Rada, seorang istri yang selalu dipandang rendah dan sebelah mata oleh sang suami. Namun, dia tetap bertahan dalam pernikahan itu demi sang buah hati. hingga puncaknya sang suami membawa wanita lain dalam rumah mereka. akankah Rada bertahan? atau menyerah?
View More"Bukankah sudah kukatakan tadi kalau Melli ini adalah istriku," ucap Mas Arka dengan suara lantang.
Deg! Mendengar Mas Arka mengatakan itu membuat hatiku terasa sesak. Ku telan ludah yang terasa pahit ini dengan susah payah, sama pahitnya dengan hidupku.Selama menjadi istrinya, sudah menjadi hal biasa dibentak olehnya. Tapi apa-apaan dia, tiba-tiba pulang membawa wanita yang diakuinya sebagai istri, lalu aku?"Mas, jelaskan padaku! Apa maksud semua ini?" tanyaku menatapnya tajam."Apalagi yang harus aku jelaskan? Bukankah sudah ku katakan tadi. Lebih baik kamu langsung kenalan sendiri sama Melli, biar kalian cepat akrab," ujar Mas Arka tanpa dosa.Apa katanya tadi? Aku akrab sama pelakor? Huh, tidak akan."Hai … Mbak, kenalin aku Melli, madumu," ujar pelakor itu tersenyum mengejek sambil mengulurkan tangannya dan menekan nada bicaranya saat mengucap kata madumu.Tak ku tanggapi uluran tangannya, tak sudi aku menyentuh tangan kotor itu. Tangan wanita perebut suami orang.Melihatku yang tidak menanggapinya, mulut Meli seketika langsung merengut."Tuh, Mas, lihat Mbak Rada tidak mau kenalan sama aku," ucapnya manja dengan tangan yang bergelayut pada lengan Mas Arka."Sudahlah Sayang, biarkan saja dia. Yuk kita masuk ke dalam, aku capek!" kata Mas Arka, lalu mengajak Melli untuk masuk ke dalam kamar utama dan kemudian menutupnya.Tunggu dulu, kenapa Mas Arka membawa masuk wanita itu ke dalam kamar kami? Itu kamarku dan hanya aku yang boleh menempatinya, tidak akan kubiarkan.Tok! Tok! Tok!"Mas … Mas Arka! Buka pintunya!" panggilku sambil terus mengetuk pintu, tanganku sampai sakit karena tak kunjung dibuka."Ada apa lagi, sih?" tanyanya setelah pintu terbuka, terlihat Mas Arka hanya mengenakan kaos dalam, ku lirik ke dalam kamar tampak pelakor itu tengah berbaring di atas kasur."Kenapa Mas membawa masuk pelakor itu ke dalam kamar kita!" kataku tak terima."Jaga mulut kamu, Rada! Melli itu sudah menjadi istriku, hargai dia! Mulai sekarang Meli akan menempati kamar utama!" ujar Mas Arka dengan nada membentak."Lalu aku?" lirih aku bertanya."Kamu tempati kamar belakang atau kamu bisa tidur dengan Musda," ucapnya santai. Musda adalah anak kami yang masih berusia empat tahun."Kenapa, Mas?" tanyaku masih tak percaya."Karena kamu itu HANYA IBU RUMAH TANGGA!" ucap Mas Arka menekan kata hanya ibu rumah tangga lalu kembali menutup pintunya dengan keras di depan mataku.Brakk!Aku menangis tergugu duduk lemas di atas lantai, teganya mas Arka menduakanku bahkan membawa wanita itu tinggal di rumah ini dan menempati kamar utama. Seolah-olah menegaskan kalau posisiku di rumah ini memang sudah tergantikan. Kudengar suara tertawa cekikikan pelakor itu di dalam kamarku. Entah apa yang mereka berdua lakukan. Sedangkan selama ini Mas Arka selalu kasar padaku, bahkan aku sudah lupa bagaimana caranya tertawa saat bersamanya."Bun … bunda kenapa?" tanya Musda sambil berjalan menghampiriku dengan masih mengucek matanya, gadis kecilku itu sudah bangun rupanya."Bunda nangis?" lanjutnya menatap mataku yang masih terlihat sembab."Bunda nggak nangis kok, tadi cuma kelilipan debu. Sayangnya Bunda udah bangun ya, pintar sekali sudah bisa bangun sendiri?" ujarku mengalihkan pembicaraan. Musda ini sangat kritis anaknya, jika bertanya dan mendapatkan jawaban yang belum memuaskan, dia akan terus-terusan bertanya.Ku usap kepalanya, Musda anak yang pintar dan penuh cinta. Itulah alasanku masih bertahan hingga sekarang, karena dia kekuatanku.Aku mengangkat tubuh mungil gadis kecil ini. Ingin aku pergi jauh bersamanya, tapi apakah aku bisa memberikan semua seperti yang mas Arka berikan selama ini. Mirisnya hidupku, satu sisi aku ingin berlari, tapi disisi lainnya langkahku tertahan disini, hanya untuk anakku Musda.Masih terngiang di benakku saat mas Arka mengatakan, kalau aku hanya ibu rumah tangga. Jangan mengatur apapun yang dilakukannya, karena tugasku hanya membersihkan rumah, mengurus anaknya dan menerima serta patuh pada setiap perintahnya. Nyeri sekali hati ini saat mengingat itu. Bukankah ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mulia. Bahkan madrasah pertama bagi seorang anak adalah ibunya.Dulu Mas Arka sangat menyayangiku. Bahkan dia memintaku untuk berhenti bekerja saat aku hamil Musda, katanya aku cukup di rumah saja menjadi nyonya. Aku merasa menjadi wanita yang sangat beruntung saat itu. Mas Arka mulai berubah saat kelahiran Musda, dia bilang aku berubah setelah melahirkan. Aku menjadi lusuh, cerewet dan jelek.Kesalahan terbesarku adalah mengabaikan setiap kata yang diucapkan oleh mas Arka. Mas Arka ingin pergi nonton, ingin berkencan dan berlibur hanya berdua tanpa Musda. Bukannya aku tidak ingin, tapi aku tak tega untuk meninggalkan Musda yang saat itu masih menyusu padaku. Sungguh saat itu aku merasa bahwa mas Arka hanya cemburu pada Musda. Karena semua hal yang aku lakukan hanya terfokus pada Musda kecil. Kupikir semua akan berubah seiring dengan berjalannya waktu.Tapi ternyata aku salah, mas Arka tetap membenciku sampai sekarang, walaupun Musda sudah berumur empat tahun. Mas Arka terus mengabaikanku dan tidak pernah menyentuhku lagi. Pria normal manapun tidak akan sanggup bertahan begitu lama. Dan semua itu terjawab sudah hari ini.¤¤¤¤¤¤¤Setelah memandikan Musda, aku mengajaknya untuk sarapan. Celotehannya membuatku melupakan sejenak kesedihanku pagi ini. Sedang asyiknya sarapan dan bercengkrama, tiba-tiba Mas Arka keluar dari kamar bersama si ulat bulu itu itu."Hai … anak manis, lagi sarapan, ya?" sapa pelakor itu pada putriku.Diusapnya punggung Musda, awas saja kalau sampai anakku jadi gatal karena usapannya. Mereka berdua duduk berdampingan sambil berpegangan tangan di seberang meja tepat di depanku dan Musda. Membuatku seketika kehilangan nafsu makan."Tante pirang ini siapa ya? Kok pegang-pegang tangan ayah Musda?" tanya Musda dengan polosnya."Tante ini namanya Melli, bunda baru kamu, Nak," jawab Mas Arka, kulihat si ulat bulu itu tersenyum ke arah Musda."Bundaku kan ini, Yah … Ayah lupa ya kalau Bundaku namanya Rada. Iya kan, Bun?" kata Musda sambil menatapku bingung, meminta penjelasan.Aku hanya diam mendengar pertanyaan Musda. Ku telan ludah yang terasa pahit ini, bingung harus menjelaskan bagaimana padanya."Udah lanjutin aja sarapannya, nanti abis itu jalan-jalan sama Bunda Melli, kamu mau kan?" ujar ulat bulu itu mengalihkan perhatian anakku, rupanya dia berusaha mendapatkan hati Musda. Tidak akan kubiarkan dia mendapatkan semua yang aku punya. Cukup Mas Arka saja yang tergoda, Musda jangan sampai."Ayo sayang kita ke taman, tadi katanya pengen main ayunan," ajakku pada Musda.Belum sempat aku berdiri, Mas Arka sudah menendang kakiku dari bawah meja makan, membuatku seketika langsung meringis menahan sakit."Melli mau lebih dekat dengan anakku, jangan kau halang-halangi. Kalau kau mau ke taman, pergilah sendiri! Anakku jangan kau ajak, dia akan malu nanti jalan bersama wanita lusuh dan jelek sepertimu," ujar Mas Arka sambil menatapku jijik.Aku menatap Mas Arka nanar, segitu hinakah aku di matanya sampai dia begitu terlihat jijik padaku. Sedangkan si pelakor itu tertawa mengejekku dengan penuh kemenangan.¤¤¤¤¤¤¤Pov. AuthorHari ini Rada berencana untuk memberitahukan pengunduran dirinya pada pak Hartono. Setelah kedatangan Rendra, perusahaan semakin maju. Walau Rendra masih baru dalam dunia bisnis, tapi rupanya dia dengan cepat dapat menyesuaikan dirinya. Rada bersyukur karena Rendra sudah cakap, itu artinya dia bisa tenang pergi dari perusahaan itu karena banyak hal yang harus diurus sebelum pernikahannya dengan Aldo.Dengan sengaja Rada berangkat kantor sedikit lebih siang dari biasanya. Jam sembilan dia baru tiba. Langsung saja Rada menuju lift yang membawa menuju lantai tiga. Dengan membawa surat pengunduran diri yang sudah disiapkannya, Rada langsung menuju ruangan pak Hartono. Sebelum masuk terlebih dahulu mengetuk pintunya.Tok! Tok! Tok!"Masuk!!" terdengar suara perintah dari dalam. Pintu terbuka perlahan, Pak Hartono sedang duduk di kursi kebesarannya dan Aldo yang ternyata berada di ruangan ini dengan duduk di depan Papanya. Serentak mereka menoleh ke arah pintu."Permisi, Pak,
Mas Arka dan para tersangka lainnya segera dibawa polisi untuk kembali ke dalam tahanan. Namun, terlihat mas Arka berbicara dengan polisi yang membawanya. Tak lama setelahnya dia berjalan menuju ke tempatku duduk yang berdampingan dengan ibu dan bapaknya.Aku memang sengaja duduk didekat mereka untuk menenangkan hati bapak dan ibu yang pasti sedih.Mas Arka datang dan langsung bersimpuh memeluk kaki ibu. Dia menangis, menyesal dan meminta maaf pada kedua orang tuanya. Bapak dan ibu pun tak kuasa menahan tangis mereka. Kini mereka bertiga saling berpelukan dengan duduk bersimpuh. Melihat keharuan di depan mata, mau tak mau hati ini terenyuh juga melihatnya. Namun, sebisa mungkin aku menahan agar air mataku tidak jatuh. Biar bagaimanapun Mas Arka dulu pernah menjadi orang penting dalam hidupku.Aku tidak menyangka jika akhirnya dia akan seperti ini. Setidaknya di dalam penjara nanti dia bisa merenung dan memperbaiki sikapnya. Aku pun bangkit berdiri dari dudukku. Berniat pergi menyusu
[Al, aku makan siang dengan temanku. Kebetulan dia anak dari pak Hartono. Aku harap jika nanti ada temanmu atau kamu sendiri yang melihat tidak menjadi salah paham, kami hanya teman, kok! Love u,]"Terkirim dan langsung centang dua warna biru. Itu artinya Aldo sedang memegang ponselnya. "[Ya,]" balasnya singkat.Keningku langsung mengkerut membaca balasan yang dikirim Aldo. Tidak biasanya dia membalas singkat begitu. Biasanya dia selalu panjang membalas pesanku. Apa jangan-jangan Aldo marah?"[Dia beneran hanya temanku, Al. Atau kalau nggak gimana kalau kita makan siang bersama-sama? Kamu sibuk nggak?]"Ku tunggu balasan darinya, namun tidak juga dibalasnya, bahkan pesanku dibaca saja belum."[Ini aku share lok, ya!]" Ujarku akhirnya mengirimkan lokasi tempat kami makan siang."Ehm … sibuk banget, sih! Berbalas pesan sama pacarnya, ya?" ujar Rendra tiba-tiba, membuatku sangat kaget. Rupanya sedari tadi dia memperhatikanku."Emm … bukan pacar, kok.""Ah, yang bener? Pasti pacarnya, k
"Kasihan sekali, ya, kakaknya Melly. Dia kelihatan sangat terpukul kehilangan adiknya," ucap Mama. Saat ini kami sedang dalam perjalanan pulang dari menghadiri pemakaman Melly.Setelah tiga hari kritis, Melly akhirnya sudah tidak bisa bertahan melawan penyakitnya lagi. Penyakit yang sebenarnya masih bisa disembuhkan, namun terlambat mengetahuinya."Iya, Mam. Apalagi Melly itu adik kesayangan satu-satunya. Pasti dia sangat kehilangan," balasku."Syukurlah, kamu tidak tertular penyakit menjijikan itu. Kalau sampai itu terjadi hi …. Mama jadi ngeri!" ucap Mama sambil bergidik."Sebenarnya penyakit itu masih bisa disembuhkan, Mam. Tapi untuk kasusnya Melly, karena ketahuan sudah parah begitu jadi, yaaa … susah!" Balasku."Terus apa kabarnya Arka? Mama dengar dia tertular penyakit itu? Oh, ya, kok tadi dia nggak menghadiri pemakaman istrinya?""Nggak semudah itu, Mam, buat keluar dari sel. Selain harus ada alasan yang benar-benar darurat, tetap harus ada yang menjamin juga. Nah, mungkin ng
Keesokan harinya, Rada membawa tante Merry ke rumah sakit dimana Melly di rawat. Awalnya wanita cantik yang meski usianya tidak muda lagi itu menolak. Namun, Rada menjelaskan bagaimana kondisi kesehatan Melly. Sehingga atas dasar kemanusiaan akhirnya tante Merry setuju untuk menemuinya.Sebelum ke rumah sakit, terlebih dahulu Rada menghubungi Rini. "Rin, kamu dimana? Aku mau ke rumah sakit ini sama tante Merry," ucap Rada langsung pada intinya ketika sambungan sudah terhubung."Aku lagi nggak enak badan, Da. Aku di rumah. Tapi kalau kamu mau ke rumah sakit, disana ada kakaknya Melly," jawab Rini dengan suara yang serak."Oo … gitu, ya udah aku langsung kesana aja, ya. Semoga kamu lekas sembuh," balas Rada kemudian mematikan sambungan telepon itu dan memasukkan kembali benda pipih canggih itu ke dalam tas selempangnya."Gimana?" tanya Merry yang saat ini duduk di bagian penumpang sebelah kemudi. Kebetulan sekarang waktu istirahat kantor dan Rada sengaja menjemputnya untuk membawanya k
Pov. AuthorHari itu juga Arka menjalani pemeriksaan dan tes apakah benar dia sudah tertular penyakit hiv atau tidak. Setelah semuanya selesai dia dibawa kembali ke dalam lapas.Kedua orang tuanya sangat sedih melihat anak lelaki satu-satunya berada di dalam penjara. Mereka pun berupaya untuk menemui mantan bos Arka, yaitu pak Hartono. Mereka ingin meminta keringanan hukuman untuk Arka. Mereka Pun akhirnya kembali meminta bantuan Rada untuk bertemu dengan mantan bos anaknya itu setelah sebelumnya mereka juga bertanya dimana Arka berada.Ibunya Arka yang bernama Sri itu pun mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tas yang dibawanya. Kemudian menekan layarnya, tak lama kemudian menempelkan ke telinga."Assalamualaikum, Nak, kamu sudah pulang to?" tanya Bu Sri saat panggilan terhubung."Waalaikumsalam, Belum, Bu, Rada masih di rumah sakit kok, ini masih jenguk Melly," jawab Rada karena memang saat ini dia tengah melihat keadaan Melly. Kebetulan tadi dia bertemu dengan Rini yang akan meliha
Masih di pov. Arka"Ba--bapak, Ibuk!" ucapku tertahan saat dua orang tua itu masuk."Oalah Nak-nak … kamu itu kenapa kok bisa sampai seperti ini?" ibuk bertanya dengan air mata yang sudah mulai mengaliri kedua pipinya."Kamu itu memang b0d0h! Lihat bagaimana keadaanmu sekarang. Gara-gara kamu memilih wanita itu. Lihat, apa yang dia beri untukmu! Dasar kamu itu memang b0d0h!" tangan ibu dengan gemas menyentuh memar-memar pada tubuh ku membuat aku mengaduh kesakitan."Aduh, sakit, Buk, jangan sentuh yang ini, aw-aw, sakit ibu!" "Sukurin! Kamu itu emang dasar b0d0h!" Ibu terus memakiku sambil menangis. "Bapak, lihat anak kita ini huhuhu …,""Sudah, Bu, sudah, itu mungkin balasan dari Allah untuk Arka karena sudah menyia-nyiakan anak dan istrinya dulu," Bapak menenangkan ibu dengan memeluknya.Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Bapak. Bisa jadi kejadian-kejadian sial yang aku alami adalah teguran dari Allah agar aku sadar dengan sikapku selama ini."Pak, Bu, maafkan Arka, ya? Arka s
pov. ArkaSebulan telah berlalu aku berada di dalam lapas, kasusku sudah berjalan dua kali di pengadilan, aku sudah mulai terbiasa dengan keadaan di dalam sini. Namun, karena semua hal terbatas, entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa badanku mulai cepat lelah dan gampang sekali berkeringat padahal aku tidak melakukah kegiatan yang menguras tenaga.'Aduh, kok sakit, ya!'Pagi ini saat aku akan membuang hajat, pusaka ku terasa nyeri, bahkan terlihat sedikit bengkak. Ku ingat-ingat selama di dalam sel aku tidak pernah memakainya dan soal kebersihannya aku selalu menjaga, lalu kenapa kok tiba-tiba sakit seperti ini.Atau jangan-jangan aku sudah tertular penyakitnya Melly. Sialan wanita itu, gara-gara dia semua harta yang aku kumpulkan dengan susah payah diambil orang untuk menutup hutangnya. Sekarang aku sudah tak punya apa-apa, untuk menyewa pengacara sudah tidak ada harta yang tersisa. Sedangkan untuk menghubungi kedua orang tuaku, aku tidak berani. Jelas mereka langsung akan memarahik
Pov. Aldo 2"Maksud Mama?" tanyaku tidak mengerti."Ya, maksud Mama? Coba kamu tes perasaannya gimana kalau lihat kamu bareng sama wanita lain. Kalau dia cemburu, itu artinya dia punya perasaan sama kamu," ucap Mama mengutarakan idenya.Hmm … boleh juga sepertinya ide Mama. Aku pun sebenarnya sudah nggak sabar untuk segera menghalalkannya. Aku tersenyum membayangkannya cemburu melihatku bersama wanita lain. Semua masalah sudah hampir beres, tinggal menunggu ketok palu hakim saja yang memutuskan para penjahat itu dikurung berapa lama disana. Sepertinya aku akan melakukan ide Mama."Al, yee … kok malah senyum-senyum sendiri!" Mama menyapukan tangannya pada wajahku. Aku hanya nyengir padanya."Mam, tapi siapa kira-kira wanita yang mau Aldo mintain tolong? Mama tau sendiri Aldo nggak punya teman wanita," aku mendesah kecewa."Aku mau, Kak!" sambar Bulan, tiba-tiba saja dia sudah berada di samping Mama."Nah, bener. Biar Bulan saja. Kan dia cantik, Rada pasti cemburu melihatmu bersamanya,"
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments