Bukankah Victor sangat gila, bisa-bisanya dia mengintai Kiara melalui cctv tersembunyi. Yang mana bisa melihat apapun kegiatan Kiara, Victor tersenyum smirk. Pria itu terus menatap Kiara yang kini masuk ke dalam kamar mandi.
Victor mengerang, dan menggeram. Pria itu mengeluarkan miliknya, dan melakukan solo karir bermodalkan bantuan Kiara. Gila, Victor memang sudah gila. Setelah menuntaskan segalanya, dan melihat Kiara yang mulai bersiap tidur. Victor menutup laptopnya, pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Kedua matanya memejam. "Kau harus menjadi milikku, Kia. Kau tidak bisa berharap kepada putraku, untuk apa kau mengharapkan Edwin yang malah memilih wanita lain?" gumam Victor, pria itu membuka matanya, dan mendesah pelan. "Kenapa susah sekali menjeratmu? Sedangkan di luar sana para wanita biasanya langsung melemparkan dirinya kepadaku, tapi kau?" Victor mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Tak lama kemudian, Victor berdiri. Pria itu melangkah keluar dari ruang kerjanya, dan menuju kamar Kiara. Setibanya di sana, Victor dengan pelan dan hati-hati masuk ke dalam kamar tersebut. Victor tersenyum saat melihat Kiara yang sudah terlelap. Victor menaiki ranjang secara pelan, pria itu menarik tubuh Kiara ke dalam dekapannya. Kiara menggeliat, Victor pikir jika wanita itu akan bangun. Namun salah, yang ada Kiara semakin merapatkan tubuhnya. "Cantik, kau selalu cantik. Kia," bisik Victor, ia menatap lekat wajah cantik Kiara. Sebelum akhirnya mengecup bibir ranum itu. Keesokan harinya, Kiara menggeliat, wanita itu membuka matanya. Kiara tersenyum saat tidak merasakan mual kembali seperti sebelumnya, tapi kini hidungnya mengendus-endus. Kiara seperti merasakan bau yang tidak asing. "Kenapa ada bau parfum Daddy Victor? Apakah dia kesini? Tapi tidak mungkin, apakah karena semalam aku berdekatan dengannya?" monolog Kiara, ia menggelengkan kepalanya. Sementara itu di sisi Victor, pria itu terkekeh gemas setelah melakukan aksi nekat dengan mendatangi kamar Kiara. Beruntung wanita itu bangun setelah dia pergi, Victor melangkah menuju kamarnya. "Kau baru pulang, Edwin?" tanya Victor sebelum masuk ke dalam lift, pria itu melihat putranya yang baru keluar dari lift dengan penampilan yang sedikit berantakan. "Iya, Dad. Aku baru pulang," "Dari mana? Kenapa penampilanmu juga berantakan seperti ini?" cerca Victor, ia menatap penuh selidik ke arah Edwin. "Aku ada pekerjaan di luar kota, Dad. Wajar jika penampilanku seperti ini, pekerjaanku sangat banyak dan membuatku pusing," keluh Edwin, Victor mendesah pelan. "Yasudah, istirahatlah. Daddy tadi mencarimu, ternyata kau baru pulang," kilah Victor, Edwin hanya mengangguk. "Kalau begitu aku ke kamar dulu, Dad," "Ya," lirih Victor, pria itu melangkah masuk ke dalam lift dan tersenyum smirk. Ruang makan, "Berangkatlah bersama Daddy saat Parker izin," titah Edwin, membuat Kiara menggelengkan kepalanya. Sementara Victor tersenyum tipis, tipis sekali. "T-tidak usah, Kak. Aku bisa berangkat naik taxi, lagi pula nanti merepotkan Daddy," ucap Kiara, Edwin menatapnya tajam. "Bisakah kau tidak membantahku, Kiara?" geram Edwin. "Sudahlah, Edwin. Tidak apa-apa, mungkin Kiara tidak nyaman berangkat bersama Daddy," sahut Victor dengan suara dinginnya, ia sedikit tidak suka melihat Edwin yang sedikit membentak Kiara. "Tidak bisa, Dad. Seharusnya dia tau jika kawasan mansion ini sangat jauh dari jalanan besar, mana bisa dia memesan taxi? Lebih baik dia berangkat bersama Daddy saja," ujar Edwin, pria itu menatap Kiara kembali. "Berangkat bersama Daddy, jangan merepotkan diri sendiri yang nanti ujung-ujungnya kau merepotkan orang lain!" sentak Edwin, Kiara akhirnya mengangguk. Wanita itu tidak dapat menolak kembali. Pada akhirnya, kini Kiara sudah berada di dalam mobil Victor. Terlihat pria itu sedang memakai seatbelt, kemudian Victor melirik ke arah Kiara. Victor mendengkus geli, pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Kiara. Membuat Kiara mencengkram pakaiannya, dan memejamkan kedua matanya. Bahkan dia menahan nafasnya.Klik!
"Aku hanya membantumu memasang seatbelt, tidak mungkin aku menciummu di sini. Kecuali kau yang mau sih," ucap Victor, Kiara membuka pejaman matanya. Wanita itu menatap datar Victor yang tersenyum. "Kau sangat cantik, Baby." Cup! Victor mengecup pipi kiri Kiara, membuat Kiara melototkan matanya. Wanita itu menoleh ke arah Victor yang tertawa. Kiara kesal, sangat kesal. "Daddy apa-apaan sih!" ketus Kiara. "Apa?" tanya Victor dengan datar. "Kenapa cium-cium, Kiara?" "Bukan ciuman, itu kecupan Kiara. Jika ciuman seperti ini." Victor ingin menoleh, tapi Kiara menahannya. "Berhentilah, Dad. Lebih baik kau fokus menyetir dan berhenti menggangguku!" Victor mengalah, akhirnya pria itu diam. Hingga tak lama kemudian mereka sampai di wilayah kampus Kiara, Kiara bersiap. Wanita itu ingin segera turun, namun Victor menahannya. "Kabari Daddy jika kau sudah pulang, biar Daddy menjemputmu," kata Victor. "Tidak perlu, Kiara bisa pulang sendiri. Terimakasih atas niat baik Daddy." Kiara turun dari mobil, wanita itu menutup pintunya sedikit keras. Membuat Victor berjingkat. "Kenapa dia menjadi bar-bar begini?" gumam Victor sembari mengelus dadanya. Anderson Corporation, "Apakah ada meeting siang ini, Joshua?" tanya Victor, pria itu menatap asistennya. "Ada, Tuan. Apakah Tuan ada acara?" "Ya, aku ingin menjemput Kiara. Jadi batalkan semua meeting hari ini, atau kau bisa menggantikanku," ujarnya dengan enteng. "Tapi nanti kita meeting bersama Tuan Reynold, Tuan. Proyek yang akan kita bahas juga sangat penting," "Batalkan, aku ingin menjemput Kiara. Jika mereka tidak ingin di batalkan—batalkan saja kerja samanya," ucap Victor, membuat Joshua menganga lebar. Setelah berdebat sedikit dengan Joshua, akhirnya Victor sibuk dengan pekerjaannya. Hingga siang harinya, Victor benar-benar menjemput Kiara. Kini mobil mewahnya sudah terparkir di depan kampus Kiara, Victor sendiri pun menunggu Kiara di luar dengan bersandar pada mobilnya. "Kiara," panggil Victor saat melihat Kiara yang baru saja keluar dari gerbang, Kiara memejamkan kedua matanya sejenak. Lalu mendekati Victor. "Aku sudah mengatakannya, aku bisa pulang sendiri. Dad, kenapa kau malah menjemputku?" "Aku juga sudah mengatakannya, Baby. Aku akan menjemputmu, sekarang masuklah," titah Victor, ia membukakan pintu untuk Kiara. Kiara mendengkus kesal. "Kau mau mampir ke suatu tempat terlebih dahulu, Baby?" tawar Victor, saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil. "Tidak, aku ingin langsung pulang. Dad, dan satu hal—jangan memanggilku dengan sebutan itu!" kesal Kiara, Victor terkekeh. "Memangnya kenapa? Panggilan itu sangat bagus untukmu, Baby," ucap Victor, pria itu melirik Kiara yang mengalihkan wajahnya ke arah lain. Kiara lebih memilih diam, daripada menanggapi ucapan Victor. Sementara Victor, ia mencari tempat untuk berhenti. Ketika menemukannya, ia menghentikan mobilnya. Kemudian meraih kedua tangan Kiara, membuat wanita itu terkesiap dan menatap Victor. "Dad, apa yang kau lakukan? Lepa—" "Jadilah kekasihku, Kiara. Atau istriku," Jantung Kiara berdetak dengan cepat, dadanya pun berdebar tidak karuan. Lidahnya terasa keluh, Kiara terkejut. Detik selanjutnya wanita itu menggelengkan kepalanya. "Kia—" "Maaf, Daddy. Kiara tidak bisa, Kiara sudah memiliki suami, dan suami Kiara putra Daddy sendiri. Jadi Kiara mohon, jangan ganggu Kiara. Lupakan semua perasaan atau obsesi Daddy terhadap Kiara, sampai kapanpun Kiara tidak akan mau menjadi kekasih bahkan istri. Daddy," tolak Kiara dengan tegas."Maaf, Daddy. Kiara tidak bisa, Kiara sudah memiliki suami, dan suami Kiara putra Daddy sendiri. Jadi Kiara mohon, jangan ganggu Kiara. Lupakan semua perasaan atau obsesi Daddy terhadap Kiara, sampai kapanpun Kiara tidak akan mau menjadi kekasih bahkan istri. Daddy," tolak Kiara dengan tegas.Victor tertegun, harga dirinya terasa tercoreng dengan penolakan Kiara. Pria itu melihat Kiara yang menarik kedua tangannya, dan mengalihkan wajahnya ke arah lain. Victor mengeraskan rahangnya."Kenapa kau menolakku, Kia? Kau berharap apa kepada Edwin? Dia memiliki Cecilia, bahkan dia akan menceraikanmu setelah ini. Lalu apa yang kau harapkan dari Edwin, Kia?" cerca Victor, membuat Kiara terkejut. Wanita itu menoleh."D-daddy, tau?" tanya Kiara terbata, Victor terkekeh lirih."Kau kira aku pria bodoh? Aku tau segalanya, Kiara. Bahkan aku tau jika selama ini Edwin tidak menyentuhmu—karena aku orang pertama yang menyentuhmu!" sentak Victor, jantung Kiara berpacu kian cepat. Wanita itu menggigit bib
"Stop it." Kiara menggelengkan kepalanya saat Victor akan menyerang bibirnya kembali, Victor tersenyum. "Kenapa, Baby? Apakah kau merasa tidak nyaman?" tanya Victor, Kiara mengangguk. "Aku istri putramu, Dad. Berhentilah untuk bersikap seperti ini," lirih Kiara, sesungguhnya wanita itu terbuai akan ciuman dan cumbuan Victor. Namun, mengingat jika ia berstatus istri Edwin. Membuatnya takut, Kiara tidak ingin terjatuh terlalu dalam. Sebab, Victor selalu menggodanya. Yang mana suatu saat bisa saja ia khilaf. Victor mendesah pelan, "kau benar-benar tidak ingin bersamaku, Kia?" tanya Victor, Kiara menggelengkan kepalanya. "Apa yang kau harapkan dari Edwin? Dia tidak mencintaimu, Kiara," ujar Victor dengan mengerang, pria itu menatap Kiara dengan serius. "Sudahlah, Dad. Aku tidak ingin membahasnya, bisakah Daddy keluar dari kamarku?" pinta Kiara, wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Baiklah, kau istirahat. Daddy keluar dulu." Victor mengecup lembut puncak kepala
Mansion Anderson, 04.00 PM. "Dimana Kiara, dan Daddy. Paula?" tanya Edwin, pria itu baru saja pulang ke mansion setelah dua minggu pergi. "Nona Kiara ada di kamarnya, Tuan. Sementara Tuan Victor ada di mansion satunya sejak dua minggu lalu," jelas Paula dengan sopan, Edwin menaikkan sebelah alisnya. "Ke mansion satunya? Untuk apa Daddy ke sana?" "Saya kurang paham, Tuan," jawabnya, Edwin mengangguk. Pria itu melangkah menuju kamarnya. Setibanya di kamar, Edwin masuk ke dalam kamar mandi. Pria tersebut membersihkan tubuhnya, setelah selesai. Edwin menuju walk in closet, mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Kemudian, pria itu melangkah menuju kamar Kiara. "Kia, bangun." Edwin menggoyangkan tangan Kiara ketika sampai di kamar wanita itu, Kiara terusik. Wanita itu membuka kedua matanya, dan terkejut. "Kak Edwin?" Kiara beranjak bangun, ia duduk dan melihat Edwin yang menatapnya tajam. "Aku memang menikahimu, Kiara. Tapi tidak untuk kau menjadi malas-malasan begini, apakah
Victor mendorong tubuh Kiara, pria itu menatap Kiara dengan datar. Kemudian merapikan pakaiannya, dan menatap Kiara kembali. Sementara Kiara, wanita itu menatap Victor dengan kesal. "Apa yang kau lakukan, Kiara?" tanya Victor dengan datar. "Menciummu, memangnya apa lagi? Apakah kau terlalu senang di cium oleh wanita lain?" kesal Kiara, Victor mendengkus. "Memangnya kenapa jika ada wanita lain yang menciumku? Tidak ada larangannya bukan? Kau sendiri sudah menolakku, Kia. Lalu untuk apa kau mempermasalahkannya? Wajar saja jika aku berhubungan dengan wanita lain, sebab setelah kau menolakku—masih ada wanita lain yang menginginkanku," ucap Victor, membuat dada Kiara terasa sesak. "Sekarang katakan kepadaku, apa yang kau inginkan datang kemari? Apakah kau memiliki urusan penting denganku, atau Edwin? Jika memang tidak ada—pergilah, karena aku tidak ingin ada kesalahpahaman. Sebab sekarang aku sadar jika kau menantuku!" tekan Victor dengan suara dinginnya, yang mana kata-kata Vic
Victor mengambil air hangat, dan handuk kecil. Setelahnya, ia kembali mendekati Kiara yang sudah terlelap. Victor duduk di bibir ranjang, pria tersebut mengulas senyumnya melihat Kiara yang nampak sangat kelelahan. Bagaimana tidak kelelahan—jika mereka saja melakukannya sampai empat kali, seandainya Kiara tidak mengeluh perutnya sakit. Mungkin Victor akan terus menggempurnya. "Aku tau jika saat ini kau sedang hamil, Baby. Tapi aku akan diam saja sampai kau menyadarinya sendiri." Victor mengelus perut Kiara, pria itu merundukkan tubuhnya dan mengecup perut Kiara penuh sayang. "Sehat selalu anak, Daddy. Terimakasih—karena kau, Mommy jadi mau mendekat," bisiknya, Victor terkekeh. Setelah itu, ia menegakkan tubuhnya. Victor mulai membersihkan tubuh Kiara dengan handuk kecil yang ia bawa tadi, Victor sangat telaten membersihkan tubuh Kiara. Ketika selesai, Victor mengembalikan wadah, dan handuk kecilnya ke kamar mandi. Kemudian pria tersebut bergabung dengan Kiara. Malam harinya,
Keesokan harinya, Kiara menggeliat, secara perlahan wanita itu membuka kedua matanya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Sebelum akhirnya Kiara membalikkan badannya, wanita itu menatap Victor yang masih terlelap. Tangannya terulur mengelus rahang tegas Victor. "Daddy," panggil Kiara. "Ayo bangun, sudah pagi. Daddy tidak ke kantor? Kiara hari ini ada urusan ke kampus," ucap Kiara, wanita itu terus mengelus rahang tegas Victor. Sampai akhirnya Kiara mengelus bibir Victor, membuat Victor menggigit jemari Kiara. "Daddy!" pekik Kiara terkejut, Victor membuka kedua matanya. Pria itu terkekeh, dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Kiara. "Morning, Baby," Kiara mengulas senyumnya, "morning, Daddy. Ayo bangun, sudah pagi," "Hm, kau mengatakan apa tadi? Kau ada urusan ke kampus?" "Ya, aku harus menandatangani beberapa berkas untuk wisuda nanti," jawabnya, Victor mengangguk. "Kapan kau wisuda, Baby?" "Tiga bulan lagi, kenapa? Daddy mau datang?" "Mau, Daddy akan d
"Apa lagi yang mereka lakukan kepada Kiara?" sentak Victor, wajahnya mengeras. Kedua tangannya terkepal kuat. "Hanya itu, Tuan. Tapi sekarang Nona Kiara kesakitan akibat tendangan Nona Cecilia," jelas anak buah Victor, membuat Victor semakin meradang. "Brengsek! Mereka benar-benar membuatku marah, bagaimana bisa mereka mencelakai kesayanganku hah? Lalu apa tugas kalian di saat Kiara di celakai?" bentak Victor, anak buah Victor menunduk ketakutan. "Sekarang lakukan tugas dariku, jangan buat mereka mati. Cukup lukai mereka, dan buat celaka! Aku ingin mereka berdua merasakan apa yang Kiara rasakan, kalian paham?" tegas Victor, dua anak buah Victor mengangguk. "Kami paham, Tuan," ujar mereka berdua. "Bagus, sekarang jalankan tugas kalian. Aku ingin mendengar mereka benar-benar celaka!" "Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan Nona Kiara?" "Aku yang akan mengurusnya." Victor menatap keduanya dengan tajam, sebelum akhirnya pria itu melangkah pergi. Victor masuk ke dalam mobilnya
Bellevue Hospitals, "Bagaimana situasinya?" tanya Victor pada anak buahnya melalui panggilan telefon. "Aman, Tuan. Apakah Anda akan kemari sekarang?" tanya anak buah Victor. "Ya, aku kesana. Buka pintu ruangan Cecil," ucap Victor, sebelum akhirnya pria itu mematikan sambungan telefonnya. Victor membalikkan badannya, ia masuk ke dalam ruangan Kiara. Setibanya di kamar, Victor mendekati Kiara. Tangannya bergerak mengelus lembut puncak kepala Kiara, kemudian, ia merundukkan tubuhnya, dan mengecup Kiara. "Istirahatlah, aku akan membalas apa yang sudah Cecil lakukan kepadamu. Baby," bisik Victor, ia menegakkan tubuhnya, dan melangkah keluar dari ruangan Kiara. Setibanya di ruangan Cecil, Victor menyeringai. Pria itu melihat Cecil yang terbaring dengan beberapa luka di tubuhnya, lantas—Victor mengeluarkan belati kecil dari saku kemejanya, ia mendekati ranjang Cecil. Victor menancapkan belatinya pada pipi Cecil. "Kau cantik, tapi sayang—masih cantik Kiara. Bahkan kini kau
Victor mencium Kiara dengan penuh gairah, bibirnya menyapu dengan lembut namun menuntut, membuat wanita itu tenggelam dalam arus hasrat yang menggelora. Tangan besar Victor menelusuri lekuk tubuh Kiara, menariknya semakin dekat hingga dada mereka saling bertemu, seakan ingin menyatu lebih dalam. Kiara menggeliat dalam pelukan Victor, jemarinya menyusuri rambut pria itu, menariknya lebih dekat sementara desahan penuh nikmat meluncur dari bibirnya. Victor menyeringai, menikmati bagaimana istrinya menjadi begitu patuh dalam kungkungannya. "Kau benar-benar menggoda, Baby," gumam Victor dengan suara serak sebelum melumat bibir Kiara lagi, kali ini lebih menuntut, lebih mendominasi. Kiara tersentak, namun tubuhnya segera menyesuaikan, menerima setiap sentuhan Victor dengan penuh hasrat. Dengan satu gerakan kuat, Victor mengangkat Kiara dan mendudukkannya di bangku kayu yang dingin. Gaun rumah yang sederhana dengan mudah tersingkap saat tangan Victor mengelus pahanya, jemarinya meny
Di sebuah toko bunga mewah yang terletak di sudut jalan kota, Victor berdiri dengan tenang, matanya menelusuri berbagai macam bunga yang tertata indah di dalam vas kaca. Wangi mawar dan lily bercampur lembut di udara, menciptakan suasana yang menenangkan. Tangan Victor yang besar dan kokoh mengambil seikat mawar merah dengan kelopak yang masih segar, lalu menatapnya sejenak. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya saat membayangkan bagaimana ekspresi Kiara ketika menerimanya nanti. Namun, momen itu terganggu oleh suara langkah kaki seseorang yang mendekat. "Victor." Sebuah suara lembut namun tajam bergema di udara. Victor menegang sejenak sebelum menoleh sekilas. Sosok wanita dengan gaun berwarna biru tua berdiri di sana, rambut panjangnya tergerai sempurna, matanya menatap Victor dengan penuh arti. Eleanor. Namun, Victor hanya menoleh sebentar sebelum kembali menatap mawar di tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia melangkah ke kasir. Eleanor memicingkan matanya,
Keesokan harinya, suasana di sebuah kafe mewah di pusat kota terasa sibuk. Para eksekutif dengan setelan mahal memenuhi ruangan, membahas bisnis mereka dengan serius. Aroma kopi berkualitas tinggi bercampur dengan suara dentingan gelas dan piring, menciptakan harmoni yang khas. Di salah satu sudut ruangan yang lebih privat, Edwin Anderson duduk tegap di kursinya, ekspresi wajahnya tenang dan profesional. Seorang pria paruh baya dengan jas hitam yang rapi duduk di hadapannya, sementara beberapa dokumen terbuka di atas meja. "Mr. Anderson, saya harus mengakui, proposal Anda sangat mengesankan," ucap pria itu sambil melirik berkas yang tersusun rapi. "Namun, kami tetap ingin memastikan bahwa kerja sama ini akan menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kami membutuhkan jaminan bahwa distribusi produk ini akan berjalan lancar tanpa kendala logistik." Edwin menyandarkan tubuhnya, menyesap espresso hitamnya sebelum menjawab dengan suara dalam yang tegas, "Anda tidak perlu khawatir, Mr. Col
Di sebuah kafe dengan desain klasik nan elegan, dua wanita duduk berhadapan di sudut ruangan yang sedikit tersembunyi. Aroma kopi hitam yang pekat bercampur dengan wangi vanilla dari lilin aroma terapi di setiap meja, menciptakan suasana yang nyaman. Namun, meski suasananya tampak damai, percakapan di meja itu jauh dari kata tenang. Eleanor mengaduk cangkir kopinya dengan pelan, pandangannya lurus ke depan dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sementara itu, wanita di hadapannya, Cecil, tersenyum miring sambil memainkan sendok peraknya. "Kau terlihat terlalu serius, Eleanor," ucap Cecil dengan nada santai, tapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. "Apa kau masih tidak terima kalau Victor sudah menjadi milik wanita lain?" Eleanor tersenyum tipis, tapi matanya berkilat tajam. "Victor bukan 'milik' siapa pun, apalagi wanita biasa seperti Kiara. Aku mengenalnya lebih lama. Aku tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Dia hanya… tersesat sejenak." Cecil terkekeh pela
Pagi menjelang dengan tenang di mansion keluarga Anderson. Matahari baru saja menyentuh puncak pohon ketika Kiara terbangun dari tidurnya. Tubuhnya masih diselimuti kehangatan Victor, yang lengannya melingkari pinggangnya dengan posesif. Ia tersenyum tipis, membiarkan dirinya menikmati momen itu sebelum akhirnya mencoba beranjak.Namun, begitu ia bergerak, lengan Victor mengencang."Jangan pergi," gumamnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.Kiara terkekeh, membelai rambut suaminya. "Anak-anak bisa bangun kapan saja. Aku harus melihat mereka."Victor membuka matanya perlahan, menatapnya dengan pandangan yang selalu berhasil membuat Kiara kehilangan napas. "Biarkan Sofia mengurus mereka sebentar lagi. Aku masih ingin bersamamu."Kiara menggigit bibir, hampir tergoda, tapi suara dentingan piring dari lantai bawah mengingatkannya bahwa hari sudah dimulai. Ia pun mencium pipi Victor singkat sebelum berhasil meloloskan diri dari pelukannya.Saat turun ke ruang makan, aroma kop
Mansion keluarga Anderson berdiri megah di atas lahan luas, dikelilingi taman berhiaskan mawar putih yang bermekaran. Di halaman belakang, air mancur berlapis marmer memantulkan sinar matahari sore, menciptakan suasana damai yang selalu dirindukan Kiara setelah bepergian jauh. Hari itu, keluarga kecil mereka baru saja kembali dari perjalanan di laut. Kenneth dan Felix tidur nyenyak di kamar bayi, sementara Victor mengawasi mereka dari kursi di sudut ruangan, lengan bersilang di dada. Kiara berdiri di ambang pintu, mengamati suaminya yang tampak begitu tenang. "Kau terlihat seperti penjaga gerbang surga," godanya sambil melangkah masuk. Victor menoleh, seulas senyum tipis di bibirnya. "Jika begitu, berarti kau bidadarinya." Ia menepuk pahanya, memberi isyarat agar Kiara mendekat. Tanpa ragu, Kiara duduk di pangkuannya. Tubuhnya bersandar pada dada bidang Victor, menikmati kehangatan yang selalu membuatnya merasa aman. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara deru me
Matahari telah naik lebih tinggi, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan laut yang tenang. Kiara berbaring terlentang di atas selimut putih, dadanya masih bergerak naik-turun perlahan. Victor memandanginya dengan mata penuh kepuasan, jari-jarinya yang besar dengan lembut mengusap lekuk tulang rusuk sang istri. “Kau masih hidup?” goda Victor, suaranya serak namun penuh kelembutan. Bibirnya menempel di bahu Kiara, mengecap keringat asin yang mengering. Kiara memicingkan mata, tangan mungilnya menampar lembut dada Victor. “Hampir tidak,” jawabnya sambil tertawa ringan. “Kau benar-benar … tidak pernah kehabisan tenaga.” Victor menggeram rendah, mendekapnya erat sebelum bangkit dengan gesit. Tubuh atletisnya terpampang sempurna di bawah sinar matahari. “Ayo kita bersihkan diri,” ujarnya sambil merentangkan tangan. “Sebelum Sofia datang dan melihat kita seperti dua remaja mabuk cinta.” Kiara menggigit bibir, matanya menyapu tubuh Victor dari kepala hingga ujung kaki. “Kau yan
Matahari pagi menyingsap perlahan, menebar cahaya keemasan yang menari-nari di atas permukaan laut tenang. Yacht megah itu berayun lembut, seakan masih terbuai oleh kenangan malam penuh gairah. Sisa-sisa dekorasi pesta kemarin bergoyang ditiup angin sepoi, balon biru dan putih sesekali bersentuhan dengan riak air yang berkilauan. Kiara berdiri di tepi dek, kedua tangannya bertumpu pada pagar. Gaun putih tipis yang dikenakannya berkibar-kibar, memperlihatkan siluet tubuhnya yang ramping diterpa cahaya mentari pagi. Rambutnya yang berwarna brown diterbangkan angin, menciptakan aurora kegelisahan yang diam-diam diamati oleh sepasang mata biru tajam dari kejauhan. Victor melangkah mendekat dengan diam-diam, sepatunya nyaris tak bersuara di atas lantai dek yang masih lembap oleh embun pagi. Bau laut yang asin bercampur wangi vanilla dari parfum Kiara memenuhi indranya. Tanpa kata, kedua tangannya merangkul pinggang rambut itu dari belakang, menarik tubuh istrinya hingga pung
Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin yang menyegarkan di bawah langit biru yang cerah. Di dek sebuah yacht mewah yang tengah berlayar di tengah lautan, terdengar tawa ceria anak-anak. Kenneth dan Felix, putra kembar Kiara dan Victor, bermain di atas karpet tebal yang diletakkan di atas dek. Kedua bayi laki-laki itu kini berusia 11 bulan, sebentar lagi genap satu tahun. Kiara duduk di salah satu kursi berjemur, matanya tak lepas dari kedua anaknya yang tengah bermain dengan bola-bola kecil berwarna cerah. Wajahnya berseri-seri, menunjukkan kebahagiaan seorang ibu yang tengah menikmati momen bersama keluarganya. Victor, yang berdiri tidak jauh darinya, sesekali mengangkat Kenneth atau Felix dan melemparkan mereka ke udara sebelum menangkap mereka kembali, membuat gelak tawa kedua bayi itu semakin pecah. “Aku masih tak percaya mereka akan genap satu tahun minggu depan,” ujar Kiara dengan senyum lembut. Victor mendekatinya, menggendong Kenneth di satu tangan dan mer