Sementara itu, di rumahnya, Naura duduk di sofa dengan tatapan kosong. Ia baru saja pulang kerja, tubuhnya lelah, tetapi pikirannya jauh lebih letih. Sejak pagi, ia tidak bisa berhenti memikirkan Lila—putrinya yang seharian ini berada di kantor Dirga dan sampai sekarang belum juga dikembalikan. Tangannya secara refleks meraih ponselnya, namun ia ragu. Ia ingin menelepon Dirga, menanyakan bagaimana keadaan Lila, tetapi di sisi lain, ia takut. Takut Dirga benar-benar akan mengambil Lila darinya. Selama empat tahun ini, Naura telah menjadi satu-satunya dunia bagi putrinya. Lila belum pernah berpisah dengannya lebih dari beberapa jam, apalagi seharian penuh seperti ini. Naura menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. "Mungkin Dirga cuma ingin menghabiskan waktu dengan Lila," gumamnya pelan, berusaha mencari alasan agar hatinya tidak semakin sesak. Namun, ia tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya tersenyum miris. Ia bahkan tidak memiliki nomor Dirga. Betapa lucunya, pri
Setelah keluar dari apartemennya, Dirga mengendarai mobil menuju kantornya di pusat kota. Pagi itu lalu lintas tidak terlalu padat, tetapi pikiran Dirga jauh lebih penuh dibandingkan jalanan. Ia memikirkan banyak hal, termasuk keputusan yang akan diambil mengenai Lila dan Naura.Begitu tiba di gedung megah yang merupakan kantor pusat Wiratama Hospitality Group, Dirga memarkir mobilnya di area VIP yang sudah disediakan untuknya. Langkahnya mantap memasuki lobi utama, di mana para karyawan yang sudah lebih dahulu datang menyambutnya dengan sedikit gugup dan hormat.Di meja resepsionis, seorang perempuan muda terlihat sibuk dengan komputer di depannya. Ia tampak kaget ketika melihat Dirga berdiri di depannya."Ada yang mencariku hari ini?" tanya Dirga dengan suara rendah dan tegas, membuat gadis itu langsung berdiri tegak.Resepsionis itu terlihat gugup, wajahnya memerah, sementara suaranya terdengar terbata-bata saat menjawab. "Ti-tidak ada, Tuan. Tidak ada yang datang mencari Anda hari
Keesokan paginya, suasana di apartemen Dirga terasa lebih sunyi dari biasanya. Di meja makan, Lila duduk dengan tangan terlipat di depan dada, wajahnya cemberut. Di depannya, sepiring roti panggang dan segelas susu tetap utuh, sama sekali belum disentuh.Dirga yang duduk di seberangnya menghela napas pelan. "Lila, kenapa nggak dimakan rotinya? Nanti perut Lila lapar."Lila hanya menggeleng pelan, bibir mungilnya masih manyun. Ia menunduk, memainkan ujung bajunya. "Nggak mau... nggak enak."Dirga mengusap wajahnya, berusaha tetap sabar. Ini pertama kalinya putrinya kehilangan nafsu makan sejak kemarin. Gadis kecil itu menjadi murung, meskipun terkadang ia tetap bermain dan tertawa. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang hilang dalam binar matanya."Kenapa nggak enak? Papa bisa buat roti yang lain kalau Lila mau," ujar Dirga, mencoba membujuk.Lila menggeleng lagi, kali ini lebih pelan. "Bukan lotinya..."Dirga menunggu, memberi ruang bagi putrinya untuk melanjutkan. Saat Lila akhirnya menga
Dirga tiba di depan apartemen dengan langkah berat. Amarah yang tadi ia tahan selama di kantor kini mendidih di dadanya. Namun, sebelum sempat memasukkan angka-angka kode apartemennya, pintu itu terbuka sendiri.Di ambang pintu, Bima—adik laki-lakinya—berdiri dengan senyum lebar, kedua tangannya penuh dengan berbagai macam boneka unicorn berwarna-warni."Halo, Lila! Uncle datang lagi nih bawa unicorn kesukaan Lila!" serunya riang, meskipun gadis kecil itu belum terlihat.Dirga mengernyit, menatap adiknya dengan tajam. "Apa yang lo lakukan di sini?"Bima mengangkat bahu santai. "Jelas-jelas mengunjungi keponakan kesayangan gue! Gue dengar dari pengasuhnya kalau dia sedang murung, jadi gue beli ini untuk menghiburnya."Dirga pun menghela napas dan mulai masuk bersama. Bima langsung berjalan ke ruang tengah, meletakkan boneka-boneka unicorn di sofa, sementara Lila yang baru saja bangun dari tidurnya perlahan menghampiri mereka dengan mata berbinar."Lila, lihat! Uncle bawa banyak unicorn
Dokter yang memeriksa Lila menatap Dirga dengan tenang sebelum akhirnya berbicara, "Tuan Dirga, putri Anda hanya mengalami demam biasa. Ini wajar terjadi pada anak-anak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan secara berlebihan."Mata Dirga menyala marah mendengar kata-kata itu. Rahangnya mengeras, dan tanpa sadar, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Hanya, kau bilang? Hanya?! Anak saya panas tinggi, napasnya tersengal, dan kau bilang ini hanya demam biasa?" suaranya meninggi, nada tajamnya memenuhi ruangan.Dokter itu tetap tersenyum tenang, sudah terbiasa menghadapi pasien atau keluarga pasien yang panik. Terlebih lagi, pria yang berdiri di hadapannya ini bukan orang sembarangan. Arjuna Dirga Wiratama, seorang pebisnis besar yang dikenal dingin dan arogan."Saya mengerti kekhawatiran Anda, Tuan Dirga," ujar dokter itu dengan nada lembut namun tegas. "Namun, percayalah, kami sudah menangani banyak kasus seperti ini. Putri Anda hanya butuh istirahat yang cukup, hidrasi yang baik, dan per
Begitu pintu tertutup dan langkah kaki Dirga menghilang di lorong rumah sakit, Naura menghembuskan napas berat. Tangannya masih menggenggam sendok yang baru saja ia gunakan untuk menyuapi Lila. Namun, sebelum ia bisa benar-benar menenangkan pikirannya, ponselnya tiba-tiba berdering.Naura menatap layar sekilas, nama yang tertera membuatnya sedikit lega—Raffa.Tanpa ragu, ia segera mengangkat panggilan itu. "Halo, Raff?"“Nau gue di depan rumah lo nih. Ayo berangkat bareng gue, biar gue anter lo ke butik”Naura menghela napas pelan, lalu lirih menjawab, "Sorry, Raff, gue lagi nggak di rumah."Raffa terdengar bingung. "Hah? Terus lo di mana?""Ehmm... gue di rumah sakit," jawab Naura.Raffa bertanya dengan nada panik, "Lo sakit, Nau?""Bukan, bukan gue, tapi Lila," jelas Naura.Raffa semakin kaget. "Apa? Lila sakit? Sekarang di rumah sakit mana kalian? Biar gue ke situ."Naura pun memberi alamat rumah sakitnya kepada Raffa.Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdeng
Keesokan paginya, suasana kamar inap Lila terasa lebih hangat. Gadis kecil itu sudah terlihat jauh lebih baik, pipinya yang kemarin pucat kini mulai bersemu kembali. Tawa kecilnya terdengar memenuhi ruangan, terutama karena kehadiran Raffa yang duduk di lantai bermain bersamanya.Sebelumnya, Dirga sempat menolak membiarkan Raffa masuk. Namun, Lila bersikeras ingin bertemu dengan pria itu, dan pada akhirnya, Dirga tak punya pilihan lain selain mengizinkannya masuk dengan ekspresi yang tetap penuh kewaspadaan."Tadaaa! Lihat apa yang Daddy bawa ini buat Lila!" seru Raffa sambil mengeluarkan beberapa boneka kesayangan Lila yang ia bawa dari rumah Naura.Mata Lila berbinar senang. Ia langsung meraih boneka kesayangannya dan memeluknya erat. "Thank you, Uncle!" ucapnya dengan polos.Raffa yang awalnya tersenyum lebar, tiba-tiba mengernyitkan dahinya, merasa ada sesuatu yang aneh. "Uncle?" ulangnya dengan bingung. Biasanya, Lila selalu memanggilnya Daddy Yaffa.Lila mengangguk kecil lalu me
Chapter 18Di dalam mobil yang mulai melaju menjauh dari rumah Naura, Anthony melirik sekilas ke arah Dirga yang tampak diam dan termenung. Pria itu tersenyum kecil sebelum akhirnya membuka mulut, mencoba mencairkan suasana."Sepertinya Tuan sedang berpikir keras," ujar Anthony santai. "Tidak biasanya Tuan seserius ini setelah bertemu dengan Lila."Dirga menghela napas pelan, namun tetap menatap lurus ke depan. "Biasa saja," jawabnya singkat.Anthony tertawa kecil, lalu melanjutkan, "Hmm… tadi suasananya seperti keluarga bahagia ya? Apalagi panggilannya juga sangat cocok, 'Mommy' dan 'Daddy'." Nada suaranya sedikit menggoda, meski tetap terdengar sopan.Mendengar itu, rahang Dirga mengeras. Ia menoleh sekilas, menatap Anthony dengan tatapan tajam, tapi asisten pribadinya itu hanya tersenyum penuh arti."Tuan sadar, kan? Lila selalu memanggil Raffa dengan sebutan 'Daddy', sementara Tuan tetap 'Papa'." Anthony melanjutkan dengan nada tenang, namun ada sedikit penekanan di ujung kalimatn
Sesampainya di kebun binatang, Lila langsung melompat kegirangan. Matanya berbinar melihat berbagai spanduk dan patung hewan yang menyambut pengunjung di pintu masuk. Ia menggenggam tangan Dirga dan Naura erat, menarik mereka berdua dengan penuh semangat."Daddy, Mommy, ayo cepat! Aku mau lihat jilaft dulu!" serunya dengan penuh antusias.Dirga dan Naura hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah putri kecil mereka. Mereka pun berjalan mengikuti Lila yang setengah berlari menuju kandang jerapah. Begitu sampai, Lila langsung menempel di pagar pembatas, menatap kagum ke arah jerapah yang tengah mengunyah dedaunan."Daddy, Daddy! Itu jilaft, kan?" tanyanya dengan penuh semangat, sembari mengangkat kamera kecilnya untuk mengambil foto.Dirga mengangguk. "Iya, sayang. Itu jerapah. Jerapah punya leher panjang supaya bisa mengambil daun di pohon yang tinggi."Lila manggut-manggut sambil mengarahkan kameranya. "Aku halus foto!" katanya, lalu mengabadikan momen itu dengan lensa kecilnya. Setelah
Setelah sarapan bersama yang disiapkan oleh Dirga, suasana mulai mencair. Meski masih ada ketegangan di antara mereka, setidaknya mereka bisa menikmati momen kecil sebagai keluarga. Dirga dengan sigap membantu Lila memakai sepatu, sementara Naura merapikan tas kecil putrinya."Kita siap berangkat?" tanya Dirga sambil tersenyum."Siap!" seru Lila dengan semangat.Mereka bertiga pun berangkat ke sekolah Lila. Selama di perjalanan, Lila bercerita dengan antusias tentang tugas sekolahnya. "Mommy, Daddy, di sekolah aku ada tugas! Aku halus foto sama binatang!" katanya dengan mata berbinar.Dirga melirik Naura sekilas sebelum menatap putri kecilnya dengan penuh kasih. "Bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang?" usulnya santai.Lila langsung menoleh dengan wajah penuh kegembiraan. "Leally, Daddy?" tanyanya dengan mata berbinar.Dirga terkekeh dan mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Of course, honey. Kita bisa pergi setelah sekolah. Gimana, Mommy?" Kini tatapannya tertuju pada Naura,
Setelah Bima pergi, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu. Naura duduk memeluk dirinya sendiri, menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan bayangan dirinya—wajah yang dulu penuh harapan, kini hanya menyisakan lelah dan luka.Hatinya terasa kosong. Semua yang ia pendam selama bertahun-tahun akhirnya terucap, namun mengapa rasanya masih seberat ini? Apakah karena kenyataan tak pernah benar-benar bisa menghapus masa lalu? Ataukah karena bayang-bayang itu akan selalu mengikutinya, kemanapun ia pergi?Naura menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh dalam dadanya. Lila sedang tidur di kamar, tidak tahu apa yang baru saja terjadi antara ibunya dan pria yang dulu ia cintai. Dan kini, Naura harus memikirkan langkah selanjutnya.Pikirannya melayang ke London—tempat yang dulu memberinya pelarian, tempat di mana ia sempat merasakan kebebasan, jauh dari bayang-bayang Bima, Dirga, dan semua kenangan pahit yang menyesakkan. Ia bisa kembali ke sana, memulai dari awal sekali lagi. Lond
Setelah semua tenang—setelah isak Naura perlahan mereda dan Bima duduk terpaku di lantai, masih dengan dada yang sesak dan wajah tertunduk dalam diam—Naura akhirnya mengambil napas panjang. Ia berdiri perlahan, menarik piyamanya yang terbuka, lalu mengancingkannya satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tak ada kemarahan di wajahnya, hanya kelelahan dan luka yang baru saja bertambah satu.Dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan, Naura berkata, “Kita ke ruang tamu, ya.”Bima hanya mengangguk, tak mampu menatap mata Naura. Ia mengikuti langkah perempuan itu, duduk di ujung sofa yang sempit, sementara Naura duduk tak jauh darinya, menyisakan jarak di antara mereka—jarak yang terasa lebih lebar dari sekadar satu dudukan kursi.Beberapa detik hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Lalu Naura bicara, pelan dan hati-hati.“Ada yang mau kamu bicarakan, Bim?” tanyanya pelan, tanpa menoleh.Bima terdiam sejenak. Hatinya masih berdegup kencang, bukan karena amarah, tapi kar
Saat ini, di kediaman keluarga Wiratama, suasana jauh dari kata tenang. Raden Wijaya Kusuma Wiratama, sang kepala keluarga, berdiri di tengah ruang tamu dengan napas berat dan rahang mengeras. Sorot matanya tajam, menyimpan bara yang sudah lama terpendam, kini disulut oleh kenyataan pahit yang baru saja ia dengar—dari mulut anak keduanya, Bima.“Jadi maksudmu, selama ini Dirga menyembunyikan semuanya dari kita?” suaranya berat, tapi tetap berwibawa. “Dan kamu tahu… tapi baru bilang sekarang?”Bima menunduk sedikit, menyadari ketegangan yang ia picu. “Bima gak tahu semua detailnya, Pah. Tapi itu benar… itu anaknya Mas Dirga. Bima udah pastikan sendiri, langsung nanya ke Mas Dirga.”Dalam hati, Bima berharap dengan membuka semuanya seperti ini, Dirga akan menjauh dari Naura. Ia tahu betul watak sang ayah—Raden Wijaya Kusuma Wiratama—lelaki yang menjunjung tinggi martabat dan kehormatan keluarga. Seseorang seperti Ayahnya pasti tidak akan bisa menerima cucu yang lahir dari hubungan di lu
Sari Dewi masih berdiri mematung di tengah ruang tamu, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar yang kini tertutup rapat. Hening sesaat, lalu napas panjang meluncur pelan dari hidungnya. Ia menoleh ke arah Lila, yang kini duduk dengan kaki bersila di karpet, masih memegang stiker-stiker bintang di tangannya, dan memandang ke arah "Oma Dewi"-nya dengan sorot mata penasaran.Langkah Sari Dewi terasa ragu sesaat, tapi kemudian ia berjalan perlahan, menghampiri Lila dengan wajah yang berusaha dilembutkan. Dalam dirinya, badai emosi sedang bergejolak—terharu, terkejut, dan entah kenapa... terasa hangat.Ia berlutut pelan di depan Lila. Menatap wajah mungil itu—pipi bundar dengan glitter pink samar, mata berbinar seperti Dirga di usia lima tahun, dan senyum kecil yang sama persis seperti senyum yang dulu ia bayangkan akan dimiliki anak perempuannya. Tapi anak perempuan itu tak pernah datang. Tidak pernah lahir. Harapan itu kandas bertahun-tahun lalu, saat dokter memvonis bahwa rahimnya ta
Dirga duduk di kursi kebesarannya—sebuah kursi kulit hitam yang megah, berdiri di tengah ruang kerja berpanel kayu dengan pencahayaan remang-remang yang terkesan hangat namun berwibawa. Di hadapannya, layar-layar monitor menyala, menampilkan data penjualan, laporan mingguan, dan strategi ekspansi terbaru. Namun pikirannya tak sepenuhnya di sana. Sesekali, ia menatap kosong ke arah layar, dan bayangan wajah Naura kembali menyelinap.Tiba-tiba, suara pintu kayu yang terbuka cepat membuyarkan lamunannya.Dirga mendongak.Di ambang pintu, berdiri seorang perempuan anggun dengan raut wajah yang jarang terlihat: marah. Sari Dewi Wiratama—ibunya. Wanita yang selama ini dikenal tenang, berkelas, dan sangat terukur dalam bersikap, kini berdiri dengan rahang mengeras dan mata yang menyala tajam. Di tangannya tergenggam segepok foto. Tanpa sepatah kata, ia berjalan mendekat dan melemparkan foto-foto itu ke atas meja Dirga.Beberapa foto meluncur turun dari meja, tapi cukup banyak yang bertahan d
Di dalam mobil, suasana seolah terbagi menjadi dua dunia yang sangat berbeda.Di kursi belakang, Lila duduk dengan gembira, tubuhnya masih setengah tenggelam di antara tas-tas dan boneka yang ia bawa. Mulutnya tak berhenti bernyanyi—kadang lagu TK ceria yang salah nada, kadang lagu iklan yang entah bagaimana nyangkut di kepalanya. Tangannya bergerak mengikuti irama, dan setiap beberapa detik ia akan menyebut nama hewan atau bentuk awan yang ia lihat dari jendela.“♬ Beal kecil beal kecil, jalan-jalan di sawah… ketemu cacing, beal ketakutan… ♬”Tapi di kursi depan, udara terasa dingin meski sinar matahari menembus kaca mobil dengan hangatnya.Naura duduk kaku di kursi penumpang, menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam erat, seolah menahan sesuatu agar tidak tumpah—entah itu kemarahan, atau luka lama yang belum benar-benar kering.Dirga yang menyetir di sebelahnya sesekali mencuri pandang. Tapi setiap kali ia berniat membuka mulut, sesuatu
Dirga mengusap wajahnya kasar, napasnya berat. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, lalu terdengar gumamannya lirih, hampir tak terdengar.“Sial…”Ia mendongak, menatap Naura dengan mata yang mulai memerah.“Berarti… waktu itu kamu benar-benar dengar semuanya, ya?”Naura tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di dekat meja, tangan terkepal di sisi tubuhnya. Matanya masih menyala marah, tapi ada air yang mulai menggenang di sudutnya.Dirga menarik napas panjang, seolah mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menghadapi kenyataan pahit yang baru saja menyeruak.“Naura…” suaranya berat, dalam, “…mas tahu mas salah. Mas tahu… semua yang mas lakukan ke kamu… udah bikin kamu rusak.”Ia menatap Naura lurus, tak lagi mencoba menyembunyikan lukanya.“Tapi mas nggak bisa bilang… mas menyesal sepenuhnya. Karena… dari semua kehancuran itu, hadir Lila. Mas… mas nggak bisa nyesel atas kehadiran dia. Dia segalanya.”Naura mendengus sinis, suara tawanya kering, nyaris seperti retakan kaca.“Kamu…