Aku tertawa sinis, mengalihkan pandangan ke jalan yang ramai. Setelah menenangkan diri beberapa saat, aku menoleh kembali dan menyindirnya, "Steve, aku bukan tempat daur ulang sampah. Nggak peduli seberapa besar aku mencintaimu dulu atau seberapa banyak aku berkorban untukmu, sejak hari kamu memilih untuk mengkhianatiku, kamu sudah nggak pantas menerima cintaku lagi."Aku berbalik hendak pergi, tetapi tak bisa menahan diri untuk menoleh lagi dan menambahkan, "Sekalipun semua pria di dunia ini lenyap, aku tetap nggak akan sudi melihatmu lagi, sungguh menjijikkan."Mungkin sikapku yang begitu tegas sedikit melukai hati Steve. Tiba-tiba, dia melangkah maju, meraih tanganku dan mulai memohon, "Nora, aku mencintaimu. Aku sangat menghargai enam tahun kebersamaan kita. Tapi, Dewita sudah mau meninggal, dia begitu menyedihkan dan malang. Permintaan terakhirnya sebelum meninggal hanyalah ... " "Lepaskan aku!""Nora, aku bersumpah, setelah Dewita ... "Aku tak membiarkannya menyelesaikan omong
"Nora, kalau sampai terjadi sesuatu pada Dewita, kamu harus tanggung jawab!" Steve memperingatkanku dengan wajah muramnya sebelum bergegas pergi, menggendong Dewita dalam pelukannya.Aku terpaku di tempat untuk waktu yang lama, pikiranku dipenuhi dengan ekspresi kejam dan kemarahan Steve padaku.Janji-janji setia di masa lalu kini terasa sangat menusuk. Sejak kapan dia berubah? Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali?Aku larut dalam kesedihan, sampai akhirnya Angel masuk dan bertanya dengan cemas apakah aku baik-baik saja. Barulah aku tersadar dari lamunan.Meratapi pria brengsek seperti itu tidak ada gunanya. Aku menguatkan diri dan kembali fokus pada pekerjaan.Menjelang siang, ponselku berdering.Melihat nama Sari di layar, aku langsung menolak panggilan itu.Tak lama kemudian, ponselku berdering lagi.Kali ini dari ayahku.Aku mulai curiga, apa mungkin Dewita sudah meninggal?Setelah ragu sejenak, akhirnya aku pun mengangkat telepon itu.Namun, begitu aku mendekatkan ponsel ke t
Aku menutupi mata yang perih dengan sapu tangan, menarik napas dalam-dalam, tak ingin tahu siapa yang duduk di sebelahku.Namun tiba-tiba, ayahku muncul dengan nada sangat hormat dan rendah hati, "Pak Billy, maaf atas ketidaknyamanannya, kursi VIP ada di sana, duduk di sana akan lebih nyaman.""Nggak perlu, aku duduk di sini saja," jawab pria yang dipanggil Billy itu dengan tenang, tapi tetap penuh wibawa.Ayahku masih ingin mengatakan sesuatu, tapi MC sudah memanggil masing-masing orang tua pengantin naik ke panggung. Sari segera datang dan menariknya pergi.Aku mendongak, menenangkan diri dan belum sempat mengembalikan sapu tangan itu, langsung terdengar suara menggema di seluruh aula, "Ayo, kita persilakan saksi pernikahan hari ini, Bu Nora Tira untuk naik ke atas panggung!"Seketika, lampu sorot menyala ke arahku. Aku terkejut dan tidak siap.Keributan yang tadinya memenuhi ruangan langsung mereda, membuat suasana sunyi senyap. Aku tahu, semua tamu terkejut dan heran. Ada yang mera
Dewita menatapku dengan mata berkaca-kaca, bahkan terisak saat mulai berbicara.Mendengar setengahnya saja, aku sudah paham. Dia sedang menjual kesedihan di depan semua orang, memainkan trik manipulasi!"Terima kasih kepada kakakku karena telah merestui cinta antara aku dan Kak Steve. Terima kasih karena dia telah membuat diriku bisa pergi dari dunia ini tanpa penyesalan. Aku berharap kalian nggak mengejek kakakku, dia adalah kakak terbaik di dunia."Dewita menangis saat mengucapkan kata-kata itu. Aula yang tadinya penuh dengan ejekan dan suara riuh mendadak sunyi. Semua tamu kini benar-benar serius menatap ke arah panggung. Tidak ada lagi yang tertawa dan mencemooh.Aku juga melirik ke arah para tamu. Entah hanya khayalanku atau tidak, tapi aku menangkap sosok seorang pria tampan dengan mata setajam bintang di malam hari. Bibir tipisnya melengkung.Dia seperti tersenyum, tapi tidak sepenuhnya. Seakan sama sekali tidak tersentuh oleh aksi dramatis Dewita.Dewita berbalik menatapku deng
Situasi di tempat resepsi mendadak menjadi kacau balau. Para tamu mengangkat ponsel mereka, sibuk merekam dan mengambil foto.Aku sendirian dan jelas berada dalam posisi yang lemah. Untungnya, orang tua Steve masih tahu malu, mereka buru-buru naik ke atas panggung untuk melerai."Pak Gaius! Bu Sari! Ini pernikahan anak-anak kita, banyak tamu yang melihat! Hentikan!""Jangan halangi aku! Aku harus menghajar anak durhaka ini hari ini! Dasar pembawa sial! Kelahiranmu hanya mendatangkan sial untukku!"Gaius benar-benar kehilangan kendali, wajahnya tampak ganas. Bahkan orang tua Steve tak sanggup menariknya pergi.Tiba-tiba, Sari berteriak, "Hentikan! Dewita pingsan! Cepat, tolong dia!"Gaius langsung terhenti. Dia menoleh dan tanpa pikir panjang mendorongku ke samping, lalu berlari ke arah putri kesayangannya. Dengan panik, dia berkata, "Apa yang terjadi? Cepat panggil ambulans!"Orang-orang yang tadi mengelilingiku langsung bubar. Semua berlari menuju pengantin yang kini tergeletak tak sa
Kenapa dia bisa datang ke pernikahan aku dan Steve?Aku benar-benar tak habis pikir, apa mungkin ada kesalahan?Tapi, mengingat orang itu jarang muncul di hadapan publik dan sekali muncul justru menyaksikan drama besar seperti ini, sepertinya perjalanannya kali ini tidak sia-sia.Tiba-tiba ponselku berdering, menarikku kembali dari pikiran yang berantakan.Dari ujung telepon, terdengar suara Wenny yang penuh kemarahan dan emosi, "Steve dan Dewita benar-benar menjijikkan! Aku hampir saja melempar ponselku saking kesalnya! Untung saja kamu nggak takut dan balas menyerang mereka! Mantap! Biar mereka kapok!"Aku menghela napas, bersandar di kursi dengan satu tangan menutupi dahi, "Jangan bilang ini sudah tersebar di seluruh media sosial?""Menurutmu? Drama langka seperti ini sulit ditemukan, bahkan sinetron paling dramatis pun nggak akan bisa mengalahkannya. Netizen sekarang terpecah jadi dua kubu, saling hujat dengan sengit."Aku memejamkan mata, kepalaku semakin sakit.Aku memang ingin m
Ada yang hampir mati?Efek obat tidur membuat kepalaku masih berat dan linglung. Aku membuka pintu dan melihat Steve berdiri di sana. Dengan nada penuh kepuasan, aku bertanya, "Dewita sudah mati?"Ucapan itu langsung membuatnya murka."Nora! Kejam sekali kamu!" ujarnya marah dengan wajah yang tampak muram, ekspresi ini belum pernah kulihat sebelumnya.Aku mengernyit, malas berdebat dengannya. Aku langsung mendorongnya keluar dan bersiap menutup pintu.Namun, gerakannya lebih cepat. Dengan kasar, dia menendang pintu hingga terbuka, lalu mencengkeram lenganku."Steve, apa yang kamu lakukan?! Kamu menerobos masuk ke rumahku?! Aku bakal lapor polisi!" teriakku marah, berusaha keras melepaskan diri. Dalam kemarahan, aku menamparnya lagi.Namun, dia mengabaikannya dan malah menyeretku keluar, memaksaku masuk ke dalam mobilnya."Steve, kamu sudah gila?! Berhenti! Turunkan aku!""Kondisi Dewita sangat kritis. Kamu harus ikut ke rumah sakit!" teriak Steve langsung menginjak gas dan mobil melesa
Aku menatap Steve dan merasa tak perlu lagi menyembunyikan apapun. Dengan nada mengejek, aku berkata, "Kamu baru tahu sekarang? Dewita dan Ken itu adik kandungku, satu ayah!"Mata Steve membelalak lebih besar, "Ayah yang sama? Tapi mereka hanya lebih muda dua tahun darimu ... ""Ya benar, ayah bajinganku itu selingkuh saat aku baru berusia satu tahun atau mungkin lebih awal. Dia melakukan segala cara untuk menceraikan ibuku, hanya agar bisa membawa wanita licik ini dan anaknya masuk ke rumah."Steve tampak semakin syok, pandangannya berpindah antara Gaius dan Sari."Kenapa kamu nggak pernah cerita soal ini?" gumamnya pelan, ekspresinya sulit ditebak, seolah baru menyadari sesuatu yang salah."Aku nggak suka menyebarkan aib keluarga. Lagipula, untuk apa aku repot-repot cerita? bukannya kamu selalu menganggap dirimu pintar? Kenapa nggak bisa menyadari ini?"Aku dan Dewita bisa punya golongan darah langka yang sama, orang normal sekalipun seharusnya bisa curiga.Melihat Steve terdiam, aku
Meskipun aku tidak menyukai mereka sekeluarga, bagaimanapun dia adalah orang yang lebih tua, demi kesopanan, aku tetap tersenyum dan menyapa, "Halo, tante.""Nora, jadi kamu benar-benar sudah bersama Pak Billy? Dia nggak tahu kamu itu janda? Statusmu ini jelas ... ""Ibu, bukan janda, dia bahkan belum resmi cerai dengan kakak! Kalau sekarang bersama Pak Billy, itu namanya selingkuh!"Ujar Stefi dengan wajah penuh penghinaan dan kemarahan, lalu menggerutu, "Ada apa sih dengan Pak Billy? Kok bisa tertarik dengannya? Selain cantik, apa lagi yang bisa dibanggakan?"Aku bahkan belum mengucapkan satu kata pun, tapi mereka sudah menempelkan label selingkuh padaku. Benar-benar tidak masuk akal.Aku tertawa sinis, "Stefi, otak itu hal yang bagus, sayangnya kamu nggak punya. Kalau kamu mau tahu siapa yang sebenarnya selingkuh, bagaimana kalau kita tanya orang-orang di sini?"Saat itu, peristiwa pernikahan konyol itu sudah jadi bahan tertawaan di seluruh kota. Semua orang tahu kalau Keluarga Joan
Namun, di hadapan Jeff saat ini, situasinya tidak memungkinkan. Aku hanya bisa mencari kesempatan lain.Melihat aku sangat canggung, Billy segera membantuku keluar dari situasi ini, "Ayo, para tamu hampir semua sudah datang, pesta bakalan segera dimulai."Aku mengikuti Billy memasuki aula pesta dan sekali lagi mendapat pemahaman baru tentang arti sebenarnya dari kekuasaan dan status sosial.Di dalam Vila Solene terdapat sebuah bangunan bergaya barat tiga lantai yang berdiri sendiri. Bangunan ini memiliki aula pesta besar, ruang konferensi multifungsi dan klub rekreasi. Banunan ini terpisah dari bangunan utama rumahnya, Sehingga dapat memberikan tingkat privasi yang sangat baik bagi pemiliknya.Dekorasi seluruh bangunan tampak sederhana, tetapi sangat berkelas. Bahkan hiasan yang terlihat sepele pun merupakan koleksi seni bernilai tinggi.Saat ini, aula pesta sudah penuh dengan tamu. Suasana meriah dengan obrolan santai dan tawa para tamu yang jelas berasal dari kalangan atas.Aku melih
"Bagaimana kamu menjelaskannya?""Bilang saja nggak ada apa-apa di antara kita. Aku nggak tidur denganmu, kamu juga nggak tidur denganku.""Kamu, seorang gadis menjelaskan hal seperti ini? Bukankah itu malah membuatku terlihat lebih tidak berani bertanggung jawab?""Aku ... " Aku hampir putus asa, malu bukan main dan bertanya, "Jadi harus bagaimana?"Saat kami sedang pusing memikirkan solusi, tiba-tiba terdengar suara seseorang, "Billy, kudengar kamu keluar khusus untuk menjemput tamu penting. Putri keluarga mana yang begitu kamu hormati?"Aku menoleh ke arah suara itu. Dari belakang Billy, seorang pria tinggi dan gagah melangkah mendekat. Aura karismatiknya terpancar jelas.Sebelum Billy berbalik, ekspresinya sudah semakin rumit."Datang juga orangnya," gumam Billy pelan.Mataku membelalak.Apa? Jadi dia ... Jeff Yosi?Aku tidak mengenalnya.Bagaimanapun, Keluarga Yosi dan Keluarga Solene berada di tingkat yang sama, sedangkan Keluarga Tira jelas berbeda kelas, kami tidak pernah berhu
"Nggak, nggak! Bukan ... " Aku buru-buru melambaikan tangan, melangkah lebih cepat ke depan, tapi tetap saja tak bisa menahan diri untuk melirik Billy beberapa kali.Dalam hati, aku berdoa semoga saja orang yang mengendarai Bentley malam itu bukan Jeff.Sayangnya, doaku tidak terkabul.Melihat ekspresiku yang aneh dan tampak ragu-ragu, setelah berpikir sejenak, Billy bertanya, "Kamu bertemu Jeff akhir-akhir ini?"Begitu mendengar pertanyaannya, aku langsung paham.Aaaa ... aku ingin lenyap saja dari dunia ini!"Jadi ... apa yang Pak Jeff bilang padamu?" tanyaku pasrah, memutuskan untuk menghadapinya secara langsung.Billy menyipitkan matanya sedikit, lalu menampilkan ekspresi yang sulit dijelaskan, seperti malu tapi juga geli."Maksudmu ... tentang pertengkaranmu dengan Steve? Kamu bilang sudah tidur denganku dan bukan hanya sekali?"Aku langsung tersandung dan hampir saja terjatuh."Hati-hati!" Untung saja Billy sigap menarik lenganku.Wajahku langsung panas membara, sekujur tubuhku t
Aku berputar beberapa kali di depan cermin dan merasa cukup puas dengan penampilanku.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku mengambilnya dan melihat nama Billy Solene di layar."Halo, Pak Billy.""Nora, sekitar sepuluh menit lagi, sopir bakal tiba di depan apartemenmu.""Iya, aku sudah siap juga, bakal turun sebentar lagi," jawabku dengan ringan, lalu menambahkan dengan sedikit sungkan, "Benar-benar merepotkanmu harus mengirim sopir untuk menjemputku.""Nggak masalah, jalanan di pegunungan kurang aman di malam hari. Karena aku yang mengundangmu, tentu aku juga harus memastikan keselamatanmu."Sikapnya selalu begitu penuh perhatian dan detail, seolah tak pernah meninggalkan celah.Setelah menutup telepon, aku memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu mengecek kembali apakah aku sudah membawa lipstik dan bedak. Setelah memastikan semuanya beres, aku pun berangkat.Di sepanjang perjalanan, perasaanku melambung, tegang sekaligus penuh ekspektasi,Saat ini, aku sudah melupakan semua keraguan yang s
Aku baru sadar, tidak heran Steve terlihat begitu lesu dan muram, wajahnya pun tampak pucat."Nora, tolong bantu Dewita. Semua kesalahan di masa lalu itu ulah kami, Aku minta maaf padamu, ya? Kumohon, kasihanilah dia, pergi ke rumah sakit dan bantu dia ... "Sari maju dan meraih tanganku dengan erat. Gerakannya yang tiba-tiba itu sampai membuat anjingku terkejut dan melompat mundur ke belakangku.Keningku semakin berkerut, aku menatap Sari sambil tertawa dingin dalam hati."Benar-benar langka, tak kusangka aku bisa mendengar permintaan maaf darimu dalam hidup ini," kataku dengan nada menyindir."Aku minta maaf padamu, Nora. Aku bakal turuti apapun yang kamu mau, asal kamu mau selamatkan Dewita. Bagaimanapun, dia itu adik kandungmu, dia itu manusia yang hidupnya berharga ... " ujar Sari mulai menangis, tampak benar-benar tidak rela kehilangan putrinya.Sebagai seorang ibu, dia memang terlihat sangat menyayangi anaknya. Dewita pun bisa dibilang beruntung dalam hal ini.Namun, pikiranku m
Tak disangka, ternyata Billy juga mengetahuinya.Hal ini membuat suasana jadi agak canggung, terutama karena aku berbohong pada Billy, mengatakan bahwa aku sudah tidur dengan pria di hadapanku ini, bahkan berkali-kali. Memikirkan itu saja sudah membuat lidahku nyaris kelu."Ehm ... dia nggak mau cerai denganku, jadi aku hanya bisa mengajukan gugatan ke pengadilan. Sidangnya akan digelar tanggal 6 bulan depan," ujarku menjelaskan, merasa sedikit bersalah dan tidak berani menatap Billy."Tanggal 6 bulan depan? Masih ada setengah bulan.""Iya, ini sudah sesuai jadwal dari pengadilan, jadi nggak ada pilihan lain.""Iya, nggak perlu terburu-buru," ujarnya menenangkanku, lalu menambahkan, "Tapi dalam kasus gugatan cerai, biasanya sidang pertama itu mediasi, jadi kemungkinan besar nggak akan langsung dikabulkan. Biasanya harus menunggu enam bulan untuk mengajukan gugatan kedua, barulah hakin cenderung mengabulkan perceraian.""Iya, pengacaraku juga sudah mengatakan hal yang sama. Aku harus be
Aku tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan diriku sendiri, hanya benar-benar malu sampai tidak bisa mengangkat kepala di depannya.Billy melihat betapa malunya aku, seolah ingin mencari lubang untuk bersembunyi. Dengan sangat sopan, dia menghiburku, "Sesekali bersenang-senang dengan teman-teman itu hal yang baik. Bisa melepaskan rasa penat dan stres di hati. Lagipula, soal kejadian malam itu, selain aku, nggak ada orang lain yang tahu. Jadi tenang saja, aku akan merahasiakannya."Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan nada bercanda dan di matanya seperti ada sedikit ... keakraban yang samar.Aku menatapnya dengan ekspresi canggung dan membeku.Beberapa saat kemudian, rasa canggung itu semakin menjadi-jadi, pipiku terasa panas seperti terbakar.Jantungku kembali berdebar kencang dan pikiranku mulai berkelana ke arah yang tidak seharusnya.Insting wanita membertahuku bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dalam hubungan kami, benar-benar tidak biasa.Tapi, aku tidak bisa
Wajahku terasa semakin panas.Orang mabuk muntah itu menjijikkan, baunya juga tidak enak.Dan dia, seorang pria kaya raya yang terbiasa hidup bersih dan elegan, malah harus mengurus aku yang muntah-muntah?!Tidak heran saat aku bangun keesokan paginya, tempat sampah sudah bersih.Ternyata dia yang membersihkannya malam itu."Aku baru sadar saat sampai di rumah, tapi ... aku nggak berani meneleponmu. Hari ini malah merepotkanmu, kamu sampai repot-repot mengantarnya ke sini," katanya santai, sepertinya tidak sadar betapa malunya aku saat ini.Kata-kata itu seolah menggelitik saraf kecanggunganku. Aku menatapnya dengan bingung dan bertanya polos, "Kamu ... nggak berani meneleponku?"Billy tersenyum, matanya seakan bersinar dan wajahnya terlihat agak malu."Iya, aku takut kalau kamu melihat jam tangan itu, kamu bakal mengira aku sengaja meninggalkannya sebagai alasan untuk menghubungimu lagi. Sebelumnya, sepertinya ada kesalahpahaman antara kita, hubungan kita juga jadi agak renggang, jadi