Home / Romansa / Duda Incaran Shana / 1. Berita Duka

Share

Duda Incaran Shana
Duda Incaran Shana
Author: Viallynn

1. Berita Duka

Author: Viallynn
last update Last Updated: 2025-01-25 12:02:35

Suara gemercik air mengalun indah di telinga. Menggetarkan hati yang merindukan ketenangan jiwa. Aroma air hujan juga ikut menyapa. Membuat mata indah itu akhirnya terbuka. Lengkap dengan senyuman manis di muka.

Shana menyukai ketenangan. Dia juga menyukai aroma hujan. Di saat seperti ini dia bisa bekerja dengan nyaman. Namun sayang, seseorang tiba-tiba datang menghancurkan.

"Sayang?" sapa seorang pria yang datang dengan napas terengah.

Shana hanya meliriknya sekilas. Dia membenarkan letak kacamatanya dan kembali fokus pada laptop yang menyala. Pemandangan yang jauh lebih menarik.

"Aku minta maaf."

Lagi. Entah sudah berapa kali Shana mendengar kalimat itu keluar dari mulut kekasihnya. Sudah berkali-kali juga dia memaafkannya. Namun untuk kali ini, jangan harap ia akan diam saja. Gadis itu tidak akan memberikan maafnya secara cuma-cuma.

"Jangan diemin aku, dong." Pria itu mulai memohon.

"Alasan kamu telat kali ini apa lagi?" tanya Shana tanpa menatap pria di hadapannya.

"Aku habis meeting sama produser," jelas Dito.

Shana mengalihkan pandangannya dari laptop. Dia menatap kekasihnya dengan lekat. Mencoba menemukan celah kebohongan. Namun hanya wajah sedih yang ia tangkap. Bukannya kasihan, Shana malah mendengkus keras.

Sepertinya Dito juga cocok menjadi seorang aktor.

"Tanpa Kiki?" Shana menaikkan sebelah alisnya.

Perubahan raut wajah Dito membuktikan kebohongannya. Shana tersenyum masam.

"Asisten kamu itu di rumah, lagi maraton nonton N*****x. Dan setau aku, kamu juga belum ada proyek film baru."

"Maaf."

Kalimat itu lagi.

"Sayang, maaf kalau aku bohong." Dito terlihat frustrasi. "Oke, aku jujur. Aku habis dari rumah Jodi tadi. Dia galau habis diputusin Tesa."

"Terus, kalau yang semalam nggak dateng alasannya apa?"

"Ah, untuk semalam!" Dito teringat dan mengeluarkan sesuatu dari tas yang ia bawa. Sebuah kotak berwarna merah yang indah. "Selamat ulang tahun, Sayang."

Shana menerima kotak itu tanpa ekspresi. Tidak ada rasa senang di hatinya saat menerima hadiah dari kekasihnya. Jujur, Shana tidak berharap apa-apa lagi dari Dito. Pria itu sudah terlalu banyak mengecewakannya.

"Kamu tau aku nggak butuh hadiah, Dito."

Dito menarik tangan Shana dan menggenggamnya erat. "Aku tau, Sayang. Aku benar-benar minta maaf nggak bisa dateng semalam."

"Karena Jodi lagi?"

Dito meringis, "Ya, dia mabuk dan bikin ulah. Aku harus jemput dia."

"Aku masak makanan kesukaan kamu semalam." Shana meletakkan hadiah pemberian Dito. Tidak berniat untuk membukanya. "Dan aku harus buang semuanya."

"Sayang—"

"Kemarin hari ulang tahun aku, Dito. Bisa-bisanya kamu nggak ada di samping aku?"

Dito menunduk dalam, tak lupa dengan wajah sedihnya. Sekali lagi, Shana tidak akan tertipu lagi. Kesabarannya sudah benar-benar habis.

Semalam adalah momen penting dalam hidupnya. Dia berulang tahun yang ke-26. Bukan pesta besar karena Shana hanya mengundang Kakaknya dan Dito untuk makan malam di apartemennya. Namun pria yang seharusnya ada di momen penting itu mendadak hilang tanpa kabar. Shana harus menahan malu di depan Erina, Kakaknya.

Sampai sekarang pun Shana masih kesal dibuatnya.

"Bisa kamu maafin aku? Aku nggak mau kita bertengkar, Shana."

"Kamu yang mulai." Shana mendengkus.

"Aku sudah minta maaf." Dito masih menggenggam tangan Shana. "Hari ini aku free. Kamu mau apa? Belanja?"

"Aku mau kamu pergi." Shana menarik tangannya cepat.

"Sayang, jangan gini, dong."

"Aku lagi nggak mau ngapa-ngapain, Dito. Aku masih kesel sama kamu. Mending kamu pergi. Aku harus lanjut nulis lagi."

Dito menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. "Oke, aku pergi." Dito mengangkat tangannya pasrah. "Telepon aku kalau kamu sudah nggak marah."

Shana menatap kepergian Dito dengan datar. Setelah pria itu pergi, dia kembali mendapatkan ketenangan. Entah kenapa melihat Dito hanya membuatnya kesal. Pria itu sudah banyak melakukan kesalahan yang membuat Shana mulai muak.

"Mbak Shana, kopinya, Mbak."

Shana tersenyum tipis. "Kok lama, Yu?"

Ayu, salah satu karyawan di kafe itu meringis. "Takut ganggu Mbak Shana sama Mas Dito. Kayaknya lagi tegang."

Shana tersenyum tipis. "Biasa lah."

"Oh, iya." Ayu mengeluarkan sesuatu dari kantong apron-nya. "Selamat ulang tahun, Mbak."

Berbeda saat bersama Dito tadi, Shana menerima kado Ayu dengan senyuman manis. "Makasih, Yu. Kok repot-repot, sih?"

"Nggak repot sama sekali, Mbak."

"Aku buka, boleh?" tanya Shana.

Mendapat izin dari Ayu, akhirnya Shana membuka kado itu. Matanya membulat melihat earbuds yang Ayu beri.

"Yu, ini kan mahal?" Shana merasa tidak enak.

"Nggak ada apa-apanya sama kebaikan Mbak Shana selama ini. Lagian ini yang versi murah." Ayu tertawa. "Suaranya jernih, kok. Aku sendiri juga pake. Mbak Shana harus mengikuti perkembangan teknologi. Jangan pake yang kabel terus."

Shana tertawa dan mengangguk mantap. "Makasih, ya. Pasti aku pake."

"Biar Mbak Shana juga bisa konsentrasi nulis kalau lagi rame. Atau bisa dipake pas Mas Dito lagi mohon-mohon minta maaf kayak tadi."

Celetukan Ayu kembali membuat Shana tertawa. "Sekali lagi, makasih, ya."

"Sama-sama, Mbak. Kalau gitu aku kerja lagi."

Begitu Ayu pergi, Shana tidak bisa kembali fokus pada laptopnya. Sekarang berganti Bagas, manager kafe yang menghampirinya.

"Gimana, Mbak? Mau diganti susunya?" tanya Bagas.

Shana menepuk keningnya pelan. "Gue lupa tanya."

Bagas berdecak. "Stok tinggal sedikit, loh, Mbak. Udah harus pesen lagi. Mau pake yang lama atau baru? Salesnya udah tanyain terus."

"Nanti gue tanyain Mbak Erina dulu."

"Pake yang baru aja, Mbak. Harganya oke, tuh."

Shana menggeleng. "Rasa juga penting, Gas."

"Ya udah, nanti tanyain Chef Erina. Jangan sampe lupa."

Shana mengangguk. Meskipun dia adalah pemilik kafe, tetapi dia tidak begitu paham dengan pemilihan produk untuk makanan. Oleh, karena itu dia harus bertanya pada Erina, Kakaknya yang merupakan seorang koki.

Begitu Bagas pergi, Shana benar-benar bebas. Dia kembali fokus pada laptopnya dan mulai berkonsentrasi. Butuh beberapa menit untuknya mengembalikan suasana hati. Beruntung Shana bisa melakukannya. Jika tidak bisa, dapat dipastikan dia tidak akan menghasilkan apa-apa hari ini.

Menjadi penulis memang terdengar mudah, tetapi percaya lah. Masalah utamanya adalah pada diri sendiri. Jika keadaan diri sendiri tidak baik, maka jangan harap tulisan yang dihasilkan akan menarik.

"Breaking News."

"Pemirsa, baru saja kami menerima informasi dari lapangan bahwa Haryadi Atmadjiwo, Hakim yang menangani kasus Korupsi Proyek Benasaka terlibat kecelakaan beruntun. Kecelakaan tersebut menewaskan dirinya, beserta supir pribadinya. Hingga saat ini, informasi yang kami dapat korban meninggal dunia sebanyak dua orang dan delapan orang lainnya mengalami luka-luka. Para korban akan—"

Gerakan jari tangan Shana di atas laptop terhenti. Dengan cepat dia menatap televisi yang tersedia di ruang kerjanya. Berita kecelakaan itu membuatnya seketika terdiam. Rasa terkejut itu membuatnya tak bisa berkata-kata.

"Haryadi," gumam Shana. "Dia meninggal," lanjutnya dengan tangan bergetar.

***

Semua tampak tergesa. Akibat dari berita menggemparkan yang ada. Sesak di dada semakin terasa. Ketika rasa bersalah mulai menerpa.

Langkah kaki Ndaru tampak begitu lebar. Sesekali dia melirik jam tangan untuk memastikan. Gilang, asisten pribadinya berkata jika pesawat pribadi telah tiba. Bertujuan untuk membawanya ke Ibu kota. Seharusnya pesawat itu datang untuk mengantar Arya menemuinya. Namun siapa sangka justru Ndaru yang harus datang ke pemakamannya.

Haryadi Djanu Atmadjiwo, hakim yang dikenal publik karena banyak menangani kasus besar itu adalah kakaknya. Ia meninggal saat perjalanan ke bandara. Yang ingin menemuinya karena masalah yang tak seberapa.

Ndaru benar-benar menyesal. Namun dalam keadaan seperti ini dia tidak bisa tumbang. Meski matanya memerah karena tangisan, dia harus tetap tegar. Beruntung kacamata hitam berhasil menutupi semuanya.

"Pak Ndaru?" panggil Gilang.

"Sudah siap semuanya?"

"Sudah, Pak. Tapi kita harus lewat pintu lain. Wartawan lokal sudah ramai ingin meliput Bapak."

"Kalau gitu kita lewat pintu lain."

"Ikuti saya, Pak."

Gilang pun berjalan lebih dulu, ditemani dua petugas bandara yang mengantarnya. Tidak sulit untuknya mendapatkan keistimewaan. Hanya dengan menyebut nama Handaru Gama Atmadjiwo maka semua akan tersedia dalam sekali jentikan.

Begitu berhasil masuk ke dalam pesawat, Ndaru melepas kacamatanya. Tangan kanannya bergerak untuk memijat keningnya serta tangan kiri yang melepas dua kancing teratas kemejanya. Rasanya begitu sesak. Membuatnya tak kuasa kembali meneteskan air mata.

"Pak Ndaru bisa istirahat selama perjalanan," ucap Gilang.

"Bagaimana saya bisa istirahat, Lang? Kakak saya meninggal." Ndaru menarik napas dalam. "Dan itu karena saya."

"Bukan salah Bapak."

Ndaru memilih untuk menyandarkan kepalanya. Dia merasakan pesawat sudah mulai terbang. Matanya terpejam erat untuk mengenyahkan rasa pusing yang melayang. Jujur, sudah hampir dua hari dia tidak memejamkan mata.

"Gimana Mas Juna nanti?" Seketika Ndaru teringat dengan anaknya yang terbaring di rumah sakit.

"Setelah diperbolehkan pulang, Mas Juna akan menyusul Bapak ke Jakarta bersama Suster Nur."

"Pastikan semua aman, Lang. Saya nggak mau mereka dikejar wartawan juga."

"Pasti, Pak." Gilang bergerak memberikan selimut. "Sekarang Pak Ndaru istirahat. Jangan sampai Bapak tumbang di pemakaman Pak Arya."

***

Malam ini, suasana hati Shana terlihat baik. Dia seolah lupa dengan kekesalannya pada Dito siang tadi. Bahkan dia tidak mengingat nama pria itu sama sekali.

Sambil bersenandung, Shana masih berkutat di dapur. Dia menganggukkan kepala mengikuti irama musik yang keluar dari earbuds yang ia pakai. Ternyata kado pemberian Ayu sangat berguna. Bahkan Shana sudah mulai menikmatinya.

Tepukan pada bahu mengejutkan Shana. Dia berbalik dan menghela napas lega. Ternyata Erina yang berada di belakangnya.

"Lo ngapain di rumah gue?" tanya Erina bingung.

Gadis itu baru saja pulang dari syuting menjadi juri di salah satu acara memasak. Lalu ia menemukan adiknya membuat kekacauan di dapur rumahnya.

Shana melepas earbuds-nya dan tersenyum manis. "Gue lagi nyoba resep baru."

Mata Erina menyipit. "Tumben."

Shana berjalan ke meja makan yang sudah tersedia beberapa masakan. "Gue masakin makan malem. Lo pasti capek."

Keanehan Shana semakin membuat Erina curiga. Dia masih mengingat jelas wajah adiknya yang tertekuk karena ulah kekasih bodohnya semalam. Namun lihat sekarang, wajahnya tampak berseri-seri.

"Ada sesuatu?" tanya Erina masih ingin mengulik.

"Lo nggak liat berita, Mbak?"

"Berita?"

"Haryadi meninggal."

Erina sekarang paham. Dia menatap adiknya dengan satu tangan yang bertumpu pada pinggang.

"Lo nggak lagi ngerayain kematiannya Haryadi, kan?"

Shana mengedikkan bahunya pelan. "Emang nggak boleh, ya?"

"Oke, kita rayain malem ini."

Lalu yang terjadi dua gadis itu terlihat seperti psikopat sekarang. Yang berbahagia di atas duka seseorang.

***

TBC

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Duda Incaran Shana   2. Perubahan Strategi

    Kediaman Haryadi tampak ramai hari ini. Penjagaan ketat harus terus diawasi. Banyaknya wartawan yang meliput membuat keadaan semakin tak terkendali. Apa lagi ketika mobil Ndaru mulai mendekati. Seketika riuh pun sulit diatasi. Haryadi bukan hanya seorang hakim yang luar biasa, tetapi juga berasal dari keluarga yang tak biasa. Kepergiannya tentu menimbulkan kehebohan nyata. Yang tentu akan dimanfaatkan banyak orang untuk mencari muka. Mobil yang membawa Ndaru mulai memasuki kediaman Haryadi. Dia menatap para wartawan yang berkumpul di depan pagar dengan seksama. Ndaru tahu jika kakaknya memang orang hebat, tetapi dia tidak tahu jika akan seramai ini. Sepanjang perjalanan menuju rumah, sudah berapa kali Ndaru melihat kiriman karangan bunga. Entah dari siapa saja. "Pemakaman Pak Arya akan dilakukan nanti sore, Pak. Bapak bisa masuk sekarang untuk melihat Pak Arya yang terakhir kalinya dan bertemu keluarga Bapak." Ndaru masih bergeming. Dia menunduk lalu menarik napas

    Last Updated : 2025-01-25
  • Duda Incaran Shana   3. Malam Petaka

    Ketenangan kembali menyapa. Namun sayang Ndaru tidak bisa memejamkan mata. Dia menatap jalanan dengan mata terbuka. Mencoba menerka jalan hidupnya yang tak akan lagi sama. "Sepertinya Bapak butuh pengawal untuk beberapa hari ke depan." Gilang berucap. "Saya lihat ada beberapa wartawan yang nekat mengikuti kita." "Mereka merepotkan." Ndaru mengeluh. Padahal dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. "Bapak adalah bagian dari keluarga Atmadjiwo kalau lupa." "Nama saya tidak seharum kedua kakak saya." "Justru itu." Gilang menoleh. "Bapak misterius. Ya... meskipun keluarga Atmadjiwo memang tertutup, tapi Bapak berbeda. Itu yang membuat publik penasaran." Tanpa diduga Ndaru tersenyum kecut. Dia mengerti maksud ucapan Gilang. Kedua kakaknya memang memiliki nama yang harum. Berbeda dengan dirinya yang seolah menyembunyikan diri. Sebenarnya sama saja, hanya saja Ndaru memilih untuk tidak berhubungan langsung dengan publik. Bukan bermaksud menjauhi keluarga. Hanya

    Last Updated : 2025-01-25
  • Duda Incaran Shana   4. Skandal Tersebar

    Rasanya seperti baru lima menit tertidur. Ndaru terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Keadaan kamar hotel yang ia tiduri masih gelap, tetapi dia bisa melihat cahaya mulai mengintip dari balik tirai jendela. Ndaru segera terduduk sambil mengusap wajahnya. Dia meraih ponsel dan melihat jam yang tertera. Jam tujuh pagi, artinya dia terlambat bangun. Suara ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini terkesan lebih keras dan cepat dari sebelumnya. "Pak Ndaru?" Itu suara Gilang. "Ya," balas Ndaru bergegas membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya langsung. Gilang menghela napas kasar. Dia menatap atasannya itu dengan tatapan lelah. Ada apa? Seingat Ndaru dia tidak memiliki kegiatan pagi ini. "Apa yang terjadi semalam, Pak?" tanya Gilang. Seketika kantuk Ndaru hilang. Dia menatap asistennya lekat. "Apa maksud kamu?" Gilang memberikan sebuah iPad yang menampilkan beberapa gambar tangkapan layar. Ada beberapa potret yang sangat Ndaru kenal. "

    Last Updated : 2025-01-30
  • Duda Incaran Shana   5. Biang Kerok

    Di ruangan privat itu, baik Guna dan Ndaru fokus pada pekerjaan masing-masing. Hidangan makan siang yang tersaji di hadapan mereka belum mereka sentuh sedikit pun. Mereka berdua tampak sibuk membahas sesuatu. Membahas hal yang membuat nama mereka goyah akhir-akhir ini. "Aku jadi ikutan kena, Ru," keluh Guna. "Peluang suara menurun?" tanya Ndaru. "Betul, Pak. Sekitar dua persen, tapi Pak Guna tetap unggul dari caleg lain," jawab Rahmat, orang kepercayaan Guna. "Tetap kita nggak boleh jumawa, Mat. Pemilu masih tahun depan." Ndaru mendorong laptopnya lelah. Menyadari perubahan itu, Gilang pun mengambil alih. Dia ikut meringis melihat banyaknya email yang masuk. Rata-rata berasal dari para wartawan. Belum selesai dengan kabar duka dari Haryadi Atmadjiwo, mereka kembali menyerang atasannya dengan foto skandalnya. Setelah Harris memberi perintah tadi pagi, satu jam kemudian orang-orang Guna berhasil menghapus cuitan penyebar skandal itu. Bukan hanya cuitan, tetapi akunnya ju

    Last Updated : 2025-02-04
  • Duda Incaran Shana   6. Mencari Jalan Keluar

    Acara tahlilan telah selesai. Seperti biasa, keluarga Atmadjiwo kembali berkumpul di ruang keluarga. Bukan lagi untuk membahas perubahan strategi, melainkan skandal yang terjadi. Masa berkabung seolah tak lagi berarti. Ada hal genting lain yang menanti. Malam ini, Ndaru mengenakan kemeja hitam berlengan panjang yang dilipat hingga siku, serta celana chinos abu-abu. Dia memilih untuk duduk tenang di salah satu sofa. Terlepas dari apa yang menimpanya, Ndaru sangat pintar untuk menyembunyikan perasaannya. Padahal dalam hati dia juga dibuat pusing dengan apa yang terjadi. Bahkan saat ini, dia yakin jika akan kembali disidang. "Berita nggak mereda sama sekali," keluh Yanti. Dia cukup khawatir dengan karir politik suaminya. "Saham Atmadjiwo Grup juga menurun," lanjut Guna. Topik itu yang akan mereka bahas malam ini. Apa saja akibat yang mereka dapat dari skandal yang menyerang si bungsu. "Bahkan berita tentang kecelakaan Arya sudah tenggelam." "Seharusnya dari awal kamu ngga

    Last Updated : 2025-02-08
  • Duda Incaran Shana   7. Permintaan Tak Terduga

    Pagi ini Shana memilih untuk bermalas-malasan. Dia duduk di meja makan sambil menatap Erina yang sibuk ke sana-ke mari. Tampak bersiap untuk berangkat bekerja. Profesinya yang merupakan seorang chef selebriti tentu membuatnya cukup sibuk. Bahkan Erina memiliki tiga program acara unggulan di televisi. Yang berhubungan dengan kuliner tentu saja. "Gue udah bikin sarapan. Lo tinggal makan aja." Shana menyandarkan kepalanya dengan malas. "Gue pingin makan ketoprak." Erina berdecak. "Makan yang ada. Gue harus berangkat sekarang." Shana kembali menegakkan kepalanya. "Gue beneran nggak boleh keluar?" "Boleh, kalau lo mau dikeroyok wartawan." Shana berdecak, "Gila, ya? Masih aja rame bahas masalah kemarin." "Lo yang gila! Ngapain nyosor bibir orang? Mana yang disosor klan Atmadjiwo. Apa nggak heboh satu negara?" Shana mengusap hidungnya kasar. Sepertinya memang lebih baik dia diam. Seketika kepalanya pening saat Erina kembali mengomel. "Gue nggak bisa nulis apa-apa. Kepa

    Last Updated : 2025-02-11
  • Duda Incaran Shana   8. Harta Tahta Atmadjiwo

    Tidak ada yang berubah hari ini. Semua berjalan seperti biasa. Masih dengan berita yang ramai diperbincangkan tentu saja. Namun Ndaru berusaha untuk mengabaikannya. Di dalam kamarnya, dia mencoba fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Cukup sulit bekerja dengan jarak jauh seperti ini. Namun Ndaru harus segera menyelesaikan semuanya sebelum kembali ke pusat. Baik Kakak dan Ayahnya sudah mendesaknya untuk segera mengambil alih induk perusahaan. Suara ketukan pintu membuat Ndaru mengalihkan pandangannya sebentar. Tanpa menjawab pun dia tahu jika Gilang yang mengetuk pintu kamarnya. Benar saja, tak lama asisten pribadinya itu masuk. "Permisi, Pak. Ini berkas yang Bapak minta semalam," ucap Gilang memberikan sebuah map coklat yang cukup tebal. "Sudah lengkap?" tanya Ndaru mulai membuka map itu. "Saya sedikit kesulitan untuk mencari tahu latar keluarganya, Pak." Ndaru mengangguk mengerti. Dia memaklumi kekurangan informasi yang Gilang cari. Toh, permintaannya memang menda

    Last Updated : 2025-02-14
  • Duda Incaran Shana   9. Sebuah Kesepakatan

    Sebagai kepala keluarga, tentu Harris Atmadjiwo tidak bisa tenang. Hatinya dikuasai rasa bimbang. Kematian anak tengahnya sudah cukup membuatnya terguncang. Lalu sekarang anak bungsunya kembali datang dengan masalah yang menantang. Seharusnya di usianya yang menginjak 71 tahun ini, Harris sudah bisa bersantai di hari tuanya. Kehidupan serta karir anak-anaknya juga sudah bagus dan menjanjikan. Namun siapa sangka jika dia tetap turun tangan saat ada permasalahan yang menyangkut nama Atmadjiwo. Bukan usaha yang mudah untuknya membangun kerajaan bisnis hingga seperti ini. Harris percaya jika nama baik akan memberikan banyak keuntungan. Mulai dari kepercayaan rekan bisnis hingga kepercayaan masyarakat. Meski ada juga yang membenci, tetapi suara mereka tidak terlalu vokal. Lalu sekarang, setelah bertahun-tahun hidup tenang, keluarganya terguncang dengan satu skandal. Skandal yang untuk pertama kalinya sulit mereka atasi. Sekali lagi, nama baik Atmadjiwo sangat penting untuknya. Ha

    Last Updated : 2025-02-14

Latest chapter

  • Duda Incaran Shana   62. Mertua VS Menantu 2

    "Mau Kakek suapin?" tawar Harris. Juna menatap sang kakek dengan mata bulatnya. Tampak berkedip pelan seolah mencerna ucapan kakeknya itu. "Mas Juna makan sendiri, ya? Kan udah besar," ucap Shana. Harris mengerutkan dahinya. Dia menatap Shana tidak suka. "Kenapa saya nggak boleh suapin cucu saya sendiri?" tanya Harris galak. Shana menoleh jengah. "Siapa yang ngelarang, sih, Pak? Kan saya cuma mau Mas Juna belajar mandiri dan tanggung jawab habisin makanan yang dia ambil sendiri." "Dia baru dua tahun!" geram Harris ingin melempar Shana dengan anggur hijau. "Lagian tau apa kamu sama tanggung jawab? Jam segini aja baru bangun, wanita macam apa itu?" Shana ikut menatap Harris kesal. "Ya, salahin anak Bapak, dong. Siapa suruh peluk saya kenceng banget? Kan, jadi keterusan tidurnya." Ndaru yang mendengar perdebatan itu hanya bisa memejamkan mata. Tak mau ikut terprovokasi yang akan semakin membuat anaknya bingung. "Jangan salahin anak saya, ya! Seharusnya kamu sadar diri

  • Duda Incaran Shana   61. Mertua VS Menantu

    Handaru sangat menghormati ayahnya. Di matanya, Harris Atmadjiwo adalah seorang panutan yang luar biasa. Bukan hanya sebagai kepala keluarga, tetapi juga untuk ribuan manusia yang tersebar di seluruh Indonesia. Tanpa otak jeniusnya, Atmadjiwo Grup tidak akan pernah ada. Sebagai penerusnya, Ndaru tentu banyak belajar dari ayahnya. Mulai dari cara berbisnis hingga cara mengatasi masalah. Seperti saat ini, Ndaru terjebak pada pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Bukannya panik, Ndaru justru bersikap santai. Menyikapi pertanyaan ayahnya yang terlihat marah itu dengan tenang. Ndaru memilih ruang kerjanya untuk berbicara empat mata. Hanya di tempat ini ayahnya bisa meluapkan kekesalannya dengan leluasa. Lalu Ndaru akan siap mendengarnya. "Bukan hal serius, Pa." "Bukan hal serius gimana? Kamu tidur berdua sama dia, Mas!" "Ada Juna di tengah." Ndaru mengelak. "Tapi yang Papa liat tadi nggak seperti itu." Harris memijat keningnya. "Sebenarnya Papa malu untuk ikut campur masal

  • Duda Incaran Shana   60. Tertangkap Basah

    Shana memang bukan orang yang rajin, dia mengakui itu. Di akhir pekan, biasanya dia memanfaatkan waktunya untuk bermalas-malasan. Namun kali ini berbeda. Tepat menjelang subuh, mata Shana terbuka dengan sendirinya. Dia terbangun tanpa alarm. Hal yang jarang terjadi pada dirinya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah kepala Juna. Posisi mereka masih sama, saling berpelukan. Bedanya, tak ada lagi Ndaru di sisi ranjang. Tangan Shana mulai meraba, tidak merasakan dingin. Masih ada rasa hangat di sana, artinya Ndaru belum lama pergi. Shana melepas pelukannya dan berbaring terlentang. Menatap langit kamar dengan tatapan menerawang. Memikirkan kejutan yang Shana dapatkan semalam. Bukan karena Ndaru yang meminta maaf terlebih dahulu, melainkan setelahnya, yaitu mengenai Nurdin Hasan. Siapa sangka jika Nurdin Hasan akan mengundang Ndaru? "Sudah bangun?" Lamunan Shana buyar. Dia menoleh dan melihat Ndaru keluar dari kamar mandi kamar Juna dengan wajah basah. "Saya pikir Pa

  • Duda Incaran Shana   59. Undangan Asing

    Shana kembali berbaring sepenuhnya dan memeluk Juna erat. Ndaru mendengkus dan tetep berjalan menuju pintu kamar. Bukan untuk keluar, melainkan untuk menutup pintu rapat. Berhasil, ucapan Shana berhasil membuatnya memilih tinggal malam ini. "Malam ini saja." Ndaru berjalan ke sisi ranjang kosong dan mulai merebahkan diri. Baiklah, tak masalah. Toh, ini bukan yang pertama mereka tidur bersama. Shana tersenyum penuh arti. Matanya begitu sayu karena kantuk yang masih menyerang. "Sebenernya saya masih kesel sama Bapak," bisik gadis itu. Ndaru memiringkan tubuhnya agar bisa menatap Shana. "Saya juga." "Pak Ndaru nyebelin." "Seharusnya kamu sadar kalau kamu juga menyebalkan." Tersindir memang. Bukannya marah, Shana malah terkekeh. Dia membenarkan ucapan Ndaru. Karena menurut juga bukan hal yang Shana suka. Apalagi pada Handaru Atmadjiwo. "Maaf." Shana yang sudah memejamkan matanya, kembali membuka mata. "Maaf?" Seorang Handaru Atmadjiwo meminta maaf? "Sa

  • Duda Incaran Shana   58. Suara Juna

    Rasa lelah tak lagi bisa ditahan. Pulang malam selalu jadi kebiasaan. Namun hal itu merupakan kewajiban. Tanggung jawab berat menjadi seorang pemimpin perusahaan. Malam ini Ndaru pulang jam 12 malam. Begitu larut karena dia harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sesuai prinsip hidupnya, dia tidak akan membawa pekerjaan ke rumah jika tidak dalam keadaan terdesak. Toh, kesehatan anaknya sudah mulai membaik. Shana juga sudah kembali ke rumah. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Setelah membersihkan diri, Ndaru tak langsung merebahkan diri. Dia keluar dari kamar dan menatap pintu kamar Juna dengan ragu. Berpikir apa dia harus masuk untuk melihat keadaan anaknya sebentar? Memang sebagai orang tua, Ndaru tak bisa bersikap tak acuh. Dia tetap melangkah untuk masuk ke dalam kamar Juna. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah dua manusia yang tertidur dengan saling berpelukan. Shana dan Juna, mereka tidur berdua. Ada rasa lega di hati Ndaru melihat ada seseorang yang bisa

  • Duda Incaran Shana   57. Terasa Aneh

    Di rapat kedua, Ndaru mulai tidak fokus. Dia mendengarkan presentasi bawahannya dengan pandangan menerawang. Tidak ada yang tahu apa yang ada di kepalanya saat ini. Semua orang kompak berpikir bahwa Handaru Atmadjiwo tengah menyimak dengan serius. Kenyataan tentu berbanding terbalik. Ndaru terus melirik ponselnya di atas meja. Berharap ada notifikasi yang akan menjawab rasa gelisahnya. Namun sayang, hingga saat ini tak ada kabar yang datang. "Suster Nur hubungi kamu?" bisik Ndaru pada Gilang. Gilang yang tengah menyimak seketika menoleh. "Enggak, Pak. Kenapa?" "Gimana kabar Mas Juna? Dia rewel?" Gilang membuka ponselnya sambil menggeleng. "Kata Bu Shana nggak rewel, sih, Pak." "Shana?" Ndaru mengerutkan dahinya. "Dia hubungi kamu?" Gilang mengangguk polos. "Iya, tadi Bu Shana tanya tentang Dokter Hamdan. Terus sekalian periksa Mas Juna tadi, demamnya sudah turun katanya." "Kenapa dia tanya ke kamu? Kenapa nggak ke saya langsung?" Gilang ikut menunjukkan kebing

  • Duda Incaran Shana   56. Kembali Berubah

    Kenapa Juna dan Shana bisa kompak seperti ini? "Ada Suster Nur yang bisa jaga anak kamu. Shana lagi sakit, saya nggak mau dia repot urus anak kamu." Ketus. Erina berbicara begitu tajam dan menohok. "Boleh saya ketemu Shana sebentar?" Entah kenapa Ndaru meminta hal itu. Dia hanya ingin memastikan jika gadis itu sedang sakit atau tidak. Bukan karena tidak percaya. Entah kenapa jauh di dalam hatinya ada rasa bersalah karena sudah berbicara tajam semalam yang mengakibatkan pertengkaran di antara mereka. "Dia tidur. Nggak usah diganggu." Baiklah, tidak ada pilihan lain. Ndaru juga tidak mau memaksa. Harga dirinya lebih tinggi dari itu. Selain itu Shana juga sakit. Ndaru tidak mau Juna tidak terawasi dengan baik dan maksimal. "Kalau begitu saya permisi." Saat Ndaru ingin berlalu, suara serak menghentikan langkahnya. "Mbak, mana jahe angetnya? Kok lama?" Shana menuruni tangga dengan wajah pucat. "Ngapain lo turun?!" bentak Erina tertahan. Dia melirik Ndaru dengan decakan

  • Duda Incaran Shana   54. Ikatan

    Suasana pagi di rumah Ndaru tampak begitu sepi hari ini. Tidak ada teriakan Juna yang berlarian dengan hanya mengenalan celana dalam, tidak ada teriakan Suster Nur yang mengejar Juna, dan tidak ada tawa Shana yang melihat kekonyolan keduanya. Semua tampak berbeda. Sejak pertengkaran Ndaru dan Shana semalam. Hari ini Ndaru membiarkan Juna tidak bersekolah. Mendadak suhu tubuh anaknya naik dengan diiringi badan yang lemas. Wajah pucat Juna membuat Ndaru menghela napas lelah. Semua ini karena tangisan anaknya semalam. "Mas Juna makan dulu, ya? Sedikit aja diisi perutnya," bujuk Ndaru sekali lagi sambil mengaduk bubur yang dibuat Bibi Lasmi khusus untuk Juna. "Nggak mau, Pa. Nggak enak." "Biar cepet sembuh, Mas. Katanya mau main sama temen-temen di sekolah?" Suster Nur ikut membujuk. "Mau main sama Mama." Suara serak Juna semakin membuat Ndaru menghela napas. Ndaru bangkit dari duduknya dan meletakkan mangkok bubur itu di atas meja. Tangan kanannya bergerak melepas dasi

  • Duda Incaran Shana   54. Hilang Kendali

    Tak ingin berlarut-larut, Shana kembali melajukan mobilnya begitu pagar rumah telah terbuka sempurna. Suasana begitu sepi. Hanya terdapat dua satpam yang berjaga ditemani kopi dan gorengan. "Bu Shana sudah pulang?" sapa salah satu satpam sambil membuka pintu mobil untuknya. Shana hanya tersenyum tipis dengan anggukan. Memang jawaban apa yang harus ia beri? "Pak Nanang mana, Pak? Saya mau balikin kunci mobil," ucap Shana sambil meraih tasnya. Saat tak mendengar jawaban, gadis itu pun menoleh. Menatap satpam yang tampak menunduk sambil mengusap lehernya. "Kenapa, Pak?" "Anu, Bu... itu...," "Ada apa?" "Pak Nanang udah nggak kerja di sini lagi." Bingung. Kerutan di dahi Shana menunjukkan ekspresi bertanya-tanya. "Maksudnya?" "Pak Nanang dipecat, Mbak." "Kok bisa?" tanya Shana pelan. Seketika dia teringat dengan apa yang terjadi tadi siang. "Pak, jangan bilang karena saya...," Shana tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya. "Iya, Mbak. Saya denger Pak Nanang dimara

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status