Chapter 18Di dalam mobil yang mulai melaju menjauh dari rumah Naura, Anthony melirik sekilas ke arah Dirga yang tampak diam dan termenung. Pria itu tersenyum kecil sebelum akhirnya membuka mulut, mencoba mencairkan suasana."Sepertinya Tuan sedang berpikir keras," ujar Anthony santai. "Tidak biasanya Tuan seserius ini setelah bertemu dengan Lila."Dirga menghela napas pelan, namun tetap menatap lurus ke depan. "Biasa saja," jawabnya singkat.Anthony tertawa kecil, lalu melanjutkan, "Hmm… tadi suasananya seperti keluarga bahagia ya? Apalagi panggilannya juga sangat cocok, 'Mommy' dan 'Daddy'." Nada suaranya sedikit menggoda, meski tetap terdengar sopan.Mendengar itu, rahang Dirga mengeras. Ia menoleh sekilas, menatap Anthony dengan tatapan tajam, tapi asisten pribadinya itu hanya tersenyum penuh arti."Tuan sadar, kan? Lila selalu memanggil Raffa dengan sebutan 'Daddy', sementara Tuan tetap 'Papa'." Anthony melanjutkan dengan nada tenang, namun ada sedikit penekanan di ujung kalimatn
"Selama ini kamu tinggal di mana, sayang? Apa kamu kesulitan?" suara Mila Rose bergetar, penuh penyesalan. Matanya kembali berkaca-kaca, menatap putri yang telah ia tinggalkan bertahun-tahun lamanya. "Maafkan Mama dan Papa, ya? Kamu pulang saja ke rumah."Naura menunduk, meremas tangannya sendiri di bawah meja. Keinginannya untuk memperbaiki hubungan dengan orang tuanya memang besar, tetapi kembali ke rumah yang penuh dengan kenangan menyakitkan? Ia tidak yakin sudah siap untuk itu."Ma, aku baik-baik saja," jawab Naura dengan suara lembut namun tegas. "Selama ini aku tinggal di London. Aku juga bekerja di sebuah butik. Memang tidak besar, tapi gajinya cukup untuk aku dan Lila. Aku... aku sudah memaafkan Mama dan Papa. Tapi untuk kembali ke rumah, biarkan aku tetap seperti ini dulu, ya?"Ethan Prasetya Lark yang sejak tadi diam, menghela napas panjang. Pria itu terlihat jauh lebih tua dibanding lima tahun lalu, dengan kerutan di wajah yang semakin dalam. Ia menatap putrinya dengan sor
Setelah puas memandangi Lila, Dirga pun berniat pulang. Namun, saat menoleh ke arah sofa, ia melihat Naura sudah tertidur pulas di sana. Rasa bersalah menyelusup di hatinya. Ia tahu perempuan itu pasti sangat lelah. Dengan langkah pelan, ia mendekati sofa dan menatap Naura yang tidur dengan begitu damai.Walaupun Naura mengenakan piyama panjang, tetap saja ada sesuatu yang menggoda dalam ketenangan wajahnya. Dirga mengumpat dalam hati, mencoba menepis pikiran yang mulai berkelebat di kepalanya.Tanpa berpikir panjang, ia membungkuk dan mengangkat Naura dalam gendongan bridal style. Perempuan itu menggeliat kecil, tetapi tetap terlelap. Dengan hati-hati, Dirga membawanya ke tempat tidur dan membaringkannya di samping Lila.Saat diperhatikan, gaya tidur ibu dan anak itu terlihat begitu mirip. Dirga tersenyum kecil, merasa ada kehangatan yang menjalar dalam dirinya. Tanpa sadar, ia mengeluarkan ponselnya dan memotret mereka berdua.Dirga menatap layar ponselnya, melihat hasil foto yang b
Selama di perjalanan, Dirga bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal di benak ibunya. Sari Dewi terus saja melirik ke arahnya, sesekali seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi menahannya. Rasa penasaran mulai mengusik pikirannya."Ma, kenapa terus menatap Dirga? Ada yang mau Mama tanyakan?" akhirnya Dirga bertanya, mencoba memecah keheningan.Sari Dewi terdiam sejenak, ragu apakah ia harus mengungkapkan pertanyaannya. Namun, dorongan hatinya terlalu kuat untuk diabaikan. Dengan nada setengah bercanda, ia bertanya, "Mas, kamu nggak punya anak di luar sana, kan?"Dirga yang baru saja akan menginjak pedal gas mendadak menghentikan mobilnya dengan kasar. Jantungnya berdegup kencang, tangan yang masih memegang kemudi terasa sedikit berkeringat. Napasnya tercekat, dan pikirannya langsung berkelana ke berbagai kemungkinan."Apa Mama tahu? Dari mana Mama bisa berpikir seperti itu? Apa mungkin Bima yang memberitahu?" pikirnya panik.Sari Dewi memperhatikan reaksi putranya dengan seksama. Me
Suasana di meja terasa canggung. Naura dan Bima duduk berhadapan, masing-masing berusaha mengatur napas mereka yang tiba-tiba terasa berat. Tidak ada kata-kata yang keluar, hanya tatapan yang sesekali saling bertemu sebelum buru-buru dialihkan.Namun, di tengah ketegangan itu, satu suara kecil terus mengisi keheningan."Mommy! Bulgelnya enak banget!" seru Lila riang, menggoyangkan kakinya dengan semangat. "Uncle, you should tly it too!"Bima, yang sedari tadi diam, tersenyum kecil melihat antusiasme bocah itu. "Oh ya? Seenak itu?" tanyanya lembut.Lila mengangguk cepat, pipinya menggelembung karena penuh makanan. "Yes! This is my favolite!" Ia lalu menyodorkan sepotong burgernya ke arah Bima. "Tly it, Uncle!"Naura merasa jantungnya berdetak semakin cepat. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin Lila mengenal Bima? Dan yang lebih mengejutkan, kenapa Bima juga tampak seolah sudah pernah bertemu dengan putrinya?"Lila sayang, kapan kamu bertemu Uncle Bima?" tanya Naura dengan suara setenang m
Hari pertama masa orientasi mahasiswa. Suasana kampus ramai, penuh wajah-wajah baru yang tampak canggung, gugup, dan bersemangat. Di tengah hiruk-pikuk itu, Bima menggenggam tangan Naura erat, seolah dunia di sekitar mereka tidak ada artinya.“Kita beneran kuliah bareng sekarang,” gumam Bima sambil tersenyum, menatap wajah gadis di sebelahnya dengan sorot mata hangat. “Aku masih nggak percaya kita bisa masuk universitas ini bareng.”Naura terkekeh pelan, mengangguk kecil. “Iya, kayak mimpi. Tapi ternyata nyata,” jawabnya, matanya bersinar cerah. “Janji SMA kita kesampaian, ya.”Mereka berhenti di depan gedung utama tempat registrasi berlangsung. Naura memandangi bangunan tinggi itu dengan kagum, lalu menoleh ke arah Bima yang masih menatapnya. “Jangan ninggalin aku pas Ospek nanti,” ujarnya setengah bercanda, setengah sungguh-sungguh.Bima mencubit ujung hidungnya pelan. “Mana bisa. Kamu nempel kayak perangko, Naur. Lagian, kalau bukan sama kamu, aku maunya sama siapa lagi?”Naura ter
Naura menyesap anggur merah itu lagi, dan kali ini rasa terbakar yang tadi menyengat tenggorokannya mulai memudar. Lidahnya mulai terbiasa, bahkan bisa menangkap sedikit rasa manis di balik pahitnya alkohol. Mungkin Dirga benar, pikirnya. Rasanya memang… aneh, tapi pelan-pelan ada sesuatu yang membuat pikirannya mengambang, lepas dari kenyataan yang terlalu berat untuk dipikul. Gelasnya hampir kosong. Ia meneguk lagi, dan lagi, hingga setengah botol berlalu tanpa benar-benar terasa. Tiba-tiba, isakan kecil lolos dari bibirnya. Bahunya mulai berguncang, dan air mata mengalir begitu saja dari sudut matanya yang mulai sembab. Dirga menoleh pelan, memasang ekspresi penuh perhatian. “Kamu kenapa nangis, Naura?” suaranya tenang, dalam, dan terdengar seolah tulus—meski ujung bibirnya membentuk smirk tipis, nyaris tak terlihat di bawah temaram lampu bar. Naura mencoba bicara, tapi suaranya tercekat. “Mas… adik kamu… dia selingkuh dari aku… hiks…” Suara tangisnya pecah, menggema samar d
Masa KiniMobil berhenti perlahan di depan rumah kecil dengan pagar putih yang tampak akrab. Naura menoleh ke samping—Lila tertidur pulas, kepala miring ke bahunya, napasnya teratur. Ada bekas sisa remahan burger di ujung bibir mungil itu, dan Naura sempat tersenyum lirih, rasa lelah di hatinya sedikit teredam oleh wajah damai anak itu.Dengan hati-hati, Naura membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu. Angin malam menyapu wajahnya lembut, dan sesekali ia menengok ke kiri dan kanan, memastikan tak ada yang mencurigakan. Tapi justru karena terlalu fokus pada Lila, ia tidak menyadari mobil hitam yang terparkir di seberang jalan—mobil yang sangat dikenalnya.Naura membuka pintu belakang, lalu dengan lembut mengangkat tubuh kecil Lila ke dalam gendongan. Beratnya tak seberapa, tapi entah kenapa langkah Naura terasa jauh lebih berat dari sebelumnya. Dan ketika ia hendak menaiki anak tangga menuju pintu rumah…“Naura.”Suara itu membuat jantungnya mencelos.Ah, sial.Ia mendongak, dan di san
Sesampainya di kebun binatang, Lila langsung melompat kegirangan. Matanya berbinar melihat berbagai spanduk dan patung hewan yang menyambut pengunjung di pintu masuk. Ia menggenggam tangan Dirga dan Naura erat, menarik mereka berdua dengan penuh semangat."Daddy, Mommy, ayo cepat! Aku mau lihat jilaft dulu!" serunya dengan penuh antusias.Dirga dan Naura hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah putri kecil mereka. Mereka pun berjalan mengikuti Lila yang setengah berlari menuju kandang jerapah. Begitu sampai, Lila langsung menempel di pagar pembatas, menatap kagum ke arah jerapah yang tengah mengunyah dedaunan."Daddy, Daddy! Itu jilaft, kan?" tanyanya dengan penuh semangat, sembari mengangkat kamera kecilnya untuk mengambil foto.Dirga mengangguk. "Iya, sayang. Itu jerapah. Jerapah punya leher panjang supaya bisa mengambil daun di pohon yang tinggi."Lila manggut-manggut sambil mengarahkan kameranya. "Aku halus foto!" katanya, lalu mengabadikan momen itu dengan lensa kecilnya. Setelah
Setelah sarapan bersama yang disiapkan oleh Dirga, suasana mulai mencair. Meski masih ada ketegangan di antara mereka, setidaknya mereka bisa menikmati momen kecil sebagai keluarga. Dirga dengan sigap membantu Lila memakai sepatu, sementara Naura merapikan tas kecil putrinya."Kita siap berangkat?" tanya Dirga sambil tersenyum."Siap!" seru Lila dengan semangat.Mereka bertiga pun berangkat ke sekolah Lila. Selama di perjalanan, Lila bercerita dengan antusias tentang tugas sekolahnya. "Mommy, Daddy, di sekolah aku ada tugas! Aku halus foto sama binatang!" katanya dengan mata berbinar.Dirga melirik Naura sekilas sebelum menatap putri kecilnya dengan penuh kasih. "Bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang?" usulnya santai.Lila langsung menoleh dengan wajah penuh kegembiraan. "Leally, Daddy?" tanyanya dengan mata berbinar.Dirga terkekeh dan mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Of course, honey. Kita bisa pergi setelah sekolah. Gimana, Mommy?" Kini tatapannya tertuju pada Naura,
Setelah Bima pergi, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu. Naura duduk memeluk dirinya sendiri, menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan bayangan dirinya—wajah yang dulu penuh harapan, kini hanya menyisakan lelah dan luka.Hatinya terasa kosong. Semua yang ia pendam selama bertahun-tahun akhirnya terucap, namun mengapa rasanya masih seberat ini? Apakah karena kenyataan tak pernah benar-benar bisa menghapus masa lalu? Ataukah karena bayang-bayang itu akan selalu mengikutinya, kemanapun ia pergi?Naura menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh dalam dadanya. Lila sedang tidur di kamar, tidak tahu apa yang baru saja terjadi antara ibunya dan pria yang dulu ia cintai. Dan kini, Naura harus memikirkan langkah selanjutnya.Pikirannya melayang ke London—tempat yang dulu memberinya pelarian, tempat di mana ia sempat merasakan kebebasan, jauh dari bayang-bayang Bima, Dirga, dan semua kenangan pahit yang menyesakkan. Ia bisa kembali ke sana, memulai dari awal sekali lagi. Lond
Setelah semua tenang—setelah isak Naura perlahan mereda dan Bima duduk terpaku di lantai, masih dengan dada yang sesak dan wajah tertunduk dalam diam—Naura akhirnya mengambil napas panjang. Ia berdiri perlahan, menarik piyamanya yang terbuka, lalu mengancingkannya satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tak ada kemarahan di wajahnya, hanya kelelahan dan luka yang baru saja bertambah satu.Dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan, Naura berkata, “Kita ke ruang tamu, ya.”Bima hanya mengangguk, tak mampu menatap mata Naura. Ia mengikuti langkah perempuan itu, duduk di ujung sofa yang sempit, sementara Naura duduk tak jauh darinya, menyisakan jarak di antara mereka—jarak yang terasa lebih lebar dari sekadar satu dudukan kursi.Beberapa detik hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Lalu Naura bicara, pelan dan hati-hati.“Ada yang mau kamu bicarakan, Bim?” tanyanya pelan, tanpa menoleh.Bima terdiam sejenak. Hatinya masih berdegup kencang, bukan karena amarah, tapi kar
Saat ini, di kediaman keluarga Wiratama, suasana jauh dari kata tenang. Raden Wijaya Kusuma Wiratama, sang kepala keluarga, berdiri di tengah ruang tamu dengan napas berat dan rahang mengeras. Sorot matanya tajam, menyimpan bara yang sudah lama terpendam, kini disulut oleh kenyataan pahit yang baru saja ia dengar—dari mulut anak keduanya, Bima.“Jadi maksudmu, selama ini Dirga menyembunyikan semuanya dari kita?” suaranya berat, tapi tetap berwibawa. “Dan kamu tahu… tapi baru bilang sekarang?”Bima menunduk sedikit, menyadari ketegangan yang ia picu. “Bima gak tahu semua detailnya, Pah. Tapi itu benar… itu anaknya Mas Dirga. Bima udah pastikan sendiri, langsung nanya ke Mas Dirga.”Dalam hati, Bima berharap dengan membuka semuanya seperti ini, Dirga akan menjauh dari Naura. Ia tahu betul watak sang ayah—Raden Wijaya Kusuma Wiratama—lelaki yang menjunjung tinggi martabat dan kehormatan keluarga. Seseorang seperti Ayahnya pasti tidak akan bisa menerima cucu yang lahir dari hubungan di lu
Sari Dewi masih berdiri mematung di tengah ruang tamu, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar yang kini tertutup rapat. Hening sesaat, lalu napas panjang meluncur pelan dari hidungnya. Ia menoleh ke arah Lila, yang kini duduk dengan kaki bersila di karpet, masih memegang stiker-stiker bintang di tangannya, dan memandang ke arah "Oma Dewi"-nya dengan sorot mata penasaran.Langkah Sari Dewi terasa ragu sesaat, tapi kemudian ia berjalan perlahan, menghampiri Lila dengan wajah yang berusaha dilembutkan. Dalam dirinya, badai emosi sedang bergejolak—terharu, terkejut, dan entah kenapa... terasa hangat.Ia berlutut pelan di depan Lila. Menatap wajah mungil itu—pipi bundar dengan glitter pink samar, mata berbinar seperti Dirga di usia lima tahun, dan senyum kecil yang sama persis seperti senyum yang dulu ia bayangkan akan dimiliki anak perempuannya. Tapi anak perempuan itu tak pernah datang. Tidak pernah lahir. Harapan itu kandas bertahun-tahun lalu, saat dokter memvonis bahwa rahimnya ta
Dirga duduk di kursi kebesarannya—sebuah kursi kulit hitam yang megah, berdiri di tengah ruang kerja berpanel kayu dengan pencahayaan remang-remang yang terkesan hangat namun berwibawa. Di hadapannya, layar-layar monitor menyala, menampilkan data penjualan, laporan mingguan, dan strategi ekspansi terbaru. Namun pikirannya tak sepenuhnya di sana. Sesekali, ia menatap kosong ke arah layar, dan bayangan wajah Naura kembali menyelinap.Tiba-tiba, suara pintu kayu yang terbuka cepat membuyarkan lamunannya.Dirga mendongak.Di ambang pintu, berdiri seorang perempuan anggun dengan raut wajah yang jarang terlihat: marah. Sari Dewi Wiratama—ibunya. Wanita yang selama ini dikenal tenang, berkelas, dan sangat terukur dalam bersikap, kini berdiri dengan rahang mengeras dan mata yang menyala tajam. Di tangannya tergenggam segepok foto. Tanpa sepatah kata, ia berjalan mendekat dan melemparkan foto-foto itu ke atas meja Dirga.Beberapa foto meluncur turun dari meja, tapi cukup banyak yang bertahan d
Di dalam mobil, suasana seolah terbagi menjadi dua dunia yang sangat berbeda.Di kursi belakang, Lila duduk dengan gembira, tubuhnya masih setengah tenggelam di antara tas-tas dan boneka yang ia bawa. Mulutnya tak berhenti bernyanyi—kadang lagu TK ceria yang salah nada, kadang lagu iklan yang entah bagaimana nyangkut di kepalanya. Tangannya bergerak mengikuti irama, dan setiap beberapa detik ia akan menyebut nama hewan atau bentuk awan yang ia lihat dari jendela.“♬ Beal kecil beal kecil, jalan-jalan di sawah… ketemu cacing, beal ketakutan… ♬”Tapi di kursi depan, udara terasa dingin meski sinar matahari menembus kaca mobil dengan hangatnya.Naura duduk kaku di kursi penumpang, menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam erat, seolah menahan sesuatu agar tidak tumpah—entah itu kemarahan, atau luka lama yang belum benar-benar kering.Dirga yang menyetir di sebelahnya sesekali mencuri pandang. Tapi setiap kali ia berniat membuka mulut, sesuatu
Dirga mengusap wajahnya kasar, napasnya berat. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, lalu terdengar gumamannya lirih, hampir tak terdengar.“Sial…”Ia mendongak, menatap Naura dengan mata yang mulai memerah.“Berarti… waktu itu kamu benar-benar dengar semuanya, ya?”Naura tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di dekat meja, tangan terkepal di sisi tubuhnya. Matanya masih menyala marah, tapi ada air yang mulai menggenang di sudutnya.Dirga menarik napas panjang, seolah mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menghadapi kenyataan pahit yang baru saja menyeruak.“Naura…” suaranya berat, dalam, “…mas tahu mas salah. Mas tahu… semua yang mas lakukan ke kamu… udah bikin kamu rusak.”Ia menatap Naura lurus, tak lagi mencoba menyembunyikan lukanya.“Tapi mas nggak bisa bilang… mas menyesal sepenuhnya. Karena… dari semua kehancuran itu, hadir Lila. Mas… mas nggak bisa nyesel atas kehadiran dia. Dia segalanya.”Naura mendengus sinis, suara tawanya kering, nyaris seperti retakan kaca.“Kamu…