"Maaf, Daddy. Kiara tidak bisa, Kiara sudah memiliki suami, dan suami Kiara putra Daddy sendiri. Jadi Kiara mohon, jangan ganggu Kiara. Lupakan semua perasaan atau obsesi Daddy terhadap Kiara, sampai kapanpun Kiara tidak akan mau menjadi kekasih bahkan istri. Daddy," tolak Kiara dengan tegas.
Victor tertegun, harga dirinya terasa tercoreng dengan penolakan Kiara. Pria itu melihat Kiara yang menarik kedua tangannya, dan mengalihkan wajahnya ke arah lain. Victor mengeraskan rahangnya. "Kenapa kau menolakku, Kia? Kau berharap apa kepada Edwin? Dia memiliki Cecilia, bahkan dia akan menceraikanmu setelah ini. Lalu apa yang kau harapkan dari Edwin, Kia?" cerca Victor, membuat Kiara terkejut. Wanita itu menoleh. "D-daddy, tau?" tanya Kiara terbata, Victor terkekeh lirih. "Kau kira aku pria bodoh? Aku tau segalanya, Kiara. Bahkan aku tau jika selama ini Edwin tidak menyentuhmu—karena aku orang pertama yang menyentuhmu!" sentak Victor, jantung Kiara berpacu kian cepat. Wanita itu menggigit bibir bawahnya. "Aku benar bukan? Lalu apa yang kau harapkan dari pernikahan ini huh? Kau tidak bahagia, Kiara. Lepaskan Edwin, dan jadilah milikku! Aku akan menjamin segala kebahagiaan yang tidak pernah Edwin berikan kepadamu," ucap Victor dengan serius. Lama Kiara terdiam, sampai akhirnya wanita itu menghembuskan nafasnya pelan. Kiara mengalihkan wajahnya ke arah lain, hatinya mendadak berdebar tidak karuan. Emosionalnya tidak stabil. "Aku tidak bisa, Dad. Meskipun pernikahan kami tidak di landasi cinta, statusku tetap istri putramu. Jangan memaksaku, karena sampai kapanpun aku tidak akan bisa menerima Daddy. Sekalipun aku bercerai dengan Edwin, aku akan pergi dan tidak akan berurusan dengan kalian kembali," jawabnya dengan lirih, ada rasa berat di benaknya saat melontarkan kata-kata tersebut. Victor mengerang, pria itu mengacak kasar rambutnya. Bagaimana bisa Kiara sangat keras kepala seperti ini, Victor rasanya hampir frustasi. Dengan cara apalagi Victor harus mendapatkan Kiara. "Aku akan tetap mengejarmu, Kiara. Kau akan menjadi milikku, camkan itu!" Victor menyalakan mesin mobilnya, pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sementara Kiara, wanita itu melirik ke arah Victor sejenak. Ada perasaan aneh di benaknya, namun Kiara tidak memahaminya. Perasaan apa yang kini ia rasakan. Setibanya di mansion, Kiara segera masuk ke dalam kamarnya. Victor sendiri memilih pergi menuju kantornya. Malam harinya, "Kemana Daddy, dan Kak Edwin. Paula?" tanya Kiara pada kepala maid saat melihat meja makan sepi. "Sepertinya Tuan Edwin, dan Tuan Victor belum kembali. Nona," jawab Paula, Kiara mengangguk. Wanita itu ingin membantu Paula. Hoekkk ... hoekkk ... hoekkk Kiara berlari ke arah wastafel, wanita itu memuntahkan isi perutnya yang kembali bergejolak hanya karena mencium aroma bumbu. Paula sendiri terkejut, ia membantu Kiara. Memijit tengkuk wanita itu. "Sudah, Paula. Terimakasih," ujar Kiara saat selesai memuntahkan semua isi perutnya, wanita itu mengelap sudut bibirnya. "Kenapa bau sekali, Paula. Apakah bumbu persediaan basi?" tanya Kiara, Paula mengernyit. "Tidak, Nona. Bumbunya masih bagus, bukankah Nona sendiri yang membelinya kemarin?" "Iya, aku yang membelinya kemarin. Tapi sungguh baunya sangat tidak enak, Paula. Perutku rasanya mual sekali saat menciumnya," ujarnya dengan kesal. "Kalau begitu Nona duduk saja, tidak usah ikut membantu hari ini. Daripada Nona kembali muntah-muntah," saran Paula, Kiara mengangguk. "Maafkan aku, Paula. Semangat memasak." Kiara tersenyum, wanita itu menepuk lengan Paula beberapa kali. Kemudian berlalu pergi. "Apakah Nona Kiara sedang hamil? Aku harus mengatakannya kepada Tuan Victor," gumam Paula. Setelahnya, kini Kiara duduk di kursi meja makan sendiri. Wanita itu menatap sekelilingnya dengan cemberut. Kiara merasa kesal karena tidak ada Edwin, ataupun Victor. "Kemana mereka berdua? Kenapa tidak segera pulang? Apakah mereka sama-sama lembur?" cerca Kiara sendiri, wanita itu sangat kesal. "Paula, ayo temani aku makan," pinta Kiara, Paula menggeleng. "Maaf, Nona. Saya tidak bisa, Nona saja yang makan. Saya temani dari sini," tolak Paula. "Tidak mau, aku maunya di temani. Paula," rengek Kiara, tiba-tiba saja wanita itu menjadi manja. Paula terkekeh. "Baiklah, Nona. Saya temani." Paula duduk di samping Kiara, menerbitkan senyum di bibir wanita cantik itu. Sementara itu, Victor tidak ingin kembali ke mansion malam ini. Setelah penolakan yang Kiara lakukan, Victor ingin menarik diri sejenak dari Kiara. Victor ingin membiarkan Kiara sendiri sebentar. Hingga akhirnya, apa yang Victor lakukan berlarut sampai tiga hari lamanya. Pria itu sudah tiga hari ini tidak kembali ke mansion, begitu juga dengan Edwin. Pria itu pun turut tidak pernah pulang, membuat Kiara kesal. Wanita itu sedih. "Kenapa mereka berdua sama-sama tidak pulang ke mansion? Apakah mereka tidak ingin jalan pulang? Daddy Victor juga begitu, apakah dia marah setelah aku menolaknya?" Kiara terisak, wanita itu memeluk kedua lututnya sendiri. "Tapi ‘kan dia mengatakan jika akan tetap mengejarku, lalu ini apa? Kenapa dia tidak pulang ke mansion? Malah membiarkanku sendirian selama tiga hari, apakah dia tidak tau jika aku kesepian? Dia juga tidak menghubungiku." Kiara mengusap air matanya yang terus mengalir deras, dadanya terasa sesak. Wanita itu nampak bingung dengan perasaannya sendiri. "Jahat, Daddy Victor jahat! Apa yang ia katakan tidak sama dengan tindakannya! Awas saja jika bertemu, aku tidak mau berbicara dengannya lagi," gerutu Kiara tanpa sadar, wanita itu tidak sadar jika sejak tadi bibirnya terus menyebutkan nama Victor. Sedangkan yang di cari-cari oleh Kiara saat ini baru saja menginjakkan kedua kakinya di mansion, pria itu nampak lelah sekali. Selama tiga hari ini ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya, sampai akhirnya lupa untuk pulang. Larut dalam aksi menarik diri, bahkan ponselnya pun mati sejak tiga hari lalu. "Tuan," sapa Paula, Victor mengangguk. "Kemana, Kiara?" tanya Victor, Paula tersenyum. "Ada di kamarnya, Tuan. Tiga hari ini Nona Kiara nampak sedih karena Tuan dan Tuan Edwin tidak ada di mansion," jelasnya. "Sedih?" Victor menaikkan sebelah alisnya, Paula mengangguk. "Iya, Tuan. Nona Kiara terlihat sangat sedih," "Yasudah, kembalilah ke paviliun. Aku akan melihatnya di kamar." Victor melangkah menuju kamarnya, ia membersihkan tubuhnya. Sebelum akhirnya pergi menuju kamar Kiara. Setibanya di kamar Kiara, Victor masuk. Pria itu melihat Kiara yang terisak dengan tubuh meringkuk, Victor meringis. Pria itu merasa kasihan dengan Kiara. "Kiara," panggil Victor dengan suara berat, dan seraknya. Membuat Kiara menoleh. Deg! Kiara terkejut, ia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Mencoba memastikan apakah yang ia lihat benar atau tidak, kemudian Kiara beranjak duduk. Wanita itu menepuk kedua pipinya. Membuat Victor terkekeh gemas, ia duduk di bibir ranjang. Lalu menarik Kiara di dalam dekapannya. "Sakit, jangan di tepuk-tepuk begitu." Victor mengurai pelukannya, ia menangkup wajah cantik Kiara. Jemari besarnya mengusap air mata wanita itu. "Kenapa menangis? Merindukanku, hm?" "Tidak, aku tidak merindukan. Daddy, sana pergi. Kenapa pulang? Tidak usah pulang seharusnya, sudah sana pergi ... hhmmppthhh," Kiara tidak dapat melanjutkan ucapannya saat Victor menciumnya dengan paksa. Victor memangut bibir Kiara dengan menuntut, tangan kanannya menahan tengkuk Kiara. Kiara sendiri memberontak, ia mencoba melepaskan diri. Namun tidak bisa, hingga pada akhirnya. Kiara turut larut dalam ciuman paksa Victor. "Eugh ... Daddy," lenguh Kiara. Victor tersenyum. "Manis, bibirmu selalu manis. Kiara," bisik Victor, sebelum akhirnya pria itu menyerang leher Kiara. "Oh, Daddy!" desah Kiara, wanita itu menggigit bibir bawahnya."Stop it." Kiara menggelengkan kepalanya saat Victor akan menyerang bibirnya kembali, Victor tersenyum. "Kenapa, Baby? Apakah kau merasa tidak nyaman?" tanya Victor, Kiara mengangguk. "Aku istri putramu, Dad. Berhentilah untuk bersikap seperti ini," lirih Kiara, sesungguhnya wanita itu terbuai akan ciuman dan cumbuan Victor. Namun, mengingat jika ia berstatus istri Edwin. Membuatnya takut, Kiara tidak ingin terjatuh terlalu dalam. Sebab, Victor selalu menggodanya. Yang mana suatu saat bisa saja ia khilaf. Victor mendesah pelan, "kau benar-benar tidak ingin bersamaku, Kia?" tanya Victor, Kiara menggelengkan kepalanya. "Apa yang kau harapkan dari Edwin? Dia tidak mencintaimu, Kiara," ujar Victor dengan mengerang, pria itu menatap Kiara dengan serius. "Sudahlah, Dad. Aku tidak ingin membahasnya, bisakah Daddy keluar dari kamarku?" pinta Kiara, wanita itu mengalihkan tatapannya ke arah lain. "Baiklah, kau istirahat. Daddy keluar dulu." Victor mengecup lembut puncak kepala
Mansion Anderson, 04.00 PM. "Dimana Kiara, dan Daddy. Paula?" tanya Edwin, pria itu baru saja pulang ke mansion setelah dua minggu pergi. "Nona Kiara ada di kamarnya, Tuan. Sementara Tuan Victor ada di mansion satunya sejak dua minggu lalu," jelas Paula dengan sopan, Edwin menaikkan sebelah alisnya. "Ke mansion satunya? Untuk apa Daddy ke sana?" "Saya kurang paham, Tuan," jawabnya, Edwin mengangguk. Pria itu melangkah menuju kamarnya. Setibanya di kamar, Edwin masuk ke dalam kamar mandi. Pria tersebut membersihkan tubuhnya, setelah selesai. Edwin menuju walk in closet, mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Kemudian, pria itu melangkah menuju kamar Kiara. "Kia, bangun." Edwin menggoyangkan tangan Kiara ketika sampai di kamar wanita itu, Kiara terusik. Wanita itu membuka kedua matanya, dan terkejut. "Kak Edwin?" Kiara beranjak bangun, ia duduk dan melihat Edwin yang menatapnya tajam. "Aku memang menikahimu, Kiara. Tapi tidak untuk kau menjadi malas-malasan begini, apakah
Victor mendorong tubuh Kiara, pria itu menatap Kiara dengan datar. Kemudian merapikan pakaiannya, dan menatap Kiara kembali. Sementara Kiara, wanita itu menatap Victor dengan kesal. "Apa yang kau lakukan, Kiara?" tanya Victor dengan datar. "Menciummu, memangnya apa lagi? Apakah kau terlalu senang di cium oleh wanita lain?" kesal Kiara, Victor mendengkus. "Memangnya kenapa jika ada wanita lain yang menciumku? Tidak ada larangannya bukan? Kau sendiri sudah menolakku, Kia. Lalu untuk apa kau mempermasalahkannya? Wajar saja jika aku berhubungan dengan wanita lain, sebab setelah kau menolakku—masih ada wanita lain yang menginginkanku," ucap Victor, membuat dada Kiara terasa sesak. "Sekarang katakan kepadaku, apa yang kau inginkan datang kemari? Apakah kau memiliki urusan penting denganku, atau Edwin? Jika memang tidak ada—pergilah, karena aku tidak ingin ada kesalahpahaman. Sebab sekarang aku sadar jika kau menantuku!" tekan Victor dengan suara dinginnya, yang mana kata-kata Vic
Victor mengambil air hangat, dan handuk kecil. Setelahnya, ia kembali mendekati Kiara yang sudah terlelap. Victor duduk di bibir ranjang, pria tersebut mengulas senyumnya melihat Kiara yang nampak sangat kelelahan. Bagaimana tidak kelelahan—jika mereka saja melakukannya sampai empat kali, seandainya Kiara tidak mengeluh perutnya sakit. Mungkin Victor akan terus menggempurnya. "Aku tau jika saat ini kau sedang hamil, Baby. Tapi aku akan diam saja sampai kau menyadarinya sendiri." Victor mengelus perut Kiara, pria itu merundukkan tubuhnya dan mengecup perut Kiara penuh sayang. "Sehat selalu anak, Daddy. Terimakasih—karena kau, Mommy jadi mau mendekat," bisiknya, Victor terkekeh. Setelah itu, ia menegakkan tubuhnya. Victor mulai membersihkan tubuh Kiara dengan handuk kecil yang ia bawa tadi, Victor sangat telaten membersihkan tubuh Kiara. Ketika selesai, Victor mengembalikan wadah, dan handuk kecilnya ke kamar mandi. Kemudian pria tersebut bergabung dengan Kiara. Malam harinya,
Keesokan harinya, Kiara menggeliat, secara perlahan wanita itu membuka kedua matanya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Sebelum akhirnya Kiara membalikkan badannya, wanita itu menatap Victor yang masih terlelap. Tangannya terulur mengelus rahang tegas Victor. "Daddy," panggil Kiara. "Ayo bangun, sudah pagi. Daddy tidak ke kantor? Kiara hari ini ada urusan ke kampus," ucap Kiara, wanita itu terus mengelus rahang tegas Victor. Sampai akhirnya Kiara mengelus bibir Victor, membuat Victor menggigit jemari Kiara. "Daddy!" pekik Kiara terkejut, Victor membuka kedua matanya. Pria itu terkekeh, dan mengeratkan pelukannya pada tubuh Kiara. "Morning, Baby," Kiara mengulas senyumnya, "morning, Daddy. Ayo bangun, sudah pagi," "Hm, kau mengatakan apa tadi? Kau ada urusan ke kampus?" "Ya, aku harus menandatangani beberapa berkas untuk wisuda nanti," jawabnya, Victor mengangguk. "Kapan kau wisuda, Baby?" "Tiga bulan lagi, kenapa? Daddy mau datang?" "Mau, Daddy akan d
"Apa lagi yang mereka lakukan kepada Kiara?" sentak Victor, wajahnya mengeras. Kedua tangannya terkepal kuat. "Hanya itu, Tuan. Tapi sekarang Nona Kiara kesakitan akibat tendangan Nona Cecilia," jelas anak buah Victor, membuat Victor semakin meradang. "Brengsek! Mereka benar-benar membuatku marah, bagaimana bisa mereka mencelakai kesayanganku hah? Lalu apa tugas kalian di saat Kiara di celakai?" bentak Victor, anak buah Victor menunduk ketakutan. "Sekarang lakukan tugas dariku, jangan buat mereka mati. Cukup lukai mereka, dan buat celaka! Aku ingin mereka berdua merasakan apa yang Kiara rasakan, kalian paham?" tegas Victor, dua anak buah Victor mengangguk. "Kami paham, Tuan," ujar mereka berdua. "Bagus, sekarang jalankan tugas kalian. Aku ingin mendengar mereka benar-benar celaka!" "Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan Nona Kiara?" "Aku yang akan mengurusnya." Victor menatap keduanya dengan tajam, sebelum akhirnya pria itu melangkah pergi. Victor masuk ke dalam mobilnya
Bellevue Hospitals, "Bagaimana situasinya?" tanya Victor pada anak buahnya melalui panggilan telefon. "Aman, Tuan. Apakah Anda akan kemari sekarang?" tanya anak buah Victor. "Ya, aku kesana. Buka pintu ruangan Cecil," ucap Victor, sebelum akhirnya pria itu mematikan sambungan telefonnya. Victor membalikkan badannya, ia masuk ke dalam ruangan Kiara. Setibanya di kamar, Victor mendekati Kiara. Tangannya bergerak mengelus lembut puncak kepala Kiara, kemudian, ia merundukkan tubuhnya, dan mengecup Kiara. "Istirahatlah, aku akan membalas apa yang sudah Cecil lakukan kepadamu. Baby," bisik Victor, ia menegakkan tubuhnya, dan melangkah keluar dari ruangan Kiara. Setibanya di ruangan Cecil, Victor menyeringai. Pria itu melihat Cecil yang terbaring dengan beberapa luka di tubuhnya, lantas—Victor mengeluarkan belati kecil dari saku kemejanya, ia mendekati ranjang Cecil. Victor menancapkan belatinya pada pipi Cecil. "Kau cantik, tapi sayang—masih cantik Kiara. Bahkan kini kau
"Aku mencintaimu, Victor," Deg! Victor tertegun, jantungnya berdegup dengan kencang. Ketika telinganya mendengar Kiara mengatakan cinta, Victor menjauhkan tubuhnya dari Kiara. Pria tersebut menatap Kiara dengan serius, mencoba mencari kebohongan pada kedua mata teduh itu. "Kau mengatakan apa, Baby? Coba katakan lagi," pinta Victor, Kiara mendengkus geli. "Tidak ada siaran ulang, Sayang," ucap Kiara, membuat Victor terkekeh. "Ulang lagi, Baby. Aku benar-benar ingin mendengarnya, aku mohon," ucap Victor dengan memohon, Kiara tersenyum. Wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Victor. "Aku mencintaimu, Victor. Mencintaimu, dan mencintaimu!" seru Kiara, menerbitkan senyuman dan jantung berdebar-debar di hati Victor. Victor meraih dagu Kiara, mendongakkan wajah wanita itu. Membuatnya bisa memangut bibir Kiara, Victor memangutnya dengan penuh kelembutan. Kiara sendiri turut membalas pangutan Victor dengan intens. Lama keduanya berpangutan, kemudian—Victor menyudah
Victor mencium Kiara dengan penuh gairah, bibirnya menyapu dengan lembut namun menuntut, membuat wanita itu tenggelam dalam arus hasrat yang menggelora. Tangan besar Victor menelusuri lekuk tubuh Kiara, menariknya semakin dekat hingga dada mereka saling bertemu, seakan ingin menyatu lebih dalam. Kiara menggeliat dalam pelukan Victor, jemarinya menyusuri rambut pria itu, menariknya lebih dekat sementara desahan penuh nikmat meluncur dari bibirnya. Victor menyeringai, menikmati bagaimana istrinya menjadi begitu patuh dalam kungkungannya. "Kau benar-benar menggoda, Baby," gumam Victor dengan suara serak sebelum melumat bibir Kiara lagi, kali ini lebih menuntut, lebih mendominasi. Kiara tersentak, namun tubuhnya segera menyesuaikan, menerima setiap sentuhan Victor dengan penuh hasrat. Dengan satu gerakan kuat, Victor mengangkat Kiara dan mendudukkannya di bangku kayu yang dingin. Gaun rumah yang sederhana dengan mudah tersingkap saat tangan Victor mengelus pahanya, jemarinya meny
Di sebuah toko bunga mewah yang terletak di sudut jalan kota, Victor berdiri dengan tenang, matanya menelusuri berbagai macam bunga yang tertata indah di dalam vas kaca. Wangi mawar dan lily bercampur lembut di udara, menciptakan suasana yang menenangkan. Tangan Victor yang besar dan kokoh mengambil seikat mawar merah dengan kelopak yang masih segar, lalu menatapnya sejenak. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya saat membayangkan bagaimana ekspresi Kiara ketika menerimanya nanti. Namun, momen itu terganggu oleh suara langkah kaki seseorang yang mendekat. "Victor." Sebuah suara lembut namun tajam bergema di udara. Victor menegang sejenak sebelum menoleh sekilas. Sosok wanita dengan gaun berwarna biru tua berdiri di sana, rambut panjangnya tergerai sempurna, matanya menatap Victor dengan penuh arti. Eleanor. Namun, Victor hanya menoleh sebentar sebelum kembali menatap mawar di tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia melangkah ke kasir. Eleanor memicingkan matanya,
Keesokan harinya, suasana di sebuah kafe mewah di pusat kota terasa sibuk. Para eksekutif dengan setelan mahal memenuhi ruangan, membahas bisnis mereka dengan serius. Aroma kopi berkualitas tinggi bercampur dengan suara dentingan gelas dan piring, menciptakan harmoni yang khas. Di salah satu sudut ruangan yang lebih privat, Edwin Anderson duduk tegap di kursinya, ekspresi wajahnya tenang dan profesional. Seorang pria paruh baya dengan jas hitam yang rapi duduk di hadapannya, sementara beberapa dokumen terbuka di atas meja. "Mr. Anderson, saya harus mengakui, proposal Anda sangat mengesankan," ucap pria itu sambil melirik berkas yang tersusun rapi. "Namun, kami tetap ingin memastikan bahwa kerja sama ini akan menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kami membutuhkan jaminan bahwa distribusi produk ini akan berjalan lancar tanpa kendala logistik." Edwin menyandarkan tubuhnya, menyesap espresso hitamnya sebelum menjawab dengan suara dalam yang tegas, "Anda tidak perlu khawatir, Mr. Col
Di sebuah kafe dengan desain klasik nan elegan, dua wanita duduk berhadapan di sudut ruangan yang sedikit tersembunyi. Aroma kopi hitam yang pekat bercampur dengan wangi vanilla dari lilin aroma terapi di setiap meja, menciptakan suasana yang nyaman. Namun, meski suasananya tampak damai, percakapan di meja itu jauh dari kata tenang. Eleanor mengaduk cangkir kopinya dengan pelan, pandangannya lurus ke depan dengan ekspresi yang sulit ditebak. Sementara itu, wanita di hadapannya, Cecil, tersenyum miring sambil memainkan sendok peraknya. "Kau terlihat terlalu serius, Eleanor," ucap Cecil dengan nada santai, tapi sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lebih dalam. "Apa kau masih tidak terima kalau Victor sudah menjadi milik wanita lain?" Eleanor tersenyum tipis, tapi matanya berkilat tajam. "Victor bukan 'milik' siapa pun, apalagi wanita biasa seperti Kiara. Aku mengenalnya lebih lama. Aku tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya. Dia hanya… tersesat sejenak." Cecil terkekeh pela
Pagi menjelang dengan tenang di mansion keluarga Anderson. Matahari baru saja menyentuh puncak pohon ketika Kiara terbangun dari tidurnya. Tubuhnya masih diselimuti kehangatan Victor, yang lengannya melingkari pinggangnya dengan posesif. Ia tersenyum tipis, membiarkan dirinya menikmati momen itu sebelum akhirnya mencoba beranjak.Namun, begitu ia bergerak, lengan Victor mengencang."Jangan pergi," gumamnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.Kiara terkekeh, membelai rambut suaminya. "Anak-anak bisa bangun kapan saja. Aku harus melihat mereka."Victor membuka matanya perlahan, menatapnya dengan pandangan yang selalu berhasil membuat Kiara kehilangan napas. "Biarkan Sofia mengurus mereka sebentar lagi. Aku masih ingin bersamamu."Kiara menggigit bibir, hampir tergoda, tapi suara dentingan piring dari lantai bawah mengingatkannya bahwa hari sudah dimulai. Ia pun mencium pipi Victor singkat sebelum berhasil meloloskan diri dari pelukannya.Saat turun ke ruang makan, aroma kop
Mansion keluarga Anderson berdiri megah di atas lahan luas, dikelilingi taman berhiaskan mawar putih yang bermekaran. Di halaman belakang, air mancur berlapis marmer memantulkan sinar matahari sore, menciptakan suasana damai yang selalu dirindukan Kiara setelah bepergian jauh. Hari itu, keluarga kecil mereka baru saja kembali dari perjalanan di laut. Kenneth dan Felix tidur nyenyak di kamar bayi, sementara Victor mengawasi mereka dari kursi di sudut ruangan, lengan bersilang di dada. Kiara berdiri di ambang pintu, mengamati suaminya yang tampak begitu tenang. "Kau terlihat seperti penjaga gerbang surga," godanya sambil melangkah masuk. Victor menoleh, seulas senyum tipis di bibirnya. "Jika begitu, berarti kau bidadarinya." Ia menepuk pahanya, memberi isyarat agar Kiara mendekat. Tanpa ragu, Kiara duduk di pangkuannya. Tubuhnya bersandar pada dada bidang Victor, menikmati kehangatan yang selalu membuatnya merasa aman. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Suara deru me
Matahari telah naik lebih tinggi, memantulkan kilau keemasan di atas permukaan laut yang tenang. Kiara berbaring terlentang di atas selimut putih, dadanya masih bergerak naik-turun perlahan. Victor memandanginya dengan mata penuh kepuasan, jari-jarinya yang besar dengan lembut mengusap lekuk tulang rusuk sang istri. “Kau masih hidup?” goda Victor, suaranya serak namun penuh kelembutan. Bibirnya menempel di bahu Kiara, mengecap keringat asin yang mengering. Kiara memicingkan mata, tangan mungilnya menampar lembut dada Victor. “Hampir tidak,” jawabnya sambil tertawa ringan. “Kau benar-benar … tidak pernah kehabisan tenaga.” Victor menggeram rendah, mendekapnya erat sebelum bangkit dengan gesit. Tubuh atletisnya terpampang sempurna di bawah sinar matahari. “Ayo kita bersihkan diri,” ujarnya sambil merentangkan tangan. “Sebelum Sofia datang dan melihat kita seperti dua remaja mabuk cinta.” Kiara menggigit bibir, matanya menyapu tubuh Victor dari kepala hingga ujung kaki. “Kau yan
Matahari pagi menyingsap perlahan, menebar cahaya keemasan yang menari-nari di atas permukaan laut tenang. Yacht megah itu berayun lembut, seakan masih terbuai oleh kenangan malam penuh gairah. Sisa-sisa dekorasi pesta kemarin bergoyang ditiup angin sepoi, balon biru dan putih sesekali bersentuhan dengan riak air yang berkilauan. Kiara berdiri di tepi dek, kedua tangannya bertumpu pada pagar. Gaun putih tipis yang dikenakannya berkibar-kibar, memperlihatkan siluet tubuhnya yang ramping diterpa cahaya mentari pagi. Rambutnya yang berwarna brown diterbangkan angin, menciptakan aurora kegelisahan yang diam-diam diamati oleh sepasang mata biru tajam dari kejauhan. Victor melangkah mendekat dengan diam-diam, sepatunya nyaris tak bersuara di atas lantai dek yang masih lembap oleh embun pagi. Bau laut yang asin bercampur wangi vanilla dari parfum Kiara memenuhi indranya. Tanpa kata, kedua tangannya merangkul pinggang rambut itu dari belakang, menarik tubuh istrinya hingga pung
Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin yang menyegarkan di bawah langit biru yang cerah. Di dek sebuah yacht mewah yang tengah berlayar di tengah lautan, terdengar tawa ceria anak-anak. Kenneth dan Felix, putra kembar Kiara dan Victor, bermain di atas karpet tebal yang diletakkan di atas dek. Kedua bayi laki-laki itu kini berusia 11 bulan, sebentar lagi genap satu tahun. Kiara duduk di salah satu kursi berjemur, matanya tak lepas dari kedua anaknya yang tengah bermain dengan bola-bola kecil berwarna cerah. Wajahnya berseri-seri, menunjukkan kebahagiaan seorang ibu yang tengah menikmati momen bersama keluarganya. Victor, yang berdiri tidak jauh darinya, sesekali mengangkat Kenneth atau Felix dan melemparkan mereka ke udara sebelum menangkap mereka kembali, membuat gelak tawa kedua bayi itu semakin pecah. “Aku masih tak percaya mereka akan genap satu tahun minggu depan,” ujar Kiara dengan senyum lembut. Victor mendekatinya, menggendong Kenneth di satu tangan dan mer