Tak paham debaran aneh itu berasal dari mana? Yang aku tahu, ketika hal itu tiba seakan memorak-morandakan kerja jantungku. Kalau ini terus berlanjut, sangat membahayakan bagi kesehatan jantung itu sendiri.
----------Waktu begitu lamban bergulir, perjalanan jarum detik seperti siput yang merayap. Kejadian tadi siang di kantor Mas Reza, hampir seluruh memenuhi otak. Entah mengapa, mendengar kalimat Mbak Rita yang lembut, malah seperti suara monster melewati gendang telingaku.Ah, kadang ada sesal wanita gemulai nan ayu itu selalu bersikap baik. Jadi semakin menekan hati ini, tak berdaya dibuatnya.Kuakui memang. Tak ada apa-apanya diri ini dibanding mantan Mas Reza itu. Ia terperlajar, berkarier, elegant, cantik, cerdas, baik, lembut, dan keluarga terhormat.Terutama, ada Caca menjadi saksi nyata, kisah cinta mereka. Aku? Berbanding terbalik dari kriteria semua itu. Ditambah sikap Mas Reza, bagai enggan saja melihatku, apalagi untuk disentuhnya.Andai ada Oma, mungkin hubunganku dengan putranya tak serumit ini.Teringat malam pengantin. Oma memaksa kami sekamar. Aku menolak halus, "nantilah, kalau kami sudah saling mengenal." Oma tidak terima alasan. "Kalian sudah dewasa. Ntar kenalannya di tempat tidur saja!" titahnya pada kami saat itu.Walaupun aku tidur di kasur dan Mas Reza di sofa, itulah pertama sekaligus terakhir sekamar dengan pria maskulin itu selama dua tahun pernikahan ini.Sayang sekali. Esok hari, Oma harus berangkat ke kota seberang lautan, menunggu Dina --adik Mas Reza--melahirkan, anak ketiganya.Kata Oma, sudah ada aku menjaga Caca di sini. Di sana, ia dibutuhkan, maka jadilah kami hanya saling berkomunikasi lewat HP.Ah, Oma, aku merindukanmu.Pukul dua pagi, bunyi alarm, rutinitas malai, menyadarkan dari tidur. Ternyata aku menangis sampai lelap.Astagfirullah, belum salat. Buru-buru aku mengambil wudu dan bermunajat kepada Allah, Sang Pemilik segalanya.Selesai melaksanakan salat Isa, tahajud, dan pengaduan panjang kepada Rabb, sesak ini mulai berkurang. Aku menarik nafas dari hidung, lalu membuangnya lewat mulut. Huft ...Pelan aku melangkah keluar, mengambil minum dan mengecek kamar Caca, termasuk rutinitas malamku juga.Eit. Kaget. Mas Reza tidur sambil memeluk puterinya. Tidak biasanya.Aku mendekat, menelisik setiap inci rupa mereka berdua, raut Caca yang cantik warisan sempurna dari ayahnya. Ah, ternyata Mas Reza lebih memesona dari jarak sedekat ini.Pantes, rasa aneh itu mengaliri setiap pori ketika bersamanya.Wajahku terasa memerah menikmati debar indah di hati.***"Bunda, ayo ganti baju Ayah ngajakin ke pantai," ucap Caca, lengkap dengan baju santai. Mas Reza siap dengan pakaian sama."Bunda, selesaiin benahan dulu, ya, Sayang," ucapku membereskan bekas makan sarapan pagi tadi."Biar aku terusin. Bunda, siap-siap aja, sekarang." Mas Reza mengambil alih.Deght, kaget lagi. Debaran aneh membuat jantung terasa bergeser. Mas Reza memanggilku, Bunda. Biasanya cuma Zahrah aja.Aku menatapnya dengan kening berkerut, ia tersenyum manis. Belum sempat memperbaiki posisi jantung, Caca menarik lenganku ke kamar.Di luar, Mas Reza lengkap dengan sepatu santainya. Ia mengambilkan sepatu untuk Caca.Dan ... Sepatuku juga ia bawa.Aduh, kaget lagi.Debaran aneh itu, kembali memompa jantung lebih cepat.Kalau begini terus, bisa-bisa berbahaya bagi kesehatan jantungku."Kok, melamun? Mau dipakein juga, seperti Caca?" Cepat aku memakai sepatu yang disodorkan tadi, sambil memikirkan perubahan sikap. Mas Reza."Kita pakai mobil, Bunda, aja, ya?" Mas Reza duduk depan kemudi. Caca naik dan duduk di kursi tengah. Aku menunggu sampai mobil keluar, naik setelah mengunci pagar rumah.Duduk depan. Lagi-lagi Mas Reza, membuat jantung ini tak stabil dengan debaran anehnya.Ia memasang set belt di kursi dudukku.Terpaku, serasa aliran darah berhenti mengalir.Wajahnya begitu dekat saat memasukkan knop set belt di samping kiriku.Merapatkan tubuh di sandaran kursi, menahan nafas agar ia tak tahu ributnya kerja jantungku saat ini.Ada apa denganmu wahai Mas Reza? Sikap anehmu bisa-bisa merusak organ utama tubuhku.Sepanjang perjalanan, Mas Reza dan Caca mengikuti Shalawat Aiswa Nahlah yang mengalun indah di mobil.Sesekali aku tersenyum melihat pola mereka dan tak henti memikirkan perubahan lelaki jangkung pemilik mata teduh itu."Bunda, ayo, kita main air." Caca menarik tanganku. Mas Reza mengikuti di belakang setelah mengunci mobil dan menyewa pondok kecil, tak berdinding. Khusus disewakan untuk pengunjung."Bunda, ke pondok itu, ya. Caca main berdua aja, ma, Ayah" Aku melangkah, setelah mendapat anggukan Caca.Hari libur, pantai terlihat ramai. Pondok-pondok tak ada kosong, bahkan beberapa gerombolan pengunjung, agak siang datang, menggelar tikar di bawah pohon dekat pantai.Caca asyik membuat istana pasir, pakaianya basah setengah badan. Di samping caca, Mas Reza, terlihat menerima telepon.Pria pembuat debar itu melambaikan tangan, tak lama berselang, dua wanita datang dengan pakaian modis.What? Jantung kembali bergeser dari posisinya, kali ini seperti gong ditabuh keras.Mbak Rita!Cuaca yang tadi panas-panas melow, berubah pengap, setidak itu yang kurasakan.Air mata mulai runtuh, memikirkan kemungkinan mereka hari ini, di tempat seperti ...? Jangan-jangan ...? Janjian? Atau ... ? Mereka punya rencana ...? Ah! Kepalaku penuh praduga.Mas Reza tak lepas mengawasi. Aku mengalihkan bola mata dari pemandangan yang membuat jantung bagai tertancap ribuan panah.Dering telepon panggilan vidio, membuyarkan konsentrasiku. Oma!"Assalamu alaikum, Oma. Zahrah Rindu!" seruku meloloskan air mata, setelah memandang Oma di layar.Ya, air mata rindu pada Oma dan air mata sesak karena putranya."Kamu baik-baik aja, kan, Zahrah? tiba-tiba aja, Oma mengkhawatirkan kalian." Aku semakin terisak mendengar kalimat Oma.Lekat memandangi ibu mertuaku di layar HP. Wanita umur kepala lima itu, selalu tahu keadaan diri ini, meski jauh."Semua baik-baik, kok, Oma. Cuma ... Zahrah, rindu." Buru-buru menghapus air mata, untuk menutupi kegalauan. Sedang di balik layar, beliau terkekeh.Alangkah haru rasanya punya mertua seperti beliau. Sedangkan di luar sana banyak rumah tangga hancur gara-gara mertua."Mana? Caca? Reza?" Oma mengalihkan pembicaraan.Refleks mencari dua Sosok itu di tengah keramaian. Tempatnya sudah diganti orang lain"Kami, di sini, Oma." Mas Reza menggendong Caca muncul dari samping, dengan tawa renyah.Caca memeluk leherku dan Mas Reza mencium pipiku. Spontan aku berbalik kearahnya, ia tersenyum melambai ke layar ponsel.Sekuat tenaga menahan debaran aneh itu lagi, jangan sampai merusak kerja jantungku, agar Oma yakin, kalau kami benar baik-baik saja.Lama berbincang, sampai Caca memutar HP memperlihatkan suasana pantai pada Oma.Sedang aku sesekali merabah pipi, sibuk memaknai perlakuan Mas Reza. Apakah ciuman itu murni karena kemauannya? Atau hanya acting saja depan Oma?Argh! Debaran jantung ini terasah entah, untuk menjawab teka-teki itu.Jam menunjuk angka sepuluh, saat kami berkemas pulang.Selesai membersihkan badan Caca di toilet umum dan mengganti pakaiannya, sosok pria dengan suara tak asing menyapa."Kamu, Zah, kan? Zahrah Maulidia? Yang diberi gelar, si bisu, saking pendiamnya? Putri sulung Pak Bagus? " Pria itu melipat dahi sambil mengingat."Iyya. Anda, siapa?" tatapku menyelidik dengan mengerutkan Alis. Seseorang menyebut nama lengkap, gelar, dan nama bapakku."Ya, Allah, Zah, lima tahun baru bertemu, wajarlah lupa. Aku Danar, Zah, Danar yang ...," ucapnya melirik Mas Reza, "kakak kelas, sekaligus tetangga kampung kamu?" lanjutnya."Oo... ingat, ingat, gimana kabar tante?" Aku menjawab, lantas cepat menunduk, menatap ke bawah sambil melirik Mas Reza yang memainkan HP.Nampak wajahnya merah, mungkin habis di bawah matahari tadi."Beliau, sudah dipanggil dua tahun lalu," jawab Mas Danar sedih ketika aku tanyakan ibunya."Innalillah..., sabar, ya?" Mas Danar mengangguk."Eh, kenalin. Ini suamiku." Aku menunjuk Mas Reza. Mereka lantas berjabat tangan."Yang ini, putri kami." Caca menyentuh punggung tangan Mas Danar, tanda takzim kepada orang yang lebih tua. Mas Danar mengusap-usap kepalanya, "Cantik!" ucapnya dengan senyum."Aku permisi duluan, Ya, Zah, Mas." Ia menunjuk segerombolan orang melambai padanya. Kami pun mengangguk.Pria yang tak jauh tingginya Mas Reza itu pamit dengan menangkupkan tangan ke depan, aku pun melakukan hal sama.Perjalanan pulang, Caca tertidur memeluk boneka kesayangannya. Lelah lari ke sana-ke mari di pantai.Aku melirik Mas Reza fokus menyetir. Menilik wajahnya datar saja ketika ada lelaki yang mendekatiku, seperti Mas Danar tadi.Ataukah, hanya aku saja yang cemburu apabila ia dekat sama wanita lain? Apa lagi sama mantanya?----------"Zah, Maafkan aku, ta'aruf ini tak bisa dilanjutkan." Suara Mas Danar di balik telepon."Iya," jawabku singkat."Buat bapak-ibuk. Tolong sampaikan sembah sujud maafku kepada beliau, atas pembatalan ta'aruf ini.""Iyya," jawabku sama."Aku berangkat besok ke kota, melanjutkan S2, Zah. Dan ..." Ia mendesah panjang, "Tunggu ak ...." Ia menggantung kalimatnya.Aku berfikir lama, desahan nafasnya terdengar gelisah."Maaf, Mas, menunggu seseorang yang belum tentu jodoh. Menurut Zahrah, seperti menanti hujan di tengah kemarau." intonasiku pelan tapi tegas."Kita jalani saja, Mas!. Nggak usah saling menghalangi. Kelahiran, rezeki, jodoh, dan maut. Allah sudah tentukan sebelum kita lahir ke dunia," ujarku selanjutnya meniru bahasa bapak ketika beliau mewanti-wanti pembatalan ta'aruf ini.Mas Danar terdengar menghela napas panjang, bergetar."Zahrah harap, nggak perlu saling menghubungi seperti ini. Karena kita tidak tahu cara kerja setan." Pelan aku memilih kalimat, untuk menjaga perasaanya.Aku menutup telepon setelah Mas Danar menjawab dari seberang.Sama sekali kami tidak menyesali ataupun menyalahkan Ibu Mas Danar menolak melanjutkan ta'aruf ajuan putranya kepadaku. Perbedaan strata sosial terlalu jauh.Aku dan Mas Danar bukanlah teman dekat, sahabat apalagi sepasang kekasih,.meskipun masih ada hubungan kekerabatan.Kami teman satu angkot. Kebetulan satu arah, satu sekolah, itupun kalau motor Mas Danar masuk bengkel.Mas Danar datang ta'aruf kerumah lima tahun setelah meninggallkan masa seragam putih-abu-abu.Pada saat itu, ia telah mnyelesaikan S1-nya. sekaligus sudah jadi salah satu staf pengajar di tempat kami menimba ilmu yang sama.Berfikir untuk kuliah seperti Mas Danar, jauh dari anganku. Tamat di tingkatan menengah atas saja amat disyukuri.Ikut kerja sebagai karyawan di rumah laundry milik keluarga dari ibu adalah kegiatan mengasyikkan buatku. Sebahagian hasilnya, bantu biaya ketiga adik yang masih sekolah.Aku dan keluarga tak perna mengira Mas Danar datang ta'aruf ke rumah. Melihat ia punya niat baik, kelurga tak menghalangi.Ya, walaupun, pada akhirnya, ending sudah terbaca melalui judul.***Setiap jepretan kamera itu mengambil gambar, cahaya yang ditimbulkannya bak tombak, melayang menghujam jantungku. Perih tak terkira. --------------------Suara decitan pagar membuyarkanku dari lamunan lima tahun silam. Mengumpulkan kesadaran, ternyata mobil sudah terparkir di garasi.Melihat Caca tak ada di tempat, segera mengambil barang dari mobil. Selangkah berbalik, bruk ..., tak sengaja menabrak dada Mas Reza, muncul dari arah pagar.Kontak fisik tanpa sengaja membuaku terpaku, aroma parfum menusuk penciuman. Lagi-lagi debaran aneh hadir tanpa diundang dan itu terjadi begitu lama, dibanding kejadian yang hanya beberapa detik. "Maaf, Mas. Aku nggak sengaja.""Kamu sehat, kan?" tanya Mas Reza menelisik. Aku mengangguk dan segera berlalu, tak ingin ia tahu perubahan warna wajahku. ***"Kantor rencana buka cabang di luar daerah, aku mendapat tugas menyurvei lokasi."Sambil menyesap kopi, rutinitas malamnya, Mas Reza menatapku lekat. Caca menikmati film kartun kesayangan setelah men
Meski lewat layar, mengapa tatapan itu mengintimidasi?-------"Sepertinya ayah masih tinggal beberapa hari lagi, Ca. Kamu baik-baik aja ma, bunda, ya?" ujar Mas Reza di balik layar. Dua hari setelah acara wisuda Caca. "Siap." Gadis periang itu menaikkan jempol."Bunda mana?" tanya Mas Reza kemudian. Tergesa aku berlari dari arah dapur saat suara Caca memanggil "Ayah nyariin, Bunda," ucap Caca menyerahkan HP, kemudian melanjutkan permainan boneka-bonekanya lagi.Bingung, namun tetap meraih benda pipih itu. Tumben mau bicara langsung sama aku? Biasanya sama Caca aja.Aku menatap layar, Mas Reza memakai kemeja putih tersenyum manis, sepertinya sudah siap. Ia lantas melambai ke layar dengan kaku, aku melakukan hal sama. Untung ia jauh, kalau tidak pasti ia tahu berisiknya kerja jantung di balik kulit ini dengan jarak begitu dekat. "Gimana kabarmu?" Menurutku ini pertanyaan basa-basi."Baik," jawabku singkat tanpa berani menatap netra teduhnya."Masih ada pekerjaan belum kelar, Zahrah.
Mas Reza memeluk Caca, netranya tak lepas dariku. Kalau ia bersikap aneh begini terus, bisa-bisa aku periksa di poli jantung. -----"Ada yang nyariin, Mbak, penting katanya," bisik Angga ketika aku sedang menata meja untuk menyiapkan makan siang untuk para tamu dan kerabat.Aku mengangguk, tapi tak menghiraukan. Mengingat adikku yang baru tamat SMP itu sering bercanda."Cepetan, Mbak, ntar tamunya pulang." Tak beranjak Angga menunggu."Serius, ni? Cacanya mana? Kok, ditinggal pona'annya?""Itu ... Caca sama tamu yang nyariin, Mbak." Ia menunjuk ke luarDahiku mengernyit, tumben Caca mau diambil sama orang baru?Aku menyelip keluar di antara keramain kerabat. Ibu duduk di ruang tengah berbincang dengan tetamu.Di bawah tenda pengantin yang telah terpasang tiga hari lalu, banyak keluarga laki-laki bercengkrama antar mereka.Kucari sosok Caca. Deght.Jantung ini kembali bergeser, melihat Caca duduk di pangkuan Mas Reza. Di sebelahnya ada bapak, om-om dari keluarga ayah-ibu, dan Mas Dana
Mengingat Mbak Rita ingin baikan, ditambah cara memandang Mas Reza, aku tahu, ia mengharapkan mantan suaminya kembali. Dada seakan kembali menyempit membayangkan itu semua.------Memandangi wajah Caca tidur tanpa melepas mukenah, salat berjamaah selesai, ia pun langsung melepaskan lelah.Kehadiran bidadari kecil ini membuat hidup berwarna. Namun, sekaligus hambar mengingat hubunganku dengan ayahnya.Sambil menyalahkan TV, aku menyetrika pakaian, tak lama berselang terdengar salam Mas Reza dari masjid.Ia langsung duduk di sofa, sambil menyeruput kopi, kebiasaanya setiap malam. "Udah siap ngejelasin isi pesanku tadi siang?"Pertanyaannya tak menghentikan pergerakan tanganku, walau tatapnya mulai tak sabar, aku membereskan lipatan terakhir sekaligus pura-pura tak menghiraukannya."Zahrah." Mas Reza memanggil lembut. Aku berpindah, duduk dua sofa di antaranya. "Ceritalah tentang Danar." ujarnya setelah mematikan TV. Aku terdiam lama guna merangkai kata tepat dalam hati. "Sebaiknya Ma
Dua kata yang keluar dari bibir berukuran sedang itu, sukses membuatku mendarat darurat. Rasanya seperti terjungkal di atas tanah.--------------------"Caca, ayah nggak bisa nemanin beli seragam baru besok. Sama Bunda, aja, ya?"Mas Reza duduk di sofa ruang keluarga, tempat favorit kami berkumpul pada waktu senggang. Wajahnya terlihat gelisah, setelah menerima panggilan telepon."Keluar kota lagi? Berapa hari, Ayah?" Caca berpindah ke pangkuan Mas Reza, menyandarkan kepala di dada bidang itu. "Peresmian kantor cabang baru, yang diurus kemarin-kemarin, untuk sementara masih nyewa gedung dulu." Nanar pria maskulin itu menatap. Mungkinkah kalimat itu ditujukan untukku? "Emangnya nggak bisa kerja tanpa pergi terus gitu? Seperti ayahnya Sisil?" Protes Caca yang entah berapa sekian kali. Sejak gadis kecil itu bersekolah di TK, sering membandingkan Mas Reza dengan ayah teman-temannya, yang hampir setiap hari menjemput.Aku meletakkan pakaian Mas Reza yang telah rapi di atas meja setrikaan
Jiwa berontak mendengar kata istri darinya. Apakah layak diri ini menyandang gelar itu? Bukankah aku tak dibutuhkan sebagai istri? Bukankah ada mantan akan menjadi istri seutuhnya? ------------------"Caca senang, deh, hari ini jalan-jalan ma Om Tio."Bidadari cantik itu menyeruput ice cream, tangan sebelah mengeluarkan plastik penuh makanan."Oh, ya." jawabku tetap fokus menyetir menuju rumah, sesekali menanggapi celotehannya. Seperti ia telah lupa dengan laku Mas Reza tadi siang."Ayah, udah pulang." Caca melompat turun, setelah mobil berhenti, dan melihat pagar terbuka, ada roda empat Mas Reza terpakir. Halaman rumah Oma ini memang luas. Tumben Mas Reza keluar kota hanya semalam? Ini juga pulang tanpa ada pemberi tahuan? Entah kenapa sesak ini muncul lagi, padahal aku sudah ikhlas. Apapun terjadi sampai ke rumah ini dan sebelum bertemu pria pembuat galau itu, semoga hati ini baik-baik saja. Ya ... Allah ... Mohon beri hamba kekuatan dan keikhlasan lebih. Pliss. Walaupun ragu
Membelai kepala tertutup jilbab itu tulus, andai sekarang kau ingin bersama hanya mamah dan ayahmu saja, aku siap sayang, karena itu sedang kuusahakan sekarang. --------------------"Rumahnya nggak bagus, kotor." Caca mengibas-ngibas pakaiannya setelah kami mengelilingi bangunan tingkat dua model lama.Salah tingkah Mas Reza melirik, mungkin karena penolakanku semalam. "Kalau udah dicat ulang dan direnov sedikit. Pasti bagus lagi, kok." Aku menyentil lembut hidung Caca. Sedang Mas Reza tersenyum bahagia, tampak bernafas lega. Meskipun berusaha menghindari lelaki yang susah ditebak itu, tapi aku tetap menjaga kebahagiaannya. Bapak-ibu benar, aku memang tertutup. Namun, lebih mementingkan orang-orang di sekitar. "Rumah ini kosong sekitar dua tahun, kamu boleh membuatnya jadi apa saja, eitempati juga boleh." Pria berhidung mancung itu berucap sambil fokus menyetir."Emang Bunda mau tinggal di sana?" ucap Caca sambil mengunyah roti sisa pemberian Mas Tio kemarin. "Entahlah sayang,
Dua tahun bukan waktu yang singkat untuk menyimpan semua ini.--------------------Jam 12 siang, kami pun sampai di rumah."Mas, emang nggak berlebihan ngasih Zahrah rumah lagi?" tanyaku bersandar pada sofa ruang tamu setelah ganti baju dan salat Duhur.Mas Reza mengernyit ke arahku, ia selalu gagah memakai baju koko putih dan sarung warna senada. Ia dari masjid."Maksud Zahrah, apa nggak diganti aja pakai nama Caca?" ujarku lagi mendetailkan maksud. Aku membalas tatap lelaki aneh itu. Toh, buat apa memberi rumah kalau akhirnya ia akan pergi bersama mantannya.Bukankah selama kita berusaha rejeki tak perlu dikhawatirkan? Dan selama nafas di tenggorokan, pintu langit masih terbuka untuk menurunkan rezeki dan menaikkan amal setiap hamba. Perlahan ia duduk di dekatku, setelah meletakkan peci di meja."Zahrah nggak suka? Apa bedanya kamu dengan Caca buatku?" tanyanya penuh penekanan.Debaran kuat menghentak, Mas Reza memosisikanku dengan Caca sama?Terus, Mbak Rita? Apakah itu artinya a
POV CacaIni libur kedua setelah setahun berlalu. Selain kangen dengan adik Rizal, juga acara pernikahan Om Reno -adik kedua bunda Zahrah- memaksaku pulang. Ada gelenyar entah saat menjejaki kota penuh kenangan. Rindu ini telah lama membebat, tapi ragu dan takut begitu menguasai.Maafkanlah wanita lemah ini, jika masih butuh waktu lama mengistirahatkan kelelahan."Mbak Caca ..." Teriakan Rizal menyambut saat aku turun dari kendaraan terakhir."Diantar sama bunda, kan?" ujarku menggenggam tangannya. Sengaja bertanya demikian, khawatir saja kalau Om Danar yang muncul seperti dulu. Huft ... entah kenapa dia dan kota ini tak bisa terpisahkan di pikiranku."Tu ...!" Tangan mungil Rizal menunjuk tante Raina yang melambai ke arah kami. Ada Om Angga melakukan hal sama di belakangnya. Ck! Ngapain pria tengil itu ikut?"Aku di rumah Oma nginapnya ya?!" Om Angga langsung menaikkan jari tanda setuju. Sementara adik Rizal tak henti berceloteh sambil mengunyah. Makanan anak ini sefavoritku, doyan
POV Caca"Oma harus tahu soal ini, Ca." Suara Om Angga membuatku berpaling dari suara roda empat Om Danar yang semakin mengecil.Sejak kapan lelaki ini di situ? Apa dia melihat derasnya air mataku yang seketika tumpah melihat Om Danar berlalu? Huf .... Di balik kata ikhlas itu, selalu saja ada genangan yang menyelingnya."Belum saatnya, Om. Kalau waktu dan tempat memungkinkan, aku akan cerita, kok," ujarku memohon pengertian. Dari ekspresi Om Angga yang serius, aku yakin dia mengetahui jelas persoalanku. Berarti sejak tadi dia mengawasi di situ. Tak salah lagi."Bagaimana jika Oma tahu dari orang lain yang pasti cerita akan mengalami penambahan dan kekurangan?" desaknya mengikutiku."Aku belum siap bercerita sekarang, Om," kataku menunjuk bagasi mobil. Oma selalu membawa aneka macam oleh-oleh bila datang. Yang bisa dimakan satu kamar.Lalu dengan cekatan aku menurunkan lima kantong plastik berukuran besar, Isinya sudah bisa ditebak, makanan dan minuman ringan. "Sebelum terlambat me
POV CacaGegas aku menarik lengan Oma ke kamar, khawatir sekali rasanya jika persoalan ini sampai di telinga beliau.Andai pernikahan dadakan itu tak berperkara, kupastikan akan menceritakan ke Oma penuh rasa bangga, lalu meminta restu, kemudian memproklamirkan dengan mengadakan pesta meriah, mengundang sanak saudara, teman, tetangga, anak yatim, de el el. Ini? Sepertinya hayalanku melewati langit ke tujuh. Untung saat kembali, masih ingat jalan pulang. Bagai memukul air, tapi terpercik di muka sendiri. Itulah penggambaran diri sekarang. Jadi, dengan menghayal aku membereskan masalah. Huft .... Semoga otakku masih stay di posisinya. "Kapan datang, Hauroh?" sapa Tasnim yang sedang memegang sapu. Itu resiko sebagai anak pengelola pondok."Baru saja, Nim. Oh, ya, Oma datang. Kamu temani dulu ya, Say," ujarku mengedipkan mata. Tasnim yang sudah biasa melihat ekspresi begitu, mengangguk dan mempersilakan Oma. Mereka sudah akrab, karena seringnya bertemu saat Oma menjenguk."Caca mau min
POV CacaMeski telah menguatkan hati, tetap saja denyut jantung berdetak lebih, sesampai di rumah Om Danar. Perkiraanku orang-orang semalam masih stand by menunggu tuk memberi hukuman, tapi .... sepertinya aman, tak ada alas kaki yang berjejer. Aku celingak-celinguk kanan-kiri memastikan, pun memasang telinga untuk mendengar suara dari dalam. Alhamdulillah, benar-benar sepi seperti biasa. "Terima kasih Ya, Allah." Tak sadar tangan mengusap dada, merasa aman dari perkiraan sebelumnya.Aku meletakkan bokong di kursi teras saat Om Danar melewati pintu. Ini pilihan paling tepat menurutku, karena lelaki yang masih bergelar suamiku itu telah berubah 180 derajat. Jangankan meminta masuk dengan wajah penuh harap seperti biasa, mengajak bicara saja dia seperti enggan. Huft, walau tahu hubungan kini sangat rentan, yang bak telur di ujung tombak, tak memungkiri dalam hati yang terdalam aku menginginkan keajaiban. Salahkah aku masih mengharap setitik hujan di tengah kemarau? Salahkah diri me
POV CacaAku bolak-balik bak setrikaan mendengar suara ribut di luar. Berbagai reaksi dan tanggapan menjurus ke aku, dan tentu saja celaan lebih banyak. Itu baru satu kalimat Mimi Bianca, belum dua, tiga, empat ... Huft, beginilah jika melakukan dosa. Selain mendapat azab, hati juga tak tenang.Maka sangat benar yang disampaikan para alim ulama. "Hindari maksiat, karena itu perbuatan yang merugikan diri sendiri. Sesungguhnya Allah tak pernah menghukum hambanya, selain dari perbuatan dosa hamba itu sendiri."Ah, manusia memang terkadang dzolim pada diri sendiri. Namun, ajaibnya selalu merasa lurus dan memaksa benar dengan memakai logika tak berdasar. Aku rasa pernah di posisi itu saat belum belajar agama. Aku memutuskan keluar dan bergabung. Entah mau melakukan klarifikasi, pembelaan, atau berdebat dengan Mimi Bianca, aku juga tak tahu mau ngapain. Yang pasti tak harus sembunyi seperti kucing dibawa kolam meja setelah mencuri ikan kan? Apa, sih, yang kupikir, sepertinya keruwetan mas
POV CacaAku berlari ke sana-ke mari mencari jilbab yang dilepas Om Danar. Perasaan diletakkan tak jauh darinya. Kenapa nggak ada? Inilah efek panik yang mengakibatkan otak tidak fokus."Om simpan di mana jilbabku?" kataku menarik lengan Om Danar untuk membantu. "Tu!" tunjuknya tanpa merasa bersalah. Dia kemudian melangkah ke pintu seusai aku memakai kerudung dan cadar."Bapak menunggu di luar. Apa yang kau lakukan Danna, tidak bisakah kau menunggu sampai selesai semua prosesi .... Arght! Aku tak tahu apa yang kau pikirkan sekarang." Selepas berucap, Bu Maya membalik badan ke arah ruang tamu. Sementara aku yang bisanya berlindung di balik punggung Om Danar, merasakan ujung dan kaki seakan kompak dingin.Dalam keadaan nyata-nyata benar saja, semua orang pasti akan merasakan panik sepertiku jika di posisi seperti digerebek. Apalagi kami yang hanya menikah tanpa persaksian orang banyak. Tunggu! Sepertinya Om Danar tak ngaruh. Dia malah menyugar rambut lalu memperbaiki gulungan bajunya.
POV Caca"Apa Bibik lihat ponselku?" teriakku memeriksa meja kerja Om Danar. Mulai lelaki itu mengambilnya di mobil, sampai sekarang belum terlihat. Tidak mungkin kan dia membawa benda pipih itu akad nikah? Kurang kerjaan banget kalau sampai itu terjadi.Karena tak ada jawaban, aku mencari tiap laci. Siapa tahu Om Danar menaruhnya di sana. Tanganku berhenti bergerak saat menemukan foto lama tapi masih terawat. Ada Om Danar dan Bunda Zahrah di antara teman-teman lainnya yang berpakaian putih abu-abu. 'Sekuat apa kita berusaha, jodoh tidak bisa diubah.' Tulisan di balik gambar membuat mataku berkabut tiba-tiba. Sedih karena mengingat Bunda, sekaligus kalimat itu sukses menyentil perjalanan jodoh yang sedang kualami.Ya, sekuat apa ingin lepas dari Om Danar, tapi rasanya amat susah. Selain dia tak ada niat berpisah, pun hatiku lebih-lebih.Huft, apa dosa mencintai di situasi yang serbah salah? Apa salah bertahan di tengah badai yang menerjang? Ya, Rabb ... Andai waktu bisa diputar ul
POC Caca"Kita mau ke mana, Om?" tanyaku saat mobil melaju. Lelaki matang itu bergeming, mimiknya tak mampu kumaknai. Arhgt, siapa lagi yang memberi informasi aku di sini. Atau jangan-jangan Om Angga? Ck! Adik Bunda Zahrah itu memang sudah berhenti menganggu ketenanganku, malah mengirim pengganggu yang kuperkirakan akan lebih panjang ceritanya. "Jangan bawa Caca ke pesta itu, Om," mohonku menangkupkan kedua tangan di depan dada ketika menyadari arah mobil benar-benar menuju ke sana. Apa yang harus kulakukan Ya, Rabb?"Bukannya Caca tak mau berjuang, Om. Tapi ...." kataku terhenti melihat seorang wanita cantik turun dari mobil yang sebelumnya memepet dan membunyikan klakson panjang tanda menyuruh berhenti. Ibu Maya! Refleks aku membungkukkan badan dengan niat bersembunyi seperti yang kulakukan tadi ketika melihat Om Danar di dalam tanda. Huft, kurasa akan sia-sia lagi."Cepetan turun, Om." Tak seharusnya aku mengintruksi, sudah jelas dia lebih dewasa dariku, ditambah statusnya sebag
POV Caca"Ayo anterin aku cepat, Om," kataku lebih membungkukkan badan saat dengan ekor mata melihat lelaki yang jadi pusat perhatian itu menuju ke mari. "Kalau Om Angga gak mau cepat, Caca bakalan nggak mau bicara Om seumur hidup," ancamku tidak serius, tapi dengan nada yang ditekan.Lelaki humoris itu gegas masuk mobil dan segera menyalakan mesin.Kami memang terhitung sangat akrab dulu, bahkan sampai sekarang dia tidak berubah, cuman aku yang ambil jarak sejak masuk pondok. "Maaf, Mas. Nanti saya kembali," pamit Om Angga sebelum melajukan mobil. Mas adalah panggilan Om Angga ke Om Danar jika di luar kampus, karena memang terhitung kerabat dekat, tentu beda jika berada dalam lingkup akademik. Aku rasa seperti itu yang terjadi mengingat tante Raina melakukan sama. "Kok kayaknya kamu takut sama Om Danar? Padahal dia baik loh, baik banget malah."Aku memilih memperbaiki cadar akibat aksi sembunyi tadi, sekaligus pura-pura tak mendengar uraian Om Angga. Kadang dia kalau bercerita lup