"Evan, senyum dong. Kamu kayak mau dibawa ke tiang gantungan," ucap mamanya berusaha mencairkan suasana tegang di kamar hotel itu.
Hari ini, Evan harus mengubur semua mimpinya, meninggalkan usaha yang dirintisnya demi memenuhi permintaan orang tuanya untuk terjun ke dalam perusahaan keluarga ayahnya.
"Ma ...." Masih ada waktu, mungkin ia masih bisa meyakinkan mamanya untuk membatalkan permintaan mamanya itu.
"Evan, maafin Mama ya," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kalo aja ayahmu masih muda, Mama nggak akan minta kamu buat ngelakuin yang sebenernya nggak kamu suka. Maafin Mama ya, Van."
Melihat sudut mata mamanya yang sudah basah, tangan Evan langsung menggenggam tangan mamanya. "Nggak apa-apa, Ma. Aku ... coba ngerti. Ini tanggung jawabku sebagai anak sulung."
Evan mencoba tersenyum di depan mamanya, walau hatinya juga hancur.
"Hei, Van! Kamu apain Mama kamu sampe matanya berkaca-kaca?" tanya ayahnya panik begitu keluar dari kamar mandi.
"Posesif," ledek Evan saat melihat kebucinan ayahnya yang tidak kunjung hilang sejak dulu.
"Nggak apa-apa, Mas. Yuk kita keluar, biar Evan punya waktu sendiri sebelum acara."
Ares menggandeng Letta untuk keluar dari kamar hotel.
Malam itu, akan diadakan seremonial pengangkatan beberapa anggota Board of Director (BoD) Cakrawangsa Group yang baru, dan salah satu nama yang mengisi anggota BoD adalah Evan Gale Cakrawangsa, sebagai Direktur Pengembangan Usaha.
Ares menatap Letta dengan sungguh-sungguh. "Kenapa? Evan ngomong apa sampe kamu nangis?"
"Jujur aku sedih, Mas. Maksa Evan ngelakuin apa yang nggak dia suka, tapi ... aktingku meyakinkan kan?" Kini Letta tersenyum pongah karena berhasil mengelabui anak dan suaminya.
"Hah? Kamu akting? Astaga!"
"Kalo nggak gini, Evan nggak akan mau turun ke perusahaan, Mas."
Acara malam itu berlangsung lancar. Evan bahkan memberikan sambutan yang dihadiahi applause meriah dari para tamu undangan.
Ia bukannya tidak terlatih mengelola bisnis. Hanya saja bisnis yang dirintisnya masih seumur batita, dan scope-nya jelas jauh berbeda dibanding bisnis keluarganya yang sudah dipegang keturunan keempat.
"Evan, mulai hari ini Hana bakal jadi asistenmu," ucap ayahnya saat jamuan makan malam usai dan mereka bisa mengobrol ringan.
"Hah? Si golden princess?" tanyanya tidak percaya.
"Evan!" Ares dan Letta bersamaan menegur putranya itu yang dengan tidak sopannya memberikan julukan pada Hana.
Julukan golden princess memang menjadi rahasia umum di keluarganya. Ia dan seorang adiknya, Elaksi, benar-benar membenci Hana yang mendapat perlakuan spesial dari keluarganya.
Dulu ayah Hana adalah sahabat Ares. Saat Ares terpaksa terjun ke perusahaan karena ayahnya tiba-tiba terkena stroke, ayah Hana lah yang membantunya. Di sisi lain, ibunya Hana adalah sekretaris Letta saat menjabat sebagai Direktur Utama PT Mahendra yang kini di-handle keponakannya.
Sayangnya, orang tua Hana tidak berumur panjang, mereka terlibat kecelakaan beruntun di jalan tol, dan meninggalkan Hana untuk hidup sebagai yatim piatu.
"Maksudku, dia kan asisten Ayah. Kenapa tiba-tiba jadi asistenku. Nanti aku bisa cari asisten sendiri, Yah."
Ares menggeleng tegas. "Hana yang jadi asistenmu. Dia salah satu orang kepercayaan Ayah, dan dia udah terjun ke perusahaan lebih dulu dibanding kamu. Pengalaman dia lebih banyak."
"Tapi, Yah—"
Belum sempat Evan mengajukan protes lebih lanjut, seorang wanita dengan one shoulder dress berwarna hitam mendekat ke meja mereka.
"Malam Pak, Bu," ucapnya sopan.
"Hana, kenapa manggilnya formal begitu sih?" tanya Letta sambil menarik Hana agar duduk di sampingnya.
Hana tersenyum. "Kan sedang acara perusahaan, Bu."
Letta berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Evan yang baru saja seperti mendapat musibah karena ucapan ayahnya yang 'memberikan' Hana kepada Evan untuk jadi asistennya, menatap Hana tajam. Andaikan dia superman, kepala Hana pasti sudah bolong tertembus sinar laser dari tatapannya.
"Hana, seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya, mulai detik ini kamu jadi asisten Evan," perintah Ares.
"Iya, Pak," jawaban singkat Hana itu membuat Evan mengangkat satu sudut bibirnya ke atas.
"Udah malem, saya sama istri saya pulang dulu." Ares kemudian meraih tangan istrinya untuk berdiri.
"Yah, aku ikut pulang sekalian lah." Evan—yang merasa tidak terima karena ditinggalkan—refleks ikut berdiri.
"Kamu mesti keliling ballroom buat kenalan sama partner bisnis perusahaan. Nanti biar Hana yang nganter kamu keliling."
"Tapi, Yah—"
"Kenapa? Kamu perlu Ayah temenin keliling? Come on, Van, kamu udah dewasa kan."
Titah ayahnya itu mengakhiri rasa keberatan Evan. Ia tidak ingin lagi mendengar ledekan ayahnya, apalagi diucapkan di depan si golden princess.
"Hana, tolong ya temenin Evan,” ucap Letta yang akhirnya membuat Evan menahan geraman kesalnya.
Usai kepergian Ares dan Letta, di meja itu hanya tersisa Evan yang kini tengah menatap intens ke arah Hana yang seperti tidak terganggu dengan tatapan Evan.
"Mari, Pak," ajak Hana yang mulai tidak betah menghadapi keterdiaman di antara mereka.
Tanpa menjawab ajakan Hana, Evan langsung bediri dan berjalan menuju meja lain. Hana mengikuti Evan dengan posisi sedekat mungkin untuk memberikan informasi kepada Evan siapa yang akan ditemuinya.
"Selamat malam, Pak Heru," sapa Hana ramah pada seorang lelaki yang ditemuinya.
"Malam, Hana. Pak Ares?" tanya Heru tidak kalah ramahnya.
"Pak Ares baru saja pulang, Pak. Sebagai gantinya, ada Pak Evan, Pak." Hana memang terlihat santai dan cukup luwes menghadapi orang-orang yang sepertinya sudah mengenalnya.
Evan memperkenalkan diri dan mencoba masuk ke dalam obrolan yang diciptakan lelaki yang ada di depannya.
Tidak hanya berhenti di situ, Evan mengikuti ke mana Hana melangkah. Ada sedikit harga dirinya yang terluka saat menyadari Hana lah yang mengarahkan ke mana langkahnya dan pada siapa dia harus bertemu terlebih dulu.
Bukankah lengkap penderitaannya, harus terjun ke dalam perusahaan keluarga yang sebenarnya tidak ia inginkan, ditambah mendapat asisten yang cukup mendominasi dan membuatnya tampak tidak kompeten.
"Pak, Pak Evan bener-bener mau minum wine?" tanya Hana. Pasalnya ia tahu keluarga Cakrawangsa bukan keluarga yang familiar dengan alkohol. Ia bahkan belum pernah melihat sama sekali atasannya terdahulu, yang juga adalah Ayah dari Evan, meminum alkohol.
"Kenapa? Apa ini job desc-mu juga untuk menentukan apa yang boleh saya makan dan minum?" Evan menatap Hana dengan angkuh dan kembali menyesap wine yang ada di tangannya. "Minum!" perintah Evan yang telah mengangsurkan segelas wine ke arah Hana.
Hana terbelalak kaget dengan apa yang diperintahkan Evan. "Saya nggak minum, Pak."
"Hana." Evan terdiam setelah memanggil nama asisten barunya itu. "Saya yakin kamu pernah minum sekali dua kali sama orang-orang yang tadi kita temui. Nggak mungkin kamu bisa seakrab itu sama mereka kalau cuma berurusan sama kerjaan."
"Maksud Pak Evan apa?" tanya Hana yang kini balas menatap Evan dengan nyalang.
Evan tersenyum sinis. "Minum lah! Kalau perlu nanti saya tambahin di job desc-mu untuk nemenin saya minum," ucapnya tiba-tiba.
Hana mengernyit bingung. Apakah tiga gelas wine yang diminum Evan tadi telah membuat Evan teler sampai mengucapkan hal yang tidak-tidak? Dengan ragu, Hana meraih gelas yang disodorkan Evan. Seumur hidupnya, ia hanya sekali mencoba minuman sejenis itu, saat masih kuliah, itu pun karena teman-temannya mengusilinya. Kalau boleh jujur, ia tidak suka dengan rasanya, apalagi efek yang ditimbulkan setelahnya. Satu gelas di depannya itu, pasti sanggup membuatnya pusing.
"Minum!" desak Evan lagi.
***
Hana bersandar pada kaca jendela mobil, kepalanya saat ini terasa pengar. Sementara di sebelahnya, Evan terlihat lebih kacau. Untung saja ada supir keluarga yang memang menunggu Evan sampai acara selesai dan bisa mengantar mereka.
"Mbak Hana, ini ke rumah Menteng atau nganter Mbak Hana dulu ke apartemen?" tanya supir yang sesekali melirik melalui rear view mirror.
"Ke rumah Menteng aja, Pak," jawab Hana. Hana punya sebuah kamar di kediaman Ares. Itu kamarnya sejak kecil dan tetap dirawat oleh ART di sana agar ia bisa istirahat jika tidak kuat untuk pulang ke apartemen.
Hana menghela napas, bagaimana ia bertanggung jawab pada orang tua Evan? Ini tugas pertamanya sebagai asisten Evan, dan kini ia mengantar Evan dalam kondisi teler.
"Pak, bantuin nganter Evan ke kamar dulu ya." Karena mereka sudah tiba di kediaman keluarga Ares, Hana bisa menanggalkan panggilan 'Pak' dari Evan. Meskipun saat ini kondisinya sendiri tidak bisa dibilang normal, Hana masih bisa berdiri untuk menopang Evan dari sebelah kanan, sementara supir keluarganya menopang Evan dari sisi kiri.
The worst case adalah posisi kamar Evan yang ada di rumah belakang. Rumah itu terdiri dari dua bangunan utama yang dipisahkan kolam renang di tengahnya. Rumah bagian depan ditempati orang tua dan adik Evan yang paling kecil, dan rumah bagian belakang ditempati Evan, adik pertamanya, dan Hana—kalau sesekali ia harus menemani lembur Ares.
Hana menghela napas berat setelah berhasil mendorong Evan ke dalam kamarnya.
"Makasih ya, Pak," ucap Hana sebelum supir itu berlalu.
Sambil memijat pelipisnya yang terasa berkedut, Hana berbalik badan, berniat meninggalkan Evan. Baru ia melangkahkan kakinya, tangan kanannya terasa ditarik.
"Apa menemaniku tidur nggak ada dalam job desc-mu?"
"Evan!" Hana menatap Evan yang bersandar pada dinding, berusaha untuk berdiri tegap walaupun kesulitan."Panggil ... aku 'Pak'!" ucap Evan dengan nada yang menyiratkan kalau dia sudah benar-benar mabuk."Kita udah di rumah, Van. Aku nggak perlu manggil kamu 'Pak'. Oh please, Van. Aku juga pusing banget gara-gara kamu paksa minum."Evan terkekeh, kemudian menatap Hana tanpa berkedip. "Bohong!""Aku mau balik ke kamarku," ucap Hana tegas. Kepalanya semakin berdenyut dan matanya hampir menutup karena kantuknya tidak tertahan lagi. Hana lantas melangkah, mengabaikan Evan dengan segala ucapannya yang mulai tidak masuk akal.Tapi lagi-lagi Evan menariknya, kali ini hingga ke arah kasur dan mendorong Hana dengan cukup keras.Hana menggeram kesal. Namun sepertinya Evan tidak memperhatikannya."Kamu asistenku," ucapnya sambil menyeringai dan menahan tangan Hana.Meskipun Evan sedang mabuk, tapi tenaganya nyatanya masih bisa untuk mendorong dan menahan Hana dengan posisi mengungkungnya di atas
Letta mematung di depan pintu, sebelum akhirnya berhasil menguasai diri dan berjalan ke arah kasur untuk menyeret anaknya agar bangun. Sementara Hana yang kini telah berdiri dengan hanya mengenakan kemeja Evan, menambah pemandangan yang membuat Letta menghela napas."Evan!" Letta memukul betis Evan yang sedang tengkurap, berkali-kali, karena hanya itu area yang bisa dijangkau Letta.Meskipun Evan sering berolah raga, terutama pergi ke gym, hingga otot-ototnya tidak perlu diragukan lagi bagaimana liatnya, pukulan mamanya yang merupakan pemegang sabuk hitam tae kwon do dan mantan atlet tae kwon do saat SMA tidak perlu ditanya lagi kekuatannya.Evan langsung berteriak pada pukulan kedua, dan masih terus berteriak karena mamanya belum berhenti memukulnya. Pada akhrinya, entah di pukulan yang ke berapa, Evan tidak kuat lagi dan bangkit dari posisinya. Ia berdiri di atas kasur mengambil jarak sejauh mungkin dari mamanya."Mama kenapa sih?" tanya Evan bersungut. Tidak biasanya mamanya memban
"Kak, ngerasa aneh nggak sih sama suasana makan tadi?" tanya Elga yang mengekori Elaksi menuju kamarnya usai sarapan."Aneh gimana?" Elaksi memang paling cuek di antara tiga bersaudara itu, karenanya ia tidak memperhatikan hal-hal detail seperti adiknya, Elga yang berbeda delapan tahun darinya itu."Mama sama Ayah kayak kelihatan tegang gitu. Trus Mas Evan kayak ketakutan gitu, nunduk terus. Apa Mas Evan ngelakuin kesalahan ya, Kak?""Ya ampun, El. Mas Evan udah sedewasa itu, bukan anak sekolahan lagi yang ketahuan nilainya jelek atau cabut dari sekolah. Kesalahan apa yang bisa bikin dia ketakutan kayak asumsimu? Tidur sama cewek?""Hush! Kakak ah. Ngomongnya itu loh."Elaksi terbahak melihat adiknya yang bergidik ngeri sambil merebahkan diri di kasurnya.Di keluarga Cakrawangsa, tidak mengenal istilah seks sebelum menikah. Ares dan Letta selalu mengajarkan kepada mereka untuk tidak melakukannya sebelum menikah. Ares tahu hal itu sulit, di zaman sekarang yang serba bebas, apalagi jik
"Kenapa kamu masih di kamarku?" tanya Hana yang mendapati Evan masih berada di dalam kamarnya."Ini gudang," balas Evan. "Mama bilang apa?"Hana terdiam, ia masih mengingat bagaimana raut wajah mama Evan saat memintanya menikah dengan Evan. Wanita itu bahkan memohon kepadanya, bukan hanya sekadar meminta.Kecelakaan yang dialami orang tuanya saat ia masih duduk di bangku kelas 2 SD membuatnya benar-benar terpuruk. Menjadi seorang anak yatim piatu tidak pernah ada dalam bayangannya. Sejak itu, Hana tinggal dengan kakek dari pihak ibunya, namun sekitar dua tahun kemudian, kakeknya juga meninggal karena sakit. Ia tidak bisa tinggal di keluarga ayahnya, karena ayahnya hanya punya saudara jauh, tidak ada keluarga inti yang bisa merawat Hana.Sejak itu, Ares dan Letta merawat Hana layaknya anak sendiri. Tidak pernah sekali pun Ares dan Letta membedakan perlakuan mereka terhadap anak kandung mereka dan Hana.Karena itu lah, Hana menyayangi dan menghormati Ares dan Letta layaknya orang tua se
"Selamat pagi, Pak," ucap Hana sambil menunduk singkat saat melihat Evan melewati mejanya untuk masuk ke dalam ruangan.Evan tidak menjawab sapaan Hana, bahkan melemparkan senyuman pun tidak.Hana mengoceh tanpa suara melihat kelakuan Evan padanya."Mbak Hana kenapa?" tanya seorang cleaning service yang bertugas membersihkan lantai itu saat melihat mulut Hana komat-kamit.Hana mencebik kesal. "Tuh, bos songong," jawabnya singkat."Oh, bos yang baru ya, Mbak? Anaknya Pak Ares? Masa sih songong, Mbak? Pak Ares baik banget loh.""Nggak semua buah jatuh deket pohonnya, Mbak. Kali aja buahnya sebelum jatuh ke tanah udah kesundul sama jerapah, trus nggelundung jauh," jawab Hana asal.Cleaning service bernama Tina itu terbahak mendengar gerutuan Hana di pagi hari. "Tapi ganteng, Mbak. Wajar songong.""Ih." Hana makin berdecak kesal mendengar pujian Tina terhadap Evan. "Teori dari mana itu?"Mengabaikan Tina yang masih mengelap dispenser sambil terkekeh, Hana memilih mengetuk pintu ruangan Ev
"Mana bahan buat meeting siang ini?" tanya Evan sedikit berteriak kesal pada Hana yang baru masuk ke dalam ruangannya."Kan sudah saya email, Pak," jawab Hana juga tak kalah kesalnya."Saya mau print out-nya," desak Evan.Hana mengernyit, tapi kemudian menurut pada Evan. "Sebentar, Pak," ucap Hana sambil menahan geraman kesalnya. Ia keluar ruangan Evan dan kembali tak lama kemudian. "Jadi, mulai sekarang Pak Evan maunya bentuk print out, bukan softcopy via email?" tanya Hana memastikan."Ya terserah saya mau bentuknya apa," jawab evan dingin.Ingin rasanya Hana mencekik laki-laki di depannya ini. Padahal dulu saat menjadi asisten Direktur Utama, pekerjaannya tidak seruwet ini. Hey, Evan hanya Direktur Pengembangan Usaha dan tingkahnya melebihi Komisaris Utama."Baik, Pak. Lain kali saya tanyakan dulu ke Pak Evan. Maaf, soalnya saya baru tahu kalau untuk bahan meeting pun harus mengikuti mood Pak Evan yang naik turun." Hana lantas pergi begitu saja setelah menyentil ego Evan.Evan mend
"Han, ke ruangan saya!" perintah Evan melalui sambungan internal.Beberapa detik kemudian, Hana telah berdiri di hadapan Evan. "Ada apa, Pak?"Evan menelaah reaksi Hana. Apakah Hana masih marah padanya karena kejadian malam sebelumnya? Tapi rasa-rasanya ia tidak menemukan perbedaan berarti dari ekspresi Hana padanya. Tetap dingin."Saya nggak suka warna background power point yang kamu siapkan buat presentasi."Seriously? Warna background power point? Ingin rasanya Hana mengumpat. Hana selalu menggunakan warna netral dalam setiap presentasi yang ia siapkan, jadi ia harus mengganti dengan warna apa? Pink?"Pak Evan mau warna apa?""Terserah kamu. Pokoknya jangan ini.""Kalau terserah saya, mungkin saya akan ganti warna biru ini jadi pink atau merah darah. Pak Evan mau?"Evan mendesis kesal. Kenapa wanita di depannya itu selalu bisa membantahnya. Dan itu adalah hal yang paling dibencinya. "Ah udah lah. Nggak jadi.""Lah, labil!" gumam Hana yang ternyata didengar Evan."Kamu bilang apa b
Hana mengerjapkan matanya perlahan. Setelah matanya membuka sempurna, barulah Hana mengernyit bingung, pemandangan yang ada di depan matanya bukanlah dinding dan plafon kamarnya. Saat ia akan menggerakkan tangannya, sesuatu terasa menahan tangannya. Hana menoleh dan mendapati Azka yang tertidur di kursi yang ada di sebelah kasurnya sambil menggenggam tangannya."Udah bangun?" tanya Azka saat merasakan gerakan tangan Hana yang digenggamnya."Hmm ...." Hana hanya menjawabnya dengan gumaman. Kemudian ia teringat sesuatu. "Tante Rimbi nggak tau kan kalo aku masuk rumah sakit? Tante Letta? Om Ares?""Kamu beruntung, mama papaku, Tante Letta sama Om Ares, semua lagi ke Jogja ke tempat Mbah, coba kalo mereka di sini, udah penuh ini kamar."Hana terkekeh dan berusaha untuk mengubah posisinya."Kamu butuh sesuatu? Aku panggiling dokter ya?"Hana menggeleng. Dari jam dinding yang ada di kamar itu, ia tahu kalau waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan pastinya psikiaternya sudah tidak b
"Lucu banget siiih." Vio yang menggendong sesosok bayi kecil tidak bisa mengalihkan matanya dari bayi yang belum bisa membuka mata itu. "Boleh bawa pulang satu nggak? Kan masih ada satunya lagi.""Kalo dia laper, lo mau nyusuin?" Hana mendelik ke arah Vio."Ck! Lucu banget tau, Han." Vio dengan gemasnya mengecupi pipi bayi merah itu."Udah pengen ya?" tanya Hana menggoda Vio yang agak terlihat kaku menggendong bayi di tangannya.Vio mengedikkan bahu sebagai jawabannya.Saat keduanya tengah bermain-main dengan bayi kembar itu, Evan dan Azka masuk ke dalam kamar rawat dengan dua tote bag yang berlogokan salah satu minimarket. Hana memang meminta pada suaminya untuk dibelikan cemilan karena makanan dari rumah sakit hanya mampu mengganjal setengah ruangan di perutnya."Van, si twin siapa sih namanya? Astaga, udah setengah jam aku nanya ke Hana, katanya kamu yang bakal ngasih tau karena kamu ngelarang dia ngasih tau. Apaan coba?"Evan tersenyum pongah. Ia memang melarang Hana memberitahukan
Hana mengusap peluh yang mulai terasa di dahinya. Ia berusaha menahan rasa sakit yang mulai menyergapnya. Evan masih tertidur pulas di sebelahnya.Setelah mengatur napasnya beberapa saat dan sakit di perutnya tidak kunjung mereda, tangan Hana terpaksa menggapai suaminya untuk membangunkannya."Maaas.""Hmm?" Evan mendengar panggilan istrinya tapi matanya masih enggan untuk membuka."Mas, perutku mules."Barulah setelah mendengar itu, mata Evan membuka sempurna. "Kontraksi?"Hana hanya bisa kembali mengatur napasnya. Ini yang pertama untuknya, bagaimana ia bisa membedakan itu kontraksi palsu atau kontraksi yang sebenarnya."Aku bangunin Mama dulu ya."Sejak satu bulan sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL), semua anggota keluarga Evan sudah menginap di rumah Evan, mama papanya, termasuk Elga dan Elaksi. Euforia dan khawatir yang berlebihan adalah penyebabnya. Tapi Evan juga tidak memungkiri kalau ia membutuhkan kehadiran mamanya yang sudah berpengalaman menghadapi proses persalinan."Masih
"Permisi, Pak." Ribka melongokkan kepala ke ruang atasannya setelah mendengar sahutan dari Evan yang mempersilakannya masuk."Kenapa, Rib?""Hana?"Evan hanya menunjuk dengan dagu posisi Hana yang sedang tidur di sofanya. Sejak kehamilan Hana, Evan sengaja mengganti set sofa di ruangannya dengan yang lebih besar agar Hana bisa tidur dengan nyaman.Apalagi kini kehamilan Hana menginjak tujuh bulan. Dengan perut sudah sebesar itu, sebenarnya Evan tidak tega membiarkan Hana masih bekerja, walau setengah hari kerja Hana hanya dihabiskan untuk tidur. Tapi ke-clingy-an Hana belum juga berkurang hingga Evan tidak mungkin membiarkannya di rumah sendiri."Kenapa nyari Hana?""Ada proposal yang nunggu approval Pak Evan. Dan belum di-review Hana. Tadi tim pengembangan 2 udah nanya hasilnya, Pak.""Langsung kirim ke saya aja, Rib. Biar saya periksa.""Nggak lewat Hana nggak apa-apa, Pak?""Lihat sendiri dia teler begitu." Evan terkekeh melihat Hana yang tertidur dengan nyaman tanpa merasa tergang
"Maaas, meluknya jangan kenceng-kenceng. Nanti dedeknya kegencet."Evan merenggangkan pelukannya meskipun rasanya masih belum rela."Gemes abisnya. Kamu jadi lebih enak dipeluk."Hana mendelik kesal. Pasti ada yang tersirat di balik ucapan suaminya itu. "Maksudnya aku gendutan? Jadinya empuk untuk dipeluk?""Ya ampun, jangan sensitif gitu dong, Han. Nanti kalo kamu kesel, baby-nya ikut kesel sama ayahnya gimana?"Hana mengerucutkan bibir karena kesal, tapi justru ditanggapi Evan sebagai kode untuk mencium bibir istrinya itu, yang semenjak kehamilannya sama sekali tidak pernah terpoles lipstik."Ya orang hamil memang gendutan, Sayang. Kalo nggak gendutan gimana lah, mesti kita periksain lagi ke dokter, apalagi kamu bawa dua baby di perut," ucap Evan setelah puas mengeksplorasi kelembutan bibir istrinya."Mas nggak akan ninggalin aku meskipun aku gendut kan?" tanya Hana tiba-tiba."Kok kamu jadi clingy banget sih sejak hamil?" tanya Evan sampai hampir terbahak. Tidak pernah terbayangkan
"Mbak Hana mikir apa?" tanya Bi Lastri yang memperhatikan Hana melamun sambil mengaduk lemon tea yang baru saja dibuatnya. "Jangan banyak pikiran, Mbak. Kasihan yang di perut."Hana tersenyum melihat kekhawatiran Bi Lastri padanya. Pasti mama mertuanya sudah mewanti-wanti ART di rumahnya untuk memperhatikannya.Ia memang sedang berpikir, tapi bukan masalahnya yang sedang menguasai pikirannya. Hari sebelumnya ia sempat mengobrol dengan Vio, dan curahan hati Vio tentang hubungannya benar-benar membuat Hana memutar otaknya.Dan inilah saatnya ia mencoba melakukan sesuatu untuk membantu hubungan sahabatnya."Bibi, minta tolong bawain minum sama cemilannya ke ruang tengah ya," ucap Hana, kemudian berlalu menyusul suaminya dan sepupu iparnya yang sedang mengobrol di ruang tengah."Mas, Arfindo udah punya cewek belum sih?" Kalimat pertanyaan pertama yang disampaikan Hana begitu menginjakkan kaki di ruang tengah membuat Evan mengernyitkan dahi."Ngapain nanyain Arfindo?"'Evan dan cemburunya.
"Jadi Evan nerima lo lagi?"Sudah beberapa minggu sejak keluarga Evan akhirnya tahu apa yang dilakukan Hana untuk menyelamatkan perusahaan. Hana sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Evan yang disangka Vio tidak akan terjadi.Hana mengedikkan bahu, karena dia sendiri juga bingung dengan apa yang diinginkan Evan. "Lo sama Kak Azka gimana?""Loh kok jadi ngomongin gue?""Ayolah Vi, gue butuh hiburan kisah cinta orang lain daripada kisah cinta gue.""Nggak ada apa-apa, Han. Jadi nggak ada yang perlu gue ceritain.""Hah? Serius? Waaah, Kak Azka mesti didorong nih."Hana meraih ponselnya dari dalam tas kemudian sibuk mengirim pesan pada Azka, sementara Vio menatap makan siang di depannya dengan malas padahal dia yang sejak pagi mendesak Hana untuk menemaninya makan siang di salah satu restoran kesukaannya.Keduanya larut dalam obrolan sampai Hana tidak sadar kalau makanannya sudah habis sementara makanan Vio bisa dibilang masih utuh."Makan yang bener, Vi.""Lo kayak nggak pernah
"See? Dia udah nggak ada perlu lagi, makanya nggak ngehubungin." Vio menatap ponselnya dengan kesal. "Emang dia nggak ada rasa. Sadar dong, Vio!" Vio berusaha meyakinkan diri sendiri kalau perasaannya tak berbalas.'Telepon duluan aja!' Entah sisi hatinya yang mana yang sedang berbisik."Dih, nggak ada ceritanya seorang Vio ngehubungin laki-laki duluan." Sambil menggeram kesal, Vio menjauhkan ponselnya, kemudian mencoba larut dalam berkas gugatan yang baru saja dikirimkan stafnya melalui e-mail.Sepanjang hari Vio berusaha menyibukkan diri sendiri, dan jika mode Vio yang seperti ini sedang kumat, maka yang menjadi buklan-bulanannya adalah para staf dan junior pengacara di law firm itu. Vio bisa saja bekerja seakan besok hari kiamat, dan hari itu juga semua berkas perkara atau pledoi yang sedang mereka siapkan harus selesai."Kenapa sih Mbak Vio?" bisik Indri pada Laras."Putus cinta kali, kayak biasanya. Masih kaku aja, tau sendiri kita rutin ngalamin hal ini beberapa bulan sekali.""
Vio mengerjap pelan, diiringi dengan suara terkikik pelan dari resepsionis yang mendengarkan ucapan Azka yang hanya berjarak tidak lebih lima meter darinya."Hmm ... Mas, bukannya aku sok sibuk. Tapi aku ngecek jadwalku dulu ya—"'Dan kesiapanku.' batin Vio. Andai ia bisa mengutarakannya. Tapi tidak lama kemudian ia sadar kalau Azka dan mamanya berurusan dengannya hanya demi Hana, tidak ada niat lain. Ia hampir tertawa kalau tidak ingat Azka masih berada di depannya."Ya udah, jangan dipaksain kalo gitu, nanti aku whatsapp lagi ya, kamu bisa atau nggak-nya."Vio mengangguk mengiakan. Sebenarnya ia lebih senang ditelepon, paling tidak ia bisa mendengar suara berat Azka, tapi tidak mungkin diungkapkannya kan."Aku ... berangkat kerja dulu ya."Kali ini suara terkikik Achi semakin keras dan baru berhenti setelah Vio memelototinya."Mbak Vio kayak lagi main rumah-rumahan deh."Kalau saja wanita itu tidak lebih tua dari Vio, mungkin Vio akan memarahinya habis-habisan. "Main rumah-rumahan?
"Ma, Pa, aku nggak sarapan di rumah ya." Azka bergegas merapikan barangnya ke dalam tas ransel sambil berpamitan pada kedua orang tuanya yang sedang duduk menyantap sarapan."Ke mana, Ka? Pagi banget?""Jemput Vio, Ma. Semalem dia kuanter pulang, pagi ini dia naik apa kalo mobilnya di kantor?"Rimbi terbengong mendengar jawaban Azka. Sementara Ferdi menahan tawanya."Demi dapet alamat Hana. Pergi dulu Ma, Pa." Azka mencium tangan kedua orang tuanya lantas berlalu pergi.Setelah Azka hilang dari pandangan mereka, barulah Ferdi berani meledakkan tawanya. "Udah, kamu aja yang turun tangan. Nungguin hasil dari Azka pasti lama.""Emangnya Azka ...?" Rimbi menatap suaminya dengan bingung."Kali ini Azka dapet lawan yang sepadan, kayaknya kamu yang mesti turun tangan."***Azka melajukan mobilnya ke sebuah perumahan elit. Jelas Azka tahu di mana Vio tinggal karena sudah beberapa kali mengantar Hana ke rumah itu, dan malam sebelumnya pun ia mengantar Vio sampai depan gerbang rumahnya. Akan te