Kedatangan Victoria membuat Logan langsung terdiam dengan pupil mata melebar sejenak. "Tadi kau bilang apa hah?!" Victoria mendekati Logan lalu berdiri tepat di hadapan lelaki itu. Tangan kanan Frederick itu memilih menundukkan kepala. "Siapa yang memperbolehkan kau masuk Victoria?" Berbeda dengan Frederick. Untuk pertama kalinya sikap lelaki itu berubah terhadap Victoria. Logan merasakan adanya tatapan intimidasi di sekitar. Victoria yang berniat menemui Frederick langsung mengubah ekspresi wajah dan beralih menatap Frederick. Dirinya tak menyangka kedatangannya tak disambut dengan baik. Dia pun heran sendiri mengapa tidak bisa mengontrol emosi saat ini. Bagaimana tidak baru saja masuk ke dalam, sudah mendengar pernyataan dari Logan bila Frederick mencintai Katherine. Tentu saja Victoria merasa was-was dan ketakutan. "Maaf Sayang karena telah lancang masuk ke dalam, dari tadi aku mengetuk pintu tapi kalian tidak mendengar jadi aku masuk, aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu
Di kala Frederick menyesali perbuatannya. Di kala ia merana dan merindukan Katherine. Di lain tempat sosok yang dia sebut namanya, sedang duduk manis di depan rumah sederhana berlapis kayu. Katherine tengah menyambut kedatangan William. Sejak tadi Katherine memandang ke depan dengan tatapan sendu. Berjauhan dengan Frederick membuat dirinya nelangsa. Dia pun sama merindukan lelaki yang tidak peka itu. Hormon kehamilan membuat suasana hatinya mudah berubah-ubah. Katherine kadang kala jengkel pada dirinya sendiri. Masih merindukan lelaki yang sudah melukai hatinya. Tadi pagi, Celine menghubungi dirinya jika sudah memberitahu William atas kepergiannya dari istana. Dari informasi Celine, William tak banyak memberi tanggapan, justru ingin cepat- cepat bertemu dengannya. Dan saat ini William dalam perjalanan menuju ke tempatnya. "Papa!" Katherine spontan berdiri tatkala melihat mobil yang ditumpangi William masuk ke pekarangan rumah. Begitu pintu mobil dibuka, William turun dari mobil.
"Marquis William?" Frederick keheranan melihat William berdiri di hadapannya dengan tangan terkepal erat. Sejak tadi tangan kanannya bergerak di depan wajah William. Sementara William baru saja berkhayal mendaratkan pukulan di wajah Frederick. Bagaimana tidak, sambutan kepadanya di luar dugaan. Di saat Katherine menghilang, Frederick masih bisa tersenyum seperti tadi. Sebagai seorang ayah, sungguh sakit hati William. Lelaki tua itu tak tahu saja, Frederick pun ketar-ketir saat ini. Apakah William sudah mengetahui kepergian Katherine dari istana atau tidak. Namun, untuk sekarang dia berusaha untuk tetap tenang. Akan tetapi, ekspresi William membuatnya makin gelisah. Dia dapat melihat sinar mata William dipenuhi kebencian. William tak menyahut, masih tenggelam dengan imajinasinya. Sampai pada akhirnya Frederick menepuk pelan pundak William."Marquis, Anda tidak apa-apa, 'kan?" tanya Frederick.William lantas tersadar, mengeluarkan dehaman kecil sejenak lalu berkata,"Aku tidak apa-apa
"Kau masih mengatakan rindu aku atau tidak Victoria?!" teriak Frederick dengan napas memburu bak badai di tengah gurun pasir. Pupil mata Victoria kian melebar. Tampak syok dan lidahnya mendadak lumpuh sekarang. "Sayang, pria ini tidak pantas untukmu, akulah yang pantas, mari kita rajut lagi hubungan kita, lihatlah anak kita di rumah merindukanmu," ujar lelaki itu dengan tatapan memelas. Kedua tangannya diborgol di belakang. Sekarang Victoria tak mampu berkata apa-apa lagi.Dia membeku di tempat tanpa mengedipkan mata sejak tadi.Kesunyian menerpa sekitar. Dalam sebulan ini Frederick tidak hanya mencari tahu keberadaan Katherine. Dia juga mencari apa yang terjadi pada Victoria beberapa tahun silam.Berdasarkan informasi dari seorang mata-mata, Frederick mendapatkan kabar mengejutkan bila selama ini Victoria berselingkuh dengan pria lain sampai-sampai wanita itu mengandung. Victoria berpura-pura terjun dari kapal, seolah-olah dia bunuh diri. Padahal tidak.Kala itu, ketika mendengar
Frederick masih mencoba. Mengamati wajah sosok di hadapannya sekarang. Sosok yang sudah lama dia cari-cari, siapa lagi kalau bukan Grace.Grace berdiri mematung, melihat lelaki yang dia hindari dalam beberapa bulan ini.'Aduh bagaimana ini?' batin Grace sejenak, tengah memutar otak agar bisa kabur. "Kau Grace kan? Ternyata kau masih hidup–""Maaf Tuan, sepertinya Anda salah orang! Aku permisi!" Dengan kecepatan cahaya Grace berlari sangat kencang dari Frederick. Frederick membelalakan mata lantas dengan tergesa-gesa mengejar Grace di tengah-tengah kerumuman manusia."Hei Grace berhenti! Mau ke mana kau?!" Entah mengapa perasaannya mulai tertuju pada Katherine sekarang. Frederick menyakini bila Grace saat ini tahu di mana Katherine. Frederick semakin mempercepat langkah kaki namun tiba-tiba Grace hilang dari pandangannya dan hilang di antara kumpulan manusia. "Argh! Sial!" umpat Frederick sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Grace. Tak jauh dari Frederick berdiri
Frederick dan Logan mengikuti William secara diam-diam dari belakang. Namun, sungguh malang untuk kedua kalinya Frederick kehilangan jejak. William sangat gesit seperti ular. Sesudah masuk gang kecil, ada gang lagi yang dimasuki. Bukan hanya satu melainkan ada empat gang sekaligus. Meskipun begitu Frederick tetap memberi perintah pada Logan dan para pengawalnya mencari William dengan masuk ke semua gang. "Aku yakin Marquis William pasti tahu di mana Katherine!" celetuk Frederick, menyugar sesaat rambut panjangnya tersebut. Frederick sangat frustrasi. Katherine begitu sulit ditemukan, seakan-akan dia selalu diberi hambatan untuk mencari sang istri. Sementara itu, William yang menyadari telah diikuti membuang napas pelan karena telah berhasil melarikan diri dan sekarang dia tengah mengambil rute yang aman untuk sampai ke tempat persembunyian Katherine.Tak berselang lama, William telah sampai di rumah berlapis kayu tersebut dan langsung disambut Sonya serta Katherine di ruang tamu.
Grace dan Xavier mematung di tempat. Melihat Frederick berdiri di hadapan mereka sekarang dalam keadaan basah kuyup.Frederick tak langsung menyapa atau pun melempar senyum. Dia terdiam. Menatap Grace dan Xavier dengan tatapan datar. Akhirnya setelah penantian yang cukup lama. Dia dapat menemukan rumah yang disinyalir tempat persembunyian Katherine. Dan benar saja belum juga dia menggerakkan bibir. Teriakan Katherine dari salah satu ruangan, mengagetkannya. "Grace, Xavier! Bantu aku, aku akan melahirkan sebentar lagi!" pekik Katherine. Pupil mata Frederick semakin melebar. Tanpa bertanya pada Xavier dan Grace. Lelaki itu menyelenong masuk ke dalam rumah dan melangkah cepat menuju sumber suara. Grace dan Xavier bergeming, berdiri tanpa sedikit pun mengedipkan mata. Sedetik kemudian keduanya segera tersadar lantas berlari cepat menuju kamar Katherine. "Katherine!" Bola mata berwarna biru itu semakin membulat. Tatkala melihat sang istri ternyata mengandung dan sebentar lagi akan mel
"Tenanglah dulu Nak. Anakmu bersama Papanya sekarang di istana,"ucap Sonya membuat Katherine mulai gelisah. "Ma, kenapa anakku bersama Frederick. Aku ingin ke istana sekarang." Katherine hendak mencabut selang infus di tangan. Namun, Sonya dengan cepat menahan. "Besok saja, tunggu kau pulih. Tubuhmu masih lemah Katherine."Sonya tak menjawab pertanyaan barusan. Katherine semakin resah. Dia belum mendekap anaknya sama sekali namun sudah dipisahkan. Katherine tidak tahu saja jika Sonya, William dan Frederick membuat rencana agar hati Katherine dapat luluh."Tapi Ma, kenapa anakku dibawa ke istana, aku belum sempat memeluknya, kenapa kalian tega melakukan ini padaku?" Katherine sudah tidak mampu lagi membendung air mata. Berjauhan dengan buah hatinya, membuat dia tersiksa sekarang. Secara perlahan air mata membasahi kedua pipinya."Katherine, setelah kau pulih kau bisa bertemu putramu. Sekarang mama mohon beristirahatlah dulu. Anakmu dalam keadaan baik-baik saja sekarang. Tapi keadaan
Benda berbahan kaca itu langsung pecah, mengenai punggung Victor. Victor tak peduli malah makin mempercepat langkah kaki sambil tersenyum puas. Meninggalkan Larisa menjerit-jerit histeris. ...Keesokan harinya, pagi-pagi sekali istana gempar dengan kabar gembira dari Grace. Grace ternyata tengah mengandung. Bukan hanya Grace, Katherine pun juga, mengandung anak kedua. Keduanya sama-sama muntah tadi pagi. Sukacita menyelimuti hati Xavier, Frederick dan Victor. Saat ini mereka tengah sarapan bersama di ruang makan, ada Logan dan Robert juga terlihat duduk bersama. Sementara Larisa memilih sarapan di kamar karena hatinya dalam keadaan buruk sekarang. "Aku tidak sabar dengan kedatangan anakku, Grace. Semoga saja anakku perempuan dan anakmu laki-laki, jadi kalau sudah besar kita bisa menjodohkan mereka," celetuk Katherine setelah selesai menyantap roti. "Iya, amin, semoga saja anakku laki-laki, pasti lucu jika mereka sudah besar nanti," balas Grace tak kalah senang. "Aku setuju, maka
"Apa kau lupa aku menikahimu karena terpaksa, sampai kapan pun nama Clara tidak akan hilang, kaulah yang membuat aku dan Clara tidak bisa bersama, aku muak dengan sikapmu Larisa!" seru Victor dengan mata berkobar-kobar. Larisa mendekat. "Oh ya? Tapi wanita itu sudah mati sekarang dan kau tidak bisa memilikinya! Akulah yang memilikimu sekarang Victor!" Victor menyeringai tipis. "Kau hanya memiliki ragaku tapi tidak dengan jiwaku!"serunya dengan lantang. Membuat Larisa mengepalkan kedua tangan. Meski Clara sudah meninggal tapi di hati Victor nama Clara masih terus terukir dan tak pernah memudar sekali pun. Dulu, sebelum menikah dengan Larisa. Victor dan Clara sudah terlebih dahulu menjalin hubungan. Kala itu status Victor masih menjadi pangeran, belum menjadi raja. Sementara Clara baru bekerja di istana dan menjadi pelayan pribadi Victor. Karena sering bertatap muka Victor mulai jatuh cinta dengan Clara. Keduanya pun menjalin hubungan tanpa sepengetahuan anggota kerajaan. Akan
"Diam kau! Kau juga sama seperti mamaku! Bedanya mamaku pelayan istana! Sementara kau jadi anak angkat bangsawan baik hati! Asal-usulmu juga tidak jelas. Jadi jangan menghina mamaku, wanita jalang!" seru Xavier dengan muka Xavier semakin memerah. Dia sudah tidak memikirkan lagi adab dan sopan santunnya di istana. Larisa masih saja menghina mendiang mamanya. Padahal mamanya sudah tidak ada lagi di dunia, Larisa berhati ular dan tidak pantas disebut manusia!"Xavier, cukup! Kau tidak boleh menghina Mamamu!" teriak Victor menggelegar tiba-tiba. Membuat kumpulan manusia di ruangan tertegun. Mereka tak berani membuka suara di antara ayah dan anak itu, memilih diam dan mendengarkan dengan seksama pertikaian yang terjadi di depan mata.Pemegang tinggi di istana, saat ini wajahnya sangat tak bersahabat. Kemarahannya membuat sebagian orang ketakutan, termasuk Grace yang saat ini meneguk ludah berkali-kali. Berbeda dengan Xavier tak ada rasa takut sedikit pun yang terpancar dari bola matanya.
Mendengar suara teriakan Xavier, seluruh anggota kerajaan Norwegia datang menuju sumber suara, tepatnya di ruang tamu. Sesampainya di ruangan, Larisa dan Sisilia membelalakan mata dengan kedatangan anggota kerajaan Denmark berada di sini. "Apa-apaan ini Xavier?" Victor, raja yang masih menjabat menjadi pemegang kekuasaan di Norwegia langsung bertanya. Kerutan di keningnya mendadak muncul dengan kedatangan tamu yang tak diundang pada malam-malam begini. Xavier tak langsung menjawab, ada secuil kerinduan menjalar di hatinya. Dia sudah lama tidak bertatap muka dengan ayahnya. Terlebih, umur ayahnya sudah tak lagi muda sekarang, ada banyak keriput di wajah dan rambut hitamnya pun sebagian sudah memutih. Akan tetapi, Xavier menghapus cepat kerinduannya tersebut kala mengingat perlakuan Victor selama ini. "Atas nama kerajaan Denmark, aku minta maaf karena datang malam-malam begini ke istana bersama istriku dan Pangeran Xavier." Saat melihat Xavier terdiam, Frederick langsung angkat bica
"Ayolah Pangeran, keluarlah kami tidak akan mengigit!" Lagi pria itu berseru sambil mengeluarkan tawa keras hingga teman-temannya pun ikut tertawa. Xavier menahan geram. Dadanya bergemuruh kuat seakan-akan meledak juga saat ini. Sampai-sampai Grace menggerakkan sedikit kepalanya ke samping dan membuat salah satu rumput bergerak. Alhasil salah seorang pria yang tak sengaja melihat adanya pergerakkan dari salah satu rumput yang memanjang, mengalihkan pandangan. Dalam sepersekian detik dia pun langsung meloncat tepat di hadapan Grace dan Xavier. "Bah! Dapat kalian!" pekiknya sambil menodongkan pistol ke kepala Grace. Grace langsung memekik histeris,"Tolong!!!" Xavier tak diam, ikut juga menodongkan pistol ke arah kepala si pelaku. Kelima pria lainnya serempak mengarahkan mata ke arah pasangan suami istri itu sambil mengangkat pistol masing-masing. Suasana mendadak tegang. Baik Xavier maupun keenam pria lainnya tak ada yang mau mengalah. "Jangan bunuh kami!" pekik Grace,
Grace terbelalak ketika melihat enam orang pria keluar dari mobil sambil menodongkan pistol ke arah mereka sekarang. Pria-pria asing itu tampangnya sangat menyeramkan, seperti preman pasar, ada tato-tato di tangan dan muka, bahkan terlihat tindik pula di hidung. "Keluar kalian!" teriak salah seorang pria dari luar lalu melempar senyum smirk. Grace makin panik. Dengan cepat menoleh ke samping kembali. "Xavier, bagaimana ini?" Dia sedikit heran mengapa Xavier sama sekali tak panik. Suaminya itu hanya menampilkan ekspresi datar namun tanpa sepengetahuan Grace, mata elang Xavier memandang ke arah kumpulan pria tersebut dengan sorot mata tajam. Tanpa menoleh ke samping, Xavier pun berkata,"Jangan lepas sabuk pengamanmu."Grace hendak bertanya namun belum juga lidahnya bergerak, Xavier melajukan mobil dalam kecepatan di atas rata-rata. Alhasil enam orang pria tersebut melesatkan timah ke arah mereka. Akan tetapi, Xavier berhasil mengelak dan menabrak pula kedua mobil yang menjadi pengha
"Kenapa kalian ingin keluar istana? Apa ada seseorang yang menyakiti kalian?" Dengan sorot mata merah menyala, Katherine lantas beranjak dari kursi. Riak mukanya pun berubah tak enak pandang sekarang. Mendengar tanggapan Katherine, Xavier dan Grace saling lempar sesaat dengan dahi mengerut samar. "Tidak ada Putri, ini kulakukan karena kami ingin hidup tenang dan jauh dari hiruk pikuk,"jawab Xavier. Tadi malam Xavier dan Grace telah mempertimbangkan rencana dengan matang. Keduanya ingin hidup tenang dan menetap di desa terpencil, hanya berdua dan suatu saat nanti tinggal bersama buah hati mereka. Bukan hanya alasan itu, Xavier juga tak enak hati dengan kedatangan Robert dan Sisilia akhir-akhir ini. "Tidak bisa! Aku tidak mengizinkan kalian keluar istana!" seru Katherine kemudian. Xavier melebarkan mata, tampak terkejut dengan respons Katherine. "Tapi Putri, kami—""Aku bilang tidak, ya tidak–""Sayang, tenangkan dirimu dulu, hei duduklah." Frederick langsung menyela saat kondisi d
"Fred." Katherine merasa ada yang tidak beres lantas mendorong pelan dada Frederick. Frederick pun merasakan hal yang sama. Sungguh aneh, malam-malam begini malah terdengar bunyi pecahan kaca. Katherine dan Frederick serempak melirik jendela, memastikan apa jendelanya yang rusak. Akan tetapi, setelah diamati, jendela kamar dalam keadaan aman. Kerutan di kening Katherine dan Frederick makin bertambah. Pasangan suami istri tersebut menyudahi kegiatan panasnya lalu beringsut dari kasur dan memakai pakaian dengan tergesa-gesa. Begitu pula dengan Xavier dan Grace menghentikan kegiatannya, memilih keluar hendak memeriksa apa yang telah terjadi. Keduanya tanpa sengaja berpapasan dengan Frederick dan Katherine di lantai satu. "Ada apa ini Pangeran?" tanya Xavier dengan kening mengerut kuat. "Entahlah, aku juga tidak tahu, aku pikir dari jendela kamar kalian?" Frederick pun bertanya. Jika bukan berasal dari kamarnya bisa jadi bunyi pecahan dari kamar Grace. Sebab kamar Grace tepat berada
Katherine dan Frederick saling melirik satu sama lain, tengah menahan senyum sekaligus merasa bersalah atas perbuatan mereka tempo lalu. "Untuk apa meminta maaf Xavier?" Frederick memberi tanggapan terlebih dahulu, perasaan bersalah mulai memenuhi hatinya. Sebab demi egonya dia menjebak Xavier dengan obat perangsang kala itu. "Sudah seharusnya kami meminta maaf pada Pangeran dan Putri karena telah berbohong selama ini, aku juga minta maaf." Grace ikut menimpali. "Kalian tidak salah Grace, Xavier. Itu masalah kalian, dan setidaknya buah dari kebohongan kalian menghasilkan sebuah rasa, 'kan?" ujar Katherine, ikut berkomentar. Grace malah cengengesan. Merasa pasangan suami istri di hadapannya ini, terlampau baik. Hal yang wajar jika Katherine dan Frederick marah. Namun, reaksi keduanya di luar perkiraan. Xavier pun memiliki pikiran yang sama dengan Grace. Secara perlahan menatap kembali pasangan tersebut."Iy—a Putri, tapi terimalah permohonan maaf dari kami, hatiku rasanya mengganj