Share

Bab 4

Author: Hana Pangestu
Steve membeku, tidak bersuara.

Sari langsung meninggikan suara, "Akhirnya kata-katamu bisa lebih manusiawi. Kita ini satu keluarga, bukankah sudah seharusnya kakak mengalah untuk adiknya? Anggap saja ini hadiah pernikahan darimu untuk adikmu."

Aku tertawa dingin, menatap ibu tiri ini, lalu tiba-tiba berkata lembut, "Kalau begitu, aku harus memberikan satu hadiah lagi."

"Hadiah apa?" tanya Sari.

Aku menjawab, "Sebuah peti mati untuk diletakkan di tempat pernikahan."

"Nora Tira!" Sari langsung naik pitam, wajahnya memuram karena marah, menatapku dengan penuh kebencian.

Aku tersenyum dan menjelaskan dengan lembut, "Di zaman dulu, saat seorang wanita menikah, biasanya keluarga memasukkan peti mati dalam mas kawin. Pada hari pernikahan, peti itu dibawa bersama pengantin ke rumah suaminya. Sebagai kakak, hadiah pernikahan yang kuberikan ini sangat sesuai dengan tradisi, 'kan?"

Kata-kataku masuk akal, mereka bahkan tak bisa membantah, hanya bisa menahan amarah dan menelannya.

Sama seperti saat aku menyalakan petasan tadi, jelas itu adalah caraku merayakan, sekaligus menunjukkan rasa puas dan mengutuk Dewita. Tapi, saat aku berkata itu untuk mengusir kesialan, apa yang bisa mereka lakukan?

Selama bertahun-tahun, mereka selalu menginjakku karena aku masih kecil. Sejak kapan aku pernah bisa membela diri?

Sekarang, giliran mereka yang merasakan betapa menyakitkannya ketidakberdayaan!

Sari begitu marah hingga wajahnya memerah, tangannya menunjuk ke arah pintu dan membentakku, "Nora! Pergi sekarang juga!"

Namun, tampaknya masih belum cukup baginya. Dia langsung melampiaskan amarahnya pada ayahku yang brengsek, "Gaius Tira! Lihat putrimu! Bisa-bisanya dia begitu kejam dan nggak berperasaan! Dia bahkan mengutuk putriku seperti ini, kamu malah nggak menegurnya?!"

Gaius juga tampak sangat marah. Tanpa menunggu Sari selesai bicara, dia langsung berjalan ke arahku dengan penuh amarah.

Steve langsung menegang dan buru-buru maju, menenangkannya, "Om Gaius, jangan gegabah, bicarakan baik-baik saja."

Gaius menghentikan langkahnya, tapi jarinya tetap menunjukku dan berteriak, "Minta maaf pada adikmu!"

Bagaimana mungkin aku meminta maaf padanya, aku membalas dengan tegas, "Apa yang salah dari ucapanku? Kalau kamu nggak paham tradisinya, jangan malah balik menyalahkanku ... "

Belum selesai aku bicara, Gaius tiba-tiba mengangkat tangannya dan berusaha menamparku.

Namun, gerakan Steve lebih cepat. Dia langsung berdiri di depanku dan menahan tamparan itu. Telapak tangan Gaius mendarat keras di kepala Steve, sampai rambutnya pun berantakan.

Dewita langsung berteriak, "Ayah! Apa yang kamu lakukan!"

Steve tampak sedikit linglung, tapi dia tetap berusaha membuka matanya dan menenangkan Gaius, "Om Gaius, kekerasan nggak akan menyelesaikan masalah. Bagaimanapun, ini semua salahku. Beri aku sedikit waktu, aku akan menyelesaikan semua ini."

Gaius memang punya banyak penyakit. Dia sudah lama mengidap tekanan darah tinggi, diabetes dan sekarang dirinya sangat marah hingga wajahnya memerah dan tampak kesakitan.

Dengan napas terengah-engah, dia berkata, "Kamu ... bicarakan baik-baik dengannya. Kalau dia masih seperti ini, aku akan mematahkan kakinya!"

Steve buru-buru mengiyakan, lalu menoleh ke arahku dan berkata dengan suara rendah, "Nora, ayo kita bicara di luar."

"Nggak perlu, nggak ada yang perlu kubicarakan denganmu."

Aku hendak berbalik pergi, tapi dia langsung menarik tanganku, "Nora, sikap seperti ini nggak akan menyelesaikan masalah. Kita ini satu keluarga, apapun masalahnya, kita bisa selesaikan dengan baik."

Satu keluarga?

Kata-kata ini membuatku muak. Aku pun langsung menjawab, "Kalian nggak pantas menjadi keluargaku."

Usai bicara, aku pun mengangkat tangan yang dia genggam dan berkata tegas, "Lepaskan."

"Kita harus bicara."

"Kubilang, lepaskan!" Aku berusaha melepaskan diri, tapi dia nggak mau melepaskan tanganku. Karena kesal, aku langsung mengangkat tangan satunya dan menamparnya.

Ruangan sunyi itu terdengar, "Plak." Semua orang menatap kami dengan mata terbelalak.

Kemudian, Dewita langsung menangis dan berteriak, "Nora! Apa yang kamu lakukan?! Kenapa kamu menampar Kak Steve? Aku yang meminta dia menikahiku, kalau kamu mau marah, lampiaskan saja padaku ... "

Aku menoleh ke arah ranjangnya, tersenyum dan berkata, "Apa aku perlu alasan untuk menampar pria bajingan ini? Sedangkan kamu ... biarkan karma yang mengurusmu, aku nggak perlu mengotori tanganku."

Usai bicara, aku tak peduli betapa marahnya mereka, aku langsung berbalik dan meninggalkan ruangan.

Di dalam mobil, aku duduk terpaku cukup lama hingga pikiranku akhirnya tenang.

Rasanya miris sekali memiliki keluarga seperti ini.

Dulu, aku sempat berpikir bertemu dengan Steve, orang yang kucintai bisa menyembuhkan luka di hatiku.

Siapa sangka, justru dia yang memberikan luka paling dalam bagiku.

Mengingat semua pengorbanan yang telah kulakukan untuk menyembuhkan penyakitnya, aku merasa seakan isi perutku dicabik-cabik oleh seekor serigala.

Tiba-tiba, ponselku berdering, membangunkanku dari lamunan.

Aku melihat layar, itu sahabatku, Wenny Lian.

"Halo ... "

"Nyonya Steve, kamu lupa kalau kita ada janji makan siang hari ini? Di mana dirimu? Jangan-jangan kamu ditahan oleh Steve?" canda Wenny yang masih belum tahu apa yang terjadi padaku dalam beberapa hari terakhir.

Aku mengernyit dan baru teringat bahwa diriku memang sudah berjanji makan siang dengannya beberapa hari lalu. Awalnya, rencananya adalah untuk membahas gladi resik pernikahanku.

"Aku sampai sebentar lagi."

Tentu saja gladi resik itu tak diperlukan lagi, tapi aku tetap harus memberitahu sahabatku.

Saat bertemu dengannya di restoran, Wenny langsung melihat ada yang tidak beres denganku.

"Ada apa? Wajahmu pucat sekali. Apa kamu bertengkar lagi dengan keluargamu?" tanya Wenny dengan khawatir.

Dia tahu betapa buruknya hubunganku dengan keluargaku.

Tanpa menjawab pertanyaannya, aku berkata tenang, "Wenny, pernikahanku batal."

Wenny yang sedang menuangkan teh menatapku dengan kaget dan berhenti sejenak, "Apa yang kamu bicarakan? Pernikahanmu minggu depan, kok bisa nggak jadi?"

Aku tersenyum, tapi hatiku terasa mati rasa. Aku menjawab, "Tepatnya, pernikahannya tetap dilaksanakan, tapi pengantinnya bukan aku."

Wenny langsung meletakkan teko teh, berdiri dan memegang dahiku, "Kamu sakit? Demam sampai bicara omong kosong?"

Aku menyingkirkan tangannya dan menyuruhnya duduk kembali, takut nanti dia terlalu kaget sampai jatuh. Lalu, aku menceritakan secara singkat apa yang terjadi selama beberapa hari terakhir.

Mata Wenny langsung membelalak, mulutnya terbuka lebar, ekspresinya seperti melihat hantu.

"Sialan! Steve sudah gila? Dewita jelas-jelas wanita licik, dia buta? Masa nggak bisa lihat? Tiba-tiba ganti pengantin di hari pernikahan, dia nggak takut jadi bahan ejekan di depan tamu? Nggak takut dicaci maki di media sosial? Kalau mau cari masalah juga nggak perlu seekstrim ini!"

Wenny sangat marah, suaranya begitu lantang sampai membuat tamu di sekitar kaget.

"Nggak bisa! Aku harus telepon dia dulu!"

Sifat Wenny benar-benar ceplas-ceplos, lebih galak daripada diriku. Sambil bicara, dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menelepon Steve.

Aku yang sudah lelah, hanya duduk diam dan menyeruput teh, bahkan tidak berusaha menghentikannya.

"Steve! Kamu dipelet sama Dewita? Lalu kenapa kalau dia sakit parah? Apa hubungannya denganmu? Nora sudah bersamamu selama enam tahun, sudah berapa banyak yang dia korbankan untukmu? Kalau bukan karena dia donor darah buat kamu, mungkin kamu sudah mati bertahun-tahun yang lalu! Dasar brengsek nggak tahu terima kasih!"

"Lagipula, sejak kapan kamu dan Dewita mulai pacaran? Jangan-jangan kalian bahkan sudah tidur bersama? Aku sudah sering melihat bajingan, tapi belum pernah melihat bajingan sekacau dirimu! Setidaknya kamu orang yang cukup dikenal, kamu bahkan nggak takut di acara pernikahan nanti malah ... "

Wenny terus mengomel tanpa henti selama lima sampai enam menit, sampai akhirnya seorang pelayan datang untuk mengingatkan agar dia mengecilkan suaranya.

Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian, jadi langsung merebut ponselnya dan menutupnya.

"Kenapa kamu matiin? Aku belum selesai memakinya! Nggak hanya Steve yang harus dimaki, wanita licik itu juga harus dimarahi! Hanya karena sakit parah, dia bisa seenaknya merebut tunangan kakaknya?"

Wenny benar-benar marah hingga kehilangan kendali.

Aku buru-buru menuangkan teh untuknya agar dia lebih tenang, "Sudahlah, jangan ganggu orang lain yang lagi makan."

Dia melihat sekeliling dan baru sadar kalau semua orang memperhatikannya, jadi dia akhirnya meredam amarahnya.

"Apa yang sebenarnya Steve pikirkan? Dia benar-benar cinta dengan Dewita?" tanya Wenny yang masih bingung dan penasaran.

Aku menggeleng dan menjawab, "Nggak tahu, tapi yang jelas dia nggak cinta denganku."

Kalau cinta, mana mungkin dia melakukan hal sebodoh ini?

"Dewita memang sakit jiwa. Dari dulu, dia selalu berusaha merebut semuanya darimu. Bisa-bisanya Steve nggak bisa lihat?"

Aku tersenyum sinis, "Dia selalu menganggap aku yang terlalu berlebihan dan punya prasangka buruk pada Dewita."

Wenny begitu kesal sampai meneguk beberapa cangkir teh sekaligus, lalu tiba-tiba bertanya, "Dia tahu nggak kalau Dewita dan Ken itu adik kandungmu?"

"Sepertinya nggak tahu. Aku nggak pernah bilang, jadi dia mungkin juga nggak tahu."

Bagiku, itu aib keluarga, tak perlu diumbar ke orang lain.

Bahkan dengan orang yang paling kucintai, tak perlu sepenuhnya memperlihatkan sisi buruk keluarga.

Karena saat cinta sudah memudar, semua rahasia itu bisa jadi senjata yang menyakitkan.

"Dia nggak tahu?" Wenny tersenyum licik, lalu melanjutkan, "Cih, kalau begitu, aku tinggal menunggu saja hari di mana Steve sadar siapa Dewita sebenarnya. Dia pasti bakalan menyesal sampai menangis darah!"

Aku hanya tersenyum tanpa menjawab.

Mau dia menyesal atau tidak, aku sudah tak peduli.

Setelah makan, Wenny menenangkanku, "Setidaknya kamu dapat perusahaan sebagai kompensasi. Buang jauh-jauh saja pria sampah seperti itu! Fokus saja pada karirmu sekarang!"

Ucapannya mengingatkanku kalau masih ada beberapa dokumen yang harus aku urus terkait perubahan kepemilikan perusahaan.

"Benar yang kamu bilang, nggak ada gunanya meratapi pria brengsek. Tenang saja, aku baik-baik saja. Malah untung bisa cepat melihat wujud aslinya."

Setelah berpisah dengan Wenny, sore harinya aku janjian dengan Steve untuk mengurus perubahan kepemilikan perusahaan.

Steve langsung menyetujuinya.

Saat bertemu dengannya, aku melihat setengah wajahnya masih ada jejak tamparan. Wajah tampannya jadi terlihat agak konyol.

"Cepat sedikit, habis ini kita langsung urus surat cerainya," desakku saat melihat dia berjalan lambat.

Padahal, kami baru mengurus surat menikah sebulan yang lalu. Andai saja tahu bakal begini, aku tidak akan buru-buru ke kantor catatan sipil waktu 20 Mei kemarin.

Steve menatapku dengan sorot mata ragu, bibirnya bergerak seakan ingin bicara, tapi akhirnya terdiam lagi.

Setelah urusan di kantor notaris selesai, kami langsung menuju kantor catatan sipil.

Namun begitu sampai, ternyata prosedur perceraian harus lewat proses panjang. Kamu harus daftar dulu dan menyerahkan dokumen.

Kemudian menunggu masa tenang selama 30 hari. Setelah itu, kalau masih ingin bercerai, baru bisa dapat surat cerainya.

Aku begitu kesal dan langsung membuka ponsel untuk mendaftar, tapi slotnya baru tersedia setengah bulan lagi.

Itu artinya, saat Steve menikah dengan Dewita, aku masih menjadi istri sahnya secara hukum.

Sialan! Benar-benar sial sekali!

Melihatku begitu marah, Steve berkata dengan lembut, "Nggak perlu buru-buru, Dewita juga nggak mendesakku."

Aku mendongak dan menatapnya dengan tajam, membuatnya ketakutan sampai memundurkan langkah.

Aku memandangnya dengan marah selama beberapa saat, lalu tiba-tiba tersenyum dan bertanya, "Dia nggak buru-buru? Apa dia nggak takut nggak sanggup bertahan sampai hari itu?"

Ekspresi Steve langsung tegang.

Karena perceraian ini sangat rumit, jika aku tidak mau bekerja sama, bisa jadi setahun pun masih belum selesai.

Meskipun Dewita bisa menjadi pengantinnya, tapi secara hukum dia tetaplah seorang selingkuhan.

Steve tidak menjawab, hanya berjalan mendekat dan berkata dengan lembut, "Kalau begitu, kita nggak perlu cerai. Nanti kalau dia sudah nggak ada, kita bisa rujuk lagi."

Aku terkejut, menatapnya dengan tatapan tak percaya.

Sampai detik ini, dia masih yakin bahwa setelah Dewita meninggal, aku akan kembali padanya?
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 5

    Aku tertawa sinis, mengalihkan pandangan ke jalan yang ramai. Setelah menenangkan diri beberapa saat, aku menoleh kembali dan menyindirnya, "Steve, aku bukan tempat daur ulang sampah. Nggak peduli seberapa besar aku mencintaimu dulu atau seberapa banyak aku berkorban untukmu, sejak hari kamu memilih untuk mengkhianatiku, kamu sudah nggak pantas menerima cintaku lagi."Aku berbalik hendak pergi, tetapi tak bisa menahan diri untuk menoleh lagi dan menambahkan, "Sekalipun semua pria di dunia ini lenyap, aku tetap nggak akan sudi melihatmu lagi, sungguh menjijikkan."Mungkin sikapku yang begitu tegas sedikit melukai hati Steve. Tiba-tiba, dia melangkah maju, meraih tanganku dan mulai memohon, "Nora, aku mencintaimu. Aku sangat menghargai enam tahun kebersamaan kita. Tapi, Dewita sudah mau meninggal, dia begitu menyedihkan dan malang. Permintaan terakhirnya sebelum meninggal hanyalah ... " "Lepaskan aku!""Nora, aku bersumpah, setelah Dewita ... "Aku tak membiarkannya menyelesaikan omong

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 6

    "Nora, kalau sampai terjadi sesuatu pada Dewita, kamu harus tanggung jawab!" Steve memperingatkanku dengan wajah muramnya sebelum bergegas pergi, menggendong Dewita dalam pelukannya.Aku terpaku di tempat untuk waktu yang lama, pikiranku dipenuhi dengan ekspresi kejam dan kemarahan Steve padaku.Janji-janji setia di masa lalu kini terasa sangat menusuk. Sejak kapan dia berubah? Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali?Aku larut dalam kesedihan, sampai akhirnya Angel masuk dan bertanya dengan cemas apakah aku baik-baik saja. Barulah aku tersadar dari lamunan.Meratapi pria brengsek seperti itu tidak ada gunanya. Aku menguatkan diri dan kembali fokus pada pekerjaan.Menjelang siang, ponselku berdering.Melihat nama Sari di layar, aku langsung menolak panggilan itu.Tak lama kemudian, ponselku berdering lagi.Kali ini dari ayahku.Aku mulai curiga, apa mungkin Dewita sudah meninggal?Setelah ragu sejenak, akhirnya aku pun mengangkat telepon itu.Namun, begitu aku mendekatkan ponsel ke t

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 7

    Aku menutupi mata yang perih dengan sapu tangan, menarik napas dalam-dalam, tak ingin tahu siapa yang duduk di sebelahku.Namun tiba-tiba, ayahku muncul dengan nada sangat hormat dan rendah hati, "Pak Billy, maaf atas ketidaknyamanannya, kursi VIP ada di sana, duduk di sana akan lebih nyaman.""Nggak perlu, aku duduk di sini saja," jawab pria yang dipanggil Billy itu dengan tenang, tapi tetap penuh wibawa.Ayahku masih ingin mengatakan sesuatu, tapi MC sudah memanggil masing-masing orang tua pengantin naik ke panggung. Sari segera datang dan menariknya pergi.Aku mendongak, menenangkan diri dan belum sempat mengembalikan sapu tangan itu, langsung terdengar suara menggema di seluruh aula, "Ayo, kita persilakan saksi pernikahan hari ini, Bu Nora Tira untuk naik ke atas panggung!"Seketika, lampu sorot menyala ke arahku. Aku terkejut dan tidak siap.Keributan yang tadinya memenuhi ruangan langsung mereda, membuat suasana sunyi senyap. Aku tahu, semua tamu terkejut dan heran. Ada yang mera

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 8

    Dewita menatapku dengan mata berkaca-kaca, bahkan terisak saat mulai berbicara.Mendengar setengahnya saja, aku sudah paham. Dia sedang menjual kesedihan di depan semua orang, memainkan trik manipulasi!"Terima kasih kepada kakakku karena telah merestui cinta antara aku dan Kak Steve. Terima kasih karena dia telah membuat diriku bisa pergi dari dunia ini tanpa penyesalan. Aku berharap kalian nggak mengejek kakakku, dia adalah kakak terbaik di dunia."Dewita menangis saat mengucapkan kata-kata itu. Aula yang tadinya penuh dengan ejekan dan suara riuh mendadak sunyi. Semua tamu kini benar-benar serius menatap ke arah panggung. Tidak ada lagi yang tertawa dan mencemooh.Aku juga melirik ke arah para tamu. Entah hanya khayalanku atau tidak, tapi aku menangkap sosok seorang pria tampan dengan mata setajam bintang di malam hari. Bibir tipisnya melengkung.Dia seperti tersenyum, tapi tidak sepenuhnya. Seakan sama sekali tidak tersentuh oleh aksi dramatis Dewita.Dewita berbalik menatapku deng

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 9

    Situasi di tempat resepsi mendadak menjadi kacau balau. Para tamu mengangkat ponsel mereka, sibuk merekam dan mengambil foto.Aku sendirian dan jelas berada dalam posisi yang lemah. Untungnya, orang tua Steve masih tahu malu, mereka buru-buru naik ke atas panggung untuk melerai."Pak Gaius! Bu Sari! Ini pernikahan anak-anak kita, banyak tamu yang melihat! Hentikan!""Jangan halangi aku! Aku harus menghajar anak durhaka ini hari ini! Dasar pembawa sial! Kelahiranmu hanya mendatangkan sial untukku!"Gaius benar-benar kehilangan kendali, wajahnya tampak ganas. Bahkan orang tua Steve tak sanggup menariknya pergi.Tiba-tiba, Sari berteriak, "Hentikan! Dewita pingsan! Cepat, tolong dia!"Gaius langsung terhenti. Dia menoleh dan tanpa pikir panjang mendorongku ke samping, lalu berlari ke arah putri kesayangannya. Dengan panik, dia berkata, "Apa yang terjadi? Cepat panggil ambulans!"Orang-orang yang tadi mengelilingiku langsung bubar. Semua berlari menuju pengantin yang kini tergeletak tak sa

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 10

    Kenapa dia bisa datang ke pernikahan aku dan Steve?Aku benar-benar tak habis pikir, apa mungkin ada kesalahan?Tapi, mengingat orang itu jarang muncul di hadapan publik dan sekali muncul justru menyaksikan drama besar seperti ini, sepertinya perjalanannya kali ini tidak sia-sia.Tiba-tiba ponselku berdering, menarikku kembali dari pikiran yang berantakan.Dari ujung telepon, terdengar suara Wenny yang penuh kemarahan dan emosi, "Steve dan Dewita benar-benar menjijikkan! Aku hampir saja melempar ponselku saking kesalnya! Untung saja kamu nggak takut dan balas menyerang mereka! Mantap! Biar mereka kapok!"Aku menghela napas, bersandar di kursi dengan satu tangan menutupi dahi, "Jangan bilang ini sudah tersebar di seluruh media sosial?""Menurutmu? Drama langka seperti ini sulit ditemukan, bahkan sinetron paling dramatis pun nggak akan bisa mengalahkannya. Netizen sekarang terpecah jadi dua kubu, saling hujat dengan sengit."Aku memejamkan mata, kepalaku semakin sakit.Aku memang ingin m

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 11

    Ada yang hampir mati?Efek obat tidur membuat kepalaku masih berat dan linglung. Aku membuka pintu dan melihat Steve berdiri di sana. Dengan nada penuh kepuasan, aku bertanya, "Dewita sudah mati?"Ucapan itu langsung membuatnya murka."Nora! Kejam sekali kamu!" ujarnya marah dengan wajah yang tampak muram, ekspresi ini belum pernah kulihat sebelumnya.Aku mengernyit, malas berdebat dengannya. Aku langsung mendorongnya keluar dan bersiap menutup pintu.Namun, gerakannya lebih cepat. Dengan kasar, dia menendang pintu hingga terbuka, lalu mencengkeram lenganku."Steve, apa yang kamu lakukan?! Kamu menerobos masuk ke rumahku?! Aku bakal lapor polisi!" teriakku marah, berusaha keras melepaskan diri. Dalam kemarahan, aku menamparnya lagi.Namun, dia mengabaikannya dan malah menyeretku keluar, memaksaku masuk ke dalam mobilnya."Steve, kamu sudah gila?! Berhenti! Turunkan aku!""Kondisi Dewita sangat kritis. Kamu harus ikut ke rumah sakit!" teriak Steve langsung menginjak gas dan mobil melesa

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 12

    Aku menatap Steve dan merasa tak perlu lagi menyembunyikan apapun. Dengan nada mengejek, aku berkata, "Kamu baru tahu sekarang? Dewita dan Ken itu adik kandungku, satu ayah!"Mata Steve membelalak lebih besar, "Ayah yang sama? Tapi mereka hanya lebih muda dua tahun darimu ... ""Ya benar, ayah bajinganku itu selingkuh saat aku baru berusia satu tahun atau mungkin lebih awal. Dia melakukan segala cara untuk menceraikan ibuku, hanya agar bisa membawa wanita licik ini dan anaknya masuk ke rumah."Steve tampak semakin syok, pandangannya berpindah antara Gaius dan Sari."Kenapa kamu nggak pernah cerita soal ini?" gumamnya pelan, ekspresinya sulit ditebak, seolah baru menyadari sesuatu yang salah."Aku nggak suka menyebarkan aib keluarga. Lagipula, untuk apa aku repot-repot cerita? bukannya kamu selalu menganggap dirimu pintar? Kenapa nggak bisa menyadari ini?"Aku dan Dewita bisa punya golongan darah langka yang sama, orang normal sekalipun seharusnya bisa curiga.Melihat Steve terdiam, aku

Latest chapter

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 100

    Meskipun aku tidak menyukai mereka sekeluarga, bagaimanapun dia adalah orang yang lebih tua, demi kesopanan, aku tetap tersenyum dan menyapa, "Halo, tante.""Nora, jadi kamu benar-benar sudah bersama Pak Billy? Dia nggak tahu kamu itu janda? Statusmu ini jelas ... ""Ibu, bukan janda, dia bahkan belum resmi cerai dengan kakak! Kalau sekarang bersama Pak Billy, itu namanya selingkuh!"Ujar Stefi dengan wajah penuh penghinaan dan kemarahan, lalu menggerutu, "Ada apa sih dengan Pak Billy? Kok bisa tertarik dengannya? Selain cantik, apa lagi yang bisa dibanggakan?"Aku bahkan belum mengucapkan satu kata pun, tapi mereka sudah menempelkan label selingkuh padaku. Benar-benar tidak masuk akal.Aku tertawa sinis, "Stefi, otak itu hal yang bagus, sayangnya kamu nggak punya. Kalau kamu mau tahu siapa yang sebenarnya selingkuh, bagaimana kalau kita tanya orang-orang di sini?"Saat itu, peristiwa pernikahan konyol itu sudah jadi bahan tertawaan di seluruh kota. Semua orang tahu kalau Keluarga Joan

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 99

    Namun, di hadapan Jeff saat ini, situasinya tidak memungkinkan. Aku hanya bisa mencari kesempatan lain.Melihat aku sangat canggung, Billy segera membantuku keluar dari situasi ini, "Ayo, para tamu hampir semua sudah datang, pesta bakalan segera dimulai."Aku mengikuti Billy memasuki aula pesta dan sekali lagi mendapat pemahaman baru tentang arti sebenarnya dari kekuasaan dan status sosial.Di dalam Vila Solene terdapat sebuah bangunan bergaya barat tiga lantai yang berdiri sendiri. Bangunan ini memiliki aula pesta besar, ruang konferensi multifungsi dan klub rekreasi. Banunan ini terpisah dari bangunan utama rumahnya, Sehingga dapat memberikan tingkat privasi yang sangat baik bagi pemiliknya.Dekorasi seluruh bangunan tampak sederhana, tetapi sangat berkelas. Bahkan hiasan yang terlihat sepele pun merupakan koleksi seni bernilai tinggi.Saat ini, aula pesta sudah penuh dengan tamu. Suasana meriah dengan obrolan santai dan tawa para tamu yang jelas berasal dari kalangan atas.Aku melih

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 98

    "Bagaimana kamu menjelaskannya?""Bilang saja nggak ada apa-apa di antara kita. Aku nggak tidur denganmu, kamu juga nggak tidur denganku.""Kamu, seorang gadis menjelaskan hal seperti ini? Bukankah itu malah membuatku terlihat lebih tidak berani bertanggung jawab?""Aku ... " Aku hampir putus asa, malu bukan main dan bertanya, "Jadi harus bagaimana?"Saat kami sedang pusing memikirkan solusi, tiba-tiba terdengar suara seseorang, "Billy, kudengar kamu keluar khusus untuk menjemput tamu penting. Putri keluarga mana yang begitu kamu hormati?"Aku menoleh ke arah suara itu. Dari belakang Billy, seorang pria tinggi dan gagah melangkah mendekat. Aura karismatiknya terpancar jelas.Sebelum Billy berbalik, ekspresinya sudah semakin rumit."Datang juga orangnya," gumam Billy pelan.Mataku membelalak.Apa? Jadi dia ... Jeff Yosi?Aku tidak mengenalnya.Bagaimanapun, Keluarga Yosi dan Keluarga Solene berada di tingkat yang sama, sedangkan Keluarga Tira jelas berbeda kelas, kami tidak pernah berhu

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 97

    "Nggak, nggak! Bukan ... " Aku buru-buru melambaikan tangan, melangkah lebih cepat ke depan, tapi tetap saja tak bisa menahan diri untuk melirik Billy beberapa kali.Dalam hati, aku berdoa semoga saja orang yang mengendarai Bentley malam itu bukan Jeff.Sayangnya, doaku tidak terkabul.Melihat ekspresiku yang aneh dan tampak ragu-ragu, setelah berpikir sejenak, Billy bertanya, "Kamu bertemu Jeff akhir-akhir ini?"Begitu mendengar pertanyaannya, aku langsung paham.Aaaa ... aku ingin lenyap saja dari dunia ini!"Jadi ... apa yang Pak Jeff bilang padamu?" tanyaku pasrah, memutuskan untuk menghadapinya secara langsung.Billy menyipitkan matanya sedikit, lalu menampilkan ekspresi yang sulit dijelaskan, seperti malu tapi juga geli."Maksudmu ... tentang pertengkaranmu dengan Steve? Kamu bilang sudah tidur denganku dan bukan hanya sekali?"Aku langsung tersandung dan hampir saja terjatuh."Hati-hati!" Untung saja Billy sigap menarik lenganku.Wajahku langsung panas membara, sekujur tubuhku t

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 96

    Aku berputar beberapa kali di depan cermin dan merasa cukup puas dengan penampilanku.Tiba-tiba, ponselku berdering. Aku mengambilnya dan melihat nama Billy Solene di layar."Halo, Pak Billy.""Nora, sekitar sepuluh menit lagi, sopir bakal tiba di depan apartemenmu.""Iya, aku sudah siap juga, bakal turun sebentar lagi," jawabku dengan ringan, lalu menambahkan dengan sedikit sungkan, "Benar-benar merepotkanmu harus mengirim sopir untuk menjemputku.""Nggak masalah, jalanan di pegunungan kurang aman di malam hari. Karena aku yang mengundangmu, tentu aku juga harus memastikan keselamatanmu."Sikapnya selalu begitu penuh perhatian dan detail, seolah tak pernah meninggalkan celah.Setelah menutup telepon, aku memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu mengecek kembali apakah aku sudah membawa lipstik dan bedak. Setelah memastikan semuanya beres, aku pun berangkat.Di sepanjang perjalanan, perasaanku melambung, tegang sekaligus penuh ekspektasi,Saat ini, aku sudah melupakan semua keraguan yang s

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 95

    Aku baru sadar, tidak heran Steve terlihat begitu lesu dan muram, wajahnya pun tampak pucat."Nora, tolong bantu Dewita. Semua kesalahan di masa lalu itu ulah kami, Aku minta maaf padamu, ya? Kumohon, kasihanilah dia, pergi ke rumah sakit dan bantu dia ... "Sari maju dan meraih tanganku dengan erat. Gerakannya yang tiba-tiba itu sampai membuat anjingku terkejut dan melompat mundur ke belakangku.Keningku semakin berkerut, aku menatap Sari sambil tertawa dingin dalam hati."Benar-benar langka, tak kusangka aku bisa mendengar permintaan maaf darimu dalam hidup ini," kataku dengan nada menyindir."Aku minta maaf padamu, Nora. Aku bakal turuti apapun yang kamu mau, asal kamu mau selamatkan Dewita. Bagaimanapun, dia itu adik kandungmu, dia itu manusia yang hidupnya berharga ... " ujar Sari mulai menangis, tampak benar-benar tidak rela kehilangan putrinya.Sebagai seorang ibu, dia memang terlihat sangat menyayangi anaknya. Dewita pun bisa dibilang beruntung dalam hal ini.Namun, pikiranku m

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 94

    Tak disangka, ternyata Billy juga mengetahuinya.Hal ini membuat suasana jadi agak canggung, terutama karena aku berbohong pada Billy, mengatakan bahwa aku sudah tidur dengan pria di hadapanku ini, bahkan berkali-kali. Memikirkan itu saja sudah membuat lidahku nyaris kelu."Ehm ... dia nggak mau cerai denganku, jadi aku hanya bisa mengajukan gugatan ke pengadilan. Sidangnya akan digelar tanggal 6 bulan depan," ujarku menjelaskan, merasa sedikit bersalah dan tidak berani menatap Billy."Tanggal 6 bulan depan? Masih ada setengah bulan.""Iya, ini sudah sesuai jadwal dari pengadilan, jadi nggak ada pilihan lain.""Iya, nggak perlu terburu-buru," ujarnya menenangkanku, lalu menambahkan, "Tapi dalam kasus gugatan cerai, biasanya sidang pertama itu mediasi, jadi kemungkinan besar nggak akan langsung dikabulkan. Biasanya harus menunggu enam bulan untuk mengajukan gugatan kedua, barulah hakin cenderung mengabulkan perceraian.""Iya, pengacaraku juga sudah mengatakan hal yang sama. Aku harus be

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 93

    Aku tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan diriku sendiri, hanya benar-benar malu sampai tidak bisa mengangkat kepala di depannya.Billy melihat betapa malunya aku, seolah ingin mencari lubang untuk bersembunyi. Dengan sangat sopan, dia menghiburku, "Sesekali bersenang-senang dengan teman-teman itu hal yang baik. Bisa melepaskan rasa penat dan stres di hati. Lagipula, soal kejadian malam itu, selain aku, nggak ada orang lain yang tahu. Jadi tenang saja, aku akan merahasiakannya."Kalimat terakhir itu diucapkannya dengan nada bercanda dan di matanya seperti ada sedikit ... keakraban yang samar.Aku menatapnya dengan ekspresi canggung dan membeku.Beberapa saat kemudian, rasa canggung itu semakin menjadi-jadi, pipiku terasa panas seperti terbakar.Jantungku kembali berdebar kencang dan pikiranku mulai berkelana ke arah yang tidak seharusnya.Insting wanita membertahuku bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dalam hubungan kami, benar-benar tidak biasa.Tapi, aku tidak bisa

  • Ditinggal Tunangan, Bos Besar Mulai Mengejarku   Bab 92

    Wajahku terasa semakin panas.Orang mabuk muntah itu menjijikkan, baunya juga tidak enak.Dan dia, seorang pria kaya raya yang terbiasa hidup bersih dan elegan, malah harus mengurus aku yang muntah-muntah?!Tidak heran saat aku bangun keesokan paginya, tempat sampah sudah bersih.Ternyata dia yang membersihkannya malam itu."Aku baru sadar saat sampai di rumah, tapi ... aku nggak berani meneleponmu. Hari ini malah merepotkanmu, kamu sampai repot-repot mengantarnya ke sini," katanya santai, sepertinya tidak sadar betapa malunya aku saat ini.Kata-kata itu seolah menggelitik saraf kecanggunganku. Aku menatapnya dengan bingung dan bertanya polos, "Kamu ... nggak berani meneleponku?"Billy tersenyum, matanya seakan bersinar dan wajahnya terlihat agak malu."Iya, aku takut kalau kamu melihat jam tangan itu, kamu bakal mengira aku sengaja meninggalkannya sebagai alasan untuk menghubungimu lagi. Sebelumnya, sepertinya ada kesalahpahaman antara kita, hubungan kita juga jadi agak renggang, jadi

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status