Setelah bersembunyi selama 2 bulan akhirnya Sherina memberanikan diri untuk keluar. Agar tidak menjadi perhatian orang-orang Gadis itu memakai rambut palsu dengan motel Bob Asimetris berponi. Kemudian kacamata hitam dan masker. Dengan penampilan yang seperti ini sudah pasti para wartawan dan masyarakat tidak begitu mengenalinya. Sherina keluar dari apartemen dan langsung menuju ke mobilnya. Meskipun ada rasa ragu dan takut, ia tetap mengendarai mobil menuju ke kampus. Sekian lama bersembunyi, tentu rasanya membosankan. Ada rasa senang ketika ia melihat kepadatan lalu lintas. Namun ada rasa takut ketika membayangkan seperti apa respon dari teman-teman di kampusnya nanti. Setelah menempuh perjalanan sekitar 60 menit Sherina menghentikan mobilnya di diparkiran kampusnya. Gadis itu tidak langsung keluar, namun duduk di dalam mobil sambil memandang situasi."Apa sebaiknya aku tidak melanjutkan kuliah?" Sherina bertanya sendiri. Jika keadaan seperti ini dia tidak yakin mampu dan konse
Sherina kembali ke kelas untuk mengikuti ujian selanjutnya. Di kampus ini dia masih bersyukur karena dosen-dosen berpikir secara netral. Sehingga mereka memberikan berbagai macam toleransi untuk Sherina. Terima tidak duduk di kursi yang tadi karena semua kursi di bagian depan sudah penuh dan ada satu kursi yang sengaja disisihkan dari yang lainnya dan posisi kursi itu berada tepat di paling belakang. Karena itu Sherina pun duduk di sana. "Sherina Apa kabar?" Seorang dosen wanita bertanya dengan sangat ramah. "Ya jelas baiklah Bu, malah sebentar lagi dia bakalan jadi pewaris tunggal dari harta yang didapat orang tuanya secara paksa." Sintia menyaut perkataan dari dosen tersebut. "Apa anda tidak memiliki sopan santun?" Dosen wanita itu bertanya dengan wajah marah. Cynthia terdiam mendengar pertanyaan dosennya. "Anda seorang mahasiswa, namun kenapa kelakuan Anda begitu sangat minus. Apakah pantas, saya tidak bertanya dengan anda dan anda yang menjawabnya? Jika anda tidak bisa berp
Arion berjalan sempoyongan dari kamar mandi. Kepalanya terasa amat pusing dan perut mual. Entah sudah berapa kali ia bolak balik ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan isi perutnya saja, namun tetap saja rasa mual tidak Redah. "Mengapa kepalaku pusing sekali?" Arion merasakan kamar yang berputar. Dengan cepat pria itu memegang tepi tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana. Hal seperti ini baru pertama kali dirasakannya. Bahkan ketika orang memukul kepalanya, ia tidak merasakan pusing yang begitu hebatnya. Arion memandang ke sebelahnya dan melihat Zahira yang tidur dengan sangat nyenyak. Sejak tadi ia sudah bolak-balik ke kamar mandi dan istrinya itu sama sekali tidak terganggu. Ada rasa kesal ketika istrinya tidak mengetahui kondisinya saat ini. Namun juga Arion tidak sampai hati membangunkannya mengingat Zahira yang terbangun tengah malam karena lapar. Baru saja merebahkan tubuh, Arion kembali merasakan perutnya yang seperti di aduk-aduk. Pada akhirnya pria itu kembali bangki
Zahira hanya tersenyum memandang ke arah suaminya dan keluar dari kamar. Ia langsung kamar Sebastian untuk melanjutkan memeriksa Zia.Tanda petir bibi ini tampung dulu ya air seninya. "Eliza memberikan wadah kecil untuk Zia. "Apa mau buang air kecil?" Sebastian mengusap kepala istrinya. "Ya mas," jawab Zia yang mencoba untuk duduk. "Mas gendong saja sayang." Sebastian tidak tega melihat istrinya yang tampak begitu lemah. Pada akhirnya pria bertubuh tinggi itu menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi. "Mas jangan gini, malu sama Zahira." Zia menyembunyikan wajah cantik didada bidang suaminya. "Santai aja mereka juga biasa kok kayak gitu." Sebastian tidak menghiraukan colotehan istrinya. Dia terus saja menggendong Zia dan membawanya ke kamar mandi. "Mas keluar dulu." Zia mengusir Sebastian.Sebas mengulum senyumnya sambil memegang Zia. Apa istrinya itu lupa bahwa setiap malam ia akan melihat semuanya hingga ke lubang terkecil sekalipun. "Sayang, tidak usah malu dengan mas. Kamu
"Hira akan menjadi kakak, kakak yang manis." Lagi-lagi Zahira melihatkan deretan giginya yang putih dan bersih. "Zahira, kamu tidak bercanda?" Sebastian memandang Zahira dengan jantung berdebar kencang."Tidak, sekali lagi Hira ucapin selamat. Untuk selanjutnya, Paman bisa membawa Bibi periksa ke dokter spesialis kandungan."Sebastian memandang istrinya dengan wajah tersenyum namun mata berkaca-kaca. "Sayang apa kamu dengar tadi apa yang dikatakan Zahira?"Zia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Apa beneran Zia a hamil mas?""Hasil alat tes kehamilan ini 99% akurat Bibi. Namun kita nggak juga sih berani mengatakan 99% jadi kita bisa mengatakannya 95% akurat jadi kemungkinan hasil ini salah sulit." Zahira menjawab dengan yakin."Jadi Bibi hamil?" Zia memandang Zahira dengan mata berkaca-kaca. Kabar ini sungguh membuat ia bahagia. Sebastian tidak menuntut untuk memiliki anak dalam waktu cepat. Namun pria itu selalu mengatakan tentang anak. Tampak jelas bahwa Sebastian merinduka
Zahira masuk ke dalam kamar, dilihatnya Arion yang sedang berbaring di atas tempat tidur. Di sana sudah ada dokter Vandra dan juga Lily."Mbak Lily, Hira kangen." Zahira langsung berpelukan dengan bodyguard cantiknya.Lily tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Saya juga sangat kangen dengan nona Zahira."Setelah Vandra menjadi wakil direktur di rumah sakit milik Zahira. Pria itu meminta agar Lily menjadi asisten pribadinya. Kondisi Lily yang sedang terluka dan patah hati, pasti langsung menyetujui. Karena ia ingin melupakan Sebastian. Jalan terbaik menjauh seperti ini."Dokter Vandra, Saya baru saja berencana menghubungi anda." Zahira tersenyum memandang rekan seprofesinya itu. Jika dulu Zahira yang hormat kepada dokter Vandra. Namun sekarang tentu berbeda, karena Zahira pemilik rumah sakit tempat ia bekerja."Suamimu sudah menghubungiku dan kebetulan kami sudah berada di dekat sini. Ada urusan yang harus aku bicarakan denganmu. "Dokter Vandra pun tersenyum. "Sudah berapa hari su
Setelah menyelesaikan buang air kecil, Zahira mulai menguji alat tes kehamilan dengan memakai air seninya. Dia pun menunggu beberapa menit hingga alat itu sudah menunjukkan garis dua. "Hubby." Zahira tersenyum dan memperlihatkan alat tes kehamilan di tangannya. "Apa maksudnya?" tanya Arion sambil memegang alat tes kehamilan tersebut. "Hira hamil, positif," jelas Zahira. Tidak ada respon yang diberikan Arion. Tubuhnya membeku ketika mendengar bahwa istrinya sedang hamil. "Hubby, apa gak senang?" Zahira bertanya dengan kesal. Zahira sempat berpikir bahwa responden Arion akan melebihi Sebastian, ketika mengetahui kehamilannya. Ternyata tidak, Arion hanya diam. Arion masih terdiam menatap istrinya. "Hubby gak suka ya Hira hamil." Zahira kesal dan berniat meninggalkan Arion. Mata Arion terbuka lebar mendengar perkataan Zahira. Pria bertubuh tinggi dan tegap itu menarik tangan Zahira dan kemudian memeluknya. "Kamu tidak bercanda?" Arion sedikit berbisik di daun telinga Zahira. "
Begitu menyedihkannya nasib seorang Sherina Irawan. Namun, apakah ada yang merasa kasihan terhadap gadis itu? Meskipun hidupnya sudah diambang Kematian? Jawabnya tentu saja tidak. Siaran langsung yang dilakukan para wartawan, mendapatkan komentar negatif dari netizen. Hampir semua komentar mendoakan kematiannya. Dalam waktu 15 menit, motor yang dikendarai seorang wartawan, sampai di rumah sakit. Seorang perawat datang dengan membawa tempat tidur. Setelah meletakkan tubuh Serina di atas bangsal, perawat langsung mendorong bangsal itu ke ruangan UGD. Pak Andi berada di depan ruangan dengan penuh kecemasan. Tidak lama kemudian pihak kepolisian datang dan bergabung dengan dosen tersebut. "Bagaimana kondisi Sherina?" Tanya Briptu Amri. "Belum tahu, dokter belum keluar," jawab pak Andi. Sherina dikenal sebagai mahasiswi yang baik dan pintar. Bahkan putri bungsu Heru itu, bergabung dengan organisasi kemanusiaan. Ia selalu memberikan bantuan untuk mahasiswa yang mengalami mu
Setelah selesai menjenguk sang Papi, Shelina berpindah ke lapas perempuan. Ia di kursi tunggu sambil menunggu kedatangan sang Mami dan juga Kakaknya. Shelina tersenyum ketika melihat Ema dan Alina datang secara bersama. "Mami, Shelin bahwa dimsum." Dengan senyum ceria Shelina memeluk Ema. Setelah seluruh keluarganya ditahan, Shelina kehilangan semangat dalam hidupnya. Ia juga tidak bisa bebas keluar, karena pembencinya yang begitu banyak. Dimanapun Shelina berada, Jika berjumpa dengan masyarakat, pasti langsung di hujat. Tak jarang juga, ia dipukul dan dipermalukan di depan umum. Karena statusnya anak seorang pembunuh. Naman Irwan yang melekat di belakang namanya, membuat Shelina tidak bisa bekerja di manapun. Namun walau seperti kondisinya, Shelina tetap tidak mengeluh dan menyalakan orang tuanya."Wah enak sekali, apa ini Shelin yang masak?" Ema langsung membuka kotak makanan dan mencicipi masakan yang dibawakan Shelina."Iya dong mi," jawab Shelina dengan bangga."Enak sekali k
Shelina tidak kuasa menahan tangisnya ketika melihat berita. Pemberitaan diberitahukan bahwa tanggal eksekusi mati untuk 3 orang terpidana pembunuhan sadis sudah di tetapkan. Tanggal 25 Januari 2025, tiga orang terpidana akan dieksekusi. Terpidana itu adalah Heru Irawan 50 tahun, Ema Sari 47 tahun, Alina Irawan, 25 tahun. Itu artinya hanya satu Minggu lagi. Seharusnya Heru sudah di hukum mati sejak tanggal 10 November 2024. Namun ternyata diundang hingga tanggal 25 Januari. Shelina duduk termenung sambil memandang foto keluarga. Foto ini diambil ketika Alina baru kembali dari Paris. Ia tidak menduga bahwa inilah foto terakhirnya bersama keluarga. Kuat tidak kuat, ia harus tetap menghadapinya dan mencoba untuk iklas menerima kematian orang-orang yang disayanginya dengan cara seperti ini. Mungkin dengan cara kematian seperti ini dosa-dosa mereka dapat sedikit terampuni. Tubuh Shelina semakin lama semakin lemah. Kesehatannya juga semakin memburuk. Seharusnya dia sudah menjalani operasi
"Apa?"tanya Jhon. Pria itu terlalu polos dan tidak bisa memikirkan hal yang menarik seperti Arion."Balas dendam terbaik dengan menjadikan Mereka manusia sampah. Dipandang hina dan menjijikan. Hidup segan mati tak mau," bisik Arion "Maksudmu?" tanya Jhon yang masih tidak paham. "Kau bisa memotong kedua tangan mereka. Memotong kaki, cungkil juga matanya. Jika tidak ingin mereka berbicara dan bernyanyi, potong lidahnya juga," kata Arion.Tubuh Agus dan tiga orang rekannya yang lain langsung gemetar bahkan sampai kencing di celana. Meskipun anggota tubuhnya masih utuh, namun dia sudah bisa membayangkan jika tidak memiliki kaki. Lalu bagaimana dengan nasib anak istrinya.Jhon menganggukkan kepalanya tanda setuju. Bahkan pria itu terlihat sangat bersemangat. Apa yang dikatakan Arion benar-benar menarik. "Aku akan potong tangan, kaki, congkel mata dan potong pisangnya juga." Ha... Ha .... Suara tertawa Jhon memenuhi seisi ruangan tersebut. "Kau suruh orang gila bertindak?" Sebastian yan
"Kau tidak dengar apa yang aku katakan." Arion meninju perut Agus dengan keras. Hingga pria itu menjerit kesakitan."Aku." Agus ingin berbicara namun tidak bisa. Kakinya sudah gemetar lebih dulu. Bahkan ia sangat ketakutan untuk mengakui semua perbuatan bejatnya terhadap Cecilia.Setelah peristiwa itu, Cecilia menjadi gila. Itu artinya tidak ada yang akan mengetahui apa sebenarnya yang terjadi terhadap wanita itu. Ia sangat yakin bahwa perbuatannya tidak akan pernah diketahui oleh siapapun. Terbukti selama 7 tahun ini ia bisa hidup nyaman tanpa ada yang mengetahui apa yang telah dilakukannya di masa lalu. Agus juga memiliki istri serta dua orang anak. Bisa dikatakan hidupnya sangat bahagia. "Jelaskan apa maksudmu." John sudah mulai marah. Kepalanya pusing ketika menebak apa yang sebenarnya terjadi."Kau tidak bisa jelaskan?" Arion menunjuk wajah pria itu dengan keras. "Barang milik mu ini sudah menghancurkan hidup seorang gadis, hingga dia gila dan bahkan melahirkan anak. Apa kau ta
"Kau devil, setelah apa yang kau lakukan terhadap adikku, kau katakan tidak mengenalinya?" John begitu sangat marah dan ingin meninju Arion. Namun sayang Arion tak bernyali melawannya. Bahkan sengaja mengingat tangan serta kakinya. "Aku tidak pernah mengelak dengan apa yang telah kulakukan. Aku memang dulunya sering melakukan hal seperti itu dengan para wanita. Namun asal kau tahu, aku tidak pernah memperlakukan wanita dengan cara menjijikan seperti itu. Perbuatan yang seperti itu bukan aku banget. Pada umumnya para wanita bodoh yang menyerahkan tubuhnya secara sukarela. Dan mereka juga melakukannya dalam keadaan sadar. Mereka juga yang memaksaku untuk menyentuhnya. Jadi aku tidak pernah membuat hal memalukan seperti itu. Aku juga tidak pernah meminta lawan main ku untuk menutup mata seperti sedang bermain Lu-lu China buta." Tak ada ekspresi apapun dari raut wajahnya. Dan hal ini yang membuat John semakin marah."Kau tidak perlu berbohong?" Jangan tersenyum mengejek. Kondisinya saat
Alex beserta anak buahnya sudah berada di parkiran mobil. Saat ini mereka berada di perusahaan milik John. Sesuai jadwal, pria dengan rambut plontos itu keluar dari kantornya dan langsung ke parkiran mobil. John berjalan dengan santai menuju ke parkiran. Jika dilihat gaya serta gerak-geriknya tidak ada sedikitpun mencerminkan bahwa dia salah seorang pembunuh yang ikut serta dalam misi Heru. Tempat parkiran khusus untuk pemilik perusahaan ini memang termasuk sepi, karena hanya ada satu mobilnya yang terparkir di sana. Kondisi seperti ini dimanfaatkan Alex dengan baik. Dalam waktu singkat mereka sudah berhasil melumpuhkan John. Pria bertubuh tinggi itu tidak sadarkan diri ketika tekuk lehernya dipukul dengan keras. Alex meminta kepada anak buahnya untuk memasukkan John ke dalam mobil. Setelah itu mengikat tangan serta kaki pria tersebut dan membawanya ke markas yang sudah ditentukan oleh Arion. Didalam markas ini sudah ada 4 orang pria yang merupakan Agus beserta 3 orang rekannya.
"Mungkin kau bisa ingat ketika melihat fotonya." Sebastian menunjukkan foto seorang gadis yang disimpannya di galeri. Arion memandang foto itu dengan serius namun tetap menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak mengingat gadis itu. "Apa benar dia pernah tidur denganku? Aku saja baru melihat wajahnya.""Kau tidak mengingatnya?""Sama sekali tidak paman. Jika si John itu bekerja sama dengan paman Heru sejak 6 tahun terakhir, kemungkinan aku mengenal adiknya lebih dari 6 tahun."Sebastian menganggukkan kepalanya. "6, 7 bahkan 10 tahun yang lalu sekalipun, aku bukanlah pria brengsek. Aku baru menjadi seperti itu sejak 5 tahun terakhir, dan tobat setelah mengenal Zahira." Arion mengingat kembali dosa masa lalunya."Ya mana aku tahu kalau masalah di atas ranjang kau," jawab Sebastian.Arion menggelengkan kepalanya. "Apa benar dia tidur denganku?"Sebastian mengambil handphonenya dan menghubungi orang yang selama ini diperintahkan nya menyelidiki tentang Jhon. "Coba kau selidiki kapa
"Aku merasa menjadi anak yang durhaka, paman. Mereka yang sudah membunuh papi, mami serta calon adikku. Namun aku justru menjadi dia raja. Aku beri saham yang cukup tinggi. Dengan tujuan dia, istri dan anak-anaknya hidup serba berkecukupan. Aku beri dia jabatan yang tinggi, agar semua orang menghormatinya." Arion tertawa sumbang. Meskipun hukuman mati sudah di tentukan untuk mengakhiri hidup Heru berserta keluarganya, tetap saja Arion merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan dia tidak akan pernah memaafkan orang itu. Jangankan untuk memaafkan, melihat wajahnya pun tak sudi."Ya sudahlah kalau kau tidak mau berjumpa dengan orang itu. Aku hanya menyampaikan pesan Briptu Ambri. Jika aku jadi kau, aku juga tidak akan mau berjumpa dengan dia." Sebastian mengangkat kedua bahunya dan dengan gaya acuh tak acuh. Sudah berulang kali Heru meminta untuk berjumpa dengannya. Namun Arion tidak mau menerima bertemu dengan pria bejat tersebut. Ia juga tidak tertarik untuk mendengar drama kesedihan He
Arion sibuk dengan handphone ditangannya, sedangkan mata melirik ke arah Zahira yang sedang memakai baju. Perut istrinya itu sudah semakin besar, namun mengapa Zahira terlihat semakin menggoda. Bobot berat tubuhnya bertambah hingga 15 kg, membuat tubuhnya terlihat berisi dan semok. "Hubby, tolongin." Zahira berkata ketika kesulitan memasukkan kakinya ke dalam kaki celana. "Tolong apa?" Arion berpura-pura sibuk dengan handphone nya sehingga tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Zahira. "Hobi, Hira susah pakai celana," kata Zahira dengan kesal."Kalau begitu tidak usah dipakai sweet heart. Arion melepaskan handphone di tangannya dan langsung mendekati istrinya yang sedang duduk di atas tempat tidur. "Hobi mau ngapain?" Zahira memandang Arion dengan mata terbelalak. "Kata dokter agar pembukaan cepat maka si botak harus sering-sering lihat anak." Arion tersenyum mesum memandang perut buncit Zahira. Sebagai seorang dokter, Zahira tidak bisa membantah Perkataan suaminya. "Iya, t