Share

6

Penulis: Nanaa_
last update Terakhir Diperbarui: 2021-04-04 14:03:37

"Sean, aku menyukai mu!" 

Sorakan siswa-siswi yang menonton Jesica yang sedang menyodorkan sepucuk surat berwarna pink lengkap dengan pita cantik. Jesica sudah menyimpan perasaannya pada Sean saat upacara orientasi siswa, pemuda tampan dan seksi yang sangat cerdas dan idaman para gadis-gadis cantik di sekolahnya maupun sekolah lain, namun Jesica tidak pesimis Jesica yakin jika perasaanya akan diterima oleh Sean.

"Terima! Terima!"

"Ambil suratnya dan terima!!"

Teriakan dukungan dari teman-teman Jesica membuat Sean risih bukan main, Sean sangat benci menjadi pusat perhatian, apalagi dalam hal seperti ini. Sangat menggelikan.

"Hmm--" Gumaman Sean terpotong oleh teriakan fans Jesica.

"Horeee!!!"

Sean terbelalak tak percaya, dia belum selesai bicara sialan! Kenapa fans wanita ini sangat menyebalkan? Tapi, mungkin tidak buruk juga jika memiliki mainan? Jika bosan dengan kegiatannya Sean bisa bermain dengan Jesica, lalu saat Sean sudah tidak butuh perempuan itu maka akan Sean campakkan, bukankah ide yang bagus? Sean tersenyum miring dan mengangguk membuat Jesica kegirangan dan memeluk tubuh kekar kekasih barunya.

"Sean aku mencintaimu!" Gumam Jesica

"Hmm." 

Karena risih dengan fans Jesica yang terus bertepuk tangan dan bersorak, oh jangan lupakan dengan kamera yang mereka gunakan untuk memfoto dirinya yang dipeluk mainan barunya. Sean menarik lengan Jesica menghindari keramaian, Jesica tersipu melihat tangannya digenggam oleh Sean. Aahh, beruntung nya aku mendapatkan laki-laki setampan Sean, pasti yang lain akan iri dengan ku...

Sean membawa Jesica ke dekat gudang, mengurung tubuh Jesica di antara tembok dan berbisik pelan di telinga Jesica hingga Jesica memerah sampai ke telinga. Sean sangat tampan jika dilihat dari jarak seperti ini.

"Ada persyaratan untuk menjadi pacarku, kau ingin mematuhinya?" Tanya Sean dengan seringainya.

"Syarat? Baiklah aku akan melakukan apapun!"

"Kau dilarang menyentuhku diluar batasan, dan jangan mengusik kehidupan ku apa kau mengerti?"

Ucapan Sean membuat Jesica aneh, bukankah sekarang mereka adalah kekasih? Tapi mengapa Sean tidak memperbolehkan dirinya dekat dengan Sean? Namun pikiran buruk itulah ditepis kuat-kuat oleh Jesica, mungkin saja Sean belum terbiasa memiliki pacar jadi Jesica akan membujuknya pelan-pelan agar Sean tidak merasa terganggu.

"Baiklah, aku mengerti." Ucap Jesica membuat Sean semakin menyeringai, ternyata sangat mudah untuk mengendalikan orang yang sedang jatuh cinta, hanya pengecualian jika yang mengendalikannya adalah orang yang dicintainya bukan orang lain.

"Bagus."

Sean memang membenci orang yang selalu menuruti perintah dan keinginan orang yang mereka cintai bahkan saat keinginan itu terdengar gila mereka akan menyanggupi nya. Sean selalu menghindari yang namanya menjadi budak cinta, Sean tidak mau di atuh ataupun dikekang lalu dirinya kalah hanya karena rasa cinta, namun sekarang beda kasus jika dirinya yang digilai orang lain. Itu adalah keuntungan.

"Aku mencintaimu."

"Hmm."

Sean tidak membalas pernyataannya? Mungkinkah Sean malu? Bagaimana jika Sean mengucapkan jika Sean mencintainya? Memikirkan itu membuat Jesica memerah kembali.

.

Berita jika Sean memiliki kekasih cantik pun menyebar hingga ke sekolah lain, fans nya pun ada yang kecewa hingga pasrah, mereka hanya berfikir jika mereka tidak secantik dan sekaya  Jesica hingga bermimpi mendapatkan pangeran tampan itu. Hal itupun sampai ke telinga William dan Joe, membuat William menasihati putranya agar tidak melupakan tugasnya sebagai pelajar. William tidak melarang putranya untuk berpacaran Sean sudah besar.

"Ingat, jangan lakukan hal di luar batas wajar!"

"Baik ayah."

Sean tidak menyangka jika ayahnya sangat cerewet sekali jika menyangkut kesenangannya. Sean tidak sebodoh itu untuk meninggalkan kewajibannya dan malah memilih bersenang-senang dengan mainannya. 

Di saat sang ayah yang menasehatinya jangan meninggalkan belajar beda lagi dengan sang ibu, ibunya mengatakan jika dirinya harus mendapatkan wanita yang kaya raya lalu memanfaatkannya, apa Sean akan melakukan yang ibunya katakan? Tidak! Sean memang menganggap Jesica mainan bukan bank. harta ayahnya lebih banyak daripada harta milik keluarga Jesica.

________

"Jovian, kau dipanggil ke ruang guru!" 

Jovian menoleh ke arah Baixian anak asal Shang hai yang memanggilnya, ada apa? Mengapa dirinya dipanggil ke ruang guru? Apa Jovian nakal? Memikirkan itu membuat Jovian resah dan takut, bagaimana jika dia nakal dan Mama akan kecewa? Bagaimana jika Mama nya menangis dan tidak mau bersama Jovian lagi?

"Hey, jangan menangis kau hanya dipanggil ke ruang guru bukan dihukum." Ucap Baixian menenangkan Jovian.

Lucas pun merangkul pundak Jovian dan membisikkan kata-kata penenang agar teman manisnya tidak menangis, Jovian sangat cengeng jika urusan seperti ini. Menggandeng jemari mungil Jovian dan membawanya ke ruang guru.

Tok

Tok

Tok

Lucas membuka pintu ruang guru saat suara Mr. Albert mengizinkannya masuk, Jovian pun semakin berdebar tak menentu dan Mr. Albert tersenyum melihat tingkah muridnya yang manis itu, Lucas yang sangat gentle dan Jovian yang kuat namun rapuh jika dalam hal tertentu. Sangat manis dan saling melengkapi.

"Duduk di sana, Mr. Akan mengambil sesuatu dulu."

"Jovian-nie kau tidak akan dihukum orang Mr. Albert" Ucap Lucas menenangkan Jovian

"Tapi aku takut." Cicit Jovian

Lucas menepuk pundak Jovian dan merangkul nya, "Jangan takut ada aku." Ucapnya membuat Mrs. Abigail yang menonton di pojok sana tersenyum gemas, anak-anak memiliki tingkah polos namun terlihat sangat dewasa, rasanya Mrs. Abigail sedang menonton drama romantis saat ini.

"Baiklah Jovian, Mr. Albert memanggil mu kemari bukan untuk memarahi mu ataupun menghukum mu jadi Jovian-nie jangan takut oke?" Ucap Albert dengan senyum ramahnya. Rasanya ingin Albert bawa pulang kedua bocah yang dihadapannya.

"Mr. Albert tidak akan menghukum ku?" Tanya Jovian dengan mata bulatnya yang berkedip menggemaskan.

"Tidak akan, Jovian kan anak baik Mr. Albert hanya ingin memberi tahu jika Jovian-nie terpilih menjadi peserta lomba lari dengan Lucas, Ace, dan Baixian di Korea." Jelas Albert.

"Tapi mengapa hanya Jovian yang Mr. panggil tadi?" Tanya Lucas

"Untuk perwakilan saja, karena jika kalian semua berkumpul di ruang guru, maka Mrs. Abigail harus merapikan semua ruangan." Ucap Albert sambil terkekeh. Anak-anak dikelas Jovian memang sangat aktif terutama Baixian, astaga bahkan selain tidak bisa diam Baixian juga sangat berisik. Untung mereka sangat menggemaskan.

"Nanti Jovian sampaikan pada teman-teman dikelas oke? Jika kalian mau Mr. Albert akan memberikan hadiah pada kalian semua." 

"Bagaimana jika kami tidak menang?" Tanya Lucas dan Joviann mengangguk imut.

"Kalah dan menang adalah urusan terakhir, Mr. Albert akan memberikan hadiah walaupun kalah karena kalian ingin berjuang."

"Mrs. Abigail juga akan memberikan hadiah pada kalian lho.." Ucap Erika yang tiba-tiba ikut dalam pembicaraan mereka 

Abigail yang mendengar itupun melotot tak percaya pada temannya, Erika benar-benar membuat dirinya terjebak bersama sekumpulan bocah manis nantinya.

"Hei--"

"Benarkah Mrs. Abigail?" Tanya Jovian dengan mata bulatnya yang berbinar bahagia membuat Abigail tidak tega mengatakan jika itu bohong.

"Itu benar! Jovian-nie dan teman-teman akan mendapatkan hadiah dari kita!" Ucapnya membuat Jovian dan Lucas girang.

"Aku mau!" pekik Jovian.

"Aku juga!!" ucap Lucas menimpali.

"Baik, ajak teman-teman kalian oke?"

Mama pasti senang jika mendengar Jovian terpilih menjadi peserta lomba lari di Korea dengan teman-temannya, Jovian berjanji akan berusaha keras untuk memenangkan lomba itu dan membuat Mama bangga!!


Bab terkait

  • Hug Me Papa   7

    Disebuah ruangan temaram itu terdapat Jovian dan Helena yang sedang saling memeluk satu sama lain, kepala Jovian bersandar di pundak sang ibu dengan tangan dan kakinya melingkar erat di pinggang Helena dan Helena yang menikmati momen seperti ini. Jovian bercerita jika dirinya akan pergi ke Korea Selatan untuk lomba lari disana dengan teman-temannya, Helena sangat bangga dengan itu tetapi tak dipungkiri jika Helena sangat khawatir."Nanti Mama jaga rumah oke? Nanti Mr . Albert akan mengirimkan video Jonvan-nie dan teman-teman!" Ucap Jovian ceria."Apa yakin Mama tidak perlu ikut?" Tanya Helena khawatir dan dijawab dengan gelengan kepala Jovian."No Mama! Lucas, Baixian dan Ace juga tidak diantar dan hanya didampingi oleh Mr. Albert dan Mrs. Erika saja." Jelas Jovia membuat rasa khawatir Helena sedikit berkurang.Albert dan Erika, Helena mengetahui kedua orang tersebut mereka adalah adik tingkatnya dulu yang bahkan satu fakultas dengannya hanya saja Helena tida

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-04
  • Hug Me Papa   8

    "Tolong jaga Jovian.""Baik Mrs. Helena, kami akan menjaga anak-anak."Hari ini Jovian dan teman-temannya berangkat ke Korea Selatan menaiki burung besi, dulu Jovian sering naik pesawat dengan Mama dan Papa untuk pergi berlibur, tetapi saat ini dapat naik pesawat gratis saja sudah sangat bersyukur. Inginnya Jovian mengajak Mama tetapi karena teman-temannya tidak ditemani oleh orang tua dan ibunya harus bekerja membuat Jovian mengurungkan niatnya pun."Jovian jangan nakal disana oke?" Ucap Helena pada JovianJovian mengangguk," Iya Ma!"Jovian dan yang lainnya pun berjalan menuju pesawat, meninggalkan para orang tua murid yang ber dadah ria, Jovian melihat Mama nya tersenyum senang namun itu tak membuat Jovian lega. Jovian tahu jika Mama nya sangat mengkhawatirkannya dan mungkin Mama khawatir jika Jongin bertemu Papa yang meninggalkan Mama.Saat di pintu masuk pesawat Jovian menoleh dan melambaikan tangannya pada Helena yang terus menatap pun

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-04
  • Hug Me Papa   9

    Albert, Erika dan Abigail panik bukan main disaat dua anak didiknya hilang, bahkan Abigail sudah melapor pada pihak sekolah agar mengumumkan berita kehilangan dua bocah menggemaskan itu. Lucas terus saja menangis menyebut nama Jovian dan Ace yang terisak karena melihat orang-orang disekelilingnya panik, dia baru saja bangun dan duduk lalu gurunya sudah memekik panik ditambah Lucas menangis. Hei- dia tidak tahu apa-apa dan tingkah mereka membuatnya takut."Lucas jangan menangis, Jovian dan Baixian akan ketemu." Ucap Erika menenangkan bocah berdarah German itu."Benar! Jovian dan Baixian pasti ada di sekitar sekolah dan tidak akan hilang jauh." Tambah Albert menenangkan bocah yang meraung karena panik itu."Tapi kan sekolah ini luas, bagaimana jika mereka berdua tidak ketemu?" Tanya Ace dengan polosnya membuat tangis Lucas semakin keras.Abigail dan Albert meringis melihat kelakuan anak didiknya, sangat polos ucapannya namun sangat merepotkan dampaknya.

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-04
  • Hug Me Papa   10

    Setelah lomba lari di Korea Selatan berakhir Jovian tak pernah absen untuk selalu menggosip ria dengan Baixian tentang Sean, sejujurnya Jovian sedikit rindu, tidak-tidak! Sangat rindu! Melihat wajah Sean sama seperti melihat wajah ayahnya, dan itu membuat Jovian tersenyum sendiri memikirkan momen-momen menyenangkan dengan ayahnya dulu.Minggu depan Jovian naik kelas dan usia Jovian pun sudah menginjak 12 tahun, namun Jovian sedih mengingat Helena yang sekarang mulai sakit-sakitan, Mama bilang dia hanya kelelahan biasa tapi Jovian tak percaya saat dia melihat satu plastik penuh berisi obat-obatan dan Helena semakin kurus."Jovian, angkat karung berisi timun itu.""Baik paman."Sinar matahari yang terik tak menghentikan kegiatan Jovian yang sedang mengangkut karung-karung sayuran, sebentar lagi paman Kris akan pindah ke China dan menetap disana untuk mengurus pasar milik ayahnya dan hal itu membuat anak buahnya kerepotan dengan mengurus hal-hal yang

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-04
  • Hug Me Papa   11

    Jovian berlari kencang dengan perasaan khawatir, paman Ken bilang sang ibu tiba-tiba jatuh pingsan saat bekerja dengan darah yang keluar dari hidungnya. Akhir-akhir ini pun Jovian merasa jika Helena tidak baik-baik saja, Mama nya selalu menyembunyikan kesedihan bahkan rasa sakit yang di dera nya Helena tidak mau membaginya dengan Jovian.Tuhan, apa tidak cukup Papa saja yang meninggalkan ku? Apa kau juga akan mengambil Mama?Jovian menghampiri Ken yang berdiri di depan pintu unit gawat darurat, melempar ranselnya sembarangan."Paman, bagaimana dengan Mama?" Tanya Jovian dengan wajahnya yang terlihat khawatir.Ken menggeleng dan mengusap pucuk kepala Jovian, dulu Jovian sangat kecil saat pertamakali dibawa ke ladang dan sekarang Jovian sudah tinggi."Paman tidak tahu." Jawab Ken ragu, Helena menderita kanker otak dan dia tidak bisa memberi tahu keadaan Helena pada Jovian karena Ken sudah berjanji pada wanita cantik itu untuk tidak memberi tahu hal

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-04
  • Hug Me Papa   12

    Hari demi hari berlalu dan Helena semakin memburuk, masalah ekonomi yang melanda mereka membuat Jovian berhenti sekolah dan mau tidak mau harus bekerja sebagai pengantar roti dan susu hingga menjadi office boy di sebuah toko. Jovian tidak mengeluh sedikitpun, dia rela asalkan Helena sembuh seperti semula walaupun hanya ada setitik cahaya harapan tapi Jovian tidak ingin memadamkan nya.Jovian tidak lagi bekerja di ladang milik Kris karena pasar dan kebun mereka pindah ke Shanghai hingga Jovian terpaksa harus mencari pekerjaan lain. Tidak ada paman Sam, Lily dan yang lain."Mama cepat sembuh."Jovian mengecup kening ibunya dan meletakkan sebuket bunga yang dia beli di pasar, Jovian ingin sekali membelikan bunga bagus namun tabungannya menipis sedangkan untuk biaya perawatan ibunya itu tidaklah kecil."Jovian?" Suara lirih itu membuat Jovian tersadar dari lamunannya, menoleh dan menemukan sang ibu tersenyum lemah di brankar rumah sakit membuat hati Jovian

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-04
  • Hug Me Papa   13

    "Terimakasih." Jovian melambaikan tangannya pada pembeli susu, hembusan nafasnya tersengal namun tak melunturkan senyuman manis nya, Jovian bersyukur karena pembeli susu bertambah.Jovian mendongakkan wajahnya ke langit, hari yang cerah. Jovian menyukai birunya langit cerah namun tidak dengan panasnya. Sudah satu bulan semenjak Jovian mengirim surat pada ayahnya namun tak kunjung dibalas, Jovian tersenyum miris memikirkan itu, entah karena ayahnya tidak mau membantunya atau tidak membaca surat darinya dan berakhir Jovian yang meminjam uang pada seseorang dan Jovian bersyukur karena masih ada yang mau membantunya."Papa pasti sedang repot." Gumam Jovian mencoba berfikir positif dan melanjutkan langkahnya untuk menjual susu yang masih tersisa.Jovian mengamati sekitarnya berharap ada seseorang yang membuang baju atau pakaian yang masih layak, Jovian bahkan tidak sempat memperhatikan penampilannya karena terdesak oleh ekonomi dan pengobatan ibunya yang tak sedik

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-04
  • Hug Me Papa   14

    Jovian berlari sekuat mungkin untuk segera sampai di rumah sakit, kata bibi Marry pemilik tempat Jovian bekerja ibunya sedang kritis. Jovian tidak memiliki ponsel bahkan sekalipun yang murah karena Jovian tidak punya uang lebih, jadi bibi Marry berbaik hati untuk menjadi perantara antara Jovian dan Dokter yang mengurus Helena."Mama..." Jovian melirih, air matanya sudah menggenang di pelupuk hingga membuat pandangan Jovian memburam."Aku mohon jangan...""Jangan ambil Mama."Meracau tak jelas dengan air mata mengalir membuat Jovian menjadi tontonan orang yang sedang berlalu lalang namun Jovian tidak peduli, apapun itu asalkan dia tepat waktu untuk menemui ibunya.Nafasnya tersengal dan dadanya bergemuruh saat netranya melihat gedung rumah sakit tempat Helena dirawat, Jovian segera berlari menuju ruangan ibunya dan bertemu dengan salah satu dokter yang baru saja keluar dari kamar rawat Helena."Dokter!""Bagaimana dengan Mama?" Ta

    Terakhir Diperbarui : 2021-04-04

Bab terbaru

  • Hug Me Papa   17

    Lorong itu sangat gelap, pengap dan tidak ada cahaya matahari yang masuk selain ventilasi udara di atas sana. Jovian menghela nafasnya berat, dalam hatinya terus bergumam jika keputusannya ini tidak salah. Jovian rela menukar apapun asalkan ibunya sembuh, seperti saat ini. Jovian akan meminjam uang kepada Mafioso dari China untuk pengobatan sang ibu, tak peduli keselamatan nyawanya terancam sekalipun."Kau sudah menungguku anak muda?" Suara berat itu terdengar dari belakan tubuh Jovian.Ketukan sepatu pantofel terdengar menggema membuat bulu kuduk Jovian meremang, dengan gugup Jovian meremas tangannya yang berkeringat itu dengan kuat. Matanya terpejam agar tidak takut, dan perlahan bola mata coklat itu terbuka, melihat pria berbadan besar yang menatapnya dengan seringai bengis."Saya Jovian." Ucap Jovian, dia berusaha menutupi ketakutannya."Ya aku tahu, apa yang kau butuhkan? Aku salut dengan keberanian mu mendatan

  • Hug Me Papa   16

    "Surat lagi? Wanita itu benar-benar tidak tahu malu!" Sepucuk surat yang sedikit lecek itu terlempar le pojok ruang kerja milik William, pria itu mendesis marah saat melihat nama yang membuatnya sesak itu tertulis di surat itu. Jangankan untuk membacanya membuka surat itu saja saranya William tidak sudi! Helena, wanita yang meninggalkan luka dihatinya itu sudah dua kali mengirimkan surat ke alamat rumahnya. William menyeringai sinis, ternyata mantan istrinya itu memang mempunyai nyali yang besar untuk membuang harga dirinya seperti ini. "Kau pikir aku bodoh? Semua wanita sama saja! Uang dan uang bahkan istriku juga." ucap William sambil memukul meja kerjanya. Mendengus saat memikirkan mengapa mantan istrinya mengirimkan surat setelah bertahun-tahun berpisah, apa laki-laki barunya jatuh miskin? Atau Helena dicampakkan sampai jatuh miskin? Memikirkan itu membuat William khawatir dengan putranya Jovian pasti dia sangat menderita.

  • Hug Me Papa   15

    Jovian menguap dan meregangkan persendiannya, menatap jam dinding yang menunjukan pukul 12 malam.Menatap sepucuk surat yang sudah ditulis oleh ibunya yang sudah rapi dan tinggal dikirim ke kantor pos nanti, sejujurnya Jovian sangat ingin membaca surat itu namun melihat gelagat Helena seperti merahasiakan sesuatu darinya membuat Jovian urung. Jovian hanya berfikir positif jika apa yang ibunya tulis bukanlah sesuatu yang akan membuatnya sedih.Apa papa akan membalas nya? gumam Jovian meremat kertas itu.Jovian sudah sering memberikan harapan palsu pada ibunya dan Jovian tak suka itu, membuat Helena kecewa itu sangat buruk bagi Jovian. Mengapa Mama ingin bertemu Papa? Dan mengapa suratnya tak dibalas oleh William saat itu? Banyak pertanyaan yang berkumpul di otaknya namun tak sanggup menanyakan hal itu pada ibunya, Jovian tak ingin membuat Helena merasa tak nyaman.Aku harap Papa membalasnya. ucap Jovian dan memasukan surat itu pada ransel yang selalu ia bawa.

  • Hug Me Papa   14

    Jovian berlari sekuat mungkin untuk segera sampai di rumah sakit, kata bibi Marry pemilik tempat Jovian bekerja ibunya sedang kritis. Jovian tidak memiliki ponsel bahkan sekalipun yang murah karena Jovian tidak punya uang lebih, jadi bibi Marry berbaik hati untuk menjadi perantara antara Jovian dan Dokter yang mengurus Helena."Mama..." Jovian melirih, air matanya sudah menggenang di pelupuk hingga membuat pandangan Jovian memburam."Aku mohon jangan...""Jangan ambil Mama."Meracau tak jelas dengan air mata mengalir membuat Jovian menjadi tontonan orang yang sedang berlalu lalang namun Jovian tidak peduli, apapun itu asalkan dia tepat waktu untuk menemui ibunya.Nafasnya tersengal dan dadanya bergemuruh saat netranya melihat gedung rumah sakit tempat Helena dirawat, Jovian segera berlari menuju ruangan ibunya dan bertemu dengan salah satu dokter yang baru saja keluar dari kamar rawat Helena."Dokter!""Bagaimana dengan Mama?" Ta

  • Hug Me Papa   13

    "Terimakasih." Jovian melambaikan tangannya pada pembeli susu, hembusan nafasnya tersengal namun tak melunturkan senyuman manis nya, Jovian bersyukur karena pembeli susu bertambah.Jovian mendongakkan wajahnya ke langit, hari yang cerah. Jovian menyukai birunya langit cerah namun tidak dengan panasnya. Sudah satu bulan semenjak Jovian mengirim surat pada ayahnya namun tak kunjung dibalas, Jovian tersenyum miris memikirkan itu, entah karena ayahnya tidak mau membantunya atau tidak membaca surat darinya dan berakhir Jovian yang meminjam uang pada seseorang dan Jovian bersyukur karena masih ada yang mau membantunya."Papa pasti sedang repot." Gumam Jovian mencoba berfikir positif dan melanjutkan langkahnya untuk menjual susu yang masih tersisa.Jovian mengamati sekitarnya berharap ada seseorang yang membuang baju atau pakaian yang masih layak, Jovian bahkan tidak sempat memperhatikan penampilannya karena terdesak oleh ekonomi dan pengobatan ibunya yang tak sedik

  • Hug Me Papa   12

    Hari demi hari berlalu dan Helena semakin memburuk, masalah ekonomi yang melanda mereka membuat Jovian berhenti sekolah dan mau tidak mau harus bekerja sebagai pengantar roti dan susu hingga menjadi office boy di sebuah toko. Jovian tidak mengeluh sedikitpun, dia rela asalkan Helena sembuh seperti semula walaupun hanya ada setitik cahaya harapan tapi Jovian tidak ingin memadamkan nya.Jovian tidak lagi bekerja di ladang milik Kris karena pasar dan kebun mereka pindah ke Shanghai hingga Jovian terpaksa harus mencari pekerjaan lain. Tidak ada paman Sam, Lily dan yang lain."Mama cepat sembuh."Jovian mengecup kening ibunya dan meletakkan sebuket bunga yang dia beli di pasar, Jovian ingin sekali membelikan bunga bagus namun tabungannya menipis sedangkan untuk biaya perawatan ibunya itu tidaklah kecil."Jovian?" Suara lirih itu membuat Jovian tersadar dari lamunannya, menoleh dan menemukan sang ibu tersenyum lemah di brankar rumah sakit membuat hati Jovian

  • Hug Me Papa   11

    Jovian berlari kencang dengan perasaan khawatir, paman Ken bilang sang ibu tiba-tiba jatuh pingsan saat bekerja dengan darah yang keluar dari hidungnya. Akhir-akhir ini pun Jovian merasa jika Helena tidak baik-baik saja, Mama nya selalu menyembunyikan kesedihan bahkan rasa sakit yang di dera nya Helena tidak mau membaginya dengan Jovian.Tuhan, apa tidak cukup Papa saja yang meninggalkan ku? Apa kau juga akan mengambil Mama?Jovian menghampiri Ken yang berdiri di depan pintu unit gawat darurat, melempar ranselnya sembarangan."Paman, bagaimana dengan Mama?" Tanya Jovian dengan wajahnya yang terlihat khawatir.Ken menggeleng dan mengusap pucuk kepala Jovian, dulu Jovian sangat kecil saat pertamakali dibawa ke ladang dan sekarang Jovian sudah tinggi."Paman tidak tahu." Jawab Ken ragu, Helena menderita kanker otak dan dia tidak bisa memberi tahu keadaan Helena pada Jovian karena Ken sudah berjanji pada wanita cantik itu untuk tidak memberi tahu hal

  • Hug Me Papa   10

    Setelah lomba lari di Korea Selatan berakhir Jovian tak pernah absen untuk selalu menggosip ria dengan Baixian tentang Sean, sejujurnya Jovian sedikit rindu, tidak-tidak! Sangat rindu! Melihat wajah Sean sama seperti melihat wajah ayahnya, dan itu membuat Jovian tersenyum sendiri memikirkan momen-momen menyenangkan dengan ayahnya dulu.Minggu depan Jovian naik kelas dan usia Jovian pun sudah menginjak 12 tahun, namun Jovian sedih mengingat Helena yang sekarang mulai sakit-sakitan, Mama bilang dia hanya kelelahan biasa tapi Jovian tak percaya saat dia melihat satu plastik penuh berisi obat-obatan dan Helena semakin kurus."Jovian, angkat karung berisi timun itu.""Baik paman."Sinar matahari yang terik tak menghentikan kegiatan Jovian yang sedang mengangkut karung-karung sayuran, sebentar lagi paman Kris akan pindah ke China dan menetap disana untuk mengurus pasar milik ayahnya dan hal itu membuat anak buahnya kerepotan dengan mengurus hal-hal yang

  • Hug Me Papa   9

    Albert, Erika dan Abigail panik bukan main disaat dua anak didiknya hilang, bahkan Abigail sudah melapor pada pihak sekolah agar mengumumkan berita kehilangan dua bocah menggemaskan itu. Lucas terus saja menangis menyebut nama Jovian dan Ace yang terisak karena melihat orang-orang disekelilingnya panik, dia baru saja bangun dan duduk lalu gurunya sudah memekik panik ditambah Lucas menangis. Hei- dia tidak tahu apa-apa dan tingkah mereka membuatnya takut."Lucas jangan menangis, Jovian dan Baixian akan ketemu." Ucap Erika menenangkan bocah berdarah German itu."Benar! Jovian dan Baixian pasti ada di sekitar sekolah dan tidak akan hilang jauh." Tambah Albert menenangkan bocah yang meraung karena panik itu."Tapi kan sekolah ini luas, bagaimana jika mereka berdua tidak ketemu?" Tanya Ace dengan polosnya membuat tangis Lucas semakin keras.Abigail dan Albert meringis melihat kelakuan anak didiknya, sangat polos ucapannya namun sangat merepotkan dampaknya.

DMCA.com Protection Status