
Ibu dari Anak Kakaknya Mantan
Naura Devi Lark telah menjalin hubungan yang penuh cinta dengan Bima Satya Wiratama sejak masa sekolah menengah. Perjalanan mereka penuh suka dan duka, hingga mereka melanjutkan kisah cinta itu ke bangku kuliah. Naura percaya bahwa cinta mereka akan bertahan selamanya, hingga suatu malam segalanya runtuh. Ia memergoki Bima, sosok yang selama ini ia cintai, tengah bercumbu mesra dengan perempuan lain.
Hati Naura hancur berkeping-keping. Didorong oleh rasa sakit hati dan keinginan untuk membalas dendam, Naura mulai mendekati Arjuna Dirga Wiratama, kakak Bima yang dewasa, mapan, dan penuh wibawa. Dirga, seorang pria dengan karisma yang memikat, tidak menyangka bahwa permainan Naura akan mengubah hidupnya. Dalam kehangatan malam yang penuh gairah, mereka melampaui batas yang tak terduga.
Naura menyimpan rahasia besar dari peristiwa itu. Ia menyadari bahwa ia hamil dan memutuskan untuk menjalani hidupnya sendiri, jauh dari bayang-bayang keluarga Wiratama. Dari rahasia itu lahirlah seorang anak perempuan bernama Lila Amora Lark—gadis kecil yang tumbuh menjadi sosok yang manis, lucu, dan menggemaskan.
Namun, takdir memiliki caranya sendiri. Bertahun-tahun kemudian, Dirga dan Naura kembali dipertemukan. Rahasia yang selama ini tersembunyi di balik senyum Lila perlahan mulai terkuak. Bagaimana Dirga akan menerima kenyataan bahwa ia adalah ayah Lila? Akankah hubungan Naura dan Bima dapat diperbaiki, atau justru Dirga menjadi sosok yang tak tergantikan dalam hidup Naura?
Baca
Chapter: Chapter 34Sesampainya di kebun binatang, Lila langsung melompat kegirangan. Matanya berbinar melihat berbagai spanduk dan patung hewan yang menyambut pengunjung di pintu masuk. Ia menggenggam tangan Dirga dan Naura erat, menarik mereka berdua dengan penuh semangat."Daddy, Mommy, ayo cepat! Aku mau lihat jilaft dulu!" serunya dengan penuh antusias.Dirga dan Naura hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah putri kecil mereka. Mereka pun berjalan mengikuti Lila yang setengah berlari menuju kandang jerapah. Begitu sampai, Lila langsung menempel di pagar pembatas, menatap kagum ke arah jerapah yang tengah mengunyah dedaunan."Daddy, Daddy! Itu jilaft, kan?" tanyanya dengan penuh semangat, sembari mengangkat kamera kecilnya untuk mengambil foto.Dirga mengangguk. "Iya, sayang. Itu jerapah. Jerapah punya leher panjang supaya bisa mengambil daun di pohon yang tinggi."Lila manggut-manggut sambil mengarahkan kameranya. "Aku halus foto!" katanya, lalu mengabadikan momen itu dengan lensa kecilnya. Setelah
Terakhir Diperbarui: 2025-04-03
Chapter: Chapter 33Setelah sarapan bersama yang disiapkan oleh Dirga, suasana mulai mencair. Meski masih ada ketegangan di antara mereka, setidaknya mereka bisa menikmati momen kecil sebagai keluarga. Dirga dengan sigap membantu Lila memakai sepatu, sementara Naura merapikan tas kecil putrinya."Kita siap berangkat?" tanya Dirga sambil tersenyum."Siap!" seru Lila dengan semangat.Mereka bertiga pun berangkat ke sekolah Lila. Selama di perjalanan, Lila bercerita dengan antusias tentang tugas sekolahnya. "Mommy, Daddy, di sekolah aku ada tugas! Aku halus foto sama binatang!" katanya dengan mata berbinar.Dirga melirik Naura sekilas sebelum menatap putri kecilnya dengan penuh kasih. "Bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang?" usulnya santai.Lila langsung menoleh dengan wajah penuh kegembiraan. "Leally, Daddy?" tanyanya dengan mata berbinar.Dirga terkekeh dan mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Of course, honey. Kita bisa pergi setelah sekolah. Gimana, Mommy?" Kini tatapannya tertuju pada Naura,
Terakhir Diperbarui: 2025-04-02
Chapter: Chapter 32Setelah Bima pergi, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu. Naura duduk memeluk dirinya sendiri, menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan bayangan dirinya—wajah yang dulu penuh harapan, kini hanya menyisakan lelah dan luka.Hatinya terasa kosong. Semua yang ia pendam selama bertahun-tahun akhirnya terucap, namun mengapa rasanya masih seberat ini? Apakah karena kenyataan tak pernah benar-benar bisa menghapus masa lalu? Ataukah karena bayang-bayang itu akan selalu mengikutinya, kemanapun ia pergi?Naura menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh dalam dadanya. Lila sedang tidur di kamar, tidak tahu apa yang baru saja terjadi antara ibunya dan pria yang dulu ia cintai. Dan kini, Naura harus memikirkan langkah selanjutnya.Pikirannya melayang ke London—tempat yang dulu memberinya pelarian, tempat di mana ia sempat merasakan kebebasan, jauh dari bayang-bayang Bima, Dirga, dan semua kenangan pahit yang menyesakkan. Ia bisa kembali ke sana, memulai dari awal sekali lagi. Lond
Terakhir Diperbarui: 2025-04-01
Chapter: Chapter 31Setelah semua tenang—setelah isak Naura perlahan mereda dan Bima duduk terpaku di lantai, masih dengan dada yang sesak dan wajah tertunduk dalam diam—Naura akhirnya mengambil napas panjang. Ia berdiri perlahan, menarik piyamanya yang terbuka, lalu mengancingkannya satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tak ada kemarahan di wajahnya, hanya kelelahan dan luka yang baru saja bertambah satu.Dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan, Naura berkata, “Kita ke ruang tamu, ya.”Bima hanya mengangguk, tak mampu menatap mata Naura. Ia mengikuti langkah perempuan itu, duduk di ujung sofa yang sempit, sementara Naura duduk tak jauh darinya, menyisakan jarak di antara mereka—jarak yang terasa lebih lebar dari sekadar satu dudukan kursi.Beberapa detik hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Lalu Naura bicara, pelan dan hati-hati.“Ada yang mau kamu bicarakan, Bim?” tanyanya pelan, tanpa menoleh.Bima terdiam sejenak. Hatinya masih berdegup kencang, bukan karena amarah, tapi kar
Terakhir Diperbarui: 2025-03-31
Chapter: Chapter 30Saat ini, di kediaman keluarga Wiratama, suasana jauh dari kata tenang. Raden Wijaya Kusuma Wiratama, sang kepala keluarga, berdiri di tengah ruang tamu dengan napas berat dan rahang mengeras. Sorot matanya tajam, menyimpan bara yang sudah lama terpendam, kini disulut oleh kenyataan pahit yang baru saja ia dengar—dari mulut anak keduanya, Bima.“Jadi maksudmu, selama ini Dirga menyembunyikan semuanya dari kita?” suaranya berat, tapi tetap berwibawa. “Dan kamu tahu… tapi baru bilang sekarang?”Bima menunduk sedikit, menyadari ketegangan yang ia picu. “Bima gak tahu semua detailnya, Pah. Tapi itu benar… itu anaknya Mas Dirga. Bima udah pastikan sendiri, langsung nanya ke Mas Dirga.”Dalam hati, Bima berharap dengan membuka semuanya seperti ini, Dirga akan menjauh dari Naura. Ia tahu betul watak sang ayah—Raden Wijaya Kusuma Wiratama—lelaki yang menjunjung tinggi martabat dan kehormatan keluarga. Seseorang seperti Ayahnya pasti tidak akan bisa menerima cucu yang lahir dari hubungan di lu
Terakhir Diperbarui: 2025-03-29
Chapter: Chapter 29Sari Dewi masih berdiri mematung di tengah ruang tamu, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar yang kini tertutup rapat. Hening sesaat, lalu napas panjang meluncur pelan dari hidungnya. Ia menoleh ke arah Lila, yang kini duduk dengan kaki bersila di karpet, masih memegang stiker-stiker bintang di tangannya, dan memandang ke arah "Oma Dewi"-nya dengan sorot mata penasaran.Langkah Sari Dewi terasa ragu sesaat, tapi kemudian ia berjalan perlahan, menghampiri Lila dengan wajah yang berusaha dilembutkan. Dalam dirinya, badai emosi sedang bergejolak—terharu, terkejut, dan entah kenapa... terasa hangat.Ia berlutut pelan di depan Lila. Menatap wajah mungil itu—pipi bundar dengan glitter pink samar, mata berbinar seperti Dirga di usia lima tahun, dan senyum kecil yang sama persis seperti senyum yang dulu ia bayangkan akan dimiliki anak perempuannya. Tapi anak perempuan itu tak pernah datang. Tidak pernah lahir. Harapan itu kandas bertahun-tahun lalu, saat dokter memvonis bahwa rahimnya ta
Terakhir Diperbarui: 2025-03-28