Kamu pikir Perusahaan ini badan amal?"
Sentak seorang wanita yang membuat Kanaya terkesiap. Belum habis keterkejutan Naya karena kabar yang ia terima dari rumah sakit mengenai ayahnya yang kecelakaan, dia harus kembali dikejutkan dengan bentakan dari managernya, Mirna. Keadaan saat ini sungguh tidak memberi kesempatan bagi Naya untuk sedikit saja menenangkan diri. Jantungnya yang masih berdetak dengan cemas, kini harus ditambah dengan bulir-bulir air mata yang kembali turun membasahi pipinya. "Kamu itu baru dua bulan kerja di sini! Berani-beraninya kamu mau pinjam uang dan meminta cuti? Kamu pikir perusahaan ini milik nenek moyang kamu ya??!!" Suara wanita dengan bibir merah merona itu kembali terdengar menggelegar di lorong perusahaan yang sepi hingga menarik perhatian banyak karyawan lalu lalang. Sebelum ini, Naya telah meminta Mirna untuk berbicara di ruangan wanita itu agar niatnya untuk meminta bantuan tidak didengar oleh orang lain. Namun, Mirna menolak dengan alasan tidak memiliki banyak waktu. Naya berusaha maklum karena memahami kesibukan Mirna sebagai Manager. Namun, setelah melihat bagaimana Mirna mengeraskan suaranya barusan, Kanaya langsung tahu kalau atasannya itu memang sengaja ingin membuatnya malu. "Tapi, saya benar-benar membutuhkan uang itu untuk biaya operasi ayah saya di rumah sakit, Bu Mirna. Ayah saya kecelakaan dan terkena gegar otak. Karena itu saya butuh sekali tanda tangan Ibu untuk mencairkan dana pinjaman perusahaan.." Naya memang berkata jujur. Pagi tadi, petugas administrasi rumah sakit menelponnya dan mengabarkan bahwa ayahnya dalam kondisi kritis karena kecelakaan, sehingga segera memerlukan tindakan operasi. Tak hanya itu, pihak rumah sakit juga sudah memberi tahu Naya tentang rincian biaya yang harus ditanggung untuk melakukan operasi dan rawat inap selama pemulihan. Namun, Naya yang baru saja lulus kuliah dan bekerja dua bulan di NN Group sama sekali belum memiliki tabungan. Apalagi untuk membayar biaya operasi yang mencapai ratusan juta. Itulah yang membuat Naya langsung meminta bantuan dari managernya setelah mendengar adanya program pinjaman dana darurat bagi karyawan. Namun, bukan bantuan yang ia dapatkan, Naya justru mendapat caci maki yang hampir membuatnya tak bisa membendung air mata. "Jangan ngelunjak! Nggak ada urusan antara ayah kamu dan perusahaan. Jadi, nggak usah desak-desak saya lagi!" Respon final Mirna membuat Kanaya memejamkan mata pasrah dan kembali memutar otak untuk mengumpulkan jumlah uang yang kurang. Baru saja Naya berpikir untuk pulang dan mendaftar pinjaman online, suara bariton yang terdengar begitu dingin sudah lebih dulu menyapa telinganya. “Ada apa ini?!” Dari belakang kerumunan karyawan, sosok Aksa Satya Wardana berdiri dengan berwibawa. Tubuhnya yang tinggi menjulang di tengah keramaian dan terlihat begitu agung. Aura itu langsung membuat Mirna menciut dan membuat Naya takut hingga menundukan kepala. Pria dengan setelan jas mahal itu mendekati Mirna yang suaranya menggelegar ke mana-mana dan menimbulkan keributan yang tidak efisien. “Apa yang kamu lakukan?” Aksa bertanya dan langsung dijawab oleh Mirna. "Saya sedang mendisiplinkan karyawan baru, Pak.” Wanita itu berkata dengan bangga. “Kanaya ini baru bekerja dua bulan, tapi sudah berani minta ACC Pinjaman Dana Darurat perusahaan dengan alasan yang tidak bisa dibuktikan. Oleh karena itu, saya yakin kalau itu hanya akal-akalannya saja, Pak. Bukankah itu berarti dia harus dipecat?" Perkataan Mirna itu sontak membuat Kanaya terbelalak dan menyadari seberapa parah politik di kantor sebenarnya. Bahkan, managernya sendiri berani menukar fakta dengan kebohongan untuk mendepak Kanaya keluar dari kantor. Mendengar itu, Naya langsung mengangkat kepalanya untuk melakukan klarifikasi di depan Sang Presdir. Dia tidak mau di pecat. “Tolong percaya pada saya, Pak. Saya tidak berbohong, ayah saya memang kecelakaan dan membutuhkan uang untuk biaya operasi." Naya tak lagi punya rasa malu meski harus menunjukkan air matanya di depan pemimpin perusahaannya itu. Bahkan kini air matanya jatuh semakin deras hingga membuatnya sesenggukan. “Pak Aksa bisa mengecek nama ayahnya yang terdaftar di Rumah Sakit Medika.” lanjut Naya lagi yang langsung membuat Seno, Sekretaris Aksa, mengangguk dan menelepon seseorang di ponselnya. Pria itu sama sekali tidak berbicara dan hanya mengamati Naya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Meski begitu, Naya sama sekali tidak ambil pusing karena satu-satunya hal yang mengambil alih pikirannya adalah kondisi sang ayah. Naya sangat cemas kalau-kalau ayahnya tak bisa bertahan, karena tiga tahun lalu, ibunya juga berpulang dengan cara yang sama. Mengingat itu, air mata Naya mengalir semakin deras. Beberapa kali dia melihat ponsel untuk memastikan jam bergerak lebih lambat. Sebab, dengan begitu dia masih punya waktu lebih untuk mencari pinjaman lain. Satu menit kemudian, Seno kembali dan berbisik di telinga Arkan yang langsung membuat pria itu mengangguk singkat. "Kanaya?" Aksa menatap Naya dengan datar, membuat Naya terkesiap. "Ke ruangan saya, sekarang!" Perintah Aksa membuat Mirna menyunggingkan senyum kemenangan dan melakukan lambaian kecil kepada Naya. Mengejeknya dalam diam. Namun, Naya tak mempedulikan Mirna dan buru-buru mengikuti Aksa untuk pergi ke ruangannya yang terletak di lantai 46. Aksa berjalan lurus ke tempat duduknya, sementara Naya berdiri dengan gugup di depan pria itu. Meski tubuh mereka berbatasan meja, ternyata Naya masih merasa udara di sekitarnya begitu pengap. Penuh dengan tekanan dari Aksa. Setelah beberapa detik berlalu, Aksa akhirnya bersuara dan mengeluarkan pertanyaan yang semuanya dijawab oleh Naya dengan baik. "Danu Prameswara. Kecelakaan di Jalan Perintis pada jam 4 pagi tadi dan terindikasi mengalami gegar otak. Itu ayah kamu kan?" Kanaya tersentak sebelum menjawab dengan suara parau. "Benar, Pak. Rumah sakit mengabarkan kalau ayah saya perlu dioperasi. Jadi, saya berniat untuk meminjam—" “Berapa tepatnya jumlah yang dibutuhkan rumah sakit?” Penolakan dari mana-mana membuat ucapan dari Aksa terdengar sebagai penghiburan bagi hati Naya. Oleh karena itu, dia buru-buru menjawab dengan mata yang penuh pengharapan. “Kurang lebih tujuh puluh juta, Pak. Namun, tampaknya bisa lebih tergantung seberapa lama pemulihan ayah saya.” Aksa mengangguk-angguk sebelum kemudian mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam laci dan menyerahkannya pada Naya. “Saya bisa menjamin semua biaya yang diperlukan ayah kamu, tapi..” Kanaya sontak mengucapkan terima kasih dengan mata yang berbinar-binar sebelum maju untuk mengambil dokumen di atas meja. Namun, setelah dibuka, dokumen yang Naya kira merupakan berkas kesepakatan hutang ternyata merupakan kertas dengan tulisan lain. ‘Kontrak Pernikahan’ “Pak, ini.. Maksudnya..” Naya mencicit sembari membelalakkan mata. Melihat Naya yang terkejut, Aksa melipat tangannya di perut dan bertopang kaki. “Tapi kamu mau menikah dengan saya.”“Bagaimana?” Aksa kembali bertanya setelah melihat Naya tak kunjung memberi jawaban. "Bapak nggak sedang bercanda kan? Bagaimana bisa sebuah pernikahan—" "Sama sekali tidak, Naya.” Aksa menjawab dengan tenang. “Pernikahan ini bersifat rahasia dan hanya bertujuan untuk mendapat hak asuh atas keponakan saya. Jadi, kita bisa bercerai setelah itu terjadi.” Mendengar itu, Naya mulai agak paham dan rasa khawatirnya berangsur-angsur mulai turun. "Saya memilih kamu karena situasi kita saat ini sama sehingga kita bisa bekerja sama. Kamu mengerti kan?” tambah Aksa lagi. Naya mengangguk paham meski sebagian hatinya merasa dilema karena harus mempermainkan pernikahan. Apalagi dia kini harus membuang prinsipnya yang hanya akan menikah satu kali seumur hidup. Namun, situasi begitu mendesak serta menyangkut hidup dan mati. Jika ia tidak menyetujui permintaan Aksa, maka dari mana lagi ia bisa mendapatkan uang untuk mengoperasi ayahnya? Kalau Naya menyetujui, bagaimana dengan im
Keesokan harinya, Naya terbangun di sebelah tubuh ayahnya yang kini bergantung pada berbagai macam alat. Subuh tadi, setelah Aksa kembali ke Jakarta, dokter yang menangani ayahnya berkata bahwa tubuh ayahnya sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan, sehingga status pasiennya telah resmi berubah menjadi koma. Setiap memikirkan itu, hati Naya terasa semakin sakit. Apalagi saat melihat tangan ayahnya yang semakin keriput dan lemah. Diam-diam, Naya terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga ayahnya dan membiarkan ayahnya terus bekerja di ladang hingga berakhir ditabrak mobil saat ingin memindahkan beras yang telah digiling pulang. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul enam, Naya dengan berat hari bersiap untuk kembali ke Jakarta dan membahas kelanjutan kerja samanya dengan Aksa. Sebab, mau tak mau, berkas-berkas itu harus di-input ke persidangan agar proses perebutan hak asuh bisa segera dilakukan. Naya lalu mencium punggung tangan ayahnya
Setelah menunggu Naya membereskan barang-barang penting yang akan dibawa dari kos-kosannya, mobil milik Aksa membawa Naya ke halaman rumah yang begitu megah.Rumah tingkat dua itu begitu besar hingga Naya tidak berani membayangkan betapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membangunnya.Seketika rasa gugup kembali menyerang meski dia sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa. Jadi, saat melihat Aksa mendekat ke arah pintu untuk masuk, Naya hanya bisa mengikutinya dari belakang sambil berusaha untuk rileks.“Tidak usah gugup, ada saya.”Naya menatap Aksa dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.”“Ayo masuk!” “Iya, Pak”Naya mengekor di belakang Aksa dan berusaha untuk menegakkan dirinya agar sebisa mungkin memperlihatkan gerak tubuh yang natural. Sejak kesepakatan itu dibuat, Aksa sudah begitu baik kepadanya. Jadi, sekarang adalah saatnya bagi Naya untuk membalas budi.“Gaviinnn!” Aksa berseru memanggil nama yang Naya tau sebagai keponakannya.“Papaaa!!!” Naya menatap anak yang
Setelah menunggu Naya membereskan barang-barang penting yang akan dibawa dari kos-kosannya, mobil milik Aksa membawa Naya ke halaman rumah yang begitu megah. Rumah tingkat dua itu begitu besar hingga Naya tidak berani membayangkan betapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membangunnya. Seketika rasa gugup kembali menyerang meski dia sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa. Jadi, saat melihat Aksa mendekat ke arah pintu untuk masuk, Naya hanya bisa mengikutinya dari belakang sambil berusaha untuk rileks. “Tidak usah gugup, ada saya.” Naya menatap Aksa dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” “Ayo masuk!” “Iya, Pak” Naya mengekor di belakang Aksa dan berusaha untuk menegakkan dirinya agar sebisa mungkin memperlihatkan gerak tubuh yang natural. Sejak kesepakatan itu dibuat, Aksa sudah begitu baik kepadanya. Jadi, sekarang adalah saatnya bagi Naya untuk membalas budi. “Gaviinnn!” Aksa berseru memanggil nama yang Naya tau sebagai keponakannya. “Papaaa!!!” Naya menata
Setelah menunggu Naya membereskan barang-barang penting yang akan dibawa dari kos-kosannya, mobil milik Aksa membawa Naya ke halaman rumah yang begitu megah. Rumah tingkat dua itu begitu besar hingga Naya tidak berani membayangkan betapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membangunnya. Seketika rasa gugup kembali menyerang meski dia sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa. Jadi, saat melihat Aksa mendekat ke arah pintu untuk masuk, Naya hanya bisa mengikutinya dari belakang sambil berusaha untuk rileks. “Tidak usah gugup, ada saya.” Naya menatap Aksa dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.” “Ayo masuk!” “Iya, Pak” Naya mengekor di belakang Aksa dan berusaha untuk menegakkan dirinya agar sebisa mungkin memperlihatkan gerak tubuh yang natural. Sejak kesepakatan itu dibuat, Aksa sudah begitu baik kepadanya. Jadi, sekarang adalah saatnya bagi Naya untuk membalas budi. “Gaviinnn!” Aksa berseru memanggil nama yang Naya tau sebagai keponakannya. “Papaaa!!!” Naya menata
Setelah menunggu Naya membereskan barang-barang penting yang akan dibawa dari kos-kosannya, mobil milik Aksa membawa Naya ke halaman rumah yang begitu megah.Rumah tingkat dua itu begitu besar hingga Naya tidak berani membayangkan betapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk membangunnya.Seketika rasa gugup kembali menyerang meski dia sudah mempersiapkan diri sedemikian rupa. Jadi, saat melihat Aksa mendekat ke arah pintu untuk masuk, Naya hanya bisa mengikutinya dari belakang sambil berusaha untuk rileks.“Tidak usah gugup, ada saya.”Naya menatap Aksa dan tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.”“Ayo masuk!” “Iya, Pak”Naya mengekor di belakang Aksa dan berusaha untuk menegakkan dirinya agar sebisa mungkin memperlihatkan gerak tubuh yang natural. Sejak kesepakatan itu dibuat, Aksa sudah begitu baik kepadanya. Jadi, sekarang adalah saatnya bagi Naya untuk membalas budi.“Gaviinnn!” Aksa berseru memanggil nama yang Naya tau sebagai keponakannya.“Papaaa!!!” Naya menatap anak yang
Keesokan harinya, Naya terbangun di sebelah tubuh ayahnya yang kini bergantung pada berbagai macam alat. Subuh tadi, setelah Aksa kembali ke Jakarta, dokter yang menangani ayahnya berkata bahwa tubuh ayahnya sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan, sehingga status pasiennya telah resmi berubah menjadi koma. Setiap memikirkan itu, hati Naya terasa semakin sakit. Apalagi saat melihat tangan ayahnya yang semakin keriput dan lemah. Diam-diam, Naya terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga ayahnya dan membiarkan ayahnya terus bekerja di ladang hingga berakhir ditabrak mobil saat ingin memindahkan beras yang telah digiling pulang. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul enam, Naya dengan berat hari bersiap untuk kembali ke Jakarta dan membahas kelanjutan kerja samanya dengan Aksa. Sebab, mau tak mau, berkas-berkas itu harus di-input ke persidangan agar proses perebutan hak asuh bisa segera dilakukan. Naya lalu mencium punggung tangan ayahnya
“Bagaimana?” Aksa kembali bertanya setelah melihat Naya tak kunjung memberi jawaban. "Bapak nggak sedang bercanda kan? Bagaimana bisa sebuah pernikahan—" "Sama sekali tidak, Naya.” Aksa menjawab dengan tenang. “Pernikahan ini bersifat rahasia dan hanya bertujuan untuk mendapat hak asuh atas keponakan saya. Jadi, kita bisa bercerai setelah itu terjadi.” Mendengar itu, Naya mulai agak paham dan rasa khawatirnya berangsur-angsur mulai turun. "Saya memilih kamu karena situasi kita saat ini sama sehingga kita bisa bekerja sama. Kamu mengerti kan?” tambah Aksa lagi. Naya mengangguk paham meski sebagian hatinya merasa dilema karena harus mempermainkan pernikahan. Apalagi dia kini harus membuang prinsipnya yang hanya akan menikah satu kali seumur hidup. Namun, situasi begitu mendesak serta menyangkut hidup dan mati. Jika ia tidak menyetujui permintaan Aksa, maka dari mana lagi ia bisa mendapatkan uang untuk mengoperasi ayahnya? Kalau Naya menyetujui, bagaimana dengan im
Kamu pikir Perusahaan ini badan amal?" Sentak seorang wanita yang membuat Kanaya terkesiap. Belum habis keterkejutan Naya karena kabar yang ia terima dari rumah sakit mengenai ayahnya yang kecelakaan, dia harus kembali dikejutkan dengan bentakan dari managernya, Mirna. Keadaan saat ini sungguh tidak memberi kesempatan bagi Naya untuk sedikit saja menenangkan diri. Jantungnya yang masih berdetak dengan cemas, kini harus ditambah dengan bulir-bulir air mata yang kembali turun membasahi pipinya. "Kamu itu baru dua bulan kerja di sini! Berani-beraninya kamu mau pinjam uang dan meminta cuti? Kamu pikir perusahaan ini milik nenek moyang kamu ya??!!" Suara wanita dengan bibir merah merona itu kembali terdengar menggelegar di lorong perusahaan yang sepi hingga menarik perhatian banyak karyawan lalu lalang. Sebelum ini, Naya telah meminta Mirna untuk berbicara di ruangan wanita itu agar niatnya untuk meminta bantuan tidak didengar oleh orang lain. Namun, Mirna menolak dengan a