Ketenangan kembali menyapa. Namun sayang Ndaru tidak bisa memejamkan mata. Dia menatap jalanan dengan mata terbuka. Mencoba menerka jalan hidupnya yang tak akan lagi sama.
"Sepertinya Bapak butuh pengawal untuk beberapa hari ke depan." Gilang berucap. "Saya lihat ada beberapa wartawan yang nekat mengikuti kita." "Mereka merepotkan." Ndaru mengeluh. Padahal dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. "Bapak adalah bagian dari keluarga Atmadjiwo kalau lupa." "Nama saya tidak seharum kedua kakak saya." "Justru itu." Gilang menoleh. "Bapak misterius. Ya... meskipun keluarga Atmadjiwo memang tertutup, tapi Bapak berbeda. Itu yang membuat publik penasaran." Tanpa diduga Ndaru tersenyum kecut. Dia mengerti maksud ucapan Gilang. Kedua kakaknya memang memiliki nama yang harum. Berbeda dengan dirinya yang seolah menyembunyikan diri. Sebenarnya sama saja, hanya saja Ndaru memilih untuk tidak berhubungan langsung dengan publik. Bukan bermaksud menjauhi keluarga. Hanya saja Ndaru memiliki alasan tersendiri kenapa ia mengasingkan diri. "Sudah saatnya Pak Ndaru kembali." Kadang ucapan Gilang bisa membuat pikiran Ndaru kembali lurus. "Pak Guna akan masuk ke dunia politik. Demi menarik simpati masyarakat, Pak Guna tidak bisa lagi memimpin perusahaan. Hanya Pak Ndaru yang bisa." "Nanti saya pikirkan." Ndaru mengakhiri diskusi singkat mereka. Perjalanan kembali hening. Ndaru masih menatap jendela mobil sedangkan Gilang fokus pada iPad-nya. "Pak, sepertinya kita tidak bisa ke apartemen," ucap Gilang setelah membaca pesan dari keamanan apartemen. "Ada banyak wartawan di sana. Dipastikan sudah ada yang berhasil menyusup masuk." Ndaru menghela napas kasar. "Cari tempat yang aman, Lang. Saya benar-benar butuh tidur tanpa gangguan." "Baik, Pak." Gilang kembali fokus pada ponselnya. Tak lama ia kembali berbicara. "Kita ke Atma Hotel untuk sementara, Pak. Saya harus mengurus keamanan apartemen dulu sebelum Bapak kembali ke sana." Ndaru mengangguk. Benar, Atma Hotel bisa menjadi pilihan. Hotel bintang 6 itu adalah salah satu properti milik Atmadjiwo Grup. Keamanan hotel tentu tidak perlu diragukan. "Kita ke Atma Hotel, Pak," ucap Gilang pada sopir keluarga yang menemani mereka sejak tiba di Jakarta. Mobil yang Ndaru naiki masuk ke dalam area Hotel tanpa hambatan. Berbeda dengan beberapa mobil di belakang yang harus mendapat pemeriksaan. Dapat dipastikan keamanan akan semakin diperketat. Kedatangan Handaru Atmadjiwo yang dikenal sebagai Aset Negara dan Duda Incaran Satu Indonesia itu tentu menarik perhatian masyarakat. Bahkan Gilang sudah berkata jika namanya trending di beberapa sosial media. Konyol. Saat ini mereka sudah berada di dalam Atma Hotel. Ndaru dibawa ke sebuah ruangan yang digunakan untuk para tamu VIP. Sambutan hangat ia dapatkan, lengkap dengan fasilitas yang memanjakan. "Jika Pak Ndaru menginginkan sesuatu, bisa langsung hubungi saya, Pak," ujar manager hotel. "Terima kasih," balas Ndaru. "Bapak tunggu di sini sebentar. Saya harus cek kamar Bapak dulu," ujar Gilang diikuti oleh manager hotel. Meninggalkan Ndaru sendiri yang tak ingin diganggu. Sekali lagi. Dia lelah. Getaran pada ponsel Ndaru rasakan. Dia membuka ponselnya dan melihat nama pengasuh anaknya. Ah, lagi-lagi Ndaru melupakan Juna. Dia mengangkat panggilan itu cepat. Seketika rasa khawatir melanda. Ada apa wanita itu menghubunginya tengah malam seperti ini? Gambar yang pertama kali muncul adalah wajah anaknya. Seketika senyum Ndaru mengembang. "Papa," suara menggemaskan itu begitu Ndaru rindukan. "Kenapa Mas Juna belum tidur?" Selagi menunggu Gilang, Ndaru akan melepas rindu dengan anaknya yang merengek karena merindukannya. *** Tengah malam, Shana terbangun dari tidurnya. Sudah menjadi kebiasaan jika dia sering terjaga secara tiba-tiba. Cukup mengganggu tidurnya, tetapi ini sudah menjadi kebiasaannya sejak beberapa tahun terakhir. Dengan malas, Shana keluar dari kamar dengan satu gelas kosong. Dia ingin mengambil air putih demi menyegarkan diri kembali. Saat melewati sofa ruang tengah, Shana mendengar sesuatu. Dia berhenti berjalan dengan kening berkerut. Seperti suara getaran ponsel. Shana membuka tumpukan bantal sofa dan menemukan sebuah ponsel di sana. Bukan ponselnya, melainkan ponsel Dito. Ternyata ponsel pria itu tertinggal saat ia pergi dengan tergesa untuk menemui Jodi tadi. Kening Shana berkerut saat melihat ada 12 panggilan tak terjawab dari Kiki, asisten Dito. Sepertinya ada yang penting karena Kiki melakukan panggilan berkali-kali. Shana yang tidak bisa tidur, memilih untuk kembali ke kamar. Dia mengganti pakaian tidurnya yang tipis dengan pakaian tebal. Tak lupa ia juga mengambil kacamatanya. Setelah itu dia meraih kunci mobil dan bergegas keluar. Dia memutuskan untuk mengantar ponsel Dito. Shana takut jika panggilan Kiki memang benar-benar penting. Saat di dalam mobil, ponsel Shana berdering. Ada nama Bagas di sana, manager kafenya. "Halo?" sapa Shana. "Mbak! Gawat, Mbak!" Bagas terdengar panik di seberang sana. "Ada apa, Gas? Ngomong yang bener." "Saya liat Mas Dito di hotel sama cewek!" ucap Bagas menggebu. "Sialan! Emang bener mokondo tuh cowok." Shana terdiam dengan kaku. Dia mengabaikan segala gerutuan dan umpatan Bagas di seberang sana. Ia berusaha untuk mencerna semuanya. "Lo nggak salah liat, Gas?" Akhirnya Shana menemukan suaranya kembali. "Beneran, Mbak! Ini saya lagi di acara pesta bujang temen saya sebelum nikah. Saya liat Mas Dito masuk ke kamar sebelah." "Di Hotel mana, Gas?" "Atma Hotel, Mbak." Bagas kembali mengumpat. "Anjrit! Niat banget sampe check in di hotel bintang 6. Udah, Mbak. Putusin aja!" "Gue boleh minta tolong?" "Apa, Mbak? Labrak Mas Dito? Boleh banget, temen saya banyak di sini." "Bukan." Shana memejamkan matanya erat. "Nanti lo bilang ke resepsionis hotel kalau gue juga temen lo. Biar dibolehin masuk." Dia juga tahu jika penjagaan Atma Hotel begitu ketat. "Mbak Shana mau labrak Mas Dito sendiri?" "Iya." Sekarang Shana tahu jika perubahan Dito bukan karena Jodi, melainkan ada wanita lain. *** Memang benar jika komitmen tidak selalu menjamin kesetiaan. Perubahan akan terjadi jika ada kejenuhan. Namun apa harus dengan pengkhianatan? Apa susahnya mengakhiri sebuah hubungan? Egois untuk akhir yang baik lebih bagus dari pada menutupi kesalahan. Shana menatap pintu kamar hotel di depannya dengan datar. Jangan berpikir jika ia tidak marah. Tentu ia marah. Namun dia sudah tidak tahu bagaimana rasanya mengungkapkan rasa kesalnya. Shana lelah dengan segala tingkah Dito yang mengecewakannya. "Mau saya bantu dobrak, Mbak?" bisik Bagas dari belakang tubuhnya. Shana menarik napas dalam dan menggeleng. Dia melirik Bagas sebentar dan beralih pada teman-teman pria itu yang juga ikut mengintip dari kamar sebelah. Dalam hati Shana mendengkus. Dia tidak percaya jika Bagas membawa supporter untuk drama malam ini. "Lo balik aja," perintah Shana. "Balik ke acara lo tadi. Biar Dito gue yang urus." "Tapi Mbak—" "Please, Gas." "Oke." Akhirnya Bagas menyerah. Dia berjalan ke kamar temannya dengan pelan. Sesekali menoleh berharap jika Shana akan memanggilnya. "Gas?" panggil Shana tiba-tiba. "Ya, Mbak?" Dengan semangat Bagas kembali mendekat. "Pastiin temen-temen lo tutup mulut." Shana menghela napas kasar. "Gue nggak mau jadi trending lagi di X." Bagas tertawa. "Sejak Mbak Shana pacaran sama Mas Dito, Mbak selalu jadi trending topic." Dia mengabaikan wajah kesal Shana. "Netizen aja masih heran kenapa seorang Shana Arkadewi, penulis cerita fantasi terkenal mau pacaran sama sutradara playboy kayak Dito Alamsyah?" Menyadari Shana yang tidak ikut tertawa, Bagas menghentikan ucapannya. Dia menepuk bibirnya berkali-kali karena sudah kelewatan. Akhirnya dia memilih untuk menunduk sebentar dan undur diri. Bagas tidak mau membuat Shana lebih marah dan memutasinya ke cabang kafe luar kota. Begitu telah memastikan Bagas dan teman-temannya masuk, Shana kembali menatap pintu di hadapannya. Pintu kamar yang Bagas yakini sebagai kamar Dito bersama selingkuhannya. Sebelum mengetuk pintu, Shana kembali menarik napas dalam. Jika ucapan Bagas terbukti benar maka dia akan berhenti. Keberadaan Dito di hidupnya tidak bagus untuk kesehatan mentalnya. Shana mengetuk pintu. Sekali tidak ada jawaban. Dua kali masih tidak ada jawaban. Untuk yang ketiga kalinya, dia mengetuknya dengan keras. Bahkan dengan menggunakan kepalan tangannya. Rencananya pun berhasil. Pintu terbuka dan muncul Dito dengan wajah bantalnya. Pria itu hanya mengenakan celana pendek boxer-nya. Seperti melihat hantu, Dito terkejut dengan keberadaannya. Sepertinya pria itu lebih memilih untuk melihat hantu untuk saat ini dari pada dirinya. "Shana?" Dito bergerak untuk menutup pintu di belakangnya. "Kamu di sini?" "Mana Jodi?" tanya Shana tenang. "Jo—jodi?" Dito terlihat panik. "Dia barusan pulang." "Oh." Shana mengangguk mengerti. Dia tiba-tiba terdiam membuat Dito bingung. Namun kelengahan itu Shana manfaatkan. Gadis itu mendorong Dito kuat dan masuk ke dalam kamar. Suara televisi yang menyala dengan pelan membuat Shana curiga. Benar saja, di atas tempat tidur, dia bisa melihat seorang wanita yang tengah bersantai. Dengan keadaan setengah telanjang. "Shana!" Dito menyusulnya. "Sayang, dengerin aku. Ini nggak seperti yang kamu pikirin." Shana berbalik menatap Dito. Tatapannya masih sama. Terlihat datar tanpa ekspresi marah. Dengan santainya dia memberikan ponsel Dito yang tertinggal. "HP kamu ketinggalan tadi." "Shana, kamu salah paham, Sayang." Dito melempar ponselnya dan berusaha meraih tangan Shana. Shana bergerak mundur cepat. Dia tidak sudi Dito menyentuhnya. "Mulai sekarang kita putus." Akhirnya Shana berhasil mengucapkan kalimat itu. "Enggak! Nggak mau, aku nggak mau!" Wajah Dito mulai memerah. Dia masih berusaha meraih Shana. "Jangan putusin aku. Aku bisa jelasin semuanya." Shana melirik jam tangannya sebentar. "Sudah malam. Aku harus pulang." Lalu ia berbalik pada wanita yang masih berada di atas tempat tidur. Terlihat takut dengan cengkeraman erat pada selimut untuk menutupi tubuhnya. "Untuk kalian berdua, selamat bersenang-senang. Saya permisi." Setelah itu Shana pun benar-benar pergi. Langkahnya tampak lebar, berusaha untuk menghindari Dito. Ternyata pria itu tidak menyerah. "Shana! Aku nggak mau putus!" Dito berteriak dari dalam kamar. Dia tampak repot mengenakan pakaiannya kembali. Shana memilih abai. Dia menekan lift untuk segera membawanya pergi. Dalam hati dia berdoa agar Dito tidak mengejarnya. Namun takdir berkata lain. Dari sudut matanya, Shana bisa melihat pria itu keluar kamar dengan tergesa. Rahang Shana mengeras, mengumpat pada lift yang tak kunjung terbuka. Hingga pada akhirnya pintu lift pun terbuka. Shana mengangkat wajahnya dan melihat seorang pria yang ingin keluar dari lift. Panggilan Dito benar-benar meresahkan dan membuatnya panik. Hingga pada akhirnya Shana pun melakukan hal gila. Dia menarik pria asing yang keluar dari lift tadi dan mencengkeram erat kerah kemejanya. Pria itu menatapnya terkejut. Namun percayalah, Shana juga terkejut dengan apa yang ia lakukan. "Maaf," gumamnya yang mulai berjinjit untuk mencium pria itu, tepat di bibir. Benar. Shana memang sudah gila. Pikirannya juga kacau. Hatinya sangat hancur. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghindari Dito. Dia membenci pria itu. "Shana, apa-apaan?" teriakan Dito semakin jelas terdengar. Shana merasakan adanya perlawanan dari pria asing yang ia cium secara tiba-tiba. Dengan cepat kedua tangannya berpindah untuk menahan wajah pria itu. Matanya juga terpejam agar tidak melihat keadaan sekitar. Jujur, Shana takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini. "Shana!" Dito bergerak memisahkannya dengan pria itu. Pada akhirnya Shana pun melepaskan ciumannya. "Kamu gila!" teriak Dito marah. "Aku juga bisa, Dito. Aku juga bisa," lirih Shana pelan. Tanpa ia sadari jika air mata yang ia tahan sedari tadi ternyata sudah jatuh entah sejak kapan. "Kamu keterlaluan, Shana!" Wajah Dito memerah. Shana tidak menjawab. Dia menarik pria asing itu dan membawanya kembali masuk ke dalam lift. Dito tidak lagi mengejarnya. Mungkin pria itu juga masih terkejut melihat aksinya. Shana menekan angka 18 pada lift, tepat satu lantai di bawah kejadian tak terduga tadi. Begitu lift terbuka, Shana keluar meninggalkan pria itu dengan menunduk. Sebelum pintu lift tertutup, dia pun berbalik. Ternyata pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Maaf," gumam Shana sekali lagi sebelum akhirnya pintu lift pun benar-benar tertutup. Detik itu juga, Shana pun jatuh terduduk. Tenaganya benar-benar habis dikuras oleh emosi. Dia memang tidak menangis terisak, tetapi percaya lah melihat Shana menangis adalah suatu kemustahilan. *** TBCRasanya seperti baru lima menit tertidur. Ndaru terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Keadaan kamar hotel yang ia tiduri masih gelap, tetapi dia bisa melihat cahaya mulai mengintip dari balik tirai jendela. Ndaru segera terduduk sambil mengusap wajahnya. Dia meraih ponsel dan melihat jam yang tertera. Jam tujuh pagi, artinya dia terlambat bangun. Suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini terkesan lebih keras dan cepat dari sebelumnya. "Pak Ndaru?" Itu suara Gilang. "Ya," balas Ndaru bergegas membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya langsung. Gilang menghela napas kasar. Dia menatap atasannya itu dengan tatapan lelah. Ada apa? Seingat Ndaru dia tidak memiliki kegiatan pagi ini. "Apa yang terjadi semalam, Pak?" tanya Gilang. Seketika kantuk Ndaru hilang. Dia menatap asistennya lekat. "Apa maksud kamu?" Gilang memberikan sebuah iPad yang menampilkan beberapa gambar tangkapan layar. Ada beberapa potret yang sangat Ndaru kenal. "
Di ruangan privat itu, baik Guna dan Ndaru fokus pada pekerjaan masing-masing. Hidangan makan siang yang tersaji di hadapan mereka belum mereka sentuh sedikit pun. Mereka berdua tampak sibuk membahas sesuatu. Membahas hal yang membuat nama mereka goyah akhir-akhir ini. "Aku jadi ikutan kena, Ru," keluh Guna. "Peluang suara menurun?" tanya Ndaru. "Betul, Pak. Sekitar dua persen, tapi Pak Guna tetap unggul dari caleg lain," jawab Rahmat, orang kepercayaan Guna. "Tetap kita nggak boleh jumawa, Mat. Pemilu masih tahun depan." Ndaru mendorong laptopnya lelah. Menyadari perubahan itu, Gilang pun mengambil alih. Dia ikut meringis melihat banyaknya email yang masuk. Rata-rata berasal dari para wartawan. Belum selesai dengan kabar duka dari Haryadi Atmadjiwo, mereka kembali menyerang atasannya dengan foto skandalnya. Setelah Harris memberi perintah tadi pagi, satu jam kemudian orang-orang Guna berhasil menghapus cuitan penyebar skandal itu. Bukan hanya cuitan, tetapi akunnya ju
Acara tahlilan telah selesai. Seperti biasa, keluarga Atmadjiwo kembali berkumpul di ruang keluarga. Bukan lagi untuk membahas perubahan strategi, melainkan skandal yang terjadi. Masa berkabung seolah tak lagi berarti. Ada hal genting lain yang menanti. Malam ini, Ndaru mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang dilipat hingga siku, serta celana chinos abu-abu. Dia memilih untuk duduk tenang di salah satu sofa. Terlepas dari apa yang menimpanya, Ndaru sangat pintar untuk menyembunyikan perasaannya. Padahal dalam hati dia juga dibuat pusing dengan apa yang terjadi. Bahkan saat ini, dia yakin jika akan kembali disidang. "Berita nggak mereda sama sekali," keluh Yanti. Dia cukup khawatir dengan karir politik suaminya. "Saham Atmadjiwo Grup juga menurun," lanjut Guna. Topik itu yang akan mereka bahas malam ini. Apa saja akibat yang mereka dapat dari skandal yang menyerang si bungsu. "Bahkan berita tentang kecelakaan Arya sudah tenggelam." "Seharusnya dari awal kamu ngga
Pagi ini Shana memilih untuk bermalas-malasan. Dia duduk di meja makan sambil menatap Erina yang sibuk ke sana-ke mari. Tampak bersiap untuk berangkat bekerja. Profesinya yang merupakan seorang chef selebriti tentu membuatnya cukup sibuk. Bahkan Erina memiliki tiga program acara unggulan di televisi. Yang berhubungan dengan kuliner tentu saja. "Gue udah bikin sarapan. Lo tinggal makan aja." Shana menyandarkan kepalanya dengan malas. "Gue pingin makan ketoprak." Erina berdecak. "Makan yang ada. Gue harus berangkat sekarang." Shana kembali menegakkan kepalanya. "Gue beneran nggak boleh keluar?" "Boleh, kalau lo mau dikeroyok wartawan." Shana berdecak, "Gila, ya? Masih aja rame bahas masalah kemarin." "Lo yang gila! Ngapain nyosor bibir orang? Mana yang disosor klan Atmadjiwo. Apa nggak heboh satu negara?" Shana mengusap hidungnya kasar. Sepertinya memang lebih baik dia diam. Seketika kepalanya pening saat Erina kembali mengomel. "Gue nggak bisa nulis apa-apa. Kepa
Tidak ada yang berubah hari ini. Semua berjalan seperti biasa. Masih dengan berita yang ramai diperbincangkan tentu saja. Namun Ndaru berusaha untuk mengabaikannya. Di dalam kamarnya, dia mencoba fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Cukup sulit bekerja dengan jarak jauh seperti ini. Namun Ndaru harus segera menyelesaikan semuanya sebelum kembali ke pusat. Baik Kakak dan Ayahnya sudah mendesaknya untuk segera mengambil alih induk perusahaan. Suara ketukan pintu membuat Ndaru mengalihkan pandangannya sebentar. Tanpa menjawab pun dia tahu jika Gilang yang mengetuk pintu kamarnya. Benar saja, tak lama asisten pribadinya itu masuk. "Permisi, Pak. Ini berkas yang Bapak minta semalam," ucap Gilang memberikan sebuah map coklat yang cukup tebal. "Sudah lengkap?" tanya Ndaru mulai membuka map itu. "Saya sedikit kesulitan untuk mencari tahu latar keluarganya, Pak." Ndaru mengangguk mengerti. Dia memaklumi kekurangan informasi yang Gilang cari. Toh, permintaannya memang menda
Sebagai kepala keluarga, tentu Harris Atmadjiwo tidak bisa tenang. Hatinya dikuasai rasa bimbang. Kematian anak tengahnya sudah cukup membuatnya terguncang. Lalu sekarang anak bungsunya kembali datang dengan masalah yang menantang. Seharusnya di usianya yang menginjak 71 tahun ini, Harris sudah bisa bersantai di hari tuanya. Kehidupan serta karir anak-anaknya juga sudah bagus dan menjanjikan. Namun siapa sangka jika dia tetap turun tangan saat ada permasalahan yang menyangkut nama Atmadjiwo. Bukan usaha yang mudah untuknya membangun kerajaan bisnis hingga seperti ini. Harris percaya jika nama baik akan memberikan banyak keuntungan. Mulai dari kepercayaan rekan bisnis hingga kepercayaan masyarakat. Meski ada juga yang membenci, tetapi suara mereka tidak terlalu vokal. Lalu sekarang, setelah bertahun-tahun hidup tenang, keluarganya terguncang dengan satu skandal. Skandal yang untuk pertama kalinya sulit mereka atasi. Sekali lagi, nama baik Atmadjiwo sangat penting untuknya. Ha
Meskipun hari sudah malam, tetapi suasana bandara tetap ramai. Sayangnya itu tidak berlaku untuk di dalam kendaraan. Keadaan benar-benar sangat tenang. Namun juga menegangkan. Perjanjian kontrak yang telah disetujui seolah tidak ada artinya. Tembok besar masih berdiri kokoh sebagai pemisah. Maklum tentu menjadi dasar utama. Pertemuan awal yang tidak baik tentu tak bisa memperbaiki hubungan keduanya. Shana memilih untuk melihat ke luar jendela. Mulutnya juga masih tertutup rapat. Bahkan sejak satu jam yang lalu saat perjalanan dimulai. Shana tidak tahu apa yang Ndaru lakukan di sampingnya. Lagi pula Shana juga tidak ingin mencari tahu. Pria itu terlalu fokus menutup mulut dan menatap layar iPad-nya. "Semua sudah selesai, kan, Lang? Saya tinggal menghadiri acara perpisahan." Untuk pertama kalinya Ndaru membuka suara setelah satu jam lebih terjadi keheningan. "Betul, Pak. Tiga hari lagi Bapak bisa ke Surabaya." Shana masih diam, meski sesekali dia juga mencuri dengar. Dia i
Roda kehidupan terus berputar tanpa henti. Mengundang masalah untuk datang silih berganti. Sebagai manusia kita hanya bisa meyakinkan diri. Jika masalah datang bukan tanpa arti. Ada makna dan pembelajaran yang bisa menguatkan hati. Ndaru adalah orang yang sangat disiplin. Dia selalu bangun pagi untuk menjalankan kewajiban dan aktivitasnya. Selarut apapun dia tidur, matanya otomatis akan terbuka jika waktu Subuh tiba. Mungkin bisa dihitung jari kapan ia bangun terlambat. Kegiatan pagi yang sering ia lakukan adalah berenang. Ini pertama kalinya Ndaru mencoba kolam renang di rumah barunya. Tanpa peduli dengan suhu air yang cukup dingin, dia tetap menenggelamkan tubuhnya di sana. Berenang dari ujung-ke ujung sampai ia merasa puas dan lelah. Tangan besar Ndaru mengusap wajahnya kasar. Menghilangkan tetes air yang mengganggu pandangannya. Kepalanya mendongak menatap langit gelap. Semburat biru perlahan mulai mengintip. Menandakan jika matahari akan muncul sebentar lagi. Ndaru
Manusia memang tidak ada yang sempurna. Kemarahan seolah menjadi hal yang biasa rasanya. Mengabaikan kata-kata mutiara yang seharusnya tak tercipta. Namun manusia tetaplah manusia. Makhluk yang mengedepankan ego tanpa melihat keadaan lawan bicara. Sedari tadi telinga Shana terus berdengung. Bukan karena seseorang tengah membicarakannya di belakang, melainkan gerutuan Erina yang tak kunjung usai. Sepanjang perjalanan, kakaknya itu terus merutuk. Sumpah serapah lolos beberapa kali dari mulut indahnya. Lupakan fakta jika ada Fathur di sisinya, Erina benar-benar tidak bisa lagi menahannya. Pertemuan dengan keluarga Atmadjiwo berlangsung dengan menegangkan. Terjadi adu mulut dengan kalimat yang saling sindir-menyindir. Takut? Erina tidak merasakannya. Justru dia kesal dengan keluarga Atmadjiwo yang jauh dari kata elegan. Apa lagi si Tua Harris, Erina kembali merutuk pria tua itu. Menyombongkan semua anggota keluarga seolah tidak memiliki celah. Padahal jika orang-orang mau membuk
Awalnya, Erina tidak begitu menganggap serius rencana pernikahan Shana dan Ndaru. Bahkan dia bersikap tidak peduli dan menunjukkan rasa enggannya. Namun setelah bertemu dengan Ndaru, semua berubah. Bahkan dia kembali mengosongkan jadwalnya hari ini demi menyiapkan keperluan untuk makan malam bersama keluarga Atmadjiwo. Erina dengan semangat membawa Shana ke salon untuk merapikan potongan rambut mereka. Bukan hanya rambut, mereka juga mempercantik kuku mereka. Selain itu, Erina juga rela mengeluarkan tabungan mereka dan memaksa Shana membeli tas serta pakaian baru. Merek ternama yang terkenal dengan kotak berwarna orange-nya. Sebenarnya Erina dan Shana bukanlah orang yang kekurangan. Dengan profesinya, mereka sangat mampu untuk membeli barang-barang mewah tersebut. Hanya saja tentu tidak setiap saat. Jika dibandingkan dengan keluarga Atmadjiwo, mereka tentu masih kalah jauh. Tidak, Erina melakukan hal ini bukan untuk menyambut antusias undangan makan malam Ndaru. Dia hanya tidak
Salah satu hal yang membuat Ndaru enggan memimpin kerajaan bisnis Atmadjiwo adalah waktu. Dia seolah tidak memiliki waktu lagi selain untuk bekerja. Ndaru pernah menjadi wakil direktur Guna sebelum pindah ke Surabaya, dan itu cukup menguras waktu dan tenaganya. Bahkan beberapa kali Ndaru harus berdebat dengan mendiang istrinya karena kesibukannya. Semenjak Farah meninggal, akhirnya Ndaru memutuskan untuk melepas semuanya. Dia rela melepas jabatan pentingnya untuk memimpin anak perusahaan Atmadjiwo Grup di Surabaya. Ndaru hanya ingin mengganti waktu yang tak pernah istrinya dapatkan agar lebih fokus mengurus Juna. Namun ternyata itu tidak berlangsung lama. Haryadi meninggal dan membuatnya mau tidak mau kembali ke Jakarta. Bukan lagi untuk menduduki posisi wakil direktur, melainkan menjadi direktur utama, memimpin semua kerajaan bisnis Atmadjiwo Grup. Terpaksa? Awalnya iya. Namun Ndaru berusaha untuk berpikir realistis. Lahir dengan darah Atmadjiwo tentu tidak bisa membuatnya
Erina tidak tahu apa tujuan Shana menculiknya. Saat ia memutuskan untuk bersantai di rumah, tiba-tiba adiknya memaksanya untuk ikut dengannya. Terpaksa Erina harus meminta Fathur yang akan datang berkunjung untuk putar balik. Karena Shana tidak akan membiarkannya berada di rumah malam ini. "Ngapain kita ke sini?" tanya Erina menatap bangunan khas di depannya dengan wajah tak suka. Djiwo Resto adalah salah satu pesaingnya di dunia kuliner. Erina kesal saat harus mengingat jika restorannya selalu berada di bawah peringkat Djiwo Resto. "Makan malem. Gue yang traktir." "Nggak mau!" Erina berniat untuk menghentikan taksi, tetapi Shana lebih dulu menariknya. "Kenapa, sih, Mbak? Nurut aja buat malam ini." "Lo ngapain bawa gue ke sini? Kalau mau traktir makan bisa di restoran lain. Atau enggak di warung tenda pinggir jalan. Mending di situ dari pada di sini," gerutunya. Shana meringis menyadari kekesalan Erina. Gadis itu memang sangat sensitif akhir-akhir ini jika berhubungan
Sebenarnya, bukan gaya Atmadjiwo untuk selalu tampil di layar televisi. Biasanya, mereka akan memanggil satu media terpercaya untuk menyebarkan press realease. Namun akhir-akhir ini alur kegiatan keluarga mereka mulai berubah. Tidak lagi begitu misterius. Karena apa? Karena ada kepentingan tersendiri yang membutuhkan perhatian publik. Adhiguna Amir ingin menjadi anggota dewan dan Handaru Gama ingin mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Mereka sama-sama memiliki kepentingan. Bukan hanya mereka berdua, tetapi Harris Atmadjiwo juga. Sebagai tokoh visioner keluarga, dia juga memiliki kepentingan. Selama menjadi pembisnis, dia tidak pernah ikut terjun ke politik. Dia selalu bermain rapi di belakangnya. Memberi dan memfasilitasi semua keperluan dengan harapan orang-orang yang ia dukung akan membantu bisnisnya. Itu yang masih ia lakukan hingga saat ini. Kepergian Haryadi secara mendadak tentu menjadi pukulan berat. Mereka harus merubah strategi dan rencana keluarga. Namun skandal se
Roda kehidupan terus berputar tanpa henti. Mengundang masalah untuk datang silih berganti. Sebagai manusia kita hanya bisa meyakinkan diri. Jika masalah datang bukan tanpa arti. Ada makna dan pembelajaran yang bisa menguatkan hati. Ndaru adalah orang yang sangat disiplin. Dia selalu bangun pagi untuk menjalankan kewajiban dan aktivitasnya. Selarut apapun dia tidur, matanya otomatis akan terbuka jika waktu Subuh tiba. Mungkin bisa dihitung jari kapan ia bangun terlambat. Kegiatan pagi yang sering ia lakukan adalah berenang. Ini pertama kalinya Ndaru mencoba kolam renang di rumah barunya. Tanpa peduli dengan suhu air yang cukup dingin, dia tetap menenggelamkan tubuhnya di sana. Berenang dari ujung-ke ujung sampai ia merasa puas dan lelah. Tangan besar Ndaru mengusap wajahnya kasar. Menghilangkan tetes air yang mengganggu pandangannya. Kepalanya mendongak menatap langit gelap. Semburat biru perlahan mulai mengintip. Menandakan jika matahari akan muncul sebentar lagi. Ndaru
Meskipun hari sudah malam, tetapi suasana bandara tetap ramai. Sayangnya itu tidak berlaku untuk di dalam kendaraan. Keadaan benar-benar sangat tenang. Namun juga menegangkan. Perjanjian kontrak yang telah disetujui seolah tidak ada artinya. Tembok besar masih berdiri kokoh sebagai pemisah. Maklum tentu menjadi dasar utama. Pertemuan awal yang tidak baik tentu tak bisa memperbaiki hubungan keduanya. Shana memilih untuk melihat ke luar jendela. Mulutnya juga masih tertutup rapat. Bahkan sejak satu jam yang lalu saat perjalanan dimulai. Shana tidak tahu apa yang Ndaru lakukan di sampingnya. Lagi pula Shana juga tidak ingin mencari tahu. Pria itu terlalu fokus menutup mulut dan menatap layar iPad-nya. "Semua sudah selesai, kan, Lang? Saya tinggal menghadiri acara perpisahan." Untuk pertama kalinya Ndaru membuka suara setelah satu jam lebih terjadi keheningan. "Betul, Pak. Tiga hari lagi Bapak bisa ke Surabaya." Shana masih diam, meski sesekali dia juga mencuri dengar. Dia i
Sebagai kepala keluarga, tentu Harris Atmadjiwo tidak bisa tenang. Hatinya dikuasai rasa bimbang. Kematian anak tengahnya sudah cukup membuatnya terguncang. Lalu sekarang anak bungsunya kembali datang dengan masalah yang menantang. Seharusnya di usianya yang menginjak 71 tahun ini, Harris sudah bisa bersantai di hari tuanya. Kehidupan serta karir anak-anaknya juga sudah bagus dan menjanjikan. Namun siapa sangka jika dia tetap turun tangan saat ada permasalahan yang menyangkut nama Atmadjiwo. Bukan usaha yang mudah untuknya membangun kerajaan bisnis hingga seperti ini. Harris percaya jika nama baik akan memberikan banyak keuntungan. Mulai dari kepercayaan rekan bisnis hingga kepercayaan masyarakat. Meski ada juga yang membenci, tetapi suara mereka tidak terlalu vokal. Lalu sekarang, setelah bertahun-tahun hidup tenang, keluarganya terguncang dengan satu skandal. Skandal yang untuk pertama kalinya sulit mereka atasi. Sekali lagi, nama baik Atmadjiwo sangat penting untuknya. Ha
Tidak ada yang berubah hari ini. Semua berjalan seperti biasa. Masih dengan berita yang ramai diperbincangkan tentu saja. Namun Ndaru berusaha untuk mengabaikannya. Di dalam kamarnya, dia mencoba fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Cukup sulit bekerja dengan jarak jauh seperti ini. Namun Ndaru harus segera menyelesaikan semuanya sebelum kembali ke pusat. Baik Kakak dan Ayahnya sudah mendesaknya untuk segera mengambil alih induk perusahaan. Suara ketukan pintu membuat Ndaru mengalihkan pandangannya sebentar. Tanpa menjawab pun dia tahu jika Gilang yang mengetuk pintu kamarnya. Benar saja, tak lama asisten pribadinya itu masuk. "Permisi, Pak. Ini berkas yang Bapak minta semalam," ucap Gilang memberikan sebuah map coklat yang cukup tebal. "Sudah lengkap?" tanya Ndaru mulai membuka map itu. "Saya sedikit kesulitan untuk mencari tahu latar keluarganya, Pak." Ndaru mengangguk mengerti. Dia memaklumi kekurangan informasi yang Gilang cari. Toh, permintaannya memang menda