Setelah Amel membawa Maria keluar dari gedung mewah tempat pernikahan mantan Maria yang sekarang sudah sangat dibenci oleh Maria, mereka langsung menuju mobil mewah keluaran merk terbaru milik Maria.
Mobil ini merupakan hadiah ulang tahun Maria yang dibelikan oleh papa Maria seminggu sebelum papanya meninggal. Mobil ini merupakan hadiah terakhir untuk Maria sebelum Papanya pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya.
Di dalam mobil sudah menunggu sopir pribadi Maria dengan senyuman di wajahnya yang mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan, yaitu pak Heri.
Pak Heri sudah bertahun-tahun ikut bekerja dengan keluarga Maria. Pak Heri juga merupakan orang kepercayaan papa Maria yang bertugas untuk antar dan jemput Maria kemanapun Maria pergi.
Pak Heri sangat setia, bahkan sepeninggalan papa Maria juga pak Heri masih tetap bertahan dengan Maria, sehingga Maria sudah menggangap pak Heri seperti keluarga sendiri.
Dari dalam gedung tampak Reyhan mengikuti kepergian Maria dengan tatapan matanya. Dari tatapannya ada kesedihan yang tidak bisa dia ceritakan. Dia sekarang sangat yakin bahwa wanita yang pernah mencintai dirinya itu dengan setulus hati sudah sangat membencinya, tidak ada lagi sedikit pun rasa cinta terdengar dari nada bicara Maria tadi.
Sebenarnya tadi sewaktu para tamu bisik-bisik tentang Maria, yang membuat gadis itu hampir marah, jauh di dalam hati Reyhan sangat ingin membawa Maria pergi dari ruangan ini untuk menenangkan Maria dan pergi meninggalkan pernikahan yang tidak pernah dia harapkan ini. Tapi itu tidak mungkin dia lakukan, dia tidak ingin membuat mama papanya sedih dan mencoreng nama keluarga besarnya.
"Seandainya kamu tau apa yang sebenarnya terjadi di balik semua ini Maria, mungkin kamu tidak sebenci ini denganku, sekarang hanya kebencian yang kulihat di matamu. Aku rindu tatapan hangatmu." guman Reyhan pelan.
Tidak ada yang dengar bisikan Reyhan itu. Karena di dalam gedung sangat ramai disertai musik yang terus mengalun.
Keramaian di gedung ini tidak sama dengan isi hati Reyhan yang kosong. Dia ingin cepat-cepat pesta ini berakhir. Dia ingin merebahkan badan dan menenangkan hati dan pikirannya. Dia udah muak dengan keramaian ini.
"Sayang, kok melamun. Sapa dong tamu kita yang baru datang ini." Cubitan kecil dan suara manja dari istri barunya berhasil membuyarkan lamunan Reyhan. Reyhan buru-buru mengulurkan tangannya.
"Selamat pak Reyhan, kalian benar-benar pasangan yang sangat cocok. Pengantin prianya sangat tampan dan pengantin wanitanya tidak kalah cantik. Saya iri pak Rey. Pasti nanti anak-anak kalian menjadi calon bibit-bibit unggul. Buat yang banyak ya pak Rey." Canda tamunya itu.
Reyhan hanya tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih untuk godaan tamunya. Sedangkan istrinya senyum-senyum senang mendengar pujian dari tamu mereka itu.
Semakin sore tamu semakin banyak datang, gedung itu semakin penuh. Minuman dan makanan mahal pun entah sudah berapa kali berganti. Maklum, keluarga mempelai merupakan orang terpandang yang memiliki banyak saham di negara ini. Dan Reyhan serta istrinya juga merupakan anak tunggal. Yang artinya, semua harta kekayaan akan jatuh ke tangan mereka berdua.
Banyak para tamu yang datang hanya untuk cari muka dari keluarga besar ini, supaya keluarga ini mau bekerja sama dalam pekerjaan, atau menanamkan modal di perusahaan mereka dan Reyhan sangat paham akan hal itu. Karena Reyhan juga sudah lama ikut ke dalam dunia bisnis. Jarang ada orang yang berbuat baik kalau tidak ada maksud apa-apa di belakang kebaikan mereka.
"Sayang, aku capek dari tadi berdiri terus." rengek istrinya yang berhasil membuyarkan lamunannya lagi.
"Sabar Aila." jawab Reyhan dengan nada dingin.
"Kamu gak kasian liat anak kita yang di dalam perut aku ini?"
Istri Reyhan yang bernama Aila itu mencoba mencari perhatian Reyhan lagi. Dia ingin Reyhan lebih memanjakan dia lagi. Dari tadi sebelum acara di mulai sampai sekarang Aila melihat Reyhan cuek dan tidak memperhatikan Aila. Reyhan hanya sibuk dengan pikiran dan lamunannya. Aila tau bahwa Reyhan pasti sedang memikirkan Maria, dan Aila juga tau seberapa besar cinta Reyhan terhadap Maria. Dan Aila ingin merebut itu semua. Aila tidak ingin usahanya selama ini untuk mendapatkan Reyhan sia-sia hanya karena hati dan pikiran Reyhan masih dengan Maria.
Reyhan menarik nafas panjang dan menghembuskannya lagi. Dia tidak ingin berdebat lebih lama lagi dengan Aila. Dia memegang lengan Aila dan membantu istri barunya itu mengangkat gaun panjang yang mewah itu supaya Aila bisa duduk dengan nyaman.
"Makasih sayang.."
Aila langsung menyandarkan kepalanya ke atas lengan Reyhan dengan gerakan genit dan manja. Dia senang Reyhan menuruti kemauannya.
Tamu yang melihat kemesraan mereka itu melihat dengan tatapan iri. Mereka berpikir pasangan ini benar-benar beruntung.
Orang tua Aila juga nampak bahagia melihat senyum cerah di wajah Putri semata wayangnya itu. Mereka tau perjuangan Aila untuk mendapatkan Reyhan seperti apa. Sementara mama dan papa Reyhan hanya menatap anak mereka itu dengan iba, tatapan mereka mengatakan kalau mereka merasa bersalah. Mereka mengorbankan kebahagiaan anak mereka untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka tau betapa besar Cinta putra mereka itu kepada Maria.
Musik yang terus mengalun membuat semua orang di dalam gedung itu hanyut di dalam pikiran masing-masing.
Sementara itu di dalam mobil mewah milik Maria tidak ada terdengar suara.
Tadi setelah Maria dan pak Heri mengantarkan Amel pulang, mereka langsung bermaksud untuk pulang juga.
Sebenarnya tadi Amel sudah ajak Maria pergi jalan-jalan sekedar untuk cari angin ke luar. Atau belanja ke mall, karena biasanya cewek kalau lagi banyak pikiran pasti senang diajak belanja. Tapi Maria menolak ajakan Amel, lagian semua barang sudah dimiliki oleh Maria. Maria juga bilang kepada Amel kalau dia ingin segera istirahat dan rebahan. Amel hanya mengangguk atas keputusan sahabatnya itu. Maria memang orang yang keras kepala, sekali dia bilang tidak maka tidak akan pernah berubah menjadi iya. Jadi lebih baik Amel mengalah saja.
Dari balik kaca pak Heri melihat wajah nona mudanya itu.
Wajah Maria tampak lesu, dan kelihatan banyak pikiran, Maria hanya menatap ke luar kaca dengan tatapan kosong. Pak Heri tidak tau apa yang sedang dipikirkan oleh Maria. Pak Heri tidak berani bertanya macam-macam tentang apa yang terjadi di pesta tadi. Pak Heri memilih diam juga. Sebenarnya dia kasihan melihat nona mudanya yang di kasih cobaan secara bertubi-tubi.
Sebenarnya tadi pak Heri dan bi Minah seorang asisten rumah tangga Maria sudah berusaha melarang Maria pergi menghadiri pesta pernikahan Reyhan.
Tapi Maria bersikeras untuk pergi dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Maria janji akan menahan diri di sana. Pak Heri dan bi Minah akhirnya mengijinkan Maria pergi walaupun dengan berat hati. Bagaimanapun sekarang hanya mereka yang dimiliki oleh maria, mereka juga berjanji tidak akan meninggalkan Maria sendirian. Mereka sudah menganggap Maria sebagai Putri mereka juga.
Bersambung..
Maria akhirnya sampai ke rumah mewah dan luas miliknya, barang-barang branded berjejer dengan rapi di dalam lemari kaca ruang tamunya. Lampu mewah yang digantungkan menerangi rumah ini. Tampak sangat elegan dengan nuansa putih kekuning-kuningan.Maria melewati ruang tamu yang sangat besar itu dengan perasaan kosong.Rumah sebesar ini sangat sepi dan hanya ditinggali oleh Maria dan pak Heri serta bi Minah. Mereka juga memiliki kesibukan masing-masing, sehingga hanya Maria sendiri yang meratapi kekosongannya.Maria akhirnya naik ke lantai 2 menuju kamarnya yang juga tak kalah luar.Maria langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk dan luas miliknya itu. Ini tempat ternyaman untuk kembali pikirnya. Dia memutar lagu melalui iPhone miliknya. Dia ingin istrahat, dia ingin menenangkan pikiran dan hatinya atas kejadian di pesta pernikahan mantannya itu.Maria hanya menekan tombol play di ponsel miliknya tanpa melihat lagu apa yang
Maria juga ikut melihat ke arah datangnya suara itu, dia melihat sosok laki-laki yang dikenalinya. Dia adalah orang yang dari tadi dicari-cari oleh Maria.Reyhan maju sambil tetap memainkan gitar yang dipegangnya. Dia membawakan lagu Ed Sheeran yang berjudul "Perfect""Darling, you look perfect tonight"Mendengar lirik lagu yang dibawakan oleh Reyhan, sorakan keras terdengar sangat meriah di dalam gedung hotel ini. Maria tampak malu-malu dan kagum atas keberanian Reyhan."Cieee.." bisik Brema ke telinga putrinya itu.Brema makin menggoda Maria, karena melihat pipi putrinya merah. Brema adalah sosok papa yang sangat pengertian, dia selalu mendukung keputusan putrinya. Karena dia percaya Putrinya sudah dewasa dan sudah waktunya untuk mencari kebahagiaan nya sendiri walaupun Brema tetap mengawasi Maria.Reyhan yang sudah sampai di depan Maria tiba-tiba tertegun. Dia terkejut melihat kecantikan Maria malam ini. Lagu yang dia ba
"Siang sayang, aku kangen banget sama kamu. Kamu kok gak pernah hubungi aku sih? Kan jadi aku yang datang ke Indonesia nemui kamu."Reyhan kaget melihat Aila sudah ada di dalam ruang kerjanya. Dia tidak sadar kapan Aila masuk. Dari tadi Reyhan sangat sibuk memeriksa dokumen-dokumen yang akan ditandatangani nya."Kapan kamu masuk? Kamu perlu apa nemui aku?" Rasa kaget Reyhan masih belum reda."Ihh sayang,, kok bicaranya gitu sih? Kamu gak senang aku datang? Aku sebenarnya udah dari pagi sih sampai Indonesia, tapi aku jumpai Maria dulu. Soalnya aku dengar dari orang-orang Maria dekati kamu ya? Berani-beraninya dia. Aku tadi kasih pelajaran buat dia, aku tunjukkin aja foto kita dulu waktu di bar." Jawab Aila dengan manja dan senyum genit di bibirnya."APA?? KAMU JUMPAI MARIA, APA KAMU SUDAH KEHILANGAN AKAL?? MARIA ITU PACAR AKU AILA DAN AKU HANYA MENCINTAI MARIA??"Reyhan kaget atau pengakuan Aila. Reyhan marah atas perbuatan Aila.
Maria berjalan tanpa arah dan tujuan menjauhi rumah Reyhan. Dia hanya ingin berjalan sebisa dan sejauh yang dia mampu. Air mata di pipinya terus mengalir. Tubuh sempurna itu sekarang berubah menjadi orang paling tidak berdaya. Setelah berjalan cukup jauh, Maria duduk di halte bus, dia tidak sanggup lagi meneruskan langkah kakinya. Dia tampak mengambil ponsel dari kantongnya. Dia mencari nama seseorang. Dia mencari nama papanya. Papanya akan selalu menjadi tempat dia kembali sejauh apapun langkah kaki Maria membawa dirinya. "Pa... Huaaaa..." Tangis Maria pecah, Maria tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya yang penuh dengan tanya tanya dan rasa penasaran. "Kenapa sayang? Ini papa baru sampai kantor. Tadi sebelum berangkat kerja, papa cek ke dalam kamar, kamu tidak ada. Papa bertanya sama pak Heri katanya kamu pergi ke rumah Reyhan. Sekarang kok putri papa menangis? Ayo cerita sama papa." Terdengar kekuatiran dibalik suar
Dengan perasaan berkecamuk di hati Brema, dia langsung memeluk Maria putri kesayangannya itu.Darah segar mengalir dari pergelangan tangan Maria. Maria memotong urat nadinya. Dia mencoba untuk bunuh diri."Pak Heri, cepat ambil mobil. Kita harus cepat-cepat pergi ke rumah sakit." Brema berteriak keras dan tanpa di suruh sekali lagi, pak Heri langsung turun.Brema menggendong tubuh tak berdaya putri semata wayangnya itu. Mama tiri Maria juga berlari di belakang Maria. Mereka semua panik."Bangun sayang, kamu harus kuat. Ada papa sama mama di samping kamu. Kami akan mendukung kamu sayang. Bangun. Kamu harus bertahan ya, sebentar lagi kita sampai." Brema menangis sambil menyentuh wajah cantik Maria."Jika terjadi apa-apa sama Maria, saya tidak akan memaafkan kamu Reyhan." Brema mengutuk Reyhan, ingin sekali rasanya dia bertemu dengan anak itu untuk memberikan pelajaran karena telah membuat Maria jadi seperti ini.
Pagi-pagi sekali Amel sudah datang lagi ke rumah sakit menjenguk Maria."Maria, ya ampun. Apa yang kamu lakukan? Maria, jangan seperti ini lagi. Banyak yang sayang sama kamu. Laki-laki brengsek itu tidak pantas ditangisi. Apalagi kamu sampai mencoba bunuh diri gara-gara pria bajing*n itu, nanti dia merasa sangat dicintai." Amel langsung memeluk Maria."Tapi nyatanya aku memang sangat mencintai dia Amel. Tapi setelah melakukan ini, sekarang aku menyesal. Aku terlalu bodoh mengorbankan hidupku untuk orang-orang seperti mereka. Aku benci Reyhan, aku benci keluarganya. Mamanya tega nyuruh aku datang untuk menyaksikan kebejatan mereka. Sekarang aku sadar, aku benar-benar buta oleh cinta yang dijanjikan oleh Reyhan." Maria menggertakkan giginya. Terpancar rasa benci di matanya."Amel, tolong jaga Maria ya. Om ada urusan sebentar. Om titip Maria, bentar lagi tante juga akan datang kok." Pinta papa Maria melihat Amel sudah ada di kamar putrinya.
Semenjak hari itu, Reyhan tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Maria. Dia sudah berusaha mencari ke mana-mana tapi Maria bagai hilang di telan bumi. Setiap malam, jaket Maria yang selalu dipeluk oleh Reyhan. Reyhan tidak akan bisa tidur jika jaket itu tidak ada di dekatnya. Tapi beberapa bulan setelah mereka tidak bertemu, satu negara heboh oleh kejadian yang tidak terduga. Setiap saluran TV memberitakan, "Brema Santoso telah meninggal dunia." Reyhan yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu syok melihat berita itu. Tentu saja mereka tidak percaya. "Tidak mungkin." ucap Reyhan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kesedihan Maria sekarang. Reyhan langsung pergi ke luar. Orang tuanya juga tidak berani mencegah Reyhan yang sedang terburu-buru. Reyhan pergi menuju rumah Maria, keadaan rumah Maria sangat ramai dan janur kuning sudah melengkung di depan rumah Maria. Reyhan menerobos kerumunan orang-orang itu. Tapi tida
Semenjak kematian papanya dua tahun lalu, Maria berubah menjadi gadis pendiam, cuek dan dingin.Maria mulai merencanakan balas dendam apa yang akan dia buat untuk keluarga Reyhan yang telah mempermalukan dan menyakiti hati Maria.Setelah pernikahan Reyhan dan Aila, dendam di hati Maria semakin membara. Apa pun alan dilakukan oleh Maria asalkan dendamnya bisa terbalaskan.Setiap hari Maria semakin belajar dan bekerja keras untuk perusahaan yang telah ditinggalkan oleh Brema. Maria menyibukkan diri supaya bisa lupa dengan kesedihan yang dia alami.Maria juga berpikir, dengan perusahaan yang semakin maju, maka Maria akan semakin mudah untuk menghancurkan keluarga Reyhan.Satu per satu kolega yang bekerjasama dengan perusahaan Reyhan mulai ditarik oleh Maria. Perusahaan Maria berkembang pesat. Para pengusaha banyak mengajukan kerjasama dengan Maria. Di mana-mana nama perusahaan Maria semakin harum.***Hari ini merup
"Kalian siapa? Kenapa kalian bisa ada di ruangan saya dan mengobrak-abrik barang-barang saya?" Terdengar suara pria sedang marah dan juga penasaran atas apa yang terjadi di dalam ruangannya."Kami hanya menjalankan perintah, tolong anda minggir." Ucap salah satu pria yang ikut dalam acara penggeledahan itu."Siapa yang nyuruh kalian? Di mana keamanan perusahaan ini? Kenapa orang-orang ini bisa masuk?" Dengan gusar pemilik ruangan itu memanggil satpam yang bertugas."M-maaf pak, kami sudah berusaha menghalangi mereka. Tapi kekuatan mereka lebih besar dari kamu." Ucap satpam menghampiri bos mereka itu sambil gemetaran."Panggil polisi sekarang juga." Perintahnya pada satpam tersebut."Percuma kamu panggil polisi Reyhan. Kamu tidak akan menang." Terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga pemilik ruangan itu, yang ternyata adalah Reyhan.Reyhan melihat sosok gadis memb
"Kalian siapa? Kenapa kalian bisa ada di ruangan saya dan mengobrak-abrik barang-barang saya?" Terdengar suara pria sedang marah dan juga penasaran atas apa yang terjadi di dalam ruangannya."Kami hanya menjalankan perintah, tolong anda minggir." Ucap salah satu pria yang ikut dalam acara penggeledahan itu."Siapa yang nyuruh kalian? Di mana keamanan perusahaan ini? Kenapa orang-orang ini bisa masuk?" Dengan gusar pemilik ruangan itu memanggil satpam yang bertugas."M-maaf pak, kami sudah berusaha menghalangi mereka. Tapi kekuatan mereka lebih besar dari kamu." Ucap satpam menghampiri bos mereka itu sambil gemetaran."Panggil polisi sekarang juga." Perintahnya pada satpam tersebut."Percuma kamu panggil polisi Reyhan. Kamu tidak akan menang." Terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga pemilik ruangan itu, yang ternyata adalah Reyhan.Reyhan melihat sosok gadis memb
Semenjak kematian papanya dua tahun lalu, Maria berubah menjadi gadis pendiam, cuek dan dingin.Maria mulai merencanakan balas dendam apa yang akan dia buat untuk keluarga Reyhan yang telah mempermalukan dan menyakiti hati Maria.Setelah pernikahan Reyhan dan Aila, dendam di hati Maria semakin membara. Apa pun alan dilakukan oleh Maria asalkan dendamnya bisa terbalaskan.Setiap hari Maria semakin belajar dan bekerja keras untuk perusahaan yang telah ditinggalkan oleh Brema. Maria menyibukkan diri supaya bisa lupa dengan kesedihan yang dia alami.Maria juga berpikir, dengan perusahaan yang semakin maju, maka Maria akan semakin mudah untuk menghancurkan keluarga Reyhan.Satu per satu kolega yang bekerjasama dengan perusahaan Reyhan mulai ditarik oleh Maria. Perusahaan Maria berkembang pesat. Para pengusaha banyak mengajukan kerjasama dengan Maria. Di mana-mana nama perusahaan Maria semakin harum.***Hari ini merup
Semenjak hari itu, Reyhan tidak pernah lagi mendengar kabar tentang Maria. Dia sudah berusaha mencari ke mana-mana tapi Maria bagai hilang di telan bumi. Setiap malam, jaket Maria yang selalu dipeluk oleh Reyhan. Reyhan tidak akan bisa tidur jika jaket itu tidak ada di dekatnya. Tapi beberapa bulan setelah mereka tidak bertemu, satu negara heboh oleh kejadian yang tidak terduga. Setiap saluran TV memberitakan, "Brema Santoso telah meninggal dunia." Reyhan yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu syok melihat berita itu. Tentu saja mereka tidak percaya. "Tidak mungkin." ucap Reyhan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kesedihan Maria sekarang. Reyhan langsung pergi ke luar. Orang tuanya juga tidak berani mencegah Reyhan yang sedang terburu-buru. Reyhan pergi menuju rumah Maria, keadaan rumah Maria sangat ramai dan janur kuning sudah melengkung di depan rumah Maria. Reyhan menerobos kerumunan orang-orang itu. Tapi tida
Pagi-pagi sekali Amel sudah datang lagi ke rumah sakit menjenguk Maria."Maria, ya ampun. Apa yang kamu lakukan? Maria, jangan seperti ini lagi. Banyak yang sayang sama kamu. Laki-laki brengsek itu tidak pantas ditangisi. Apalagi kamu sampai mencoba bunuh diri gara-gara pria bajing*n itu, nanti dia merasa sangat dicintai." Amel langsung memeluk Maria."Tapi nyatanya aku memang sangat mencintai dia Amel. Tapi setelah melakukan ini, sekarang aku menyesal. Aku terlalu bodoh mengorbankan hidupku untuk orang-orang seperti mereka. Aku benci Reyhan, aku benci keluarganya. Mamanya tega nyuruh aku datang untuk menyaksikan kebejatan mereka. Sekarang aku sadar, aku benar-benar buta oleh cinta yang dijanjikan oleh Reyhan." Maria menggertakkan giginya. Terpancar rasa benci di matanya."Amel, tolong jaga Maria ya. Om ada urusan sebentar. Om titip Maria, bentar lagi tante juga akan datang kok." Pinta papa Maria melihat Amel sudah ada di kamar putrinya.
Dengan perasaan berkecamuk di hati Brema, dia langsung memeluk Maria putri kesayangannya itu.Darah segar mengalir dari pergelangan tangan Maria. Maria memotong urat nadinya. Dia mencoba untuk bunuh diri."Pak Heri, cepat ambil mobil. Kita harus cepat-cepat pergi ke rumah sakit." Brema berteriak keras dan tanpa di suruh sekali lagi, pak Heri langsung turun.Brema menggendong tubuh tak berdaya putri semata wayangnya itu. Mama tiri Maria juga berlari di belakang Maria. Mereka semua panik."Bangun sayang, kamu harus kuat. Ada papa sama mama di samping kamu. Kami akan mendukung kamu sayang. Bangun. Kamu harus bertahan ya, sebentar lagi kita sampai." Brema menangis sambil menyentuh wajah cantik Maria."Jika terjadi apa-apa sama Maria, saya tidak akan memaafkan kamu Reyhan." Brema mengutuk Reyhan, ingin sekali rasanya dia bertemu dengan anak itu untuk memberikan pelajaran karena telah membuat Maria jadi seperti ini.
Maria berjalan tanpa arah dan tujuan menjauhi rumah Reyhan. Dia hanya ingin berjalan sebisa dan sejauh yang dia mampu. Air mata di pipinya terus mengalir. Tubuh sempurna itu sekarang berubah menjadi orang paling tidak berdaya. Setelah berjalan cukup jauh, Maria duduk di halte bus, dia tidak sanggup lagi meneruskan langkah kakinya. Dia tampak mengambil ponsel dari kantongnya. Dia mencari nama seseorang. Dia mencari nama papanya. Papanya akan selalu menjadi tempat dia kembali sejauh apapun langkah kaki Maria membawa dirinya. "Pa... Huaaaa..." Tangis Maria pecah, Maria tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang di sekelilingnya yang penuh dengan tanya tanya dan rasa penasaran. "Kenapa sayang? Ini papa baru sampai kantor. Tadi sebelum berangkat kerja, papa cek ke dalam kamar, kamu tidak ada. Papa bertanya sama pak Heri katanya kamu pergi ke rumah Reyhan. Sekarang kok putri papa menangis? Ayo cerita sama papa." Terdengar kekuatiran dibalik suar
"Siang sayang, aku kangen banget sama kamu. Kamu kok gak pernah hubungi aku sih? Kan jadi aku yang datang ke Indonesia nemui kamu."Reyhan kaget melihat Aila sudah ada di dalam ruang kerjanya. Dia tidak sadar kapan Aila masuk. Dari tadi Reyhan sangat sibuk memeriksa dokumen-dokumen yang akan ditandatangani nya."Kapan kamu masuk? Kamu perlu apa nemui aku?" Rasa kaget Reyhan masih belum reda."Ihh sayang,, kok bicaranya gitu sih? Kamu gak senang aku datang? Aku sebenarnya udah dari pagi sih sampai Indonesia, tapi aku jumpai Maria dulu. Soalnya aku dengar dari orang-orang Maria dekati kamu ya? Berani-beraninya dia. Aku tadi kasih pelajaran buat dia, aku tunjukkin aja foto kita dulu waktu di bar." Jawab Aila dengan manja dan senyum genit di bibirnya."APA?? KAMU JUMPAI MARIA, APA KAMU SUDAH KEHILANGAN AKAL?? MARIA ITU PACAR AKU AILA DAN AKU HANYA MENCINTAI MARIA??"Reyhan kaget atau pengakuan Aila. Reyhan marah atas perbuatan Aila.
Maria juga ikut melihat ke arah datangnya suara itu, dia melihat sosok laki-laki yang dikenalinya. Dia adalah orang yang dari tadi dicari-cari oleh Maria.Reyhan maju sambil tetap memainkan gitar yang dipegangnya. Dia membawakan lagu Ed Sheeran yang berjudul "Perfect""Darling, you look perfect tonight"Mendengar lirik lagu yang dibawakan oleh Reyhan, sorakan keras terdengar sangat meriah di dalam gedung hotel ini. Maria tampak malu-malu dan kagum atas keberanian Reyhan."Cieee.." bisik Brema ke telinga putrinya itu.Brema makin menggoda Maria, karena melihat pipi putrinya merah. Brema adalah sosok papa yang sangat pengertian, dia selalu mendukung keputusan putrinya. Karena dia percaya Putrinya sudah dewasa dan sudah waktunya untuk mencari kebahagiaan nya sendiri walaupun Brema tetap mengawasi Maria.Reyhan yang sudah sampai di depan Maria tiba-tiba tertegun. Dia terkejut melihat kecantikan Maria malam ini. Lagu yang dia ba