Celana abu muda menggantung di mata kaki berpadu atasan blouse putih, membuat penampilan Shanumi terlihat segar, elegant dan cerah.
Rambutnya diikat tinggi dengan wajah berpoles tipis menarik. Meski kesan bengkak masih menyisa, kecantikan raganya tidak bisa ditutupi. “Sudah minum suplemenmu, Shan?” Yena menghampiri Shanumi di kursi dapur. “Sudah, barusan. Thanks, Yen.” Shanumi yang barusan berbincang dengan pegawai dapur, mendekat dan duduk di dekat Yena. Menerima segelas lemon madu hangat dari sang karib dan meminumnya hingga tandas. “Meski wajahmu belum pulih, cantikmu mulai kembali, Shan. Semangat, ya. Jika nggak menang dan wanita itu datang minta uang, pakai aja duit kafe. Sisanya kita kejar…,” ucap Yena membujuk. Iba jika Shanumi sebenarnya tertekan dan banyak yang dipikir. “Jangan, aku nggak mau ngusik dana kafe. Takut tiba-tiba sepi dan ngaruh ke gaji mereka. Pasti ada dana dari pintu lain. Kamu jangan risau, Yen.” Shanumi berkata sambil meletak gelas kosong di meja sebelahnya. Seorang pegawai berkemas datang dan menyambar untuk dicuci di belakang. Setelah lanjut berbincang sejenak, Shanumi pamit pergi dengan menaiki tangga untuk mengambil tas ke lantai dua di ruko atas. Tempat menginap pribadinya. Namun, para pegawai juga diizinkan ke atas untuk melepas lelah saat istirahat. Ada dua kamar tidur dan satu kamar mandi di atas. Satu kamar khusus untuknya, satu lagi untuk pegawai gunakan bergiliran. Kebetulan, orang kafe semua perempuan. Gedung Tunjungan Plaza Surabaya masih sepi saat Shanumi tiba di sana. Hanya segelintir orang hilir mudik dan petugas cleaning servis yang bekerja. Seorang sekuriti menyapa Shanumi yang terlihat bimbang. Kemudian membawa gadis semampai itu menaiki eskalator menuju lantai empat. Menghampiri sebuah pintu yang menerangkan ruang informasi, pelayanan dan pemasaran khusus perhotelan di dalamnya. Petugas itu mengetuk pintu. Seorang wanita muda dari tim operasional menyambut dan membawa masuk ke dalam. Rupanya ruang luas berisi banyak kursi yang sudah diisi orang-orang. Mereka semua adalah peserta kompetisi masak pada babak penyisihan yang sehari sebelumnya sudah pengajuan daftar via online. “Ini adalah ujian seleksi singkat akan kemahiran saudara semua di bidang rempah dan kuliner. Dari sekian banyak, yakni dua puluh lima peserta, kami hanya mengambil sembilan peserta untuk mengikuti tahapan seleksi berikutnya.” Wanita tadi telah membuka acara, beramah tamah sebentar dan langsung ke acara. Sarana seleksi cukup gampang. Menggunakan aplikasi pada notebook di setiap meja peserta yang sudah siaga dan menyala. Dengan hitungan start serentak, mereka diminta menuliskan sebanyak mungkin ragam rempah terpendam beserta warna dan rasa. Tentu dengan waktu dibatasi secara bersamaan juga. Tidak lupa berdoa, Shanumi berusaha tenang dan cepat saat menuliskan ragam rempah terpendam mulai dari jahe, kunyit, kencur, laos dan lain-lain. Juga tidak ada kesulitan saat mendevinisi rasa dan warna di setiap jenis bumbu yang dia tuliskan. Hingga waktu berakhir dan notebook terkunci otomatis lagi di masing-masing meja peserta. Tim juri mengambil dari yang menyebut paling banyak, kemudian pada ketepatan warna dan devinisi rasa. Shanumi tidak berhenti berdoa agar dirinya berkesempatan menjadi peserta seleksi terpilih untuk maju di tahap berikutnya. Betapa berdebar hati di dada, juri sedang bersiap menyebut sembilan nama sebagai pengumuman. Andai nama tak ada pun iklas, tetapi jika nama disebut lebih merasa puas! Sangat lega dan masih juga terkejut saat nama Shanum pun disebut, bahkan pada urutan yang pertama. Sebagai penyebut paling banyak dengan devinisi rasa dan warna yang hampir sempurna. Sangat tidak sia-sia sang Ibu menanam beragam toga dan rempah di belakang rumah. Sedang menyiram dan merawat adalah tugas Shanumi. Tentu saja sambil memanen dan menggunakannya selang seling. Tak terasa jadi hapal di luar kepalanya. “Bagi sembilan nama yang lolos, silahkan menuju Hotel Rasyid di Jalan Pahlawan hingga tujuh jam ke depan. Semua mendapat fasilitas kamar masing-masing hingga tiba lomba. Bukan keharusan untuk menggunakan. Yang terpenting adalah, semua ada tepat waktu saat kompetisi dimulai pukul enam lepas maghrib.” Wanita pembicara tadi kembali menerangkan. Shanumi memilih kembali ke kafe dan tidak tertarik mengambil peluang kamar gratis di Hotel Rasyid. Menduga jika nama hotel itu ada hubungan dengan Daehan seperti yang dibilang Yena. Tidak berharap bertemu dengan orangnya, tetapi amat mengharap dapat uangnya. Bisa jadi selama kompetisi, pria itu sama sekali tidak usah unjuk gigi. Seorang owner bisanya sekedar bayang di balik layar, bukan terjun langsung dalam pagar. Itulah harapannya. “Ah!” jerit Shanumi kaget. “Matamu di mana? Hah… kamu…?!” sambar wanita cantik yang terbelalak pada Shanumi. “Kamu sudah kembali…,” ucap Shanumi lebih terkejut lagi saat sadar bahwa perempuan yang tak sengaja dia tabrak adalah Intana. Uh, kenapa juga nabrak dia lagi.... “Kamu memang bawa sial. Terus saja tabrak aku. Naik ganti rugi, tujuh puluh juta! Kamunya mampu nggak…?!” sembur Intana sinis dan mengejek. “Ada apa, Tan?” Seorang lelaki yang baru muncul dari pintu di lorong bertanya. Shanumi kembali terkejut. Namun, menduga jika Daehan kini tidak lagi mengenal dirinya, maka memilih pura-pura abai dan memandang sekilas. Coba bertenang dengan mengambil napas dalam-dalam. “Ini cewek, ceroboh minta ampun. Jalan sembarangan. Hari itu mobilku ditabraknya dengan motor dan ganti rugi nggak kelar-kelar, sekarang perutku ditabrak yang aku hampir terjengkang!” ucap Intana berapi-api. “Sudah kubilang, aku nggak sengaja!” sambar Shanumi emosi pada Intana. Bagaimana bisa sesama manusia sangat minim rasa maaf. “Sengaja nggak sengaja, kelakuanmu merugikanku. Makanya, jangan ngelamun sembarangan di jalan!” ucap Intana kasar. “Aku minta maaf kali ini. Tapi jangan kian memerasku dengan naikin ganti rugi.” Shanumi bicara tegas. Matanya yang bening menatap tajam Intana. Juga sekilas pada Daehan yang sedang berkerut dahi memandangnya. “Aku akan menghubungimu nanti, Intana. Permisi ....” Shanumi bicara pada Intana. Namun, menyapa sopan dan sedikit mengangguk pada Daehan sebelum buru-buru berlalu. Yakin jika lelaki itu kini muncul, pasti bakalan turun juga di kompetisi malam nanti. Tidak ingin meninggalkan kesan buruk jika Daehan ingat pernah melihat Shanumi di sini malam nanti. "Hei, kamu!" Seruan ini menghentikan langkah Shanumi. Daehan sedang menudingnya saat berbalik. "Saya, Mas?!" respon Shanumi ragu. Lelaki itu mengangguk. "Apa urusan kamu di sini?" tanya Daehan sambil menurunkan tangannya yang tadi menunjuk. Dia sangat hapal jika gadis itu bukan pegawai di kantor ini. "Saya ikut seleksi lomba masak, Mas." Shanumi menjawab sopan. Namun, berlagak tidak tahu jika lelaki itu adalah Daehan sang owner kompetisi. Maka lebih memilih memanggil Mas. "Hasilnya...?" tanya Daehan lagi dengan suara berat yang khas. "Alhamdulillah. Saya lolos seleksi sembilan orang, Mas," sahut Shanumi tanpa beban. Memberikan ekspresi cerah dan gembira. Senyum tipisnya sangat manis. "Ayoklah, Mas. Cepet dikit. Aku sudah sangat lapar!" Intana menarik tangan Daehan sambil melirik tajam pada Shanumi. "Kamu berharap menang buat ganti rugi, ya? Kasihan amat hidupmu!" Intana sempat bicara pada Shanumi sebelum pergi. "Jangan terlalu tidak sopan, Tan." Daehan menegur sambil terus berjalan. Suaranya kian berat dan membahana. Meninggalkan Shanumi yang mengambil arah pintu berlawanan. Mungkin sepasang tunangan itu akan mencari makanan dalam plaza. "Jika aku jahat, mungkin tidak terlalu sulit merebut calon suami kamu, Intana...," ucap Shanumi sambil menggigit telunjuk dan memperlambat jalan. Rasa kesal dengan sikap Intana yang sombong, membuat otak gadis itu sejenak jadi oleng. Amarah dan terhina bisa membuat seseorang berubah sikap dan haluan. 🍓 Tinggalin jejak agar penulis semangat! 😘Shanumi melambat langkah dan segera memutar lewat pintu belakang ruko. Dadanya kembali tidak aman dengan degub jantung lebih kencang. Bagaimana tidak… Daehan terlihat duduk makan dengan santai di kafenya! Meski sadar sebab dibawa Intana, rasa teruja tetap ada. Seorang pembesar hotel berbintang datang ke kafe sekecil ini. Bahkan disinyalir oleh Yena, lelaki tampan itulah pemiliknya. Yena jauh lebih lama dari Shanumi tinggal di Surabaya. Apalagi letak kafe ini cukup dekat dengan Hotel Rasyid di jalan yang sama, Jalan Pahlawan. Pasti ucapan Yena bukanlah asal dan karangan. Fakta …?!Bersit serakah, peluang dalam kesempitan dan pemerasan pada Daehan kembali berkelebat di kepala Shanumi yang memang tidak berkerudung. Bukan salahnya, tetapi sebab Intana yang arrogant dan janji lelaki itu terhadapnya. Jadi, tidak salah jika ini adalah kesempatan emas yang musti diambil. “Shan… tolongin, Shan. Lemes akunya…!” seru Yena saat sampai di lantai atas. Dia sempat melihat Shanumi datang lewat pin
Dari peserta paling ujung sebelah kiri, bergiliran membawa baki berisi semangkuk kecil masakan ke meja Daehan. Lalu berdiri di hadapan sampai pria terhormat itu puas mencicipi dan kemudian menyuruh pergi. Hingga kini tiba giliran Shanumi. “Terima kasih sudah diberi kesempatan, Pak. Semoga berkenan dan harap dipertimbangkan hasil olah tangan saya.” Shanumi mundur dan bicara setelah meletak mangkuk sotonya di hadapan Daehan. Lalu melangkah ke belakang lagi dan berdiri menunggu tanpa melirikkan mata pada Intana. Terlihat tenang, padahal dalam dada jumpalitan. Daehan seperti tersedak, tetapi tidak mampu menghentikan suapan soto yang terasa nikmat dan segar itu sampai di tetes terakhir. Sempat memandang gadis cantik di depannya dan merasa heran. Kenapa tidak tampak terkejut atau menunjuk perilaku pernah melihat Daehan sebelumnya? Tidak mungkin gadis itu lupa bahwa dirinya, owner Hotel Rasyid adalah kekasih Intana yang selalu bersikap tidak ramah padanya. Daehan menilai jika Shanumi a
Shanumi yang mendapat hantaman keras dan mengira jika dirinya akan terjengkang, ternyata tidak. Daehan telah menangkap cepat punggungnya. Harum wangi dari badan besar dan tinggi telah melenakan sesaat. Dua badan beda gender itu terlihat seperti saling peluk sebelum sama-sama menjauhkan diri tergesa. Shanumi benar-benar merasa degub kencang dan gugup. “Anda ini kenapa?” tanya Shanumi ketus tetapi salah tingkah. Lelaki itu menatapnya tenang seperti tidak terkejut. “Aku lupa membawa dompetku… tetapi kamu tiba-tiba berbalik. Jalanmu cepat nggak lihat haluan. Aku nggak sempat menghindarimu.” Daehan bicara tenang sambil bergeser mendekat ke meja dan menarik laci. “Ini kartu namaku. Daripada kamu nyesel nggak nyimpan nomorku,” ucap Daehan sambil mengulurkan selembar kartu nama. Shanumi menerima tanpa kata. Pria itu kembali berlalu meninggalkannya. Seperti tidak ada dompet yang diambil Daehan dari laci, hanya mengambil selembar kartu yang kini digenggamnya. “Memang. Dia pengertian juga…
Shanumi pergi ke kamar dan merebah lelah. Kaki sudah dia cuci pada air kran di luar sebelum masuk. Untuk shalat isya yang masih tertanggung sedang direncana agak belakangan. Yang penting baginya pasti kontan. “Padahal kelakuan Intana keterlaluan, tapi Daehan muji-mujinya padaku kelewatan. Hemmm, berwawasan dan berpendidikan konon. Tapi selingkuh…,” ucap Shanumi dengan pandang menerawang di plavon kamar.Jadi agak merasa iba pada Daehan. Pria yang terlihat sempurna dengan kesuksesan dunia, ternyata tega dikhianati wanita yang dicinta. Apa kecurangan Intana sama sekali tidak terendus? Begitu sibukkah Daehan, hingga Intana merasa kesepian? Tapi mereka belum menikah, jika sudah bersedia harusnya memahami. Padahal juga sering terlihat berduaan, masih saja merasa kurang perhatian. Harusnya Intana paham jika Daehan sangat sibuk. Ah, itu alasan Intana saja. Bukankah Erick sebagai seorang pilot pasti jauh lebih sibuk juga? Kesibukan dan keminiman waktu yang dimiliki Ericklah satu penyebab
Mata tajam bak elang itu tengah menatap dalam di wajah Shanumi. “Anda… sudah tahu bahwa saya adalah …,” ucap Shanumi tercekat. Meski sudah menduga, tetapi saat Daehan bicara menyindir, rasanya terkejut. “Shazleen Shanumi, kamu pikir aku sudah pikun? Bahkan namamu pun sudah membuatku seperti trauma.” Daehan berdiri dan merendahkan pandangannya pada Shanumi. “Jika saya bikin Anda trauma, tapi kenapa justru diminta di sini? Kenapa tidak didish saja dari sebelum lomba kemarin? Malah juara, meski sudah dicurangi…,” ucap Shanumi tahu diri. Tidak lupa jika Daehan memang tidak ingin melihat sosoknya lagi. “Aku tidak sebrutal itu. Bukan salahmu. Lagipula kamu berhak dengan pendidikanmu yang cukup tinggi. Sayang jika seorang sarjana hanya jadi kasir di kafe kecil. Kasihan ortumu.” Daehan bicara tenang. Tidak sinis dan tidak terlihat kesal. “Lah, yang penting kan halal, bukan jual diri. Sekarang, saya malah jadi pelayan orang. Demi uang…,” ucap Shanumi iseng, bukan tak paham maksud Daehan.
Beberapa hari ini Shanumi ingin menghubungi sang ibu. Namun, selalu gagal sambung yang membuatnya resah dan galau. Terlebih, ada hal penting yang harus dia sampaikan secepat mungkin. “Assalamu'alaikum, Buk!” seru Shanumi lega saat dial-nya tersambung kali ini, di hari yang ke empat. “Aku baik-baik saja. Ibuk bagaimana? Kenapa jaringan mati terus? Habis baterai atau di luar? Kenapa nggak isi data?!” tanya Shanumi bertubi pada sang ibu di seberang di Kota Batu. Ternyata ada masalah pada sambungan wifi rumah sebab angin kencang yang mengguncang kawasan Batu dan Malang beberapa hari belakangan. Sedang ibunya tidak ingat membeli kuota paket data. Shanumi pun lalai tidak mengisikan. Pulsa biasa pun, mereka sedang sama-sama tidak punya. Hanya kuota data yang Shanumi ada. “Buk, ada hal penting… aku nggak jadi ingin ketemu Mas Erick. Jangan jadi bilang di mana alamatku, ya. Bilang terus kalo aku belum ngasih alamatku. Ya, Buk…,” ucap Shanumi resah. Gadis itu berjalan mondar mandir di ruang
Nama Erick mana yang disebut Daehan dalam perbincangan? Benarkan pilot tampan yang pernah dekat dengannya sekaligus selingkuhan Intana? Lalu apa urusan dengan Daehan yang membuat mereka berhubungan? Bisniskah? Namun, fakta jika nama Erick sangat melimpah di seluruh Indonesia Raya, membuat perasaan Shanumi sedikit lebih tenang. “Tumben gak make up, Shan,” tegur temannya yang masuk pukul tujuh saat papasan di pintu masuk dapur.“Iya, buru-buru. Tadi aku datang pukul enam lebih. Suruh ikut ke Batu sama Pak Bos.” Shanumi menyambar panci dan mengisi air, kemudian merebusnya dengan api level membara. “Tapi kamu seger aja nggak pake bedak. Coba aku, bukan muka bantal aja, sekalian muka kasur, guling dan selimut nya…,” keluh Dian, nama teman Shanumi sambil menyimpan tas dalam almari. “Ish, lebay amat. Itu sama aja, perasaan aku pun muka kartun. Nggak enak, nggak nyaman, Yan …!” Shanumi mengaduk kopi yang sudah diseduh sambil tertawa pada Dian yang mendekat. “Eh, dengar-dengar Pak Bos mau
Mobil sport gunung yang dikenali, sah memberi pertanda. Tentu saja orang yang membawa adalah lelaki yang sudah diduganya. “Shanum…! Bagaimana kamu bisa di sini? Apa kamu ingin mencariku?” tanya lelaki tampan itu dengan raut takjub tak percaya. “Mas Erick…,” ucap Shanumi bingung dan lunglai. Apa yang ditakuti terjadi, nama yang sempat disebut Daehan adalah milik lelaki yang tak diharap. Konyolnya, justru diri sendiri yang seperti mendatangi. “Shan, aku selalu menunggumu. Aku sangat rindu…,” keluh Erick dengan suara lirih. Tiba-tiba mendekati Shanumi dan akan merengkuh.“Eh, ngapain, Mas … tolong, jangan coba-coba seperti ini lagi padaku!” pekik Shanumi sambil mendorong dada Erick dan memundurkan kakinya. Shanumi mematung. Memandang Erick diam ditempat dengan raut yang tampak bingung dan kecewa. Lelaki tegap dan berkulit cerah yang semakin tampan itu pernah mendebarkan hati Shanumi jika berjauhan atau pun saat berdekatan. Ternyata kini tidak terlalu lagi, begitu cepat perasaannya b
Daehan telah memindahkan istri ke kamar rawat di klinik hotel. Menunggu dengan tegang yang membuatnya tidak mengantuk sama sekali. Padahal hari sudah larut malam. Selain tegang tidak mengantuk, rasa lapar juga terlupa. Padahal sudah kelewat lama waktu makan. Hanya kabar kejutan dari dokterlah yang membuatnya merasa terus kenyang. Seperti kabar hoax bahwa istrinya telah mulai mengandung calon anaknya. “Shanumi!” Daehan sangat girang saat tiba-tiba kelopak mata istri bergerak-gerak tanda akan siuman. Segera dicium berulang kali kening halusnya itu. Ingin Shanymi segera sadar sepenuhnya. “Mas…!” Shanumi berseru saat matanya benar- benar terbuka, wajah Daehan telah begitu dekat menyapa. Diulurnya kedua tangan dan Daehan pun sigap menyambut. Mereka erat saling berpelulan. Shanumi merasa lega luar biasa. “Alhamdulillah, Shan. Kamu sudah sadar. Bagaimana rasanya? Apa yang sakit? Kenapa sampai pingsan?” tanya Daehan beruntun yang meluah betapa cemas dirinya. “Maaf, ya. Aku sudah kelua
Lelaki India yang bertampang garang dan sangar sebab kulitnya yang gelap dengan jambang tebal, ternyata adalah wakil malaikat. Shanumi benar-benar di antar ke lobi tanpa sedikit pun punya modus. Lelaki itu telah berlalu meninggalkan hotel setelah sempat memastikan bahwa Shanumi akan baik-baik saja. Sebab sangat buru-buru, lelaki India itu pun berlalu meski belum ada titik terang. Namun…. “Benar, Kak. Tidak ada nama Tuan Daehan dalam daftar pengunjung.” Petugas resepsionis kembali meyakinkan. “Tapi aku dan suamiku benar-benar menginap di sini. Kami dari Indonesia.” Terang Shanumi penuh harap. “Kebetulan banyak sekali pengunjung dari Negara Indonesia ya, Kak. Saya sudah membacanya dengan teliti. Tidak ada nama dari suami Kakak.” Petugas berbicara lembut tetapi sangat tegas. Shanumi hidak ingin lagi mendebat. Kini menuju sofa dan duduk di sana untuk sekedar melepas lelah. Sambil berpikir keras bagaimana menemukan kamarnya. Juga mengharap Daehan mencari dan menemukannya dengan cepat
Senyum merekah di bibir merah itu memudar perlahan. Saat membuka kamar tidak dijumpa pemilik nama yang sentiasa tertulis di kepala dan jiwa. Di mana istrinya? Kecewa… tetapi juga resah rasanya. Lebih tidak tenang. Telepon kesayangan istri ada di bawah bantal saat coba ditelepon. Bahkan, beberapa chat yang dia kirimkan terakhir kali dan tidak centang biru dua, memang belum dibuka oleh istri. Ah, ke mana dia? "Ck, bikin khawatir saja. Sudah dipesan jangan rewel dan gak usah ke mana-mana, masih juga bendel!" Daehan mengomel dengan perasaan gelisah. Menuju balkon yang dirinya pun belum sempat menginjaknya. Meski telah malam, namun begitu terang sebab lampu bertebaran. Sepuluh menit menunggu di balkon dengan background hamparan strawberry hijau bertabur buahnya yang seperti titik-titik merah memang sesaat melenakan. Namun, kembali sangat galau sebab yang ditunggu tidak muncul. Sedang ini adalah malam yang membuat Daehan sangat waswas. ______Shanumi yang berniat akan kembali ke kamar
Daishin keluar dari party room dengan langkah tergesa. Menyusul Daehan yang ternyata macet di ruang petugas jaga. “Mana dia, Mas?” Daishin bertanya setelah menyapukan pandangan. Tidak terlihat Firash sama sekali. Apalagi posangannya.... “Aku ketinggalan, Shin. Gara-gara gayung bego yang rada-rada ini!” Daehan menuding petugas jaga yang matanya terus berkedip-kedip bingung dengan jari tengah. “Shit!” Daishin pun mengumpat setelah menyadari. “Fuck!” Daehan menambahkan umpatan lagi. “Bagi cepat ponselku, Pak Cik!” Seru Daehan tak sabar. Kesal sekali, petugas itu hanya berkedip-kedip dan terus memandangnya. “Tak, tak sudi. Calling dulu aku darling….” Petugas jaga masih sempat-sempatnya menggoda, benar-benar minta jantung. “Tak sudi! Cepatlah, Pak Cik! Kau buat lambat-lambat ni buat apa?!” Daishin yang habis sabar membentak sangat keras. Lelaki penjaga berwajah merah padam itu mungkin jadi gentar. Buru-buru diambil kotak penyimpanan ponsel dari rak penyimpanan. Daishin sudah menyam
“Beri padaku topeng Zorro!” seru Daishin pada penjaga pintu yang terus menatapnya tanpa kedip. Kode miliknya telah sukses terakses tanpa aral apapun. Hanya satu masalah besar baginya kini. Ponsel wajib dititip dan dilarang keras membawanya hingga masuk. “Lekas, beri padaku topeng kupu!” Kali ini Daehan request setelah sukses mengakses kan dirinya di mesin masuk. Bernasib sama dengan Daishin, ponselnya pun kena tahan. Apa boleh buat, dari pada diri tidak lulus masuk, lebih baik tanpa ponsel. Nanti sambil di pikirkan solusinya. “Tidak ada topeng kupu, sudah sold, Sayang. Tinggal topeng capung, bagaimana hem?” Penjaga bicara dengan gemulai dan mesra. Membuat Daehan mual ingin muntah. “Oke, capung. Cepat sikitlaaah!” Daehan tak sabar dengan gerak penjaga yang lamban. Seperti sedang mengambil perhatian. Dia sangka mereka sama-sama sehaluan. “Ni haah. Tak sabar amat lah, Sayang.” Topeng capung sukses didapat Daehan. Tetapi Daishin justru belum diberi topeng Zorro. “Mana pulak topeng Z
Perjalanan menuju Genting Highlands tidak pernah membosankan. Tentu saja, sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di Malaysia, perjalanan penuh pesona pasti dijumpa di kanan dan kiri sepanjang jalan. Terletak di ketinggian kurang lebih 1.800 meter di atas permukaan laut, sudah membuat hawa sangat dingin. Bahkan mobil pun tanpa AC lagi semenjak memasuki kawasan menuju puncak. Genting Highland sungguh-sungguh menyajikan perpaduan sempurna antara alam pegunungan yang menawan dan modernitas masa kini yang gemerlap.Di sepanjang perjalanan, hutan hujan tropis yang rimbun mengapit jalan. Pepohonan tinggi menjulang dengan dahan-dahan yang membentuk kanopi alami dan seolah memayungi para pengunjung di jalanan dari panasnya mentari dan hujan. Burung-burung liar berkicau, mengiringi perjalanan dengan alunan suara alam yang menenangkan. Berwarna-warni yang bebas, terlihat tidak takut dan tidak tertekan. Terbang dan loncat yang berpindah ke sana ke sini sesuka ingin burung itu. Beda
Sedikit lega, Papa Handy sudah dipindahkan untuk istirahat di kamar. Daishin hingga berkeringat dan terengah setelah kerja berat dini hari. Maklum, tubuh papanya masuk dalam kategori size jumbo. Perlu tenaga besar meski untuk sekadar memapah sang papa. Tidak ingin semua merasa lelah yang bisa jadi justru akan jatuh sakit, Mama Azizah menganjurkan agar Osa dan Daishin lekas istirahat di kamar masing-masing. Wanita baik dan lembut asli Melayu mantan perawat itu memastikan jika kondisi Papa Handy tidak masalah dan akan berangsur lebih baik. Dokter langganan keluarga pun bersedia datang dan sebentar lagi akan tiba. Osara mengikuti Daishin yang tidak pergi ke kamarnya, melainkan ke dapur dan duduk di meja makan. Menuang segelas air putih yang lalu diminum sekaligus. Lagi-lagi Osara pun meniru yang memang rasa diri sungguh dahaga. “Apa ingin kubuat teh, kopi atau apa untukmu, Shin?” tawar Osara tulus. Merasa iba dengan tampang Daishin yang kusut. Meski ketampanannya cenderung ti
Setelah pembicaraan panjang, keduanya sama-sama saling diam. Daishin yang melirik gadis berbulu mata lentik dan basah oleh air mata itu teringat sesuatu. “Osa…!” Panggilnya pada pemilik mata yang memejam. Osara yang meletak kepala di sandaran dan membuang muka ke samping menoleh. “Ada apa?” tanyanya memandang Daishin. “Mana bajumu saat berangkat tadi? Bajumu seperti itu … apa Papa dan Mama tidak masalah?” tanya Daishin. Memandang baju seksi Osa yang jaketnya sedikit melorot ke lengan. Menampakkan bahu mulus dan cerah tanpa sedikit pun ada cacat celanya. Sangat menggoda di bawah temaram lampu mobil. “Oh, benar… Terima kasih. Aku lupa…!” Osara terlihat sedikit panik sambil membuka tas. Terlihat lega yang seluruh baju masih ada di dalamnya. Tanpa segan, buru-buru dilepaskan jaket dan memakai gamis tanpa melepas baju seksinya. Lalu memakai kerudung juga dengan kilat. Sepertinya Osara sudah sangat terlatih melakukan hal ini. Daishin menghembus napas yang tak sadar tertahan di dada. Me
Hawa AC dalam mobil kian menggigit. Mereka bisu hingga ratusan meter perjalanan. Hingga Daishin tidak tahan. “Osa, sebenarnya aku sangat kesal denganmu. Berapa kali hari ini kamu menipuku. Menipu memang sudah bakatmu.” Daishin menahan agar bicaranya tidak kasar dan mengumpat. Dibenarkan posisi duduk hingga benar-benar lurus punggung lebarnya. “Menipumu, emang apa saja yang sudah kubuat?” Osa justru bertanya. Pikirannya sedang kosong dan tidak bersemangat. “Katamu pulang, ternyata bohong. Di club, kau pikir aku barang? Kau berikan pada Amira untuk hadiah ulang tahun. Nggak sopan kamu.” Meski kesal, ucapan Daishin rendah saja. Tidak ingin driver keluarga akan mudah dan jelas mendengar. “Oh, kupikir kamu butuh. Maaf jika kebaikanku ternyata justru salah.” Osara berbicara pelan juga. Menyadari situasi yang ada telinga lain selain mereka berdua. “Tentu saja aku butuh, tapi tidak sembarang perempuan aku mau. Apalagi perempuan muda kayak Amira. Aku tidak selera.” Daishin menjawab t