Lima tahun lalu.
Naura menatap dua garis merah di test pack yang masih digenggamnya erat. Tangannya bergetar, matanya panas, dan jantungnya berdetak kencang. Ini tidak seharusnya terjadi. Ini seharusnya tidak pernah terjadi. Tapi kenyataannya, ia hamil. Dan ia sangat tahu siapa yang harus bertanggung jawab.
Arjuna Dirga Wiratama.
Kakak dari pria yang selama ini ia cintai, atau lebih tepatnya, mantan kekasihnya.
Naura menggigit bibirnya, berusaha menguatkan diri. Dirga harus tahu. Seburuk apa pun situasinya, sekelam apa pun masa lalu mereka, ia tidak bisa menyembunyikan ini. Lila—bayi yang sekarang ada di dalam perutnya—berhak memiliki ayah.
Dengan tekad yang bulat, ia mengambil tasnya dan pergi menuju kantor pusat Wiratama Hospitality Group. Naura tahu bahwa Dirga adalah pewaris utama, CEO yang memegang kendali penuh atas perusahaan itu. Meski baru sebulan tak bertemu, ia yakin Dirga masih seperti yang dulu—penuh percaya diri, berkuasa, dan nyaris tak tersentuh.
Sesampainya di depan gedung megah dengan logo ‘Wiratama Hospitality Group’ yang terpampang besar, Naura menarik napas dalam.
Naura menelan ludah, berusaha mengabaikan rasa tidak nyaman akibat tatapan menghakimi resepsionis itu. Dengan suara yang tetap tenang meskipun ada sedikit getaran, ia berkata,
"Saya ingin bertemu dengan Pak Dirga. Bisakah Anda memberitahu saya di ruangan mana beliau berada?"
Resepsionis itu mengangkat alis, jelas-jelas meremehkan penampilan Naura yang jauh dari kesan profesional atau elegan. Dengan nada skeptis, ia bertanya,
"Maaf, Anda sudah membuat janji sebelumnya?"
Naura menggeleng pelan. "Tidak. Tapi saya perlu bertemu dengannya. Ini penting."
Sang resepsionis mendengus kecil, lalu menatap layar komputer di depannya. "Maaf, Pak Dirga sedang sibuk. Jika Anda tidak memiliki janji, saya tidak bisa membiarkan Anda masuk begitu saja."
Naura mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya. Haruskah ia pergi dan mencari cara lain? Atau tetap bersikeras menemui pria itu sekarang juga?
***
Naura menoleh cepat begitu mendengar namanya dipanggil. Seorang pria dewasa, mungkin seusia Dirga, berdiri tidak jauh darinya dengan senyum ramah. Berbeda dengan resepsionis yang memandangnya dengan tatapan meremehkan, pria ini tampak santai dan bersahabat.
"Ah, kamu Naura, kan?" tanyanya dengan nada akrab.
Naura mengernyit bingung. "Iya, saya Naura."
Pria itu mengulurkan tangan. "Perkenalkan, saya Robi. Sahabat Dirga. Dia pernah bercerita tentang kamu sebelumnya."
Naura sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa Dirga pernah menyebut namanya di hadapan sahabatnya. Ia menjabat tangan Robi dengan ragu-ragu, sementara di sudut matanya, ia bisa melihat resepsionis tadi memasang ekspresi terkejut sekaligus canggung.
"Kamu ke sini mau bertemu Dirga?" tanya Robi lagi.
Naura mengangguk pelan.
"Mari ikut saya," kata Robi santai. "Ruangan Dirga ada di lantai 35. Itu area eksklusif khusus CEO, jadi memang tidak sembarang orang bisa masuk."
Pembawaan pria itu begitu humble dan ramah, membuat Naura sedikit lebih tenang. Ia mencoba tersenyum meskipun terasa canggung.
Saat mereka berjalan menuju lift pribadi di sisi lobi, Robi melirik Naura sekilas. "Kelihatannya kamu agak tegang. Apa yang ingin kamu bicarakan dengan Dirga?" tanyanya dengan nada penasaran.
Naura menegang sejenak, tidak tahu harus menjawab apa. Namun, sebelum ia sempat merespons, Robi mengangkat tangan sedikit, seolah menyadari ketidaknyamanannya.
"Oh, maaf kalau pertanyaan saya membuatmu kurang nyaman. Tidak usah dijawab kalau kamu tidak mau," katanya dengan senyum menenangkan.
Naura menghela napas lega. "Terima kasih."
Lift terus naik, melewati beberapa lantai dengan cepat. Saat angka di layar digital menunjukkan lantai 30, Robi bergerak sedikit ke depan.
"Saya akan turun di sini," katanya, menekan tombol untuk menghentikan lift. "Kamu tinggal lanjut saja sampai lantai teratas. Ruangan Dirga ada di ujung koridor. Tidak akan sulit menemukannya."
Naura mengangguk pelan. "Terima kasih, Mas Robi."
Pria itu tersenyum sekilas sebelum melangkah keluar. Begitu pintu lift tertutup kembali, Naura menatap pantulan dirinya di dinding baja yang mengilap. Tangannya meremas tali tas, jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. Ini bukan saatnya ragu.
Beberapa detik kemudian, lift berbunyi pelan, menandakan bahwa ia telah sampai di lantai 35. Dengan langkah hati-hati, Naura melangkah keluar, matanya langsung disambut oleh koridor luas dengan desain mewah.
Di ujung sana, sebuah pintu besar dengan nama Arjuna Dirga Wiratama terpampang jelas.
***
Dunia Naura seakan runtuh dalam sekejap.
Kakinya terasa lemas, dadanya sesak, dan kepalanya mendadak pusing. Tangannya yang hendak mengetuk pintu langsung membeku di udara.
Suara tawa di dalam ruangan terdengar begitu jelas, seolah menikam hatinya dengan belati tajam.
"Lo berhasil nidurin pacar adik lo itu?"
"Jelas dong, dan ternyata dia masih perawan."
"Gila, beruntung banget lo bisa dapetin perawan di zaman sekarang!"
Naura merasa mual. Ia ingin menutup telinganya, tetapi suara mereka terus menghantamnya tanpa ampun.
"Terus lo keluar di mana?"
"Jelas di dalam lah, bro! Kalau di luar, nggak enak."
Lalu tawa mereka pecah. Riang, puas, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Oh iya, taruhan mobil keluaran terbaru fix milik lo dong?"
"Jelas lah!"Dirga hanya tersenyum smirk sambil menghembuskan asap rokoknya, tampak santai seolah tidak ada yang salah dengan semua ini.
"Gila, bro! Lo cuma butuh tidur sama dia, terus langsung dapet mobil mahal!"
Dirga tertawa kecil, lalu berkata dengan nada meremehkan, "Sebenarnya, gue lebih dari mampu kalau cuma buat beli mobil itu doang."
"Iya deh, dasar sultan!" teman satunya menimpali, ikut tertawa.
Dirga kembali menarik napas dalam-dalam dari rokoknya sebelum menghembuskan asap perlahan.
"Oh iya, gimana caranya lo bisa nidurin tuh cewek?" tanya salah satu temannya, penuh rasa ingin tahu.
Dengan santai, Dirga menjawab, "Gampang. Gue buat skenario seolah-olah si Bima selingkuh. Dia percaya, sakit hati, terus datang ke klub buat mabuk. Begitu dia udah teler, dia malah godain gue duluan. Semudah itu ternyata."
***
Sementara Naura berdiri di luar, dengan tangan gemetar, merasakan bagaimana hatinya hancur berkeping-keping.
Tangannya secara refleks menyentuh perutnya yang masih rata. Bayi yang ada di dalam sana… Apakah ini yang harus ia ceritakan kepada pria yang bahkan tidak menganggapnya lebih dari sekadar permainan semalam?
Air matanya menggenang di sudut mata.
Ia harus pergi.
Tanpa suara, tanpa jejak, Naura melangkah mundur, meninggalkan tempat itu sebelum ia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
***
Setelah kedua temannya pergi, Dirga tetap duduk di kursinya, mengisap rokok terakhirnya sebelum mematikannya di asbak kaca di atas meja. Senyuman smirk yang tadi ia tunjukkan mulai memudar, digantikan dengan ekspresi kosong yang sulit dijelaskan.
Ada perasaan aneh yang menyelusup ke dalam dadanya. Rasa bersalah yang sejak tadi ia pendam mulai mengusik pikirannya. Ia menghela napas berat, mencoba menyangkalnya. Seharusnya ini bukan masalah besar. Ini hanya taruhan, permainan biasa, bukan? Tapi entah mengapa, bayangan wajah Naura terus muncul di benaknya.
‘Sial,’ batinnya.
Apakah ia keterlaluan? Apakah seharusnya ia tidak melakukan itu? Tidak, itu sudah terjadi, dan ia harus menerima konsekuensinya. Tapi tetap saja, ada bagian dalam dirinya yang merasa menyesal. Ia sudah terlalu jauh melangkah.
Saat sedang larut dalam pikirannya sendiri, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka. Dirga sontak menoleh dengan alis mengernyit.
Robi berdiri di ambang pintu dengan ekspresi bingung. "Dirga? Mana Naura?"
Dirga mengerutkan dahi. "Naura?"
"Iya, tadi dia ke sini. Katanya mau ketemu lo," ujar Robi sambil melangkah masuk, memandang sekeliling ruangan.
Dirga semakin kebingungan. "Dia nggak pernah ke sini. Gue nggak ketemu dia sama sekali."
Robi mengerutkan alis. "Tapi tadi gue anter dia ke lift, langsung ke lantai ini. Kalau bukan di sini, terus dia ke mana?"
Hati Dirga mendadak terasa semakin tidak nyaman. Ada firasat buruk yang tiba-tiba menghantamnya. Ia segera bangkit dari kursinya, matanya menatap pintu yang masih terbuka lebar.
‘Jangan bilang dia ada di luar tadi…’
Tenggorokannya terasa kering. Jika benar Naura ada di luar ruangan ini sebelumnya… Berarti dia mendengar semuanya?
Masa Kini.Naura berdiri di ambang pintu, dadanya naik turun, menahan emosi yang membuncah dalam dirinya. Tangannya masih gemetar setelah membanting pintu beberapa detik yang lalu. Dari celah jendela, ia bisa melihat punggung tegap Dirga yang berjalan menjauh dari rumahnya. Pria itu tidak berbalik, tidak mencoba mengetuk kembali, hanya melangkah pergi dengan bahunya yang tetap kokoh.Seharusnya ini menjadi momen kemenangan bagi Naura. Ia telah mengusir pria yang bertahun-tahun lalu menghancurkan hidupnya, pria yang dulu membuatnya hampir kehilangan segalanya. Tapi, mengapa justru ada perasaan kosong yang menyusup ke dalam hatinya? Kini, Dirga datang kepadanya, menuntut sesuatu yang tidak bisa ia berikan.“Lila adalah anakku, Naura.” Kata-kata itu masih terngiang di kepalanya.Naura menghela napas panjang. Tangan kanannya terangkat, menekan dadanya yang terasa sesak. Ia tahu ini bukan akhir. Ini baru permulaan dari badai yang lebih besar.Dari kamar, terdengar suara kecil yang familiar
Keesokan paginya, Naura menyiapkan segala keperluan Lila sebelum berangkat ke butik tempatnya bekerja. Sejak kejadian kemarin, ia tidak bisa berhenti memikirkan Dirga. Pria itu mungkin sudah pergi dari rumahnya, tapi Naura tahu bahwa ini belum selesai. Ia takut jika Dirga akan kembali ke daycare dan mencari kesempatan untuk mendekati Lila lagi. Tidak, Naura tidak bisa membiarkan itu terjadi.Itulah sebabnya hari ini, ia memutuskan untuk membawa Lila bersamanya ke butik. Saat wawancara kemarin, Bu Dian sudah mengatakan bahwa karena ia adalah seorang single mother, butik tempatnya bekerja memperbolehkannya membawa anak. Kebijakan ini tentu sangat membantu, dan Naura merasa beruntung bisa bekerja di tempat yang memahami kondisinya.Lila duduk manis di kursi kecil di ruang belakang butik, tempat yang memang sudah disiapkan oleh Raffa yang sudah mengenal bu Dian. Temannya itu memang luar biasa. Meskipun kini masih di London untuk menyelesaikan urusan bisnisnya, Raffa tetap memastikan agar
Kedatangan Arjuna Dirga Wiratama ke kantor pagi itu langsung menghebohkan seisi gedung Wiratama Hospitality Group. Bukan karena jadwal rapat mendadak atau keputusan bisnis besar, melainkan karena pria itu datang dengan menggendong seorang anak kecil yang cantik dan menggemaskan.Para karyawan yang biasanya menjaga profesionalisme mereka, kali ini tak bisa menutupi keterkejutan. Bisik-bisik segera menyebar di antara mereka. Mata-mata penasaran melirik ke arah Dirga, beberapa bahkan nyaris mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar, tetapi segera mengurungkan niat begitu melihat tatapan tajam bos besar mereka."Siapa anak itu?""Bukannya Pak Dirga belum menikah? Kok bisa-bisanya bawa anak kecil ke kantor?""Ya ampun, lihat tuh! Lucu banget, mirip banget sama Pak Dirga!"Bisikan demi bisikan semakin menjadi-jadi, tetapi tak satu pun yang berani menanyakan langsung pada pria itu. Dirga sendiri tampaknya tak terganggu dengan kehebohan yang ia timbulkan. Ia berjalan santai menuju ruangannya
Terdengar suara tangisan yang begitu nyaring dari arah kamar Dirga. Dirga langsung beranjak dari kursinya, meninggalkan Bima yang masih syok dengan pengakuan kakaknya. Ia berjalan cepat menuju kamar, dan begitu pintu terbuka, ia menemukan Lila duduk di atas ranjang, menangis tersedu-sedu sambil memeluk boneka unicornnya erat-erat."Mommmyyy..." isaknya lirih, bahunya berguncang karena tangis.Dirga merasakan dadanya mencelos. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, lalu dengan hati-hati mengusap kepala putrinya. "Lila, sayang... Papa di sini."Namun, gadis kecil itu masih terisak dan menggelengkan kepala. "Lila mau Mommy... mau pulang..." suaranya bergetar, matanya yang basah menatap Dirga dengan penuh harap.Bima yang baru tiba di ambang pintu hanya bisa terdiam, menatap adegan itu dengan ekspresi campur aduk. Ia tak pernah melihat kakaknya dalam situasi seperti ini—gugup, kebingungan, dan tidak tahu harus berbuat apa. Ini jelas bukan Dirga yang ia kenal, pria dingin yang sel
Sementara itu, di rumahnya, Naura duduk di sofa dengan tatapan kosong. Ia baru saja pulang kerja, tubuhnya lelah, tetapi pikirannya jauh lebih letih. Sejak pagi, ia tidak bisa berhenti memikirkan Lila—putrinya yang seharian ini berada di kantor Dirga dan sampai sekarang belum juga dikembalikan. Tangannya secara refleks meraih ponselnya, namun ia ragu. Ia ingin menelepon Dirga, menanyakan bagaimana keadaan Lila, tetapi di sisi lain, ia takut. Takut Dirga benar-benar akan mengambil Lila darinya. Selama empat tahun ini, Naura telah menjadi satu-satunya dunia bagi putrinya. Lila belum pernah berpisah dengannya lebih dari beberapa jam, apalagi seharian penuh seperti ini. Naura menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. "Mungkin Dirga cuma ingin menghabiskan waktu dengan Lila," gumamnya pelan, berusaha mencari alasan agar hatinya tidak semakin sesak. Namun, ia tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya tersenyum miris. Ia bahkan tidak memiliki nomor Dirga. Betapa lucunya, pri
Setelah keluar dari apartemennya, Dirga mengendarai mobil menuju kantornya di pusat kota. Pagi itu lalu lintas tidak terlalu padat, tetapi pikiran Dirga jauh lebih penuh dibandingkan jalanan. Ia memikirkan banyak hal, termasuk keputusan yang akan diambil mengenai Lila dan Naura.Begitu tiba di gedung megah yang merupakan kantor pusat Wiratama Hospitality Group, Dirga memarkir mobilnya di area VIP yang sudah disediakan untuknya. Langkahnya mantap memasuki lobi utama, di mana para karyawan yang sudah lebih dahulu datang menyambutnya dengan sedikit gugup dan hormat.Di meja resepsionis, seorang perempuan muda terlihat sibuk dengan komputer di depannya. Ia tampak kaget ketika melihat Dirga berdiri di depannya."Ada yang mencariku hari ini?" tanya Dirga dengan suara rendah dan tegas, membuat gadis itu langsung berdiri tegak.Resepsionis itu terlihat gugup, wajahnya memerah, sementara suaranya terdengar terbata-bata saat menjawab. "Ti-tidak ada, Tuan. Tidak ada yang datang mencari Anda hari
Keesokan paginya, suasana di apartemen Dirga terasa lebih sunyi dari biasanya. Di meja makan, Lila duduk dengan tangan terlipat di depan dada, wajahnya cemberut. Di depannya, sepiring roti panggang dan segelas susu tetap utuh, sama sekali belum disentuh.Dirga yang duduk di seberangnya menghela napas pelan. "Lila, kenapa nggak dimakan rotinya? Nanti perut Lila lapar."Lila hanya menggeleng pelan, bibir mungilnya masih manyun. Ia menunduk, memainkan ujung bajunya. "Nggak mau... nggak enak."Dirga mengusap wajahnya, berusaha tetap sabar. Ini pertama kalinya putrinya kehilangan nafsu makan sejak kemarin. Gadis kecil itu menjadi murung, meskipun terkadang ia tetap bermain dan tertawa. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang hilang dalam binar matanya."Kenapa nggak enak? Papa bisa buat roti yang lain kalau Lila mau," ujar Dirga, mencoba membujuk.Lila menggeleng lagi, kali ini lebih pelan. "Bukan lotinya..."Dirga menunggu, memberi ruang bagi putrinya untuk melanjutkan. Saat Lila akhirnya menga
Dirga tiba di depan apartemen dengan langkah berat. Amarah yang tadi ia tahan selama di kantor kini mendidih di dadanya. Namun, sebelum sempat memasukkan angka-angka kode apartemennya, pintu itu terbuka sendiri.Di ambang pintu, Bima—adik laki-lakinya—berdiri dengan senyum lebar, kedua tangannya penuh dengan berbagai macam boneka unicorn berwarna-warni."Halo, Lila! Uncle datang lagi nih bawa unicorn kesukaan Lila!" serunya riang, meskipun gadis kecil itu belum terlihat.Dirga mengernyit, menatap adiknya dengan tajam. "Apa yang lo lakukan di sini?"Bima mengangkat bahu santai. "Jelas-jelas mengunjungi keponakan kesayangan gue! Gue dengar dari pengasuhnya kalau dia sedang murung, jadi gue beli ini untuk menghiburnya."Dirga pun menghela napas dan mulai masuk bersama. Bima langsung berjalan ke ruang tengah, meletakkan boneka-boneka unicorn di sofa, sementara Lila yang baru saja bangun dari tidurnya perlahan menghampiri mereka dengan mata berbinar."Lila, lihat! Uncle bawa banyak unicorn
Sesampainya di kebun binatang, Lila langsung melompat kegirangan. Matanya berbinar melihat berbagai spanduk dan patung hewan yang menyambut pengunjung di pintu masuk. Ia menggenggam tangan Dirga dan Naura erat, menarik mereka berdua dengan penuh semangat."Daddy, Mommy, ayo cepat! Aku mau lihat jilaft dulu!" serunya dengan penuh antusias.Dirga dan Naura hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah putri kecil mereka. Mereka pun berjalan mengikuti Lila yang setengah berlari menuju kandang jerapah. Begitu sampai, Lila langsung menempel di pagar pembatas, menatap kagum ke arah jerapah yang tengah mengunyah dedaunan."Daddy, Daddy! Itu jilaft, kan?" tanyanya dengan penuh semangat, sembari mengangkat kamera kecilnya untuk mengambil foto.Dirga mengangguk. "Iya, sayang. Itu jerapah. Jerapah punya leher panjang supaya bisa mengambil daun di pohon yang tinggi."Lila manggut-manggut sambil mengarahkan kameranya. "Aku halus foto!" katanya, lalu mengabadikan momen itu dengan lensa kecilnya. Setelah
Setelah sarapan bersama yang disiapkan oleh Dirga, suasana mulai mencair. Meski masih ada ketegangan di antara mereka, setidaknya mereka bisa menikmati momen kecil sebagai keluarga. Dirga dengan sigap membantu Lila memakai sepatu, sementara Naura merapikan tas kecil putrinya."Kita siap berangkat?" tanya Dirga sambil tersenyum."Siap!" seru Lila dengan semangat.Mereka bertiga pun berangkat ke sekolah Lila. Selama di perjalanan, Lila bercerita dengan antusias tentang tugas sekolahnya. "Mommy, Daddy, di sekolah aku ada tugas! Aku halus foto sama binatang!" katanya dengan mata berbinar.Dirga melirik Naura sekilas sebelum menatap putri kecilnya dengan penuh kasih. "Bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang?" usulnya santai.Lila langsung menoleh dengan wajah penuh kegembiraan. "Leally, Daddy?" tanyanya dengan mata berbinar.Dirga terkekeh dan mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Of course, honey. Kita bisa pergi setelah sekolah. Gimana, Mommy?" Kini tatapannya tertuju pada Naura,
Setelah Bima pergi, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu. Naura duduk memeluk dirinya sendiri, menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan bayangan dirinya—wajah yang dulu penuh harapan, kini hanya menyisakan lelah dan luka.Hatinya terasa kosong. Semua yang ia pendam selama bertahun-tahun akhirnya terucap, namun mengapa rasanya masih seberat ini? Apakah karena kenyataan tak pernah benar-benar bisa menghapus masa lalu? Ataukah karena bayang-bayang itu akan selalu mengikutinya, kemanapun ia pergi?Naura menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh dalam dadanya. Lila sedang tidur di kamar, tidak tahu apa yang baru saja terjadi antara ibunya dan pria yang dulu ia cintai. Dan kini, Naura harus memikirkan langkah selanjutnya.Pikirannya melayang ke London—tempat yang dulu memberinya pelarian, tempat di mana ia sempat merasakan kebebasan, jauh dari bayang-bayang Bima, Dirga, dan semua kenangan pahit yang menyesakkan. Ia bisa kembali ke sana, memulai dari awal sekali lagi. Lond
Setelah semua tenang—setelah isak Naura perlahan mereda dan Bima duduk terpaku di lantai, masih dengan dada yang sesak dan wajah tertunduk dalam diam—Naura akhirnya mengambil napas panjang. Ia berdiri perlahan, menarik piyamanya yang terbuka, lalu mengancingkannya satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tak ada kemarahan di wajahnya, hanya kelelahan dan luka yang baru saja bertambah satu.Dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan, Naura berkata, “Kita ke ruang tamu, ya.”Bima hanya mengangguk, tak mampu menatap mata Naura. Ia mengikuti langkah perempuan itu, duduk di ujung sofa yang sempit, sementara Naura duduk tak jauh darinya, menyisakan jarak di antara mereka—jarak yang terasa lebih lebar dari sekadar satu dudukan kursi.Beberapa detik hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Lalu Naura bicara, pelan dan hati-hati.“Ada yang mau kamu bicarakan, Bim?” tanyanya pelan, tanpa menoleh.Bima terdiam sejenak. Hatinya masih berdegup kencang, bukan karena amarah, tapi kar
Saat ini, di kediaman keluarga Wiratama, suasana jauh dari kata tenang. Raden Wijaya Kusuma Wiratama, sang kepala keluarga, berdiri di tengah ruang tamu dengan napas berat dan rahang mengeras. Sorot matanya tajam, menyimpan bara yang sudah lama terpendam, kini disulut oleh kenyataan pahit yang baru saja ia dengar—dari mulut anak keduanya, Bima.“Jadi maksudmu, selama ini Dirga menyembunyikan semuanya dari kita?” suaranya berat, tapi tetap berwibawa. “Dan kamu tahu… tapi baru bilang sekarang?”Bima menunduk sedikit, menyadari ketegangan yang ia picu. “Bima gak tahu semua detailnya, Pah. Tapi itu benar… itu anaknya Mas Dirga. Bima udah pastikan sendiri, langsung nanya ke Mas Dirga.”Dalam hati, Bima berharap dengan membuka semuanya seperti ini, Dirga akan menjauh dari Naura. Ia tahu betul watak sang ayah—Raden Wijaya Kusuma Wiratama—lelaki yang menjunjung tinggi martabat dan kehormatan keluarga. Seseorang seperti Ayahnya pasti tidak akan bisa menerima cucu yang lahir dari hubungan di lu
Sari Dewi masih berdiri mematung di tengah ruang tamu, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar yang kini tertutup rapat. Hening sesaat, lalu napas panjang meluncur pelan dari hidungnya. Ia menoleh ke arah Lila, yang kini duduk dengan kaki bersila di karpet, masih memegang stiker-stiker bintang di tangannya, dan memandang ke arah "Oma Dewi"-nya dengan sorot mata penasaran.Langkah Sari Dewi terasa ragu sesaat, tapi kemudian ia berjalan perlahan, menghampiri Lila dengan wajah yang berusaha dilembutkan. Dalam dirinya, badai emosi sedang bergejolak—terharu, terkejut, dan entah kenapa... terasa hangat.Ia berlutut pelan di depan Lila. Menatap wajah mungil itu—pipi bundar dengan glitter pink samar, mata berbinar seperti Dirga di usia lima tahun, dan senyum kecil yang sama persis seperti senyum yang dulu ia bayangkan akan dimiliki anak perempuannya. Tapi anak perempuan itu tak pernah datang. Tidak pernah lahir. Harapan itu kandas bertahun-tahun lalu, saat dokter memvonis bahwa rahimnya ta
Dirga duduk di kursi kebesarannya—sebuah kursi kulit hitam yang megah, berdiri di tengah ruang kerja berpanel kayu dengan pencahayaan remang-remang yang terkesan hangat namun berwibawa. Di hadapannya, layar-layar monitor menyala, menampilkan data penjualan, laporan mingguan, dan strategi ekspansi terbaru. Namun pikirannya tak sepenuhnya di sana. Sesekali, ia menatap kosong ke arah layar, dan bayangan wajah Naura kembali menyelinap.Tiba-tiba, suara pintu kayu yang terbuka cepat membuyarkan lamunannya.Dirga mendongak.Di ambang pintu, berdiri seorang perempuan anggun dengan raut wajah yang jarang terlihat: marah. Sari Dewi Wiratama—ibunya. Wanita yang selama ini dikenal tenang, berkelas, dan sangat terukur dalam bersikap, kini berdiri dengan rahang mengeras dan mata yang menyala tajam. Di tangannya tergenggam segepok foto. Tanpa sepatah kata, ia berjalan mendekat dan melemparkan foto-foto itu ke atas meja Dirga.Beberapa foto meluncur turun dari meja, tapi cukup banyak yang bertahan d
Di dalam mobil, suasana seolah terbagi menjadi dua dunia yang sangat berbeda.Di kursi belakang, Lila duduk dengan gembira, tubuhnya masih setengah tenggelam di antara tas-tas dan boneka yang ia bawa. Mulutnya tak berhenti bernyanyi—kadang lagu TK ceria yang salah nada, kadang lagu iklan yang entah bagaimana nyangkut di kepalanya. Tangannya bergerak mengikuti irama, dan setiap beberapa detik ia akan menyebut nama hewan atau bentuk awan yang ia lihat dari jendela.“♬ Beal kecil beal kecil, jalan-jalan di sawah… ketemu cacing, beal ketakutan… ♬”Tapi di kursi depan, udara terasa dingin meski sinar matahari menembus kaca mobil dengan hangatnya.Naura duduk kaku di kursi penumpang, menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam erat, seolah menahan sesuatu agar tidak tumpah—entah itu kemarahan, atau luka lama yang belum benar-benar kering.Dirga yang menyetir di sebelahnya sesekali mencuri pandang. Tapi setiap kali ia berniat membuka mulut, sesuatu
Dirga mengusap wajahnya kasar, napasnya berat. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, lalu terdengar gumamannya lirih, hampir tak terdengar.“Sial…”Ia mendongak, menatap Naura dengan mata yang mulai memerah.“Berarti… waktu itu kamu benar-benar dengar semuanya, ya?”Naura tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di dekat meja, tangan terkepal di sisi tubuhnya. Matanya masih menyala marah, tapi ada air yang mulai menggenang di sudutnya.Dirga menarik napas panjang, seolah mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menghadapi kenyataan pahit yang baru saja menyeruak.“Naura…” suaranya berat, dalam, “…mas tahu mas salah. Mas tahu… semua yang mas lakukan ke kamu… udah bikin kamu rusak.”Ia menatap Naura lurus, tak lagi mencoba menyembunyikan lukanya.“Tapi mas nggak bisa bilang… mas menyesal sepenuhnya. Karena… dari semua kehancuran itu, hadir Lila. Mas… mas nggak bisa nyesel atas kehadiran dia. Dia segalanya.”Naura mendengus sinis, suara tawanya kering, nyaris seperti retakan kaca.“Kamu…