Bab 5
"Gavin tidak mau!! Gavin mau Papa!! Kamu pasti mau ambil Papa dari Gavin kan??!!" "Gavin!!" Suara Aksa sontak membuat Gavin terdiam. Naya terkejut karena ternyata Aksa sudah berada di sana. Yang lebih membuat Naya terdiam tanpa kata adalah, penampilan Aksa yang jauh berbeda dari biasanya. Sejak pertama melihat Aksa hingga kemarin, Naya hanya melihat seorang Aksa yang selalu memakai jas mahal untuk membalut tubuh tinggi atletisnya, serta rambut yang di sisir klimis. Tapi kali ini, Aksa hanya memakai celana training dan juga kaos serta rambut setengah basahnya yang dibiarkan sedikit berantakan tanpa di sisir. Naya tersadar dari kekagumannya itu saat Aksa ikut duduk di bawah berhadapan dengan Naya dan Gavin. "Kenapa Gavin seperti itu sama Mama?" Tanya Aksa dengan lembut. Naya sempat takut jika Aksa akan memarahi Gavin karena penolakannya. "Gavin tidak suka dia!!" "Ini Mama kamu sekarang, bukan dia!" Tekan Aksa sekarang lebih tegas. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Gavin langsung berlari meninggalkan Aksa. Naya bisa melihat sorot kekecewaan di mata kecil itu. "Ck, anak itu!" Gumam Gavin. "Mungkin Gavin memang belum bisa menerima saya Pak. Itu wajar karena kami baru bertemu hari ini" "Iya, tapi maaf untuk sikapnya itu!" "Tidak papa Pak. Saya mengerti. Tapi Aksa sepertinya sangat menyayangi Pak Aksa" "Dari dulu Gavin memang lebih dekat sama saya setelah Mommynya memilih pergi waktu umurnya dua tahun. Kak Saka yang selalu sibuk di kantor juga tidak punya banyak waktu. Jadinya Gavin lebih sering bersama saya. Makanya dia memanggil saya Papa" Naya mulai penasaran kenapa Mommynya Gavin pergi. Namun untuk menanyakan hal itu, sepertinya bukan kuasa Naya. "Ayo makan dulu, setelah itu baru istirahat!" "Tapi Gavin belum makan Pak!" Naya memperlihatkan piring di tangannya dengan makanan yang masih utuh. "Biarkan saja, itu tandanya dia memang tidak lapar!" **** Setelah makan malam, Naya sekarang masih berdiam diri di kamar mandi. Sebenarnya, Naya juga sudah selesai membersihkan diri sejak lima belas menit yang lalu. Namun dia bingung dan merasa canggung untuk keluar karena Aksa saat ini sudah berada di dalam kamar. Cklek... Aksa yang duduk bersandar di ranjang sambil memangku laptopnya langsung tertangkap mata Naya. Naya ingat di dalam surat perjanjian mereka, keduanya akan tidur dalam satu kamar. Namun Naya tidak tau apa mereka harus satu ranjang atau tidak. Naya benar-benar gugup setengah mati. Ini pertama kalinya Naya berada dalam satu kamar bersama seorang pria selain Ayahnya. Dia lantas melirik sofa yang masih kosong di dekat jendela. Dia juga mulai mengambil bantal yang berada di samping Aksa. "Mau ke mana kamu?" Naya kembali berbalik menatap Aksa dengan bantal yang ada di pelukannya. "Itu Pak, apa kita juga tidur satu ranjang?" "Kita memang hanya menikah secara kontrak Naya, tapi kita ini sepasang suami istri yang sah. Jadi tidak ada salahnya kita tidur satu ranjang!" "T-tapi Pak.." "Kamu tenang saja, kita hanya berbagi ranjang saja. Tidak akan ada yang lebih dari itu!" Akhirnya Naya kembali mendekat, merasa sedikit malu karena sempat berpikir kalau Aksa juga akan melakukan hal yang sama seperti pasangan suami istri pada umumnya. Naya menatap ke arah Aksa. Wajah pria itu terlihat tampan di lihat dari samping seperti saat ini. Hidung mancungnya, goresan rahangnya yang tegas, semua itu tampak sempurna. "Ada apa?" Naya langsung mengerjapkan matanya karena mendengar suara Aksa. "Bagaimana dengan Gavin Pak? Tampaknya tadi dia sedih sekali!" "Tidak usah di pikirkan. Tadi saya sudah menemuinya, dia baik-baik saja!" "Syukurlah kalau begitu Pak" Naya sempat terdiam beberapa detik "Tapi bagaimana kalau Gavin tidak bisa menerima saya Pak?" "Itu tidak mungkin. Gavin seperti tadi hanya karena kalian belum dekat saja. Maka dari itu, terus berusaha sejati dia. Meski kadang sifatnya itu keras tapi sebenarnya hatinya itu lembut!" "Saya akan berusaha Pak!" Aksa hanya tersenyum tipis menanggapi semangat dari Naya. "Tidurlah!" "Tapi Pak.." "Tidurlah lebih dulu, pekerjaan saya masih sedikit lagi!" "Iya Pak" Naya memilih tidur membelakangi Aksa. Mana mungkin juga dia akan benar-benar tertidur sementara pemilik ranjangnya saja masih bekerja. Naya juga tidak mungkin bisa tidur karena ini pertama kalinya dia tidur dengan pria meski dia adalah suaminya sendiri. Tapi entah Naya yang kelahan atau memang ranjang Aksa yang terlalu nyaman. Naya justru langsung terlelap dan membuka matanya saat pagi sudah datang. "Astaga!" Naya memekik pelan. Dia langsung berbalik ke belakang, melihat Aksa yang tidur tengkurap dengan wajah yang menghadap ke arahnya. Naya juga membuka selimut yang ia gunakan bersama Aksa itu. Dia takut jika tiba-tiba dia terbangun tanpa busana seperti di dalam novel yang sering ia baca. "Syukurlah!" Naya mengusap dadanya yang masih berdetak dengan kencang. "Drama pernikahan ini benar-benar seperti Nyata!" **** Naya yang tak berani membangunkan Aksa memilih keluar lebih dulu setelah mandi dan bersiap ke kantor. Naya ingin mencari Gavin yang saat ini pasti sedang bersiap untuk sekolah. Naya menuju kamar yang tak jauh dari kamar Aksa. Dia menebak itu kamar milik Gavin karena terdapat gantungan nama di pintu kamar itu. Ketika Naya membuka pintu ternyata Suster sedang mencoba membangunkan Gavin. "Den, ayo bangun Den!" "Belum mau bangun ya Sus?" "Belum Nyonya!" Naya ikut mendekati Gavin, dia melihat wajah tampan itu masih memejamkan matanya dengan erat. "Gavin, ayo bangun Nak!" Naya membelai wajah Gavin. "Gavin kok nggak mau bangun, mau Mama cium ya?" Gavin langsung menutup wajahnya dengan tangan. Sontak itu membuat Naya dan Suster tertawa. "Gavin mau mandi sendiri apa Mama mandikan?" Padahal Naya sudah rapi degan setelan kantornya, tapi kalau Gavin mau, Naya tak masalah sama sekali. "Noooo! Gavin susah besar!!!" Tolak Gavin yang langsung berlari ke kamar mandi. "Terima kasih Nyonya!" "Apa biasanya Gavin susah di bangunkan seperti tadi?" "Iya Nyonya, Den Gavin akan langsung bangun kalau Tuan Aksa yang membangunkannya!" Naya hanya mengangguk, sepertinya Gavin memang hanya mencari perhatian Aksa saja. Naya masih bertahan di kamar Gavin sampai Gavin keluar dari kamar mandi. Bocah itu kembali menatap Naya tidak suka, tapi sambil berusaha menutup tubuh polosnya itu dengan handuk. "Mama nggak akan lihat Gavin, Mama tau kamu sudah besar jadi malu kalau di lihat Mama kan?" Naya berpura-pura menutup matanya hingga Gavin selesai mengganti bajunya dengan di bantu oleh Suster. "Wah anak Mama sudah tampan nih. Turun yuk, kita sarapan!" Gavin masih melirik Naya sambil meraih tasnya yang ukurannya lebih besar dari tubuh kecilnya itu. Meski sikap Gavin seperti itu, tapi Naya malah gemas dengan sikapnya yang malu-malu seperti itu. Naya mengikuti Gavin satu langkah di belakang. Dia yakin kalau suatu saat pasti bisa meluluhkan hati anak itu. "Gavin!" Panggil seseorang yang baru saja tiba di rumah itu. "Oma??!" Beo Gavin. Tatapan mata wanita itu langsung tertuju pada Naya yang berdiri di belakang Gavin. "Siapa kamu?!!" Wanita itu menatap Naya yang kini mematung karena tak menyangka akan bertemu dengan Nyonya besar keluarga Wardana."Siapa kamu?!!" Wanita itu menatap Naya yang kini mematung karena tak menyangka akan bertemu dengan Nyonya besar keluarga Wardana. Naya gelagapan, dia tidak tau harus menjawab apa di hadapan Nyonya besar itu. "Ada apa Mama pagi-pagi ke sini?" Kedatangan Aksa di belakang Naya membuat Naya merasa terselamatkan. "Siapa dia Aksa? Pembantu baru kamu?" Widuri menatap Naya dengan sinis. "Ini Naya, istriku Ma!" "Jangan bercanda Aksa!" Widuri tertawa sumbang karena mengira ucapan Aksa adalah kebohongan belaka. "Kami sudah menikah Ma, Naya benar-bener istriku!" Aksa menegaskan sekali lagi pada Mamanya. "Berani-beraninya kamu menikah tanpa persetujuan dan ijin dari Mama Aksa!! Kamu tidak bisa sembarangan menikah dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya!" Hati Naya merasa tersentil dengan ucapan Widuri. Dia adalah anak dari Ayah dan Ibunya, dia bukan wanita yang disebutkan oleh Nyonya Widuri tadi. "Hey kamu!" Pasti kamu punya niat terselubung dengan menikah sama anak saya
"Kurang ajar! Ternyata Aksa cerdik juga!" Alisa melempar ponselnya dengan asal ke atas sofa. "Ada apa Honey? Kenapa marah-marah?" Serang pria memeluk pinggang ramping Alisa dari belakang. "Sepertinya kita akan susah mendapatkan Gavin. Aksa tidak mau kalah, dia kemarin sudah menikahi sorang wanita. Pasti itu rencananya agar bisa mendapatkan Gavin!" "Benarkah?" Pria itu tampak terkejut. "Hmm, aru saja Nenek tua itu menghubungi ku. Tapi kalau bener, kita harus bagaimana Gio?" Alisa terlihat panik dan berbalik menatap pria yang menjadi kekasihnya itu. Rencananya yang sudah di depan mata tampaknya akan gagal karena perlawanan dari Aksa. "Kamu tenang saja Honey, aku akan cari acara supaya Aksa tidak bisa mendapatkan Gavin!" "Tapi apa yang akan kamu lakukan? Jangan nekat lagi, aku tidak mau kalau sampai kita berkahir di dalam penjara!" "Itu tidak akan terjadi Honey, kamu tenang saja!" Gio langsung menyambar bibir merah milik Alisa yang selalu membuatnya candu. "Kena
Kamu pikir Perusahaan ini badan amal?" Sentak seorang wanita yang membuat Kanaya terkesiap. Belum habis keterkejutan Naya karena kabar yang ia terima dari rumah sakit mengenai ayahnya yang kecelakaan, dia harus kembali dikejutkan dengan bentakan dari managernya, Mirna. Keadaan saat ini sungguh tidak memberi kesempatan bagi Naya untuk sedikit saja menenangkan diri. Jantungnya yang masih berdetak dengan cemas, kini harus ditambah dengan bulir-bulir air mata yang kembali turun membasahi pipinya. "Kamu itu baru dua bulan kerja di sini! Berani-beraninya kamu mau pinjam uang dan meminta cuti? Kamu pikir perusahaan ini milik nenek moyang kamu ya??!!" Suara wanita dengan bibir merah merona itu kembali terdengar menggelegar di lorong perusahaan yang sepi hingga menarik perhatian banyak karyawan lalu lalang. Sebelum ini, Naya telah meminta Mirna untuk berbicara di ruangan wanita itu agar niatnya untuk meminta bantuan tidak didengar oleh orang lain. Namun, Mirna menolak dengan a
“Bagaimana?” Aksa kembali bertanya setelah melihat Naya tak kunjung memberi jawaban. "Bapak nggak sedang bercanda kan? Bagaimana bisa sebuah pernikahan—" "Sama sekali tidak, Naya.” Aksa menjawab dengan tenang. “Pernikahan ini bersifat rahasia dan hanya bertujuan untuk mendapat hak asuh atas keponakan saya. Jadi, kita bisa bercerai setelah itu terjadi.” Mendengar itu, Naya mulai agak paham dan rasa khawatirnya berangsur-angsur mulai turun. "Saya memilih kamu karena situasi kita saat ini sama sehingga kita bisa bekerja sama. Kamu mengerti kan?” tambah Aksa lagi. Naya mengangguk paham meski sebagian hatinya merasa dilema karena harus mempermainkan pernikahan. Apalagi dia kini harus membuang prinsipnya yang hanya akan menikah satu kali seumur hidup. Namun, situasi begitu mendesak serta menyangkut hidup dan mati. Jika ia tidak menyetujui permintaan Aksa, maka dari mana lagi ia bisa mendapatkan uang untuk mengoperasi ayahnya? Kalau Naya menyetujui, bagaimana dengan im
Keesokan harinya, Naya terbangun di sebelah tubuh ayahnya yang kini bergantung pada berbagai macam alat. Subuh tadi, setelah Aksa kembali ke Jakarta, dokter yang menangani ayahnya berkata bahwa tubuh ayahnya sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan, sehingga status pasiennya telah resmi berubah menjadi koma. Setiap memikirkan itu, hati Naya terasa semakin sakit. Apalagi saat melihat tangan ayahnya yang semakin keriput dan lemah. Diam-diam, Naya terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga ayahnya dan membiarkan ayahnya terus bekerja di ladang hingga berakhir ditabrak mobil saat ingin memindahkan beras yang telah digiling pulang. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul enam, Naya dengan berat hari bersiap untuk kembali ke Jakarta dan membahas kelanjutan kerja samanya dengan Aksa. Sebab, mau tak mau, berkas-berkas itu harus di-input ke persidangan agar proses perebutan hak asuh bisa segera dilakukan. Naya lalu mencium punggung tangan ayahnya
Namun, baru saja Naya keluar dari lift khusus eksekutif dan hendak berbelok ke arah lobi, sebuah suara telah lebih dulu menghentikan langkahnya. “Bukannya kamu cuti? Untuk apa kamu keluar dari lift eksekutif?!” Naya terkesiap mendapati Mirna ada di sana dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Benar-benar menunjukkan keangkuhannya. "Jangan bilang, kamu dari ruangan Pak Aksa lagi ya? Kamu mau jual air mata lagi?" "Maaf Bu, saya memang dari ruangan Pak Aksa. Tapi saya bukan orang yang seperti itu!" Naya tidak tahan lagi selalu di rendahkan oleh Mirna. "Halah, saya tau. Kamu pasti besar kapala karena Pak Aksa memberikan cuti terus sekarang kamu mulai cari muka lagi, iya kan?!!" "Maaf Bu Mirna, Pak Aksa tidak suka mendengar keributan di kantor ini. Bukannya Bu Mirna sudah tidak bekerja di kantor ini lagi? Kenapa Bu Mirna masih mengusik karyawan di kantor ini?" Mirna kelabakan karena tiba-tiba Seno muncul di sana. Pria itu adalah orang yang paling ditakuti selain Aksa di
"Kurang ajar! Ternyata Aksa cerdik juga!" Alisa melempar ponselnya dengan asal ke atas sofa. "Ada apa Honey? Kenapa marah-marah?" Serang pria memeluk pinggang ramping Alisa dari belakang. "Sepertinya kita akan susah mendapatkan Gavin. Aksa tidak mau kalah, dia kemarin sudah menikahi sorang wanita. Pasti itu rencananya agar bisa mendapatkan Gavin!" "Benarkah?" Pria itu tampak terkejut. "Hmm, aru saja Nenek tua itu menghubungi ku. Tapi kalau bener, kita harus bagaimana Gio?" Alisa terlihat panik dan berbalik menatap pria yang menjadi kekasihnya itu. Rencananya yang sudah di depan mata tampaknya akan gagal karena perlawanan dari Aksa. "Kamu tenang saja Honey, aku akan cari acara supaya Aksa tidak bisa mendapatkan Gavin!" "Tapi apa yang akan kamu lakukan? Jangan nekat lagi, aku tidak mau kalau sampai kita berkahir di dalam penjara!" "Itu tidak akan terjadi Honey, kamu tenang saja!" Gio langsung menyambar bibir merah milik Alisa yang selalu membuatnya candu. "Kena
"Siapa kamu?!!" Wanita itu menatap Naya yang kini mematung karena tak menyangka akan bertemu dengan Nyonya besar keluarga Wardana. Naya gelagapan, dia tidak tau harus menjawab apa di hadapan Nyonya besar itu. "Ada apa Mama pagi-pagi ke sini?" Kedatangan Aksa di belakang Naya membuat Naya merasa terselamatkan. "Siapa dia Aksa? Pembantu baru kamu?" Widuri menatap Naya dengan sinis. "Ini Naya, istriku Ma!" "Jangan bercanda Aksa!" Widuri tertawa sumbang karena mengira ucapan Aksa adalah kebohongan belaka. "Kami sudah menikah Ma, Naya benar-bener istriku!" Aksa menegaskan sekali lagi pada Mamanya. "Berani-beraninya kamu menikah tanpa persetujuan dan ijin dari Mama Aksa!! Kamu tidak bisa sembarangan menikah dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya!" Hati Naya merasa tersentil dengan ucapan Widuri. Dia adalah anak dari Ayah dan Ibunya, dia bukan wanita yang disebutkan oleh Nyonya Widuri tadi. "Hey kamu!" Pasti kamu punya niat terselubung dengan menikah sama anak saya
Bab 5 "Gavin tidak mau!! Gavin mau Papa!! Kamu pasti mau ambil Papa dari Gavin kan??!!" "Gavin!!" Suara Aksa sontak membuat Gavin terdiam. Naya terkejut karena ternyata Aksa sudah berada di sana. Yang lebih membuat Naya terdiam tanpa kata adalah, penampilan Aksa yang jauh berbeda dari biasanya. Sejak pertama melihat Aksa hingga kemarin, Naya hanya melihat seorang Aksa yang selalu memakai jas mahal untuk membalut tubuh tinggi atletisnya, serta rambut yang di sisir klimis. Tapi kali ini, Aksa hanya memakai celana training dan juga kaos serta rambut setengah basahnya yang dibiarkan sedikit berantakan tanpa di sisir. Naya tersadar dari kekagumannya itu saat Aksa ikut duduk di bawah berhadapan dengan Naya dan Gavin. "Kenapa Gavin seperti itu sama Mama?" Tanya Aksa dengan lembut. Naya sempat takut jika Aksa akan memarahi Gavin karena penolakannya. "Gavin tidak suka dia!!" "Ini Mama kamu sekarang, bukan dia!" Tekan Aksa sekarang lebih tegas. Dengan mata yang mulai berk
Namun, baru saja Naya keluar dari lift khusus eksekutif dan hendak berbelok ke arah lobi, sebuah suara telah lebih dulu menghentikan langkahnya. “Bukannya kamu cuti? Untuk apa kamu keluar dari lift eksekutif?!” Naya terkesiap mendapati Mirna ada di sana dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Benar-benar menunjukkan keangkuhannya. "Jangan bilang, kamu dari ruangan Pak Aksa lagi ya? Kamu mau jual air mata lagi?" "Maaf Bu, saya memang dari ruangan Pak Aksa. Tapi saya bukan orang yang seperti itu!" Naya tidak tahan lagi selalu di rendahkan oleh Mirna. "Halah, saya tau. Kamu pasti besar kapala karena Pak Aksa memberikan cuti terus sekarang kamu mulai cari muka lagi, iya kan?!!" "Maaf Bu Mirna, Pak Aksa tidak suka mendengar keributan di kantor ini. Bukannya Bu Mirna sudah tidak bekerja di kantor ini lagi? Kenapa Bu Mirna masih mengusik karyawan di kantor ini?" Mirna kelabakan karena tiba-tiba Seno muncul di sana. Pria itu adalah orang yang paling ditakuti selain Aksa di
Keesokan harinya, Naya terbangun di sebelah tubuh ayahnya yang kini bergantung pada berbagai macam alat. Subuh tadi, setelah Aksa kembali ke Jakarta, dokter yang menangani ayahnya berkata bahwa tubuh ayahnya sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan, sehingga status pasiennya telah resmi berubah menjadi koma. Setiap memikirkan itu, hati Naya terasa semakin sakit. Apalagi saat melihat tangan ayahnya yang semakin keriput dan lemah. Diam-diam, Naya terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga ayahnya dan membiarkan ayahnya terus bekerja di ladang hingga berakhir ditabrak mobil saat ingin memindahkan beras yang telah digiling pulang. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul enam, Naya dengan berat hari bersiap untuk kembali ke Jakarta dan membahas kelanjutan kerja samanya dengan Aksa. Sebab, mau tak mau, berkas-berkas itu harus di-input ke persidangan agar proses perebutan hak asuh bisa segera dilakukan. Naya lalu mencium punggung tangan ayahnya
“Bagaimana?” Aksa kembali bertanya setelah melihat Naya tak kunjung memberi jawaban. "Bapak nggak sedang bercanda kan? Bagaimana bisa sebuah pernikahan—" "Sama sekali tidak, Naya.” Aksa menjawab dengan tenang. “Pernikahan ini bersifat rahasia dan hanya bertujuan untuk mendapat hak asuh atas keponakan saya. Jadi, kita bisa bercerai setelah itu terjadi.” Mendengar itu, Naya mulai agak paham dan rasa khawatirnya berangsur-angsur mulai turun. "Saya memilih kamu karena situasi kita saat ini sama sehingga kita bisa bekerja sama. Kamu mengerti kan?” tambah Aksa lagi. Naya mengangguk paham meski sebagian hatinya merasa dilema karena harus mempermainkan pernikahan. Apalagi dia kini harus membuang prinsipnya yang hanya akan menikah satu kali seumur hidup. Namun, situasi begitu mendesak serta menyangkut hidup dan mati. Jika ia tidak menyetujui permintaan Aksa, maka dari mana lagi ia bisa mendapatkan uang untuk mengoperasi ayahnya? Kalau Naya menyetujui, bagaimana dengan im
Kamu pikir Perusahaan ini badan amal?" Sentak seorang wanita yang membuat Kanaya terkesiap. Belum habis keterkejutan Naya karena kabar yang ia terima dari rumah sakit mengenai ayahnya yang kecelakaan, dia harus kembali dikejutkan dengan bentakan dari managernya, Mirna. Keadaan saat ini sungguh tidak memberi kesempatan bagi Naya untuk sedikit saja menenangkan diri. Jantungnya yang masih berdetak dengan cemas, kini harus ditambah dengan bulir-bulir air mata yang kembali turun membasahi pipinya. "Kamu itu baru dua bulan kerja di sini! Berani-beraninya kamu mau pinjam uang dan meminta cuti? Kamu pikir perusahaan ini milik nenek moyang kamu ya??!!" Suara wanita dengan bibir merah merona itu kembali terdengar menggelegar di lorong perusahaan yang sepi hingga menarik perhatian banyak karyawan lalu lalang. Sebelum ini, Naya telah meminta Mirna untuk berbicara di ruangan wanita itu agar niatnya untuk meminta bantuan tidak didengar oleh orang lain. Namun, Mirna menolak dengan a