Share

Chapter 3

Author: Your Grace
last update Huling Na-update: 2025-01-21 12:22:09

Malam itu, di tengah keheningan yang menggantung di udara, Naura terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Ada sesuatu yang mengusik tidurnya, sebuah suara lirih yang terdengar begitu dekat. Ia menoleh dengan cepat dan menemukan Lila meringkuk di sampingnya, tubuh kecilnya gemetar dengan keringat yang membasahi dahinya.

"Lila..." bisiknya penuh khawatir. Ia meletakkan telapak tangannya di dahi putrinya dan merasakan panas yang tidak biasa. Secepat kilat, Naura bangkit dari tempat tidur dan mengambil kain bersih, merendamnya dalam air dingin sebelum dengan lembut mengompres dahi anaknya.

Lila merintih pelan, napasnya terdengar sedikit berat. Melihat kondisi putrinya seperti ini membuat hati Naura mencengkeram kuat rasa takut, tetapi ia tahu harus tetap tenang. Selama bertahun-tahun di London, ia sudah terbiasa menghadapi situasi seperti ini sendirian. Dengan penuh kesabaran, ia terus mengompres dan memastikan Lila tetap nyaman.

"Mommy..." Lila berbisik dengan suara lemah, matanya hanya setengah terbuka.

"I’m here, sweetheart. Mommy’s here," Naura berbisik, menenangkan putrinya dengan usapan lembut di rambutnya. Ia menghela napas dalam, berusaha mengabaikan ketakutan yang mulai merayap di dadanya.

Waktu berjalan lambat, dan Naura tidak beranjak sedikit pun dari sisi Lila. Matahari masih jauh dari terbit, namun ia tetap terjaga, mengawasi setiap gerakan kecil anaknya. Sesekali, ia mengganti kompres dengan kain yang baru, memastikan panas tubuh Lila sedikit mereda.

Saat jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi, Naura menyandarkan kepalanya di sisi tempat tidur, matanya berat namun pikirannya tetap waspada. Ia tahu besok akan menjadi hari yang panjang. Selain harus memastikan Lila segera membaik, ia juga harus berpikir tentang sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih besar dan lebih menakutkan.

Dirga.

Ia menggigit bibirnya sendiri, mencoba menahan rasa cemas yang menghantui. Dirga bukan orang yang mudah menyerah. Ia tahu, lelaki itu pasti sedang merencanakan sesuatu. Dan itu membuatnya takut.

Namun, sebelum segalanya menjadi lebih rumit, Naura tahu ada satu hal yang harus ia prioritaskan.

Lila.

Ia menatap putrinya yang masih terlelap dalam tidurnya yang gelisah. Tak peduli seberapa besar badai yang akan datang, ia tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk Dirga—mengambil Lila darinya.

***

Mentari pagi menyapa, dan bocah kecil itu sudah menyapa sang mommy dengan ceria, seolah tadi malam tidak merintih kesakitan. Putri kecil itu menciumi wajah mommynya dengan penuh kasih sayang.

"Good molning, Mommy!" seru Lila dengan senyum lebar, matanya berbinar-binar.

Naura mengerjapkan mata, terkejut sekaligus lega melihat putrinya kembali ceria. Ia tersenyum dan memeluk Lila erat.

"Good morning, sweetheart. Kamu sudah merasa lebih baik?" tanyanya lembut.

Lila mengangguk penuh semangat. "I feel good! Mommy jangan khawatil lagi, ya!"

Naura mengusap rambut putrinya, rasa syukur mengalir di hatinya. Walaupun semalam ia tidak tidur, melihat Lila sehat kembali adalah hadiah terbaik yang bisa ia terima pagi ini.

Setelah berpelukan sejenak, Naura mengajak Lila untuk sarapan. Ia berencana membuatkan putrinya waffle kesukaannya. Namun, begitu sampai di dapur, ia terdiam sejenak dan menghela napas panjang.

"Aduh, Mommy lupa belum belanja. Kita baru pindah kemarin," gumamnya sambil mengacak rambut sendiri.

Lila menatapnya dengan mata bulat penuh harap. "Mommy, kalau gitu kita cali makanan aja? Aku mau makan bubul! Mommy kan pernah celita tentang bubul enak di Indonesia. Aku pengen coba!"

Naura tersenyum mendengar permintaan putrinya. Sejak di London, ia memang sering bercerita tentang makanan-makanan khas Indonesia, dan rupanya Lila sangat tertarik mencobanya.

"Baiklah, kita cari bubur yang enak untuk sarapan, ya!" kata Naura sambil menggandeng tangan Lila.

Mereka pun bersiap keluar rumah untuk mencari bubur hangat yang diidamkan Lila, menikmati pagi pertama mereka di Indonesia dengan langkah penuh semangat.

Naura dan Lila melangkah keluar rumah dengan semangat pagi yang cerah. Udara segar khas pagi hari menyambut mereka, dan Lila menggenggam tangan ibunya erat, matanya berbinar penuh antusiasme.

"Mommy, kita cali tukang bubul yang pakai gelobak, ya! Kayak yang Mommy celitain waktu di London!" kata Lila dengan suara riang.

Naura tersenyum. Ia senang melihat putrinya begitu bersemangat mencicipi makanan khas Indonesia. Sambil berjalan perlahan, matanya mencari-cari pedagang bubur yang biasa berjualan di pagi hari.

Tak butuh waktu lama, mereka menemukan seorang tukang bubur dengan gerobak sederhana di pinggir jalan. Seorang pria paruh baya dengan senyum ramah tengah sibuk melayani pembeli. Bau harum bubur yang mengepul langsung menggoda perut yang kosong.

"Nah, ini dia, Lila! Yuk, kita makan di sini," ajak Naura sambil mengarahkan putrinya duduk di bangku kecil di samping gerobak.

Lila duduk dengan penuh semangat, menatap mangkuk bubur yang baru saja disajikan di hadapannya. Bubur hangat dengan taburan ayam suwir, cakwe, dan daun seledri terlihat sangat menggoda. Naura membantu meniup bubur agar tidak terlalu panas sebelum menyuapkan sendok pertama ke mulut Lila.

Begitu bubur masuk ke dalam mulutnya, mata Lila membesar, lalu ia mengunyah dengan ekspresi bahagia. "Mommy, ini enak sekali! Lila suka bubul Indonesia!"

Naura tertawa kecil melihat reaksi putrinya. "Kan Mommy sudah bilang, bubur di sini enak sekali."

Lila terus melahap buburnya dengan penuh semangat, sementara Naura menikmati sarapannya dengan lebih tenang. Sesekali, ia melirik sekeliling, merasa sedikit lebih nyaman dengan lingkungan baru mereka. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa ada bayangan masa lalu yang masih mengawasi.

Sementara di seberang jalan ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan seksama di pinggir jalan sambil mengambil gambar dan laporan terhadap bosnya yaitu Tuan Dirga.

***

Di tempat lain, Dirga baru saja terbangun dari tidurnya saat ponselnya bergetar. Dengan mata masih sedikit berat, ia meraih ponsel dan melihat pesan dari orang kepercayaannya, Anthony. Beberapa foto terlampir dalam pesan tersebut.

Dirga membuka foto-foto itu satu per satu. Mata tajamnya langsung tertuju pada sosok wanita dalam gambar tersebut. Naura. Wanita yang dulu pernah menjadi kekasih adiknya. Dan di sebelahnya, seorang gadis kecil yang tampak begitu mirip dengannya.

Entah mengapa, ada perasaan gembira yang muncul di hatinya. Naluri dalam dirinya berkata, gadis kecil itu adalah anaknya. Rasa rindu yang selama ini ia pendam seakan menemukan jawaban. Dengan cepat, ia membalas pesan Anthony.

"Terus awasi mereka. Aku ingin tahu segalanya tentang mereka."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Kaugnay na kabanata

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 4

    Anthony melangkah dengan tenang menuju gerobak bubur tempat Naura dan Lila menikmati sarapan mereka. Dengan sikap santai, ia memesan semangkuk bubur kepada penjual, matanya sesekali melirik ke arah gadis kecil yang tengah lahap menyantap makanannya.Naura tidak terlalu memperhatikan kehadiran pria itu. Baginya, Anthony hanyalah pelanggan lain yang kebetulan datang di saat yang sama. Ia lebih fokus pada Lila, memastikan putrinya menikmati sarapan pertamanya di Indonesia."Enak, kan, sayang?" tanya Naura sambil tersenyum.Lila mengangguk dengan penuh semangat. "Iya, Mommy! Aku like banget!"Anthony yang duduk tak jauh dari mereka memperhatikan interaksi ibu dan anak itu dengan saksama. Waktu yang diberikan Dirga kepadanya tidak banyak. Ia harus segera menyelesaikan tugasnya tanpa menarik perhatian.Saat Naura mengambil dompet dari dalam tasnya untuk membayar, Anthony bergerak cepat. Dengan gerakan yang terlatih, ia menjatuhkan sendoknya ke tanah. "Ah, maaf," gumamnya sambil berjongkok,

    Huling Na-update : 2025-01-21
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 5

    Naura melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan yang kacau. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan yang terus berputar tanpa jawaban. Bagaimana bisa Dirga tahu? Apakah dia sudah mendapatkan bukti? Dan jika iya, apa yang akan dia lakukan selanjutnya?Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Lila masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sedang terjadi. Gadis kecil itu sekarang tengah duduk di sofa, memainkan bonekanya dengan riang, seolah pertemuan di daycare tadi hanyalah kejadian biasa."Sayang, sekarang waktunya tidur siang," ujar Naura lembut, berusaha menyembunyikan kecemasannya.Lila mengerucutkan bibir. "Tapi aku belum ngantuk, Mommy."Naura tersenyum dan mengusap lembut rambut putrinya. "Kalau begitu, kita baca buku sebentar, lalu tidur, ya?"Lila akhirnya mengangguk setuju. Naura mengambil salah satu buku dongeng favorit putrinya dan mulai membacakan cerita. Tak butuh waktu lama sebelum kelopak mata Lila mulai tertutup perlahan

    Huling Na-update : 2025-01-21
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 6

    Lima tahun lalu.Naura menatap dua garis merah di test pack yang masih digenggamnya erat. Tangannya bergetar, matanya panas, dan jantungnya berdetak kencang. Ini tidak seharusnya terjadi. Ini seharusnya tidak pernah terjadi. Tapi kenyataannya, ia hamil. Dan ia sangat tahu siapa yang harus bertanggung jawab.Arjuna Dirga Wiratama.Kakak dari pria yang selama ini ia cintai, atau lebih tepatnya, mantan kekasihnya.Naura menggigit bibirnya, berusaha menguatkan diri. Dirga harus tahu. Seburuk apa pun situasinya, sekelam apa pun masa lalu mereka, ia tidak bisa menyembunyikan ini. Lila—bayi yang sekarang ada di dalam perutnya—berhak memiliki ayah.Dengan tekad yang bulat, ia mengambil tasnya dan pergi menuju kantor pusat Wiratama Hospitality Group. Naura tahu bahwa Dirga adalah pewaris utama, CEO yang memegang kendali penuh atas perusahaan itu. Meski baru sebulan tak bertemu, ia yakin Dirga masih seperti yang dulu—penuh percaya diri, berkuasa, dan nyaris tak tersentuh.Sesampainya di depan ge

    Huling Na-update : 2025-03-03
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 7

    Masa Kini.Naura berdiri di ambang pintu, dadanya naik turun, menahan emosi yang membuncah dalam dirinya. Tangannya masih gemetar setelah membanting pintu beberapa detik yang lalu. Dari celah jendela, ia bisa melihat punggung tegap Dirga yang berjalan menjauh dari rumahnya. Pria itu tidak berbalik, tidak mencoba mengetuk kembali, hanya melangkah pergi dengan bahunya yang tetap kokoh.Seharusnya ini menjadi momen kemenangan bagi Naura. Ia telah mengusir pria yang bertahun-tahun lalu menghancurkan hidupnya, pria yang dulu membuatnya hampir kehilangan segalanya. Tapi, mengapa justru ada perasaan kosong yang menyusup ke dalam hatinya? Kini, Dirga datang kepadanya, menuntut sesuatu yang tidak bisa ia berikan.“Lila adalah anakku, Naura.” Kata-kata itu masih terngiang di kepalanya.Naura menghela napas panjang. Tangan kanannya terangkat, menekan dadanya yang terasa sesak. Ia tahu ini bukan akhir. Ini baru permulaan dari badai yang lebih besar.Dari kamar, terdengar suara kecil yang familiar

    Huling Na-update : 2025-03-05
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 8

    Keesokan paginya, Naura menyiapkan segala keperluan Lila sebelum berangkat ke butik tempatnya bekerja. Sejak kejadian kemarin, ia tidak bisa berhenti memikirkan Dirga. Pria itu mungkin sudah pergi dari rumahnya, tapi Naura tahu bahwa ini belum selesai. Ia takut jika Dirga akan kembali ke daycare dan mencari kesempatan untuk mendekati Lila lagi. Tidak, Naura tidak bisa membiarkan itu terjadi.Itulah sebabnya hari ini, ia memutuskan untuk membawa Lila bersamanya ke butik. Saat wawancara kemarin, Bu Dian sudah mengatakan bahwa karena ia adalah seorang single mother, butik tempatnya bekerja memperbolehkannya membawa anak. Kebijakan ini tentu sangat membantu, dan Naura merasa beruntung bisa bekerja di tempat yang memahami kondisinya.Lila duduk manis di kursi kecil di ruang belakang butik, tempat yang memang sudah disiapkan oleh Raffa yang sudah mengenal bu Dian. Temannya itu memang luar biasa. Meskipun kini masih di London untuk menyelesaikan urusan bisnisnya, Raffa tetap memastikan agar

    Huling Na-update : 2025-03-07
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 9

    Kedatangan Arjuna Dirga Wiratama ke kantor pagi itu langsung menghebohkan seisi gedung Wiratama Hospitality Group. Bukan karena jadwal rapat mendadak atau keputusan bisnis besar, melainkan karena pria itu datang dengan menggendong seorang anak kecil yang cantik dan menggemaskan.Para karyawan yang biasanya menjaga profesionalisme mereka, kali ini tak bisa menutupi keterkejutan. Bisik-bisik segera menyebar di antara mereka. Mata-mata penasaran melirik ke arah Dirga, beberapa bahkan nyaris mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar, tetapi segera mengurungkan niat begitu melihat tatapan tajam bos besar mereka."Siapa anak itu?""Bukannya Pak Dirga belum menikah? Kok bisa-bisanya bawa anak kecil ke kantor?""Ya ampun, lihat tuh! Lucu banget, mirip banget sama Pak Dirga!"Bisikan demi bisikan semakin menjadi-jadi, tetapi tak satu pun yang berani menanyakan langsung pada pria itu. Dirga sendiri tampaknya tak terganggu dengan kehebohan yang ia timbulkan. Ia berjalan santai menuju ruangannya

    Huling Na-update : 2025-03-08
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 10

    Terdengar suara tangisan yang begitu nyaring dari arah kamar Dirga. Dirga langsung beranjak dari kursinya, meninggalkan Bima yang masih syok dengan pengakuan kakaknya. Ia berjalan cepat menuju kamar, dan begitu pintu terbuka, ia menemukan Lila duduk di atas ranjang, menangis tersedu-sedu sambil memeluk boneka unicornnya erat-erat."Mommmyyy..." isaknya lirih, bahunya berguncang karena tangis.Dirga merasakan dadanya mencelos. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, lalu dengan hati-hati mengusap kepala putrinya. "Lila, sayang... Papa di sini."Namun, gadis kecil itu masih terisak dan menggelengkan kepala. "Lila mau Mommy... mau pulang..." suaranya bergetar, matanya yang basah menatap Dirga dengan penuh harap.Bima yang baru tiba di ambang pintu hanya bisa terdiam, menatap adegan itu dengan ekspresi campur aduk. Ia tak pernah melihat kakaknya dalam situasi seperti ini—gugup, kebingungan, dan tidak tahu harus berbuat apa. Ini jelas bukan Dirga yang ia kenal, pria dingin yang sel

    Huling Na-update : 2025-03-09
  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 11

    Sementara itu, di rumahnya, Naura duduk di sofa dengan tatapan kosong. Ia baru saja pulang kerja, tubuhnya lelah, tetapi pikirannya jauh lebih letih. Sejak pagi, ia tidak bisa berhenti memikirkan Lila—putrinya yang seharian ini berada di kantor Dirga dan sampai sekarang belum juga dikembalikan. Tangannya secara refleks meraih ponselnya, namun ia ragu. Ia ingin menelepon Dirga, menanyakan bagaimana keadaan Lila, tetapi di sisi lain, ia takut. Takut Dirga benar-benar akan mengambil Lila darinya. Selama empat tahun ini, Naura telah menjadi satu-satunya dunia bagi putrinya. Lila belum pernah berpisah dengannya lebih dari beberapa jam, apalagi seharian penuh seperti ini. Naura menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya. "Mungkin Dirga cuma ingin menghabiskan waktu dengan Lila," gumamnya pelan, berusaha mencari alasan agar hatinya tidak semakin sesak. Namun, ia tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya tersenyum miris. Ia bahkan tidak memiliki nomor Dirga. Betapa lucunya, pri

    Huling Na-update : 2025-03-10

Pinakabagong kabanata

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 34

    Sesampainya di kebun binatang, Lila langsung melompat kegirangan. Matanya berbinar melihat berbagai spanduk dan patung hewan yang menyambut pengunjung di pintu masuk. Ia menggenggam tangan Dirga dan Naura erat, menarik mereka berdua dengan penuh semangat."Daddy, Mommy, ayo cepat! Aku mau lihat jilaft dulu!" serunya dengan penuh antusias.Dirga dan Naura hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah putri kecil mereka. Mereka pun berjalan mengikuti Lila yang setengah berlari menuju kandang jerapah. Begitu sampai, Lila langsung menempel di pagar pembatas, menatap kagum ke arah jerapah yang tengah mengunyah dedaunan."Daddy, Daddy! Itu jilaft, kan?" tanyanya dengan penuh semangat, sembari mengangkat kamera kecilnya untuk mengambil foto.Dirga mengangguk. "Iya, sayang. Itu jerapah. Jerapah punya leher panjang supaya bisa mengambil daun di pohon yang tinggi."Lila manggut-manggut sambil mengarahkan kameranya. "Aku halus foto!" katanya, lalu mengabadikan momen itu dengan lensa kecilnya. Setelah

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 33

    Setelah sarapan bersama yang disiapkan oleh Dirga, suasana mulai mencair. Meski masih ada ketegangan di antara mereka, setidaknya mereka bisa menikmati momen kecil sebagai keluarga. Dirga dengan sigap membantu Lila memakai sepatu, sementara Naura merapikan tas kecil putrinya."Kita siap berangkat?" tanya Dirga sambil tersenyum."Siap!" seru Lila dengan semangat.Mereka bertiga pun berangkat ke sekolah Lila. Selama di perjalanan, Lila bercerita dengan antusias tentang tugas sekolahnya. "Mommy, Daddy, di sekolah aku ada tugas! Aku halus foto sama binatang!" katanya dengan mata berbinar.Dirga melirik Naura sekilas sebelum menatap putri kecilnya dengan penuh kasih. "Bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang?" usulnya santai.Lila langsung menoleh dengan wajah penuh kegembiraan. "Leally, Daddy?" tanyanya dengan mata berbinar.Dirga terkekeh dan mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Of course, honey. Kita bisa pergi setelah sekolah. Gimana, Mommy?" Kini tatapannya tertuju pada Naura,

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 32

    Setelah Bima pergi, keheningan kembali menyelimuti ruang tamu. Naura duduk memeluk dirinya sendiri, menatap kosong ke arah jendela yang memantulkan bayangan dirinya—wajah yang dulu penuh harapan, kini hanya menyisakan lelah dan luka.Hatinya terasa kosong. Semua yang ia pendam selama bertahun-tahun akhirnya terucap, namun mengapa rasanya masih seberat ini? Apakah karena kenyataan tak pernah benar-benar bisa menghapus masa lalu? Ataukah karena bayang-bayang itu akan selalu mengikutinya, kemanapun ia pergi?Naura menarik napas panjang, mencoba meredakan gemuruh dalam dadanya. Lila sedang tidur di kamar, tidak tahu apa yang baru saja terjadi antara ibunya dan pria yang dulu ia cintai. Dan kini, Naura harus memikirkan langkah selanjutnya.Pikirannya melayang ke London—tempat yang dulu memberinya pelarian, tempat di mana ia sempat merasakan kebebasan, jauh dari bayang-bayang Bima, Dirga, dan semua kenangan pahit yang menyesakkan. Ia bisa kembali ke sana, memulai dari awal sekali lagi. Lond

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 31

    Setelah semua tenang—setelah isak Naura perlahan mereda dan Bima duduk terpaku di lantai, masih dengan dada yang sesak dan wajah tertunduk dalam diam—Naura akhirnya mengambil napas panjang. Ia berdiri perlahan, menarik piyamanya yang terbuka, lalu mengancingkannya satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar. Tak ada kemarahan di wajahnya, hanya kelelahan dan luka yang baru saja bertambah satu.Dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan, Naura berkata, “Kita ke ruang tamu, ya.”Bima hanya mengangguk, tak mampu menatap mata Naura. Ia mengikuti langkah perempuan itu, duduk di ujung sofa yang sempit, sementara Naura duduk tak jauh darinya, menyisakan jarak di antara mereka—jarak yang terasa lebih lebar dari sekadar satu dudukan kursi.Beberapa detik hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Lalu Naura bicara, pelan dan hati-hati.“Ada yang mau kamu bicarakan, Bim?” tanyanya pelan, tanpa menoleh.Bima terdiam sejenak. Hatinya masih berdegup kencang, bukan karena amarah, tapi kar

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 30

    Saat ini, di kediaman keluarga Wiratama, suasana jauh dari kata tenang. Raden Wijaya Kusuma Wiratama, sang kepala keluarga, berdiri di tengah ruang tamu dengan napas berat dan rahang mengeras. Sorot matanya tajam, menyimpan bara yang sudah lama terpendam, kini disulut oleh kenyataan pahit yang baru saja ia dengar—dari mulut anak keduanya, Bima.“Jadi maksudmu, selama ini Dirga menyembunyikan semuanya dari kita?” suaranya berat, tapi tetap berwibawa. “Dan kamu tahu… tapi baru bilang sekarang?”Bima menunduk sedikit, menyadari ketegangan yang ia picu. “Bima gak tahu semua detailnya, Pah. Tapi itu benar… itu anaknya Mas Dirga. Bima udah pastikan sendiri, langsung nanya ke Mas Dirga.”Dalam hati, Bima berharap dengan membuka semuanya seperti ini, Dirga akan menjauh dari Naura. Ia tahu betul watak sang ayah—Raden Wijaya Kusuma Wiratama—lelaki yang menjunjung tinggi martabat dan kehormatan keluarga. Seseorang seperti Ayahnya pasti tidak akan bisa menerima cucu yang lahir dari hubungan di lu

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 29

    Sari Dewi masih berdiri mematung di tengah ruang tamu, matanya menatap kosong ke arah pintu kamar yang kini tertutup rapat. Hening sesaat, lalu napas panjang meluncur pelan dari hidungnya. Ia menoleh ke arah Lila, yang kini duduk dengan kaki bersila di karpet, masih memegang stiker-stiker bintang di tangannya, dan memandang ke arah "Oma Dewi"-nya dengan sorot mata penasaran.Langkah Sari Dewi terasa ragu sesaat, tapi kemudian ia berjalan perlahan, menghampiri Lila dengan wajah yang berusaha dilembutkan. Dalam dirinya, badai emosi sedang bergejolak—terharu, terkejut, dan entah kenapa... terasa hangat.Ia berlutut pelan di depan Lila. Menatap wajah mungil itu—pipi bundar dengan glitter pink samar, mata berbinar seperti Dirga di usia lima tahun, dan senyum kecil yang sama persis seperti senyum yang dulu ia bayangkan akan dimiliki anak perempuannya. Tapi anak perempuan itu tak pernah datang. Tidak pernah lahir. Harapan itu kandas bertahun-tahun lalu, saat dokter memvonis bahwa rahimnya ta

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 28

    Dirga duduk di kursi kebesarannya—sebuah kursi kulit hitam yang megah, berdiri di tengah ruang kerja berpanel kayu dengan pencahayaan remang-remang yang terkesan hangat namun berwibawa. Di hadapannya, layar-layar monitor menyala, menampilkan data penjualan, laporan mingguan, dan strategi ekspansi terbaru. Namun pikirannya tak sepenuhnya di sana. Sesekali, ia menatap kosong ke arah layar, dan bayangan wajah Naura kembali menyelinap.Tiba-tiba, suara pintu kayu yang terbuka cepat membuyarkan lamunannya.Dirga mendongak.Di ambang pintu, berdiri seorang perempuan anggun dengan raut wajah yang jarang terlihat: marah. Sari Dewi Wiratama—ibunya. Wanita yang selama ini dikenal tenang, berkelas, dan sangat terukur dalam bersikap, kini berdiri dengan rahang mengeras dan mata yang menyala tajam. Di tangannya tergenggam segepok foto. Tanpa sepatah kata, ia berjalan mendekat dan melemparkan foto-foto itu ke atas meja Dirga.Beberapa foto meluncur turun dari meja, tapi cukup banyak yang bertahan d

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 27

    Di dalam mobil, suasana seolah terbagi menjadi dua dunia yang sangat berbeda.Di kursi belakang, Lila duduk dengan gembira, tubuhnya masih setengah tenggelam di antara tas-tas dan boneka yang ia bawa. Mulutnya tak berhenti bernyanyi—kadang lagu TK ceria yang salah nada, kadang lagu iklan yang entah bagaimana nyangkut di kepalanya. Tangannya bergerak mengikuti irama, dan setiap beberapa detik ia akan menyebut nama hewan atau bentuk awan yang ia lihat dari jendela.“♬ Beal kecil beal kecil, jalan-jalan di sawah… ketemu cacing, beal ketakutan… ♬”Tapi di kursi depan, udara terasa dingin meski sinar matahari menembus kaca mobil dengan hangatnya.Naura duduk kaku di kursi penumpang, menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan, jari-jarinya saling menggenggam erat, seolah menahan sesuatu agar tidak tumpah—entah itu kemarahan, atau luka lama yang belum benar-benar kering.Dirga yang menyetir di sebelahnya sesekali mencuri pandang. Tapi setiap kali ia berniat membuka mulut, sesuatu

  • Ibu dari Anak Kakaknya Mantan   Chapter 26

    Dirga mengusap wajahnya kasar, napasnya berat. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, lalu terdengar gumamannya lirih, hampir tak terdengar.“Sial…”Ia mendongak, menatap Naura dengan mata yang mulai memerah.“Berarti… waktu itu kamu benar-benar dengar semuanya, ya?”Naura tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di dekat meja, tangan terkepal di sisi tubuhnya. Matanya masih menyala marah, tapi ada air yang mulai menggenang di sudutnya.Dirga menarik napas panjang, seolah mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian untuk menghadapi kenyataan pahit yang baru saja menyeruak.“Naura…” suaranya berat, dalam, “…mas tahu mas salah. Mas tahu… semua yang mas lakukan ke kamu… udah bikin kamu rusak.”Ia menatap Naura lurus, tak lagi mencoba menyembunyikan lukanya.“Tapi mas nggak bisa bilang… mas menyesal sepenuhnya. Karena… dari semua kehancuran itu, hadir Lila. Mas… mas nggak bisa nyesel atas kehadiran dia. Dia segalanya.”Naura mendengus sinis, suara tawanya kering, nyaris seperti retakan kaca.“Kamu…

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status