Kediaman Haryadi tampak ramai hari ini. Penjagaan ketat harus terus diawasi. Banyaknya wartawan yang meliput membuat keadaan semakin tak terkendali. Apa lagi ketika mobil Ndaru mulai mendekati. Seketika riuh pun sulit diatasi.
Haryadi bukan hanya seorang hakim yang luar biasa, tetapi juga berasal dari keluarga yang tak biasa. Kepergiannya tentu menimbulkan kehebohan nyata. Yang tentu akan dimanfaatkan banyak orang untuk mencari muka. Mobil yang membawa Ndaru mulai memasuki kediaman Haryadi. Dia menatap para wartawan yang berkumpul di depan pagar dengan seksama. Ndaru tahu jika kakaknya memang orang hebat, tetapi dia tidak tahu jika akan seramai ini. Sepanjang perjalanan menuju rumah, sudah berapa kali Ndaru melihat kiriman karangan bunga. Entah dari siapa saja. "Pemakaman Pak Arya akan dilakukan nanti sore, Pak. Bapak bisa masuk sekarang untuk melihat Pak Arya yang terakhir kalinya dan bertemu keluarga Bapak." Ndaru masih bergeming. Dia menunduk lalu menarik napas dalam. Berusaha menguatkan diri sebelum masuk ke dalam rumah yang sudah ramai dengan sanak saudara. Jujur, Ndaru belum siap. "Pak?" Gilang terlihat khawatir. "Saya masuk dulu." Setelah itu Ndaru benar-benar turun dari mobil. Seketika suara teriakan serta cahaya kamera langsung tertuju padanya. Dari mana lagi jika bukan berasal dari para wartawan? Celah pada pagar sedang mereka manfaatkan. "Pak Handaru! Bisa wawancara sebentar, Pak?!" "Pak, lima menit saja, Pak!" "Pak, apa benar kecelakaan Pak Haryadi berkaitan dengan kasus Benasaka?" Kira-kira seperti itulah pertanyaan-pertanyaan yang wartawan teriakan. Namun Ndaru tidak menggubrisnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan suara lantunan doa mulai terdengar. Seketika langkahnya menjadi pelan. Tatapan Ndaru terpaku pada tengah ruangan. Pada sosok kakaknya yang terbujur kaku. "Sudah datang, Mas?" Suara itu membuat Ndaru menoleh. Dia menahan napas saat melihat pria tua yang memanggilnya. Pria itu adalah Harris Putra Atmadjiwo, ayahnya. Tampak memprihatinkan dengan mata sembabnya. "Pa?" Ndaru mendekat dan memeluk pria itu. Sama-sama berusaha untuk menguatkan. "Kakak kamu, Mas. Kok bisa ini terjadi?" bisik pria itu lagi kembali menangis. "Maafin aku, Pa." Ndaru tahu kata maafnya sangat ambigu. Yang pasti dia hanya ingin mengatakan itu sekarang. Dia sedang menyalahkan diri sendiri. Andai saja, andai saja Haryadi tidak berniat menemuinya di Surabaya, tentu kecelakaan maut itu tidak akan terjadi. "Ngapain kamu ke sini?!" teriakan itu mengejutkan Ndaru. Dia menatap kakak iparnya yang terlihat marah. Keadaannya sama seperti ayahnya, sangat memprihatinkan. Namun percayalah, Ndaru juga tak jauh berbeda. "Ini semua gara-gara kamu!" Putri mendekat dan memukul dada Ndaru kencang. "Andai kamu nggak minta Mas Arya datang. Dia nggak akan pergi ninggalin Mbak!" Meski begitu, Ndaru tidak merasakan sakit. Hatinya yang jauh lebih sakit. "Putri. Sudah, Put." Sang mertua berusaha melerai. "Put, kamu tenang dulu." Yanti, istri dari kakak Ndaru yang pertama datang berusaha menenangkan Putri. Dia mengangguk pada Ndaru sebentar sebelum membawa Putri pergi. Kepergian Putri tidak membuat Ndaru tenang. Justru pikirannya semakin bebas menyalahkan dirinya sendiri. Ndaru membenci perasaan ini. Lagi-lagi dia kehilangan dan itu karena dirinya. "Bukan salah kamu." Tepukan pelan di bahu membuat Ndaru tersadar. Adhiguna Amir Atmadjiwo, kakak pertamanya tengah berusaha untuk meringankan hatinya. "Mbak Putri benar, Mas. Ini semua salah aku." "Jangan seperti itu, Mas." Ayahnya seketika menolak gagasan itu. "Sebaiknya kamu istirahat dulu. Kata Gilang kamu belum tidur dua hari," ujar Guna. Ndaru menggeleng. "Aku mau liat Mas Arya." Jika sudah begitu, maka tidak ada orang yang bisa menahan Ndaru. Melihat tubuh kaku Arya, air mata itu tak bisa lagi ditahan. Akhirnya tangis Ndaru pun kembali datang dalam diam. Sungguh, dia tidak siap kehilangan. *** Laptop yang menyala masih Shana abaikan. Mata dan telinganya aktif melihat dan mendengar berita yang ramai diperbincangkan. Yaitu proses Haryadi Atmadjiwo yang tengah dimakamkan. Dari gambar yang televisi tampilkan, Shana bisa melihat banyak orang yang datang. Seketika Shana mendengkus. Haryadi tidak sebaik itu. Dia kembali fokus pada laptopnya. Mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda akhir-akhir ini. "Almarhum Haryadi Atmadjiwo telah dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Atmadjiwo. Lokasi makam almarhum berada sekitar tujuh meter dari makam sang ibu, Yuningsih Atmadjiwo." Narasi dari anchor masih Shana dengarkan. Namun dia tidak terlalu peduli seperti sebelumya. Dia hanya tidak ingin tertinggal berita. Apa lagi mengenai Haryadi si Hakim gila. Suara dering ponsel mengganggu konsentrasi Shana. Dia melihat nama Dito di sana. Anehnya tidak ada lagi rasa kesal di dada. Seketika dia ingin melihat kekasihnya. "Halo?" sapa Shana. "Aku di depan apartemen kamu, Sayang." Senyum Shana merekah. Dengan cepat dia mengambil kartu aksesnya dan bergegas menyusul kekasihnya. Meski Dito menyebalkan, tetapi pria itu berhasil meluluhkan hati kerasnya. "Tumben dateng malem-malem?" tanya Shana mengeratkan jaketnya. "Aku kangen. Aku bawa nasi goreng kesukaan kamu." Senyum Shana kembali terbit, tetapi dia berusaha menahannya. "Ayo, masuk. Aku udah laper." Dan betul, pada akhirnya Shana kembali memaafkan Dito. *** Setelah proses pemakanan selesai, keluarga Atmadjiwo kembali ke kediaman Haryadi. Mereka akan berkumpul di sana untuk melakukan doa bersama selepas kepergian putra kedua dari Harris Atmadjiwo itu. Rasa sedih masih kental terasa. Keadaan rumah yang awalnya hangat berubah menjadi begitu dingin. Apa lagi saat mendengar tangisan anak Arya yang mencari keberadaan ayahnya. Benar-benar memilukan. "Biar aku tidurin anak-anak dulu." Yanti, sebagai menantu pertama merasa bertanggung jawab untuk mengurus anak-anak. Acara tahlilan juga telah selesai sejak 30 menit yang lalu. Istri Arya juga sudah berada di kamar. Putri memilih untuk menyendiri. Orang-orang pun memaklumi. Tentu sakit kehilangan seorang suami. "Rencana di Jakarta berapa hari, Mas?" tanya Harris pada Ndaru. "Belum tau." Ndaru memang tidak bisa berpikir untuk saat ini. Dia melepas peci yang ia pakai dan mengusap keningnya pelan. Lelah mulai ia rasakan. "Gimana keadaan Juna?" Seketika Ndaru menegakkan duduknya. Dia lupa dengan keadaan anaknya. Sudah seharian ini dia tidak mencari tahu kabarnya. Ayah macam apa dirinya? "Keadaan Mas Juna sudah membaik, Pak. Kata dokter, lusa Mas Juna sudah boleh pulang." Gilang datang dengan informasinya. Ini yang Ndaru suka dari Gilang. Pria itu begitu tanggap dan cekatan sebagai asisten pribadinya. "Kalau Mas Ndaru masih lama di sini, bawa Juna ke sini. Papa kangen," pinta Ayahnya. Ndaru hanya mengangguk. Di ruang tengah ini keadaan tiba-tiba menjadi hening. Hanya ada Ndaru, Gilang, Guna, dan Ayah mereka di sini. Sanak saudara yang lain juga sudah kembali ke rumah masing-masing. "Jadi gimana, Pa?" tanya Guna tiba-tiba. "Rencana akan berubah, kan?" "Kita masih berkabung, Mas," tegur Ndaru. "Kita nggak bisa menundanya lagi, Ndaru. Mumpung kamu di sini juga." Terdengar helaan napas keluar dari bibir Harris. Baik Guna dan Ndaru pun mengalihkan pandangannya. Menatap pria yang paling mereka segani di keluarga. "Mau tidak mau Mas Ndaru yang akan mengambil alih perusahaan." "Pa?" Ndaru memijat pangkal hidungnya. Dia sudah mengira jika akan seperti ini jadinya. "Nggak ada pilihan lain, Ndaru." Guna terdengar setuju. "Kamu nggak bisa terus lari, Mas. Ketakutan kamu harus dilawan." Ndaru sebenarnya setuju dengan ucapan ayahnya. Namun tetap saja sulit untuk dilakukan. Bukan tanpa alasan dia meninggalkan Jakarta dan pindah ke Surabaya. Bahkan masih berat rasanya bagi Ndaru datang ke tempat ini jika tidak ada kabar duka. "Lupakan masa lalu. Hanya kamu harapan kami semua." Guna menepuk bahu Ndaru. "Kita bisa percayakan ke tenaga profesional." Tanpa diduga Harris tertawa. Tidak percaya dengan saran bodoh yang anaknya berikan. "Kamu tau sejarah Atmadjiwo, Mas. Jangan sampai ada orang asing yang ikut mengatur bisnis kita." Betul. Ndaru mengetahuinya. Namun dia hanya ingin melindungi dirinya. "Aku harus tetap maju jadi anggota dewan, Ndaru. Sudah banyak dana yang kita keluarkan." Untuk kampanye dan partai tentu saja. Itu lah alasan kenapa harus Ndaru yang mengurus perusahaan. Awalnya Guna yang mengurus induk perusahaan mereka. Namun pria itu mulai tertarik pada dunia politik dan memilih untuk terjun ke dalamnya. Rencana awal, Arya yang akan menggantikan posisi Guna untuk memimpin kerajaan bisnis Atmadjiwo. Pria itu sudah setuju untuk berhenti menjadi hakim setelah kasus Benasaka selesai ia tangani. Namun takdir berkata lain. Pria itu meninggal karena kecelakaan maut. Hanya satu nama yang bisa menjadi jalan keluar. Yaitu Handaru Gama Atmadjiwo. Si bungsu yang beberapa tahun terakhir ini sibuk mengasingkan diri. "Tidak ada pilihan lain, Mas." Harris kembali meyakinkan. "Kondisi kita tidak memungkinkan dan Guna tidak bisa mundur begitu saja. Dia harus terus maju sampai bisa duduk di kursi senayan." "Bagaimana dengan Mbak Yanti?" Kali ini Guna yang tertawa. Ndaru terus memberikan saran konyol yang jelas ia ketahui sendiri sangat tidak mungkin dilakukan. "Kamu, Mas. Cuma kamu. Kita hanya percaya sama kamu." Harris Atmadjiwo sudah memberi titah. "Bagaimana menurut kamu, Lang?" tanya Ndaru pada asistennya. Gilang berdeham sebentar. "Saya setuju dengan Pak Harris dan Pak Guna, Pak." Ndaru mendengkus. Ternyata semua orang memang menginginkannya untuk kembali. "Nanti aku pikirkan lagi." Ndaru berdiri diikuti oleh Gilang. "Mau ke mana?" tanya Guna. "Pulang." "Ke apartemen, Mas? Kenapa nggak di sini aja?" Ayahnya tampak tidak senang. "Wartawan masih banyak di luar sana." Ndaru menggeleng pelan. "Mbak Putri masih kurang nyaman liat aku di sini." "Kalau gitu hati-hati. Jangan beri statement apa pun pada mereka," ingat Guna. Ndaru mendengkus samar. Jangankan memberi pernyataan. Untuk berhenti saja dia malas melakukannya. Ndaru butuh menenangkan diri. Karena sebentar lagi hidupnya tidak akan sama lagi. *** TBCKetenangan kembali menyapa. Namun sayang Ndaru tidak bisa memejamkan mata. Dia menatap jalanan dengan mata terbuka. Mencoba menerka jalan hidupnya yang tak akan lagi sama. "Sepertinya Bapak butuh pengawal untuk beberapa hari ke depan." Gilang berucap. "Saya lihat ada beberapa wartawan yang nekat mengikuti kita." "Mereka merepotkan." Ndaru mengeluh. Padahal dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. "Bapak adalah bagian dari keluarga Atmadjiwo kalau lupa." "Nama saya tidak seharum kedua kakak saya." "Justru itu." Gilang menoleh. "Bapak misterius. Ya... meskipun keluarga Atmadjiwo memang tertutup, tapi Bapak berbeda. Itu yang membuat publik penasaran." Tanpa diduga Ndaru tersenyum kecut. Dia mengerti maksud ucapan Gilang. Kedua kakaknya memang memiliki nama yang harum. Berbeda dengan dirinya yang seolah menyembunyikan diri. Sebenarnya sama saja, hanya saja Ndaru memilih untuk tidak berhubungan langsung dengan publik. Bukan bermaksud menjauhi keluarga. Hanya
Rasanya seperti baru lima menit tertidur. Ndaru terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Keadaan kamar hotel yang ia tiduri masih gelap, tetapi dia bisa melihat cahaya mulai mengintip dari balik tirai jendela. Ndaru segera terduduk sambil mengusap wajahnya. Dia meraih ponsel dan melihat jam yang tertera. Jam tujuh pagi, artinya dia terlambat bangun. Suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini terkesan lebih keras dan cepat dari sebelumnya. "Pak Ndaru?" Itu suara Gilang. "Ya," balas Ndaru bergegas membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya langsung. Gilang menghela napas kasar. Dia menatap atasannya itu dengan tatapan lelah. Ada apa? Seingat Ndaru dia tidak memiliki kegiatan pagi ini. "Apa yang terjadi semalam, Pak?" tanya Gilang. Seketika kantuk Ndaru hilang. Dia menatap asistennya lekat. "Apa maksud kamu?" Gilang memberikan sebuah iPad yang menampilkan beberapa gambar tangkapan layar. Ada beberapa potret yang sangat Ndaru kenal. "
Di ruangan privat itu, baik Guna dan Ndaru fokus pada pekerjaan masing-masing. Hidangan makan siang yang tersaji di hadapan mereka belum mereka sentuh sedikit pun. Mereka berdua tampak sibuk membahas sesuatu. Membahas hal yang membuat nama mereka goyah akhir-akhir ini. "Aku jadi ikutan kena, Ru," keluh Guna. "Peluang suara menurun?" tanya Ndaru. "Betul, Pak. Sekitar dua persen, tapi Pak Guna tetap unggul dari caleg lain," jawab Rahmat, orang kepercayaan Guna. "Tetap kita nggak boleh jumawa, Mat. Pemilu masih tahun depan." Ndaru mendorong laptopnya lelah. Menyadari perubahan itu, Gilang pun mengambil alih. Dia ikut meringis melihat banyaknya email yang masuk. Rata-rata berasal dari para wartawan. Belum selesai dengan kabar duka dari Haryadi Atmadjiwo, mereka kembali menyerang atasannya dengan foto skandalnya. Setelah Harris memberi perintah tadi pagi, satu jam kemudian orang-orang Guna berhasil menghapus cuitan penyebar skandal itu. Bukan hanya cuitan, tetapi akunnya ju
Acara tahlilan telah selesai. Seperti biasa, keluarga Atmadjiwo kembali berkumpul di ruang keluarga. Bukan lagi untuk membahas perubahan strategi, melainkan skandal yang terjadi. Masa berkabung seolah tak lagi berarti. Ada hal genting lain yang menanti. Malam ini, Ndaru mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang dilipat hingga siku, serta celana chinos abu-abu. Dia memilih untuk duduk tenang di salah satu sofa. Terlepas dari apa yang menimpanya, Ndaru sangat pintar untuk menyembunyikan perasaannya. Padahal dalam hati dia juga dibuat pusing dengan apa yang terjadi. Bahkan saat ini, dia yakin jika akan kembali disidang. "Berita nggak mereda sama sekali," keluh Yanti. Dia cukup khawatir dengan karir politik suaminya. "Saham Atmadjiwo Grup juga menurun," lanjut Guna. Topik itu yang akan mereka bahas malam ini. Apa saja akibat yang mereka dapat dari skandal yang menyerang si bungsu. "Bahkan berita tentang kecelakaan Arya sudah tenggelam." "Seharusnya dari awal kamu ngga
Pagi ini Shana memilih untuk bermalas-malasan. Dia duduk di meja makan sambil menatap Erina yang sibuk ke sana-ke mari. Tampak bersiap untuk berangkat bekerja. Profesinya yang merupakan seorang chef selebriti tentu membuatnya cukup sibuk. Bahkan Erina memiliki tiga program acara unggulan di televisi. Yang berhubungan dengan kuliner tentu saja. "Gue udah bikin sarapan. Lo tinggal makan aja." Shana menyandarkan kepalanya dengan malas. "Gue pingin makan ketoprak." Erina berdecak. "Makan yang ada. Gue harus berangkat sekarang." Shana kembali menegakkan kepalanya. "Gue beneran nggak boleh keluar?" "Boleh, kalau lo mau dikeroyok wartawan." Shana berdecak, "Gila, ya? Masih aja rame bahas masalah kemarin." "Lo yang gila! Ngapain nyosor bibir orang? Mana yang disosor klan Atmadjiwo. Apa nggak heboh satu negara?" Shana mengusap hidungnya kasar. Sepertinya memang lebih baik dia diam. Seketika kepalanya pening saat Erina kembali mengomel. "Gue nggak bisa nulis apa-apa. Kepa
Tidak ada yang berubah hari ini. Semua berjalan seperti biasa. Masih dengan berita yang ramai diperbincangkan tentu saja. Namun Ndaru berusaha untuk mengabaikannya. Di dalam kamarnya, dia mencoba fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Cukup sulit bekerja dengan jarak jauh seperti ini. Namun Ndaru harus segera menyelesaikan semuanya sebelum kembali ke pusat. Baik Kakak dan Ayahnya sudah mendesaknya untuk segera mengambil alih induk perusahaan. Suara ketukan pintu membuat Ndaru mengalihkan pandangannya sebentar. Tanpa menjawab pun dia tahu jika Gilang yang mengetuk pintu kamarnya. Benar saja, tak lama asisten pribadinya itu masuk. "Permisi, Pak. Ini berkas yang Bapak minta semalam," ucap Gilang memberikan sebuah map coklat yang cukup tebal. "Sudah lengkap?" tanya Ndaru mulai membuka map itu. "Saya sedikit kesulitan untuk mencari tahu latar keluarganya, Pak." Ndaru mengangguk mengerti. Dia memaklumi kekurangan informasi yang Gilang cari. Toh, permintaannya memang menda
Sebagai kepala keluarga, tentu Harris Atmadjiwo tidak bisa tenang. Hatinya dikuasai rasa bimbang. Kematian anak tengahnya sudah cukup membuatnya terguncang. Lalu sekarang anak bungsunya kembali datang dengan masalah yang menantang. Seharusnya di usianya yang menginjak 71 tahun ini, Harris sudah bisa bersantai di hari tuanya. Kehidupan serta karir anak-anaknya juga sudah bagus dan menjanjikan. Namun siapa sangka jika dia tetap turun tangan saat ada permasalahan yang menyangkut nama Atmadjiwo. Bukan usaha yang mudah untuknya membangun kerajaan bisnis hingga seperti ini. Harris percaya jika nama baik akan memberikan banyak keuntungan. Mulai dari kepercayaan rekan bisnis hingga kepercayaan masyarakat. Meski ada juga yang membenci, tetapi suara mereka tidak terlalu vokal. Lalu sekarang, setelah bertahun-tahun hidup tenang, keluarganya terguncang dengan satu skandal. Skandal yang untuk pertama kalinya sulit mereka atasi. Sekali lagi, nama baik Atmadjiwo sangat penting untuknya. Ha
Meskipun hari sudah malam, tetapi suasana bandara tetap ramai. Sayangnya itu tidak berlaku untuk di dalam kendaraan. Keadaan benar-benar sangat tenang. Namun juga menegangkan. Perjanjian kontrak yang telah disetujui seolah tidak ada artinya. Tembok besar masih berdiri kokoh sebagai pemisah. Maklum tentu menjadi dasar utama. Pertemuan awal yang tidak baik tentu tak bisa memperbaiki hubungan keduanya. Shana memilih untuk melihat ke luar jendela. Mulutnya juga masih tertutup rapat. Bahkan sejak satu jam yang lalu saat perjalanan dimulai. Shana tidak tahu apa yang Ndaru lakukan di sampingnya. Lagi pula Shana juga tidak ingin mencari tahu. Pria itu terlalu fokus menutup mulut dan menatap layar iPad-nya. "Semua sudah selesai, kan, Lang? Saya tinggal menghadiri acara perpisahan." Untuk pertama kalinya Ndaru membuka suara setelah satu jam lebih terjadi keheningan. "Betul, Pak. Tiga hari lagi Bapak bisa ke Surabaya." Shana masih diam, meski sesekali dia juga mencuri dengar. Dia i
"Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri
Handaru sangat menghormati ayahnya. Di matanya, Harris Atmadjiwo adalah seorang panutan yang luar biasa. Bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga untuk ribuan manusia yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanpa otak jeniusnya, Atmadjiwo Grup tidak akan pernah ada. Sebagai penerusnya, Ndaru tentu banyak belajar dari ayahnya. Mulai dari cara berbisnis hingga cara mengatasi masalah. Seperti saat ini, Ndaru terjebak pada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukannya panik, Ndaru justru bersikap santai. Menyikapi pertanyaan ayahnya yang terlihat marah itu dengan tenang. Ndaru memilih ruang kerjanya untuk berbicara empat mata. Hanya di tempat ini ayahnya bisa meluapkan kekesalannya dengan leluasa. Lalu Ndaru akan siap mendengarnya. "Bukan hal serius, Pa." "Bukan hal serius gimana? Kamu tidur berdua sama dia, Mas!" "Ada Juna di tengah." Ndaru mengelak. "Tapi yang Papa liat tadi nggak seperti itu." Harris memijat keningnya. "Sebenarnya Papa malu untuk ikut campur masal
Shana memang bukan orang yang rajin, dia mengakui itu. Di akhir pekan, biasanya dia memanfaatkan waktunya untuk bermalas-malasan. Namun kali ini berbeda. Tepat menjelang subuh, mata Shana terbuka dengan sendirinya. Dia terbangun tanpa alarm. Hal yang jarang terjadi pada dirinya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kepala Juna. Posisi mereka masih sama, saling berpelukan. Bedanya, tak ada lagi Ndaru di sisi ranjang. Tangan Shana mulai meraba, tidak merasakan dingin. Masih ada rasa hangat di sana, artinya Ndaru belum lama pergi. Shana melepas pelukannya dan berbaring terlentang. Menatap langit kamar dengan tatapan menerawang. Memikirkan kejutan yang Shana dapatkan semalam. Bukan karena Ndaru yang meminta maaf terlebih dahulu, melainkan setelahnya, yaitu mengenai Nurdin Hasan. Siapa sangka jika Nurdin Hasan akan mengundang Ndaru? "Sudah bangun?" Lamunan Shana buyar. Dia menoleh dan melihat Ndaru keluar dari kamar mandi kamar Juna dengan wajah basah. "Saya pikir Pa
Shana kembali berbaring sepenuhnya dan memeluk Juna erat. Ndaru mendengkus dan tetep berjalan menuju pintu kamar. Bukan untuk keluar, melainkan untuk menutup pintu rapat. Berhasil, ucapan Shana berhasil membuatnya memilih tinggal malam ini. "Malam ini saja." Ndaru berjalan ke sisi ranjang kosong dan mulai merebahkan diri. Baiklah, tak masalah. Toh, ini bukan yang pertama mereka tidur bersama. Shana tersenyum penuh arti. Matanya begitu sayu karena kantuk yang masih menyerang. "Sebenernya saya masih kesel sama Bapak," bisik gadis itu. Ndaru memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Shana. "Saya juga." "Pak Ndaru nyebelin." "Seharusnya kamu sadar kalau kamu juga menyebalkan." Tersindir memang. Bukannya marah, Shana malah terkekeh. Dia membenarkan ucapan Ndaru. Karena menurut juga bukan hal yang Shana suka. Apalagi pada Handaru Atmadjiwo. "Maaf." Shana yang sudah memejamkan matanya, kembali membuka mata. "Maaf?" Seorang Handaru Atmadjiwo meminta maaf? "Sa
Rasa lelah tak lagi bisa ditahan. Pulang malam selalu jadi kebiasaan. Namun hal itu merupakan kewajiban. Tanggung jawab berat menjadi seorang pemimpin perusahaan. Malam ini Ndaru pulang jam 12 malam. Begitu larut karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sesuai prinsip hidupnya, dia tidak akan membawa pekerjaan ke rumah jika tidak dalam keadaan terdesak. Toh, kesehatan anaknya sudah mulai membaik. Shana juga sudah kembali ke rumah. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Setelah membersihkan diri, Ndaru tak langsung merebahkan diri. Dia keluar dari kamar dan menatap pintu kamar Juna dengan ragu. Berpikir apa dia harus masuk untuk melihat keadaan anaknya sebentar? Memang sebagai orang tua, Ndaru tak bisa bersikap tak acuh. Dia tetap melangkah untuk masuk ke dalam kamar Juna. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah dua manusia yang tertidur dengan saling berpelukan. Shana dan Juna, mereka tidur berdua. Ada rasa lega di hati Ndaru melihat ada seseorang yang bisa
Di rapat kedua, Ndaru mulai tidak fokus. Dia mendengarkan presentasi bawahannya dengan pandangan menerawang. Tidak ada yang tahu apa yang ada di kepalanya saat ini. Semua orang kompak berpikir bahwa Handaru Atmadjiwo tengah menyimak dengan serius. Kenyataan tentu berbanding terbalik. Ndaru terus melirik ponselnya di atas meja. Berharap ada notifikasi yang akan menjawab rasa gelisahnya. Namun sayang, hingga saat ini tak ada kabar yang datang. "Suster Nur hubungi kamu?" bisik Ndaru pada Gilang. Gilang yang tengah menyimak seketika menoleh. "Enggak, Pak. Kenapa?" "Gimana kabar Mas Juna? Dia rewel?" Gilang membuka ponselnya sambil menggeleng. "Kata Bu Shana nggak rewel, sih, Pak." "Shana?" Ndaru mengerutkan dahinya. "Dia hubungi kamu?" Gilang mengangguk polos. "Iya, tadi Bu Shana tanya tentang Dokter Hamdan. Terus sekalian periksa Mas Juna tadi, demamnya sudah turun katanya." "Kenapa dia tanya ke kamu? Kenapa nggak ke saya langsung?" Gilang ikut menunjukkan kebing
Kenapa Juna dan Shana bisa kompak seperti ini? "Ada Suster Nur yang bisa jaga anak kamu. Shana lagi sakit, saya nggak mau dia repot urus anak kamu." Ketus. Erina berbicara begitu tajam dan menohok. "Boleh saya ketemu Shana sebentar?" Entah kenapa Ndaru meminta hal itu. Dia hanya ingin memastikan jika gadis itu sedang sakit atau tidak. Bukan karena tidak percaya. Entah kenapa jauh di dalam hatinya ada rasa bersalah karena sudah berbicara tajam semalam yang mengakibatkan pertengkaran di antara mereka. "Dia tidur. Nggak usah diganggu." Baiklah, tidak ada pilihan lain. Ndaru juga tidak mau memaksa. Harga dirinya lebih tinggi dari itu. Selain itu Shana juga sakit. Ndaru tidak mau Juna tidak terawasi dengan baik dan maksimal. "Kalau begitu saya permisi." Saat Ndaru ingin berlalu, suara serak menghentikan langkahnya. "Mbak, mana jahe angetnya? Kok lama?" Shana menuruni tangga dengan wajah pucat. "Ngapain lo turun?!" bentak Erina tertahan. Dia melirik Ndaru dengan decakan
Suasana pagi di rumah Ndaru tampak begitu sepi hari ini. Tidak ada teriakan Juna yang berlarian dengan hanya mengenalan celana dalam, tidak ada teriakan Suster Nur yang mengejar Juna, dan tidak ada tawa Shana yang melihat kekonyolan keduanya. Semua tampak berbeda. Sejak pertengkaran Ndaru dan Shana semalam. Hari ini Ndaru membiarkan Juna tidak bersekolah. Mendadak suhu tubuh anaknya naik dengan diiringi badan yang lemas. Wajah pucat Juna membuat Ndaru menghela napas lelah. Semua ini karena tangisan anaknya semalam. "Mas Juna makan dulu, ya? Sedikit aja diisi perutnya," bujuk Ndaru sekali lagi sambil mengaduk bubur yang dibuat Bibi Lasmi khusus untuk Juna. "Nggak mau, Pa. Nggak enak." "Biar cepet sembuh, Mas. Katanya mau main sama temen-temen di sekolah?" Suster Nur ikut membujuk. "Mau main sama Mama." Suara serak Juna semakin membuat Ndaru menghela napas. Ndaru bangkit dari duduknya dan meletakkan mangkok bubur itu di atas meja. Tangan kanannya bergerak melepas dasi
Tak ingin berlarut-larut, Shana kembali melajukan mobilnya begitu pagar rumah telah terbuka sempurna. Suasana begitu sepi. Hanya terdapat dua satpam yang berjaga ditemani kopi dan gorengan. "Bu Shana sudah pulang?" sapa salah satu satpam sambil membuka pintu mobil untuknya. Shana hanya tersenyum tipis dengan anggukan. Memang jawaban apa yang harus ia beri? "Pak Nanang mana, Pak? Saya mau balikin kunci mobil," ucap Shana sambil meraih tasnya. Saat tak mendengar jawaban, gadis itu pun menoleh. Menatap satpam yang tampak menunduk sambil mengusap lehernya. "Kenapa, Pak?" "Anu, Bu... itu...," "Ada apa?" "Pak Nanang udah nggak kerja di sini lagi." Bingung. Kerutan di dahi Shana menunjukkan ekspresi bertanya-tanya. "Maksudnya?" "Pak Nanang dipecat, Mbak." "Kok bisa?" tanya Shana pelan. Seketika dia teringat dengan apa yang terjadi tadi siang. "Pak, jangan bilang karena saya...," Shana tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. "Iya, Mbak. Saya denger Pak Nanang dimara