Kiara Giovanna, seorang gadis cantik berusia 23 tahun yang terpaksa menikah dengan Edwin Anderson. 26 tahun. Sosok pria yang sudah menyebabkan Daddy-nya meninggal dunía karena kecelakaan, kecelakaan yang bermula dari kelalaian Edwin sendiri. Kiara pun sudah menolak pernikahan ini, namun karena paksaan Edwin, dan permintaan Daddy-nya sebelum meninggal. Kiara akhirnya menerima pernikahaan ini.
Pernikahan yang membuat Kiara merasa kecewa, dan sia-sia. Bagaimana tidak kecewa, dan sia-sia. Jika selama pernikahannya dengan Edwin-Kiara tidak pernah di anggap, Kiara merasa di campakkan, dan Kiara merasa percuma selama dua bulan ini menjalani pernikahan. Sebab Edwin sendiri masih menjalin hubungan dengan kekasihnya, dan hanya dia yang mengetahui hal ini. Karena Edwin tidak berani mengatakan yang sesungguhnya kepada Victor. Victor Anderson, sosok pria gagah, dan tampan yang kini berusia 37 tahun. Seorang duda dan pengusaha nomor satu di New York, wajahnya yang tampan dengan rambut hitam legam yang selalu rapi, mata coklat yang tajam, dan hidung mancung membuat banyak wanita terpikat padanya. Pria itu ialah, Ayah dari Edwin Anderson. Meskipun Victor bukan Ayah biologis Edwin, tapi Victor benar-benar menganggap Edwin sebagai putra kandungnya sendiri. Sebab, Victor mengasuh Edwin semenjak mantan istrinya membawa Edwin ke mansion Anderson. Victor memiliki pembawaan yang terkesan dingin dan misterius, di balik penampilannya yang sempurna. Victor adalah seorang pria yang sulit didekati, setiap langkahnya terukur, dan wajahnya jarang menunjukkan ekspresi yang berlebihan. Kiara sendiri selalu takut jika berhadapan dengan Victor. Mansion Anderson, New York. "Kak Edwin," panggil Kiara saat melihat Edwin yang baru saja masuk ke dalam kamarnya, selama dua bulan menikah dengan Edwin. Kiara tidak pernah tidur bersama suaminya itu. "Aku akan pergi selama dua hari bersama Cecil, aku harap kau bisa bekerja sama ketika Daddy menanyakanku," ucapnya dengan suara dinginnya. Kiara menghela nafasnya perlahan, wanita itu menatap Edwin dengan sendu. "Sampai kapan kita akan seperti ini, Kak? Tidak adakah harapan untuk kita memperbaiki hubungan ini selayaknya suami-istri?" tanya Kiara dengan berani, Edwin menatapnya tajam. Dalam sekali gerakan Edwin mencengkram dagu Kiara. "Kau tidak lupa statusmu bukan? Kau hanya istri di atas kertas, Kiara. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai istriku, karena kau tidak pantas! Hanya Cecilia yang pantas di sebut sebagai istriku, dan aku ingatkan kembali kepadamu ... pernikahan ini hanya akan bertahan selama satu tahun! Jadi jangan mengharapkan lebih dalam hubungan ini." Edwin menyentakkan dagu Kiara, membuat wajah gadis itu tertoleh ke kanan dengan kasar. "Lagi pula siapa yang mau denganmu? Aku menikahimu hanya karena merasa bersalah dengan Daddymu, jika saja Daddymu tidak meminta hal konyol seperti ini-aku sudah menikah dengan Cecilia saat ini sialan! Seharusnya kau bersyukur ketika aku berbaik hati memungutmu selama satu tahun, kau bisa menikmati hidup kaya sebelum aku buang," hina Edwin, Kiara yang mendengar sontak merasakan sakit hati. Dadanya terasa begitu sesak. "Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, menjijikkan!" sentak Edwin, sebelum akhirnya pria itu melangkah keluar dari kamar Kiara. Meninggalkan Kiara yang meluruhkan tubuhnya ke lantai, gadis itu menangis. Setelahnya, Kiara langsung menuju kamar mandi. Ketika berada di kamar mandi, Kiara menghidupkan shower dan meluruhkan tubuhnya di lantai kembali. Kiara menangis histeris, menekan dadanya yang teramat sesak. Kiara memukul dadanya, menghilangkan rasa sesak yang terus bergelung di benaknya. "Apakah aku serendah itu, Dad? Kenapa dia menghinaku seperti itu? Aku bahkan sejak awal sudah menolak pernikahan ini, tapi kenapa dia yang mengatakan jika aku menjijikkan? Kenapa dia mengatakan jika aku menghancurkan hubungan mereka? Kenapa, Dad?" teriak Kiara, gadis itu meraung. Memukuli dadanya yang sangat sesak. "Apakah semua orang kaya seperti itu? Kenapa kau tidak mengajakku kesana, Dad? Aku ingin ikut bersamamu! Untuk apa aku hidup jika aku hanya sendiri di sini?" jerit Kiara. Gadis itu benar-benar terlihat memilukan, ia menggosok tubuhnya dengan kasar. Mencakarnya, dan melukainya. Sembari air matanya yang terus mengalir. "Jijik, kau menjijikkan Kiara. Kau menjijikkan, tidak akan ada yang sudi bersamamu. Tidak adal jerit Kiara dengan ribuan rasa sakit, dan sesak yang menghantam dadanya. Ada satu jam lamanya Kiara menghabiskan waktu di kamar mandi, ia menyiksa dirinya sendiri. Meluapkan amarahnya, dan melampiaskan kesedihannya. Kiara benar-benar terlihat rapuh. Kini Kiara sudah berada di atas ranjang, meringkuk dengan tubuh menggigil. Air matanya sejak tadi terus mengalir, seakan-akan tidak ingin berhenti meratapi nasibnya. Sedangkan di lantai satu, Victor duduk di meja makan dengan tatapan yang memindai sekitar. Pria itu cukup heran dengan kondisi malam ini, sebab menantu dan putranya tidak ada. Victor mendongak, menatap kepala maid di depannya. "Kemana Edwin, dan Kiara. Paula?" tanya Victor kepada kepala maid. "Tuan Edwin sudah keluar, Tuan. Kalau Nona Kiara sedang sakit, tadi saya sempat ke kamarnya berniat memanggil makan malam," jelas Paula. "Kiara sakit?" beo Victor, Paula mengangguk. "Iya, Tuan. Nona Kiara sakit, sepertinya demam," jawabnya, Victor terdiam sejenak. "Kalau begitu buatkan dia sup, dan antarkan obat untuknya. Jika masih sakit, antarkan dia ke dokter, titah Victor. "Baik, Tuan. Tadi saya sudah meminta Martina mengantarkan sup dan obat," "Baguslah," sahut Victor, pria itu mulai menyantap hidangan makan malamnya. Ada perasaam gelisah yang tiba-tiba menyerang benaknya. "Bukankah dia tadi baik-baik saja? Apakah dia dan Edwin sedang bertengkar? batin Victor. Satu minggu kemudian, Semenjak kejadian satu minggu lalu, Kiara lebih banyak diam. Gadis itu tidak terlalu berinteraksi dengan Edwin kembali seperti sebelumnya. Jika sebelumnya Kiara berusaha selayaknya seorang istri. Saat ini Kiara berusaha selayaknya orang asing. Meskipun begitu, Kiara tetap melayani Edwin di depan Victor. Berusaha terlihat baik- baik saja di depan mertuanya. "Dad," panggil Edwin, Victor menoleh. Pria itu menatap Edwin yang membawa koper. "Kau mau kemana, Edwin?" tanya Victor. "Aku mau ke Italia selama dua minggu, Dad," Victor tersenyum, "kau mau honeymoon bersama Kiara? Apakah kau membutuhkan villa pribadi Daddy?" tanya Victor, Edwin menggeleng. "Kenapa?" tanya Victor dengan heran, ia mengernyitkan dahinya. Edwin mendesah pelan, pria itu menatap Victor dengan serius. "Aku tidak honeymoon bersama Kiara, Dad. Aku ke Italia pergi sendiri bersama sekertarisku Amanda, karena ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan di sana," ujar Edwin. "Daddy kira kau akan honeymoon, tapi jika kau ingin sekalian ingin honeymoon tidak apa-apa," goda Victor, Edwin mendengkus. Malam harinya, "Tidak, Dad. Sudahlah, Edwin berangkat sekarang." Edwin segera pergi setelah berpamitan kepada Victor. Victor menggelengkan kepalanya melihat putranya Edwin. Kiara sedang sibuk membuat kue, tadi siang ia sudah meminta izin Victor untuk membuat kekacauan sebentar pada dapur, dan beruntung Victor mengizinkannya. Serta membebaskannya. Menjadikan Kiara senang, la bisa mengisi kekosongannya. Berkreasi dengan kesukaannya. "Paula, cobalah kue ini. Apakah rasanya sudah pas?" Kiara memberikan kue di tangannya kepada Paula. Wanita paruh baya itu mengambilnya, dan mencicipinya. "Wah, rasanya sangat enak. Nona, kau benar- benar pintar memasak," puji Paula, Kiara terkekeh. "Jangan memujiku terlalu berlebihan seperti itu, nanti kepalaku jadi sangat besar, canda Kiara, Paula tertawa di buatnya. "Apakah sudah selesai semuanya, Nona? Lalu untuk apa kue sebanyak ini nantinya? Apakah Nona akan menjualnya?" tanya Paula, Kiara menggeleng. "Tidak, aku ingin membaginya ke panti asuhan yang biasanya aku datangi. Aku sudah berjanji kepada adik-adik di sana untuk membuatkan kue- kue ini," ucapnya dengan senyum mengembang di bibirnya. Paula turut tersenyum, la merasa terharu dengan pribadi Kiara. "Anda sangat baik, Nona," puji Paula kembali. Setelahnya, Paula dan Kiara menata kue-kue tersebut ke dalam wadah dan memasukkannya ke dalam paper bag. Kemudian, Paula pergi ke pavilliun para maid, sementara Kiara masih meneguk air dingin. Tak lama kemudian, Kiara melangkah keluar dari dapur. Gadis itu mengeratkan tali pada jubah tidurnya, ia melangkah menuju kamarnya. Ketika tiba di depan lift, Kiara melihat sosok Victor. "Dad ... hhmmpptthhh," Kiara tidak dapat melanjutkan ucapannya, ia juga melotot saat Victor dengan tidak sopannya mencium bibirnya. Kiara memberontak, namun Victor semakin menahan tubuhnya. Bahkan kini pria itu menggendong Kiara seperti karung beras. Membawanya pergi ntah kemana. "Daddy! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" Kiara memukul punggung Victor, gadis itu merasa ketakutan dengan Victor yang seperti ini. "Daddy, turunkan Kiara. Kiara mohon," pinta Kiara, gadis itu sudah menangis. Rasa khawatir menyeruak ke dalam benaknya saat Victor membawanya ke dalam kamar pribadi pria itu, Victor menguncinya. Kemudian membawa Kiara ke ranjang, ia menghempaskan Kiara di atas ranjang. Tidak sakit, tapi cukup membuat Kiara meringis. "Dad, apa yang kau lakukan? Sadarlah aku istri Edwin! Kau sedang mabuk!" pekik Kiara, bau alkohol tercium menyengat di hidungnya. Kiara terus meraung, namun Victor seakan-akan menulikan telinganya. Pria itu melumat bibir Kiara, mengunci tubuh berontak Kiara. "Kau sangat cantik, Kia. Rasanya aku tidak tahan sekali, oh fuck!" Victor menggeram, pria yang tengah mabuk itu mulaii melewati batasannya, ia menyentuh Kiara dan membuat Kiara terus menangis memberontak. "Dad, sadarlah. Aku istri putramu," ucapnya dengan suara bergetar, ia menggigit bibir bawahnya saat Victor memainkan miliknya. Kiara terus berusaha melepaskan diri dari kungkungan Victor, namun percuma. Apa yang tidak seharusnya terjadi—pada akhirnya terjadi. Victor merenggut kesuciannya, kesucian yang selama ini ia jaga. Pria itu dengan tidak berdosanya menggeram, dan mengerang dalam setiap hujaman, serta hentakkan yang ia lakukan. Kiara sendiri terus meneteskan air matanya, ia merasakan jijik dan hina. Bagaimana bisa Victor menodainya. Malam ini, adalah malam kelam yang membuat Kiara merasakan kehancuran. "Oh shit! Kau membuatku gila, Kia." Victor menghentakkan miliknya, ia menyemburkan cairan cintanya untuk kesekian kalinya di dalam rahim Kiara. ***Kiara menggeliat tertahan, suara ringisan terdengar dari bibirnya. Kedua kelopak matanya bergerak, sebelum akhirnya secara perlahan mulai terbuka. Gadis yang kini sudah menjadi seorang wanita itu mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, ia mencari kesadarannya. Wanita itu memejamkan kedua matanya sejenak, sebelum kembali terbuka dan menunduk. Kedua mata Kiara menatap sendu ke arah tangan kekar Victor yang melingkar di perut rampingnya, seketika air matanya kembali luruh saat mengingat kejadian semalam. Kejadian yang membuat hidup Kiara semakin hancur. Kiara menyingkirkan tangan Victor, wanita itu mencoba beranjak bangun dengan susah payah, ia duduk dan menoleh ke arah Victor. Hatinya kembali merasakan sesak saat bagaimana Victor berkali-kali melakukan hal gila kepadanya, Kiara mengusap air matanya, ia menuruni ranjang dan meraih kemeja Victor. Memakainya, lalu bergegas melangkah keluar dari kamar Victor dengan langkah yang susah. "Shhss, sakit sekali," gumam Kiara saat merasakan pe
Napoli, Italia."Bagaimana kabar istrimu, Sayang? Apakah dia menghubungimu?" tanya Cecilia, wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Edwin."Tidak, dan lagi untuk apa kau selalu membahasnya. Cecil? Kau mengatakan jika tidak terima dengannya, tapi kau selalu menyebutnya sebagai istriku. Apakah ini menandakan jika kau sebenarnya sudah merelakanku menjadi milik orang lain?" kesal Edwin, sebab Cecil selalu saja membahas tentang Kiara. Yang mana membuat Edwin muak."Bagaimana bisa aku menerimanya, aku membahasnya karena ingin mengingatkanmu jika kau harus segera menceraikannya!" ketus Cecil, Edwin menghembuskan nafasnya perlahan. Pria itu menarik Cecil untuk duduk di bibir ranjang."Aku akan menceraikannya, tenang saja. Kau tidak perlu khawatir, bukankah aku tidak pernah berbohong? Jika kau terus membahasnya—aku jadi muak,""Ya, maafkan aku yang selalu membuatmu muak karena Kiara. Tapi jujur aku sangat tidak suka dengannya, Sayang. Aku ingin kau segera membuangnya, dan kita menikah
"Semakin kau menolak, semakin membuatku tertarik denganmu. Kia,"Deg!Kiara terkejut, wanita itu menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Victor. Kiara semakin melangkah mundur saat Victor melangkah ke arahnya, hingga tubuhnya kini menabrak kursi. Kini tubuh Kiara terhimpit dengan kursi, dan tubuh Victor."Menjauhlah, Dad. Jangan seperti ini," ucap Kiara dengan rasa takut yang menyeruak.Victor menyeringai, tangannya terangkat membelai wajah cantik Kiara. Jemari besarnya pun sudah bergerak mengelus pipi, mata, hidung, dan berakhir di bibir sexy Kiara. Membuat wanita itu merasa ketakutan, tubuhnya bergetar."Seperti apa? Apakah seperti ini?" Victor merengkuh pinggang Kiara, Kiara tersentak. Wanita itu memberontak tapi Victor menahannya."Kenapa kau selalu menghindar semenjak kejadian itu, Kiara?" tanya Victor dengan suara geraman tertahan.Kiara kembali memberontak, wanita itu mencoba mendorong tubuh Victor. Namun tidak bisa, Victor menahannya dengan kuat. Bahkan saat ini pria itu
Bukankah Victor sangat gila, bisa-bisanya dia mengintai Kiara melalui cctv tersembunyi. Yang mana bisa melihat apapun kegiatan Kiara, Victor tersenyum smirk. Pria itu terus menatap Kiara yang kini masuk ke dalam kamar mandi.Victor mengerang, dan menggeram. Pria itu mengeluarkan miliknya, dan melakukan solo karir bermodalkan bantuan Kiara. Gila, Victor memang sudah gila.Setelah menuntaskan segalanya, dan melihat Kiara yang mulai bersiap tidur. Victor menutup laptopnya, pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Kedua matanya memejam."Kau harus menjadi milikku, Kia. Kau tidak bisa berharap kepada putraku, untuk apa kau mengharapkan Edwin yang malah memilih wanita lain?" gumam Victor, pria itu membuka matanya, dan mendesah pelan."Kenapa susah sekali menjeratmu? Sedangkan di luar sana para wanita biasanya langsung melemparkan dirinya kepadaku, tapi kau?" Victor mengacak-acak rambutnya dengan kasar.Tak lama kemudian, Victor berdiri. Pria itu melangkah keluar dari ruang kerjan
"Maaf, Daddy. Kiara tidak bisa, Kiara sudah memiliki suami, dan suami Kiara putra Daddy sendiri. Jadi Kiara mohon, jangan ganggu Kiara. Lupakan semua perasaan atau obsesi Daddy terhadap Kiara, sampai kapanpun Kiara tidak akan mau menjadi kekasih bahkan istri. Daddy," tolak Kiara dengan tegas.Victor tertegun, harga dirinya terasa tercoreng dengan penolakan Kiara. Pria itu melihat Kiara yang menarik kedua tangannya, dan mengalihkan wajahnya ke arah lain. Victor mengeraskan rahangnya."Kenapa kau menolakku, Kia? Kau berharap apa kepada Edwin? Dia memiliki Cecilia, bahkan dia akan menceraikanmu setelah ini. Lalu apa yang kau harapkan dari Edwin, Kia?" cerca Victor, membuat Kiara terkejut. Wanita itu menoleh."D-daddy, tau?" tanya Kiara terbata, Victor terkekeh lirih."Kau kira aku pria bodoh? Aku tau segalanya, Kiara. Bahkan aku tau jika selama ini Edwin tidak menyentuhmu—karena aku orang pertama yang menyentuhmu!" sentak Victor, jantung Kiara berpacu kian cepat. Wanita itu menggigit bib
"Stop it." Kiara menggelengkan kepalanya saat Victor akan menyerang bibirnya kembali, Victor tersenyum. "Kenapa, Baby? Apakah kau merasa tidak nyaman?" tanya Victor, Kiara mengangguk. "Aku istri putramu, Dad. Berhentilah untuk bersikap seperti ini," lirih Kiara, sesungguhnya wanita itu terbuai akan ciuman dan cumbuan Victor. Namun, mengingat jika ia berstatus istri Edwin. Membuatnya takut, Kiara tidak ingin terjatuh terlalu dalam. Sebab, Victor selalu menggodanya. Yang mana suatu saat bisa saja ia khilaf. Victor mendesah pelan, "kau benar-benar tidak ingin bersamaku, Kia?" tanya Victor, Kiara menggelengkan kepalanya. "Apa yang kau harapkan dari Edwin? Dia tidak mencintaimu, Kiara," ujar Victor dengan mengerang, pria itu menatap Kiara dengan serius. "Sudahlah, Dad. Aku tidak ingin membahasnya, bisakah Daddy keluar dari kamarku?" pinta Kiara, wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Baiklah, kau istirahat. Daddy keluar dulu." Victor mengecup lembut puncak kepala
Mansion Anderson, 04.00 PM. "Dimana Kiara, dan Daddy. Paula?" tanya Edwin, pria itu baru saja pulang ke mansion setelah dua minggu pergi. "Nona Kiara ada di kamarnya, Tuan. Sementara Tuan Victor ada di mansion satunya sejak dua minggu lalu," jelas Paula dengan sopan, Edwin menaikkan sebelah alisnya. "Ke mansion satunya? Untuk apa Daddy ke sana?" "Saya kurang paham, Tuan," jawabnya, Edwin mengangguk. Pria itu melangkah menuju kamarnya. Setibanya di kamar, Edwin masuk ke dalam kamar mandi. Pria tersebut membersihkan tubuhnya, setelah selesai. Edwin menuju walk in closet, mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Kemudian, pria itu melangkah menuju kamar Kiara. "Kia, bangun." Edwin menggoyangkan tangan Kiara ketika sampai di kamar wanita itu, Kiara terusik. Wanita itu membuka kedua matanya, dan terkejut. "Kak Edwin?" Kiara beranjak bangun, ia duduk dan melihat Edwin yang menatapnya tajam. "Aku memang menikahimu, Kiara. Tapi tidak untuk kau menjadi malas-malasan begini, apakah
Victor mendorong tubuh Kiara, pria itu menatap Kiara dengan datar. Kemudian merapikan pakaiannya, dan menatap Kiara kembali. Sementara Kiara, wanita itu menatap Victor dengan kesal. "Apa yang kau lakukan, Kiara?" tanya Victor dengan datar. "Menciummu, memangnya apa lagi? Apakah kau terlalu senang di cium oleh wanita lain?" kesal Kiara, Victor mendengkus. "Memangnya kenapa jika ada wanita lain yang menciumku? Tidak ada larangannya bukan? Kau sendiri sudah menolakku, Kia. Lalu untuk apa kau mempermasalahkannya? Wajar saja jika aku berhubungan dengan wanita lain, sebab setelah kau menolakku—masih ada wanita lain yang menginginkanku," ucap Victor, membuat dada Kiara terasa sesak. "Sekarang katakan kepadaku, apa yang kau inginkan datang kemari? Apakah kau memiliki urusan penting denganku, atau Edwin? Jika memang tidak ada—pergilah, karena aku tidak ingin ada kesalahpahaman. Sebab sekarang aku sadar jika kau menantuku!" tekan Victor dengan suara dinginnya, yang mana kata-kata Vic
Victor mencium Kiara dengan penuh gairah, bibirnya menyapu dengan lembut namun menuntut, membuat wanita itu tenggelam dalam arus hasrat yang menggelora. Tangan besar Victor menelusuri lekuk tubuh Kiara, menariknya semakin dekat hingga dada mereka saling bertemu, seakan ingin menyatu lebih dalam. Kiara menggeliat dalam pelukan Victor, jemarinya menyusuri rambut pria itu, menariknya lebih dekat sementara desahan penuh nikmat meluncur dari bibirnya. Victor menyeringai, menikmati bagaimana istrinya menjadi begitu patuh dalam kungkungannya. "Kau benar-benar menggoda, Baby," gumam Victor dengan suara serak sebelum melumat bibir Kiara lagi, kali ini lebih menuntut, lebih mendominasi. Kiara tersentak, namun tubuhnya segera menyesuaikan, menerima setiap sentuhan Victor dengan penuh hasrat. Dengan satu gerakan kuat, Victor mengangkat Kiara dan mendudukkannya di bangku kayu yang dingin. Gaun rumah yang sederhana dengan mudah tersingkap saat tangan Victor mengelus pahanya, jemarinya meny
Di sebuah toko bunga mewah yang terletak di sudut jalan kota, Victor berdiri dengan tenang, matanya menelusuri berbagai macam bunga yang tertata indah di dalam vas kaca. Wangi mawar dan lily bercampur lembut di udara, menciptakan suasana yang menenangkan. Tangan Victor yang besar dan kokoh mengambil seikat mawar merah dengan kelopak yang masih segar, lalu menatapnya sejenak. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya saat membayangkan bagaimana ekspresi Kiara ketika menerimanya nanti. Namun, momen itu terganggu oleh suara langkah kaki seseorang yang mendekat. "Victor." Sebuah suara lembut namun tajam bergema di udara. Victor menegang sejenak sebelum menoleh sekilas. Sosok wanita dengan gaun berwarna biru tua berdiri di sana, rambut panjangnya tergerai sempurna, matanya menatap Victor dengan penuh arti. Eleanor. Namun, Victor hanya menoleh sebentar sebelum kembali menatap mawar di tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia melangkah ke kasir. Eleanor memicingkan matanya,
Keesokan harinya, suasana di sebuah kafe mewah di pusat kota terasa sibuk. Para eksekutif dengan setelan mahal memenuhi ruangan, membahas bisnis mereka dengan serius. Aroma kopi berkualitas tinggi bercampur dengan suara dentingan gelas dan piring, menciptakan harmoni yang khas. Di salah satu sudut ruangan yang lebih privat, Edwin Anderson duduk tegap di kursinya, ekspresi wajahnya tenang dan profesional. Seorang pria paruh baya dengan jas hitam yang rapi duduk di hadapannya, sementara beberapa dokumen terbuka di atas meja. "Mr. Anderson, saya harus mengakui, proposal Anda sangat mengesankan," ucap pria itu sambil melirik berkas yang tersusun rapi. "Namun, kami tetap ingin memastikan bahwa kerja sama ini akan menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kami membutuhkan jaminan bahwa distribusi produk ini akan berjalan lancar tanpa kendala logistik." Edwin menyandarkan tubuhnya, menyesap espresso hitamnya sebelum menjawab dengan suara dalam yang tegas, "Anda tidak perlu khawatir, Mr. Col
Di sebuah kafe dengan desain klasik nan elegan, dua wanita duduk berhadapan di sudut ruangan yang sedikit tersembunyi. Aroma kopi hitam yang pekat bercampur dengan wangi vanilla dari lilin aroma terapi di setiap meja, menciptakan suasana yang nyaman. Namun, meski suasananya tampak damai, percakapan di meja itu jauh dari kata tenang. Eleanor mengaduk cangkir kopinya dengan pelan, pandangannya lurus ke depan dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sementara itu, wanita di hadapannya, Cecil, tersenyum miring sambil memainkan sendok peraknya. "Kau terlihat terlalu serius, Eleanor," ucap Cecil dengan nada santai, tapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. "Apa kau masih tidak terima kalau Victor sudah menjadi milik wanita lain?" Eleanor tersenyum tipis, tapi matanya berkilat tajam. "Victor bukan 'milik' siapa pun, apalagi wanita biasa seperti Kiara. Aku mengenalnya lebih lama. Aku tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Dia hanya… tersesat sejenak." Cecil terkekeh pela
Pagi menjelang dengan tenang di mansion keluarga Anderson. Matahari baru saja menyentuh puncak pohon ketika Kiara terbangun dari tidurnya. Tubuhnya masih diselimuti kehangatan Victor, yang lengannya melingkari pinggangnya dengan posesif. Ia tersenyum tipis, membiarkan dirinya menikmati momen itu sebelum akhirnya mencoba beranjak.Namun, begitu ia bergerak, lengan Victor mengencang."Jangan pergi," gumamnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.Kiara terkekeh, membelai rambut suaminya. "Anak-anak bisa bangun kapan saja. Aku harus melihat mereka."Victor membuka matanya perlahan, menatapnya dengan pandangan yang selalu berhasil membuat Kiara kehilangan napas. "Biarkan Sofia mengurus mereka sebentar lagi. Aku masih ingin bersamamu."Kiara menggigit bibir, hampir tergoda, tapi suara dentingan piring dari lantai bawah mengingatkannya bahwa hari sudah dimulai. Ia pun mencium pipi Victor singkat sebelum berhasil meloloskan diri dari pelukannya.Saat turun ke ruang makan, aroma kop
Mansion keluarga Anderson berdiri megah di atas lahan luas, dikelilingi taman berhiaskan mawar putih yang bermekaran. Di halaman belakang, air mancur berlapis marmer memantulkan sinar matahari sore, menciptakan suasana damai yang selalu dirindukan Kiara setelah bepergian jauh. Hari itu, keluarga kecil mereka baru saja kembali dari perjalanan di laut. Kenneth dan Felix tidur nyenyak di kamar bayi, sementara Victor mengawasi mereka dari kursi di sudut ruangan, lengan bersilang di dada. Kiara berdiri di ambang pintu, mengamati suaminya yang tampak begitu tenang. "Kau terlihat seperti penjaga gerbang surga," godanya sambil melangkah masuk. Victor menoleh, seulas senyum tipis di bibirnya. "Jika begitu, berarti kau bidadarinya." Ia menepuk pahanya, memberi isyarat agar Kiara mendekat. Tanpa ragu, Kiara duduk di pangkuannya. Tubuhnya bersandar pada dada bidang Victor, menikmati kehangatan yang selalu membuatnya merasa aman. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara deru me
Matahari telah naik lebih tinggi, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan laut yang tenang. Kiara berbaring terlentang di atas selimut putih, dadanya masih bergerak naik-turun perlahan. Victor memandanginya dengan mata penuh kepuasan, jari-jarinya yang besar dengan lembut mengusap lekuk tulang rusuk sang istri. “Kau masih hidup?” goda Victor, suaranya serak namun penuh kelembutan. Bibirnya menempel di bahu Kiara, mengecap keringat asin yang mengering. Kiara memicingkan mata, tangan mungilnya menampar lembut dada Victor. “Hampir tidak,” jawabnya sambil tertawa ringan. “Kau benar-benar … tidak pernah kehabisan tenaga.” Victor menggeram rendah, mendekapnya erat sebelum bangkit dengan gesit. Tubuh atletisnya terpampang sempurna di bawah sinar matahari. “Ayo kita bersihkan diri,” ujarnya sambil merentangkan tangan. “Sebelum Sofia datang dan melihat kita seperti dua remaja mabuk cinta.” Kiara menggigit bibir, matanya menyapu tubuh Victor dari kepala hingga ujung kaki. “Kau yan
Matahari pagi menyingsap perlahan, menebar cahaya keemasan yang menari-nari di atas permukaan laut tenang. Yacht megah itu berayun lembut, seakan masih terbuai oleh kenangan malam penuh gairah. Sisa-sisa dekorasi pesta kemarin bergoyang ditiup angin sepoi, balon biru dan putih sesekali bersentuhan dengan riak air yang berkilauan. Kiara berdiri di tepi dek, kedua tangannya bertumpu pada pagar. Gaun putih tipis yang dikenakannya berkibar-kibar, memperlihatkan siluet tubuhnya yang ramping diterpa cahaya mentari pagi. Rambutnya yang berwarna brown diterbangkan angin, menciptakan aurora kegelisahan yang diam-diam diamati oleh sepasang mata biru tajam dari kejauhan. Victor melangkah mendekat dengan diam-diam, sepatunya nyaris tak bersuara di atas lantai dek yang masih lembap oleh embun pagi. Bau laut yang asin bercampur wangi vanilla dari parfum Kiara memenuhi indranya. Tanpa kata, kedua tangannya merangkul pinggang rambut itu dari belakang, menarik tubuh istrinya hingga pung
Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin yang menyegarkan di bawah langit biru yang cerah. Di dek sebuah yacht mewah yang tengah berlayar di tengah lautan, terdengar tawa ceria anak-anak. Kenneth dan Felix, putra kembar Kiara dan Victor, bermain di atas karpet tebal yang diletakkan di atas dek. Kedua bayi laki-laki itu kini berusia 11 bulan, sebentar lagi genap satu tahun. Kiara duduk di salah satu kursi berjemur, matanya tak lepas dari kedua anaknya yang tengah bermain dengan bola-bola kecil berwarna cerah. Wajahnya berseri-seri, menunjukkan kebahagiaan seorang ibu yang tengah menikmati momen bersama keluarganya. Victor, yang berdiri tidak jauh darinya, sesekali mengangkat Kenneth atau Felix dan melemparkan mereka ke udara sebelum menangkap mereka kembali, membuat gelak tawa kedua bayi itu semakin pecah. “Aku masih tak percaya mereka akan genap satu tahun minggu depan,” ujar Kiara dengan senyum lembut. Victor mendekatinya, menggendong Kenneth di satu tangan dan mer