Share

7 Hari Spesial Bagi Hana

Penulis: Ans18
last update Terakhir Diperbarui: 2024-11-26 17:33:06

"Mana bahan buat meeting siang ini?" tanya Evan sedikit berteriak kesal pada Hana yang baru masuk ke dalam ruangannya.

"Kan sudah saya email, Pak," jawab Hana juga tak kalah kesalnya.

"Saya mau print out-nya," desak Evan.

Hana mengernyit, tapi kemudian menurut pada Evan. "Sebentar, Pak," ucap Hana sambil menahan geraman kesalnya. Ia keluar ruangan Evan dan kembali tak lama kemudian. "Jadi, mulai sekarang Pak Evan maunya bentuk print out, bukan softcopy via email?" tanya Hana memastikan.

"Ya terserah saya mau bentuknya apa," jawab evan dingin.

Ingin rasanya Hana mencekik laki-laki di depannya ini. Padahal dulu saat menjadi asisten Direktur Utama, pekerjaannya tidak seruwet ini. Hey, Evan hanya Direktur Pengembangan Usaha dan tingkahnya melebihi Komisaris Utama.

"Baik, Pak. Lain kali saya tanyakan dulu ke Pak Evan. Maaf, soalnya saya baru tahu kalau untuk bahan meeting pun harus mengikuti mood Pak Evan yang naik turun." Hana lantas pergi begitu saja setelah menyentil ego Evan.

Evan mendengkus kesal. "Sialan! Dia ngatain gue moody!" umpatnya setelah Hana meninggalkan ruangannya.

Evan meletakkan kembali print out yang diberikan Hana karena memang sebenarnya dia sudah membaca bahan meeting dengan Direktur Strategi Pemasaran via email yang dikirimkan Hana, ia hanya ingin mengerjai Hana saja.

Setengah jam kemudian, Hana mengetuk kembali ruangan Evan dan mengingatkannya untuk segera bersiap karena Direktur Strategi Pemasaran pun sudah menuju ruang rapat.

Evan dengan langkah lebarnya berjalan di depan, dengan Hana yang mengekorinya beberapa langkah di belakang. Begini lah posisi yang seharusnya menurut Evan. Seorang bawahan harusnya berdiri beberapa langkah di belakang atasan.

Indra, Direktur Strategi Pemasaran tiba hampir bersamaan dengan Evan. Evan yang sudah pernah bertemu dengan lelaki paruh baya itu menjabat tangannya sebelum mengambil posisi duduk. Yang tidak disangkanya, Indra menyempatkan untuk berbasa-basi dengan Hana. Evan bisa melihat ada rasa tidak nyaman dari Hana tapi wanita itu bisa menguasai keadaan dengan baik, tanpa membuat Indra marah atau merasa canggung.

Meeting yang berlangsung sekitar dua jam itu membuat Evan sedikit pusing dan ingin segera kembali ke dalam ruangannya. Sebelum ia beranjak, Evan masih sempat mendengar Indra mengatakan sesuatu pada Hana.

"Han, nanti kalau ada yang perlu diklarifikasi dari divisi saya, langsung kontak saya ya."

Hana tersenyum tipis lalu menjawab, "Nanti saya kontak Mbak Sita, Pak. Kan nggak mungkin saya ganggu kesibukan Pak Indra."

Indra kemudian terkekeh karena lagi-lagi mendapat penolakan secara halus dari Hana.

‘Murahan’.

Itu yang dipikirkan Evan saat melihat Hana masih bisa melemparkan senyumnya pada pria paruh baya yang seumuran ayahnya dan jelas-jelas sejak tadi menggodanya.

Hana melirik jam tangannya yang sudah menunjuk pukul empat sore. Sudah saatnya pulang, tapi Evan belum juga keluar dari ruangannya. Hana menimbang-nimbang apakah dirinya perlu izin terlebih dulu atau tidak. Apakah izin pulang masuk kriteria yang bagi Evan menjadi alasan pembenaran untuk Hana mengetuk ruangan Evan?

Tapi Hana juga yakin Evan akan mengamuk kalau ia tidak menemukan Hana stand by di tempatnya saat ia membutuhkan sesuatu.

Setelah menghela napas beberapa kali, dengan keengganan maksimal, Hana akhirnya memutuskan untuk mengetuk pintu ruang kerja Evan.

"Saya izin pulang ya, Pak, udah jam empat," ucap Hana.

Tanpa mendongak dari layar komputernya, Evan berdecak kasar. "Asisten mana yang pulang duluan sementara atasannya masih berkutat dengan kerjaan?"

"Hari ini saja, Pak. Saya minta izin pulang lebih dulu dari Pak Evan. Saya ada acara."

"Sama siapa?" tanya Evan yang kini menatap Hana dengan penasaran. "Sama Direktur Wasesa Group? Atau Direktur Strategi Pemasaran Cakrawangsa? Wah, kamu pasti sombong ya, bisa deket sama orang-orang penting."

Mendengar ucapan Evan yang kentara sekali menyiratkan ejekan, membuat Hana mengepalkan tangannya. "Van, aku bener-bener harus pulang cepet."

"Ini di kantor, bukannya kita udah sepakat, kita harus menghormati jabatan masing-masing. Rasanya nggak enak kamu manggil saya hanya dengan nama."

Hana mencoba mengatur deru napasnya yang sudah mulai tidak teratur. Ingin rasanya ia menarik kerah baju lelaki di hadapannya itu dan menamparnya dengan keras.

"Saya masih baru di sini, masih banyak yang perlu saya pelajari. Kamu harus stand by."

Tanpa menjawab ucapan Evan, Hana berlalu dan membanting pintu ruangan Evan dengan cukup kencang. Ia harus menemukan tempat lain di mana tidak ada orang yang melihatnya, saat ini sudut matanya telah basah, air matanya hampir tumpah, dan ia tidak ingin seorang pun melihatnya, terutama Evan.

Hana masuk ke dalam bilik kamar mandi. Untung saja sebagian besar pegawai sudah pulang, jadi ia bisa sedikit berlama-lama di dalam bilik kamar mandi itu untuk menuntaskan tangisnya.

Ia tidak akan memohon pada Evan seandainya hari itu bukan hari spesial untuknya.

Belasan tahun ia merayakan hari spesial itu seorang diri dan kini ia terpaksa melewatkan hari spesial itu.

"Selamat hari lahir, Ma. Maaf hari ini Hana nggak bisa masakin makanan kesukaan Mama," ucapnya lagi sambil menahan tangis.

Setiap tahunnya Hana selalu melewatkan dua hari terpenting di hidupnya untuk melakukan hal-hal yang disukai ayah dan mamanya. Pertama, hari lahir mamanya, dan kedua, hari lahir ayahnya. Di dua hari spesial itu, Hana akan masak makanan kesukaan ayah dan mamanya, kemudian melihat-lihat lagi album foto keluarganya beserta video-video yang direkam ayahnya semasa hidup.

Hana kembali ke mejanya setelah berhasil menghilangkan jejak-jejak tangisnya. Beberapa pegawai yang hendak pulang menyapanya saat melihat Hana masih berkutat di depan komputer.

Hana mendengkus kesal, setelah berjam-jam ia duduk di kursinya, tidak sekali pun Evan memanggilnya. Lalu untuk apa dia duduk di sana dan melewatkan hari lahir mamanya.

***

"Azka, anterin ini ke apartemen Hana!" perintah Rimbi pada anaknya.

Rimbi, yang merupakan kakak dari Letta—mama Evan—dan juga sahabat dari almarhumah Shanti—almarhumah mama Hana—tahu pasti kalau Hana akan menyendiri di apartemennya seperti biasanya. Kalau ada segelintir orang yang masih mengingat hari lahir Shanti, itu adalah Rimbi dan Letta.

Azka tiba-tiba teringat hari lahir almarhumah mama dari Hana setelah mamanya menyerahkan paper bag yang berisi satu kotak saus  daging lada hitam dan dua toples nastar untuk diberikan pada Hana. "Hari lahir Tante Shanti ya, Ma?"

Rimbi mengangguk.

"Ya udah, aku anterin dulu," Azka kemudian pamit pada mamanya dan segera melajukan mobilnya menuju apartemen di kawasan Kuningan.

Saat Azka tiba di parkiran apartemen Hana, waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Azka yakin Hana sudah berada di apartemennya, karena itu Azka langsung turun dari mobil dan menunggu Hana di lobby sembari ia mencoba menelepon Hana.

"Halo, Ka," sapa Hana saat menyadari siapa yang meneleponnya.

"Turun gih Han, aku di lobby, Mama nyuruh aku nganterin sesuatu buat kamu."

"Lobby? Lobby apartemen?"

"Iya lah, lobby mana lagi?" Azka tergelak mendengar suara bingung dari Hana.

"Tapi aku masih di kantor, Ka. Kamu titipin aja ke penjaga di bawah ya."

"Hah? Kamu masih di kantor? Kamu nggak lupa hari ini hari apa kan?"

Terdengar helaan napas dari Hana. "Nggak, Ka. Lagi ada kerjaan aja," jawab Hana lirih.

"Ok, kalo gitu. Aku jemput kamu ke kantor." Setelah mengucapkannya, Azka langsung menutup teleponnya dan kembali menuju mobil dengan membawa tentengan dari mamanya. Ia agak yakin kalau Evan yang menahan hana di kantor hingga malam. Ia tahu bagaimana tabiat adik sepupunya. Karena itu, ia menghubungi orang lain untuk meminta bantuan.

"Halo, Tante."

"Kenapa, Ka?"

"Tante, Tante Letta inget kan hari ini hari apa? Tapi Hana masih ada di kantor, Tante."

"Hah? Hana masih di kantor? Evan memang belum pulang juga sih. Ya udah tante telepon Evan dulu biar nyuruh Hana pulang."

"Makasih ya, Tan. Ini aku lagi dalam perjalanan ke kantor Om Ares buat jemput Hana."

"Iya, iya, tante pastiin begitu kamu nyampe sana, Hana udah ada di lobby kantor."

***

Dering ponsel Evan membuat lelaki itu menghentikan apa yang dikerjakannya. "Iya, Ma? Aku masih di kantor."

"Mama tau. Suruh Hana pulang sekarang!" perintah Letta dengan nada dingin.

"Mama gimana sih, mana ada asisten pulang sebelum bosnya," jawab Evan sambil terkekeh.

"Evan! Hari ini hari lahir mamanya Hana. Yang dipunya Hana cuma kenangan sama mamanya. Mama nggak mau tau, kamu suruh Hana pulang sekarang juga!"

Evan terdiam setelah mendengar kata-kata mamanya, pantas saja tadi Hana membanting pintu saat ia tidak mengizinkannya pulang. Ia lantas merapikan barang-barangnya dan berniat pulang sekaligus menyuruh Hana pulang.

Saat keluar dari ruangannya, Evan menemukan Hana yang termenung di depan komputernya. "Han, kamu boleh pulang," ucapnya kemudian berlalu menuju lift.

Dalam beberapa detik saja, setelah mendengar ucapan Evan, Hana sudah berlari menuju lift dan beruntung, Evan masih menahan lift khusus VIP itu untuk Hana.

Tidak ada kata yang mampu diucapkan Hana, bahkan untuk sekadar berterima kasih, hatinya masih terlalu kesal dengan Evan, jadi ia memiliih diam.

"Mau kuanter?" tanya Evan.

"Nggak, makasih. Azka jemput aku," jawab Hana.

"Kamu mau ngapain memangnya?" tanya Evan penasaran. Apa yang harus dirayakan di hari lahir seseorang yang sudah tenang di alam lain?

"Harusnya aku bisa masakin makanan kesukaan mama, trus ngelihat album foto keluargaku, nonton video yang direkam ayahku. Aku cuma takut lupa sama orang tuaku. Kamu nggak tau rasanya takut ngelupain orang yang kamu sayang. Gara-gara kamu aku ngelewatin salah satu hari spesial dalam hidupku." Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, pintu lift terbuka dan Hana berlari menuju Azka yang sedang menunggunya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   8 Labil

    "Han, ke ruangan saya!" perintah Evan melalui sambungan internal.Beberapa detik kemudian, Hana telah berdiri di hadapan Evan. "Ada apa, Pak?"Evan menelaah reaksi Hana. Apakah Hana masih marah padanya karena kejadian malam sebelumnya? Tapi rasa-rasanya ia tidak menemukan perbedaan berarti dari ekspresi Hana padanya. Tetap dingin."Saya nggak suka warna background power point yang kamu siapkan buat presentasi."Seriously? Warna background power point? Ingin rasanya Hana mengumpat. Hana selalu menggunakan warna netral dalam setiap presentasi yang ia siapkan, jadi ia harus mengganti dengan warna apa? Pink?"Pak Evan mau warna apa?""Terserah kamu. Pokoknya jangan ini.""Kalau terserah saya, mungkin saya akan ganti warna biru ini jadi pink atau merah darah. Pak Evan mau?"Evan mendesis kesal. Kenapa wanita di depannya itu selalu bisa membantahnya. Dan itu adalah hal yang paling dibencinya. "Ah udah lah. Nggak jadi.""Lah, labil!" gumam Hana yang ternyata didengar Evan."Kamu bilang apa b

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-28
  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   9 Hana dan Traumanya

    Hana mengerjapkan matanya perlahan. Setelah matanya membuka sempurna, barulah Hana mengernyit bingung, pemandangan yang ada di depan matanya bukanlah dinding dan plafon kamarnya. Saat ia akan menggerakkan tangannya, sesuatu terasa menahan tangannya. Hana menoleh dan mendapati Azka yang tertidur di kursi yang ada di sebelah kasurnya sambil menggenggam tangannya."Udah bangun?" tanya Azka saat merasakan gerakan tangan Hana yang digenggamnya."Hmm ...." Hana hanya menjawabnya dengan gumaman. Kemudian ia teringat sesuatu. "Tante Rimbi nggak tau kan kalo aku masuk rumah sakit? Tante Letta? Om Ares?""Kamu beruntung, mama papaku, Tante Letta sama Om Ares, semua lagi ke Jogja ke tempat Mbah, coba kalo mereka di sini, udah penuh ini kamar."Hana terkekeh dan berusaha untuk mengubah posisinya."Kamu butuh sesuatu? Aku panggiling dokter ya?"Hana menggeleng. Dari jam dinding yang ada di kamar itu, ia tahu kalau waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan pastinya psikiaternya sudah tidak b

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-28
  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   10 Never Say Never

    Vio kemudian menatap Hana, seakan meminta Hana mempertimbangkannya."Aku bakal ngasih tau orang tuaku apa yang terjadi kalau kamu nggak pulang ke rumah," ancam Evan.Hana menghela napas, lantas tersenyum sambil memegang tangan Vio. "Gue ke Menteng aja, nggak apa-apa.""Yang ada bukannya sembuh, malah makin parah," gumam Vio yang ternyata didengar Evan dan membuahkan cibiran dari Evan.***Hana berusaha memejamkan mata sepanjang perjalanan pulang menuju rumah Evan. Berbicara dengan Evan adalah salah satu hal yang paling tidak diinginkannya saat ini.Tapi sepertinya Evan tahu kalau Hana tidak benar-benar sedang tidur. "Aku nyuruh kamu tidur di rumah karena nggak pantes buat seorang cewek tidur di rumah laki-laki yang bukan keluarga," ucap Evan tiba-tiba. "Ayah sama Mama pasti juga bakal ngelarang kalau tau."Hana terpaksa membuka matanya. Keningnya berkerut memikirkan ucapan Evan. "Kita juga bukan keluarga by the way." Hana mendengkus kesal. "Aku udah nggak punya keluarga." Entah kenapa

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-28
  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   11 Semua Orang Memaksanya Menikah

    "Hana nginep di sini, Van?" tanya Azka begitu memasuki kamar Evan.Azka yang baru tahu kalau Hana sudah keluar dari rumah sakit, langsung menghubungi Hana untuk menanyakan keadaannya. Saat Azka menawarkan diri ke apartemen wanita itu untuk membawakan apa yang dia butuhkan, tiba-tiba saja Hana berkata kalau dirinya menginap di Menteng.Karena ucapan Hana itu, Azka langsung mengarahkan mobilnya menuju Menteng di mana rumah om dan tantenya berada."Iya, Mas."Terlihat ekepresi lega dari Azka. Bagaimana pun juga, seruwet apa pun hubungan Evan dan Hana, Azka tentunya merasa lebih tenang kalau Hana tidak sendirian di apartemen."Kok mau? Biasanya kalo abis kambuh dia ngeyel buat tinggal di apartemen.""Aku ancem ngasih tau Mama sama Ayah."Azka mengangguk mengerti. "Dia udah minum obat?""Aku nggak ngecek, cuma pas tadi siang aja.""Ya udah, aku ke kamar dia dulu buat ngecek."Azka keluar dari kamar Evan, menaiki undakan tangga menuju kamar Hana. Yang tidak disadarinya, ternyata Evan mengik

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   12 Kecurigaan Evan

    "El, temen Kakak mau ke sini boleh?" tanya Hana pada Elga yang belum mau pergi dari kamar Hana karena khawatir.Hana tahu diri, meskipun ia sudah tinggal bertahun-tahun di rumah sebelum ia memutuskan tinggal sendiri di apartemen, tetap saja itu bukan rumahnya dan ia selalu meminta izin jika akan ada temannya yang datang, dari dulu selalu begitu, pun sekarang, tidak ada yang berubah."Boleh lah, Kak. Kenapa mesti nanya sih. Ini kan rumah Kak Hana juga."Hana tersenyum melihat Elga yang menjawabnya sambil asik menonton salah satu series di salah satu layanan streaming berbayar. Ia lantas membalas pesan Vio yang masuk belum lama ke ponselnya.Hana: Ok, Vi. Ke sini aja."Emang siapa Kak yang mau ke sini?" Mata Elga tertuju pada layar, tapi ia masih bisa membagi fokusnya dengan bertanya pada Hana."Vio.""Oh, Kak Vio." Elga memang sudah mengenal Vio dari dulu karena Vio adalah teman Hana yang paling sering datang ke rumah itu. Sepertinya hampir semua keluarganya mengenal Vio, kecuali Elaks

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-30
  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   13 Nyonya Cakrawangsa

    “Hana, kamu kok nggak bilang kalo sakit?” tanya Letta yang langsung menuju kamar Hana setelah mendapat informasi perihal sakitnya Hana dari Azka. “Kan Tante udah bilang, kalo ada apa-apa langsung hubungi Tante.”Hana tersenyum mendengar omelan dari wanita paruh baya yang dipanggilnya ‘Tante’ tapi dirasanya sebagai pengganti mamanya. “Kan di sini banyak yang jagain Hana, Tan.”Letta mendengkus, memang banyak yang menaruh perhatian pada Hana, buktinya Azka sampai menginap di rumahnya, dan di kamar Hana ada dua orang yang juga selalu mengkhawatirkan Hana, Vio dan Ibra. “Vio, Ibra, apa kabar? Lama nggak main ke sini?”“Baik Tante.” Keduanya menjawab bersamaan dan mengulurkan tangan untuk menyapa Letta dengan sopan.“Hana udah minum obat?” tanya Letta lagi. Dia tahu pasti dokter Erlin memberi Hana obat yang harus diminum selama beberapa waktu setelah PTSD-nya kambuh.“Yang pagi udah, Tan. Nanti yang siang kan setelah makan siang.”“Kamu lagi pengen makan sesuatu nggak? Tante bikinin ya,” t

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-31
  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   14 Agar Tidak Terasa Dipaksakan

    Evan mendengkus kesal. Kenapa tidak ada satu pun orang yang mempercayainya? Saat menatap ayahnya yang sedang menyesap kopi di depannya, barulah ia ingat sesuatu yang pernah ingin disampaikannya, namun kesempatannya selalu tidak tepat.“Yah, Ayah kan paling anti sama perjodohan. Kenapa sekarang Ayah kesannya kayak ngebiarin Mama jodohin aku sama Hana? Ayah nggak bisa bantu aku buat ngubah keputusan Mama?”Ares menarik napas kemudian menghembuskannya perlahan. Ya, ia memang menentang yang namanya perjodohah. Karena itu, ia tidak pernah berniat untuk mencarikan anak-anaknya jodoh apalagi demi urusan bisnis.“Ayah sama Mama bukan lagi jodohin kamu, Van. Ayah sama Mama lagi ngajarin kamu arti kata tanggung jawab. Kamu udah tidur sama Hana, apa nggak ada keinginan dari kamu buat bertanggung jawab? Apa ini hasil yang Ayah sama Mama ajarkan ke kamu?”Evan terdiam, ia belum pernah melihat raut kekecewaan dari ayahnya selama ini. Pun saat ia memilih menjalankan bisnis kecil-kecilannya sendiri,

    Terakhir Diperbarui : 2024-12-31
  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   15 Apa Kamu Telat Datang Bulan?

    Hana berdiri dengan resah saat akan berangkat ke kantor. Di dekatnya, Evan dan ayahnya sama-sama sedang bersiap. Tapi Hana tahu kalau masing-masing dari mereka akan membawa mobil sendiri untuk mempermudah mobilitas. Lalu ia harus ikut siapa? Sementara mobilnya sendiri ada di apartemen.Dulu, saat ia menjadi asisten Ares, jelas ia akan ikut mobil Ares. Tapi kini ia adalah asisten Evan. Dan yang lebih mengesalkan baginya, ia tidak punya keberanian untuk meminta tumpangan kepada Evan. ‘Apa pesen taksi online aja ya? Atau naik KRL aja?’ batinnya bingung.“Yah, ini kopinya.” Letta muncul dari pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang tengah dengan membawa tumbler berisi kopi kesukaan suaminya.Ares mengucapkan terima kasih kemudian mengecup singkat puncak kepala istrinya sebelum ia melangkah ke dalam mobil.“Hana, sana, kok kamu masih bengong,” ucap Letta.Belum sempat Hana menjawab, Ares menimpali ucapan istrinya. “Hana kan sekarang asistennya Evan. Ya Hana sama Evan lah, Ma.”“Oh iya

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-01

Bab terbaru

  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   147 Extra Part 12 (Ending)

    "Lucu banget siiih." Vio yang menggendong sesosok bayi kecil tidak bisa mengalihkan matanya dari bayi yang belum bisa membuka mata itu. "Boleh bawa pulang satu nggak? Kan masih ada satunya lagi.""Kalo dia laper, lo mau nyusuin?" Hana mendelik ke arah Vio."Ck! Lucu banget tau, Han." Vio dengan gemasnya mengecupi pipi bayi merah itu."Udah pengen ya?" tanya Hana menggoda Vio yang agak terlihat kaku menggendong bayi di tangannya.Vio mengedikkan bahu sebagai jawabannya.Saat keduanya tengah bermain-main dengan bayi kembar itu, Evan dan Azka masuk ke dalam kamar rawat dengan dua tote bag yang berlogokan salah satu minimarket. Hana memang meminta pada suaminya untuk dibelikan cemilan karena makanan dari rumah sakit hanya mampu mengganjal setengah ruangan di perutnya."Van, si twin siapa sih namanya? Astaga, udah setengah jam aku nanya ke Hana, katanya kamu yang bakal ngasih tau karena kamu ngelarang dia ngasih tau. Apaan coba?"Evan tersenyum pongah. Ia memang melarang Hana memberitahukan

  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   146 Extra Part 11 (Kamu Tetap yang Tercantik)

    Hana mengusap peluh yang mulai terasa di dahinya. Ia berusaha menahan rasa sakit yang mulai menyergapnya. Evan masih tertidur pulas di sebelahnya.Setelah mengatur napasnya beberapa saat dan sakit di perutnya tidak kunjung mereda, tangan Hana terpaksa menggapai suaminya untuk membangunkannya."Maaas.""Hmm?" Evan mendengar panggilan istrinya tapi matanya masih enggan untuk membuka."Mas, perutku mules."Barulah setelah mendengar itu, mata Evan membuka sempurna. "Kontraksi?"Hana hanya bisa kembali mengatur napasnya. Ini yang pertama untuknya, bagaimana ia bisa membedakan itu kontraksi palsu atau kontraksi yang sebenarnya."Aku bangunin Mama dulu ya."Sejak satu bulan sebelum Hari Perkiraan Lahir (HPL), semua anggota keluarga Evan sudah menginap di rumah Evan, mama papanya, termasuk Elga dan Elaksi. Euforia dan khawatir yang berlebihan adalah penyebabnya. Tapi Evan juga tidak memungkiri kalau ia membutuhkan kehadiran mamanya yang sudah berpengalaman menghadapi proses persalinan."Masih

  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   145 Extra Part 10 (Terima Kasih Telah Membuatnya Bahagia)

    "Permisi, Pak." Ribka melongokkan kepala ke ruang atasannya setelah mendengar sahutan dari Evan yang mempersilakannya masuk."Kenapa, Rib?""Hana?"Evan hanya menunjuk dengan dagu posisi Hana yang sedang tidur di sofanya. Sejak kehamilan Hana, Evan sengaja mengganti set sofa di ruangannya dengan yang lebih besar agar Hana bisa tidur dengan nyaman.Apalagi kini kehamilan Hana menginjak tujuh bulan. Dengan perut sudah sebesar itu, sebenarnya Evan tidak tega membiarkan Hana masih bekerja, walau setengah hari kerja Hana hanya dihabiskan untuk tidur. Tapi ke-clingy-an Hana belum juga berkurang hingga Evan tidak mungkin membiarkannya di rumah sendiri."Kenapa nyari Hana?""Ada proposal yang nunggu approval Pak Evan. Dan belum di-review Hana. Tadi tim pengembangan 2 udah nanya hasilnya, Pak.""Langsung kirim ke saya aja, Rib. Biar saya periksa.""Nggak lewat Hana nggak apa-apa, Pak?""Lihat sendiri dia teler begitu." Evan terkekeh melihat Hana yang tertidur dengan nyaman tanpa merasa tergang

  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   144 Extra Part 9 (Clingy)

    "Maaas, meluknya jangan kenceng-kenceng. Nanti dedeknya kegencet."Evan merenggangkan pelukannya meskipun rasanya masih belum rela."Gemes abisnya. Kamu jadi lebih enak dipeluk."Hana mendelik kesal. Pasti ada yang tersirat di balik ucapan suaminya itu. "Maksudnya aku gendutan? Jadinya empuk untuk dipeluk?""Ya ampun, jangan sensitif gitu dong, Han. Nanti kalo kamu kesel, baby-nya ikut kesel sama ayahnya gimana?"Hana mengerucutkan bibir karena kesal, tapi justru ditanggapi Evan sebagai kode untuk mencium bibir istrinya itu, yang semenjak kehamilannya sama sekali tidak pernah terpoles lipstik."Ya orang hamil memang gendutan, Sayang. Kalo nggak gendutan gimana lah, mesti kita periksain lagi ke dokter, apalagi kamu bawa dua baby di perut," ucap Evan setelah puas mengeksplorasi kelembutan bibir istrinya."Mas nggak akan ninggalin aku meskipun aku gendut kan?" tanya Hana tiba-tiba."Kok kamu jadi clingy banget sih sejak hamil?" tanya Evan sampai hampir terbahak. Tidak pernah terbayangkan

  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   143 Extra Part 8 (Ayo Kita Serius)

    "Mbak Hana mikir apa?" tanya Bi Lastri yang memperhatikan Hana melamun sambil mengaduk lemon tea yang baru saja dibuatnya. "Jangan banyak pikiran, Mbak. Kasihan yang di perut."Hana tersenyum melihat kekhawatiran Bi Lastri padanya. Pasti mama mertuanya sudah mewanti-wanti ART di rumahnya untuk memperhatikannya.Ia memang sedang berpikir, tapi bukan masalahnya yang sedang menguasai pikirannya. Hari sebelumnya ia sempat mengobrol dengan Vio, dan curahan hati Vio tentang hubungannya benar-benar membuat Hana memutar otaknya.Dan inilah saatnya ia mencoba melakukan sesuatu untuk membantu hubungan sahabatnya."Bibi, minta tolong bawain minum sama cemilannya ke ruang tengah ya," ucap Hana, kemudian berlalu menyusul suaminya dan sepupu iparnya yang sedang mengobrol di ruang tengah."Mas, Arfindo udah punya cewek belum sih?" Kalimat pertanyaan pertama yang disampaikan Hana begitu menginjakkan kaki di ruang tengah membuat Evan mengernyitkan dahi."Ngapain nanyain Arfindo?"'Evan dan cemburunya.

  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   142 Extra Part 7 (Boleh Aku Mendekatimu?)

    "Jadi Evan nerima lo lagi?"Sudah beberapa minggu sejak keluarga Evan akhirnya tahu apa yang dilakukan Hana untuk menyelamatkan perusahaan. Hana sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Evan yang disangka Vio tidak akan terjadi.Hana mengedikkan bahu, karena dia sendiri juga bingung dengan apa yang diinginkan Evan. "Lo sama Kak Azka gimana?""Loh kok jadi ngomongin gue?""Ayolah Vi, gue butuh hiburan kisah cinta orang lain daripada kisah cinta gue.""Nggak ada apa-apa, Han. Jadi nggak ada yang perlu gue ceritain.""Hah? Serius? Waaah, Kak Azka mesti didorong nih."Hana meraih ponselnya dari dalam tas kemudian sibuk mengirim pesan pada Azka, sementara Vio menatap makan siang di depannya dengan malas padahal dia yang sejak pagi mendesak Hana untuk menemaninya makan siang di salah satu restoran kesukaannya.Keduanya larut dalam obrolan sampai Hana tidak sadar kalau makanannya sudah habis sementara makanan Vio bisa dibilang masih utuh."Makan yang bener, Vi.""Lo kayak nggak pernah

  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   141 Extra Part 6 (Makan Malam Terima Kasih)

    "See? Dia udah nggak ada perlu lagi, makanya nggak ngehubungin." Vio menatap ponselnya dengan kesal. "Emang dia nggak ada rasa. Sadar dong, Vio!" Vio berusaha meyakinkan diri sendiri kalau perasaannya tak berbalas.'Telepon duluan aja!' Entah sisi hatinya yang mana yang sedang berbisik."Dih, nggak ada ceritanya seorang Vio ngehubungin laki-laki duluan." Sambil menggeram kesal, Vio menjauhkan ponselnya, kemudian mencoba larut dalam berkas gugatan yang baru saja dikirimkan stafnya melalui e-mail.Sepanjang hari Vio berusaha menyibukkan diri sendiri, dan jika mode Vio yang seperti ini sedang kumat, maka yang menjadi buklan-bulanannya adalah para staf dan junior pengacara di law firm itu. Vio bisa saja bekerja seakan besok hari kiamat, dan hari itu juga semua berkas perkara atau pledoi yang sedang mereka siapkan harus selesai."Kenapa sih Mbak Vio?" bisik Indri pada Laras."Putus cinta kali, kayak biasanya. Masih kaku aja, tau sendiri kita rutin ngalamin hal ini beberapa bulan sekali.""

  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   140 Extra Part 5 (Pertemuan)

    Vio mengerjap pelan, diiringi dengan suara terkikik pelan dari resepsionis yang mendengarkan ucapan Azka yang hanya berjarak tidak lebih lima meter darinya."Hmm ... Mas, bukannya aku sok sibuk. Tapi aku ngecek jadwalku dulu ya—"'Dan kesiapanku.' batin Vio. Andai ia bisa mengutarakannya. Tapi tidak lama kemudian ia sadar kalau Azka dan mamanya berurusan dengannya hanya demi Hana, tidak ada niat lain. Ia hampir tertawa kalau tidak ingat Azka masih berada di depannya."Ya udah, jangan dipaksain kalo gitu, nanti aku whatsapp lagi ya, kamu bisa atau nggak-nya."Vio mengangguk mengiakan. Sebenarnya ia lebih senang ditelepon, paling tidak ia bisa mendengar suara berat Azka, tapi tidak mungkin diungkapkannya kan."Aku ... berangkat kerja dulu ya."Kali ini suara terkikik Achi semakin keras dan baru berhenti setelah Vio memelototinya."Mbak Vio kayak lagi main rumah-rumahan deh."Kalau saja wanita itu tidak lebih tua dari Vio, mungkin Vio akan memarahinya habis-habisan. "Main rumah-rumahan?

  • FALLING IN LOVE WITH MY ASSISTANT   139 Extra Bab 4 (Mamaku Ingin Bertemu)

    "Ma, Pa, aku nggak sarapan di rumah ya." Azka bergegas merapikan barangnya ke dalam tas ransel sambil berpamitan pada kedua orang tuanya yang sedang duduk menyantap sarapan."Ke mana, Ka? Pagi banget?""Jemput Vio, Ma. Semalem dia kuanter pulang, pagi ini dia naik apa kalo mobilnya di kantor?"Rimbi terbengong mendengar jawaban Azka. Sementara Ferdi menahan tawanya."Demi dapet alamat Hana. Pergi dulu Ma, Pa." Azka mencium tangan kedua orang tuanya lantas berlalu pergi.Setelah Azka hilang dari pandangan mereka, barulah Ferdi berani meledakkan tawanya. "Udah, kamu aja yang turun tangan. Nungguin hasil dari Azka pasti lama.""Emangnya Azka ...?" Rimbi menatap suaminya dengan bingung."Kali ini Azka dapet lawan yang sepadan, kayaknya kamu yang mesti turun tangan."***Azka melajukan mobilnya ke sebuah perumahan elit. Jelas Azka tahu di mana Vio tinggal karena sudah beberapa kali mengantar Hana ke rumah itu, dan malam sebelumnya pun ia mengantar Vio sampai depan gerbang rumahnya. Akan te

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status