“Bu, maaf. Tadi teh Bapak telepon, katanya minta diambilin dokumen, ada yang ketinggalan di meja ruang kerjanya. Saya diminta buat cariin dan kirim pakai kurir.” Atik mendekati Falisha, masih dengan koyo menempel di pelipis kanan dan kirinya.
“Tapi, Bi, apa aman kalau dikirim pakai kurir?” Falisha menghentikan aktivitas sejenak, kemudian memperhatikan Atik yang terlihat sedikit pucat.
“Nah, itu, Bu. Saya juga khawatir. Biasanya kan ada orang dari kantor yang ambilin misal ada yang ketinggalan,” terang Atik.
Falisha baru menulis satu bab cerita untuk novel yang sedang dia publikasikan dalam bahasa Inggris. Namun, dia tidak bisa membiarkan dokumen Arka diantar kurir ke kantor, khawatir jika dokumen itu penting dan tidak aman dalam perjalanan.
“Kalau gitu biar saya aja yang anterin ke kantor, Bi. Bibi bisa kembali istirahat.”
“Syukurlah kalau gitu. Saya jadi lega, Bu. Makasih banyak ya, Bu, udah mau bantu.”
Falisha mengulas senyum. “Saya yang harusnya berterima kasih sama Bibi karena udah kasih tahu.”
Atik mengangguk-angguk. “Iya, Bu, sama-sama. Karena udah ada Bu Falisha, kalau saya tiba-tiba masuk ruang kerja Bapak kan enggak etis meski Bapak yang minta. Oh ya, alamat kantornya, kalau Bu Falisha belum tahu, nanti bisa lihat di meja kerja Bapak, biasanya ada kartu nama Bapak di situ.”
“Nanti saya cari ya, Bi.” Falisha mengangguk-angguk.
Usai menyampaikan keluh kesahnya, Atik pun segera menjauh dari Falisha, sedangkan Falisha sendiri lekas membereskan barang-barang miliknya yang dibawa ke gazebo sejak beberapa jam yang lalu.
Sejak memasuki kediaman keluarga Arkatama, Falisha lebih banyak menghabiskan waktu di gazebo begitu suaminya berangkat ke kantor. Di sana, Falisha mengerjakan tugasnya sebagai penulis online, dan juga mengedit beberapa desain gambar pesanan customer.
Alih-alih terikat dengan sebuah perusahaan atau semacamnya, Falisha justru lebih asyik menjalani hobby-nya sebagai penulis yang memang bisa dikerjakan sewaktu-waktu tanpa harus mengikuti sebuah aturan perusahaan yang sudah pasti lebih mengikat. Terlebih, Falisha adalah seorang introvert yang merasa sulit untuk menghambur, sehingga bekerja secara individu lebih dia sukai.
Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB, sehingga muncul ide dalam benak Falisha, hendak membeli sesuatu untuk makan siang suaminya. Namun, Falisha belum banyak tahu tentang makanan apa yang disukai Arka untuk makan siang.
Me:
Arsya, maaf ganggu sebentar. Kakak mau tanya. Biasanya kalau siang, Mas Arka sukanya makan apa? Ada dokumen Mas Arka yang ketinggalan di rumah dan Kakak mau anter ke kantor, rencananya sekalian beliin makan siang buat Mas Arka. Tolong kasih tahu Kakak, ya, Arsya. Makasih.
Siapa lagi yang bisa diharapkan Falisha selain Arsya? Lagi pula untuk saat ini, Falisha merasa, hanya Arsya yang bisa membantunya dalam hal ini. Dia tidak mungkin mengganggu Atik yang mungkin sudah kembali ke kamarnya untuk istirahat lantaran belum sembuh dari sakitnya, sementara Nia belum kembali ke kediaman Arkatama.
Arsya:
Kakak naik apa ke kantor Kak Arka? Jarak kantor dari rumah lumayan jauh. Kakak yakin, mau ke sana? Apa Kak Arka enggak minta orang kantor buat ambil dokumen ke rumah?
Me:
Tadi Bi Atik bilang, Mas Arka minta dokumennya dianter pakai kurir, tapi Kakak kurang yakin kalau itu aman. Jadi Kakak anter sendiri aja sekalian bawa makan siang buat Mas Arka.
Arsya:
Kalau gitu Kakak tunggu aku, biar aku yang anter ke kantor, ya?
Me:
Enggak usah, Arsya. Kakak udah mau siap-siap dan sebentar lagi berangkat. Jadi Arsya tinggal kasih tahu Kakak aja, biasanya Mas Arka kalau makan siang, sukanya makan apa? Kakak tunggu, ya.
Falisha menambahkan emoticon senyum dalam pesan yang dikirimnya untuk Arsya. Sebentar kemudian, adik iparnya itu membalas pesan dan memberi tahu menu makan siang kesukaan Arka.
Seulas senyum terkembang di bibir Falisha. Perempuan itu segera bersiap dan menuju kantor Arka dengan taksi online yang sudah dipesan. Tidak lupa, Falisha singgah sebentar di sebuah restoran, membelikan makan siang kesukaan sang suami, berharap Arka bisa perlahan membuka hati untuknya.
Setibanya di kantor, Falisha mendekati meja resepsionis terlebih dahulu untuk mencari tahu di mana ruang kerja Arka berada.
“Selamat siang, maaf, kalau boleh tahu, ruang kerja Pak Arka di sebelah mana, ya?” sapa Falisha dengan ramah.
“Maaf, apa sudah ada janji?” Petugas resepsionis justru kembali bertanya dan melihat Falisha menggeleng. “Maaf, kalau begitu, Ibu tidak bisa menemui Pak Arka,” lanjutnya yang membuat Falisha mengerutkan dahi.
“Kenapa enggak bisa?”
“Karena siapa pun yang ingin menemui Pak Arka, harus sudah ada janji terlebih dahulu dan ini adalah pesan langsung dari beliau.” Resepsionis menjelaskan.
Falisha mengangguk-angguk dengan bibir membentuk huruf O. “Jadi, istrinya pun enggak dikasih izin buat masuk ke ruangan Pak Arka karena belum ada janji, gitu?”
“Ma—maaf. Jadi Ibu istrinya Pak Arka? Sekali lagi saya mohon maaf,” ujar resepsionis yang mendadak tidak enak hati. Belum lama ini, dia memang mendengar Arkatama akan menikah, tetapi tidak tahu dengan siapa dan seperti apa rupa calon istrinya karena memang, pernikahan Falisha dengan Arkatama hanya dihadiri oleh keluarga.
Usai terjadi drama singkat itu, resepsionis pun memberi tahu Falisha arah menuju ruang kerja suaminya. Falisha bergegas melangkah ke sana tanpa menunggu lebih lama.
Setibanya di depan ruang kerja yang dicari, Falisha mendengar suara seorang perempuan, tepat ketika tangannya sudah terangkat, hendak mengetuk pintu.
Sama siapa Mas Arka di dalem? Apa itu sebabnya, Mas Arka enggak mau ketemu siapa pun tanpa buat janji temu lebih dulu?
Batin Falisha mendadak bergemuruh. Istri Arkatama itu mulai gelisah. Namun, dia tetap menguatkan tekad untuk memasuki ruang kerja suaminya. Beberapa kali Falisha mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban, hingga perempuan itu pun meraih handle pintu dan membukanya perlahan.
Paper bag berisi makanan dan dokumen milik Arka yang sedari tadi berada di tangan Falisha, terjatuh begitu saja saat tatap matanya menangkap sosok laki-laki yang dicintai tengah beradu bibir dengan perempuan yang tidak dikenalnya.
“Falisha? Ngapain kamu di situ?” Arkatama terkejut, begitu juga perempuan berpenampilan elegan yang sedang bersamanya.
Falisha tidak tahu harus menjawab apa. Bibirnya masih terkatup rapat saking terkejutnya melihat adegan mesra yang dilakukan suaminya dengan perempuan lain. Wajahnya memanas, badannya pun bergetar hebat.
“Kak Falisha? Kenapa, Kak?” Arsya yang baru saja datang, keheranan melihat reaksi Falisha. Namun, setelah menangkap sosok di samping Arka, dia pun tahu apa yang tengah terjadi.
“Arsya, bawa dia pulang!” titah Arka sembari menuding ke arah istrinya.
“Sebagai suami yang baik, harusnya Kakak sambut kedatangan istri Kakak dengan baik juga. Dia udah bela-belain buat beliin Kakak makan siang, tapi apa balesannya?”
“Arsya, ini bukan urusan kamu!” Arka tampak murka.
Falisha yang tidak sanggup melihat amarah sang suami pun segera berbalik badan, menjauh dari ruang kerja Arkatama dengan tangis yang mulai pecah.
“Kak Fal, tunggu!” Arsya berteriak memanggil kakak iparnya, tetapi Falisha terus berjalan tanpa menghiraukan siapa pun yang melihatnya.
Fal yang salah. Fal yang udah ngerusak hubungan mereka. Fal yang udah ambil Mas Arka dari perempuan itu. Jadi enggak salah, kan, kalau kemungkinan besar, Mas Arka benci Fal karena udah menjadi penghalang hubungan mereka?
“Kita di mana, Arsya?”Falisha terbangun dan melihat sekitar. Pemandangan hijau di hadapan tertangkap indra penglihatan. Perempuan itu tidak sengaja tertidur setelah lelah menangis dalam perjalanan usai Arsya membawanya bertolak dari kantor.“Di hatimu.”Jawaban asal Arsya membuat Falisha menoleh ke arah lelaki yang masih terduduk di balik kemudi. Terlihat senyum tipis terukir di bibirnya.“Arsya ....” Falisha menghela napas panjang. Kedua matanya masih terlihat sembab.Laki-laki yang disebut namanya itu tidak segera membalas ucapan singkat Falisha. Dia justru meraih tisu dari dasbor dan menggunakannya untuk menghapus sisa-sisa air mata Falisha.“Fal bisa sendiri, Arsya. Mmm ... maaf, tapi Kakak bisa sendiri.” Falisha mengambil tisu dari tangan Arsya. “Maaf, kalau udah ngerepotin, Arsya.”“Fal?” Arsya menggumam sembari mengalihkan pandang dari Falisha. “Kenapa enggak aku-kamu aja sih, Kak? Kenapa harus selalu sebut nama?”Falisha tertunduk. “Udah biasa begini, apa ... Arsya enggak suka
Malam sudah larut, tetapi Falisha tidak kunjung bisa memejamkan mata. Dalam benaknya masih teringat jelas kata-kata yang diucapkan Arkatama sore tadi.Apa Mas Arka bener-bener enggak bisa terima pernikahan ini? Lalu apa yang harus Fal lakuin, sementara Mas Arka secara terang-terangan bilang kalau dia enggak menginginkan Fal?Bulir bening luruh dari kedua sudut mata. Falisha merasa kalut dan tidak tahu harus melakukan apa.Gimana kalau sampai Bude tahu yang terjadi sebenarnya? Bude pasti bakal sedih dan kecewa, kan?Falisha mengusap air matanya dengan punggung tangan. Dalam kamarnya yang gelap, dia berniat menuju kamar mandi dan baru menyadari bahwa Arka sedang tidak berada dalam ruangan tersebut. Sofa yang biasa ditiduri Arka terlihat kosong dengan selimut berserak di lantai.Di mana Mas Arka? Kenapa jam segini enggak ada di kamar?Perlahan, Falisha bangkit dari tempat tidur. Dia mencari sosok Arka, tetapi di balkon kamar pun tidak ditemukan keberadaan sang suami, sehingga Falisha mem
“Nanti sore Arsya bakal anter kamu ke salon. Ada acara penting sama para investor nanti malem dan kamu harus ikut.”Arka mengucapkan kalimat itu ketika Falisha baru saja meletakkan jas yang hendak dipakainya di atas tempat tidur, tidak jauh dari cermin di mana laki-laki mematut diri. Satu hal yang membuatnya terpaksa, karena pernikahannya dengan Falisha yang sengaja dirahasiakan dari khalayak ramai, akhirnya terbongkar karena Falisha tiba-tiba mendatanginya ke kantor.Di samping itu, Arka semakin kesal ketika Falisha sudah mengganggunya saat tengah memadu kasih dengan Sabrina yang baru saja datang untuk mengajaknya makan siang.“Tapi, bukannya ... kemarin Mas Arka bilang, Fal—”“Terlanjur.” Arka memotong. Lelaki itu membalikkan badan, menghadap Falisha, lalu menatapnya dengan tatap dingin dan angkuh. “Gara-gara kamu seenaknya dateng ke kantor, semua jadi tahu kalau aku udah nikah, jadi kamu harus terima konsekuensinya!”Tunggu! Apa yang dikatakan Arka? Falisha mengerutkan dahi.“Konse
“Pak, lihat mobil di depan, enggak? Tadi Fal ... eh, saya pesan taksi online, katanya udah di depan, kok enggak ada, ya?”Falisha sedang terburu-buru, tetapi mendadak ada kendala yang tidak diprediksi. Dia tidak ingin terlambat sampai di kantor Arka sebelum lelaki itu membawanya ke acara makan malam bersama para investor. Namun, taksi online yang katanya sudah berada di depan pagar kediaman Wilis, tidak terlihat sama sekali.“Oh, jadi tadi itu taksi online yang Bu Falisha pesan? Anu, Bu, tadi—”"Aku udah bayar taksinya dan kusuruh pergi." Arsya memotong sebelum satpam yang biasa berjaga di rumahnya selesai menjelaskan.Adik ipar Falisha itu tampak rapi dengan kemeja hitam yang dikenakan. Terlihat jelas pose badannya yang atletis, telah mengundang perhatian Falisha. Ada debar tidak biasa yang mendadak dirasakan perempuan itu saat menatap Arsya."Masuk, Kak! Kak Arka kan minta aku anterin Kakak. Kenapa harus pesen taksi online segala?" protes Arsya sembari membukakan pintu mobil untuk F
Falisha membuka mata dengan berat, kemudian mengerjap perlahan. Sinar matahari pagi menerobos masuk ke dalam kamar melalui celah gorden yang sedikit terbuka dan tepat mengenai wajah cantiknya."I love you, Falisha."Bisikan lembut yang begitu lirih semalam, berhasil membuat Falisha menyunggingkan senyum tipis sebelum dirinya benar-benar tersadar.Jemari mungil Falisha tergerak untuk membuka selimut yang menutup badan, dan senyum itu kembali menghiasi wajah. Rasanya masih seperti mimpi ketika dia merasakan sentuhan lembut yang dia inginkan sejak awal pernikahan.Falisha menjadi semakin yakin, usahanya untuk mengambil hati Arka tidak akan berakhir sia-sia. Namun, bibir Falisha mendadak datar ketika mengingat, Sabrina juga hadir dalam acara makan malam suaminya dan entah minuman apa yang diberikan perempuan itu kepadanya sebelum akhirnya, Falisha mendadak tidak sadarkan diri dan tiba-tiba terbangun dalam kamarnya yang gelap.It's okay, Falisha. Enggak ada yang perlu dipikirkan, karena ny
“Jangan berani-berani sentuh Falisha!”Arsya dengan sigap menangkap pergelangan tangan seorang perempuan yang hendak menampar Falisha. Dengan terpaksa dia harus memasuki toilet khusus perempuan, karena saat Falisha melenggang menuju ke sana, dia tidak sengaja melihat Nabila mengikuti Falisha.Rasa khawatir terhadap Falisha pun membawa langkah Arsya menyusul Falisha ke toilet perempuan. Beruntung, tidak ada siapa pun di sana, sehingga Arsya tidak menjadi bulan-bulanan kaum hawa.Nabila, perempuan yang sempat disebut-sebut Arkatama beberapa hari lalu, tersenyum miring. “Siapa tadi? Falisha?”Arsya merengkuh bahu Falisha ke dalam rangkulan. “Jangan pernah ganggu dia, atau kamu akan berurusan sama aku!”“Wah, wah, wah ... segitunya kamu cinta sama dia, Arsya? Kamu bukan cuma nolak aku, tapi sikap kamu ....” Nabila sengaja menggantung kalimat. Perempuan itu melipat kedua tangan di depan dada.“Aku emang cinta sama dia dan enggak ada yang bisa ganti posisi Falisha di hati aku!”Mendengar ka
“Selamat pagi, Sayang. Gimana kabar kamu? Sehat?”Pagi ini, Falisha dikejutkan dengan keberadaan Salma di dapur. Seingatnya, Salma mengatakan akan pergi cukup lama, tetapi entah kenapa wanita itu sudah kembali, padahal belum ada seminggu dia pergi.“Mama? Mama jam berapa datangnya?” Falisha mendekati mama mertuanya yang segera disambut dengan pelukan hangat. Indra penciumannya menghidu aroma parfum yang memang biasa dipakai Salma, pertanda wanita itu sudah mandi dan mungkin hendak pergi sebentar lagi.“Jam berapa, ya? Kalau enggak salah jam satu, rumah udah sepi, jadi Mama sama Papa diem-diem aja masuk kamar, biar enggak bangunin semua yang udah pada istirahat.” Salma menjawab dengan senyum yang tidak kalah hangat.Jika dilihat-lihat dari mimiknya, Falisha yakin, Salma dan Wilis tulus menyayanginya seperti yang pernah mereka katakan. Lalu, bagaimana dengan Arka? Apakah hanya lelaki itu saja yang tidak bisa menerima Falisha dengan lapang dada, karena tidak menginginkan untuk menikah de
Setelah dua mingguan sibuk ke sana-kemari mengurus berbagai keperluan, akhirnya Falisha tiba di Negeri Singa seperti yang dia harapkan, berdua saja dengan Arka.Tidak apa, meski beberapa hari setelahnya, Salma dan yang lain akan menyusul mereka, setidaknya Falisha memiliki waktu beberapa hari untuk quality time bersama sang suami. Falisha sangat berharap, Arkatama akan luluh dan perlahan membuka hati untuknya, melupakan Sabrina yang tidak seharusnya diperlakukan lebih manis mengingat status perempuan itu yang seharusnya dijauhi Arka."Mas capek? Mau Fal pijitin?" Falisha menawarkan ketika mereka baru saja memasuki apartemen, dan dilihatnya Arka duduk menyandarkan punggung pada sandaran sofa, tampak kelelahan.Tidak disangka, Arka menepuk-nepuk bahu sisi kanan dan kiri, memberikan kesempatan Falisha untuk melayani sang suami."Boleh pijit bagian sini," ucap Arka sesaat kemudian.Tentu saja Falisha mengangguk senang. Untuk pertama kali setelah menjadi istri Arka, lelaki itu membiarkan
Cahaya putih dari lampu ruangan sedikir menyilaukan ketika Falisha perlahan membuka mata. Bau antiseptik menyengat, dan sensasi dingin dari infus yang menempel di pergelangan tangan membuat Falisha tersadar di mana dirinya berada sekarang.Falisha mengerjapkan mata, kemudian menoleh ke sisi tempat tidur.Arsya. Laki-laki itu tengah tertidur di sisi brankar, dengan kepala bersandar pada lengannya sendiri, sementara tangannya tidak melepas genggamannya pada jemari Falisha.Falisha memperhatikan wajah Arsya yang lebam-lebam, juga luka di sudut bibir yang belum sepenuhnya mengering.Seketika, Falisha teringat dengan pengakuan Arsya beberapa saat sebelum dirinya terbaring di rumah sakit. Benarkah bahwa perempuan yang selama ini dicintai Arsya adalah dirinya? Apa karena itu, Arsya selalu bersikap baik dan penuh perhatian terhadapnya?Tidak terasa, bulir hangat mengalir dari kedua sudut mata Falisha. Secinta itukah Arsya kepadanya sehingga dia rela dihajar Arka habis-habisan? Dan benarkah ap
“Positif?” Falisha ternganga melihat testpack dengan garis dua yang berada dalam genggaman.Perempuan itu tidak menyangka, pernikahannya dengan Arka baru menginjak dua bulan, tetapi Tuhan sudah mempercayakan buah hati kepadanya. Namun, entah kenapa Falisha merasa ada yang kurang.“Bude ... Fal hamil, Bude. Kalau aja Bude masih ada, Bude pasti bahagia, kan?” gumam Falisha lirih.Tidak terasa, bulir hangat mengalir dari kedua sudut mata. Dia baru saja membahas tentang perpisahan dengan Arka, tetapi kenyataan bahwa dirinya sedang berbadan dua membuat Falisha gamang.Apakah itu sebuah pertanda, bahwa Falisha masih harus menjadi istri Arka? Apakah dengan kehamilannya, Arka lantas bisa menerima Falisha sepenuhnya dan merelakan hubungannya dengan Sabrina?Suara ketukan pintu kamar mandi membuyarkan lamunan Falisha. Perempuan itu cepat-cepat menghapus air mata yang membasahi wajah dan segera membuka pintu.“Mana hasilnya?”Falisha sedikit heran melihat raut Arka yang jauh dari kata bahagia. A
“Biar aku yang bawa.” Arsya mengambil koper Falisha tanpa persetujuan pemiliknya.“Tapi, Arsya—““Suami Kakak itu emang enggak gentle. Kenapa masih dibelain terus?” Arsya memperhatikan Falisha dengan menatap kedua netranya secara intens. Sementara di hadapannya, Falisha hanya diam tanpa berkutik.Beberapa jam sebelum tiba di Jakarta, Falisha memang dengan sengaja membela Arka di depan Thalita. Perempuan itu menampik kata-kata Thalita yang sebetulnya benar terjadi.“Arsya, Kakak cuma enggak mau Kak Thalita kepikiran. Arsya tahu sendiri kalau keadaan di sana sedang berkabung. Kakak enggak tega kalau sampai Kak Thalita tahu yang sebenernya. Kakak enggak mau nambahin beban pikiran Kak Thalita.”“Tapi gimana dengan beban pikiran Kakak sendiri?” Satu pertanyaan Arsya membuat Falisha menghela napas panjang. “Kapan Kakak bisa mikir jernih? Bilanglah yang sebenernya ke Kak Thalita biar dia protes ke Mama sama Papa. Biar mereka tahu kalau Kak Arka enggak pernah memperlakukan Kakak dengan baik.”
“Beresi barang-barang kamu dan kita pulang hari ini juga!” titah Arka saat Falisha baru saja memasuki kamar.Sejenak, perempuan yang diajak bicara itu termenung di depan pintu. Dia menatap Arka tanpa suara.“Kenapa, sih, kalau diajak ngomong diem aja? Kamu mulai tuli?” Arka terlihat geram, tetapi masih mencoba untuk menjaga intonasi suara agar tidak terdengar dari luar.Dada Falisha naik turun seiring dengan napasnya yang tidak beraturan. Apa yang dikatakan Arka tadi? Laki-laki itu mempertanyakan apakah dia mulai tuli?Falisha sungguh tidak habis pikir. Dia mengira, sejak perlakuan sebenarnya Arka terhadap dirinya sudah diketahui Salma dan Wilis, laki-laki itu akan berubah. Namun, apa yang diharapkan Falisha ternyata tidak sesuai ekspektasi.Perempuan itu berjalan cepat menuju sisi lemari di mana kopernya berada. Dia pun membereskan semua barang bawaan tanpa terkecuali. Jangan ditanya tentang sedih atau tidaknya. Beberapa menit lalu, Falisha baru saja merencanakan dengan Thalita, mere
“Fal, ayo. Semua udah pergi.” Arka membujuk Falisha yang masih berjongkok di sisi pusara Mirna supaya lekas bangkit. Dia tidak ingin berlama-lama tinggal begitu prosesi pemakaman selesai dilaksanakan.Falisha belum juga bergerak. Perempuan itu tentu merasa sangat kehilangan, karena baginya, Mirna adalah Ibu kedua setelah mamanya meninggal dalam kecelakaan bersama sang Papa. Falisha sangat menyayangi Mirna yang sering memanjakannya seperti anak sendiri.“Fal ....” Arka kembali bersuara karena melihat Falisha hanya bungkam. “Kamu denger, kan?”“Fal masih mau di sini. Mas Arka duluan aja.” Singkat, padat, dan jelas. Falisha sama sekali tidak menoleh saat membalas kalimat suaminya. Wajahnya masih basah dan kedua mata menatap kosong ke arah pusara.Arka mendecak kesal. Bagaimana bisa perempuan itu berucap dengan entengnya? Bisa-bisa dia kena marah Salma karena lagi-lagi akan dianggap tidak perhatian terhadap Falisha, bukan?“Kamu harus lekas istirahat. Atau ... kamu sengaja, nyiksa diri de
“Kakak di sini aja, aku awasi Kakak dari tempat yang intinya Kak Arka enggak akan tahu aku di mana.” Arsya menghentikan langkah begitu mendekati stasiun dan Falisha menurut.Perempuan itu hanya bisa mengangguk. Dia tidak berani banyak bicara karena sempat salah tangkap akan kejadian beberapa menit lalu di mana Arsya menunduk untuk mengambil bulu mata yang dikhawatirkan akan masuk ke mata Falisha.“Kakak yakin, baik-baik aja?” Arsya memastikan, karena Falisha menjadi lebih banyak diam.“Baik, Arsya. Enggak ada yang perlu dikhawatirkan.”“Gimana aku enggak khawatir? Kakak baru aja baikan. Kemarin Kakak demam tinggi seharian.”Perempuan mana yang tidak akan tersentuh hatinya jika ada laki-laki yang begitu memperhatikan dirinya bahkan sampai hal terkecil sekali pun? Falisha betul-betul tidak bisa membalas kalimat Arsya. Dia tidak ingin salah bicara.“Ya udah, aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, aku pasti tonjok lagi mukanya Kak Arka.”“Tapi, Arsya—““Bercanda.” Arsya menyahut cepat sambil
“Minum dulu biar Kakak lebih tenang,” pinta Arsya sambil menyorongkan botol berisi air mineral yang sudah dibuka untuk Falisha. Begitu Arka tidak terlihat, laki-laki itu membawa Falisha menuju Istana Park yang tidak jauh dari Stasiun MRT Orchard.Falisha menerima air mineral pemberian Arsya tanpa menoleh sedikit pun. Tatapannya terlihat kosong.“Kenapa Kakak nolak buat aduin kelakuan Kak Arka ke Mama sama Papa? Kak Arka itu udah keterlaluan sama Kakak. Harusnya dia dikasih pelajaran biar enggak seenaknya.” Arsya menekankan.Perempuan yang diajak bicara tidak menjawab. Pikirannya justru melayang dengan berbagai pertanyaan berkecamuk memenuhi isi kepala.Kalau memang udah ada seseorang yang mengisi hati Arsya, kenapa Arsya masih seperhatian ini sama Fal, Arsya? Jangan buat Fal merasa spesial di mata Arsya. Fal ... ah ... enggak. Fal milik Mas Arka. Iya, seharusnya Arsya biarin Fal menyelesaikan masalah Fal sendiri, Arsya. Bukan begini caranya.Falisha memejam sebentar sembari menggeleng
“Bibir kamu kenapa, Arka?” Salma yang baru saja selesai memasak bersama menantu tercinta, memusatkan perhatian ke arah Arka.Laki-laki itu keluar dari kamar dengan penampilan rapi. Kemeja warna biru laut yang tidak dikancingkan, dipadukan dengan kaus putih yang sedikit menempel di badan membuatnya terlihat lebih cool.“Semalem ada insiden kecil, tapi Mama enggak perlu khawatir.”“Insiden apa? Gimana bisa?”“Segala kemungkinan kan bisa terjadi, Ma. Tapi enggak apa-apa, udah diobatin lukanya sama Falisha, jadi Mama tenang aja.” Arka mendekati meja makan di mana semua keluarga sudah terduduk di sana.“Jangan-jangan kamu berantem.” Wilis menimpali, sambil melipat koran yang tadi menutup wajah.“Kayak anak kecil aja udah setua ini masih berantem, Pa.” Salma tidak percaya.“Ya siapa tahu. Papa kan Cuma nebak aja.” Wilis melipat koran, kemudian meletakkannya di meja. “Ya sudah, yuk, sarapan! Sudah laper Papa gara-gara nungguin Arka.”Wilis membalik piringnya, sementara Salma bergerak cepat m
“Arsya, kenapa? Jawab Kakak. Kenapa Arsya lakuin itu sama Mas Arka?”Arsya menjatuhkan diri di samping Falisha. Dia baru saja terbangun dari alam bawah sadar. Ingin sekali mengaku akan cintanya yang begitu besar untuk perempuan itu, tetapi mendadak sadar bahwa sekarang bukanlah waktu yang tepat.“Aku ... enggak bisa lihat Kakak diperlakukan seenaknya sama Kak Arka. Aku pengen Kak Arka buka mata kalau Kak Falisha itu lebih baik, jauh lebih baik dari Sabrina yang cuma ngincar harta keluarga kita.”Usai mengucap kalimat itu, Arsya menunduk dalam-dalam. Seandainya saja dia tahu Falisha yang dilamar kedua orang tuanya untuk Arka, sementara Arsya sendiri tahu Arka memiliki seorang kekasih, mungkin Arsya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur.“Tapi Arsya enggak seharusnya lakuin itu. Arsya bisa negur Mas Arka baik-baik kalau mau. Arsya—““Kenapa Kakak malah belain Kak Arka? Sementara, aku lakuin itu buat belain Kakak. Aku enggak tega terus-terusan lihat K