cemburu? Tidak!

    Perhatian orang-orang perlahan teralih. Tatapan tajam yang tadi menusuk kini jadi melemah, dan Zuri merasakannya. Setengahnya pasti karena kemesraan berlebihan yang mereka pertontonkan. Begitu melangkah masuk, alunan musik lembut menyambut, tapi tatapan kembali menghampiri. Kali ini berbeda—bukan lagi menyesakkan, melainkan penuh kekaguman dan iri terselubung dalam senyum sopan. Zuri jadi pusat gravitasi malam itu bersama Axel, menarik perhatian setiap pasangan di restoran.Apakah mereka semua mengenal Axel? Sebelum duduk, Axel mengecup pipi Zuri dekat telinga—sentuhan yang seharusnya mesra, tapi justru membuat bulu kuduk Zuri meremang.Bisikan berikutnya menusuk sebagai bentuk peringatan. “Mereka ada di sini karena undanganku. Sebagian besar ingin melihatku jatuh. Jangan sampai ada kesalahan, Zuri. Tetap ikuti permainanku. Aku yang akan menuntunmu.”Zuri tersenyum kecil sambil mengangguk, seolah kata-kata itu manis. Namun, tubuhnya bergetar—bukan getaran nikmat seperti saat berdua di

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   15. Melambung Tinggi

    Axel duduk di ruang keluarga rumah orang tuanya, muak dengan kepura-puraan ibunya, Marcella Nightvale.“Ibu sungguh tidak langsung menyetujui begitu saja rencana Aurelia, Nak,” bela ibunya, gelisah.“Tetap saja akhirnya Ibu setuju,” balas Axel, bernada kecewa yang tajam.“Bukan begitu,” sanggah Marcella, tapi kegelisahannya terlihat jelas.Axel membuang napas kasar. Bisa-bisanya Aurelia benar dan dia salah menilai ibunya sendiri. Peringatannya jelas—jangan ganggu Zuri—tapi ibunya malah mendukung rencana konyol itu. “Jika hal seperti ini terulang lagi, aku tidak akan pernah memaafkan Ibu,” tegasnya, menatap ibunya dalam-dalam, lalu beranjak pergi.Di ambang pintu, dia berpapasan dengan Zephyr Dusk. Axel tak membalas sapaan ramah pria itu, hanya melangkah pergi, tak peduli apa yang dikatakan Zephyr setelahnya. Perjalanan pulang lebih cepat dari biasanya—dia mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, amarah membakar dadanya.Saat tiba, dia melihat mobil Aurelia keluar dari gerbang rum

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   14. Istri yang Tidak Mau Dimadu

    Zuri hampir terlonjak dari ranjang saat Axel tak menawarkan, melainkan memaksa memakaikan pakaian ke tubuhnya. Jantungnya berdetak kencang, rasa malu membakar wajahnya. Yang lebih memalukan, Axel tidak membiarkannya mengenakan bra dan celana dalam sendiri—tangan pria itu bergerak cepat, dingin, dan pasti, menyelipkan setiap helai kain ke kulit Zuri yang masih hangat, sedikit lengket oleh keringat setelah bercinta tadi. Axel mengambil botol parfum mahalnya, lalu menyemprotkan ke leher, pergelangan tangan, dan bahkan pinggul Zuri. Aroma kayu bercampur rempah menyengat hidung—sesuatu yang cuma ada di mimpi Zuri sebelumnya. Harganya mungkin lebih dari gaji setahunnya, jauh dari kemampuan untuk kebutuhan sehari-hari yang sudah menumpuk. Dia tak paham kenapa Axel melakukan ini—apa artinya? Tapi mulutnya terkunci, tidak berani bertanya. Hanya menatap bayangannya di cermin, diam. “Lihat,” ujar Axel, suaranya penuh kepuasan. “Bagus sekali.” Ia berdecak, jelas bangga dengan hasilnya. Zu

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   13. Terselubung Hasrat

    “Kuingatkan lagi, jangan mendahuluiku. Mengerti?” perintah Axel.Zuri mengangguk, menahan desahan meski sulit. Dia tak ingin kalah—tidak boleh klimaks lebih dulu.***Membaca pesan dari Daphne di ponselnya, Axel tertawa sinis.[Aku membencimu, Axel! Sangat benci!]Tadi Axel meninggalkan Daphne di gerai donat dengan alasan pekerjaan mendadak. Bohong, tentu saja. Dia hanya tidak ingin Zuri tiba di rumah lebih dulu dan kehilangan amunisi untuk mendesak sang istri—bercinta brutal dan habis-habisan diselingi amarahnya.Getar kedua masuk. Pesan dari Aurelia.[Aku sudah memberitahu ibuku dan ibumu mengenai hal yang kemarin kita bahas bersama. Ibumu tidak masalah jika kau menikahiku untuk sementara waktu karena alasan itu. Sekarang, keputusan ada di tanganmu, Axel. Bisakah kau membantuku?]Axel mengutuk dalam hati. Bajingan! Aurelia tidak menyerah. Dia sudah menolak tegas. Dua detik kemudian, pesan lain masuk. Dari wanita itu lagi.[Biarkan aku yang bicara pada istrimu.]Axel mengepal tinju, l

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   12. Suami Kejam

    Ini semua wujud ketakutan dan tekanan yang dia rasakan pada Axel. Andai dia bisa lebih santai menghadapi pria itu, mungkin kecemasan dan kegugupan tak akan sekuat ini. Tapi dia hanya pintar bicara dalam hati—nyatanya, ketakutan itu tak pernah hilang, bahkan di situasi biasa.“Zuri!” Tiba-tiba suara Axel menggelegar dari luar, diiringi ketukan keras di pintu.Zuri terlonjak, jantungnya nyaris berhenti. Dia buru-buru membuka pintu, tangannya gemetar hebat. Axel masuk, membanting pintu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menyambar pinggang Zuri dengan kasar.“Ini kali kedua, Zuri,” katanya, mengingatkan dengan nada rendah yang menekan.Zuri bingung. Apa maksudnya? Axel menggertakkan gigi, rahangnya mengeras. Zuri menelan ludah, berusaha berani menatap wajah itu, tapi tiba-tiba Axel menghisap lehernya dengan kuat. “Akh!” Zuri mengerang pelan, tubuhnya menegang seketika.“Kenapa keningmu mengernyit? Kau tidak tahu apa kesalahanmu?” tanya Axel, tersenyum sinis. Seperti penjahat kej

  • Terjebak dalam Pernikahan Suami Kakakku   11. Kemarahan dalam Setiap Gerakan

    Zuri melangkah masuk ke rumah, jantungnya berdegup kencang saat mendengar suara Axel di ambang pintu.“Aku tiba di rumah lebih dulu darimu, Zuri.” Nada pria itu dingin, penuh tekanan, seolah menyindir keterlambatannya.Zuri menelan ludah. Axel bukan sedang menyambutnya, pria itu menegaskan kemenangannya. Semalam pria itu tidak pulang, dan kini menatap Zuri dengan wajah masam.Zuri terlambat membaca pesan peringatan Axel karena terpaku pada cerita Lennox Fairfax—putra angkat bibi Isolde yang baru dia kenal.“Apa alasanmu?” tanya Axel, suaranya setengah membentak, membuat Zuri tersentak.“Aku ... aku bertemu seseorang,” jawabnya pelan, tidak yakin harus menyebut Lennox atau tidak. Ceritanya terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang.“Sepenting itukah dia sampai kau mengabaikan peringatanku?” lanjut Axel, nadanya hati-hati tapi tajam, menusuk telinga Zuri.Zuri menunduk, sesekali melirik wajah Axel yang muram, lalu mengalihkan pandang ke sofa, dinding—apa saja selain mata si suami yang ta

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status