PULAU Jeju terkenal dengan cuaca dingin meskipun matahari bersinar terik di atas kepala. Hal ini karena pulau yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun internasional tersebut dikelilingi oleh pegunungan tinggi dan angin laut yang sejuk.
Begitu Farah turun dari dermaga, tubuhnya langsung menggigil sedikit. Dia tidak menyangka cuaca di dekat dermaga akan sedingin itu. Apalagi, dia lupa mengenakan hoodie. "Di sini kamu harus pakai jas hujan kalau tidak mau wajahmu terkena percikan air laut," ujar Shina sambil mengeluarkan jas hujan transparan dari tas punggungnya. "Kenapa kamu tidak memberitahuku lebih awal? Aku tidak tahu harus pakai jas hujan ini. Kalau tahu, aku pasti sudah beli sejak awal," keluh Farah sambil memasang wajah masam, memandang jas hujan yang akan dipakaikan Shina ke tubuhnya. Ya, Farah memang belum pernah menjejakkan kaki di Pulau Jeju, meskipun sudah beberapa kali berencana ke sana. Namun, selalu saja ada halangan yang membuatnya gagal berangkat. Meski tinggal di Korea Selatan selama beberapa tahun, Pulau Jeju pun belum pernah dia kunjungi. Ini menunjukkan bahwa dia bukan tipe orang yang suka berlibur tanpa alasan. Bahkan kali ini pun, kalau bukan karena terpaksa ikut program team-building, mungkin dia masih sibuk di kantor menyelesaikan pekerjaan yang tiada habisnya. "Di sini sebenarnya juga bisa beli jas hujan, tapi harganya lebih mahal karena rata-rata pengunjungnya adalah turis," kata Shina sambil tersenyum ramah. Rekan kerjanya yang satu ini memang selalu ringan tangan dan murah senyum, tidak peduli dalam situasi apa pun. Mendengar bahwa harga jas hujan di tempat itu lebih mahal, Farah langsung memutuskan untuk tidak membelinya. Dia buru-buru berlari menaiki tangga bus yang sudah siap mengantar mereka ke penginapan. HAMPIR setengah jam Farah berada di atas bus, tetapi anehnya tidak ada seorang pun peserta yang naik. Dia mulai mengangkat kepala untuk melihat ke arah depan, dan semakin aneh karena ternyata hanya dia seorang yang ada di dalam bus itu. Farah segera bergerak ke pintu bus dan memeriksa keadaan di luar. Ah! Tidak ada bayangan Shina sama sekali. Ke mana perginya semua orang? Bergegas dia turun dari bus, mencoba mencari rekan-rekannya, termasuk Shina dan Hongjoong. "Aduh... ke mana mereka semua pergi?" gumamnya. Saat sedang asyik melihat ke sekeliling—di mana ada beberapa kios yang menjual makanan dan cendera mata untuk turis—tiba-tiba ponselnya yang berada di saku celana bergetar. Farah dengan cepat mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon. Sayangnya, panggilan itu sudah terlewat. Dia lantas memeriksa grup LINE yang dibuat khusus untuk program itu. Mata Farah membelalak saat membaca pesan dari Shina dan beberapa rekannya di grup, yang menyebutkan bahwa mereka kekurangan satu peserta. "Aku, ya, yang mereka maksud?" Farah mengerutkan dahi, mencoba menahan rasa cemas. Kalau benar dia yang dimaksudkan, berarti dia tadi salah naik bus? Tapi bukankah hanya ada satu bus di sana? Pesan baru masuk lagi di grup. "Bukan satu orang, tapi dua orang..." Alis Farah terangkat. Rasanya aneh karena ada yang menyebut dua orang yang tidak ada di bus. Kalau selain dirinya, siapa lagi? Saat Farah sibuk menatap layar ponselnya, telinganya menangkap suara seorang pria yang sangat dikenalnya sedang bertanya kepada salah satu sopir Uber di kios depan tempatnya berdiri. Kepala Farah langsung mendongak untuk melihat siapa pria itu, dan ternyata, tidak lain tidak bukan adalah pesaing abadinya. Sama-sama tidak naik bus peserta program untuk menuju ke penginapan. "Ergh! Lagi-lagi muka kamu! Dari zaman kuliah sampai sekarang, asyik-asyik kamu aja yang muncul di mana-mana!" Farah mengomel kesal sambil menghentakkan satu kaki ke tanah, meluapkan rasa geram terhadap situasi yang sedang dialaminya. "Kelihatannya, kamu dan aku sama-sama terjebak di sini," ujar Hongjoong sambil mendekati Farah. Niatnya cuma satu: mengajak gadis itu untuk ikut naik Uber yang baru saja dia pesan. Sopir Uber sudah mulai memanaskan mesin mobilnya. Tinggal Hongjoong yang berbelok sejenak, mendekati Farah yang masih berdiri mematung di tempatnya. "Kalau iya, kenapa? Bagaimana mungkin kamu juga terjebak di sini?" Farah mengangkat alis, tidak mengerti bagaimana musuhnya itu bisa sama-sama tertinggal bus. Tak mungkin ini karena takdir! Sangat tidak mungkin. "Aku tadi cari toilet. Tapi toiletnya ada di dermaga bawah sana. Begitu naik lagi ke sini, eh, busnya sudah nggak ada. Kamu sendiri, kenapa?" Hongjoong sengaja mengajak bicara, jarang-jarang ada kesempatan seperti ini untuk berbicara santai dengan Farah. Biasanya, mereka akan bertengkar seperti anjing dan kucing. Berbincang dengan tenang hampir mustahil terjadi. Farah mendengus kesal dan memalingkan wajah ke arah lain. "Aku salah naik bus..." jawab Farah pelan, nyaris seperti berbisik. Tapi Hongjoong sudah tahu gadis itu memang salah naik bus. Dia tadi sempat melihat Farah turun dari bus kosong yang ada di sana. "Aku sudah pesan Uber. Mau ikut nggak?" Farah langsung mencibir, merasa aneh mendengar Kim Hongjoong menawarkan tumpangan dengan nada yang cukup ramah. "Kamu mimpi apa, Tuan Hongjoong? Tiba-tiba baik banget ngajak aku tumpang?" tanya Farah, sengaja ingin memastikan apakah pria itu benar-benar tulus atau hanya basa-basi. "Aku nggak punya waktu buat ngajak dua atau tiga kali. Jadi pilihan ada di tangan kamu, mau ikut atau nggak." Setelah mengatakan itu, Hongjoong berjalan ke depan, meninggalkan Farah yang masih ragu. Farah menggigit bibirnya, pandangannya melayang ke kiri dan kanan. Selain kios-kios cendera mata yang ada di situ, dia melihat papan bertuliskan Uber dalam hangul dengan harga layanan yang juga tertera di bawahnya. Farah menelan ludah saat membaca harga Uber yang ditawarkan. Mahal juga! Perasaan resah mulai menjalari hatinya. Dia kemudian menatap Hongjoong, yang sengaja menoleh ke belakang, menunggu keputusan apa yang akan gadis itu buat. "Hish!" Farah menggeram kesal sebelum melangkah cepat menuju ke mobil yang sudah siap untuk bergerak. Tanpa ragu, dia segera masuk dan duduk di sebelah Hongjoong di kursi belakang, sambil meletakkan tas pakaian di tengah-tengah mereka sebagai pembatas. Melihat tingkah Farah, Hongjoong menunjukkan wajah kesal. Gadis itu, masih sama menjengkelkannya seperti dulu. Padahal, dia tadi mencoba untuk bersikap baik. Tapi, kebaikan itu hanya sementara karena kompetisi mereka belum dimulai. Saat perlombaan nanti resmi dimulai, Hongjoong bersumpah tidak akan memberi kesempatan sedikit pun kepada Farah untuk memenangkan persaingan! SETIBANYA di penginapan, Hongjoong langsung menyerahkan kartu pembayaran kepada sopir Uber sambil berkata, "Saya bayar punya saya. Untuk dia, bayar sendiri." Farah, yang sudah bersiap untuk keluar dari mobil, langsung berbalik menatap pria itu dengan ekspresi terkejut. "What?!" serunya dengan nada tinggi. Matanya membelalak, menampilkan kemarahan yang jelas di wajahnya. Hongjoong hanya tersenyum sinis sambil mengambil kembali kartu yang sudah dihulurkan. "Ya... ya... Kim Hongjoong!" Farah hampir berteriak saking geramnya. Dia melihat Hongjoong dengan santai keluar dari mobil, seolah-olah tidak ada apa-apa. Farah hendak membuka pintu mobilnya, namun sopir Uber menahannya. "Maaf, Nona. Bayar dulu." Farah terdiam, memaksakan diri membuka dompet untuk membayar biaya perjalanan. Begitu selesai, dia keluar dengan langkah cepat dan amarah yang membara. Saat dia melihat Hongjoong tertawa puas di tepi jalan, rasanya dia ingin melemparkan sesuatu ke arahnya. "Tunggu saja, Kim Hongjoong! Aku nggak akan kalah dalam program ini!" Farah menarik tasnya dengan gerakan kasar, menyalurkan rasa geram yang mendidih. Dia bertekad membalas perbuatan pria itu suatu hari nanti. "Kalau memang aku harus bayar sendiri, lebih baik kamu nggak usah ajak aku tumpang! Dasar nyebelin!" Farah mengomel sendiri. Andai saja situasinya tidak ramai, dia pasti sudah menjitak kepala Hongjoong. Tapi mengingat pria itu adalah adik dari bos mereka sekaligus memiliki jabatan di perusahaan, dia menahan diri agar tidak menimbulkan masalah. Setibanya mereka di lobi resort, Shina langsung mendekati Farah dengan wajah lega. "Syukurlah kamu sampai dengan selamat." Farah hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan. Hatinya masih panas dengan apa yang baru saja terjadi. Ketika matanya menangkap Hongjoong yang sudah santai menuju meja makan, rasa kesalnya kembali memuncak. "Kamu baik-baik saja?" tanya Shina sambil ikut melihat arah pandangan Farah. "Baik... Eh, kamu sudah tahu belum kamar penginapan kamu?" Farah cepat-cepat mengalihkan pembicaraan, tidak ingin membahas apa yang terjadi di luar resort tadi. "Sudah. Kita sekamar, kok. Kalau mau taruh tas dulu, kita bisa langsung ke sana. Sebentar lagi ada briefing dari fasilitator program." Farah mengangguk setuju, lalu mereka berjalan bersama menuju kamar. Untuk sementara, dia meninggalkan rasa kesalnya di lobi. Tapi dia berjanji akan kembali menghadapi Kim Hongjoong dengan semangat baru, siap untuk memenangkan persaingan ini.SETELAH meletakkan tas di kamar penginapan, Farah muncul kembali di resort untuk menunggu kehadiran fasilitator yang dikatakan terlambat sedikit karena sedang mengurus sesuatu di tepi pantai.Suasana di aula utama resort Pulau Jeju riuh dengan suara peserta yang saling berkenalan. Namun, Farah hanya memandang kegiatan itu dengan rasa bosan. Sesekali, dia membetulkan rambutnya yang diikat rapi. Dari raut wajahnya, jelas terlihat bahwa dia sama sekali tidak tertarik untuk berbicara dengan siapa pun.Setelah hampir dua puluh menit menunggu, akhirnya seorang pria membawa map masuk ke ruangan resort untuk bertemu dengan para peserta program.Berbeda dengan Hongjoong, dia terlihat lebih santai dan tenang saat berdiri bersama beberapa rekannya sambil berbincang akrab. Sesekali, matanya melirik ke arah Farah yang sedang menatap tajam ke arahnya.Melihat tatapan Farah seperti itu, senyuman muncul di bibirnya. Dengan perlahan, Hongjoong mendekati Farah dan berdiri di sisinya. Sama sekali tidak
MALAM itu, setelah selesai aktivitas di pantai, mereka diizinkan kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri sebelum turun lagi ke resort untuk mengetahui aktivitas malam selanjutnya.Lelah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Hongjoong dan Dino berjalan beriringan menuju kamar mereka karena mereka sekamar. Di belakang mereka, ada Farah dan Shina. Entah bagaimana, kamar mereka malah saling berhadapan. Kasihan Farah, terpaksa melihat wajah pria menyebalkan itu selama berada di sini.Ketika semua sudah memasuki kamar masing-masing, Hongjoong yang baru saja hendak menutup pintu tiba-tiba menerima panggilan telepon dari seseorang, membuatnya keluar lagi dari kamar."Aku keluar sebentar," ujar Hongjoong kepada Dino. Siapa tahu rekannya itu bingung kalau tiba-tiba ia menghilang entah ke mana."Eomma-mu?" tanya Dino. Dia sudah paham betul dengan kehidupan pribadi Hongjoong. Kalau wajahnya tampak masam seperti itu, sudah pasti dia menerima telepon dari Nyonya Hongju, ibunya.Hong
KEESOKAN HARINYA, Hongjoong dan Dino keluar bersama-sama dari kamar. Ketika pintu kamar terbuka, Shina dan Farah juga kebetulan sedang membuka pintu kamar mereka."Selamat pagi..." Dino menyapa ramah lebih dahulu pada kedua gadis itu.Farah tetap diam, enggan berbicara panjang. Entahlah, tadi malam dia sulit memejamkan mata karena terus teringat kejadian di tepi pantai bersama Hongjoong."Selamat pagi, Dino, Tuan Hongjoong..." jawab Shina dengan riang. Tentu saja mereka harus bersemangat hari ini agar bisa menyalurkan energi untuk memenangkan pertandingan bola voli yang akan segera berlangsung."Kau pasti sulit tidur, kan?" Hongjoong, yang berjalan beriringan dengan Farah menuju ke resort, mulai berbicara pelan."Kenapa pula saya sulit tidur?" tanya Farah dengan nada kesal. Seolah-olah pria itu tahu bahwa tadi malam dia tidak bisa tidur nyenyak."Kalau kau sudah jatuh cinta sama aku, bilang saja. Jangan sampai wajahku membayangi malam-malammu," ujar Hongjoong dengan suara sedikit bera
SEKEMBALINYA Hongjoong dan Farah ke tepi pantai, terlihat anggota tim dari putaran kedua sedang beristirahat. Sementara itu, tim dari putaran pertama sedang menunggu mereka berdua sebelum melanjutkan pertandingan yang masih belum selesai.Melihat Hongjoong mendekati lapangan voli, Eunji segera berlari kecil untuk menghampirinya. Sebelumnya, saat lelaki itu pergi ke toilet, dia sudah puas meluapkan tantrumnya melalui telepon, mengadu kepada ibu Hongjoong tentang perlakuannya yang tidak sesuai dengan harapannya. Tidak lama kemudian, Puan Hongju menelepon anak bujangnya dan memberikan keputusan yang sulit diterima akal."Oppa..." Eunji berusaha menunjukkan sisi manjanya kepada Hongjoong. Dia mencoba meraih tangan lelaki itu, tetapi Hongjoong langsung menepisnya dengan kasar."Jangan bikin aku malu di sini. Kalau kamu datang hanya untuk mengganggu, lebih baik kamu pulang!" ucap Hongjoong pelan tapi tegas, tanpa sekalipun menatap wajah gadis itu.Bibir Eunji langsung manyun, terkejut denga
SETAHUN setelah kepergian ayah dan kakaknya, Ibu Faridah memberi tahu Farah bahwa ia akan menikah dengan Pak Haji Talib sebagai istri kedua. Hal itu terjadi karena sejak dulu Pak Haji Talib telah berniat untuk melamar Ibu Faridah, bahkan sebelum ia menikah dengan ayah Farah."Ibu, apa benar mau menikah dengan Pak Talib? Bagaimana dengan Bu Suria? Apakah dia bisa menerima kita menjadi bagian dari keluarga Pak Talib?" tanya Farah, ingin memastikan. Ia khawatir jika istri pertama Pak Haji Talib tidak bisa menerima mereka sebagai keluarga baru.Bu Suria dikenal sebagai wanita paling kaya di desa mereka. Bagaimana mungkin ia mau dimadu dengan ibunya? Hati Farah semakin tidak tenang memikirkan hal itu meskipun ia baru berusia 15 tahun dan akan menghadapi ujian sekolah tidak lama lagi."Bu Suria sendiri yang mengirim rombongan lamaran untuk ibu waktu itu. Farah, jangan berpikir yang macam-macam. Doakan yang terbaik untuk ibu, ya?"Farah menatap wajah Ibu Faridah. Ia tidak mengerti mengapa ib
PAGI menjelang, Farah bangun seperti biasa dan bersiap-siap untuk aktivitas ala-ala acara Running Man di dalam hutan yang tidak jauh dari resor mereka. Semua peserta sudah diberitahu oleh Jungmyeon kemarin sore setelah pertandingan bola voli bahwa hari ini mereka harus mengenakan pakaian yang sesuai untuk masuk ke hutan.Meskipun hutannya tidak terlalu lebat, pakaian yang dikenakan tetap harus nyaman agar memudahkan pergerakan para peserta.Farah mengenakan kaos oranye yang diberikan oleh Jungmyeon. Kaos ini adalah seragam khusus untuk membedakan anggota setiap kelompok yang sudah dibagi berdasarkan tim bola voli."Uii... sudah siap?" tegur Shina yang baru keluar dari kamar mandi."Ya..." sahut Farah pelan."Kemarin malam kamu balik ke kamar jam berapa? Waktu aku sadar sekitar jam sebelas malam, kamu belum ada di sini," tanya Shina. Baru sekarang ia ingat ingin menanyakan ke mana teman sekamarnya itu pergi. Sudah larut malam, Farah belum juga kembali, tapi pagi ini justru dia yang ban
Kedatangan Farah dan Hongjoong di hutan rekreasi langsung disambut dengan tatapan penuh kebencian oleh Eunji.Rasanya seperti ada api yang membakar di dalam tubuhnya, membuat napasnya naik turun sendiri begitu melihat mereka berjalan beriringan."Lihat saja mereka itu, aku yakin sebentar lagi akan ada episode kisah cinta yang bakal tercipta," ucap Hani, teman gosip Ryoko, sambil menjuihkan bibir ke arah Farah dan Hongjoong."Kenapa kau bilang begitu? Kau sudah melihat tanda-tanda enemies to lovers di antara mereka?" Ryoko ikut menanggapi, tertawa kecil di akhir kalimatnya. Hal itu langsung mengundang rasa tidak puas hati dari seseorang yang mendengar."Aku rasa, acara ini memang diadakan khusus untuk mereka berdua. Coba pikir, selama ini perusahaan kita tidak pernah mengadakan team-building seperti ini. Jadi, aku curiga ini semua memang untuk mereka saja," lanjut Hani dengan yakin."Benar juga, dari sekian banyak karyawan perusahaan kita, hanya mereka berdua yang tidak akur. Anisa itu
Farah dibawa ke dalam ruang zona hijau darurat karena luka yang dialaminya tidak terlalu serius. Namun, ekspresi wajah Hongjoong dan Shina yang menemaninya berubah drastis. Ada sesuatu yang ingin Shina ungkapkan, tetapi dia tidak sanggup. Akhirnya, dia hanya diam sambil menunggu dokter selesai melakukan pemeriksaan. Beberapa menit kemudian, dokter yang merawat Farah muncul di hadapan mereka berdua. "Tidak ada yang terlalu serius, semuanya baik-baik saja. Luka di kepala juga sudah diberi obat." Hongjoong mengangguk tanda mengerti sebelum dokter itu pergi meninggalkan mereka. Sementara itu, Shina segera mendekati tempat tidur pasien, di mana Farah sedang terbaring. Terlihat mata gadis itu sudah terbuka, dengan dahi berkerut. Salah satu tangannya meraba luka yang kini tertutup perban. "Apa yang terjadi?" tanya Farah begitu melihat Shina berdiri di samping tempat tidurnya. "Kamu terjatuh dari tangga bukit di hutan rekreasi tadi. Untung saja Tuan Hongjoong bertindak cepat dan membaw
Tubuhnya terasa sangat lemas sejak kembali ke rumah tadi malam. Meskipun pemanas sudah dinyalakan untuk mengurangi rasa dingin, tetap saja tubuhnya masih menggigil kedinginan.Selendang dan selimut tebal sudah membungkus tubuhnya rapat-rapat, namun kali ini dia benar-benar mengalami demam yang cukup parah. Jarang sekali dia jatuh sakit, tapi kalau sudah sakit, pasti rasanya sangat menyiksa.Selain menggigil, berkali-kali dia mencoba memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya, yang entah memikirkan apa pun dia tidak tahu pasti. Namun, denyutan di kepalanya terasa begitu menyakitkan, membuatnya sulit untuk bisa tertidur.Ditambah lagi, tiba-tiba bel rumah berbunyi berkali-kali. Entah siapa yang datang di saat dia sedang tidak enak badan seperti ini.Kalau dikatakan tetangga, rasanya kecil kemungkinan mereka akan menjenguknya.Yah, masing-masing pasti sibuk dengan kehidupan sendiri. Jika bertemu pun hanya di dalam lift, itu pun hanya sekad
Keesokan paginya, Hongjoong bangun seperti biasa. Namun, pagi ini ia hanya mengenakan pakaian santai, tidak seperti biasanya yang selalu tampil rapi dengan setelan korporat lengkap.Perlahan-lahan, ia menuruni tangga sambil mengintip ke arah ruang tamu di bawah, mencari keberadaan ayah dan kakaknya yang mungkin sedang menikmati sarapan di meja makan."Apa yang kamu intip-intip begitu?"Pertanyaan dari Taejoong membuat tubuh adiknya langsung berbalik dengan drastis.Untung saja tangannya sigap mencengkeram pegangan tangga, kalau tidak, mungkin ia sudah terguling ke bawah."Kamu kenapa sampai berantakan begini? Sakit?"Taejoong dengan cepat mengulurkan tangan hendak menyentuh dahi adiknya, tapi Hongjoong segera menghindar.Memang sengaja ia membiarkan rambutnya tetap berantakan, menandakan bahwa ia tidak ingin pergi ke kantor hari ini."Aku mau ambil cuti hari ini. Pulang dari Pulau Jeju tadi malam, rasanya masih
Setelah menyelesaikan aktivitas di Pulau Jeju, para peserta kini bersiap untuk kembali ke kota. Masing-masing merasakan campuran antara kesedihan dan kebahagiaan—entah kapan mereka bisa kembali ke tempat wisata ini lagi. Banyak kenangan dan kegiatan yang mereka lakukan bersama di sini, mempererat kepercayaan satu sama lain.Namun, tidak bagi Farah. Baginya, hari inilah yang paling dia nantikan. Tak ada sedikit pun raut kesedihan di wajahnya, hanya pucat akibat demam yang semakin parah.Dia sudah menyiapkan surat cuti selama beberapa hari dan berencana menyerahkannya kepada Shina untuk diberikan kepada atasan mereka sesampainya di Seoul nanti.Karena Farah sedang sakit, tak ada satu pun yang berani mendekatinya. Saat hidungnya terasa perih akibat bersin dan flu yang terus-menerus, dia cepat-cepat meraih sapu tangan.Setelah menggunakannya, barulah dia sadar. Corak bunga matahari di sudut kain itu mengingatkannya bahwa sapu tangan ini diberikan oleh
Farah dibawa ke dalam ruang zona hijau darurat karena luka yang dialaminya tidak terlalu serius. Namun, ekspresi wajah Hongjoong dan Shina yang menemaninya berubah drastis. Ada sesuatu yang ingin Shina ungkapkan, tetapi dia tidak sanggup. Akhirnya, dia hanya diam sambil menunggu dokter selesai melakukan pemeriksaan. Beberapa menit kemudian, dokter yang merawat Farah muncul di hadapan mereka berdua. "Tidak ada yang terlalu serius, semuanya baik-baik saja. Luka di kepala juga sudah diberi obat." Hongjoong mengangguk tanda mengerti sebelum dokter itu pergi meninggalkan mereka. Sementara itu, Shina segera mendekati tempat tidur pasien, di mana Farah sedang terbaring. Terlihat mata gadis itu sudah terbuka, dengan dahi berkerut. Salah satu tangannya meraba luka yang kini tertutup perban. "Apa yang terjadi?" tanya Farah begitu melihat Shina berdiri di samping tempat tidurnya. "Kamu terjatuh dari tangga bukit di hutan rekreasi tadi. Untung saja Tuan Hongjoong bertindak cepat dan membaw
Kedatangan Farah dan Hongjoong di hutan rekreasi langsung disambut dengan tatapan penuh kebencian oleh Eunji.Rasanya seperti ada api yang membakar di dalam tubuhnya, membuat napasnya naik turun sendiri begitu melihat mereka berjalan beriringan."Lihat saja mereka itu, aku yakin sebentar lagi akan ada episode kisah cinta yang bakal tercipta," ucap Hani, teman gosip Ryoko, sambil menjuihkan bibir ke arah Farah dan Hongjoong."Kenapa kau bilang begitu? Kau sudah melihat tanda-tanda enemies to lovers di antara mereka?" Ryoko ikut menanggapi, tertawa kecil di akhir kalimatnya. Hal itu langsung mengundang rasa tidak puas hati dari seseorang yang mendengar."Aku rasa, acara ini memang diadakan khusus untuk mereka berdua. Coba pikir, selama ini perusahaan kita tidak pernah mengadakan team-building seperti ini. Jadi, aku curiga ini semua memang untuk mereka saja," lanjut Hani dengan yakin."Benar juga, dari sekian banyak karyawan perusahaan kita, hanya mereka berdua yang tidak akur. Anisa itu
PAGI menjelang, Farah bangun seperti biasa dan bersiap-siap untuk aktivitas ala-ala acara Running Man di dalam hutan yang tidak jauh dari resor mereka. Semua peserta sudah diberitahu oleh Jungmyeon kemarin sore setelah pertandingan bola voli bahwa hari ini mereka harus mengenakan pakaian yang sesuai untuk masuk ke hutan.Meskipun hutannya tidak terlalu lebat, pakaian yang dikenakan tetap harus nyaman agar memudahkan pergerakan para peserta.Farah mengenakan kaos oranye yang diberikan oleh Jungmyeon. Kaos ini adalah seragam khusus untuk membedakan anggota setiap kelompok yang sudah dibagi berdasarkan tim bola voli."Uii... sudah siap?" tegur Shina yang baru keluar dari kamar mandi."Ya..." sahut Farah pelan."Kemarin malam kamu balik ke kamar jam berapa? Waktu aku sadar sekitar jam sebelas malam, kamu belum ada di sini," tanya Shina. Baru sekarang ia ingat ingin menanyakan ke mana teman sekamarnya itu pergi. Sudah larut malam, Farah belum juga kembali, tapi pagi ini justru dia yang ban
SETAHUN setelah kepergian ayah dan kakaknya, Ibu Faridah memberi tahu Farah bahwa ia akan menikah dengan Pak Haji Talib sebagai istri kedua. Hal itu terjadi karena sejak dulu Pak Haji Talib telah berniat untuk melamar Ibu Faridah, bahkan sebelum ia menikah dengan ayah Farah."Ibu, apa benar mau menikah dengan Pak Talib? Bagaimana dengan Bu Suria? Apakah dia bisa menerima kita menjadi bagian dari keluarga Pak Talib?" tanya Farah, ingin memastikan. Ia khawatir jika istri pertama Pak Haji Talib tidak bisa menerima mereka sebagai keluarga baru.Bu Suria dikenal sebagai wanita paling kaya di desa mereka. Bagaimana mungkin ia mau dimadu dengan ibunya? Hati Farah semakin tidak tenang memikirkan hal itu meskipun ia baru berusia 15 tahun dan akan menghadapi ujian sekolah tidak lama lagi."Bu Suria sendiri yang mengirim rombongan lamaran untuk ibu waktu itu. Farah, jangan berpikir yang macam-macam. Doakan yang terbaik untuk ibu, ya?"Farah menatap wajah Ibu Faridah. Ia tidak mengerti mengapa ib
SEKEMBALINYA Hongjoong dan Farah ke tepi pantai, terlihat anggota tim dari putaran kedua sedang beristirahat. Sementara itu, tim dari putaran pertama sedang menunggu mereka berdua sebelum melanjutkan pertandingan yang masih belum selesai.Melihat Hongjoong mendekati lapangan voli, Eunji segera berlari kecil untuk menghampirinya. Sebelumnya, saat lelaki itu pergi ke toilet, dia sudah puas meluapkan tantrumnya melalui telepon, mengadu kepada ibu Hongjoong tentang perlakuannya yang tidak sesuai dengan harapannya. Tidak lama kemudian, Puan Hongju menelepon anak bujangnya dan memberikan keputusan yang sulit diterima akal."Oppa..." Eunji berusaha menunjukkan sisi manjanya kepada Hongjoong. Dia mencoba meraih tangan lelaki itu, tetapi Hongjoong langsung menepisnya dengan kasar."Jangan bikin aku malu di sini. Kalau kamu datang hanya untuk mengganggu, lebih baik kamu pulang!" ucap Hongjoong pelan tapi tegas, tanpa sekalipun menatap wajah gadis itu.Bibir Eunji langsung manyun, terkejut denga
KEESOKAN HARINYA, Hongjoong dan Dino keluar bersama-sama dari kamar. Ketika pintu kamar terbuka, Shina dan Farah juga kebetulan sedang membuka pintu kamar mereka."Selamat pagi..." Dino menyapa ramah lebih dahulu pada kedua gadis itu.Farah tetap diam, enggan berbicara panjang. Entahlah, tadi malam dia sulit memejamkan mata karena terus teringat kejadian di tepi pantai bersama Hongjoong."Selamat pagi, Dino, Tuan Hongjoong..." jawab Shina dengan riang. Tentu saja mereka harus bersemangat hari ini agar bisa menyalurkan energi untuk memenangkan pertandingan bola voli yang akan segera berlangsung."Kau pasti sulit tidur, kan?" Hongjoong, yang berjalan beriringan dengan Farah menuju ke resort, mulai berbicara pelan."Kenapa pula saya sulit tidur?" tanya Farah dengan nada kesal. Seolah-olah pria itu tahu bahwa tadi malam dia tidak bisa tidur nyenyak."Kalau kau sudah jatuh cinta sama aku, bilang saja. Jangan sampai wajahku membayangi malam-malammu," ujar Hongjoong dengan suara sedikit bera