SETELAH meletakkan tas di kamar penginapan, Farah muncul kembali di resort untuk menunggu kehadiran fasilitator yang dikatakan terlambat sedikit karena sedang mengurus sesuatu di tepi pantai.
Suasana di aula utama resort Pulau Jeju riuh dengan suara peserta yang saling berkenalan. Namun, Farah hanya memandang kegiatan itu dengan rasa bosan. Sesekali, dia membetulkan rambutnya yang diikat rapi. Dari raut wajahnya, jelas terlihat bahwa dia sama sekali tidak tertarik untuk berbicara dengan siapa pun. Setelah hampir dua puluh menit menunggu, akhirnya seorang pria membawa map masuk ke ruangan resort untuk bertemu dengan para peserta program. Berbeda dengan Hongjoong, dia terlihat lebih santai dan tenang saat berdiri bersama beberapa rekannya sambil berbincang akrab. Sesekali, matanya melirik ke arah Farah yang sedang menatap tajam ke arahnya. Melihat tatapan Farah seperti itu, senyuman muncul di bibirnya. Dengan perlahan, Hongjoong mendekati Farah dan berdiri di sisinya. Sama sekali tidak peduli dengan tatapan mata orang-orang di sekitar, seolah-olah dunia ini hanya milik mereka berdua saat itu. "Kelihatannya kau sudah siap untuk berperang denganku, ya?" ucap Hongjoong dengan senyum lebar. "Memang! Kalau bisa, sekarang juga aku ingin mengalahkanmu, Tuan Hongjoong." Farah sengaja menjawab dengan nada menyindir, masih merasa kesal dengan kejadian di luar resort tadi. "Wow... santai saja. Meski semangatmu sedang berkobar untuk memenangkan perang di antara kita, kau tetap tidak akan bisa mengalahkanku." Kali ini, Hongjoong tersenyum bangga. Dia benar-benar yakin dengan ucapannya barusan. "Kita lihat saja nanti, Tuan Hongjoong!" Nada Farah terdengar tertahan. Tangannya mengepal, wajahnya berkerut. Dia tidak sabar menunggu fasilitator datang karena sudah sangat bersemangat untuk mengalahkan pria itu dalam setiap aktivitas yang berlangsung selama tiga hari ini! Tak lama kemudian, seorang pria berpakaian kasual dengan membawa map di tangannya terlihat melangkah naik ke panggung. Mikrofon di tangannya mengeluarkan suara statis sebelum dia mulai berbicara dengan penuh semangat. "Selamat siang semuanya! Saya Kim Jungmyeon, fasilitator untuk program team-building ini. Mohon maaf karena terlambat untuk sesi siang ini. Saya harap semua peserta sudah makan dengan kenyang sebelum kita memulai tantangan ini." "Baiklah, untuk aktivitas pertama ini kita membutuhkan kerja sama, komunikasi, dan sedikit strategi," lanjut Jungmyeon lagi. Farah langsung memasang telinga. Sementara itu, Hongjoong menyilangkan tangan di belakang Farah, wajahnya penuh percaya diri. Dia bahkan tidak sabar untuk memulai tantangan tersebut. "Tantangan pertama kita adalah Survival Challenge. Kalian semua akan dibagi ke dalam kelompok kecil dan diberi tugas untuk membangun rakit menggunakan bahan-bahan yang sudah kami sediakan. Kelompok yang berhasil menyelesaikan rakit paling stabil dan cepat akan menjadi pemenang!" Farah hampir tersedak mendengar penjelasan Jungmyeon. Matanya melebar sesaat, menunjukkan rasa tidak puas dengan apa yang baru saja ia dengar. Rakit? Dalam pikiranku ini adalah pekerjaan korporat, bukan kem bina diri! Aduh... hancurlah aku seperti ini. Farah mengomel dalam hati. "Tapi sebelum kita mulai tantangan pertama ini, kalian semua akan dibagi kelompok secara acak!" Semua peserta pun sabar menunggu nama-nama mereka diumumkan untuk dibagi ke dalam kelompok yang telah ditentukan oleh Jungmyeon. Beberapa menit kemudian, daftar kelompok mulai diumumkan. Farah hampir tidak percaya saat namanya dipasangkan dengan seseorang yang paling tidak ingin dia ajak bekerja sama dalam semua aktivitas yang akan berlangsung. "Kim Hongjoong?" Farah berseru dengan suara keras. Matanya langsung memandang Jungmyeon dengan tatapan terkejut dan tidak percaya. Rasanya telinganya panas ketika mendengar nama pria itu menjadi pasangan kelompoknya! Jungmyeon tidak tahu apa yang membuat Farah begitu terkejut, tetapi melihat reaksinya, dia hanya tersenyum sebelum berbicara. "Ya, benar. Anda dan Tuan Kim Hongjoong akan menjadi satu tim. Ingat, ini adalah tentang kerja sama." Hongjoong yang berdiri di sampingnya hanya mengangkat bahu sambil tersenyum lebar. "Lihat, Farah. Mungkin takdir memang menginginkan kita berdamai dengan cara baik." Farah mendengus kesal. "Takdir apa! Takdir ke neraka, Tuan Hongjoong!" Farah menggerutu sebelum melirik tajam ke arah pria itu dengan penuh kebencian. "Pak Jungmyeon, bisakah saya ganti pasangan? Saya tidak mau satu tim dengan Kim Hongjoong." Farah mencoba meminta pertukaran. Kalau bisa, dia sama sekali tidak ingin bekerja sama dengan pria itu. Apalah nasibnya hari ini? Sudah ditinggalkan di tepi dermaga, harus membayar ongkos Uber yang mahal, sekarang malah dipasangkan dengan orang yang paling dia benci! "Maaf, Nona, tidak bisa. Semua daftar sudah dipasangkan sesuai dengan kelompok masing-masing. Saya harap Anda bisa bekerja sama dengan baik karena saya tidak ingin aktivitas kita terganggu," jawab Jungmyeon dengan santai. Farah membelalakkan mata, amboi-amboi, mulut Jungmyeon ini ternyata cukup tajam juga! Apakah dia sedang mengatakan bahwa permintaannya itu mengganggu aktivitas mereka? "Kamu jangan khawatir, aku akan melakukan pekerjaan yang berat. Kamu hanya perlu melakukan apa yang aku perintahkan," tambah Hongjoong dengan nada santai, sengaja menyiram minyak ke api amarah Farah. Farah memandangnya tajam. Rahangnya mengeras, kalau mengikuti emosi, rasanya ingin sekali dia melayangkan tinju ke wajah pria itu. "Dengar baik-baik, aku tidak akan mengikuti perintah siapa pun, apalagi dari mulutmu!" Setelah mengatakan itu, Farah memalingkan wajah ke arah lain, kedua tangannya memeluk tubuh dengan erat. Nafasnya naik turun tidak karuan, darahnya terasa mendidih. Sakit hatinya semakin menjadi karena perkataan Jungmyeon dan tambahan provokasi dari Hongjoong tadi. "Baiklah, saya harap tidak ada masalah dan kita bisa memulai tantangan ini." Farah hanya mendengus kecil, sementara Hongjoong mengangguk tanpa ingin memperpanjang perdebatan dengan gadis itu. SETEAH tiba di Pantai Woljeong, sebuah pantai yang terkenal dengan pasir putih bersihnya, Farah terpesona sejenak. Keindahan alam di depannya begitu nyata, tidak ada tandingannya. Pelan-pelan, dia menuruni tangga sambil matanya terpaku pada lautan biru nan jernih. Sebelum melangkah lebih jauh ke tepi pantai, Farah mengeluarkan ponsel dan mulai merekam keindahan itu melalui kamera. "Sudah-sudahlah itu, Nona Farah... jangan sampai karena Anda, aktivitas pertama kita tertunda," tegur Hongjoong yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Farah menoleh, tidak sadar kapan pria itu berada di dekatnya. Tanpa banyak bicara, dia mempercepat langkahnya menuruni tangga untuk menghampiri Shina, yang sudah berada di tepi pantai. Bahan-bahan untuk membangun rakit sudah tersedia di sana: bambu, tali, dan drum plastik yang berserakan di atas pasir. Farah menyimpan kembali ponselnya dan memandang bahan-bahan itu dengan ekspresi ragu. "Baiklah, tantangan pertama kita dimulai sekarang!" teriak Jungmyeon melalui pengeras suara kecil di tangannya. "Oke, kita butuh rencana. Aku pikir kita harus mengikat tiga batang bambu seperti ini, lalu drum plastik itu—" Farah mulai memberi arahan, tetapi Hongjoong memotongnya. "Kalau mau bikin rakit, biar aku yang rancang. Aku pernah bikin seperti ini waktu ikut kem universitas dulu," kata Hongjoong sambil mengambil tali dari tangan Farah. "Kem universitas? Anda pikir ini masih zaman kuliah? Ini tantangan profesional, tahu!" balas Farah dengan nada tinggi. Pertengkaran mereka menarik perhatian peserta lain. Dino, rekan Hongjoong yang berada di kelompok lain, berseru dari jauh, "Hei, kalian bikin rakit, bukan drama!" Farah mengetap bibir, akhirnya menyerah untuk sementara waktu. "Baiklah. Buat saja sesukamu. Kalau rakit ini tenggelam, jangan salahkan aku!" Hongjoong hanya diam dan mulai bekerja sendiri. Dia tahu memberi arahan kepada Farah hanya akan memicu perdebatan lebih lanjut. Dalam waktu tiga puluh menit, rakit mereka selesai. Farah hanya mengamati dari jauh, menjadi pengamat pasif sepanjang waktu. Cepat sekali dia menyelesaikannya... pikir Farah dalam hati. "Tada... sudah selesai," kata Hongjoong dengan bangga, kedua tangannya bertolak pinggang. Dia melirik kelompok lain yang masih berjuang menyelesaikan rakit mereka. Farah, yang menatap rakit itu dengan skeptis, bertanya, "Kamu yakin rakit ini tidak akan tenggelam di tengah laut nanti?" Hongjoong tersenyum sinis. "Kalau kamu naik pun, aku yakin rakit ini bisa bertahan." Mata Farah membesar. "Kamu bilang aku berat, ya?" Hongjoong tertawa kecil. "Aku tidak bilang. Kamu yang merasa begitu." Sebelum Farah sempat membalas, Jungmyeon memberikan instruksi untuk menguji rakit di laut. Mereka berdua mendorong rakit itu ke air dan naik dengan hati-hati. Pada awalnya, rakit itu stabil. Namun, beberapa detik kemudian... "Eh, Hongjoong... rakit ini... kenapa rasanya seperti mau—" kata Farah dengan cemas. SPLASH! Suara mereka terjatuh ke air terdengar keras. Rakit mereka terbalik. Farah, yang tidak bisa berenang, terbatuk-batuk sambil mencoba mengapung. Untung saja mereka sudah mengenakan jaket pelampung. Kalau tidak, mungkin ceritanya akan berbeda. Bajunya basah kuyup, rambutnya lepek, dan dia merasa sangat malu. Sementara itu, Hongjoong yang juga basah kuyup menahan tawa. Melihat ekspresi Farah yang lucu membuatnya semakin geli. "Kamu bilang apa tadi? Tantangan profesional?" goda Hongjoong sambil tersenyum. Farah menggigit bibir, wajahnya memerah karena malu. "Tunggu saja malam nanti! Aku pastikan kamu tidur dengan bantal basah!" ancam Farah dengan kesal. Peserta lain di pantai tertawa melihat insiden itu. Meskipun memalukan, Farah tahu ini baru permulaan dari tiga hari yang penuh dengan tantangan dan perang emosional.MALAM itu, setelah selesai aktivitas di pantai, mereka diizinkan kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri sebelum turun lagi ke resort untuk mengetahui aktivitas malam selanjutnya.Lelah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Hongjoong dan Dino berjalan beriringan menuju kamar mereka karena mereka sekamar. Di belakang mereka, ada Farah dan Shina. Entah bagaimana, kamar mereka malah saling berhadapan. Kasihan Farah, terpaksa melihat wajah pria menyebalkan itu selama berada di sini.Ketika semua sudah memasuki kamar masing-masing, Hongjoong yang baru saja hendak menutup pintu tiba-tiba menerima panggilan telepon dari seseorang, membuatnya keluar lagi dari kamar."Aku keluar sebentar," ujar Hongjoong kepada Dino. Siapa tahu rekannya itu bingung kalau tiba-tiba ia menghilang entah ke mana."Eomma-mu?" tanya Dino. Dia sudah paham betul dengan kehidupan pribadi Hongjoong. Kalau wajahnya tampak masam seperti itu, sudah pasti dia menerima telepon dari Nyonya Hongju, ibunya.Hong
KEESOKAN HARINYA, Hongjoong dan Dino keluar bersama-sama dari kamar. Ketika pintu kamar terbuka, Shina dan Farah juga kebetulan sedang membuka pintu kamar mereka."Selamat pagi..." Dino menyapa ramah lebih dahulu pada kedua gadis itu.Farah tetap diam, enggan berbicara panjang. Entahlah, tadi malam dia sulit memejamkan mata karena terus teringat kejadian di tepi pantai bersama Hongjoong."Selamat pagi, Dino, Tuan Hongjoong..." jawab Shina dengan riang. Tentu saja mereka harus bersemangat hari ini agar bisa menyalurkan energi untuk memenangkan pertandingan bola voli yang akan segera berlangsung."Kau pasti sulit tidur, kan?" Hongjoong, yang berjalan beriringan dengan Farah menuju ke resort, mulai berbicara pelan."Kenapa pula saya sulit tidur?" tanya Farah dengan nada kesal. Seolah-olah pria itu tahu bahwa tadi malam dia tidak bisa tidur nyenyak."Kalau kau sudah jatuh cinta sama aku, bilang saja. Jangan sampai wajahku membayangi malam-malammu," ujar Hongjoong dengan suara sedikit bera
SEKEMBALINYA Hongjoong dan Farah ke tepi pantai, terlihat anggota tim dari putaran kedua sedang beristirahat. Sementara itu, tim dari putaran pertama sedang menunggu mereka berdua sebelum melanjutkan pertandingan yang masih belum selesai.Melihat Hongjoong mendekati lapangan voli, Eunji segera berlari kecil untuk menghampirinya. Sebelumnya, saat lelaki itu pergi ke toilet, dia sudah puas meluapkan tantrumnya melalui telepon, mengadu kepada ibu Hongjoong tentang perlakuannya yang tidak sesuai dengan harapannya. Tidak lama kemudian, Puan Hongju menelepon anak bujangnya dan memberikan keputusan yang sulit diterima akal."Oppa..." Eunji berusaha menunjukkan sisi manjanya kepada Hongjoong. Dia mencoba meraih tangan lelaki itu, tetapi Hongjoong langsung menepisnya dengan kasar."Jangan bikin aku malu di sini. Kalau kamu datang hanya untuk mengganggu, lebih baik kamu pulang!" ucap Hongjoong pelan tapi tegas, tanpa sekalipun menatap wajah gadis itu.Bibir Eunji langsung manyun, terkejut denga
SETAHUN setelah kepergian ayah dan kakaknya, Ibu Faridah memberi tahu Farah bahwa ia akan menikah dengan Pak Haji Talib sebagai istri kedua. Hal itu terjadi karena sejak dulu Pak Haji Talib telah berniat untuk melamar Ibu Faridah, bahkan sebelum ia menikah dengan ayah Farah."Ibu, apa benar mau menikah dengan Pak Talib? Bagaimana dengan Bu Suria? Apakah dia bisa menerima kita menjadi bagian dari keluarga Pak Talib?" tanya Farah, ingin memastikan. Ia khawatir jika istri pertama Pak Haji Talib tidak bisa menerima mereka sebagai keluarga baru.Bu Suria dikenal sebagai wanita paling kaya di desa mereka. Bagaimana mungkin ia mau dimadu dengan ibunya? Hati Farah semakin tidak tenang memikirkan hal itu meskipun ia baru berusia 15 tahun dan akan menghadapi ujian sekolah tidak lama lagi."Bu Suria sendiri yang mengirim rombongan lamaran untuk ibu waktu itu. Farah, jangan berpikir yang macam-macam. Doakan yang terbaik untuk ibu, ya?"Farah menatap wajah Ibu Faridah. Ia tidak mengerti mengapa ib
PAGI menjelang, Farah bangun seperti biasa dan bersiap-siap untuk aktivitas ala-ala acara Running Man di dalam hutan yang tidak jauh dari resor mereka. Semua peserta sudah diberitahu oleh Jungmyeon kemarin sore setelah pertandingan bola voli bahwa hari ini mereka harus mengenakan pakaian yang sesuai untuk masuk ke hutan.Meskipun hutannya tidak terlalu lebat, pakaian yang dikenakan tetap harus nyaman agar memudahkan pergerakan para peserta.Farah mengenakan kaos oranye yang diberikan oleh Jungmyeon. Kaos ini adalah seragam khusus untuk membedakan anggota setiap kelompok yang sudah dibagi berdasarkan tim bola voli."Uii... sudah siap?" tegur Shina yang baru keluar dari kamar mandi."Ya..." sahut Farah pelan."Kemarin malam kamu balik ke kamar jam berapa? Waktu aku sadar sekitar jam sebelas malam, kamu belum ada di sini," tanya Shina. Baru sekarang ia ingat ingin menanyakan ke mana teman sekamarnya itu pergi. Sudah larut malam, Farah belum juga kembali, tapi pagi ini justru dia yang ban
Kedatangan Farah dan Hongjoong di hutan rekreasi langsung disambut dengan tatapan penuh kebencian oleh Eunji.Rasanya seperti ada api yang membakar di dalam tubuhnya, membuat napasnya naik turun sendiri begitu melihat mereka berjalan beriringan."Lihat saja mereka itu, aku yakin sebentar lagi akan ada episode kisah cinta yang bakal tercipta," ucap Hani, teman gosip Ryoko, sambil menjuihkan bibir ke arah Farah dan Hongjoong."Kenapa kau bilang begitu? Kau sudah melihat tanda-tanda enemies to lovers di antara mereka?" Ryoko ikut menanggapi, tertawa kecil di akhir kalimatnya. Hal itu langsung mengundang rasa tidak puas hati dari seseorang yang mendengar."Aku rasa, acara ini memang diadakan khusus untuk mereka berdua. Coba pikir, selama ini perusahaan kita tidak pernah mengadakan team-building seperti ini. Jadi, aku curiga ini semua memang untuk mereka saja," lanjut Hani dengan yakin."Benar juga, dari sekian banyak karyawan perusahaan kita, hanya mereka berdua yang tidak akur. Anisa itu
Farah dibawa ke dalam ruang zona hijau darurat karena luka yang dialaminya tidak terlalu serius. Namun, ekspresi wajah Hongjoong dan Shina yang menemaninya berubah drastis. Ada sesuatu yang ingin Shina ungkapkan, tetapi dia tidak sanggup. Akhirnya, dia hanya diam sambil menunggu dokter selesai melakukan pemeriksaan. Beberapa menit kemudian, dokter yang merawat Farah muncul di hadapan mereka berdua. "Tidak ada yang terlalu serius, semuanya baik-baik saja. Luka di kepala juga sudah diberi obat." Hongjoong mengangguk tanda mengerti sebelum dokter itu pergi meninggalkan mereka. Sementara itu, Shina segera mendekati tempat tidur pasien, di mana Farah sedang terbaring. Terlihat mata gadis itu sudah terbuka, dengan dahi berkerut. Salah satu tangannya meraba luka yang kini tertutup perban. "Apa yang terjadi?" tanya Farah begitu melihat Shina berdiri di samping tempat tidurnya. "Kamu terjatuh dari tangga bukit di hutan rekreasi tadi. Untung saja Tuan Hongjoong bertindak cepat dan membaw
Setelah menyelesaikan aktivitas di Pulau Jeju, para peserta kini bersiap untuk kembali ke kota. Masing-masing merasakan campuran antara kesedihan dan kebahagiaan—entah kapan mereka bisa kembali ke tempat wisata ini lagi. Banyak kenangan dan kegiatan yang mereka lakukan bersama di sini, mempererat kepercayaan satu sama lain.Namun, tidak bagi Farah. Baginya, hari inilah yang paling dia nantikan. Tak ada sedikit pun raut kesedihan di wajahnya, hanya pucat akibat demam yang semakin parah.Dia sudah menyiapkan surat cuti selama beberapa hari dan berencana menyerahkannya kepada Shina untuk diberikan kepada atasan mereka sesampainya di Seoul nanti.Karena Farah sedang sakit, tak ada satu pun yang berani mendekatinya. Saat hidungnya terasa perih akibat bersin dan flu yang terus-menerus, dia cepat-cepat meraih sapu tangan.Setelah menggunakannya, barulah dia sadar. Corak bunga matahari di sudut kain itu mengingatkannya bahwa sapu tangan ini diberikan oleh
Tubuhnya terasa sangat lemas sejak kembali ke rumah tadi malam. Meskipun pemanas sudah dinyalakan untuk mengurangi rasa dingin, tetap saja tubuhnya masih menggigil kedinginan.Selendang dan selimut tebal sudah membungkus tubuhnya rapat-rapat, namun kali ini dia benar-benar mengalami demam yang cukup parah. Jarang sekali dia jatuh sakit, tapi kalau sudah sakit, pasti rasanya sangat menyiksa.Selain menggigil, berkali-kali dia mencoba memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya, yang entah memikirkan apa pun dia tidak tahu pasti. Namun, denyutan di kepalanya terasa begitu menyakitkan, membuatnya sulit untuk bisa tertidur.Ditambah lagi, tiba-tiba bel rumah berbunyi berkali-kali. Entah siapa yang datang di saat dia sedang tidak enak badan seperti ini.Kalau dikatakan tetangga, rasanya kecil kemungkinan mereka akan menjenguknya.Yah, masing-masing pasti sibuk dengan kehidupan sendiri. Jika bertemu pun hanya di dalam lift, itu pun hanya sekad
Keesokan paginya, Hongjoong bangun seperti biasa. Namun, pagi ini ia hanya mengenakan pakaian santai, tidak seperti biasanya yang selalu tampil rapi dengan setelan korporat lengkap.Perlahan-lahan, ia menuruni tangga sambil mengintip ke arah ruang tamu di bawah, mencari keberadaan ayah dan kakaknya yang mungkin sedang menikmati sarapan di meja makan."Apa yang kamu intip-intip begitu?"Pertanyaan dari Taejoong membuat tubuh adiknya langsung berbalik dengan drastis.Untung saja tangannya sigap mencengkeram pegangan tangga, kalau tidak, mungkin ia sudah terguling ke bawah."Kamu kenapa sampai berantakan begini? Sakit?"Taejoong dengan cepat mengulurkan tangan hendak menyentuh dahi adiknya, tapi Hongjoong segera menghindar.Memang sengaja ia membiarkan rambutnya tetap berantakan, menandakan bahwa ia tidak ingin pergi ke kantor hari ini."Aku mau ambil cuti hari ini. Pulang dari Pulau Jeju tadi malam, rasanya masih
Setelah menyelesaikan aktivitas di Pulau Jeju, para peserta kini bersiap untuk kembali ke kota. Masing-masing merasakan campuran antara kesedihan dan kebahagiaan—entah kapan mereka bisa kembali ke tempat wisata ini lagi. Banyak kenangan dan kegiatan yang mereka lakukan bersama di sini, mempererat kepercayaan satu sama lain.Namun, tidak bagi Farah. Baginya, hari inilah yang paling dia nantikan. Tak ada sedikit pun raut kesedihan di wajahnya, hanya pucat akibat demam yang semakin parah.Dia sudah menyiapkan surat cuti selama beberapa hari dan berencana menyerahkannya kepada Shina untuk diberikan kepada atasan mereka sesampainya di Seoul nanti.Karena Farah sedang sakit, tak ada satu pun yang berani mendekatinya. Saat hidungnya terasa perih akibat bersin dan flu yang terus-menerus, dia cepat-cepat meraih sapu tangan.Setelah menggunakannya, barulah dia sadar. Corak bunga matahari di sudut kain itu mengingatkannya bahwa sapu tangan ini diberikan oleh
Farah dibawa ke dalam ruang zona hijau darurat karena luka yang dialaminya tidak terlalu serius. Namun, ekspresi wajah Hongjoong dan Shina yang menemaninya berubah drastis. Ada sesuatu yang ingin Shina ungkapkan, tetapi dia tidak sanggup. Akhirnya, dia hanya diam sambil menunggu dokter selesai melakukan pemeriksaan. Beberapa menit kemudian, dokter yang merawat Farah muncul di hadapan mereka berdua. "Tidak ada yang terlalu serius, semuanya baik-baik saja. Luka di kepala juga sudah diberi obat." Hongjoong mengangguk tanda mengerti sebelum dokter itu pergi meninggalkan mereka. Sementara itu, Shina segera mendekati tempat tidur pasien, di mana Farah sedang terbaring. Terlihat mata gadis itu sudah terbuka, dengan dahi berkerut. Salah satu tangannya meraba luka yang kini tertutup perban. "Apa yang terjadi?" tanya Farah begitu melihat Shina berdiri di samping tempat tidurnya. "Kamu terjatuh dari tangga bukit di hutan rekreasi tadi. Untung saja Tuan Hongjoong bertindak cepat dan membaw
Kedatangan Farah dan Hongjoong di hutan rekreasi langsung disambut dengan tatapan penuh kebencian oleh Eunji.Rasanya seperti ada api yang membakar di dalam tubuhnya, membuat napasnya naik turun sendiri begitu melihat mereka berjalan beriringan."Lihat saja mereka itu, aku yakin sebentar lagi akan ada episode kisah cinta yang bakal tercipta," ucap Hani, teman gosip Ryoko, sambil menjuihkan bibir ke arah Farah dan Hongjoong."Kenapa kau bilang begitu? Kau sudah melihat tanda-tanda enemies to lovers di antara mereka?" Ryoko ikut menanggapi, tertawa kecil di akhir kalimatnya. Hal itu langsung mengundang rasa tidak puas hati dari seseorang yang mendengar."Aku rasa, acara ini memang diadakan khusus untuk mereka berdua. Coba pikir, selama ini perusahaan kita tidak pernah mengadakan team-building seperti ini. Jadi, aku curiga ini semua memang untuk mereka saja," lanjut Hani dengan yakin."Benar juga, dari sekian banyak karyawan perusahaan kita, hanya mereka berdua yang tidak akur. Anisa itu
PAGI menjelang, Farah bangun seperti biasa dan bersiap-siap untuk aktivitas ala-ala acara Running Man di dalam hutan yang tidak jauh dari resor mereka. Semua peserta sudah diberitahu oleh Jungmyeon kemarin sore setelah pertandingan bola voli bahwa hari ini mereka harus mengenakan pakaian yang sesuai untuk masuk ke hutan.Meskipun hutannya tidak terlalu lebat, pakaian yang dikenakan tetap harus nyaman agar memudahkan pergerakan para peserta.Farah mengenakan kaos oranye yang diberikan oleh Jungmyeon. Kaos ini adalah seragam khusus untuk membedakan anggota setiap kelompok yang sudah dibagi berdasarkan tim bola voli."Uii... sudah siap?" tegur Shina yang baru keluar dari kamar mandi."Ya..." sahut Farah pelan."Kemarin malam kamu balik ke kamar jam berapa? Waktu aku sadar sekitar jam sebelas malam, kamu belum ada di sini," tanya Shina. Baru sekarang ia ingat ingin menanyakan ke mana teman sekamarnya itu pergi. Sudah larut malam, Farah belum juga kembali, tapi pagi ini justru dia yang ban
SETAHUN setelah kepergian ayah dan kakaknya, Ibu Faridah memberi tahu Farah bahwa ia akan menikah dengan Pak Haji Talib sebagai istri kedua. Hal itu terjadi karena sejak dulu Pak Haji Talib telah berniat untuk melamar Ibu Faridah, bahkan sebelum ia menikah dengan ayah Farah."Ibu, apa benar mau menikah dengan Pak Talib? Bagaimana dengan Bu Suria? Apakah dia bisa menerima kita menjadi bagian dari keluarga Pak Talib?" tanya Farah, ingin memastikan. Ia khawatir jika istri pertama Pak Haji Talib tidak bisa menerima mereka sebagai keluarga baru.Bu Suria dikenal sebagai wanita paling kaya di desa mereka. Bagaimana mungkin ia mau dimadu dengan ibunya? Hati Farah semakin tidak tenang memikirkan hal itu meskipun ia baru berusia 15 tahun dan akan menghadapi ujian sekolah tidak lama lagi."Bu Suria sendiri yang mengirim rombongan lamaran untuk ibu waktu itu. Farah, jangan berpikir yang macam-macam. Doakan yang terbaik untuk ibu, ya?"Farah menatap wajah Ibu Faridah. Ia tidak mengerti mengapa ib
SEKEMBALINYA Hongjoong dan Farah ke tepi pantai, terlihat anggota tim dari putaran kedua sedang beristirahat. Sementara itu, tim dari putaran pertama sedang menunggu mereka berdua sebelum melanjutkan pertandingan yang masih belum selesai.Melihat Hongjoong mendekati lapangan voli, Eunji segera berlari kecil untuk menghampirinya. Sebelumnya, saat lelaki itu pergi ke toilet, dia sudah puas meluapkan tantrumnya melalui telepon, mengadu kepada ibu Hongjoong tentang perlakuannya yang tidak sesuai dengan harapannya. Tidak lama kemudian, Puan Hongju menelepon anak bujangnya dan memberikan keputusan yang sulit diterima akal."Oppa..." Eunji berusaha menunjukkan sisi manjanya kepada Hongjoong. Dia mencoba meraih tangan lelaki itu, tetapi Hongjoong langsung menepisnya dengan kasar."Jangan bikin aku malu di sini. Kalau kamu datang hanya untuk mengganggu, lebih baik kamu pulang!" ucap Hongjoong pelan tapi tegas, tanpa sekalipun menatap wajah gadis itu.Bibir Eunji langsung manyun, terkejut denga
KEESOKAN HARINYA, Hongjoong dan Dino keluar bersama-sama dari kamar. Ketika pintu kamar terbuka, Shina dan Farah juga kebetulan sedang membuka pintu kamar mereka."Selamat pagi..." Dino menyapa ramah lebih dahulu pada kedua gadis itu.Farah tetap diam, enggan berbicara panjang. Entahlah, tadi malam dia sulit memejamkan mata karena terus teringat kejadian di tepi pantai bersama Hongjoong."Selamat pagi, Dino, Tuan Hongjoong..." jawab Shina dengan riang. Tentu saja mereka harus bersemangat hari ini agar bisa menyalurkan energi untuk memenangkan pertandingan bola voli yang akan segera berlangsung."Kau pasti sulit tidur, kan?" Hongjoong, yang berjalan beriringan dengan Farah menuju ke resort, mulai berbicara pelan."Kenapa pula saya sulit tidur?" tanya Farah dengan nada kesal. Seolah-olah pria itu tahu bahwa tadi malam dia tidak bisa tidur nyenyak."Kalau kau sudah jatuh cinta sama aku, bilang saja. Jangan sampai wajahku membayangi malam-malammu," ujar Hongjoong dengan suara sedikit bera