Share

Bab 3

Author: Hana Pangestu
Usai bicara, aku melemparkan kontrak itu tepat ke wajahnya, lalu berdiri dan mengusir mereka, "Aku mau istirahat, kalian minggat sekarang! Oh iya, jangan lupa bawa semua sampahmu pergi juga!"

Aku masih tidak percaya, pria yang sudah kusukai sejak umur enam belas tahun, delapan tahun menyukainya, enam tahun berpacaran dan baru hari ini aku benar-benar melihat siapa dia sebenarnya!

Aku harus berterima kasih pada Dewita. Jika bukan karena dia, aku pasti akan menikah dengan pria menjijikkan dan munafik ini. Hidupku pasti akan sangat menyedihkan!

Sarah langsung marah karena ucapanku. Dia berdiri dan berkata, "Nora, ini semua salahmu! Kamu yang terlalu emosian! Lihatlah Dewita, dia begitu lembut, patuh, berpendidikan dan beretika. Setiap kali melihatku, dia selalu bersikap sopan, nggak seperti dirimu ... "

Aku menahan rasa jijik yang hampir meluap dan kebetulan melihat anjing peliharaanku lewat di ruang tamu. Aku pun berbalik dan memanggilnya, "Bagel, gigit mereka!"

"Guk! Guk guk!" Bagel sangat patuh, langsung menerjang mereka dan menggonggong ganas.

"Kamu ... benar-benar ... !" Sarah begitu marah sampai wajahnya pucat. Steve buru-buru menopangnya agar tidak jatuh.

Steve menatapku dengan ekspresi yang asing, lalu berkata dengan geram, "Nora, keterlaluan sekali kamu! Aku benar-benar salah menilaimu!"

Aku menyeringai dingin. Dalam hati, aku juga berpikir demikian.

Sepasang ibu dan anak itu pergi dengan malang, bahkan lupa membawa sampah mereka.

Aku mengernyit dan berpikir, besok saja aku menyuruh orang membuangnya ke tempat sampah.

Keesokan paginya, aku menerima transfer empat miliar di rekening bankku.

Meskipun marah dan muak, aku tidak akan menolak rezeki. Lagipula, aku juga mau melihat dengan mata kepala sendiri seperti apa wajah Dewita yang sekarat itu.

Jadi, aku mengemas perhiasan yang sebelumnya disiapkan untuk pernikahanku dan membawanya sendiri ke rumah sakit.

Di tengah jalan, Gaius Tira yang juga ayahku meneleponku.

"Dewita sedang sakit, sebagai kakak, kamu bahkan nggak datang menjenguknya! Kamu ini sama nggak berperasaannya seperti ibumu!"

Begitu mengangkat telepon, dia langsung memarahiku. Aku yang sudah terbiasa menjawab dengan santai, "Perlukah aku beli petasan dan menyalakannya?"

"Nora! Omongan macam apa itu?!" ujarnya mengamuk.

Aku tetap tenang dan berkata, "Menyalakan petasan untuk mengusir nasib buruk, menghalau roh jahat dan berdoa agak penyakitnya segera pergi, apa yang ayah pikirkan?"

Dia langsung terdiam.

Aku tersenyum kecil, lalu menambahkan, "Sekalian merayakannya juga."

"Kamu ... Nora, kamu benar-benar sama seperti ibumu ... "

Aku tidak memberinya kesempatan untuk menghina ibuku. Dengan cekatan, aku langsung menutup teleponnya.

Membayangkan dia begitu marah hingga hampir meledak, tapi tak sempat memarahiku, aku tak bisa menahan tawa kecil.

Semalam, aku sempat berpikir, apakah Dewita yang masih muda terkena penyakit mematikan ini karena karma dari perbuatan buruk orang tuanya?

Apakah ini karma untuknya? Jika iya, maka takdir memang adil.

Saat tiba di depan kamar rumah sakit, aku hendak mengetuk pintu, tetapi tiba-tiba mendengar suara dari dalam, mereka sedang membicarakan diriku.

"Nora pasti senang bukan main. Dari kecil dia memang membenci Dewita, selalu menindas adik-adiknya dengan dalih sebagai kakak. Sekarang Dewita terkena penyakit mematikan, dia pasti sangat senang."

Ujar Sari dengan suara gemetar dan tak tahan untuk menangis. Setelah itu, dia mulai meratap, "Kenapa hidupku begitu menyedihkan ... ? Kenapa Tuhan begitu nggak adil, kenapa nggak membiarkan gadis jalang itu mati saja? Kenapa malah anakku yang harus menderita ... ? Huhu ... "

Aku langsung mendorong pintu dengan kuat dan melihat ayahku sedang memeluk Sari, menenangkannya dengan lembut. Benar-benar pasangan yang begitu harmonis.

Suara benturan pintu menarik perhatian semua orang di dalam. Mereka serentak menoleh ke arahku dengan berbagai ekspresi.

Seketika, suasana di ruangan menjadi tegang. Kemudian, Steve yang pertama kali membuka suara, "Eh Nora."

Dia menyambutku dengan ekspresi hangat, seolah tidak ada yang terjadi. Aku mengabaikannya dan dengan tenang mengeluarkan korek api, lalu menarik segulung petasan kecil dari dalam tas.

Wajah Steve langsung berubah drastis, "Nora, apa yang mau kamu lakukan?!"

Aku menjawab santai, "Mengusir nasib buruk."

Gaius langsung mengerti, menunjukku dan berteriak, "Nora, kalau kamu berani ... "

"Pang! Pang! Pang!"

Belum selesai dia bicara, aku sudah menyalakan petasan itu dan melemparkannya tepat ke kaki Steve.

Dia ketakutan setengah mati dan langsung lari terbirit-birit, sementara yang lain ikut panik menghindar.

Pemandangan ini benar-benar luar biasa dan menyenangkan.

Semua orang tahu bahwa tradisi pemakaman di Kota Belian, petasan dinyalakan setiap beberapa meter untuk mengusir roh jahat, membangunkan arwah dan menunjukkan rasa hormat kepada leluhur.

Tentu saja, petasan tidak diperbolehkan di pusat kota, jadi tradisi ini hanya dilakukan di daerah pinggiran.

Namun aku yakin, semua orang di ruangan ini paham dengan makna petasan ini.

Petasan kecil itu hanya menyala beberapa detik. Aku melemparkan tiga gulungan berturut-turut, membuat suasana rumah sakit jadi sangat meriah.

Jika bukan karena mempertimbangkan pasien lain di lantai yang sama, aku benar-benar ingin membawa petasan besar yang biasa dipakai saat tahun baru dan langsung mengirim Dewita ke akhirat.

Dalam hitungan detik, aroma asap memenuhi ruangan.

Seperti yang kuduga, alarm kebakaran langsung berbunyi.

Tak lama kemudian, alat penyiram otomatis di langit-langit menyemprotkan air.

Seketika, kamar rumah sakit mewah ini berubah menjadi gua air terjun.

Aku mendengar jeritan Sari dan teriakan panik Dewita di atas ranjang, "Ibu, ibu ... "

Sementara aku? Aku hanya berdiri di depan pintu, mundur sedikit agar tidak terkena air.

Namun, mereka tidak seberuntung itu. Mereka semua basah kuyup seperti seekor ayam malang.

Dokter, perawat dan petugas keamanan pun segera datang.

Banyak orang berkumpul untuk menonton di luar kamar. Para ayam malang di dalam ruangan pun keluar dari ruangan satu per satu.

Setelah mengetahui kebenarannya, dokter langsung mengomel marah, "Konyol! Kalau mengusir penyakit semudah menyalakan petasan, lalu buat apa ada dokter? Buat apa ada rumah sakit? Aku bisa mengerti perasaan kalian sebagai orang tua, pastinya khawatir, tapi jangan sampai terjebak dalam takhayul! Bukannya menyembuhkan, malah bisa memperburuk keadaan!"

Sari basah kuyup dan berlari keluar, menunjuk ke arahku sambil memaki, "Bukan ide kami! Ini ulah wanita ini! Dia sengaja melakukannya! Dokter, kalian bisa laporkan ke polisi dan tangkap dia! Dia mengganggu ketertiban umum!"

Namun, dokter sama sekali tidak tertarik mendengar perdebatan itu.

Di mata dokter, mencari tahu siapa yang salah tidaklah penting. Yang terpenting adalah segera memastikan pasien mendapatkan tempat yang aman.

Jadi, tanpa mempedulikan Sari, dokter langsung memerintahkan perawat, "Cepat siapkan kamar lain untuk pasien!"

Dewita yang juga basah kuyup dengan baju pasiennya, berdiri di samping Steve yang memeluknya erat.

Tak lama, perawat menyiapkan kamar baru dan Steve langsung membawa Dewita masuk ke dalam.

Sari tak bisa menerima semua ini. Dia menatapku dengan penuh kebencian, masih ingin memakiku, tetapi karena khawatir dengan Dewita, dia memilih masuk ke kamar lebih dulu.

Gaius mengusap wajahnya yang basah, lalu menunjuk ke arahku dengan penuh kebencian, sambil berkata, "Nora, tunggu saja pembalasan dariku!"

Aku tetap tanpa ekspresi, tidak takut sama sekali.

Sebenarnya, tujuan kedatanganku sudah tercapai dan aku sudah seharusnya pergi. Tapi saat berbalik, aku teringat bahwa diriku belum memberikan perhiasan itu kepada pasangan murahan ini.

Jadi, aku pun masuk kembali ke dalam kamar pasien.

Dewita sudah mengganti baju pasiennya dengan yang kering. Saat melihatku masuk lagi, sorot matanya sedikit berubah, lebih tajam dari sebelumnya. Tapi entah karena ada Steve di sana atau alasan lain, dia terlihat menahan diri.

"Nora, apa lagi yang mau kamu lakukan?!" bentak Sari yang keluar dari kamar mandi padaku.

Aku mengabaikannya, melangkah mendekati pasangan pengkhianat itu, lalu mengeluarkan perhiasannya dan berkata, "Dewita, selamat atas pernikahanmu. Akhirnya, kamu bisa menikahi pria yang kamu idamkan. Harapanmu terkabul dan kamu pun bisa mati dengan tenang."

"Nora Tira!" Sari kembali mengamuk.

Tapi aku hanya mengatakan fakta.

Saat berusia delapan belas tahun, Dewita berkata bahwa impiannya adalah menikah dengan Steve. Jika tidak bisa, dia lebih baik mati.

Dan lihatlah sekarang, ucapannya menjadi kenyataan.

Namun, meskipun kata-kataku begitu tajam, Dewita sama sekali tidak marah.

Dia malah menatapku dengan mata berkaca-kaca dan berkata dengan suara lembut, "Terima kasih, kak. Terima kasih sudah merelakan Kak Steve untukku. Aku tahu kamu pasti sangat marah, sampai melakukan hal seperti tadi. Aku yang salah, aku nggak menyalahkanmu ... "

Belum selesai bicara, air matanya sudah mengalir, seakan-akan orang yang penuh penderitaan.

Aku tersenyum tipis dan menjawab, "Dewita, sikap jahatmu begitu terang-terangan dulu, kenapa sekarang malah jadi berpura-pura baik? Apa kamu takut Kakak Stevemu nggak suka melihat sifat aslimu yang licik?"

Dia tetap menunjukkan ekspresi penuh kepiluan, menjawab, "Aku masih kecil dulu, nggak mengerti apa-apa. Sementara kamu selalu begitu sempurna, aku hanya bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan sedikit perhatian ... Kamu nggak akan pernah mengerti rasanya hidup menumpang di rumah orang."

Cih!

Aku menggeleng-gelengkan kepala, dalam hati justru mulai mengaguminya!

Aktris berbakat seperti ini patut diberikan penghargaan!

Sejak dia masuk ke Keluarga Tira, dia selalu diperlakukan seperti putri kecil, sementara diriku putri kandung Keluarga Tira, hanya dianggap sebagai pembantu sekaligus samsak.

Dan sekarang, dia berani bilang kalau dia hanya menumpang hidup di rumah orang lain?

Aku malas berdebat, jadi hanya menanggapinya dengan santai, "Kalau begitu, pukulan yang kudapat selama ini rasanya sia-sia. Kamu mungkin nggak tahu rasanya hidup menumpang, tapi kamu pasti tahu bagaimana rasanya segera mati."

"Nora, jangan keterlaluan!" tegur Steve dengan nada tajam.

Gaius juga ikut memarahiku, "Nora, adikmu sudah sekarat, tapi kamu malah mengejeknya! Hati-hati, karma itu nyata!"

Aku menoleh ke arah ayah bejatku dan dengan tenang berkata, "Jangan sembarang mengutukku, kalau kutukan kalian benar-benar terjadi, putri kesayanganmu juga nggak akan tenang di akhirat. Tanpa perlindungan kalian, dia bukanlah lawanku."

"Dasar kamu ... "

Melihat mereka kehabisan kata-kata dengan wajah memerah karena marah, aku hanya mendengus dalam hati. Kemudian, aku membungkuk, meletakkan kotak perhiasan di samping Dewita, "Ambil saja ini, kekasihmu sudah membayarnya."

Dewita menoleh ke arah Steve yang wajahnya langsung tampak kaku.

"Kapan pernikahannya?" tanyaku pura-pura peduli. Aku mengira mereka akan menunggu kondisi Dewita membaik dulu sebelum menikah.

Namun, Dewita menjawab dengan suara lembut, "Tetap pernikahanmu dengan Kak Steve, hanya saja, pengantinnya digantikan oleh diriku ... "

Apa?!

Aku mengernyit dan akhirnya mengerti semuanya.

Ternyata, mereka bukan hanya merebut tunanganku, tapi juga gaun pengantin, perhiasan, bahkan seluruh pernikahanku?!

Melihat reaksiku, Sari tersenyum puas, seakan penuh kemenangan dan menjawab, "Pernikahanmu dengan Steve sudah dipersiapkan dengan baik, undangannya juga sudah dikirim, sayang sekali kalau dibatalkan, 'kan? Jadi, lebih baik tetap dilaksanakan, hanya saja dengan pengantin baru. Lebih praktis dan hemat tenaga."

Aku tidak menjawab, hanya menoleh ke arah Steve, ingin melihat bagaimana reaksinya.

Aku sudah menghabiskan waktu setengah tahun untuk merencanakan pernikahan ini.

Dari perencanaan acara, pemilihan suvenir, bahkan menjahit gaun pengantin sendiri, sampai pergi ke luar negeri demi memilih perhiasan pernikahan ...

Ternyata, semua kerja keras itu hanya untuk diberikan secara cuma-cuma kepada seorang wanita pengkhianat?

Steve menatap tatapan marahku, terlihat jelas bahwa dia merasa bersalah.

Dia maju selangkah, mencoba menggenggam tanganku, tapi aku langsung menepisnya.

"Maafkan aku ... Nora. Aku tahu kamu sudah mengorbankan banyak hal untuk pernikahan ini, tapi justru karena itulah, acara ini nggak boleh disia-siakan. Lagipula, Dewita itu adikmu, kalian satu keluarga, jadi berikan pernikahan ini padanya juga termasuk ... "

Mungkin karena melihat wajahku yang semakin muram, suaranya pun melemah, dia bahkan tak menyelesaikan kalimatnya.

Aku mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak menamparnya. Aku hanya berkata sinis, "Jadi maksudmu ... lebih baik keuntungan ini diberikan kepada orang sendiri?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 4

    Steve membeku, tidak bersuara.Sari langsung meninggikan suara, "Akhirnya kata-katamu bisa lebih manusiawi. Kita ini satu keluarga, bukankah sudah seharusnya kakak mengalah untuk adiknya? Anggap saja ini hadiah pernikahan darimu untuk adikmu."Aku tertawa dingin, menatap ibu tiri ini, lalu tiba-tiba berkata lembut, "Kalau begitu, aku harus memberikan satu hadiah lagi.""Hadiah apa?" tanya Sari.Aku menjawab, "Sebuah peti mati untuk diletakkan di tempat pernikahan.""Nora Tira!" Sari langsung naik pitam, wajahnya memuram karena marah, menatapku dengan penuh kebencian.Aku tersenyum dan menjelaskan dengan lembut, "Di zaman dulu, saat seorang wanita menikah, biasanya keluarga memasukkan peti mati dalam mas kawin. Pada hari pernikahan, peti itu dibawa bersama pengantin ke rumah suaminya. Sebagai kakak, hadiah pernikahan yang kuberikan ini sangat sesuai dengan tradisi, 'kan?"Kata-kataku masuk akal, mereka bahkan tak bisa membantah, hanya bisa menahan amarah dan menelannya.Sama seperti saa

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 5

    Aku tertawa sinis, mengalihkan pandangan ke jalan yang ramai. Setelah menenangkan diri beberapa saat, aku menoleh kembali dan menyindirnya, "Steve, aku bukan tempat daur ulang sampah. Nggak peduli seberapa besar aku mencintaimu dulu atau seberapa banyak aku berkorban untukmu, sejak hari kamu memilih untuk mengkhianatiku, kamu sudah nggak pantas menerima cintaku lagi."Aku berbalik hendak pergi, tetapi tak bisa menahan diri untuk menoleh lagi dan menambahkan, "Sekalipun semua pria di dunia ini lenyap, aku tetap nggak akan sudi melihatmu lagi, sungguh menjijikkan."Mungkin sikapku yang begitu tegas sedikit melukai hati Steve. Tiba-tiba, dia melangkah maju, meraih tanganku dan mulai memohon, "Nora, aku mencintaimu. Aku sangat menghargai enam tahun kebersamaan kita. Tapi, Dewita sudah mau meninggal, dia begitu menyedihkan dan malang. Permintaan terakhirnya sebelum meninggal hanyalah ... " "Lepaskan aku!""Nora, aku bersumpah, setelah Dewita ... "Aku tak membiarkannya menyelesaikan omong

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 6

    "Nora, kalau sampai terjadi sesuatu pada Dewita, kamu harus tanggung jawab!" Steve memperingatkanku dengan wajah muramnya sebelum bergegas pergi, menggendong Dewita dalam pelukannya.Aku terpaku di tempat untuk waktu yang lama, pikiranku dipenuhi dengan ekspresi kejam dan kemarahan Steve padaku.Janji-janji setia di masa lalu kini terasa sangat menusuk. Sejak kapan dia berubah? Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali?Aku larut dalam kesedihan, sampai akhirnya Angel masuk dan bertanya dengan cemas apakah aku baik-baik saja. Barulah aku tersadar dari lamunan.Meratapi pria brengsek seperti itu tidak ada gunanya. Aku menguatkan diri dan kembali fokus pada pekerjaan.Menjelang siang, ponselku berdering.Melihat nama Sari di layar, aku langsung menolak panggilan itu.Tak lama kemudian, ponselku berdering lagi.Kali ini dari ayahku.Aku mulai curiga, apa mungkin Dewita sudah meninggal?Setelah ragu sejenak, akhirnya aku pun mengangkat telepon itu.Namun, begitu aku mendekatkan ponsel ke t

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 7

    Aku menutupi mata yang perih dengan sapu tangan, menarik napas dalam-dalam, tak ingin tahu siapa yang duduk di sebelahku.Namun tiba-tiba, ayahku muncul dengan nada sangat hormat dan rendah hati, "Pak Billy, maaf atas ketidaknyamanannya, kursi VIP ada di sana, duduk di sana akan lebih nyaman.""Nggak perlu, aku duduk di sini saja," jawab pria yang dipanggil Billy itu dengan tenang, tapi tetap penuh wibawa.Ayahku masih ingin mengatakan sesuatu, tapi MC sudah memanggil masing-masing orang tua pengantin naik ke panggung. Sari segera datang dan menariknya pergi.Aku mendongak, menenangkan diri dan belum sempat mengembalikan sapu tangan itu, langsung terdengar suara menggema di seluruh aula, "Ayo, kita persilakan saksi pernikahan hari ini, Bu Nora Tira untuk naik ke atas panggung!"Seketika, lampu sorot menyala ke arahku. Aku terkejut dan tidak siap.Keributan yang tadinya memenuhi ruangan langsung mereda, membuat suasana sunyi senyap. Aku tahu, semua tamu terkejut dan heran. Ada yang mera

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 8

    Dewita menatapku dengan mata berkaca-kaca, bahkan terisak saat mulai berbicara.Mendengar setengahnya saja, aku sudah paham. Dia sedang menjual kesedihan di depan semua orang, memainkan trik manipulasi!"Terima kasih kepada kakakku karena telah merestui cinta antara aku dan Kak Steve. Terima kasih karena dia telah membuat diriku bisa pergi dari dunia ini tanpa penyesalan. Aku berharap kalian nggak mengejek kakakku, dia adalah kakak terbaik di dunia."Dewita menangis saat mengucapkan kata-kata itu. Aula yang tadinya penuh dengan ejekan dan suara riuh mendadak sunyi. Semua tamu kini benar-benar serius menatap ke arah panggung. Tidak ada lagi yang tertawa dan mencemooh.Aku juga melirik ke arah para tamu. Entah hanya khayalanku atau tidak, tapi aku menangkap sosok seorang pria tampan dengan mata setajam bintang di malam hari. Bibir tipisnya melengkung.Dia seperti tersenyum, tapi tidak sepenuhnya. Seakan sama sekali tidak tersentuh oleh aksi dramatis Dewita.Dewita berbalik menatapku deng

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 9

    Situasi di tempat resepsi mendadak menjadi kacau balau. Para tamu mengangkat ponsel mereka, sibuk merekam dan mengambil foto.Aku sendirian dan jelas berada dalam posisi yang lemah. Untungnya, orang tua Steve masih tahu malu, mereka buru-buru naik ke atas panggung untuk melerai."Pak Gaius! Bu Sari! Ini pernikahan anak-anak kita, banyak tamu yang melihat! Hentikan!""Jangan halangi aku! Aku harus menghajar anak durhaka ini hari ini! Dasar pembawa sial! Kelahiranmu hanya mendatangkan sial untukku!"Gaius benar-benar kehilangan kendali, wajahnya tampak ganas. Bahkan orang tua Steve tak sanggup menariknya pergi.Tiba-tiba, Sari berteriak, "Hentikan! Dewita pingsan! Cepat, tolong dia!"Gaius langsung terhenti. Dia menoleh dan tanpa pikir panjang mendorongku ke samping, lalu berlari ke arah putri kesayangannya. Dengan panik, dia berkata, "Apa yang terjadi? Cepat panggil ambulans!"Orang-orang yang tadi mengelilingiku langsung bubar. Semua berlari menuju pengantin yang kini tergeletak tak sa

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 10

    Kenapa dia bisa datang ke pernikahan aku dan Steve?Aku benar-benar tak habis pikir, apa mungkin ada kesalahan?Tapi, mengingat orang itu jarang muncul di hadapan publik dan sekali muncul justru menyaksikan drama besar seperti ini, sepertinya perjalanannya kali ini tidak sia-sia.Tiba-tiba ponselku berdering, menarikku kembali dari pikiran yang berantakan.Dari ujung telepon, terdengar suara Wenny yang penuh kemarahan dan emosi, "Steve dan Dewita benar-benar menjijikkan! Aku hampir saja melempar ponselku saking kesalnya! Untung saja kamu nggak takut dan balas menyerang mereka! Mantap! Biar mereka kapok!"Aku menghela napas, bersandar di kursi dengan satu tangan menutupi dahi, "Jangan bilang ini sudah tersebar di seluruh media sosial?""Menurutmu? Drama langka seperti ini sulit ditemukan, bahkan sinetron paling dramatis pun nggak akan bisa mengalahkannya. Netizen sekarang terpecah jadi dua kubu, saling hujat dengan sengit."Aku memejamkan mata, kepalaku semakin sakit.Aku memang ingin m

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 11

    Ada yang hampir mati?Efek obat tidur membuat kepalaku masih berat dan linglung. Aku membuka pintu dan melihat Steve berdiri di sana. Dengan nada penuh kepuasan, aku bertanya, "Dewita sudah mati?"Ucapan itu langsung membuatnya murka."Nora! Kejam sekali kamu!" ujarnya marah dengan wajah yang tampak muram, ekspresi ini belum pernah kulihat sebelumnya.Aku mengernyit, malas berdebat dengannya. Aku langsung mendorongnya keluar dan bersiap menutup pintu.Namun, gerakannya lebih cepat. Dengan kasar, dia menendang pintu hingga terbuka, lalu mencengkeram lenganku."Steve, apa yang kamu lakukan?! Kamu menerobos masuk ke rumahku?! Aku bakal lapor polisi!" teriakku marah, berusaha keras melepaskan diri. Dalam kemarahan, aku menamparnya lagi.Namun, dia mengabaikannya dan malah menyeretku keluar, memaksaku masuk ke dalam mobilnya."Steve, kamu sudah gila?! Berhenti! Turunkan aku!""Kondisi Dewita sangat kritis. Kamu harus ikut ke rumah sakit!" teriak Steve langsung menginjak gas dan mobil melesa

Latest chapter

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 100

    Meskipun aku tidak menyukai mereka sekeluarga, bagaimanapun dia adalah orang yang lebih tua, demi kesopanan, aku tetap tersenyum dan menyapa, "Halo, tante.""Nora, jadi kamu benar-benar sudah bersama Pak Billy? Dia nggak tahu kamu itu janda? Statusmu ini jelas ... ""Ibu, bukan janda, dia bahkan belum resmi cerai dengan kakak! Kalau sekarang bersama Pak Billy, itu namanya selingkuh!"Ujar Stefi dengan wajah penuh penghinaan dan kemarahan, lalu menggerutu, "Ada apa sih dengan Pak Billy? Kok bisa tertarik dengannya? Selain cantik, apa lagi yang bisa dibanggakan?"Aku bahkan belum mengucapkan satu kata pun, tapi mereka sudah menempelkan label selingkuh padaku. Benar-benar tidak masuk akal.Aku tertawa sinis, "Stefi, otak itu hal yang bagus, sayangnya kamu nggak punya. Kalau kamu mau tahu siapa yang sebenarnya selingkuh, bagaimana kalau kita tanya orang-orang di sini?"Saat itu, peristiwa pernikahan konyol itu sudah jadi bahan tertawaan di seluruh kota. Semua orang tahu kalau Keluarga Joan

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 99

    Namun, di hadapan Jeff saat ini, situasinya tidak memungkinkan. Aku hanya bisa mencari kesempatan lain.Melihat aku sangat canggung, Billy segera membantuku keluar dari situasi ini, "Ayo, para tamu hampir semua sudah datang, pesta bakalan segera dimulai."Aku mengikuti Billy memasuki aula pesta dan sekali lagi mendapat pemahaman baru tentang arti sebenarnya dari kekuasaan dan status sosial.Di dalam Vila Solene terdapat sebuah bangunan bergaya barat tiga lantai yang berdiri sendiri. Bangunan ini memiliki aula pesta besar, ruang konferensi multifungsi dan klub rekreasi. Banunan ini terpisah dari bangunan utama rumahnya, Sehingga dapat memberikan tingkat privasi yang sangat baik bagi pemiliknya.Dekorasi seluruh bangunan tampak sederhana, tetapi sangat berkelas. Bahkan hiasan yang terlihat sepele pun merupakan koleksi seni bernilai tinggi.Saat ini, aula pesta sudah penuh dengan tamu. Suasana meriah dengan obrolan santai dan tawa para tamu yang jelas berasal dari kalangan atas.Aku melih

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 98

    "Bagaimana kamu menjelaskannya?""Bilang saja nggak ada apa-apa di antara kita. Aku nggak tidur denganmu, kamu juga nggak tidur denganku.""Kamu, seorang gadis menjelaskan hal seperti ini? Bukankah itu malah membuatku terlihat lebih tidak berani bertanggung jawab?""Aku ... " Aku hampir putus asa, malu bukan main dan bertanya, "Jadi harus bagaimana?"Saat kami sedang pusing memikirkan solusi, tiba-tiba terdengar suara seseorang, "Billy, kudengar kamu keluar khusus untuk menjemput tamu penting. Putri keluarga mana yang begitu kamu hormati?"Aku menoleh ke arah suara itu. Dari belakang Billy, seorang pria tinggi dan gagah melangkah mendekat. Aura karismatiknya terpancar jelas.Sebelum Billy berbalik, ekspresinya sudah semakin rumit."Datang juga orangnya," gumam Billy pelan.Mataku membelalak.Apa? Jadi dia ... Jeff Yosi?Aku tidak mengenalnya.Bagaimanapun, Keluarga Yosi dan Keluarga Solene berada di tingkat yang sama, sedangkan Keluarga Tira jelas berbeda kelas, kami tidak pernah berhu

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 97

    "Nggak, nggak! Bukan ... " Aku buru-buru melambaikan tangan, melangkah lebih cepat ke depan, tapi tetap saja tak bisa menahan diri untuk melirik Billy beberapa kali.Dalam hati, aku berdoa semoga saja orang yang mengendarai Bentley malam itu bukan Jeff.Sayangnya, doaku tidak terkabul.Melihat ekspresiku yang aneh dan tampak ragu-ragu, setelah berpikir sejenak, Billy bertanya, "Kamu bertemu Jeff akhir-akhir ini?"Begitu mendengar pertanyaannya, aku langsung paham.Aaaa ... aku ingin lenyap saja dari dunia ini!"Jadi ... apa yang Pak Jeff bilang padamu?" tanyaku pasrah, memutuskan untuk menghadapinya secara langsung.Billy menyipitkan matanya sedikit, lalu menampilkan ekspresi yang sulit dijelaskan, seperti malu tapi juga geli."Maksudmu ... tentang pertengkaranmu dengan Steve? Kamu bilang sudah tidur denganku dan bukan hanya sekali?"Aku langsung tersandung dan hampir saja terjatuh."Hati-hati!" Untung saja Billy sigap menarik lenganku.Wajahku langsung panas membara, sekujur tubuhku t

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 96

    Aku berputar beberapa kali di depan cermin dan merasa cukup puas dengan penampilanku.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku mengambilnya dan melihat nama Billy Solene di layar."Halo, Pak Billy.""Nora, sekitar sepuluh menit lagi, sopir bakal tiba di depan apartemenmu.""Iya, aku sudah siap juga, bakal turun sebentar lagi," jawabku dengan ringan, lalu menambahkan dengan sedikit sungkan, "Benar-benar merepotkanmu harus mengirim sopir untuk menjemputku.""Nggak masalah, jalanan di pegunungan kurang aman di malam hari. Karena aku yang mengundangmu, tentu aku juga harus memastikan keselamatanmu."Sikapnya selalu begitu penuh perhatian dan detail, seolah tak pernah meninggalkan celah.Setelah menutup telepon, aku memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu mengecek kembali apakah aku sudah membawa lipstik dan bedak. Setelah memastikan semuanya beres, aku pun berangkat.Di sepanjang perjalanan, perasaanku melambung, tegang sekaligus penuh ekspektasi,Saat ini, aku sudah melupakan semua keraguan yang s

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 95

    Aku baru sadar, tidak heran Steve terlihat begitu lesu dan muram, wajahnya pun tampak pucat."Nora, tolong bantu Dewita. Semua kesalahan di masa lalu itu ulah kami, Aku minta maaf padamu, ya? Kumohon, kasihanilah dia, pergi ke rumah sakit dan bantu dia ... "Sari maju dan meraih tanganku dengan erat. Gerakannya yang tiba-tiba itu sampai membuat anjingku terkejut dan melompat mundur ke belakangku.Keningku semakin berkerut, aku menatap Sari sambil tertawa dingin dalam hati."Benar-benar langka, tak kusangka aku bisa mendengar permintaan maaf darimu dalam hidup ini," kataku dengan nada menyindir."Aku minta maaf padamu, Nora. Aku bakal turuti apapun yang kamu mau, asal kamu mau selamatkan Dewita. Bagaimanapun, dia itu adik kandungmu, dia itu manusia yang hidupnya berharga ... " ujar Sari mulai menangis, tampak benar-benar tidak rela kehilangan putrinya.Sebagai seorang ibu, dia memang terlihat sangat menyayangi anaknya. Dewita pun bisa dibilang beruntung dalam hal ini.Namun, pikiranku m

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 94

    Tak disangka, ternyata Billy juga mengetahuinya.Hal ini membuat suasana jadi agak canggung, terutama karena aku berbohong pada Billy, mengatakan bahwa aku sudah tidur dengan pria di hadapanku ini, bahkan berkali-kali. Memikirkan itu saja sudah membuat lidahku nyaris kelu."Ehm ... dia nggak mau cerai denganku, jadi aku hanya bisa mengajukan gugatan ke pengadilan. Sidangnya akan digelar tanggal 6 bulan depan," ujarku menjelaskan, merasa sedikit bersalah dan tidak berani menatap Billy."Tanggal 6 bulan depan? Masih ada setengah bulan.""Iya, ini sudah sesuai jadwal dari pengadilan, jadi nggak ada pilihan lain.""Iya, nggak perlu terburu-buru," ujarnya menenangkanku, lalu menambahkan, "Tapi dalam kasus gugatan cerai, biasanya sidang pertama itu mediasi, jadi kemungkinan besar nggak akan langsung dikabulkan. Biasanya harus menunggu enam bulan untuk mengajukan gugatan kedua, barulah hakin cenderung mengabulkan perceraian.""Iya, pengacaraku juga sudah mengatakan hal yang sama. Aku harus be

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 93

    Aku tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan diriku sendiri, hanya benar-benar malu sampai tidak bisa mengangkat kepala di depannya.Billy melihat betapa malunya aku, seolah ingin mencari lubang untuk bersembunyi. Dengan sangat sopan, dia menghiburku, "Sesekali bersenang-senang dengan teman-teman itu hal yang baik. Bisa melepaskan rasa penat dan stres di hati. Lagipula, soal kejadian malam itu, selain aku, nggak ada orang lain yang tahu. Jadi tenang saja, aku akan merahasiakannya."Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan nada bercanda dan di matanya seperti ada sedikit ... keakraban yang samar.Aku menatapnya dengan ekspresi canggung dan membeku.Beberapa saat kemudian, rasa canggung itu semakin menjadi-jadi, pipiku terasa panas seperti terbakar.Jantungku kembali berdebar kencang dan pikiranku mulai berkelana ke arah yang tidak seharusnya.Insting wanita membertahuku bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dalam hubungan kami, benar-benar tidak biasa.Tapi, aku tidak bisa

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 92

    Wajahku terasa semakin panas.Orang mabuk muntah itu menjijikkan, baunya juga tidak enak.Dan dia, seorang pria kaya raya yang terbiasa hidup bersih dan elegan, malah harus mengurus aku yang muntah-muntah?!Tidak heran saat aku bangun keesokan paginya, tempat sampah sudah bersih.Ternyata dia yang membersihkannya malam itu."Aku baru sadar saat sampai di rumah, tapi ... aku nggak berani meneleponmu. Hari ini malah merepotkanmu, kamu sampai repot-repot mengantarnya ke sini," katanya santai, sepertinya tidak sadar betapa malunya aku saat ini.Kata-kata itu seolah menggelitik saraf kecanggunganku. Aku menatapnya dengan bingung dan bertanya polos, "Kamu ... nggak berani meneleponku?"Billy tersenyum, matanya seakan bersinar dan wajahnya terlihat agak malu."Iya, aku takut kalau kamu melihat jam tangan itu, kamu bakal mengira aku sengaja meninggalkannya sebagai alasan untuk menghubungimu lagi. Sebelumnya, sepertinya ada kesalahpahaman antara kita, hubungan kita juga jadi agak renggang, jadi

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status