“Dia cuma suka makan masakanku,” kata Brandon sembari memegang pisau di tangannya.Calvin, “….”Calvin bersandar di meja dapur sambil mengunyah timun yang baru dia ambil dari kulkas. Segala macam kegiatan seperti mencuci dan memotong, semuanya Brandon kerjaan dengan sangat mahir. Calvin hanya meratap melihat Brandon begitu sibuk beraktivitas di dapur. Dia sungguh tidak menduga semasa hidupnya bisa melihat BRandon membuat sup dengan tangannya sendiri. Apakah kekuatan dari cinta sebesar itu?“Sekarang aku jadi makin penasaran sama kamu. Sebenarnya istri kamu ada kasih racun apa ke kamu sampai kamu begitu tergila-gila sama dia,” tanya Calvin dengan hati-hati, khawatir lagi-lagi dia akan membuat Brandon marah.“Orang kayak kamu nggak bakal ngerti,” balas Brandon sembari menuangkan sayuran yang sudah dia potong ke dalam panci dan mengeluarkan suara mendesis.Hah?! Orang kayak Calvin? Apa maksudnya itu?! Pengalaman Calvin dalam berpacaran jauh lebih kaya dibandingkan Brandon asal tahu saja.
Calvin merasa dirinya tidak diperlakukan dengan adil. Padahal jelas-jelas tadi dia yang kaget!Tak lama Brandon sudah selesai memasak. Ada udang lada garam, sapi masak tomat, ayam goreng mentega, dan satu mangkuk sup. Di panci terahir juga masih ada sup sarang burung walet sebagai penutup.Sudah terlanjur di sini, sekalian saja Calvin numpang makan baru pulang. Dia pun berinisiatif membawakan makanannya ke meja makan dan duduk di kursi, lalu mengambil alat makan dan hendak menyantap, tapi tiba-tiba Brandon memukul punggung tangannya.“Sudah kubilang nggak ada makanan buat kamu!”“Waduh, aku lihat kamu masaknya banyak banget takutnya malah nggak habis. Nanti malah jadi buang-buang makanan! Kita hidup kan harus pakai secukupnya saja, jadi biar aku bantu habisin!”“Nggak perlu!” kata Brandon seraya menepis tangan Calvin seperti sedang mengusir lalat.Satu hal yang patut dipuji dari Calvin adalah mukanya yang tebal. Dia bermain kejar-kejaran dengan Brandon dan akhirnya berhasil mendapatkan
Selama ini Calvin menganggap pesona yang dia miliki tidak terbatas, tapi tak disangka Yuna malah sedikit pun tidak tergoda dan malah melirik ke arah Brandon, “Mending … kamu suruh dia pergi saja.”Calvin sungguh terpukul karena untuk pertama kalinya dia gagal menggoda wanita lain dengan pesonanya, “Bukan begitu maksudku! Aku makannya memang nggak banyak. Nggak, nggak, bahkan nggak makan juga aku nggak masalah! Brandon, kamu jangan jahat begitu, dong. Kita kan sudah kenal lama ….”“Kamu milih untuk angkat kaki sendiri atau aku panggilin Frans?” tanya Brandon.“Jangan, jangan!”Hari ini Calvin sudah digendong oleh Frans sebanyak dua kali. Kalau sampai terjadi sekali lagi, tanpa orang lain tahu pun Calvin sudah tidak punya muka lagi untuk bertemu dengan orang lain.“Cantik, aku datang bawain hadiah pernikahan buat kalian, lho. Masa aku malah diusir?” kata Calvin.“Hadiah pernikahan?” tanya Yuna ke Brandon.“Karena kita sudah menikah, jelas kita harus adain pesta secepatnya. Menurut kamu g
“Kalau nggak suka, gedung yang ada di perbatasan timur kota aku kasih buat kamu!”Meski Yuna tidak tahu seperti apa gedung yang dimaksud, dan dia sendiri juga tidak butuh itu, anggap saja ini sebagai taruhan kecil.“Oke!” sahut Yuna.Calvin pun merasa lega setelah mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan dari Yuna. Lalu dia pun duduk kembali ke kursinya dan bertanya, “Jadi … aku boleh ikut makan?”“Jelas boleh, dong. Siapa pun yang bertamu ke sini aku kasih makan yang banyak.”Calvin, “….”Padahal beberapa saat yang lalu mereka berdua baru saja mengancam akan mengusir Calvin …. Sepertinya Calvin harus memikirkan dengan baik apa yang sebaiknya dia ucapkan. Wanita cantik ini ternyata bukan bidadari, melainkan iblis yang pandai memikat hati pria lain!Setelah memastikan kalau dia boleh tetap di sini dan makan bersama, Calvin pun kembali lagi dengan sifat aslinya yang suka bergosip.“Oh ya, dari tadi kita sudah ngobrol panjang lebar, tapi aku masih belum tahu nama kamu siapa?”“Panggil saj
Raut wajah Frans seakan mengatakan dia datang membawa kabar buruk. Brandon pun menyadari apa yang ingin Frans sampaikan pasti bukanlah sesuatu yang sepele. Dia menoleh ke arah Yuna dan Calvin sekilas, lalu melangkahkan kakinya ke luar.“Ada apa?”Eskpresi wajah Brandon langsung berubah ketika mendengar ucapan Frans yang dibisikkan ke telinganya, dan spontan dia menatap Yuna. Meski hanya lirikan mata tanpa kata-kata, tanpa alasan yang jelas tiba-tiba jantung Yuna berdegup kencang.“Oke, aku ngerti,” jawab Brandon mengangguk, kemudian dia kembali ke dalam sementara Frans masih menunggu di luar.Calvin yang masih tidak menyadari apa yang terjadi terus saja makan dengan lahap. Dia benar-benar tidak menduga masakan Brandon ternyata begitu nikmat, benar-benar tidak kalah dengan kualitas restoran bintang lima. Saking lahapnya Calvin makan sampai dia tidak memedulikan apa yang sedang mereka bicarakan.“Barusan Paulownia kebakaran.”“Oh,” sahut Yuna, sembari menunggu apa lagi yang hendak Brando
Kalau benar anggota keluarganya ada yang tinggal di sana, berarti kondisi keluarganya sangat buruk.“Bukan,” jawab Brandon, “Teman kerja.”“Teman kerja?! Tapi tadi dia ….”Tadi Calvin melihat Yuna begitu panik seakan-akan dirinya sendiri yang terkena musibah, tapi ternyata … teman kerjanya? Apakah hubungan Yuna dengan teman kerjanya sedekat itu?“Mereka teman akrab.”“Istri kamu memang setia kawan!” puji Calvin sambil mengacungkan jempol.“Aku nggak bisa nampung kamu lagi sekarang. Frans juga nggak bisa ngantar pulang. Kamu ambil saja satu mobil yang ada di halaman depan buat pulang.”Selama semalaman penuh, kata-kata yang Brandon ucapkan barusan adalah hal yang paling menyentuh hati bagi Calvin.“Oke! Tapi masih ada satu hal lagi yang mau aku tanyain.”“Apa?”Calvin menoleh ke belakang sekilas untuk memastikan Yuna tidak ada, lalu dia pun bertanya, “Istri kamu marganya siapa, sih?”Sebelum Brandon sempat melampiaskan kekesalannya, Calvin segera menambahkan, “Kamu nggak mau, ‘kan, kala
Kebanyakan penduduk di Paulownia sudah tertidur lelap karena kebakaran terjadi di malam hari, makanya korban jiwanya juga sangat banyak. Rumah sakit setempat langsung sibuk menangani pasien luka bakar, dan di lobby rumah sakit dapat terdengar raungan orang-orang yang sedang kesakitan.Yuna dengan langkahnya yang cepat menembus keramaian sementara Brandon berjaga di sampingnya dan Frans berada di depan mereka berdua untuk membuka jalan. Tak lama mereka pun berhasil menemukan Stella.Luka yang Stella derita untungnya tidak terlalu parah, hanya sebagian dari tangan dan wajahnya saja yang terkena luka bakar ringan. Kulit lutut dan pergelangan kaki juga sedikit robek karena terjatuh ketika sedang melarikan diri, tapi secara keseluruhan, masih jauh lebih baik daripada orang lain.Stella masih baik-baik saja, tapi sayangnya kondisi ibunya sedikit berbeda. Ibunya Stella harus mendapatkan penanganan di ruang operasi, dan dari tadi Stella terus menunggu di depan pintu sambil menangis.“Stella!”
“Yuna, Yuna ….”Dari awal Brandon terus memperhatikan reaksi Yuna dan menyadari ada yang tidak beres, dia pun dengan sigap langsung menangkap tubuh Yuna yang terjatuh dan berkali-kali menyerukan namanya. Stella yang sedang menangis tersedu-sedu juga sudah tidak lagi memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya.“Frans, kamu jagain Stella,” kata Brandon memberi perintah dengan kepala dingin.Frans mengangguk dan menjaga Stella di sampingnya tanpa banyak bicara. Kedua tangannya berpangku di bahu Stella. Brandon menggendong tubuh Yuna dan segera mencarikan dokter, “Dokter, suster, ada yang pingsan!” ***“Kamu mencelakai orang tua kamu.”“Kamu yang ngebunuh mereka!”“Kenapa mereka mati tapi kamu masih hidup? Karena kamu yang bunuh mereka!”“Papa, Mama, jangan pergi ….”“Papa, Mama ….”Berbagai macam suara berseliweran di telinga seperti sedang berbicara dengan Stella. Di depannya ada begitu banyak orang, tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa itu. Selain itu ada juga suara, ca
“Karena kamu begitu setia padaku, aku kasih kamu satu kesempatan lagi,” kata sang Ratu mendesah ringan.“Mau aku jadi bahan percobaanmu? Nggak masalah!” kata Fred dengan alis terangkat. “Toh sekarang aku juga nggak bisa menolak, bukan?”“Apa kamu ada permintaan lain?”Bagaimanapun juga, mereka adalah tuan dan pelayan yang sudah bekerja bersama selama bertahun-tahun, yang sudah melewati suka dan duka bersama. Andaikan Fred memiliki niat untuk melakukan kudeta, dia sudah berkontribusi banyak dan layak untuk mendapatkan apa yang dia minta sebelum dieksekusi.“Yang Mulia tahu aku sudah nggak membutuhkan apa-apa lagi. Aku sudah lama bercerai dengan istriku dan anakku ikut dia ke luar negeri. Aku cuma sendiri mendedikasikan hidupku untukmu, Yang Mulia Ratu. Sekarang aku sudah nggak punya permintaan apa-apa lagi. Oh ya, kalau sampai ….”Fred berhenti sejenak, kemudian dia melanjutkan, “Kalau sampai eksperimen ini berhasil, aku bisa terus hidup lebih lama di dalam badan anak itu, aku berharap
Di sebuah ruang bawah tanah yang lembap dan tidak terkena cahaya matahari, begitu masuk langsung tercium bau busuk yang menyengat hidung. Saat pintu dibuka, dan mendengar ada suara kursi roda yang mendekat, orang yang berada di dalam langsung mendongak menatap ke depan.“Ah, Yang Mulia datang untuk menemui aku juga.”Orang itu menyunggingkan senyum yang kaku. Dia yang dulu adalah seorang duta besar terhormat kini menjadi tak lebih dari seperti tawanan perang. Kursi roda berhenti, lalu sang Ratu menatapnya, orang yang sudah meneaninya selama puluhan tahun lebih.“Fred, apa kamu menyesal?” tanyanya.“Menyesal? Apa yang perlu disesali? Aku menyesal kenapa eksperimennya nggak aku lakukan lebih awal? Atau menyesal karena terlalu banyak berpikir? Ataukah menyesal karena aku nggak menyadari lebih awal kalau kamu mencurigaiku? Yang menang memakan yang kalah, itu sudah hukumnya. Nggak ada yang perlu aku sesali.”Sang Ratu sempat terdiam sesaat mendengar kata-kata Fred.“Jadi kamu nggak pernah m
“Tapi sudah terlambat kalau terus menunggu sampai eksperimennya dimulai!” kata Shane seraya menggertakkan gigi.Dia tidak punya sisa waktu lagi untuk bertaruh. Kalau sampai ternyata eksperimennya keburu dimulai, betapa sakit hatinya Shane membayangkan tubuh Nathan yang masih kecil itu harus terbaring di atas meja operasi yang dingin dan dibedah seperti tikus percobaan. Dia tidak bisa menerima hal seperti itu terjadi. Dia tidak tega melihat anaknya yang masih kecil harus mengalami penderitaan yang sebegitu parahnya. Nathan tidak tahu apa-apa dan diculik begitu saja, terpisah dari ayahnya begitu lama. Dan sekarang, dia harus menghadapi semua ini. Bahkan … bahkan dia tidak tahu apa yang akan dia hadapi.“Tapi kalau kamu ke sana sekarang, memangnya kamu bisa menolong Nathan?” Brandon bertanya.“Aku nggak peduli. Kalaupun aku harus mati, aku bakal tetap berusaha!”“Ya sudah, terserah kamu. Pergi sana!” Brandon tak lagi membujuk Shane. Dia memukul meja yang ada di depannya dan berseru kepada
Mau dipikir seperti apa pun, itu rasanya agak mustahil.“Aku juga berharap informasiku salah, tapi ….”Brandon tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi itu sudah menyiratkan intensi yang sangat jelas. Berhubung ini sudah menyangkut nasib Nathan, jika informasi yang dia dapat tidak bisa dipercaya, dia pun tidak akan memberitahukannya kepada Shane.“Jadi selama ini dia nggak mau membebaskan Nathan karena itu? Itu alasan kenapa selama ini aku nggak pernah berhasil menemukan dia. Jadi … mereka dari awal memang nggak ada niat untuk melepaskan Nathan, dan mereka menyandera dia dengan alasan membutuhkan investasi dana dariku, itu semua bohong?!”Rona wajah Shane di saat itu sudah pucat pasi. Suaranya pasti terdengar cukup datar, tetapi bisa terdengar bibirnya sedikit gemetar. Siapa pun yang menghadapi hal semacam ini pasti akan memberikan reaksi yang sama.Chermiko tidak tahu seperti apa rasanya memiliki seorang anak, tetpai dia dapat memahami perasaan Shane. Dia sendiri juga tidak keberatan di
“Ratu mau Fred jadi bahan percobaannya?” Chermiko bertanya, tetapi dia langsung membantah pertanyaan itu. “Nggak, itu mustahil! Aku dulu pernah ada di sana dan banyak tahu tentang R10. eksperimen ini nggak pernah diuji coba karena syarat dari penerimanya terlalu ketat.”Syaratnya adalah mendapatkan dua tubuh yang cocok, dan itu jelas bukan hal yang mudah untuk dicari. Sama seperti melakukan donor organ, tubuh pendonor dan penerima donor harus cocok baru bisa dilaksanakan. Hanya dengan syarat itu terpenuhi barulah tidak terjadi reaksi penolakan. Makanya, kalaupun Ratu punya niat untuk itu, dia harus mencarikan tubuh yang cocok dengan Fred.“Kamu kira nggak ada?” Brandon bertanya balik dan seketika membuat Chermiko dan Shane kaget. Chermiko dan Shane sama-sama dibuat bertanya-tanya, siapa orang yang akan menjadi wadah baru bagi jiwa Fred.“Dan orang yang bakal menampung jiwa Fred itu bukan orang asing. Fred sendiri yang cari,” kata Brandon. “Kalau dia nggak ketemu orang yang cocok, mana
“Sudah nggak ada lagi, itu saja. Dia bilang yang kita butuhkan sekarang cuma waktu. Sebenarnya nggak ada yang penting, sih. Mungkin dia takut karena masih diawasi. Takutnya ada orang yang mendengar percakapan, makanya dia nggak berani bilang banyak.”“Bukan. Informasi pa yang mau diasampaikan sudah semuanya dia kasih tahu ke kamu,” ucap Brandon.Chermiko, “Eh?”Shane, “Hah? Jadi yang Pak Juan mau sampaikan itu apa?”“Pak Juan bilang kita nggak bisa tangani, tapi ada orang lain yang bisa. Orang yang bisa itu maksudnya siapa?” tanya Brandon kepada mereka berdua. Tetapi baik Shane dan Chermiko di saat itu hanya bertukar pandang dan menggelengkan kepala.“Dan juga kenapa kita nggak bisa? Sebelumnya kita sudah tahu mereka ada di dalam kedutaan, terus kenapa tiba-tiba Pak Juan bilang ini di luar batas kemampuan kita?” tanya Brandon lagi.Kali ini Shane dan Chermiko lebih kompak lagi. Mereka berdua sama-sama menggelengkan kepala serentak tanpa perlu menatap satu sama lain.“Karena Pak Juan me
Chermiko datang dengan penuh tanda tanya dan pergi dengan penuh tanda tanya pula. Dia merasa belum mengatakan atau melakukan apa-apa selama dia bertemu dengan kakeknya tadi, dan langsung disuruh pulang begitu saja. Selama perjalanan, Chermiko berulang kali memikirkan apa yang tadi Juan katakan kepadanya, tetapi dia tidak mendapatkan jawabannya. Jadi apa maksud Juan sebenarnya?Begitu Chermiko sampai ke rumah, benar saja Brandon dan Shane sudah menunggunya. Mereka langsung datang menyambut dan bertanya, “Gimana? Mereka ngundang kamu ke sana untuk apa?”Bahkan mobil yang mengikuti Chermiko dari belakang juga sudah melakukan persiapan jaga-jaga apabila terjadi sesuatu yang buruk padanya. Namun mereka bisa tenang setelah mendapat kabar kalau Chermiko sudah dalam perjalanan pulang. Namun di saaat yang sama mereka pun terheran-heran mengapa hanya Chermiko sendiri yang keluar.“Mereka mengancam kamu? Apa saja yang mereka bilang di sana?” tanya Shane. “Pasti Rainie, ‘kan? Kali ini apa lagi yan
“Kami semua panik setengah mati waktu dengar Kakek dibawa. Untung saja Kakek baik-baik saja!”“Omong kosong! Kalau kamu pani, kenapa baru sekarang kamu datang menolongku?” tanya Juan melotot.“Bukannya nggak mau nolong, tapi tempat ini nggak bisa main datang kapan pun aku mau. Lagi pula aku tahu sifat Kakek. Kalau Kakek sendiri yang mau ke sana, aku bujuk untuk pulang kayak apa juga Kakek nggak bakal mau pulang! Kakek sendiri yang mau datang ke sini untuk menolong Yuna, ‘kan?”Dengan tatapan mata setuju, Juan menatap Chermiko dan berkata padanya, “Iya, sih. Akhir-akhir ini kamu ada banyak kemajuan juga, ya. Kamu sudah bisa menganalisis keadaan dengan baik dan bisa mengerti sifatku seperti apa.”Chermiko terlihat tidak terlalu senang meski mendapat pujian dari kakeknya. Saat ini dia punya masalah yang lebih mendesak untuk dia sampaikan.“Kakek yang minta aku datang ke sini, ya?” tanyanya.“Ya, untung saja mereka kasih aku ketemu orang lain! Kalau Brandon, mereka pasti nggak akan setuju.
Chermio sudah berada di ruang tamu kedutaan dan melihat sekelilingnya. Dia curiga apakah tempat ini menyimpan suatu konspirasi, karena di antara yang lain, hanya dia sendiri yang mendapatan undangan secara tiba-tiba.Mereka bertiga kaget saat mendapat undangan tersebut. Tidak ada yang menyangka ternyata undangan itu ditujukan kepada Chermiko, dan tidak ada yang tahu apa maksud dari undangannya. Apalagi Chermiko juga yang paling asing dengan kedutaan dibanding Shane atau Brandon. Setelah melalui proses perundingan yang cukup laa, akhirnya mereka bertiga mencapai kesepakatan bersama, Chermiko harus pergi!Jika tidak pergi, bagaimana mereka bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan undangan ini juga dibuat secara resmi, jadi seharusnya tidak akan ada keanehan yang terjadi, atau surat ini tidak akan sampai ke tangan mereka. Maka itu Chermiko datang sesuai dengan waktu dan tempat undangan. Saat masuk dia juga diperiksa karena untuk masuk ke kedutaan tidak diizinkan membawa barang-barang ya