Share

Ibu dari Anak Kakaknya Mantan
Ibu dari Anak Kakaknya Mantan
Author: Your Grace

Chapter 1

Author: Your Grace
last update Last Updated: 2025-01-21 11:23:38

Happy Reading

Di sebuah bandara internasional yang ramai, Naura Devi Lark menggenggam erat tangan kecil putrinya, Lila Amora Lark. Wajahnya terlihat tenang, meski ada banyak perasaan yang bercampur dalam hatinya. Hari ini, mereka akan kembali ke tanah air setelah bertahun-tahun tinggal di London. Masa berlaku visanya telah habis, dan ini adalah saatnya untuk pulang.

Lila, yang baru berusia empat tahun, tampak bersemangat. Gadis kecil itu terus berceloteh dengan bahasa Inggris dan Indonesia yang bercampur, membuat beberapa orang di sekitar mereka tersenyum mendengarnya.

"Mommy, are we really going to Indonesia? Like, for real?" tanyanya dengan mata berbinar.

Naura tersenyum, mengusap lembut rambut cokelat berkilau putrinya. "Yes, sweetheart. Kita akan ke Indonesia."

Lila melompat-lompat kecil di tempat, lalu menatap koper berwarna merah muda yang ia tarik sendiri. "Do they have chocolate waffles in Indonesia, Mommy?" tanyanya dengan nada khawatir.

Naura terkekeh pelan. "Of course, baby. And maybe even better ones!"

Lila mengangguk puas, lalu melanjutkan ocehannya. "And Daddy Yafa? Apakah Daddy akan datang juga?"

Naura terdiam sejenak. Rafael Aditya Klein, sahabatnya yang selama ini tinggal bersama mereka di London, tidak ikut dalam perjalanan ini. Ada banyak hal yang masih harus ia urus di sana, dan meskipun mereka telah berjanji untuk tetap berhubungan, perpisahan tetaplah perpisahan.

"Daddy Yafa harus tinggal di sana dulu, sayang. Tapi dia berjanji akan mengunjungi kita segera," jawab Naura dengan lembut.

Lila tampak berpikir sejenak, lalu tersenyum. "Okay! But he has to bring me chocolates!"

Naura tertawa kecil, mengangguk setuju. Mereka terus berjalan menuju gerbang keberangkatan, sementara suara panggilan penerbangan terdengar di seluruh penjuru bandara. Di dalam hatinya, Naura merasa sedikit cemas tentang kepulangan mereka. Namun, melihat keceriaan Lila, ia tahu bahwa selama mereka bersama, segalanya akan baik-baik saja.

Saat mereka akhirnya duduk di ruang tunggu, Lila bersandar di bahu Naura. "Mommy, can we have an adventure in Indonesia?" tanyanya dengan mata berbinar penuh harapan.

Naura tersenyum hangat, mencium puncak kepala putrinya. "Of course, my love. A big, exciting adventure."

Dan dengan itu, perjalanan baru mereka pun dimulai.

***

Sementara itu, di sisi lain bandara, seorang pria berperawakan tegap dengan setelan kasual namun elegan baru saja melangkah keluar dari gerbang kedatangan internasional. Arjuna Dirga Wiratama baru saja tiba setelah perjalanan bisnisnya dari New York. Matanya tajam menyapu keramaian, mencari sosok yang akan menjemputnya. Meski lelah setelah penerbangan panjang, aura kewibawaan dan ketenangannya tetap terpancar.

Tanpa disadari, di tempat yang sama, hanya beberapa meter darinya, Naura dan Lila baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air. Takdir seakan mempertemukan mereka di bawah langit yang sama, dalam momen yang mungkin akan mengubah perjalanan hidup mereka.

Mata tajam Dirga tiba-tiba terpaku pada sosok seorang gadis di tengah keramaian. Ada sesuatu tentang wanita itu yang begitu familiar, mengguncang hatinya. Sudah hampir lima tahun dia mencari gadis itu, sejak malam panas yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.

Seakan waktu berhenti, bayangan masa lalu kembali menghantuinya. Apakah itu benar-benar Naura? Tapi kenapa dia bersama seorang gadis cilik? Keraguan menyelusup ke dalam pikirannya, namun keinginan untuk memastikan lebih besar daripada rasa ragu yang menyelimuti.

Naura tersentak saat merasa tarikan kuat di lengannya. Dengan jantung berdebar, ia menoleh ke belakang, dan matanya langsung bertemu dengan sepasang mata tajam yang dulu begitu ia kenal. Mata yang membawa ingatan akan malam yang ingin ia lupakan.

"Dirga..." bisiknya nyaris tak terdengar, namun pria di depannya menangkap setiap nada ketakutan dalam suaranya.

Dirga menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara marah, terkejut, dan sesuatu yang lebih dalam dari itu. Ia menelan ludah, berusaha mengendalikan emosi yang berkecamuk di dadanya. "Jadi ini alasan kamu menghilang selama ini, Naura?" suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang mengandung kemarahan terpendam.

Naura menegakkan bahunya, mencoba menyusun kata-kata. "Aku tidak menghilang, Dirga. Aku hanya... pergi."

"Tanpa sepatah kata pun," potong Dirga tajam. "Dan tiba-tiba aku menemukanmu di sini, dengan seorang anak kecil..." Matanya beralih ke Lila yang memandang mereka dengan kebingungan, lalu kembali ke Naura dengan tatapan penuh selidik. "Dia... siapa?"

Naura merasakan napasnya tercekat. Ini adalah situasi yang paling ia hindari sejak memutuskan kembali ke Indonesia. Ia tahu cepat atau lambat Dirga akan mengetahui tentang Lila, tapi tidak secepat ini. Belum sekarang.

"Bukan urusanmu, Dirga," ucap Naura dingin, berusaha menarik lengannya, tapi genggaman pria itu semakin erat.

"Jawab aku, Naura." Nada suaranya lebih dalam, lebih menekan. "Dia anakku, bukan?"

Naura terdiam. Ia bisa merasakan tangan Lila yang kecil menggenggam ujung bajunya dengan erat, seakan menyadari ketegangan di antara mereka.

"Lepaskan aku, Dirga," ucapnya dengan suara gemetar. "Ini bukan tempat yang tepat untuk membahas ini."

Dirga menatapnya dalam, seolah mencoba membaca kebenaran di wajahnya. Ia ingin memaksa jawaban keluar dari bibir Naura, tapi melihat ketakutan di matanya, ia mengendurkan genggamannya.

"Baik," katanya akhirnya. "Tapi ini belum selesai, Naura. Kita akan bicara. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu menghilang lagi."

Naura menarik napas dalam-dalam, lalu menggenggam tangan Lila erat-erat sebelum melangkah pergi. Namun, ia tahu, langkahnya tidak akan bisa sejauh yang ia harapkan. Karena kini, masa lalunya telah menemukannya kembali.

***

Naura berjalan cepat, menarik Lila yang masih bingung dengan kejadian tadi. Di belakang mereka, Dirga tetap berdiri di tempat yang sama, matanya tidak lepas dari sosok Naura yang perlahan menjauh. Hatinya bergejolak. Selama bertahun-tahun, ia mencoba untuk melupakan wanita itu—wanita yang meninggalkannya tanpa kata, tanpa jejak. Tapi sekarang, di sini, di tanah air mereka, dia menemukan Naura lagi. Dan kali ini, tidak ada jalan untuk melarikan diri.

Di ruang tunggu bandara yang ramai, Naura duduk di bangku dengan tangan gemetar. Lila yang masih tampak kebingungan duduk di sampingnya, menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. Naura menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Namun, bayangan wajah Dirga—wajah yang dulu sangat ia kenal—terus menghantui pikirannya.

“Mommy, what happened? Who was that man?” Lila bertanya dengan polos, menatap ibunya dengan mata besar.

Naura mengusap rambut putrinya, mencoba tersenyum. “It’s nothing, sayang. Just someone from the past.”

Lila merenung sejenak, lalu mengangguk, seolah bisa merasakan bahwa ibunya sedang mengalami sesuatu yang berat. “Are we okay, Mommy?” tanya Lila dengan suara lembut.

Naura mengangguk, meski hatinya terasa berat. “Yes, we’re okay. Always, sweetie.”

Namun, dalam dirinya, Naura tahu bahwa pertemuan tadi bukanlah kebetulan. Dirga, dengan segala ketegasannya, tidak akan membiarkannya begitu saja. Ia bisa merasakan bahwa pria itu masih menyimpan banyak pertanyaan—pertanyaan yang tidak akan bisa ia hindari selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 2

    Di dalam mobil, Dirga duduk dengan wajah tegang, matanya tajam menatap jalanan yang semakin sepi saat malam semakin larut. Ia mengeluarkan ponselnya, menekan sebuah nomor yang sudah sangat ia kenal. Beberapa detik kemudian, suara di ujung telepon menjawab dengan nada tenang namun penuh kewaspadaan."Ya, Tuan Dirga?" suara pria itu terdengar jelas."Anthony," suara Dirga terdengar tegas dan penuh perintah. "Naura ada di bandara sekarang. Dia dan anaknya baru saja sampai. Aku ingin kau memastikan bahwa kalian mengikuti mereka. Mereka menaiki taksi sekarang, pastikan kau tahu alamat tempat tinggalnya. Jangan sampai mereka tahu ada yang mengikutinya."Anthony tidak perlu waktu lama untuk menjawab, suaranya penuh kepatuhan. "Baik, Tuan. Saya akan pastikan semua informasi tentang tempat tinggalnya terkumpul, dan mengikuti mereka dengan hati-hati. Tidak akan ada yang tahu.""Bagus," Dirga menjawab singkat, namun ada nada keras yang mengarah pada ketegasan dalam suara itu. "Aku ingin semuanya

    Last Updated : 2025-01-21
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 3

    Malam itu, di tengah keheningan yang menggantung di udara, Naura terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Ada sesuatu yang mengusik tidurnya, sebuah suara lirih yang terdengar begitu dekat. Ia menoleh dengan cepat dan menemukan Lila meringkuk di sampingnya, tubuh kecilnya gemetar dengan keringat yang membasahi dahinya."Lila..." bisiknya penuh khawatir. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi putrinya dan merasakan panas yang tidak biasa. Secepat kilat, Naura bangkit dari tempat tidur dan mengambil kain bersih, merendamnya dalam air dingin sebelum dengan lembut mengompres dahi anaknya.Lila merintih pelan, napasnya terdengar sedikit berat. Melihat kondisi putrinya seperti ini membuat hati Naura mencengkeram kuat rasa takut, tetapi ia tahu harus tetap tenang. Selama bertahun-tahun di London, ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini sendirian. Dengan penuh kesabaran, ia terus mengompres dan memastikan Lila tetap nyaman."Mommy..." Lila berbisik dengan suara lemah, matanya hanya s

    Last Updated : 2025-01-21
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 4

    Anthony melangkah dengan tenang menuju gerobak bubur tempat Naura dan Lila menikmati sarapan mereka. Dengan sikap santai, ia memesan semangkuk bubur kepada penjual, matanya sesekali melirik ke arah gadis kecil yang tengah lahap menyantap makanannya.Naura tidak terlalu memperhatikan kehadiran pria itu. Baginya, Anthony hanyalah pelanggan lain yang kebetulan datang di saat yang sama. Ia lebih fokus pada Lila, memastikan putrinya menikmati sarapan pertamanya di Indonesia."Enak, kan, sayang?" tanya Naura sambil tersenyum.Lila mengangguk dengan penuh semangat. "Iya, Mommy! Aku like banget!"Anthony yang duduk tak jauh dari mereka memperhatikan interaksi ibu dan anak itu dengan saksama. Waktu yang diberikan Dirga kepadanya tidak banyak. Ia harus segera menyelesaikan tugasnya tanpa menarik perhatian.Saat Naura mengambil dompet dari dalam tasnya untuk membayar, Anthony bergerak cepat. Dengan gerakan yang terlatih, ia menjatuhkan sendoknya ke tanah. "Ah, maaf," gumamnya sambil berjongkok,

    Last Updated : 2025-01-21
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 5

    Naura melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang kacau. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan yang terus berputar tanpa jawaban. Bagaimana bisa Dirga tahu? Apakah dia sudah mendapatkan bukti? Dan jika iya, apa yang akan dia lakukan selanjutnya?Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Lila masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang terjadi. Gadis kecil itu sekarang tengah duduk di sofa, memainkan bonekanya dengan riang, seolah pertemuan di daycare tadi hanyalah kejadian biasa."Sayang, sekarang waktunya tidur siang," ujar Naura lembut, berusaha menyembunyikan kecemasannya.Lila mengerucutkan bibir. "Tapi aku belum ngantuk, Mommy."Naura tersenyum dan mengusap lembut rambut putrinya. "Kalau begitu, kita baca buku sebentar, lalu tidur, ya?"Lila akhirnya mengangguk setuju. Naura mengambil salah satu buku dongeng favorit putrinya dan mulai membacakan cerita. Tak butuh waktu lama sebelum kelopak mata Lila mulai tertutup perlahan

    Last Updated : 2025-01-21
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 6

    Lima tahun lalu.Naura menatap dua garis merah di test pack yang masih digenggamnya erat. Tangannya bergetar, matanya panas, dan jantungnya berdetak kencang. Ini tidak seharusnya terjadi. Ini seharusnya tidak pernah terjadi. Tapi kenyataannya, ia hamil. Dan ia sangat tahu siapa yang harus bertanggung jawab.Arjuna Dirga Wiratama.Kakak dari pria yang selama ini ia cintai, atau lebih tepatnya, mantan kekasihnya.Naura menggigit bibirnya, berusaha menguatkan diri. Dirga harus tahu. Seburuk apa pun situasinya, sekelam apa pun masa lalu mereka, ia tidak bisa menyembunyikan ini. Lila—bayi yang sekarang ada di dalam perutnya—berhak memiliki ayah.Dengan tekad yang bulat, ia mengambil tasnya dan pergi menuju kantor pusat Wiratama Hospitality Group. Naura tahu bahwa Dirga adalah pewaris utama, CEO yang memegang kendali penuh atas perusahaan itu. Meski baru sebulan tak bertemu, ia yakin Dirga masih seperti yang dulu—penuh percaya diri, berkuasa, dan nyaris tak tersentuh.Sesampainya di depan ge

    Last Updated : 2025-03-03
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 7

    Masa Kini.Naura berdiri di ambang pintu, dadanya naik turun, menahan emosi yang membuncah dalam dirinya. Tangannya masih gemetar setelah membanting pintu beberapa detik yang lalu. Dari celah jendela, ia bisa melihat punggung tegap Dirga yang berjalan menjauh dari rumahnya. Pria itu tidak berbalik, tidak mencoba mengetuk kembali, hanya melangkah pergi dengan bahunya yang tetap kokoh.Seharusnya ini menjadi momen kemenangan bagi Naura. Ia telah mengusir pria yang bertahun-tahun lalu menghancurkan hidupnya, pria yang dulu membuatnya hampir kehilangan segalanya. Tapi, mengapa justru ada perasaan kosong yang menyusup ke dalam hatinya? Kini, Dirga datang kepadanya, menuntut sesuatu yang tidak bisa ia berikan.“Lila adalah anakku, Naura.” Kata-kata itu masih terngiang di kepalanya.Naura menghela napas panjang. Tangan kanannya terangkat, menekan dadanya yang terasa sesak. Ia tahu ini bukan akhir. Ini baru permulaan dari badai yang lebih besar.Dari kamar, terdengar suara kecil yang familiar

    Last Updated : 2025-03-05
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 8

    Keesokan paginya, Naura menyiapkan segala keperluan Lila sebelum berangkat ke butik tempatnya bekerja. Sejak kejadian kemarin, ia tidak bisa berhenti memikirkan Dirga. Pria itu mungkin sudah pergi dari rumahnya, tapi Naura tahu bahwa ini belum selesai. Ia takut jika Dirga akan kembali ke daycare dan mencari kesempatan untuk mendekati Lila lagi. Tidak, Naura tidak bisa membiarkan itu terjadi.Itulah sebabnya hari ini, ia memutuskan untuk membawa Lila bersamanya ke butik. Saat wawancara kemarin, Bu Dian sudah mengatakan bahwa karena ia adalah seorang single mother, butik tempatnya bekerja memperbolehkannya membawa anak. Kebijakan ini tentu sangat membantu, dan Naura merasa beruntung bisa bekerja di tempat yang memahami kondisinya.Lila duduk manis di kursi kecil di ruang belakang butik, tempat yang memang sudah disiapkan oleh Raffa yang sudah mengenal bu Dian. Temannya itu memang luar biasa. Meskipun kini masih di London untuk menyelesaikan urusan bisnisnya, Raffa tetap memastikan agar

    Last Updated : 2025-03-07
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 9

    Kedatangan Arjuna Dirga Wiratama ke kantor pagi itu langsung menghebohkan seisi gedung Wiratama Hospitality Group. Bukan karena jadwal rapat mendadak atau keputusan bisnis besar, melainkan karena pria itu datang dengan menggendong seorang anak kecil yang cantik dan menggemaskan.Para karyawan yang biasanya menjaga profesionalisme mereka, kali ini tak bisa menutupi keterkejutan. Bisik-bisik segera menyebar di antara mereka. Mata-mata penasaran melirik ke arah Dirga, beberapa bahkan nyaris mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar, tetapi segera mengurungkan niat begitu melihat tatapan tajam bos besar mereka."Siapa anak itu?""Bukannya Pak Dirga belum menikah? Kok bisa-bisanya bawa anak kecil ke kantor?""Ya ampun, lihat tuh! Lucu banget, mirip banget sama Pak Dirga!"Bisikan demi bisikan semakin menjadi-jadi, tetapi tak satu pun yang berani menanyakan langsung pada pria itu. Dirga sendiri tampaknya tak terganggu dengan kehebohan yang ia timbulkan. Ia berjalan santai menuju ruangannya

    Last Updated : 2025-03-08

Latest chapter

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 34

    Sesampainya di kebun binatang, Lila langsung melompat kegirangan. Matanya berbinar melihat berbagai spanduk dan patung hewan yang menyambut pengunjung di pintu masuk. Ia menggenggam tangan Dirga dan Naura erat, menarik mereka berdua dengan penuh semangat."Daddy, Mommy, ayo cepat! Aku mau lihat jilaft dulu!" serunya dengan penuh antusias.Dirga dan Naura hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah putri kecil mereka. Mereka pun berjalan mengikuti Lila yang setengah berlari menuju kandang jerapah. Begitu sampai, Lila langsung menempel di pagar pembatas, menatap kagum ke arah jerapah yang tengah mengunyah dedaunan."Daddy, Daddy! Itu jilaft, kan?" tanyanya dengan penuh semangat, sembari mengangkat kamera kecilnya untuk mengambil foto.Dirga mengangguk. "Iya, sayang. Itu jerapah. Jerapah punya leher panjang supaya bisa mengambil daun di pohon yang tinggi."Lila manggut-manggut sambil mengarahkan kameranya. "Aku halus foto!" katanya, lalu mengabadikan momen itu dengan lensa kecilnya. Setelah

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 33

    Setelah sarapan bersama yang disiapkan oleh Dirga, suasana mulai mencair. Meski masih ada ketegangan di antara mereka, setidaknya mereka bisa menikmati momen kecil sebagai keluarga. Dirga dengan sigap membantu Lila memakai sepatu, sementara Naura merapikan tas kecil putrinya."Kita siap berangkat?" tanya Dirga sambil tersenyum."Siap!" seru Lila dengan semangat.Mereka bertiga pun berangkat ke sekolah Lila. Selama di perjalanan, Lila bercerita dengan antusias tentang tugas sekolahnya. "Mommy, Daddy, di sekolah aku ada tugas! Aku halus foto sama binatang!" katanya dengan mata berbinar.Dirga melirik Naura sekilas sebelum menatap putri kecilnya dengan penuh kasih. "Bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang?" usulnya santai.Lila langsung menoleh dengan wajah penuh kegembiraan. "Leally, Daddy?" tanyanya dengan mata berbinar.Dirga terkekeh dan mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Of course, honey. Kita bisa pergi setelah sekolah. Gimana, Mommy?" Kini tatapannya tertuju pada Naura,

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 32

    Setelah Bima pergi, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu. Naura duduk memeluk dirinya sendiri, menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan bayangan dirinya—wajah yang dulu penuh harapan, kini hanya menyisakan lelah dan luka.Hatinya terasa kosong. Semua yang ia pendam selama bertahun-tahun akhirnya terucap, namun mengapa rasanya masih seberat ini? Apakah karena kenyataan tak pernah benar-benar bisa menghapus masa lalu? Ataukah karena bayang-bayang itu akan selalu mengikutinya, kemanapun ia pergi?Naura menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh dalam dadanya. Lila sedang tidur di kamar, tidak tahu apa yang baru saja terjadi antara ibunya dan pria yang dulu ia cintai. Dan kini, Naura harus memikirkan langkah selanjutnya.Pikirannya melayang ke London—tempat yang dulu memberinya pelarian, tempat di mana ia sempat merasakan kebebasan, jauh dari bayang-bayang Bima, Dirga, dan semua kenangan pahit yang menyesakkan. Ia bisa kembali ke sana, memulai dari awal sekali lagi. Lond

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 31

    Setelah semua tenang—setelah isak Naura perlahan mereda dan Bima duduk terpaku di lantai, masih dengan dada yang sesak dan wajah tertunduk dalam diam—Naura akhirnya mengambil napas panjang. Ia berdiri perlahan, menarik piyamanya yang terbuka, lalu mengancingkannya satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tak ada kemarahan di wajahnya, hanya kelelahan dan luka yang baru saja bertambah satu.Dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan, Naura berkata, “Kita ke ruang tamu, ya.”Bima hanya mengangguk, tak mampu menatap mata Naura. Ia mengikuti langkah perempuan itu, duduk di ujung sofa yang sempit, sementara Naura duduk tak jauh darinya, menyisakan jarak di antara mereka—jarak yang terasa lebih lebar dari sekadar satu dudukan kursi.Beberapa detik hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Lalu Naura bicara, pelan dan hati-hati.“Ada yang mau kamu bicarakan, Bim?” tanyanya pelan, tanpa menoleh.Bima terdiam sejenak. Hatinya masih berdegup kencang, bukan karena amarah, tapi kar

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 30

    Saat ini, di kediaman keluarga Wiratama, suasana jauh dari kata tenang. Raden Wijaya Kusuma Wiratama, sang kepala keluarga, berdiri di tengah ruang tamu dengan napas berat dan rahang mengeras. Sorot matanya tajam, menyimpan bara yang sudah lama terpendam, kini disulut oleh kenyataan pahit yang baru saja ia dengar—dari mulut anak keduanya, Bima.“Jadi maksudmu, selama ini Dirga menyembunyikan semuanya dari kita?” suaranya berat, tapi tetap berwibawa. “Dan kamu tahu… tapi baru bilang sekarang?”Bima menunduk sedikit, menyadari ketegangan yang ia picu. “Bima gak tahu semua detailnya, Pah. Tapi itu benar… itu anaknya Mas Dirga. Bima udah pastikan sendiri, langsung nanya ke Mas Dirga.”Dalam hati, Bima berharap dengan membuka semuanya seperti ini, Dirga akan menjauh dari Naura. Ia tahu betul watak sang ayah—Raden Wijaya Kusuma Wiratama—lelaki yang menjunjung tinggi martabat dan kehormatan keluarga. Seseorang seperti Ayahnya pasti tidak akan bisa menerima cucu yang lahir dari hubungan di lu

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 29

    Sari Dewi masih berdiri mematung di tengah ruang tamu, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar yang kini tertutup rapat. Hening sesaat, lalu napas panjang meluncur pelan dari hidungnya. Ia menoleh ke arah Lila, yang kini duduk dengan kaki bersila di karpet, masih memegang stiker-stiker bintang di tangannya, dan memandang ke arah "Oma Dewi"-nya dengan sorot mata penasaran.Langkah Sari Dewi terasa ragu sesaat, tapi kemudian ia berjalan perlahan, menghampiri Lila dengan wajah yang berusaha dilembutkan. Dalam dirinya, badai emosi sedang bergejolak—terharu, terkejut, dan entah kenapa... terasa hangat.Ia berlutut pelan di depan Lila. Menatap wajah mungil itu—pipi bundar dengan glitter pink samar, mata berbinar seperti Dirga di usia lima tahun, dan senyum kecil yang sama persis seperti senyum yang dulu ia bayangkan akan dimiliki anak perempuannya. Tapi anak perempuan itu tak pernah datang. Tidak pernah lahir. Harapan itu kandas bertahun-tahun lalu, saat dokter memvonis bahwa rahimnya ta

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 28

    Dirga duduk di kursi kebesarannya—sebuah kursi kulit hitam yang megah, berdiri di tengah ruang kerja berpanel kayu dengan pencahayaan remang-remang yang terkesan hangat namun berwibawa. Di hadapannya, layar-layar monitor menyala, menampilkan data penjualan, laporan mingguan, dan strategi ekspansi terbaru. Namun pikirannya tak sepenuhnya di sana. Sesekali, ia menatap kosong ke arah layar, dan bayangan wajah Naura kembali menyelinap.Tiba-tiba, suara pintu kayu yang terbuka cepat membuyarkan lamunannya.Dirga mendongak.Di ambang pintu, berdiri seorang perempuan anggun dengan raut wajah yang jarang terlihat: marah. Sari Dewi Wiratama—ibunya. Wanita yang selama ini dikenal tenang, berkelas, dan sangat terukur dalam bersikap, kini berdiri dengan rahang mengeras dan mata yang menyala tajam. Di tangannya tergenggam segepok foto. Tanpa sepatah kata, ia berjalan mendekat dan melemparkan foto-foto itu ke atas meja Dirga.Beberapa foto meluncur turun dari meja, tapi cukup banyak yang bertahan d

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 27

    Di dalam mobil, suasana seolah terbagi menjadi dua dunia yang sangat berbeda.Di kursi belakang, Lila duduk dengan gembira, tubuhnya masih setengah tenggelam di antara tas-tas dan boneka yang ia bawa. Mulutnya tak berhenti bernyanyi—kadang lagu TK ceria yang salah nada, kadang lagu iklan yang entah bagaimana nyangkut di kepalanya. Tangannya bergerak mengikuti irama, dan setiap beberapa detik ia akan menyebut nama hewan atau bentuk awan yang ia lihat dari jendela.“♬ Beal kecil beal kecil, jalan-jalan di sawah… ketemu cacing, beal ketakutan… ♬”Tapi di kursi depan, udara terasa dingin meski sinar matahari menembus kaca mobil dengan hangatnya.Naura duduk kaku di kursi penumpang, menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam erat, seolah menahan sesuatu agar tidak tumpah—entah itu kemarahan, atau luka lama yang belum benar-benar kering.Dirga yang menyetir di sebelahnya sesekali mencuri pandang. Tapi setiap kali ia berniat membuka mulut, sesuatu

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 26

    Dirga mengusap wajahnya kasar, napasnya berat. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, lalu terdengar gumamannya lirih, hampir tak terdengar.“Sial…”Ia mendongak, menatap Naura dengan mata yang mulai memerah.“Berarti… waktu itu kamu benar-benar dengar semuanya, ya?”Naura tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di dekat meja, tangan terkepal di sisi tubuhnya. Matanya masih menyala marah, tapi ada air yang mulai menggenang di sudutnya.Dirga menarik napas panjang, seolah mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menghadapi kenyataan pahit yang baru saja menyeruak.“Naura…” suaranya berat, dalam, “…mas tahu mas salah. Mas tahu… semua yang mas lakukan ke kamu… udah bikin kamu rusak.”Ia menatap Naura lurus, tak lagi mencoba menyembunyikan lukanya.“Tapi mas nggak bisa bilang… mas menyesal sepenuhnya. Karena… dari semua kehancuran itu, hadir Lila. Mas… mas nggak bisa nyesel atas kehadiran dia. Dia segalanya.”Naura mendengus sinis, suara tawanya kering, nyaris seperti retakan kaca.“Kamu…

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status