Share

Bab 4

Author: santi.santi
last update Last Updated: 2025-02-27 17:39:57

Namun, baru saja Naya keluar dari lift khusus eksekutif dan hendak berbelok ke arah lobi, sebuah suara telah lebih dulu menghentikan langkahnya.

“Bukannya kamu cuti? Untuk apa kamu keluar dari lift eksekutif?!”

Naya terkesiap mendapati Mirna ada di sana dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Benar-benar menunjukkan keangkuhannya.

"Jangan bilang, kamu dari ruangan Pak Aksa lagi ya? Kamu mau jual air mata lagi?"

"Maaf Bu, saya memang dari ruangan Pak Aksa. Tapi saya bukan orang yang seperti itu!" Naya tidak tahan lagi selalu di rendahkan oleh Mirna.

"Halah, saya tau. Kamu pasti besar kapala karena Pak Aksa memberikan cuti terus sekarang kamu mulai cari muka lagi, iya kan?!!"

"Maaf Bu Mirna, Pak Aksa tidak suka mendengar keributan di kantor ini. Bukannya Bu Mirna sudah tidak bekerja di kantor ini lagi? Kenapa Bu Mirna masih mengusik karyawan di kantor ini?"

Mirna kelabakan karena tiba-tiba Seno muncul di sana. Pria itu adalah orang yang paling ditakuti selain Aksa di kantor itu, jadi Mirna tentu saja tak berkutik di hadapan Seno.

"Maaf Pak Seno, kalau begitu saya permisi!" Mirna sempat melirik Naya dengan tajam.

"Nyonya, Tuan meminta saya untuk mengantar Nyonya mengambil semua barang-barang Nyonya!"

"Baiklah Pak Seno"

Kali ini Naya selamat karena kedatangan Seno. Sepertinya dia harus berhati-hati lain kali, agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Kalau dia terus-terusan keluar dari lift khusus itu, bisa-bisa siapapun curiga pada hubungannya dengan Aksa.

****

Naya hanya membawa barang-barangnya yang tersisa, karena sebelumnya Naya telah menjual barang-barangnya demi mendapatkan uang yang ternyata sangat jauh dari yang ia butuhkan untuk Ayahnya.

Naya terperangah karena Seno membawanya ke sebuah rumah yang sangat megah dan mewah menurut Naya.

"Silahkan Nyonya, Tuan sudah menunggu di dalam!"

Naya hanya diam dan menurut ketika Seno membawanya masuk ke dalam rumah itu. Di saat malam baru tiba begini, rumah itu terlihat begitu terang dengan puluhan lampu yang meneranginya.

"Kamu sudah datang?" Aksa menyambut kedatangan Naha dengan seorang anak kecil di sampingnya.

"Iya Pak" Naya menebak anak kecil itu adalah keponakan yang di maksud Aksa.

"Gavin, ini Mama Naya yang Papa ceritakan tadi!" Aksa berjongkok menyamakan tingginya dengan Aksa.

"Hay, Gavin?" Sapa Naya namun Gavin itu malah menatap Naya dari ujung kepala sampai ujung Kaki. Dia jadi gugup sendiri dengan tatapan bocah tampan itu.

"Gavin?" Aksa menyentuh bahu Gavin, namun Gavin justru berlari menaiki tangga dan menjauh dari mereka.

"Maafkan Gavin ya? Dia memang seperti itu kalau baru bertemu dengan orang baru"

Naya menangkap Aksa tak enak dengan sikap Gavin kepadanya.

"Tidak papa Pak, saya lihat Gavin anak yang manis"

"Dia memang manis, namun kadang menyebabkan!" Aksa menatap ke arah perginya Gavin."Kalau begitu, ayo saya antar ke kamar" Ajak Aksa pada Naya kemudian beralih pada Seno. "Bawakan koper milik Nyonya ke kamar!"

"Baik Tuan!"

Naya terperangah mendengar Aksa menyebut dirinya benar-benar layaknya seorang Nyonya. Sampai-sampai Naya berpikir apa sebenarnya dia dan Aksa sedang memainkan derama pernikahan.

Tapi meski begitu, Naya tak besar kepala. Naya menganggap Aksa memperlakukannya seperti itu hanya agar terbiasa jika berada di depan orang lain.

Aksa mengajak Naya naik ke lantai dua, di mana kamarnya berada. Naya begitu takjub melihat kamar yang begitu besar. Ukurannya bahkan berkali-kali lebih besar dari kamar kosnya.

Kamar yang terlihat manly menurut Naya dengan warna hitam dan abu-abu yang mendominasi.

Jangan lupakan harum semerbak yang sama dengan parfum mahal milik Aksa, benar-benar memanjakan hidung Naya.

"Ini kamar kita!"

Ucapan Aksa membuat Naya seperti tersedak ludahnya sendiri.

"K-kamar kita Pak?"

"Iya Naya. Tidak mungkin Gavin melihat Papa dan Namanya pisah kamar kan?"

"I-ya sih Pak!" Nya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Sepertinya drama pernikahan yang sedang ia mainkan hampir terasa nyata.

"Kamu tenang saja, kita hanya berbagi kamar saja. Saya tidak mau nantinya kalau Mama atau Kakek saya tiba-tiba datang dan mencurigai tentang pernikahan kita"

"Saya menurut apa kata Pak Aksa saja!"

Aksa mengulas senyum tipisnya pada Naya kemudian sedikit menjauh sambil melepas jas mahalnya.

"Kamu bisa merapikan barang-barang kamu di sini. Cari saja ruang yang kosong yang penting muat untuk baju-baju mu. Saya mandi dulu!"

"Iya Pak Aksa!"

Naya masih terdiam mengagumi ruangan itu setelah Aksa masuk ke dalam kamar mandi. Lemari yang menyatu dengan dinding itu benar-benar besar dan panjang.

Pintunya yang terbuat dari kaca membuat Naya bisa melihat deretan baju-baju mahal di dusun dan digantung dengan rapi sesuai warnanya.

"Pak Aksa orangnya benar-benar rapi" Gumam Naya.

Dia pun segera, menyusun bajunya. Dia tak mau kalah rapi dengan Aksa. Dia juga tak mau terlihat buruk, walau dia hanya wanita dari kalangan biasa, dia juga bisa menjadi orang yang rapi dan tertata.

****

Karena terlalu lama menunggu Aksa di dalam kamar mandi, Naya memilih untuk turun. Mencari penghuni lain di rumah besar itu. Rumah yang terlihat begitu sepi padahal baru menjelang jam makan malam.

Di mendengar suara Gavin bersama seseorang berada di ruang tengah hingga membawa Naya untuk ikut mendekat ke sana.

"Kalian sedang apa?"

"Nyonya Naya?" Wanita dengan seragam merah muda itu tampak menyapa Naya.

"Suster sudah tau saya?"

"Tadi Pak Seno sudah memberitahu saya, Nyonya"

"Oh begitu" Naya mengangguk "Emm, suster sedang menyuapi Gavin?" Naya menatap piring di tangan suster.

"Iya Nyonya, tapi Den dari tadi baru dapat satu suap saja. Den Gavin memang susah makan Nyonya!"

Naya langsung menatap Gavin yang kebetulan sedang menatapnya. Namun Gavin langsung memalingkan wajahnya ketika matanya bertatapan degan Naya.

"Biar saya coba ya suster?"

"Silahkan Nyonya!"

Naya membawa piring berisi makanan itu mendekat pada Gavin.

"Gavin mau Mama suapi?" Naya duduk di samping Gavin yang berada di atas karpet.

"Tidak!" Tolak Gavin dengan tegas.

"Kenapa tidak mau? Boleh Mama tau alasannya?" Naya mencoba untuk sabar karena dia tau mendekati anak kecil tentu lebih sulit dibandingkan dewasa.

"Gavin tidak mau!! Gavin mau Papa!! Kamu pasti mau ambil Papa dari Gavin kan??!!"

"Gavin!!" Suara Aksa sontak membuat Gavin terdiam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 5

    Bab 5 "Gavin tidak mau!! Gavin mau Papa!! Kamu pasti mau ambil Papa dari Gavin kan??!!" "Gavin!!" Suara Aksa sontak membuat Gavin terdiam. Naya terkejut karena ternyata Aksa sudah berada di sana. Yang lebih membuat Naya terdiam tanpa kata adalah, penampilan Aksa yang jauh berbeda dari biasanya. Sejak pertama melihat Aksa hingga kemarin, Naya hanya melihat seorang Aksa yang selalu memakai jas mahal untuk membalut tubuh tinggi atletisnya, serta rambut yang di sisir klimis. Tapi kali ini, Aksa hanya memakai celana training dan juga kaos serta rambut setengah basahnya yang dibiarkan sedikit berantakan tanpa di sisir. Naya tersadar dari kekagumannya itu saat Aksa ikut duduk di bawah berhadapan dengan Naya dan Gavin. "Kenapa Gavin seperti itu sama Mama?" Tanya Aksa dengan lembut. Naya sempat takut jika Aksa akan memarahi Gavin karena penolakannya. "Gavin tidak suka dia!!" "Ini Mama kamu sekarang, bukan dia!" Tekan Aksa sekarang lebih tegas. Dengan mata yang mulai berk

    Last Updated : 2025-02-27
  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 6

    "Siapa kamu?!!" Wanita itu menatap Naya yang kini mematung karena tak menyangka akan bertemu dengan Nyonya besar keluarga Wardana. Naya gelagapan, dia tidak tau harus menjawab apa di hadapan Nyonya besar itu. "Ada apa Mama pagi-pagi ke sini?" Kedatangan Aksa di belakang Naya membuat Naya merasa terselamatkan. "Siapa dia Aksa? Pembantu baru kamu?" Widuri menatap Naya dengan sinis. "Ini Naya, istriku Ma!" "Jangan bercanda Aksa!" Widuri tertawa sumbang karena mengira ucapan Aksa adalah kebohongan belaka. "Kami sudah menikah Ma, Naya benar-bener istriku!" Aksa menegaskan sekali lagi pada Mamanya. "Berani-beraninya kamu menikah tanpa persetujuan dan ijin dari Mama Aksa!! Kamu tidak bisa sembarangan menikah dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya!" Hati Naya merasa tersentil dengan ucapan Widuri. Dia adalah anak dari Ayah dan Ibunya, dia bukan wanita yang disebutkan oleh Nyonya Widuri tadi. "Hey kamu!" Pasti kamu punya niat terselubung dengan menikah sama anak saya

    Last Updated : 2025-03-01
  • Istri Kesayangan Sang CEO   Tinggi dan kokoh

    "Kurang ajar! Ternyata Aksa cerdik juga!" Alisa melempar ponselnya dengan asal ke atas sofa. "Ada apa Honey? Kenapa marah-marah?" Serang pria memeluk pinggang ramping Alisa dari belakang. "Sepertinya kita akan susah mendapatkan Gavin. Aksa tidak mau kalah, dia kemarin sudah menikahi sorang wanita. Pasti itu rencananya agar bisa mendapatkan Gavin!" "Benarkah?" Pria itu tampak terkejut. "Hmm, aru saja Nenek tua itu menghubungi ku. Tapi kalau bener, kita harus bagaimana Gio?" Alisa terlihat panik dan berbalik menatap pria yang menjadi kekasihnya itu. Rencananya yang sudah di depan mata tampaknya akan gagal karena perlawanan dari Aksa. "Kamu tenang saja Honey, aku akan cari acara supaya Aksa tidak bisa mendapatkan Gavin!" "Tapi apa yang akan kamu lakukan? Jangan nekat lagi, aku tidak mau kalau sampai kita berkahir di dalam penjara!" "Itu tidak akan terjadi Honey, kamu tenang saja!" Gio langsung menyambar bibir merah milik Alisa yang selalu membuatnya candu. "Kena

    Last Updated : 2025-03-02
  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 1

    Kamu pikir Perusahaan ini badan amal?" Sentak seorang wanita yang membuat Kanaya terkesiap. Belum habis keterkejutan Naya karena kabar yang ia terima dari rumah sakit mengenai ayahnya yang kecelakaan, dia harus kembali dikejutkan dengan bentakan dari managernya, Mirna. Keadaan saat ini sungguh tidak memberi kesempatan bagi Naya untuk sedikit saja menenangkan diri. Jantungnya yang masih berdetak dengan cemas, kini harus ditambah dengan bulir-bulir air mata yang kembali turun membasahi pipinya. "Kamu itu baru dua bulan kerja di sini! Berani-beraninya kamu mau pinjam uang dan meminta cuti? Kamu pikir perusahaan ini milik nenek moyang kamu ya??!!" Suara wanita dengan bibir merah merona itu kembali terdengar menggelegar di lorong perusahaan yang sepi hingga menarik perhatian banyak karyawan lalu lalang. Sebelum ini, Naya telah meminta Mirna untuk berbicara di ruangan wanita itu agar niatnya untuk meminta bantuan tidak didengar oleh orang lain. Namun, Mirna menolak dengan a

    Last Updated : 2025-02-27
  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 2

    “Bagaimana?” Aksa kembali bertanya setelah melihat Naya tak kunjung memberi jawaban. "Bapak nggak sedang bercanda kan? Bagaimana bisa sebuah pernikahan—" "Sama sekali tidak, Naya.” Aksa menjawab dengan tenang. “Pernikahan ini bersifat rahasia dan hanya bertujuan untuk mendapat hak asuh atas keponakan saya. Jadi, kita bisa bercerai setelah itu terjadi.” Mendengar itu, Naya mulai agak paham dan rasa khawatirnya berangsur-angsur mulai turun. "Saya memilih kamu karena situasi kita saat ini sama sehingga kita bisa bekerja sama. Kamu mengerti kan?” tambah Aksa lagi. Naya mengangguk paham meski sebagian hatinya merasa dilema karena harus mempermainkan pernikahan. Apalagi dia kini harus membuang prinsipnya yang hanya akan menikah satu kali seumur hidup. Namun, situasi begitu mendesak serta menyangkut hidup dan mati. Jika ia tidak menyetujui permintaan Aksa, maka dari mana lagi ia bisa mendapatkan uang untuk mengoperasi ayahnya? Kalau Naya menyetujui, bagaimana dengan im

    Last Updated : 2025-02-27
  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 3

    Keesokan harinya, Naya terbangun di sebelah tubuh ayahnya yang kini bergantung pada berbagai macam alat. Subuh tadi, setelah Aksa kembali ke Jakarta, dokter yang menangani ayahnya berkata bahwa tubuh ayahnya sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan, sehingga status pasiennya telah resmi berubah menjadi koma. Setiap memikirkan itu, hati Naya terasa semakin sakit. Apalagi saat melihat tangan ayahnya yang semakin keriput dan lemah. Diam-diam, Naya terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga ayahnya dan membiarkan ayahnya terus bekerja di ladang hingga berakhir ditabrak mobil saat ingin memindahkan beras yang telah digiling pulang. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul enam, Naya dengan berat hari bersiap untuk kembali ke Jakarta dan membahas kelanjutan kerja samanya dengan Aksa. Sebab, mau tak mau, berkas-berkas itu harus di-input ke persidangan agar proses perebutan hak asuh bisa segera dilakukan. Naya lalu mencium punggung tangan ayahnya

    Last Updated : 2025-02-27

Latest chapter

  • Istri Kesayangan Sang CEO   Tinggi dan kokoh

    "Kurang ajar! Ternyata Aksa cerdik juga!" Alisa melempar ponselnya dengan asal ke atas sofa. "Ada apa Honey? Kenapa marah-marah?" Serang pria memeluk pinggang ramping Alisa dari belakang. "Sepertinya kita akan susah mendapatkan Gavin. Aksa tidak mau kalah, dia kemarin sudah menikahi sorang wanita. Pasti itu rencananya agar bisa mendapatkan Gavin!" "Benarkah?" Pria itu tampak terkejut. "Hmm, aru saja Nenek tua itu menghubungi ku. Tapi kalau bener, kita harus bagaimana Gio?" Alisa terlihat panik dan berbalik menatap pria yang menjadi kekasihnya itu. Rencananya yang sudah di depan mata tampaknya akan gagal karena perlawanan dari Aksa. "Kamu tenang saja Honey, aku akan cari acara supaya Aksa tidak bisa mendapatkan Gavin!" "Tapi apa yang akan kamu lakukan? Jangan nekat lagi, aku tidak mau kalau sampai kita berkahir di dalam penjara!" "Itu tidak akan terjadi Honey, kamu tenang saja!" Gio langsung menyambar bibir merah milik Alisa yang selalu membuatnya candu. "Kena

  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 6

    "Siapa kamu?!!" Wanita itu menatap Naya yang kini mematung karena tak menyangka akan bertemu dengan Nyonya besar keluarga Wardana. Naya gelagapan, dia tidak tau harus menjawab apa di hadapan Nyonya besar itu. "Ada apa Mama pagi-pagi ke sini?" Kedatangan Aksa di belakang Naya membuat Naya merasa terselamatkan. "Siapa dia Aksa? Pembantu baru kamu?" Widuri menatap Naya dengan sinis. "Ini Naya, istriku Ma!" "Jangan bercanda Aksa!" Widuri tertawa sumbang karena mengira ucapan Aksa adalah kebohongan belaka. "Kami sudah menikah Ma, Naya benar-bener istriku!" Aksa menegaskan sekali lagi pada Mamanya. "Berani-beraninya kamu menikah tanpa persetujuan dan ijin dari Mama Aksa!! Kamu tidak bisa sembarangan menikah dengan wanita yang tidak jelas asal usulnya!" Hati Naya merasa tersentil dengan ucapan Widuri. Dia adalah anak dari Ayah dan Ibunya, dia bukan wanita yang disebutkan oleh Nyonya Widuri tadi. "Hey kamu!" Pasti kamu punya niat terselubung dengan menikah sama anak saya

  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 5

    Bab 5 "Gavin tidak mau!! Gavin mau Papa!! Kamu pasti mau ambil Papa dari Gavin kan??!!" "Gavin!!" Suara Aksa sontak membuat Gavin terdiam. Naya terkejut karena ternyata Aksa sudah berada di sana. Yang lebih membuat Naya terdiam tanpa kata adalah, penampilan Aksa yang jauh berbeda dari biasanya. Sejak pertama melihat Aksa hingga kemarin, Naya hanya melihat seorang Aksa yang selalu memakai jas mahal untuk membalut tubuh tinggi atletisnya, serta rambut yang di sisir klimis. Tapi kali ini, Aksa hanya memakai celana training dan juga kaos serta rambut setengah basahnya yang dibiarkan sedikit berantakan tanpa di sisir. Naya tersadar dari kekagumannya itu saat Aksa ikut duduk di bawah berhadapan dengan Naya dan Gavin. "Kenapa Gavin seperti itu sama Mama?" Tanya Aksa dengan lembut. Naya sempat takut jika Aksa akan memarahi Gavin karena penolakannya. "Gavin tidak suka dia!!" "Ini Mama kamu sekarang, bukan dia!" Tekan Aksa sekarang lebih tegas. Dengan mata yang mulai berk

  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 4

    Namun, baru saja Naya keluar dari lift khusus eksekutif dan hendak berbelok ke arah lobi, sebuah suara telah lebih dulu menghentikan langkahnya. “Bukannya kamu cuti? Untuk apa kamu keluar dari lift eksekutif?!” Naya terkesiap mendapati Mirna ada di sana dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Benar-benar menunjukkan keangkuhannya. "Jangan bilang, kamu dari ruangan Pak Aksa lagi ya? Kamu mau jual air mata lagi?" "Maaf Bu, saya memang dari ruangan Pak Aksa. Tapi saya bukan orang yang seperti itu!" Naya tidak tahan lagi selalu di rendahkan oleh Mirna. "Halah, saya tau. Kamu pasti besar kapala karena Pak Aksa memberikan cuti terus sekarang kamu mulai cari muka lagi, iya kan?!!" "Maaf Bu Mirna, Pak Aksa tidak suka mendengar keributan di kantor ini. Bukannya Bu Mirna sudah tidak bekerja di kantor ini lagi? Kenapa Bu Mirna masih mengusik karyawan di kantor ini?" Mirna kelabakan karena tiba-tiba Seno muncul di sana. Pria itu adalah orang yang paling ditakuti selain Aksa di

  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 3

    Keesokan harinya, Naya terbangun di sebelah tubuh ayahnya yang kini bergantung pada berbagai macam alat. Subuh tadi, setelah Aksa kembali ke Jakarta, dokter yang menangani ayahnya berkata bahwa tubuh ayahnya sama sekali tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan, sehingga status pasiennya telah resmi berubah menjadi koma. Setiap memikirkan itu, hati Naya terasa semakin sakit. Apalagi saat melihat tangan ayahnya yang semakin keriput dan lemah. Diam-diam, Naya terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga ayahnya dan membiarkan ayahnya terus bekerja di ladang hingga berakhir ditabrak mobil saat ingin memindahkan beras yang telah digiling pulang. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul enam, Naya dengan berat hari bersiap untuk kembali ke Jakarta dan membahas kelanjutan kerja samanya dengan Aksa. Sebab, mau tak mau, berkas-berkas itu harus di-input ke persidangan agar proses perebutan hak asuh bisa segera dilakukan. Naya lalu mencium punggung tangan ayahnya

  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 2

    “Bagaimana?” Aksa kembali bertanya setelah melihat Naya tak kunjung memberi jawaban. "Bapak nggak sedang bercanda kan? Bagaimana bisa sebuah pernikahan—" "Sama sekali tidak, Naya.” Aksa menjawab dengan tenang. “Pernikahan ini bersifat rahasia dan hanya bertujuan untuk mendapat hak asuh atas keponakan saya. Jadi, kita bisa bercerai setelah itu terjadi.” Mendengar itu, Naya mulai agak paham dan rasa khawatirnya berangsur-angsur mulai turun. "Saya memilih kamu karena situasi kita saat ini sama sehingga kita bisa bekerja sama. Kamu mengerti kan?” tambah Aksa lagi. Naya mengangguk paham meski sebagian hatinya merasa dilema karena harus mempermainkan pernikahan. Apalagi dia kini harus membuang prinsipnya yang hanya akan menikah satu kali seumur hidup. Namun, situasi begitu mendesak serta menyangkut hidup dan mati. Jika ia tidak menyetujui permintaan Aksa, maka dari mana lagi ia bisa mendapatkan uang untuk mengoperasi ayahnya? Kalau Naya menyetujui, bagaimana dengan im

  • Istri Kesayangan Sang CEO   Bab 1

    Kamu pikir Perusahaan ini badan amal?" Sentak seorang wanita yang membuat Kanaya terkesiap. Belum habis keterkejutan Naya karena kabar yang ia terima dari rumah sakit mengenai ayahnya yang kecelakaan, dia harus kembali dikejutkan dengan bentakan dari managernya, Mirna. Keadaan saat ini sungguh tidak memberi kesempatan bagi Naya untuk sedikit saja menenangkan diri. Jantungnya yang masih berdetak dengan cemas, kini harus ditambah dengan bulir-bulir air mata yang kembali turun membasahi pipinya. "Kamu itu baru dua bulan kerja di sini! Berani-beraninya kamu mau pinjam uang dan meminta cuti? Kamu pikir perusahaan ini milik nenek moyang kamu ya??!!" Suara wanita dengan bibir merah merona itu kembali terdengar menggelegar di lorong perusahaan yang sepi hingga menarik perhatian banyak karyawan lalu lalang. Sebelum ini, Naya telah meminta Mirna untuk berbicara di ruangan wanita itu agar niatnya untuk meminta bantuan tidak didengar oleh orang lain. Namun, Mirna menolak dengan a

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status