" Kau sudah tidur?" James mengirim pesan padaku.
" Belum," jawabku singkat.Aku sedang memandangi foto selfie kami saat berada di festival makanan tadi. James tampak tersenyum lebar dan menawan."Aku sudah rindu padamu," kata James membalas pesanku. Aku sampai harus membaca nya dua kali untuk memastikan.Jantungku berdegup kencang, tapi kucoba menepis perasaan berbunga dalam hatiku. Rasanya semua pria sama saja. Mengingat betapa pandainya James merayuku.Apalagi James yang sudah berumur, aku yakin dia hanya ingin menjadikan aku bonekanya. Pemikiran itu membuatku tak bernafsu membalas pesannya lagi.Aku putuskan untuk tidur saja. Besok aku harus mengontrol toko pakaian kami, lalu menjenguk sahabatku yang sedang berada di rumah sakit.Dengan menutup wajah menggunakan bantal, aku mengabaikan dering dan getaran ponselku. Aku yakin james yang menelepon.***Keesokan harinya, aku bangun pagi-pagi sekali. Karena rupanya semalam itu, selain James ada juga klien ku yang memesan dress code untuk acara pernikahan, menelepon. Aku mengutuk James, karena mengabaikannya aku jadi di marahi klienku. Setelah memesan ojek online, aku sarapan bubur kacang ijo komplit hasil berburu kuliner kemarin yang sudah dipanaskan di rice cooker.Aku tidak punya microwave, karena selain harganya yang mahal, bayaran listrik ku takut membengkak. Sedangkan aku harus menabung untuk masa depanku.Ojek online ku datang. Aku memintanya mengambil rute tercepat karena takut klienku datang lebih dulu, dan aku jadi tidak enak hati. Betapa sialnya aku , niat hati ingin cepat sampai malah kena macet. Meski masih pagi, hari ini sudah panas menyengat. Aku merengut sambil terus melirik lampu merah. Sampai ada pria yang menggodaku dari dalam mobil mewah."Halo manis," ujarnya menggodaku dari dalam mobilnya.Aku mengabaikannya," Apa kau marah padaku?" tanyanya lagi.Aku dengan kesal ingin melabraknya, tapi ketika aku melihat dengan seksama ternyata itu James.Dia sangat tampan dengan setelah jas mahal. Mengingat penampilannya itu, aku sadar diri. Jadi aku hanya tersenyum sekilas lalu mengabaikannya lagi.James tampak kesal, baru saja dia membuka pintu mobilnya lampu berubah ke hijau. Ojek ku langsung jalan lagi. Aku lega karena bisa selamat dari James. Entah apa yang merasuki ku hari ini. Perhatian James membuatku merasa dia sama seperti pria hidung belang yang menganggap semua wanita itu boneka mereka.Cici sudah ada ditoko ketika aku sampai, bersamaan dengan itu klienku juga datang. Aku meminta maaf dan menjelaskan kenapa aku tidak mengangkat telepon darinya. Untung saja dia bisa memaklumi.Tranksaksi kami berhasil dilakukan hari itu. Aku senang bukan main, karena sudah dua bulan ini toko kami sepi, sementara ada dua orang pegawai yang harus digaji."Kita jadi mau jenguk Oliv?" Cici bertanya padaku sambil memeriksa catatan keuangan toko kami." Iya dong, kasian dia udah seminggu disana," aku menjawab sambil melotot." Aku udah selesai, kita berangkat sekarang?"" Tentu"Kami berangkat bersama. Cici dari keluarga lumayan berada, jadi dia punya mobil pribadi. Sayangnya Cici sangat boros. Dia selalu menghabiskan uangnya untuk beli baju dan tas branded.Meskipun jalan pikiran kami berbeda, tapi kami sangat dekat. Aku tak segan-segan memarahinya jika dia sudah terlalu banyak menghabiskan uangnya. Dia sama sekali tidak memikirkan masa depan nya."Aku akan mendapatkan suami yang kaya, jadi aku tidak perlu menabung, kebutuhan seorang istri kan ditanggung suaminya," begitulah Cici berpikir tentang masa depannya.Aku juga dekat dengan orang tua Cici. Menurut mereka, aku bisa memberi pengaruh baik terhadap putri semata wayang mereka itu.Karena aku juga yang mengajak Cici menginvestasikan uang jajannya untuk membuka toko pakaian kami. Tentu saja dengan iming-iming dia bisa menggandakan uangnya untuk berbelanja.kami sampai di rumah sakit. Teman-temanku yang lain sudah berada diruang rawat inap Oliv. Sebenarnya, aku sedikit minder. Karena temanku rata-rata anak orang kaya. Contohnya Oliv, yang papa-nya seorang pengusaha properti. Tapi nasibnya tidak seberuntung itu, karena dia menderita leukimia stadium satu. Dia sering mimisan dan masuk rumah sakit. Kami sudah terbiasa menginap di rumah Oliv saat orang tua nya ada perjalanan bisnis ke luar negeri."Gimana liv udah lumayan?" tanya seorang pria yang baru saja masuk. Aku tidak tau siapa, karena sedang memeriksa hasil laporan keuangan dari Cici."Lis, kamu harus lihat siapa yang datang," Cici berbisik di telingaku."Udah mendingan om. Mungkin besok udah boleh pulang", Oliv memanggil pria itu dengan sebutan om.Aku cukup penasaran dan melihat pria itu. Hampir saja jantungku melompat. Ternyata itu James. Dia melihatku juga, buru-buru aku mengalihkan pandanganku ke ponselku lagi." Mengapa kau menghindari ku?" James mengirim pesan,"Tidak apa-apa," jawabku singkat dengan jantung masih berdebar."Bisakah kau keluar sebentar?"Aku melihat James yang berjalan keluar kamar. aku pura-pura izin ke toilet. James memegang tanganku dan membawaku ke ujung lorong. Dia menatap lekat mataku."Katakan," mata james menelisik mataku. Aku hanya mampu menunduk." Aku hanya ingin hari yang tenang," jawabku sekenanya." Apa aku mengganggumu?" tanya james lagi dengan nada suara terluka."Tidak! hanya saja kau terus mengusik pikiranku," nah jawaban itu keluar secara spontan karena James terus mendesakku. Dia akhirnya tersenyum puas." Apa kau butuh ruang untuk berpikir?" tanya James lagi dengan suara lebih lembut."Berpikir apa?" pertanyaanku sungguh bodoh,"Aku belum pernah begitu tertarik dengan wanita, kau berbeda Alice. Aku begitu ingin memilikimu,"Aku menatap lekat mata james, tidak ada kebohongan disana. Yang ada hanya nafsu membara yang membuat sekujur tubuhku memanas." Tolong, biar aku saja yang menggigit bibirmu," katanya berbisik. Dia menyandarkan kepalanya di kepalaku. Aku tidak sadar sedang menggigiti bibirku.Astaga! rasanya sesak sekali. Meskipun aku pernah berpacaran walau hanya dengan si brengsek Bobi. Tapi aku sangat menjaga privasi dan jarak diantara kami. Mungkin itu juga yang membuat Bobi bosan denganku. Tapi entah kenapa, keberadaan James sedekat ini membuat nafasku memburu. Ada getaran aneh yang membuatku ingin memeluknya." Aku tidak bisa bernafas," kilahku ingin menghindari james.Dia mundur selangkah lalu tersenyum miring padaku.Sadarlah Alice, dia pamannya temanmu!. Otakku menjeritkan itu. Tapi aku sudah hilang akal. Tanganku dengan ragu memegang pipi james, dan mengelusnya. Janggut tipisnya menggelitik telapak tanganku.James menahan tanganku di bibirnya, lalu mengecupi tanganku. Aku tersipu."Katakan jika kau sudah siap bersamaku," ujar james lembut. Aku masih terpesona."Aku akan menunggumu Alice. Aku sudah menunggu datangnya seorang wanita yang mampu menggetarkan hatiku, Jangan kecewakan aku," ucap James panjang lebar penuh harapan.Aku dengan bodohnya mengangguk saja. James mencium keningku. Lalu berpamitan meninggalkanku yang masih menatapnya penuh kerinduan. Saat James hilang dari pandangan, lututku lemas. Dengan gontai aku masuk lagi kekamar Oliv, temanku menatap dengan curiga." Kau dari mana?" tanya sinta menyelidik. Tapi bibirnya mengulum senyuman jahil."Eh dari toilet," jawabku asal.Oliv tertawa, "jangan bohong Lis, toilet ada disebelah dekat pintu, kau kan pergi keluar."Wajahku merah padam. Aku tidak memperhatikan itu, dan membuat alasan asal-asalan. Aku malu sekali, tapi Oliv tidak curiga jika aku menemui pamannya di luar tadi. Cici berdehem sambil menyenggol bahuku. Dia tersenyum geli melihat aku yang salah tingkah."Lis, majalahnya kebalik loh", Oliv mengingatkanku lagi," Eh ini, aku lagi lihat detail gambar ini loh, jadi sengaja aku balik," kilahku membuat Alasan yang tidak masuk akal.Alasanku terdengar payah. Teman-temanku tidak tahan lagi, mereka terbahak-bahak.Dengan malu aku menutupi wajahku dengan majalah yang aku pegang."Apa kau masih bersama Oliv?" James mengirim pesan melalui aplikasi chatting."Ya, kenapa? hari ini Oliv sudah di perbolehkan pulang," "Tunggu aku,""Untuk apa?" aku memelototi ponselku, aku sudah cukup malu kemarin. "Tentu saja untuk menjemput keponakanku, Alice"Dia benar juga. Oliv kan keponakannya. Jadi hal yang wajar jika dia datang menjemputnya. Aku tidak membalas pesan James lagi. Terlalu malas menanggapinya.Saat siang hari, Oliv sudah dalam persiapan untuk pulang kerumah. Jadi kami membantu memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Betapa terkejutnya aku, yang untung saja tas yang aku bawa tidak terlepas dari tangan. James sudah menunggu sambil bercengkrama dengan sopir Oliv.Cici menyikutku, lalu mengedikkan dagu nya kearah James yang pura-pura tidak melihat kami. Ketika aku selesai menyusun tas dibelakang mobil, James berdiri tepat disampingku."Apa?" tanyaku masam. Dia mengedipkan matanya menggodaku."Kau kelihatan kurang tidur sayang?" James mencoba menyentuh pipiku,
James menyambut diatas kasur. Dengan sedikit enggan aku ikut bersamanya. Menutupi rasa bersemangat karena bisa berduaan dengannya semalaman."Kau sudah gila!" gerutuku setelah naik ke atas kasur. James memelukku."Mereka juga butuh istirahat," sergah James seolah sudah melakukan hal yang baik."Apa kau akan menginap malam ini?" aku bertanya dengan acuh. "Tentu saja sayang, untuk apa obat tidur itu?" sergah James mengerling nakal padaku."Baiklah," kataku pasrah. "Boleh aku katakan sesuatu?" tanya James sedikit serius. Aku bersiap."Boleh, katakan saja,""Apakah kau sudah tau kalau temanmu, Cici sudah memanipulasi keuangan toko kalian?" James bertanya lagi dengan kaku."Oh, aku sudah tau," jawabku santai dan singkat."Kenapa kau tidak menegurnya?""Entahlah James, aku takut dia tersinggung dan hubungan kami renggang," "Hei," James mengambil daguku, "dalam bisnis, tidak mengenal teman atau keluarga. Uang itu bersifat objektif,"Aku berpikir sebentar, lalu menatap James heran, "dari m
EmmphhhEmmphhhHanya itu yang keluar dari mulutku. Aku ingin melawan tapi tenaganya kuat sekali. Sedangkan tubuhku meskipun cukup tinggi dan sintal, tetap saja hanya seorang wanita biasa. "James!" mataku membelalak saat kami sudah masuk ke dalam kamar mandi dekat dapur.Aku menggeser tubuhnya yang bongsor dan hendak membuka pintu. Tapi dengan mudahnya dia mengangkat tubuhku kembali ketempat semula."Minggir! Aku mau masak!" aku menghardiknya. Tapi wajahnya benar-benar kelihatan marah, "apa?""Kemana saja kau seharian ini?" tanyanya frustasi."Beres-beres rumah Oliv terus kepasar sama Cici,""Lalu apakah kau tidak sempat mengangkat teleponku?" Aku lupa, dimana ku letakkan ponselku? Kucoba meraba tas kecilku. Tapi James sudah menemukannya lebih dulu. Entah dimana. Dia memberikannya padaku."Jangan pernah tinggalkan ponselmu, aku bisa gila jika tidak tau kabarmu barang sedetik. Ingat itu!" Aku menatap James tak percaya. Kenapa dia jadi begitu posesif? Lihat sekarang. Dia malah mening
"Mau nonton film?" James bertanya sambil menyalakan tv, dia menghubungkannya ke ponsel.Saat ini, kami sudah berada di dalam apartemen James yang super mewah."Aku gerah," kataku sambil menciumi bajuku yang terasa lengket. Banyak pekerjaan yang aku lakukan sejak pagi dan belum mandi.James memandangku dengan binar cerah dimatanya, aku melihat dia berharap." Ayo, di kamarku ada bathtub besar yang bisa kita pakai berdua," kata James santai sambil naik kelantai atas, aku tidak bisa protes karena dia mendadak jadi tuli."Aku mau mandi sendirian, James!" keluhku sambil mengikutinya, langkahnya lebar sekali. Hah! Dia benar-benar jadi tuli sungguhan. Aku menghentakkan kaki dengan jengkel."Apa kau bawa baju ganti sayang?" James bertanya, aku mengabaikannya. "Tidak, mungkin bisa pakai pengering handuk?" tanyaku sambil berjalan melewatinya. Satu persatu pakaian yang aku kenakan kulepaskan."Ada mesin cuci dry clean," jawabnya sambil memunguti pakaianku yang berserakan dilantai. Aku hanya
"Ya, ibuku sebenarnya tidak punya tipe menantu idaman. Dia hanya ingin melihatku bahagia, bahkan dia sering menangis memikirkan aku yang masih sendiri. Dia takut aku tidak bisa menikah karena trauma yang aku alami,""Trauma? jelaskan padaku James," aku menekan setiap kata-kataku."Sebenarnya aku anak angkat," kata james sambil memutar-mutar ujung rambutku. Aku terkejut dan memandangi matanya. Dia tidak mau melihatku."Tapi ibumu terlihat menyayangimu seperti anak kandung," kataku heran dengan fakta itu."Ya, bagiku dia malaikat. Dia mengadopsiku saat usiaku tujuh tahun. Saat itu dia masih aktif sebagai dokter spesalis anak, dan mereka menemukan aku di sebuah hotel bersama ibu kandungku yang sudah meninggal."Mataku membulat, lalu aku memeluk erat James. Mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Tak terasa mataku basah. James melanjutkan kisahnya."Kata mama, saat dia menemukanku saat itu diketahui bahwa kami turis. Ibu kandungku meninggal karena overdosis. Di tanda pengenal nya, dia
James berang mendengar aku di tuduh murahan oleh wanita murahan itu. Dia menutupiku dengan selimut, sementara dia memakai celana boxernya. James berjalan perlahan ke arah Clarisa."Apa kamu pikir kamu berharga?" wajah James menyeringai muak."Tapi... James," ucap Clarisa terbata-bata."Kita hanya sebatas teman ranjang, dan aku menyesal pernah melakukannya dengan kamu. Pergi dari sini atau perlu aku tarik kamu keluar!" "Dia masih anak ingusan James, apa dia bisa memuaskan hasrat liar kamu itu,""Diam! Dia wanita yang aku cintai. Bahkan dia jauh lebih dewasa dibanding kamu!""Hah? Cinta? Sejak kapan kamu main cinta James? Kamu itu hanya butuh pelampiasan. Dan aku bisa jadi apapun buat kamu. Bahkan aku bawa mainan baru untuk kamu,"Aku melihat Clarisa mengeluarkan cambuk kecil dari tasnya. Ujung cambuk itu ada bola kristal kecil yang menggantung bersama bulu. Dia juga mengeluarkan sepasang apa itu? Lato-lato?. Aku tidak tau apa gunanya semua itu. James mengerang frustasi. Dia melempar
"Alice!" Oliv melotot padaku saat pagi harinya aku baru pulang kerumahnya. Aku merasa sedang dimarahi ibuku. "Maafkan aku Liv, aku ketiduran dirumahku," kataku mengarang cerita agar mereka tidak curiga padaku. Hanya Cici yang tau dan dia sedang berpura-pura memarahi aku juga. "Mana camilan yang kau janjikan padaku!" Cici menagih janjiku dengan wajah datar yang dingin.Hampir saja aku melempar sepatuku ke wajahnya. Pandai sekali dia bersandiwara.Aku menunjuk ke meja makan. James memberikan aku uang untuk membeli semua belanjaan itu. Aku pergi sendiri ke supermarket. Cici bertepuk tangan dengan riang setelah melihat aku menepati janji. Oliv melotot sesaat lalu dia juga tersenyum. Sebenarnya, Oliv tidak bisa sembarang makan camilan, tapi kami kasihan padanya. Jadi aku berinisiatif membawa camilan yang sangat rendah gula dan pewarna makanan. Uang yang diberikan James cukup untuk uang bensinku selama sebulan. Aku sempat berbelanja bahan dapur supaya tidak perlu bolak-balik lagi,
James berkendara dengan kecepatan yang lumayan tinggi Beberapa kali melakukan panggilan telepon kepada bawahannya. Dia terus memasang wajah sangar, aku takut melihat ekspresinya yang seakan ingin membunuh seseorang. Sekitar satu jam perjalanan,kami sampai dirumahku. Aku penasaran bagaimana James tau alamat orang tuaku, padahal aku belum memberitahunya. Bahkan dia tidak bertanya. Aku langsung membuka sabuk pengaman dan turun dari mobil. Rumahku tampak ramai dikunjungi tetangga. Aku menerobos barisan tetangga yang sedang membicarakan ayahku. "Ibu!" aku langsung menghampiri ibuku yang sedang duduk dilantai dengan wajah lesu. Dia langsung memelukku erat, hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apa-apa. Aku merasa bersalah kepada mereka."Ayah bagaimana buk?""Dibawa baron kerumahnya nak, katanya kalau mau jemput ayah harus lunasi hutangnya hari ini," Ibu menjelaskan sambil menangis. Aku tidak bisa menenangkan nya lagi.James menunggu. Dia sedang berdiri didekat pintu menyaksikan tangi
"ayo!" Baron ditarik paksa oleh James. Mereka sudah sampai di sebuah gedung yang mirip rumah sakit. Baron mencari-cari nama rumah sakit itu tapi mereka sudah berada di halamannya. "Mau kemana kita?" tanya Baron ketakutan. Yang ada dipikirannya adalah..."Suntik mati!" Jawab James tanpa menoleh. Garis wajahnya begitu tegas dan kejam, membuat Baron semakin trauma. "Kumohon, jangan suntik mati" rengek Baron memelas, "aku akan lakukan apapun tapi jangan suntik mati aku" "Kau rupanya takut mati juga? Apa kau takut tidak dapat kesempatan mencoba obat barumu?" "Apa?""Obat baru yang kau beli dari seorang dokter kandungan" "Darimana kau tau itu?"James menghentikan langkah dan menatap tajam Baron, "tentu saja aku tau semua perbuatan mu, bahkan semua daftar psk juga gigolo yang kau sewa!" Baron bungkam, dia tidak dapat mengelak apapun lagi. Sudah pasti James bisa mendapatkan informasi apapun dari manapun. Selama ini, Baron merasa bahwa dia adalah seorang mafia yang disegani di bawah ko
Hari -hari James menjadi lebih sulit setelah dia pulang ke Boston. Terus mengecek email dan meminta semua orang untuk melapor setiap satu jam sekali. Gedeon yang paling aktif. James sempat tersedak saat sedang meneguk tehnya. Cara Gedeon cukup cerdik. Dia menggunakan media sosial untuk mengunggah setiap aktifitasnya di Farm Girl sebagai pegawai baru. Alice menyadarinya tentu saja, tapi dia terus tersenyum saat diajak ber selfie oleh Gedeon. Terkadang Alice menunjukkan sarapannya, atau melambai saat dia sedang berjalan melewati Farm Girl di petang harinya. Itu mengobati rindu James meski hanya sedikit. Sebagian besar pekerjaannya sudah di alihkan pada semua tangan kanan dan sekretasinya, namun kehadirannya di kantor sangat dibutuhkan. Pengaruh James yang cukup besar tidak hanya untuk perusahaannya saja, namun beberapa saham yang dimilikinya di beberapa negara bagian lainnya. Seperti satu hari itu, James berangkat menggunakan
"Dia pergi kekawasan Notting Hill kak," Scott melaporkan situasi terkini Aldrick Beufort pada James yang sedang berjaga-jaga di dekat sebuah gedung. James terus merasa gelisah sejak kepergian Alice bersama Thomas. Dia melihat bagaimana pandainya Thomas mengatur emosi, mimik wajah juga ucapannya. Orang seperti itu sangat berbahaya jika kita tidak bertindak hati-hati. Jadi, alih-alih membiarkan Alice melakukan petualangan nya sendiri, James malah mengatur rencana untuk kekasihnya. "Cari tau apa yang dia lakukan disana, dik," titah James tegas, dia tidak mau membuang kesempatan apapun untuk Alice. "Baik," Scott mematikan sambungan .James lalu pindah ke sebuah kafe diseberang gedung itu. Mengawasi setiap gerak-gerik mencurigakan. Mendapati Alice keluar bersama Thomas dan beberapa gadis yang tampak akrab dengannya. "Apa dia mendapat teman baru?" pikir James menaikkan satu alisnya. Dia sangat tau bagaimana Alice. Dia me
"ehemmmm" Aldrick langsung mengalihkan pandangan pada gadis mungil dibelakangnya. Matanya sinis juga mencela. Tapi bibirnya terkatup rapat. Alice bersikap santai, dia tersenyum lebar lalu duduk disebuah kursi dekat jendela. Angin menyibakkan rambutnya yang tergerai panjang. Ingin sekali Aldrick merapikan rambut itu. "Eh kok sudah bisa senyum? Sudah sembuh?" Celetuk Aldrick membuat Alice nyengir."Belum, tapi karena musiknya sudah mati, jadi gigiku tidak terlalu berdenyut seperti tadi," "Oh maafkan keegoisanku madam," Aldrick meminta maaf sambil membungkuk dengan sikap hormat. "Hahahah! Aku merasa jadi lebih tua," "Oh maaf, nona. Aku lupa kau belum menikah atau apakah sudah?" sindiran penuh rasa penasaran. "Tentu saja belum," Alice tersenyum manis sekali, sampai rasanya Aldrick akan membutuhkan suntik insulin. "Baiklah, aku akan mengambilkan minum untukmu" diberikannya obat pereda nyeri itu,
Semua hal di dalam dunia menjadi indah jika kita mensyukuri apa yang sudah dimiliki. Namun Aldrick hanya memiliki sebagian sebagian besar yang diinginkan kebanyakan orang. Uang bukan sesuatu yang benar-benar menggiurkan jika kau memiliki seisi Bank. Tapi Aldrick bersyukur dia memiliki Nut. Meskipun sebelum ini Aldrick tidak pernah bertanya siapa ibunya, tapi dia juga tidak menampik akan rasa penasaran terhadap sosok ibunya. Meski begitu, selera Aldrick tentang perempuan juga tidak main-main. Mungkin karena itu dipengaruhi oleh pengasuh nya sejak bayi, yaitu Bibi Sally. "Kau tau! tidak ada seorang ibu yang ingin melihat anaknya menderita. Semua ibu itu memiliki cinta yang paling besar untuk anak-anak mereka. Anak adalah hidupnya, dan dia rela menukar hidupnya untuk kebahagiaan anaknya," Dulu, Aldrick tidak mengerti ucapan yang selalu di ulang-ulang oleh Bibi Sally. Namun belakangan, Aldrick sudah mengetahui maknanya. Hingga ia memutuskan untuk
Nut terheran-heran. Sejak tadi Aldrick terus memandang ke jendela dan tersenyum seperti orang gila. Bahkan dia tidak memberi tahu Nut, siapa yang dia kunjungi di Brick Lane tadi. Namun Nut tidak ingin mengganggu apapun yang membuat tuannya tampak bahagia. Dia bersimpati pada gadis yang membuat Aldrick tampak berbeda. Binar matanya yang kelam menunjukkan cahaya meski sedikit. Mobil berhenti didepan rumah yang berdempetan rapi. Setiap rumah di cat dengan warna-warna cerah , menambah keindahan kawasan di Notting Hill itu.Aldrick membeli rumah di Chepstow Villas ini sejak tahun lalu, saat perjumpaannya dengan Alice. Dia memiliki harapan yang cerah begitu mengunjungi kawasan yang selalu ramai wisatawan itu. Rumah dengan warna cat biru pastel. Disebelah rumah berwarna pink. Dia mengira rumah itu kosong dan akan manis sekali jika yang menempatinya itu seorang gadis. Selain lingkungannya yang bagus, Chepstow dekat dengan Westbourne Grove, y
" Menurutmu, apa yang membuat Thomas datang kemari?" tanya Aldrick pada Nut"Aku fikir, kita harus membiarkannya masuk untuk dapat tahu tujuannya tuan," Nut menyarankan."Benar juga, tapi bukankah sangat beresiko untuk kita?" Aldrick merasa cemas, jari-jarinya tak berhenti mengetuk-ngetuk sofa Nut mengangguk setuju, "tapi anda sudah punya bukti-bukti siapa korban sesungguhnya tuan. Anda bisa saja mati jika aku tidak ada disana saat itu," Aldrick mau tak mau harus mengambil resiko jika ingin namanya kembali bersih. Meskipun dia sendiri tidak keberatan sama sekali jika namanya tercoreng. Itu hanya masalah seorang gadis, bajingan manapun pernah mengalami hal yang lebih parah. Mengingat kembali bagaimana pertemuannya dengan Bella saat kunjungannya ke amerika, Aldrick menemukan Bella belia yang manis dan lugu. Saat itu, Bella masih menjadi salah seorang mahasiswi di Washington University, Seattle. Dia memang memiliki perawakan yang nyaris sempurna. Bella memiliki potensi yang bagus se
"eehhh tuan?" Nut melirik Aldrick yang terlihat gugup. Tangannya menggenggam tangan Nut sangat erat. "Ada apa Nut?" tanya Aldrick kesal, "Apakah tuan gugup?" Nut masih memandangi tangan bosnya itu. Aldrick menyadari posisi itu dan langsung melepasnya. Seraya merapikan jasnya yang sudah licin, Aldrick berjalan menuruni tangga dengan sikap pongah seperti biasa. Nut mendengar Clint sedang bergosip mengenai sikap bos mereka akhir-akhir ini. Dia hanya dapat melempar pandangan mematikan pada mereka. "Bagus sekali Clint, kau bisa mengurusi pacarmu selama bos sedang sibuk hari ini," Nut berkata dengan sinis. Membuat senyum konyol Clint menghilang dari wajahnya yang bulat. Nut merasa puas dapat membungkam mulut Clint yang mirip perempuan. Bagaimana pun, Nut sangat menghormati Aldrick dan akan membelanya mati -matian. "Selamat datang Tuan Beufort!" Seru salah seorang pria berjas abu-abu dengan dasi hitam putih, perutnya tampak memberontak dalam Jas yang kesempitan itu. Al
"tuan, pesawat sudah siap" ujar seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam. Dia memasang wajah datar seperti biasa. "Oke, Nut?" Aldrick melirik ajudannya yang berambut ungu. "Segera tuan," jawab Nut langsung bergerak mundur. Mereka masuk kedalam pesawat jet pribadi milik Aldrick yang berinterior mewah dengan segala fasilitasnya. Dua wanita muda jangkung, mengenakan dress seksi langsung berdiri begitu melihat kedatangan Aldrick. Mereka menyambutnya dengan senyuman merekah, dihiasi bibir ungu tua , yang satunya merah cerah. Selera fashion mereka juga tampak aneh. Aldrick hanya melenggang duduk di sofa empuk, mengabaikan dua wanita aneh yang sedari tadi minta perhatiannya. "Aku heran, apa tidak ada wanita lain dengan selera yang lebih berkelas?" gerutunya dalam hati. Tapi Aldrick tidak suka mengoceh. Dia yakin, para pegawainya sudah berusaha melakukan yang terbaik. Lagi pula, dua wanita itu tidaklah jelek. Dengan perawakan montok depan belakang, kulit putih mulus, rambut tergerai