Naura melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang kacau. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan yang terus berputar tanpa jawaban. Bagaimana bisa Dirga tahu? Apakah dia sudah mendapatkan bukti? Dan jika iya, apa yang akan dia lakukan selanjutnya?
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Lila masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang terjadi. Gadis kecil itu sekarang tengah duduk di sofa, memainkan bonekanya dengan riang, seolah pertemuan di daycare tadi hanyalah kejadian biasa.
"Sayang, sekarang waktunya tidur siang," ujar Naura lembut, berusaha menyembunyikan kecemasannya.
Lila mengerucutkan bibir. "Tapi aku belum ngantuk, Mommy."
Naura tersenyum dan mengusap lembut rambut putrinya. "Kalau begitu, kita baca buku sebentar, lalu tidur, ya?"
Lila akhirnya mengangguk setuju. Naura mengambil salah satu buku dongeng favorit putrinya dan mulai membacakan cerita. Tak butuh waktu lama sebelum kelopak mata Lila mulai tertutup perlahan, napasnya menjadi lebih teratur. Naura menarik selimut dan mencium kening gadis kecilnya sebelum bangkit dari tempat tidur.
Baru saja ia hendak beristirahat sejenak, bel pintu rumahnya berbunyi. Jantungnya berdegup kencang. Dengan sedikit ragu, ia berjalan ke arah intercom dan melihat siapa yang datang.
Dirga.
Masih mengenakan setelan yang sama seperti di daycare, pria itu berdiri di depan pintunya dengan ekspresi tenang namun penuh keyakinan. Naura menggigit bibirnya, hatinya berdebar semakin kencang. Ia tahu cepat atau lambat Dirga akan datang menemuinya, tapi ia tidak menyangka secepat ini.
Sejenak, ia mempertimbangkan untuk tidak membuka pintu. Namun, ia tahu Dirga tidak akan pergi begitu saja tanpa mendapatkan jawaban. Dengan napas yang berat, ia akhirnya membuka pintu sedikit, cukup untuk berbicara namun tetap menjaga jarak.
"Apa yang kau mau, Dirga?" tanyanya dengan suara bergetar, meski ia berusaha terdengar tegas.
Dirga menatapnya lekat-lekat, mata tajamnya menyelidik seolah ingin menembus pertahanannya. "Aku rasa kau sudah tahu jawabannya, Naura. Kita perlu bicara."
Naura menggenggam kenop pintu erat, mencoba menahan emosinya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan. Pergilah."
Dirga menatapnya dengan tatapan tajam, senyum tipis menghiasi wajahnya. "Kalau kau tidak membiarkanku masuk, maka jangan sampai kau menangis menyesal, Naura."
Jantung Naura berdebar kencang. Ancaman itu bukan sekadar gertakan kosong. Ia sangat tahu siapa Arjuna Dirga Wiratama di negeri ini. Pria itu memiliki kekuatan dan pengaruh yang bisa menghancurkan siapa pun yang berani menentangnya. Jika ia tetap bersikeras menolak, maka konsekuensinya bisa lebih buruk dari yang ia bayangkan.
Dengan tangan gemetar, ia akhirnya membuka pintu lebih lebar, memberi jalan bagi Dirga untuk masuk. Tanpa menunggu undangan lebih lanjut, pria itu melangkah masuk dengan penuh keyakinan, aura dominannya memenuhi ruangan. Dengan pongah, ia langsung duduk di sofa, seolah ini adalah rumahnya sendiri.
Naura menutup pintu dengan perasaan bercampur aduk, lalu berbalik menghadap Dirga. "Katakan apa yang kau mau, lalu pergi," ujarnya tegas, meskipun suaranya tidak sepenuhnya stabil.
Dirga menyandarkan tubuhnya, menatap Naura dengan mata penuh perhitungan. "Aku ingin kejelasan, Naura. Kenapa kau pergi tanpa mengatakan apa pun padaku? Kenapa kau menyembunyikan Lila dariku?"
Naura mengepalkan tangannya. "Aku tidak menyembunyikan siapa pun. Aku hanya melakukan yang terbaik untukku dan Lila. Dan lagi Lila bukan putrimu."
Naura mengepalkan tangannya erat, mencoba menahan emosi yang membuncah di dadanya. Namun, sebelum ia bisa berkata lebih jauh, Dirga tiba-tiba terkekeh pelan, lalu berubah menjadi tawa sinis yang menggema di dalam ruangan.
"Kau masih berani berbohong, Naura?" ucapnya dingin.
Tiba-tiba, Dirga mengeluarkan sebuah amplop dari dalam sakunya dan melemparkannya ke atas meja. Amplop putih itu memiliki logo rumah sakit terkenal yang langsung membuat darah Naura berdesir.
"Buka," perintah Dirga tajam. "Dan lihat sendiri kebenarannya."
Naura menatap amplop itu dengan napas tersengal. Tangannya bergetar saat ia mengulurkan jari untuk meraihnya. Bagian dalam dirinya ingin mengabaikannya, tapi rasa penasaran dan ketakutan mendorongnya untuk membuka segelnya.
Saat ia menarik keluar selembar kertas dari dalamnya, matanya langsung menangkap sederet angka dan tulisan medis yang sulit ditampik. Hasil tes DNA.
Matanya bergerak liar, mencari informasi utama. Dan di sana, hitam di atas putih, tertera hasilnya.
99,999%
Lila adalah putri kandung Arjuna Dirga Wiratama.
Napas Naura tersangkut di tenggorokan. Kepalanya terasa berputar, seakan dunia runtuh di sekelilingnya. Tangannya melemas, hampir saja kertas itu jatuh dari genggamannya. Dirga akhirnya tahu.
Sementara itu, Dirga menatapnya tajam, penuh kemenangan. "Sekarang, masih berani bilang dia bukan anakku?"
***
Naura menarik napas panjang, berusaha menenangkan debaran di dadanya yang tak terkendali. Ia menatap Dirga dengan sorot mata penuh emosi, campuran kemarahan, kepedihan, dan kelelahan yang selama ini ia pendam.
"Oke," ucapnya lirih, suaranya bergetar. "Lila memang putrimu. Tapi, apa yang akan berubah, Dirga?"
Dirga menatapnya tajam, namun Naura tak gentar. Ia melanjutkan, suaranya kini lebih tegas.
"Aku yang mengandungnya sendirian, aku yang berjuang melewati setiap rasa sakit tanpa seorang pun di sisiku. Aku yang melahirkannya tanpa tahu apakah aku akan bertahan atau tidak. Dan selama ini, aku yang membesarkannya, aku yang ada setiap kali dia menangis, aku yang menemaninya di setiap langkah pertamanya!"
Matanya kini berkaca-kaca, tapi ia tetap berdiri tegak, menolak terlihat lemah di hadapan pria itu.
"Sementara kau, Dirga? Kau bahkan tidak tahu dia ada! Jadi sekarang, kau datang dan mengklaimnya sebagai putrimu seolah-olah kau punya hak?"
Dirga membeku. Rahangnya mengeras, matanya menyala penuh kemarahan.
"Naura…" desisnya, suaranya dalam dan berbahaya.
"Apa?" Naura menantang. "Kau marah karena aku menyembunyikan Lila? Lalu di mana kau selama ini? Saat aku membutuhkanmu? Saat aku nyaris kehilangan segalanya?!"
Dirga mengepalkan tangannya di atas pahanya, matanya gelap, ekspresinya berubah semakin kelam. Kemarahan berdenyut di sekujur tubuhnya.
"Aku. Tidak. Tahu." Dirga mengucapkannya dengan penuh tekanan, suaranya terdengar begitu dingin hingga udara di sekitarnya terasa menegang. "Dan jika aku tahu—jika kau memberitahuku sejak awal—aku tidak akan membiarkanmu melewati semua itu sendirian, Naura!"
"Tidak akan membiarkanku?" Naura tertawa sinis, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. "Lucu sekali. Kau pikir aku akan mempercayai kata-katamu setelah semua yang terjadi?"
Dirga menatapnya, matanya berkilat penuh emosi. Ia menggertakkan giginya, tubuhnya menegang seakan sedang menahan sesuatu.
"Kau sudah mengambil hakku, Naura," suaranya merendah, tapi tak kalah berbahaya. "Dan sekarang, aku akan mengambil hakku kembali."
Naura tertegun.
"Mulai sekarang," lanjut Dirga dengan nada penuh kepastian, "aku tidak akan pergi dari kehidupan Lila. Aku tidak peduli bagaimana cara kau menolakku—kau tidak akan bisa lagi menyembunyikannya dariku."
Tatapan Naura melebar, dadanya bergemuruh.
"Dan jika kau mencoba menghalangiku…" Dirga mendekat, membiarkan kata-katanya menggantung di udara, sebelum akhirnya berbisik dengan nada tajam yang menusuk.
"…kau akan tahu seberapa jauh aku bisa melangkah."
Lima tahun lalu.Naura menatap dua garis merah di test pack yang masih digenggamnya erat. Tangannya bergetar, matanya panas, dan jantungnya berdetak kencang. Ini tidak seharusnya terjadi. Ini seharusnya tidak pernah terjadi. Tapi kenyataannya, ia hamil. Dan ia sangat tahu siapa yang harus bertanggung jawab.Arjuna Dirga Wiratama.Kakak dari pria yang selama ini ia cintai, atau lebih tepatnya, mantan kekasihnya.Naura menggigit bibirnya, berusaha menguatkan diri. Dirga harus tahu. Seburuk apa pun situasinya, sekelam apa pun masa lalu mereka, ia tidak bisa menyembunyikan ini. Lila—bayi yang sekarang ada di dalam perutnya—berhak memiliki ayah.Dengan tekad yang bulat, ia mengambil tasnya dan pergi menuju kantor pusat Wiratama Hospitality Group. Naura tahu bahwa Dirga adalah pewaris utama, CEO yang memegang kendali penuh atas perusahaan itu. Meski baru sebulan tak bertemu, ia yakin Dirga masih seperti yang dulu—penuh percaya diri, berkuasa, dan nyaris tak tersentuh.Sesampainya di depan ge
Masa Kini.Naura berdiri di ambang pintu, dadanya naik turun, menahan emosi yang membuncah dalam dirinya. Tangannya masih gemetar setelah membanting pintu beberapa detik yang lalu. Dari celah jendela, ia bisa melihat punggung tegap Dirga yang berjalan menjauh dari rumahnya. Pria itu tidak berbalik, tidak mencoba mengetuk kembali, hanya melangkah pergi dengan bahunya yang tetap kokoh.Seharusnya ini menjadi momen kemenangan bagi Naura. Ia telah mengusir pria yang bertahun-tahun lalu menghancurkan hidupnya, pria yang dulu membuatnya hampir kehilangan segalanya. Tapi, mengapa justru ada perasaan kosong yang menyusup ke dalam hatinya? Kini, Dirga datang kepadanya, menuntut sesuatu yang tidak bisa ia berikan.“Lila adalah anakku, Naura.” Kata-kata itu masih terngiang di kepalanya.Naura menghela napas panjang. Tangan kanannya terangkat, menekan dadanya yang terasa sesak. Ia tahu ini bukan akhir. Ini baru permulaan dari badai yang lebih besar.Dari kamar, terdengar suara kecil yang familiar
Keesokan paginya, Naura menyiapkan segala keperluan Lila sebelum berangkat ke butik tempatnya bekerja. Sejak kejadian kemarin, ia tidak bisa berhenti memikirkan Dirga. Pria itu mungkin sudah pergi dari rumahnya, tapi Naura tahu bahwa ini belum selesai. Ia takut jika Dirga akan kembali ke daycare dan mencari kesempatan untuk mendekati Lila lagi. Tidak, Naura tidak bisa membiarkan itu terjadi.Itulah sebabnya hari ini, ia memutuskan untuk membawa Lila bersamanya ke butik. Saat wawancara kemarin, Bu Dian sudah mengatakan bahwa karena ia adalah seorang single mother, butik tempatnya bekerja memperbolehkannya membawa anak. Kebijakan ini tentu sangat membantu, dan Naura merasa beruntung bisa bekerja di tempat yang memahami kondisinya.Lila duduk manis di kursi kecil di ruang belakang butik, tempat yang memang sudah disiapkan oleh Raffa yang sudah mengenal bu Dian. Temannya itu memang luar biasa. Meskipun kini masih di London untuk menyelesaikan urusan bisnisnya, Raffa tetap memastikan agar
Kedatangan Arjuna Dirga Wiratama ke kantor pagi itu langsung menghebohkan seisi gedung Wiratama Hospitality Group. Bukan karena jadwal rapat mendadak atau keputusan bisnis besar, melainkan karena pria itu datang dengan menggendong seorang anak kecil yang cantik dan menggemaskan.Para karyawan yang biasanya menjaga profesionalisme mereka, kali ini tak bisa menutupi keterkejutan. Bisik-bisik segera menyebar di antara mereka. Mata-mata penasaran melirik ke arah Dirga, beberapa bahkan nyaris mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar, tetapi segera mengurungkan niat begitu melihat tatapan tajam bos besar mereka."Siapa anak itu?""Bukannya Pak Dirga belum menikah? Kok bisa-bisanya bawa anak kecil ke kantor?""Ya ampun, lihat tuh! Lucu banget, mirip banget sama Pak Dirga!"Bisikan demi bisikan semakin menjadi-jadi, tetapi tak satu pun yang berani menanyakan langsung pada pria itu. Dirga sendiri tampaknya tak terganggu dengan kehebohan yang ia timbulkan. Ia berjalan santai menuju ruangannya
Terdengar suara tangisan yang begitu nyaring dari arah kamar Dirga. Dirga langsung beranjak dari kursinya, meninggalkan Bima yang masih syok dengan pengakuan kakaknya. Ia berjalan cepat menuju kamar, dan begitu pintu terbuka, ia menemukan Lila duduk di atas ranjang, menangis tersedu-sedu sambil memeluk boneka unicornnya erat-erat."Mommmyyy..." isaknya lirih, bahunya berguncang karena tangis.Dirga merasakan dadanya mencelos. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, lalu dengan hati-hati mengusap kepala putrinya. "Lila, sayang... Papa di sini."Namun, gadis kecil itu masih terisak dan menggelengkan kepala. "Lila mau Mommy... mau pulang..." suaranya bergetar, matanya yang basah menatap Dirga dengan penuh harap.Bima yang baru tiba di ambang pintu hanya bisa terdiam, menatap adegan itu dengan ekspresi campur aduk. Ia tak pernah melihat kakaknya dalam situasi seperti ini—gugup, kebingungan, dan tidak tahu harus berbuat apa. Ini jelas bukan Dirga yang ia kenal, pria dingin yang sel
Sementara itu, di rumahnya, Naura duduk di sofa dengan tatapan kosong. Ia baru saja pulang kerja, tubuhnya lelah, tetapi pikirannya jauh lebih letih. Sejak pagi, ia tidak bisa berhenti memikirkan Lila—putrinya yang seharian ini berada di kantor Dirga dan sampai sekarang belum juga dikembalikan. Tangannya secara refleks meraih ponselnya, namun ia ragu. Ia ingin menelepon Dirga, menanyakan bagaimana keadaan Lila, tetapi di sisi lain, ia takut. Takut Dirga benar-benar akan mengambil Lila darinya. Selama empat tahun ini, Naura telah menjadi satu-satunya dunia bagi putrinya. Lila belum pernah berpisah dengannya lebih dari beberapa jam, apalagi seharian penuh seperti ini. Naura menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. "Mungkin Dirga cuma ingin menghabiskan waktu dengan Lila," gumamnya pelan, berusaha mencari alasan agar hatinya tidak semakin sesak. Namun, ia tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya tersenyum miris. Ia bahkan tidak memiliki nomor Dirga. Betapa lucunya, pri
Setelah keluar dari apartemennya, Dirga mengendarai mobil menuju kantornya di pusat kota. Pagi itu lalu lintas tidak terlalu padat, tetapi pikiran Dirga jauh lebih penuh dibandingkan jalanan. Ia memikirkan banyak hal, termasuk keputusan yang akan diambil mengenai Lila dan Naura.Begitu tiba di gedung megah yang merupakan kantor pusat Wiratama Hospitality Group, Dirga memarkir mobilnya di area VIP yang sudah disediakan untuknya. Langkahnya mantap memasuki lobi utama, di mana para karyawan yang sudah lebih dahulu datang menyambutnya dengan sedikit gugup dan hormat.Di meja resepsionis, seorang perempuan muda terlihat sibuk dengan komputer di depannya. Ia tampak kaget ketika melihat Dirga berdiri di depannya."Ada yang mencariku hari ini?" tanya Dirga dengan suara rendah dan tegas, membuat gadis itu langsung berdiri tegak.Resepsionis itu terlihat gugup, wajahnya memerah, sementara suaranya terdengar terbata-bata saat menjawab. "Ti-tidak ada, Tuan. Tidak ada yang datang mencari Anda hari
Keesokan paginya, suasana di apartemen Dirga terasa lebih sunyi dari biasanya. Di meja makan, Lila duduk dengan tangan terlipat di depan dada, wajahnya cemberut. Di depannya, sepiring roti panggang dan segelas susu tetap utuh, sama sekali belum disentuh.Dirga yang duduk di seberangnya menghela napas pelan. "Lila, kenapa nggak dimakan rotinya? Nanti perut Lila lapar."Lila hanya menggeleng pelan, bibir mungilnya masih manyun. Ia menunduk, memainkan ujung bajunya. "Nggak mau... nggak enak."Dirga mengusap wajahnya, berusaha tetap sabar. Ini pertama kalinya putrinya kehilangan nafsu makan sejak kemarin. Gadis kecil itu menjadi murung, meskipun terkadang ia tetap bermain dan tertawa. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang hilang dalam binar matanya."Kenapa nggak enak? Papa bisa buat roti yang lain kalau Lila mau," ujar Dirga, mencoba membujuk.Lila menggeleng lagi, kali ini lebih pelan. "Bukan lotinya..."Dirga menunggu, memberi ruang bagi putrinya untuk melanjutkan. Saat Lila akhirnya menga
Sesampainya di kebun binatang, Lila langsung melompat kegirangan. Matanya berbinar melihat berbagai spanduk dan patung hewan yang menyambut pengunjung di pintu masuk. Ia menggenggam tangan Dirga dan Naura erat, menarik mereka berdua dengan penuh semangat."Daddy, Mommy, ayo cepat! Aku mau lihat jilaft dulu!" serunya dengan penuh antusias.Dirga dan Naura hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah putri kecil mereka. Mereka pun berjalan mengikuti Lila yang setengah berlari menuju kandang jerapah. Begitu sampai, Lila langsung menempel di pagar pembatas, menatap kagum ke arah jerapah yang tengah mengunyah dedaunan."Daddy, Daddy! Itu jilaft, kan?" tanyanya dengan penuh semangat, sembari mengangkat kamera kecilnya untuk mengambil foto.Dirga mengangguk. "Iya, sayang. Itu jerapah. Jerapah punya leher panjang supaya bisa mengambil daun di pohon yang tinggi."Lila manggut-manggut sambil mengarahkan kameranya. "Aku halus foto!" katanya, lalu mengabadikan momen itu dengan lensa kecilnya. Setelah
Setelah sarapan bersama yang disiapkan oleh Dirga, suasana mulai mencair. Meski masih ada ketegangan di antara mereka, setidaknya mereka bisa menikmati momen kecil sebagai keluarga. Dirga dengan sigap membantu Lila memakai sepatu, sementara Naura merapikan tas kecil putrinya."Kita siap berangkat?" tanya Dirga sambil tersenyum."Siap!" seru Lila dengan semangat.Mereka bertiga pun berangkat ke sekolah Lila. Selama di perjalanan, Lila bercerita dengan antusias tentang tugas sekolahnya. "Mommy, Daddy, di sekolah aku ada tugas! Aku halus foto sama binatang!" katanya dengan mata berbinar.Dirga melirik Naura sekilas sebelum menatap putri kecilnya dengan penuh kasih. "Bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang?" usulnya santai.Lila langsung menoleh dengan wajah penuh kegembiraan. "Leally, Daddy?" tanyanya dengan mata berbinar.Dirga terkekeh dan mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Of course, honey. Kita bisa pergi setelah sekolah. Gimana, Mommy?" Kini tatapannya tertuju pada Naura,
Setelah Bima pergi, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu. Naura duduk memeluk dirinya sendiri, menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan bayangan dirinya—wajah yang dulu penuh harapan, kini hanya menyisakan lelah dan luka.Hatinya terasa kosong. Semua yang ia pendam selama bertahun-tahun akhirnya terucap, namun mengapa rasanya masih seberat ini? Apakah karena kenyataan tak pernah benar-benar bisa menghapus masa lalu? Ataukah karena bayang-bayang itu akan selalu mengikutinya, kemanapun ia pergi?Naura menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh dalam dadanya. Lila sedang tidur di kamar, tidak tahu apa yang baru saja terjadi antara ibunya dan pria yang dulu ia cintai. Dan kini, Naura harus memikirkan langkah selanjutnya.Pikirannya melayang ke London—tempat yang dulu memberinya pelarian, tempat di mana ia sempat merasakan kebebasan, jauh dari bayang-bayang Bima, Dirga, dan semua kenangan pahit yang menyesakkan. Ia bisa kembali ke sana, memulai dari awal sekali lagi. Lond
Setelah semua tenang—setelah isak Naura perlahan mereda dan Bima duduk terpaku di lantai, masih dengan dada yang sesak dan wajah tertunduk dalam diam—Naura akhirnya mengambil napas panjang. Ia berdiri perlahan, menarik piyamanya yang terbuka, lalu mengancingkannya satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tak ada kemarahan di wajahnya, hanya kelelahan dan luka yang baru saja bertambah satu.Dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan, Naura berkata, “Kita ke ruang tamu, ya.”Bima hanya mengangguk, tak mampu menatap mata Naura. Ia mengikuti langkah perempuan itu, duduk di ujung sofa yang sempit, sementara Naura duduk tak jauh darinya, menyisakan jarak di antara mereka—jarak yang terasa lebih lebar dari sekadar satu dudukan kursi.Beberapa detik hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Lalu Naura bicara, pelan dan hati-hati.“Ada yang mau kamu bicarakan, Bim?” tanyanya pelan, tanpa menoleh.Bima terdiam sejenak. Hatinya masih berdegup kencang, bukan karena amarah, tapi kar
Saat ini, di kediaman keluarga Wiratama, suasana jauh dari kata tenang. Raden Wijaya Kusuma Wiratama, sang kepala keluarga, berdiri di tengah ruang tamu dengan napas berat dan rahang mengeras. Sorot matanya tajam, menyimpan bara yang sudah lama terpendam, kini disulut oleh kenyataan pahit yang baru saja ia dengar—dari mulut anak keduanya, Bima.“Jadi maksudmu, selama ini Dirga menyembunyikan semuanya dari kita?” suaranya berat, tapi tetap berwibawa. “Dan kamu tahu… tapi baru bilang sekarang?”Bima menunduk sedikit, menyadari ketegangan yang ia picu. “Bima gak tahu semua detailnya, Pah. Tapi itu benar… itu anaknya Mas Dirga. Bima udah pastikan sendiri, langsung nanya ke Mas Dirga.”Dalam hati, Bima berharap dengan membuka semuanya seperti ini, Dirga akan menjauh dari Naura. Ia tahu betul watak sang ayah—Raden Wijaya Kusuma Wiratama—lelaki yang menjunjung tinggi martabat dan kehormatan keluarga. Seseorang seperti Ayahnya pasti tidak akan bisa menerima cucu yang lahir dari hubungan di lu
Sari Dewi masih berdiri mematung di tengah ruang tamu, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar yang kini tertutup rapat. Hening sesaat, lalu napas panjang meluncur pelan dari hidungnya. Ia menoleh ke arah Lila, yang kini duduk dengan kaki bersila di karpet, masih memegang stiker-stiker bintang di tangannya, dan memandang ke arah "Oma Dewi"-nya dengan sorot mata penasaran.Langkah Sari Dewi terasa ragu sesaat, tapi kemudian ia berjalan perlahan, menghampiri Lila dengan wajah yang berusaha dilembutkan. Dalam dirinya, badai emosi sedang bergejolak—terharu, terkejut, dan entah kenapa... terasa hangat.Ia berlutut pelan di depan Lila. Menatap wajah mungil itu—pipi bundar dengan glitter pink samar, mata berbinar seperti Dirga di usia lima tahun, dan senyum kecil yang sama persis seperti senyum yang dulu ia bayangkan akan dimiliki anak perempuannya. Tapi anak perempuan itu tak pernah datang. Tidak pernah lahir. Harapan itu kandas bertahun-tahun lalu, saat dokter memvonis bahwa rahimnya ta
Dirga duduk di kursi kebesarannya—sebuah kursi kulit hitam yang megah, berdiri di tengah ruang kerja berpanel kayu dengan pencahayaan remang-remang yang terkesan hangat namun berwibawa. Di hadapannya, layar-layar monitor menyala, menampilkan data penjualan, laporan mingguan, dan strategi ekspansi terbaru. Namun pikirannya tak sepenuhnya di sana. Sesekali, ia menatap kosong ke arah layar, dan bayangan wajah Naura kembali menyelinap.Tiba-tiba, suara pintu kayu yang terbuka cepat membuyarkan lamunannya.Dirga mendongak.Di ambang pintu, berdiri seorang perempuan anggun dengan raut wajah yang jarang terlihat: marah. Sari Dewi Wiratama—ibunya. Wanita yang selama ini dikenal tenang, berkelas, dan sangat terukur dalam bersikap, kini berdiri dengan rahang mengeras dan mata yang menyala tajam. Di tangannya tergenggam segepok foto. Tanpa sepatah kata, ia berjalan mendekat dan melemparkan foto-foto itu ke atas meja Dirga.Beberapa foto meluncur turun dari meja, tapi cukup banyak yang bertahan d
Di dalam mobil, suasana seolah terbagi menjadi dua dunia yang sangat berbeda.Di kursi belakang, Lila duduk dengan gembira, tubuhnya masih setengah tenggelam di antara tas-tas dan boneka yang ia bawa. Mulutnya tak berhenti bernyanyi—kadang lagu TK ceria yang salah nada, kadang lagu iklan yang entah bagaimana nyangkut di kepalanya. Tangannya bergerak mengikuti irama, dan setiap beberapa detik ia akan menyebut nama hewan atau bentuk awan yang ia lihat dari jendela.“♬ Beal kecil beal kecil, jalan-jalan di sawah… ketemu cacing, beal ketakutan… ♬”Tapi di kursi depan, udara terasa dingin meski sinar matahari menembus kaca mobil dengan hangatnya.Naura duduk kaku di kursi penumpang, menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam erat, seolah menahan sesuatu agar tidak tumpah—entah itu kemarahan, atau luka lama yang belum benar-benar kering.Dirga yang menyetir di sebelahnya sesekali mencuri pandang. Tapi setiap kali ia berniat membuka mulut, sesuatu
Dirga mengusap wajahnya kasar, napasnya berat. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, lalu terdengar gumamannya lirih, hampir tak terdengar.“Sial…”Ia mendongak, menatap Naura dengan mata yang mulai memerah.“Berarti… waktu itu kamu benar-benar dengar semuanya, ya?”Naura tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di dekat meja, tangan terkepal di sisi tubuhnya. Matanya masih menyala marah, tapi ada air yang mulai menggenang di sudutnya.Dirga menarik napas panjang, seolah mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menghadapi kenyataan pahit yang baru saja menyeruak.“Naura…” suaranya berat, dalam, “…mas tahu mas salah. Mas tahu… semua yang mas lakukan ke kamu… udah bikin kamu rusak.”Ia menatap Naura lurus, tak lagi mencoba menyembunyikan lukanya.“Tapi mas nggak bisa bilang… mas menyesal sepenuhnya. Karena… dari semua kehancuran itu, hadir Lila. Mas… mas nggak bisa nyesel atas kehadiran dia. Dia segalanya.”Naura mendengus sinis, suara tawanya kering, nyaris seperti retakan kaca.“Kamu…