Di ruangan privat itu, baik Guna dan Ndaru fokus pada pekerjaan masing-masing. Hidangan makan siang yang tersaji di hadapan mereka belum mereka sentuh sedikit pun. Mereka berdua tampak sibuk membahas sesuatu. Membahas hal yang membuat nama mereka goyah akhir-akhir ini.
"Aku jadi ikutan kena, Ru," keluh Guna. "Peluang suara menurun?" tanya Ndaru. "Betul, Pak. Sekitar dua persen, tapi Pak Guna tetap unggul dari caleg lain," jawab Rahmat, orang kepercayaan Guna. "Tetap kita nggak boleh jumawa, Mat. Pemilu masih tahun depan." Ndaru mendorong laptopnya lelah. Menyadari perubahan itu, Gilang pun mengambil alih. Dia ikut meringis melihat banyaknya email yang masuk. Rata-rata berasal dari para wartawan. Belum selesai dengan kabar duka dari Haryadi Atmadjiwo, mereka kembali menyerang atasannya dengan foto skandalnya. Setelah Harris memberi perintah tadi pagi, satu jam kemudian orang-orang Guna berhasil menghapus cuitan penyebar skandal itu. Bukan hanya cuitan, tetapi akunnya juga hilang. Bukan itu saja, Gilang juga sudah menemukan pelakunya. Karena itu mereka semua berkumpul di restoran ini, di ruangan privat ini, untuk menunggu kedatangan manusia yang mengganggu ketenangan mereka. "Kamu sudah tau perempuan itu, Ru?" tanya Guna. Ndaru menggeleng. Dia benar-benar tidak mau mencari tahu dengan membuka sosial media atau portal berita apapun. Dia lelah membaca artikel aneh tentang dirinya. Bahkan ketika cuitan itu telah dihapus, namanya masih menjadi trending. Jejak digital memang menakutkan. "Banyak yang bilang perempuan itu berprofesi sebagai penulis, Pak." Guna dan Ndaru kompak menatap Gilang. "Penulis?" tanya Guna. "Dia terkenal?" Gilang memberikan iPad-nya yang menampilkan biografi seseorang. "Shana Arkadewi, penulis novel fantasi yang cukup ternama." "Bukan orang biasa. Kamu yakin ini bukan kesengajaan?" Guna mulai was-was. Sekarang ia paham kenapa berita ini tidak tenggelam begitu saja. Bukan hanya nama Handaru Atmadjiwo yang menjadi perbincangan tetapi Shana Arkadewi juga. "Dia sudah memberi keterangan pada wartawan?" tanya Ndaru. "Hingga saat ini belum, Pak." Gilang menggeleng. Ndaru menatap Guna dengan bahu terangkat. "Artinya memang bukan disengaja." Guna mengusap wajahnya kasar. "Tetep aja dia bikin ulah." Benar. Ndaru membenarkan. Gadis itu benar-benar nekat menciumnya. Yang akhirnya membuat mereka terjebak pada banyak spekulasi negatif dari masyarakat. Ini tidak baik untuk citra mereka. "Kenapa biang kerok itu lama sekali? Aku ada pertemuan dengan ketum partai setelah ini." Guna kembali berdecak. Emosi pria itu benar-benar diuji akhir-akhir ini. "Sebentar lagi, Pak. Mereka sudah hampir sampai," jelas Gilang yang mendapat pesan dari salah satu pengawal Ndaru. Ya, Ndaru sudah mendapatkan tiga pengawal sejak tadi pagi. Suara ketukan pintu membuat perbincangan mereka terhenti. Pintu terbuka dan muncul dua pengawal Ndaru dan satu pria jangkung di belakangnya. Pria itu terlihat menunduk takut. "Silakan duduk," ucap Gilang. Pria itu segera duduk, tepat di hadapan Ndaru dan Guna. Siapa sangka jika ia akan disidang oleh dua saudara dari Atmadjiwo? Benar-benar menegangkan. "Wawan?" ucap Gilang sambil membaca profil pria itu. "Saya dengar kamu akan menikah bulan depan." "Pak, saya minta maaf, Pak." Wawan tiba-tiba langsung memohon. Dia memberanikan diri menatap Ndaru yang juga menatapnya lekat itu. Ndaru kembali melirik Gilang, meminta pria itu untuk melanjutkan ucapannya. "Maaf kalau kami mengganggu persiapan pernikahan Anda." Gilang menarik napas dalam. "Pihak Pak Ndaru akan menuntut Anda." "Pak, jangan! Saya mohon. Tweet saya juga sudah hilang, Pak." "Tidak menutup fakta kalau kamu sudah mencemarkan nama baik atasan saya," geram Gilang. "Saya akan lakukan apa saja, Pak. Asal jangan tuntut saya." "Dari media mana kamu?" tanya Ndaru pada akhirnya membuka suara. Wawan menggeleng cepat. "Saya bukan wartawan, Pak." "Terus apa keuntungan kamu menyebarkan foto itu?" Gilang mulai kesal. Tentu saja kesal, munculnya Wawan membuat pekerjaannya semakin bertambah. "Biar viral, Pak." Wawan menunduk takut. "Siapa tau saya jadi seleb." Bodoh! Sebenarnya Ndaru tidak mau ikut turun tangan menyelesaikan masalah ini. Bisa saja dia meminta Gilang untuk membereskan semuanya. Namun entah kenapa Ndaru benar-benar dibuat kesal dengan berita yang tersebar. Oleh karena itu dia ingin melihat sendiri seperti apa wujud orang yang mengusiknya itu. "Kalau Bapak mau, saya bisa bantu klarifikasi, Pak. Saya bisa bilang kalau foto itu editan." Wawan kembali berusaha. Guna mendengkus samar. Mulutnya sudah ingin mengumpat tetapi dia menahannya. Dia harus tetap tenang agar namanya tetap baik. "Kamu sudah buat laporannya, Lang?" tanya Ndaru. "Sudah, Pak." Ndaru kembali beralih pada Wawan. "Kamu boleh pergi. Tunggu surat panggilan dari polisi." "Pak, jangan, Pak." Wawan masih memohon tetapi Gilang dengan cepat meminta para pengawal untuk membawa pria itu pergi. Sekarang Gilang yang akan menyelesaikan sisanya. Dia yakin atasannya meminta Wawan pergi karena tidak ingin meledak di hadapan pria itu. "Aku harus pergi." Guna berdiri. "Selain partai, Pak Darma juga ingin mengetahui kebenaran berita itu, Ru." "Biar aku yang bicara dengan Pak Darma." Guna menggeleng dan menepuk bahu Ndaru. "Nggak perlu. Biar aku yang temui nanti. Kamu fokus sama masalah ini aja. Waktu kita nggak banyak. Kamu harus segera ambil alih perusahaan." Seketika kepala Ndaru kembali berdenyut. Dia ragu jika akan mendapat kepercayaan dari para petinggi perusahaan karena skandal itu. Dia juga curiga jika akan ada orang yang berusaha menusuknya dari belakang melalui skandal itu. "Pak Ndaru?" Gilang kembali setelah Guna pergi. "Mbak Shella ingin bertemu." Dahi Ndaru berkerut. Untuk apa adik iparnya itu ingin bertemu di saat keadaan begitu memusingkan? "Minta dia ke sini, Lang. Saya malas pindah tempat." "Baik, Pak." *** Makanan yang telah dipesan pun akhirnya tersentuh. Meskipun tidak bernafsu, Ndaru tetap berusaha untuk mengisi perutnya. Begitu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini. Membuat kepalanya hampir pecah. "Aku nggak liat Mas Ndaru semalam di rumah Mas Arya," tanya seorang wanita yang duduk di hadapan Ndaru. Wanita itu adalah Shella, adik dari almarhum istrinya. Meskipun hanya adik ipar, tetapi hubungan mereka cukup baik. Shella sering berkunjung ke Surabaya untuk melihat keadaan Juna. "Aku pulang duluan." "Mas Ndaru nginep di Atma Hotel?" Ndaru menghentikan kunyahannya. Dia meletakkan sendoknya dan mengelap bibirnya dengan tisu. "Kamu ingin bertemu untuk bahas masalah ini?" Jujur, Ndaru sudah tidak ingin membahas kebodohannya itu. "Bukan gitu, Mas. Aku cuma kaget aja liat berita." Shella menunduk. "Selama ini berita Mas Ndaru selalu bagus. Tapi yang ini... agak beda." "Kamu nggak perlu pikirin itu." "Jadi berita itu benar, Mas?" "Ada hal lain yang mau kamu bicarakan, La?" Ndaru tidak perlu basa-basi. Lagi pula dia tidak harus menceritakan masalahnya pada Shella. "Juna. Aku kangen Juna, Mas." Shella menunduk. "Juna nggak main ke sini?" "Besok atau lusa Mas Juna bisa ke sini. Kata dokter demamnya sudah turun." "Kayaknya Juna kangen sama mamanya, Mas." Shella menunduk sedih. "Mas Ndaru nggak mau ke makam Mbak Farah?" Sebenarnya niat itu terlintas di benak Ndaru. Namun keadaan benar-benar tidak memungkinkan. Kakaknya baru saja meninggal, bahkan tanah makamnya masih belum kering. Lalu masalah foto skandal tak senonohnya juga muncul. Ndaru tidak bisa berkeliaran dengan bebas. Para wartawan masih setia untuk mengikutinya dan meminta pernyataan darinya. Bukan bermaksud menghindar. Namun Ndaru tidak boleh salah mengambil langkah. Dia harus membicarakan masalah ini dengan keluarganya karena akan menyangkut banyak nama. Yang bisa Ndaru lakukan saat ini adalah menyelesaikan akarnya. "Nanti," jawan Ndaru singkat. "Aku bisa temenin Mas Ndaru." Ndaru mengangguk. "Terima kasih." "Mas?" Shella kembali memanggil. Wajahnya tidak tenang sama sekali. "Mas Ndaru deket sama Shana Arkadewi?" Ternyata masalah itu masih mengganggu Shella. Bahkan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. "Kamu kenal dia?" tanya Ndaru kembali fokus pada makanannya. "Shana?" Alis Shella bertaut. "Aku pernah ikut casting untuk filmnya dulu." Ndaru mengangguk paham. Sekarang dia yakin jika posisi Shana sama seperti dirinya. Yaitu, diikuti oleh banyak wartawan. Namun satu hal yang masih Ndaru tidak mengerti. Kenapa gadis itu menciumnya? Ah, memikirkannya kembali membuat Ndaru kesal. Andai saja waktu bisa berputar. "Masih ada yang perlu dibicarakan, La? Aku harus pergi. Ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan." Shella menggeleng. "Nggak ada, Mas. Aku juga ada pemotretan sebentar lagi." "Bawa mobil?" Shella menggeleng. "Boleh bareng, Mas?" "Ke mana?" "Studio Evana." "Kita beda arah." Ndaru beralih pada Gilang. "Minta salah satu bodyguard untuk antar Shella." "Baik, Pak." "Kalau nggak bisa, aku bisa berangkat sendiri, Mas." "Diantar aja." Ndaru berdiri. "Habiskan makan siang kamu baru pergi," ucapnya memakai jasnya. "Aku duluan." Ndaru pun pergi, meninggalkan Shella yang meletakkan sendoknya dengan lemas. Seketika dia tidak ingin menghabiskan makanannya. *** TBCAcara tahlilan telah selesai. Seperti biasa, keluarga Atmadjiwo kembali berkumpul di ruang keluarga. Bukan lagi untuk membahas perubahan strategi, melainkan skandal yang terjadi. Masa berkabung seolah tak lagi berarti. Ada hal genting lain yang menanti. Malam ini, Ndaru mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang dilipat hingga siku, serta celana chinos abu-abu. Dia memilih untuk duduk tenang di salah satu sofa. Terlepas dari apa yang menimpanya, Ndaru sangat pintar untuk menyembunyikan perasaannya. Padahal dalam hati dia juga dibuat pusing dengan apa yang terjadi. Bahkan saat ini, dia yakin jika akan kembali disidang. "Berita nggak mereda sama sekali," keluh Yanti. Dia cukup khawatir dengan karir politik suaminya. "Saham Atmadjiwo Grup juga menurun," lanjut Guna. Topik itu yang akan mereka bahas malam ini. Apa saja akibat yang mereka dapat dari skandal yang menyerang si bungsu. "Bahkan berita tentang kecelakaan Arya sudah tenggelam." "Seharusnya dari awal kamu ngga
Pagi ini Shana memilih untuk bermalas-malasan. Dia duduk di meja makan sambil menatap Erina yang sibuk ke sana-ke mari. Tampak bersiap untuk berangkat bekerja. Profesinya yang merupakan seorang chef selebriti tentu membuatnya cukup sibuk. Bahkan Erina memiliki tiga program acara unggulan di televisi. Yang berhubungan dengan kuliner tentu saja. "Gue udah bikin sarapan. Lo tinggal makan aja." Shana menyandarkan kepalanya dengan malas. "Gue pingin makan ketoprak." Erina berdecak. "Makan yang ada. Gue harus berangkat sekarang." Shana kembali menegakkan kepalanya. "Gue beneran nggak boleh keluar?" "Boleh, kalau lo mau dikeroyok wartawan." Shana berdecak, "Gila, ya? Masih aja rame bahas masalah kemarin." "Lo yang gila! Ngapain nyosor bibir orang? Mana yang disosor klan Atmadjiwo. Apa nggak heboh satu negara?" Shana mengusap hidungnya kasar. Sepertinya memang lebih baik dia diam. Seketika kepalanya pening saat Erina kembali mengomel. "Gue nggak bisa nulis apa-apa. Kepa
Tidak ada yang berubah hari ini. Semua berjalan seperti biasa. Masih dengan berita yang ramai diperbincangkan tentu saja. Namun Ndaru berusaha untuk mengabaikannya. Di dalam kamarnya, dia mencoba fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Cukup sulit bekerja dengan jarak jauh seperti ini. Namun Ndaru harus segera menyelesaikan semuanya sebelum kembali ke pusat. Baik Kakak dan Ayahnya sudah mendesaknya untuk segera mengambil alih induk perusahaan. Suara ketukan pintu membuat Ndaru mengalihkan pandangannya sebentar. Tanpa menjawab pun dia tahu jika Gilang yang mengetuk pintu kamarnya. Benar saja, tak lama asisten pribadinya itu masuk. "Permisi, Pak. Ini berkas yang Bapak minta semalam," ucap Gilang memberikan sebuah map coklat yang cukup tebal. "Sudah lengkap?" tanya Ndaru mulai membuka map itu. "Saya sedikit kesulitan untuk mencari tahu latar keluarganya, Pak." Ndaru mengangguk mengerti. Dia memaklumi kekurangan informasi yang Gilang cari. Toh, permintaannya memang menda
Sebagai kepala keluarga, tentu Harris Atmadjiwo tidak bisa tenang. Hatinya dikuasai rasa bimbang. Kematian anak tengahnya sudah cukup membuatnya terguncang. Lalu sekarang anak bungsunya kembali datang dengan masalah yang menantang. Seharusnya di usianya yang menginjak 71 tahun ini, Harris sudah bisa bersantai di hari tuanya. Kehidupan serta karir anak-anaknya juga sudah bagus dan menjanjikan. Namun siapa sangka jika dia tetap turun tangan saat ada permasalahan yang menyangkut nama Atmadjiwo. Bukan usaha yang mudah untuknya membangun kerajaan bisnis hingga seperti ini. Harris percaya jika nama baik akan memberikan banyak keuntungan. Mulai dari kepercayaan rekan bisnis hingga kepercayaan masyarakat. Meski ada juga yang membenci, tetapi suara mereka tidak terlalu vokal. Lalu sekarang, setelah bertahun-tahun hidup tenang, keluarganya terguncang dengan satu skandal. Skandal yang untuk pertama kalinya sulit mereka atasi. Sekali lagi, nama baik Atmadjiwo sangat penting untuknya. Ha
Meskipun hari sudah malam, tetapi suasana bandara tetap ramai. Sayangnya itu tidak berlaku untuk di dalam kendaraan. Keadaan benar-benar sangat tenang. Namun juga menegangkan. Perjanjian kontrak yang telah disetujui seolah tidak ada artinya. Tembok besar masih berdiri kokoh sebagai pemisah. Maklum tentu menjadi dasar utama. Pertemuan awal yang tidak baik tentu tak bisa memperbaiki hubungan keduanya. Shana memilih untuk melihat ke luar jendela. Mulutnya juga masih tertutup rapat. Bahkan sejak satu jam yang lalu saat perjalanan dimulai. Shana tidak tahu apa yang Ndaru lakukan di sampingnya. Lagi pula Shana juga tidak ingin mencari tahu. Pria itu terlalu fokus menutup mulut dan menatap layar iPad-nya. "Semua sudah selesai, kan, Lang? Saya tinggal menghadiri acara perpisahan." Untuk pertama kalinya Ndaru membuka suara setelah satu jam lebih terjadi keheningan. "Betul, Pak. Tiga hari lagi Bapak bisa ke Surabaya." Shana masih diam, meski sesekali dia juga mencuri dengar. Dia i
Roda kehidupan terus berputar tanpa henti. Mengundang masalah untuk datang silih berganti. Sebagai manusia kita hanya bisa meyakinkan diri. Jika masalah datang bukan tanpa arti. Ada makna dan pembelajaran yang bisa menguatkan hati. Ndaru adalah orang yang sangat disiplin. Dia selalu bangun pagi untuk menjalankan kewajiban dan aktivitasnya. Selarut apapun dia tidur, matanya otomatis akan terbuka jika waktu Subuh tiba. Mungkin bisa dihitung jari kapan ia bangun terlambat. Kegiatan pagi yang sering ia lakukan adalah berenang. Ini pertama kalinya Ndaru mencoba kolam renang di rumah barunya. Tanpa peduli dengan suhu air yang cukup dingin, dia tetap menenggelamkan tubuhnya di sana. Berenang dari ujung-ke ujung sampai ia merasa puas dan lelah. Tangan besar Ndaru mengusap wajahnya kasar. Menghilangkan tetes air yang mengganggu pandangannya. Kepalanya mendongak menatap langit gelap. Semburat biru perlahan mulai mengintip. Menandakan jika matahari akan muncul sebentar lagi. Ndaru
Sebenarnya, bukan gaya Atmadjiwo untuk selalu tampil di layar televisi. Biasanya, mereka akan memanggil satu media terpercaya untuk menyebarkan press realease. Namun akhir-akhir ini alur kegiatan keluarga mereka mulai berubah. Tidak lagi begitu misterius. Karena apa? Karena ada kepentingan tersendiri yang membutuhkan perhatian publik. Adhiguna Amir ingin menjadi anggota dewan dan Handaru Gama ingin mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Mereka sama-sama memiliki kepentingan. Bukan hanya mereka berdua, tetapi Harris Atmadjiwo juga. Sebagai tokoh visioner keluarga, dia juga memiliki kepentingan. Selama menjadi pembisnis, dia tidak pernah ikut terjun ke politik. Dia selalu bermain rapi di belakangnya. Memberi dan memfasilitasi semua keperluan dengan harapan orang-orang yang ia dukung akan membantu bisnisnya. Itu yang masih ia lakukan hingga saat ini. Kepergian Haryadi secara mendadak tentu menjadi pukulan berat. Mereka harus merubah strategi dan rencana keluarga. Namun skandal se
Erina tidak tahu apa tujuan Shana menculiknya. Saat ia memutuskan untuk bersantai di rumah, tiba-tiba adiknya memaksanya untuk ikut dengannya. Terpaksa Erina harus meminta Fathur yang akan datang berkunjung untuk putar balik. Karena Shana tidak akan membiarkannya berada di rumah malam ini. "Ngapain kita ke sini?" tanya Erina menatap bangunan khas di depannya dengan wajah tak suka. Djiwo Resto adalah salah satu pesaingnya di dunia kuliner. Erina kesal saat harus mengingat jika restorannya selalu berada di bawah peringkat Djiwo Resto. "Makan malem. Gue yang traktir." "Nggak mau!" Erina berniat untuk menghentikan taksi, tetapi Shana lebih dulu menariknya. "Kenapa, sih, Mbak? Nurut aja buat malam ini." "Lo ngapain bawa gue ke sini? Kalau mau traktir makan bisa di restoran lain. Atau enggak di warung tenda pinggir jalan. Mending di situ dari pada di sini," gerutunya. Shana meringis menyadari kekesalan Erina. Gadis itu memang sangat sensitif akhir-akhir ini jika berhubungan
"Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri
Handaru sangat menghormati ayahnya. Di matanya, Harris Atmadjiwo adalah seorang panutan yang luar biasa. Bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga untuk ribuan manusia yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanpa otak jeniusnya, Atmadjiwo Grup tidak akan pernah ada. Sebagai penerusnya, Ndaru tentu banyak belajar dari ayahnya. Mulai dari cara berbisnis hingga cara mengatasi masalah. Seperti saat ini, Ndaru terjebak pada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukannya panik, Ndaru justru bersikap santai. Menyikapi pertanyaan ayahnya yang terlihat marah itu dengan tenang. Ndaru memilih ruang kerjanya untuk berbicara empat mata. Hanya di tempat ini ayahnya bisa meluapkan kekesalannya dengan leluasa. Lalu Ndaru akan siap mendengarnya. "Bukan hal serius, Pa." "Bukan hal serius gimana? Kamu tidur berdua sama dia, Mas!" "Ada Juna di tengah." Ndaru mengelak. "Tapi yang Papa liat tadi nggak seperti itu." Harris memijat keningnya. "Sebenarnya Papa malu untuk ikut campur masal
Shana memang bukan orang yang rajin, dia mengakui itu. Di akhir pekan, biasanya dia memanfaatkan waktunya untuk bermalas-malasan. Namun kali ini berbeda. Tepat menjelang subuh, mata Shana terbuka dengan sendirinya. Dia terbangun tanpa alarm. Hal yang jarang terjadi pada dirinya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kepala Juna. Posisi mereka masih sama, saling berpelukan. Bedanya, tak ada lagi Ndaru di sisi ranjang. Tangan Shana mulai meraba, tidak merasakan dingin. Masih ada rasa hangat di sana, artinya Ndaru belum lama pergi. Shana melepas pelukannya dan berbaring terlentang. Menatap langit kamar dengan tatapan menerawang. Memikirkan kejutan yang Shana dapatkan semalam. Bukan karena Ndaru yang meminta maaf terlebih dahulu, melainkan setelahnya, yaitu mengenai Nurdin Hasan. Siapa sangka jika Nurdin Hasan akan mengundang Ndaru? "Sudah bangun?" Lamunan Shana buyar. Dia menoleh dan melihat Ndaru keluar dari kamar mandi kamar Juna dengan wajah basah. "Saya pikir Pa
Shana kembali berbaring sepenuhnya dan memeluk Juna erat. Ndaru mendengkus dan tetep berjalan menuju pintu kamar. Bukan untuk keluar, melainkan untuk menutup pintu rapat. Berhasil, ucapan Shana berhasil membuatnya memilih tinggal malam ini. "Malam ini saja." Ndaru berjalan ke sisi ranjang kosong dan mulai merebahkan diri. Baiklah, tak masalah. Toh, ini bukan yang pertama mereka tidur bersama. Shana tersenyum penuh arti. Matanya begitu sayu karena kantuk yang masih menyerang. "Sebenernya saya masih kesel sama Bapak," bisik gadis itu. Ndaru memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Shana. "Saya juga." "Pak Ndaru nyebelin." "Seharusnya kamu sadar kalau kamu juga menyebalkan." Tersindir memang. Bukannya marah, Shana malah terkekeh. Dia membenarkan ucapan Ndaru. Karena menurut juga bukan hal yang Shana suka. Apalagi pada Handaru Atmadjiwo. "Maaf." Shana yang sudah memejamkan matanya, kembali membuka mata. "Maaf?" Seorang Handaru Atmadjiwo meminta maaf? "Sa
Rasa lelah tak lagi bisa ditahan. Pulang malam selalu jadi kebiasaan. Namun hal itu merupakan kewajiban. Tanggung jawab berat menjadi seorang pemimpin perusahaan. Malam ini Ndaru pulang jam 12 malam. Begitu larut karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sesuai prinsip hidupnya, dia tidak akan membawa pekerjaan ke rumah jika tidak dalam keadaan terdesak. Toh, kesehatan anaknya sudah mulai membaik. Shana juga sudah kembali ke rumah. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Setelah membersihkan diri, Ndaru tak langsung merebahkan diri. Dia keluar dari kamar dan menatap pintu kamar Juna dengan ragu. Berpikir apa dia harus masuk untuk melihat keadaan anaknya sebentar? Memang sebagai orang tua, Ndaru tak bisa bersikap tak acuh. Dia tetap melangkah untuk masuk ke dalam kamar Juna. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah dua manusia yang tertidur dengan saling berpelukan. Shana dan Juna, mereka tidur berdua. Ada rasa lega di hati Ndaru melihat ada seseorang yang bisa
Di rapat kedua, Ndaru mulai tidak fokus. Dia mendengarkan presentasi bawahannya dengan pandangan menerawang. Tidak ada yang tahu apa yang ada di kepalanya saat ini. Semua orang kompak berpikir bahwa Handaru Atmadjiwo tengah menyimak dengan serius. Kenyataan tentu berbanding terbalik. Ndaru terus melirik ponselnya di atas meja. Berharap ada notifikasi yang akan menjawab rasa gelisahnya. Namun sayang, hingga saat ini tak ada kabar yang datang. "Suster Nur hubungi kamu?" bisik Ndaru pada Gilang. Gilang yang tengah menyimak seketika menoleh. "Enggak, Pak. Kenapa?" "Gimana kabar Mas Juna? Dia rewel?" Gilang membuka ponselnya sambil menggeleng. "Kata Bu Shana nggak rewel, sih, Pak." "Shana?" Ndaru mengerutkan dahinya. "Dia hubungi kamu?" Gilang mengangguk polos. "Iya, tadi Bu Shana tanya tentang Dokter Hamdan. Terus sekalian periksa Mas Juna tadi, demamnya sudah turun katanya." "Kenapa dia tanya ke kamu? Kenapa nggak ke saya langsung?" Gilang ikut menunjukkan kebing
Kenapa Juna dan Shana bisa kompak seperti ini? "Ada Suster Nur yang bisa jaga anak kamu. Shana lagi sakit, saya nggak mau dia repot urus anak kamu." Ketus. Erina berbicara begitu tajam dan menohok. "Boleh saya ketemu Shana sebentar?" Entah kenapa Ndaru meminta hal itu. Dia hanya ingin memastikan jika gadis itu sedang sakit atau tidak. Bukan karena tidak percaya. Entah kenapa jauh di dalam hatinya ada rasa bersalah karena sudah berbicara tajam semalam yang mengakibatkan pertengkaran di antara mereka. "Dia tidur. Nggak usah diganggu." Baiklah, tidak ada pilihan lain. Ndaru juga tidak mau memaksa. Harga dirinya lebih tinggi dari itu. Selain itu Shana juga sakit. Ndaru tidak mau Juna tidak terawasi dengan baik dan maksimal. "Kalau begitu saya permisi." Saat Ndaru ingin berlalu, suara serak menghentikan langkahnya. "Mbak, mana jahe angetnya? Kok lama?" Shana menuruni tangga dengan wajah pucat. "Ngapain lo turun?!" bentak Erina tertahan. Dia melirik Ndaru dengan decakan
Suasana pagi di rumah Ndaru tampak begitu sepi hari ini. Tidak ada teriakan Juna yang berlarian dengan hanya mengenalan celana dalam, tidak ada teriakan Suster Nur yang mengejar Juna, dan tidak ada tawa Shana yang melihat kekonyolan keduanya. Semua tampak berbeda. Sejak pertengkaran Ndaru dan Shana semalam. Hari ini Ndaru membiarkan Juna tidak bersekolah. Mendadak suhu tubuh anaknya naik dengan diiringi badan yang lemas. Wajah pucat Juna membuat Ndaru menghela napas lelah. Semua ini karena tangisan anaknya semalam. "Mas Juna makan dulu, ya? Sedikit aja diisi perutnya," bujuk Ndaru sekali lagi sambil mengaduk bubur yang dibuat Bibi Lasmi khusus untuk Juna. "Nggak mau, Pa. Nggak enak." "Biar cepet sembuh, Mas. Katanya mau main sama temen-temen di sekolah?" Suster Nur ikut membujuk. "Mau main sama Mama." Suara serak Juna semakin membuat Ndaru menghela napas. Ndaru bangkit dari duduknya dan meletakkan mangkok bubur itu di atas meja. Tangan kanannya bergerak melepas dasi
Tak ingin berlarut-larut, Shana kembali melajukan mobilnya begitu pagar rumah telah terbuka sempurna. Suasana begitu sepi. Hanya terdapat dua satpam yang berjaga ditemani kopi dan gorengan. "Bu Shana sudah pulang?" sapa salah satu satpam sambil membuka pintu mobil untuknya. Shana hanya tersenyum tipis dengan anggukan. Memang jawaban apa yang harus ia beri? "Pak Nanang mana, Pak? Saya mau balikin kunci mobil," ucap Shana sambil meraih tasnya. Saat tak mendengar jawaban, gadis itu pun menoleh. Menatap satpam yang tampak menunduk sambil mengusap lehernya. "Kenapa, Pak?" "Anu, Bu... itu...," "Ada apa?" "Pak Nanang udah nggak kerja di sini lagi." Bingung. Kerutan di dahi Shana menunjukkan ekspresi bertanya-tanya. "Maksudnya?" "Pak Nanang dipecat, Mbak." "Kok bisa?" tanya Shana pelan. Seketika dia teringat dengan apa yang terjadi tadi siang. "Pak, jangan bilang karena saya...," Shana tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. "Iya, Mbak. Saya denger Pak Nanang dimara